Retret Untuk Menyirami Benih Positif

Retret Untuk Menyirami Benih Positif
Retret Remaja 2018, kloter ke-1

Retret Hidup Berkesadaran (RHB) adalah wadah atau tempat untuk berlatih menjadi hidup lebih dasar penuh dan dapat hidup dengan prinsip saat ini. RHB 8 kali ini diadakan di Pondok Sadhana Amitayus dengan 2 gelombang. Saya mengikuti 2 gelombang tersebut.

Saya merasakan perbedaan yang begitu drastis dari sebelum dan sesudah retret. Saya rajin untuk mengikuti Retret. Sebelum saya mengikuti retret, saya tidak dapat melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan lain sebagainya.

Di retret, kita tidak hanya dilatih untuk sadar penuh akan aktivitas yang kita lakukan, tetapi kita diajarkan untuk hidup mandiri. Jika seseorang mendengar bahwa retret dengan hidup bermeditasi setiap hari begitu membosankan dan sangat malas, maka ternyata itu salah. Retret memang melatih kita untuk bermeditasi, tetapi itu lebih ke rutinitas kita sehari-hari yang dilakukan secara sadar. Sadar saat makan dan minum, berjalan, duduk, berbaring dan sebagainya.

Relaksasi Total

Selama saya mengikuti retret, saya sering mendengar kesan orang yaitu relaksasi total atau meditasi berbaring. Dimana kita dilatih untuk tidur secara sadar dan kalau tertidur adalah suatu bonus. Tidur jenis ini biasanya tidak menghasilkan mimpi. Kita memberikan julukan meditabo (meditasi bobo).

Relaksasi total biasanya disertakan dengan panduan relaksasi total agar kita bisa mendapatkan arahan dan instruksi saat melakukannya. Saya beberapa kali memimpin untuk relaksasi total dan banyak orang yang langsung terlelap bahkan menghasilkan paduan suara yang sangat lucu alias ngorok.

Meditasi Jalan

Pada saat meditasi berjalan, kita dibawa untuk bermeditasi berjalan outdoor. Kita melihat pemandangan gunung yang indah dan sawah yang begitu besar. Melihat ke kiri dan ke kanan terdapat sawah, melihat ke depan terdapat gunung yang menjuntai. Sangat indah sekali.

Saat saya sedang enak untuk berjalan dan menikmati udara segar yang menyegarkan tubuh, mungkin karena saya kurang mindfulness saat berjalan, saya terjilapak (tergeletak) di antara rerumputan. Untung saja rerumputan jadi tidak terlalu sakit. Maka dari itu, saya sadar mengapa kita harus melakukan aktivitas secara mindfulness. Jika sedang bengong atau memikirkan sesuatu, pasti yang saya alami akan terjadi.

Berbagi Tugas

Hal yang paling berkesan juga ada ketika meditasi kerja. Pada saat itu saya adalah volunteer. Saya mendapatkan meditasi kerja di toilet. Aduhh, selama retret, toilet adalah spot meditasi kerja yang paling saya hindari. Saya paling malas untuk menyikat WC dan juga menyedot WC. Kali ini, saya harus meditasi kerja di toilet dan tetap harus menjalaninya. Tugas saya menyikat dan menyedot WC hingga bersih.

Di rumah saja saya tidak pernah menyikat WC dan kali itu adalah kali pertama melakukan hal itu. Membersihkan rambut-rambut yang membuat air menjadi mampet juga harus dibersihkan. Saya merasa jijik tetapi menjadi tantangan.

Membersihkan WC ternyata tidaklah mudah. Tetapi, dengan mendapatkan shift di toilet, saya menjadi belajar cara untuk menyikat WC yang benar dan teman-teman yang lain juga dapat menjadi lebih bertanggung jawab dengan shift yang mereka dapatkan.

Water Flowering

Retret kali ini terdapat sesi water flowering, dimana kita bisa memberikan kesan kepada teman teman melalui tulisan. Kita diminta untuk menempel kertas di punggung dan teman-teman kita akan menuliskan kesan positif kita. Sesi yang paling seru karena heboh. Tujuan sesi itu juga setelah saya mendapatkan kesan dari orang lain untuk kita, sekaligus saya juga dapat mengintropeksi diri saya sendiri.

Manfaat Retret

Dengan mengikuti retret, masing-masing individu akan mendapatkan kesan dan pengalaman yang berharga termasuk saya. Saya menjadi lebih mandiri dari sebelumnya dan mendapatkan nutrisi tubuh dan meninggalkan sejenak kerjaan yang menumpuk di real life activity. Banyak manfaat yang akan didapatkan saat mengikuti retret.

Retret Remaja 2018 Kloter ke-2

Lihat foto di Facebook: Kloter ke-1 dan Kloter ke-2

NUAN, Aktif di Komisi Remaja Wihara Ekayana Arama, volunteer retret hidup berkesadaran, mahasiswa Universitas Pelita Harapan, Jurusan Hukum.

Lahir Dengan Sendok Emas di Mulut

Lahir Dengan Sendok Emas di Mulut
@TeaHouse Plum Village Thailand (Nakorn Ratchasima)

Saya mulai menyadari kemampuan saya menangkap isi pembicaraan mulai menurun. Telinga saya kadang mendengarkan tapi seolah-olah tidak menangkap intinya. Reflek tubuh saya juga tampaknya mulai agak tumpul. Beberapa hal berikut ini mungkin mewakili apa yang saya rasakan.

Paling Bontot
Suatu kali dalam suatu seminar panjang. Demi membuat suasana semangat kembali maka ada sesi ice breaking, pemateri mengadakan tes bahan-bahan yang telah diajarkan melalui kahoot (games interaktif menggunakan gawai atau gadget).

Saya kesampingkan semua faktor seperti luas sudut pandang membaca layar, halangan kepala peserta yang ada di depan, jaringan internet yang lelet untuk memproses jawaban. Ternyata banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.

Sialnya, karena berbagai faktor-faktor eksternal dan faktor tambahan, saya berada di posisi paling bawah, tapi syukur bukang paling bontot, karena saya nomor dua dari bontot. Anda boleh senyum, bahkan ketawa juga boleh.

Pikiran Berkeliaran
Kasus tidak mendengarkan orang berbicara, di tengah diskusi seru. Saya sering mendapati diri saya tidak mendengarkan sehingga saat orang tersebut bertanya atau meminta konfirmasi, saya akan meminta orang tersebut mengulang pertanyaan dan memaksa pikiran saya fokus pada apa yang menjadi pertanyaannya. Ini tidak hanya terjadi satu kali.

Kondisi ini jauh dari ideal ketika di-counter balik dengan latihan berkesadaran yang secara periodik saya ikuti. Tidak menangkap isi pembicaraan artinya mungkin kecerdasan saya menurun karena pikun. Tidak mendengarkan orang lain berbicara artinya saya membiarkan pikiran berkeliaran kemana-mana.

Kabar baiknya adalah dengan akumulasi latihan, saya menyadari kemerosotan tersebut. Sebersit pengertian mendalam menyelinap, tubuh yang merapuh ini melapuk dengan sendirinya sekuat apa pun mencegah dan menghindari kelapukan tetap datang menghampiri. Tak bisa ditolak.

Jangan Menunggu
Sering kita mendengar kebanyakan orang mengatakan belajar agama dan berlatih menunggu masa-masa pensiun, saat waktu mengejar materi sudah terlampaui, ketika tabungan materi sudah terkumpul dengan segala usaha terbesar dan terbaik kita.

Pernahkan terpikirkan, saat tubuh hanya ditunjang oleh tulang yang keropos, saat otot-otot sudah tidak bisa kenyal walau dilatih dengan olah raga sekeras apa pun, bahkan hanya duduk saja, perlu ditunjang banyak bantalan?

Itu hanya duduk lho, bagaimana dengan pikiran? Seperti contoh di atas, untuk mendengar saja dibutuhkan usaha ekstra keras, bagaimana mungkin dengan mulus dia bisa diajak menghitung napas ketika dalam sesi meditasi duduk?

Perahu Tubuh
Beberapa waktu lalu, saya tergila-gila dengan beberapa jenis olah tubuh seperti qi gong, yoga dan taichi. Lalu tiba-tiba pergelangan tangan saya mendapat anamnesi terkena artritis hingga memerlukan suntikan steroid untuk menghilangkan sakit tanpa menyembuhkannya 100%,

Tangan ini perlu dirawat dengan kehati-hatian, kontan saja yoga saya hentikan sama sekali. Kerapuhan ini tentu saja menyedihkan, tidak terbayangkan berapa lama lagi tubuh ini mampu berperan sebagai perahu untuk saya menyebrang.

Berlatih adalah pilihan, tidak berlatih juga pilihan. Tanpa pencetus tidak ada orang yang akan datang sukarela berlatih. Seseorang yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya, lahir seperti dewa dimana dengan hanya berkata (menyuruh) semua keinginannya hadir di hadapannya, kehidupannya bagai kehidupan para dewa yang selalu diundang ke pesta yang besar, meriah dan mewah.

Dorongan Latihan
Pencetus untuk berlatih diperlukan seperti halnya para makhluk-makhluk yang terlahir di alam dewa. Para dewa ini pada kehidupan sebelumnya banyak melaksanakan dana, sila dan perbuatan karma baik, sehingga bisa terlahir ke alam dewa.

Alam dewa juga tidak kekal. Suatu ketika mereka mengetahui karma baik mereka hampir habis maka para dewa akan menemui ajal dan terlahir kembali ke alam lebih rendah, mereka akan sangat menderita.

Kalaupun mereka terlahir ke alam manusia, kemungkinan besar tidak mendapat kondisi yang baik, karena mereka terlalu menikmati kemewahan, mereka tidak sempat mengembangkan batin dengan belajar dan melaksanakan Dharma. Saya yakin itu terjadi karena tidak adanya pencetus/dorongan untuk berlatih.

Akhir kata, kondisi tubuh yang merapuh ini adalah pencetus yang saya miliki saat ini, kesedihan yang menghampiri adalah perasaan yang sia-sia dan tidak perlu dipikirkan sehingga tidak bisa tidur, dinikmati saja, siapa tahu seiring latihan perkembangan batin menguat seperti halnya banyak guru besar.

*CHÂN MINH TUYỀN (真明泉) anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, wanita karir, sekaligus adalah apoteker yang juga meraih gelar master di bidang manajemen pendidikan

Pesan Thich Nhat Hanh untuk Generasi Muda

Pesan Thich Nhat Hanh untuk Generasi Muda

Dikutip dari salah satu buku Thay “Nói với tuổi hai mươi” (diterbitkan pada tahun 1960-an), disusun dan diterjemahkan oleh Brother Phap The dan teman-teman.

 

Revolusi
Bukan hanya orang tua saja yang telah meninggalkan mimpi mereka. Banyak anak muda juga telah meninggalkan mimpi mereka. Mungkin mereka terlihat seperti “mayat hidup” bagimu, tetapi kamu perlu memberi ruang bagi mereka. Mereka membutuhkan cinta, sama halnya seperti kita semua. Kita ada di sini hari ini karena kita sadar akan situasi yang terjadi di masyarakat. Kita tidak ingin hidup di dalam ilusi ataupun mati di dalam ilusi. Kita harus memberontak melawan kekuatan yang mengarahkan hidup kita pada kehidupan yang tidak bermakna dan penuh ilusi. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana caranya ‘memberontak’. Ada cara-cara memberontak yang hanya akan menciptakan lebih banyak keterikatan dan penderitaan. Namun, ada juga cara-cara pemberontakan yang dapat memberi kita kebebasan yang sesungguhnya. Ini adalah apa yang ingin saya sampaikan kepadamu hari ini.

Jangan mengharapkan perubahan untuk datang dari luar. Namun, jika di dalam dirimu, kamu masih diliputi oleh kesepian dan ketakutan, kamu juga tidak dapat melakukan apa-apa. Di masa lalu, banyak dari mereka yang memberontak, tetapi dengan penuh kekeliruan dan pemisahan. Oleh karena itu masyarakat menghukum, membenci, dan mengabaikan mereka. Sebagai gantinya, rasa kesepian dan kebencian semakin bertumbuh di dalam diri mereka.

Rasa Kesepian
Kadang kita merasa sangat sendirian. Bahkan, di dalam keluarga kita sendiri pun kita juga merasa sendirian. Kita menarik diri, berharap dapat menemukan kedamaian, tetapi nyatanya tidak berhasil. Kemudian kita mencoba membuat diri kita tenggelam di tengah keramaian. Namun, ketika kelompok tersebut bubar, kita merasa kesepian, lebih dari yang kita rasakan sebelumnya. Kita tidak memiliki keberanian untuk menghadapi rasa kesepian kita. Kita terus saja berlari hari demi hari. Janganlah terus tenggelam dalam lautan kesepian yang kamu ciptakan. Belajarlah untuk menenangkan pikiranmu, sehingga badai di dalam dirimu dapat tenang, dan langit bisa cerah. Ingatkanlah dirimu bahwa kesulitan merupakan bagian dari hidup manusia pada umumnya, dengan demikian kamu akan mampu untuk mengatasi penderitaan dalam dirimu. Kamu tidak sendirian dan hidup sangatlah berharga untuk dijalani. Hidup itu indah. Langit biru di dalam matamu adalah keajaiban. Matamu juga merupakan keajaiban. Jagalah tubuh dan pikiranmu. Mereka merupakan manifestasi dari kehidupan, kebenaran dan anugerah.

Kebutuhan mendalam dan kebutuhan superfisial
Saya merasa prihatin melihat begitu banyak orang menyia-nyiakan hidup mereka. Mereka tidak tahu bagaimana hidup seutuhnya. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendengarkan suara hati mereka. Mereka terus mengejar hal-hal yang tidak diperlukan, tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya paling berharga dalam hidup ini.

Kita telah menciptakan begitu banyak kebutuhan artifisial bagi diri kita sendiri. Banyak dari kita merasa “perlu” minum alkohol, menggunakan narkoba. Kita menjadi kecanduan dan membiarkan hal-hal tersebut mengatur hidup kita. Realitanya adalah kita tidak pernah membutuhkan alkohol ataupun obat-obat terlarang. Hal-hal tersebut tidak membantu kita untuk bertumbuh dengan baik, sebaliknya, justru membuat diri kita hancur. Kebutuhan kita yang sejati selayaknya akan membuat diri kita menjadi lebih baik, serta membawa kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan bagi diri kita.

Ada orang yang tidak bisa tinggal diam ketika mereka mendengar teman mereka mengalami kecelakaan. Entah hujan ataupun cerah, tidak peduli malam ataupun siang, mereka akan segera pergi untuk membantu tanpa ragu. Mereka melakukan hal ini karena kebutuhan: kebutuhan untuk mencintai. Kebutuhan mendalam ini menggerakkan seseorang untuk mengekspresikan dan mengembangkan sifat tertinggi mereka.

Keberhasilanmu bergantung pada kemampuan untuk memahami antara apa yang benar-benar kamu butuhkan dan apa yang tidak kamu butuhkan. Jika kamu meluangkan waktu untuk mendengar hatimu, kamu akan mampu mendengar kebutuhan paling dalam untuk bertumbuh, memahami, dan cinta, serta kamu akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang. Saya jamin: Saya tidak ingin membuat kamu menjadi seorang “Buddhis yang sempurna”, saya juga tidak meminta kamu untuk melepaskan kegembiraan masa muda yang kamu miliki. Sebaliknya, saya ingin melihat kamu bebas, bebas untuk tumbuh dan menyentuh kebahagiaan sejati. Saya ingin melihat kamu bebas, tapi, perlu kamu sadari bahwa kebebasan tanpa pemahaman dapat menjadi sumber penderitaan. Kamu bebas memilih apa yang akan kamu makan, tetapi, jika kamu tidak tahu makanan apa yang baik untuk tubuhmu, cepat atau lambat, kamu akan menderita karena akibatnya. Agar menjadi benar-benar bahagia, kebebasan harus berjalan beriringan dengan pemahaman.

Aspirasi
Mendengar apa yang diinginkan oleh hatimu sudah termasuk menyentuh kebahagiaan. Kamu tidak perlu “menciptakan” suatu mimpi atau aspirasi. Mimpimu sudah ada di dalam dirimu, sebagaimana tujuan sudah ada di jalur. Kamu hanya perlu menyesuaikan arahnya. Alihkan haluan hidupmu selagi masih ada waktu. Gunakan energi yang kamu miliki.

Terkadang kamu memiliki pandangan bahwa orang yang lebih tua pasti memiliki kekuatan yang lebih besar dari dirimu. Kamu mengkritik mereka karena mereka tidak menggunakannya dengan bijak dan gagal membantu masyarakat. Namun, jika kamu berada di posisi mereka, kamu akan sadar bahwa mereka juga memiliki kesulitan mereka sendiri. Jangan berharap terlalu banyak dari mereka, jangan berkecil hati, dan jangan putus asa. Dengan demikian kamu dapat menghemat banyak energi. Jangan berpikir bahwa hanya pemerintah revolusioner yang dapat memimpin revolusi. Karena mungkin kamu akan menunggu selamanya.

Sebaliknya, gunakan kecerdasan, bakat dan sumber daya yang kamu miliki. Lakukan apa yang dapat kamu lakukan sesuai kemampuanmu. Revolusi atau perubahan sesungguhnya dimulai dari bawah ke atas. Semua hal positif yang kamu tawarkan akan memberikan pengaruh yang lebih baik bagi masyarakat. Saya yakin kamu dapat membantu menciptakan dunia yang lebih baik, sebagaimana saya yakin bahwa potensi generasi muda tidak terbatas.

Edukasi
Mari kita berbicara tentang pendidikan. Mengapa kita belajar? Untuk lulus ujian? Untuk mendapat gelar? Untuk mencapai posisi tertentu di masyarakat? Apakah hal-hal tersebut hanyalah alasannya? Tidak. Alasan pertama dan terpenting untuk belajar adalah untuk mendapatkan kegembiraan dari belajar dan membuka wawasan baru.

Ada banyak hal yang bisa kita temukan, namun kita tidak boleh menutup mata terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita. Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah mengurangi studi saya tentang agama Buddha dan filsafat agama, agar saya memiliki lebih banyak waktu untuk belajar tentang cara membangun komunitas, pekerjaan sosial, dan pertanian. Dulu, saya tidak terlalu tertarik mempelajari hal-hal ini, tetapi sekarang saya senang meneliti hal-hal ini karena saya tahu betapa penting dan bermanfaat pengetahuan ini.

Namun, berhati-hatilah dengan pengetahuan intelektual semata, karena hal tersebut bisa menjadi sangat abstrak. Tetaplah melihat realitas, periksalah semua yang kamu pelajari, dan simpanlah hal-hal yang memang dilandasi pada pengalaman nyata dari kehidupan. Janganlah kamu berpikir bahwa kamu tidak akan bisa melampaui gurumu. Teruslah belajar. Jangan terjebak pada apa yang telah kamu pelajari, karena hal ini akan mencegah dirimu untuk mengenal dan merangkul gagasan serta wawasan baru.

Cinta
Cinta adalah kebutuhan dasar setiap orang. Hanya dengan cinta, dalam bentuk apapun, asalkan cinta itu sehat dan sejati maka dapat memecahkan dinding kesepian.

Bagi sebagian besar dari kita, Ibu kita adalah orang pertama yang mengajarkan kita tentang cinta. Saat kita lahir, kita masih sangat kecil, sangat lemah, dan tidak mampu membela diri kita sendiri. Kapanpun kita membutuhkan ibu kita, kita hanya perlu menangis, dan Ibu kita akan langsung muncul bagaikan malaikat di samping kita. Hanya dengan seperti itulah kita bisa merasa lengkap dan bahagia. Cinta selalu menjadi jawaban atas suatu kebutuhan, kekurangan, dan penderitaan. Seiring dengan tumbuhnya kamu menjadi pribadi yang lebih mandiri, kamu semakin lama semakin tidak terlalu membutuhkan ibu dan ayah. Itulah mengapa rasa cinta yang kamu miliki untuk mereka mungkin dapat sedikit berkurang. Namun, aliran cinta antara dirimu dan orang tuamu masih tetap hidup, jauh di dalam dirimu. Kamu hanya perlu kembali kepadanya, membiarkan rasa cinta itu muncul kembali dan menyegarkan hubunganmu.

Sekarang saya ingin berbagi dengan Anda tentang cinta romantis. Kamu mungkin akan bertanya-tanya atas dasar apa seorang biksu dapat berbicara tentang cinta romantis. Namun, saya masih memiliki pandangan pribadi yang ingin saya bagikan denganmu. Pada usiamu sekarang ini, cinta romantis dapat menjadi sebuah panggilan kuat, yang dapat dengan mudah menutupi panggilan-panggilan lain di dalam hatimu. Menutupi, tapi tidak berarti membuatnya tidak bersuara.

Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Cinta dapat membantu menyembuhkan luka yang dalam atau mewujudkan aspirasi yang besar, asalkan kamu tahu bagaimana menunggunya, mengenalinya, menyambutnya, melakukannya, melindunginya, merawatnya, serta mengarahkannya. Tentu saja, kamu akan menemukan berbagai kesulitan dan kesedihan. Tetapi jangan khawatir. Belajarlah dari pengalamanmu, sehingga kamu mampu mencintai dengan lebih baik dan lebih baik lagi.

Hubungan romantis yang pahit penuh dengan penderitaan dan bisa sangat merusak. Kamu tahu bahwa hubungan yang kamu jalani bersifat membangun ketika hubungan itu membantu dirimu untuk mencintai kehidupan, dan mengisi dirimu dengan antusiasme, keberanian, kekuatan, dan dedikasi. Tidaklah mudah untuk menemukan pasangan yang tepat. Jangan berpikir bahwa keindahan fisik, talenta, atau reputasi dapat menjadi tolak ukur untuk menjamin sebuah hubungan yang memuaskan. Cobalah untuk memahami orang lain – karakter, preferensi, aspirasi, dan tujuan hidup mereka. Kemudian tanyalah pada dirimu apakah mereka cocok untukmu. Cocok tidak berarti harus sama, tetapi lebih kepada tidak saling bertentangan, dan mampu melengkapi satu sama lain.

Pasangan yang cerdas tahu bagaimana cara menyelaraskan aspirasi mendalam mereka. Menemukan pasangan yang tepat dan mampu mencintai dengan cara yang tepat merupakan suatu kebahagiaan yang besar. Ingatkan dirimu sesering mungkin, dan biarkan orang lain mengetahui betapa beruntungnya kamu dapat bersama dengan pasanganmu. Kesadaran ini akan membantu dirimu untuk menghargai hubungan yang kamu miliki dan mencegah keretakan hubungan yang diakibatkan kecerobohan. Kamu tidak akan mampu untuk menghindari rasa frustasi dan cemburu. Tetaplah tenang, jangan melakukan sesuatu dengan gegabah dan jangan membesar-besarkan masalah.

Cinta romantis menjawab kebutuhan alami dari tubuh dan jiwa manusia. Sementara beberapa orang mungkin memandang cinta romantis tidak lebih dari sebuah kesepakatan yang nyaman di antara dua orang, cinta romantis juga dapat menjadi pintu menuju cinta yang lebih luas dan lebih besar.

Cinta seperti layaknya semua hal lainnya, lahir, bertahan selama beberapa waktu, dan kemudian akan berlalu. Seperti sebatang pohon yang indah di tamanmu, cinta membutuhkan perawatan dan perlindungan agar dapat tetap sehat untuk waktu yang lama.

Pada akhirnya, cinta bukan hanya sekadar kelembutan. Cinta juga mencakup kesabaran, keberanian, dan pengorbanan. Cinta adalah kebutuhan dasar manusia, itulah mengapa kamu tidak akan mampu untuk tidak mencintai.

Spiritualitas
Tujuan dari agama adalah untuk berhubungan. Agama yang sejati tidak pernah memisahkan.

Agama, bagi kebanyakan orang, tidak lebih dari seperangkat kebiasaan dan ritual yang diturunkan turun temurun dari keluarga dan masyarakat. Entah karena kemalasan atau kurangnya ketertarikan, banyak orang yang merasa puas dengan pemahaman yang dangkal tentang agama mereka. Mereka tidak memeriksa kebenaran dari ajaran-ajaran agama melalui pengalaman mereka sendiri, apalagi mempraktikkan ajaran tersebut untuk membuat mereka lebih baik dan memulihkan. Orang-orang seperti ini cenderung lebih menunjukkan dogmatisme dan sikap intoleransi.

Jika kamu menganut agama tertentu, janganlah menjadi seperti mereka. Pelajarilah agamamu dengan cerdas, dengan segala keindahan dan kedalamannya, sehingga agamamu dapat mengembangkan kehidupan spiritualmu. Agama yang sehat adalah agama yang hidup. Ia harus mampu berkembang dan belajar untuk menjawab kesulitan-kesulitan semasa hidup kita.

Bertemulah dengan teman-teman dari agama lain. Bukalah hatimu kepada satu sama lain dan belajar untuk bekerja bersama. Bekerjalah dengan niat murni untuk melayani orang, bukan untuk memperluas kekuasaan dan pengaruh dari kelompok sendiri.

Agama harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Jangan biarkan siapa pun menderita atau kehilangan hidup mereka atas nama agama. Suasana ini seringkali masih kental dalam komunitas spiritual. Kita membutuhkan keterbukaan, kreativitas, dan keterampilan dari generasi muda.

Kesimpulan
Terima kasih telah mengikuti tulisanku sampai saat ini. Dalam berbicara denganmu, saya tidak membandingkan kewenangan atau figur tertentu. Saya ingin kita menggunakan kemampuan kita sendiri untuk melihat secara langsung ke dalam diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Saya telah berbagi denganmu pandangan pribadi saya tentang kebutuhan dasar manusia akan cinta dan pengertian.

Adalah cinta yang dapat membantu kamu mengatasi ketakutan dan isolasi. Adalah pengertian yang dapat membawamu ke jantung kemanusiaan, kehidupan, dan kosmos. Pengertian dan cinta akan membuka dirimu pada situasi nyata masyarakat dan planet ini, serta akan memandumu dalam pilihan yang kamu ambil.

Ranselmu sudah penuh. Sudah tiba waktunya untuk pergi.

Terjemahan bebas oleh: Cinthya Tania
Sumber: https://wkup.org/thich-nhat-hanh-message-youth/

Masa Depan Generasi Muda

Masa Depan Generasi Muda
Young monks and nuns from Plum Village @Borobudur May 2018

Terlepas dari apa pun pendapat seseorang tentang politik pengawasan senjata di Amerika Serikat (AS), gerakan pemuda March for Our Lives pada tanggal 24 Maret yang lalu memperlihatkan semangat besar, kemahiran dan ketelitian intelektual yang dimiliki oleh generasi muda, terutama ketika mereka memiliki semangat besar dalam menghadapi isu yang relevan terhadap kondisi dan masa depan mereka.

Generasi muda merupakan masa depan masyarakat; baik masa depan negara, komunitas religius, maupun keluarga. Untuk itu, generasi muda perlu diberikan pengarahan yang kuat, produktif, serta penuh empati.

Namun, pengarahan saja tidaklah cukup. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengeksplorasi bakat, mengembangkan keahlian, serta mengekspresikan diri mereka dalam komunitas Buddhis. Dengan demikian, generasi muda bisa berperan serta, menerima peluang dan tanggung jawab kepemimpinan, terutama mampu mendalami dan menjadikan agama Buddha sebagai pola pikir yang relevan dengan generasi mereka.

Gerakan generasi muda dalam menentang kekerasan senjata di seluruh AS bertepatan dengan tren-tren menarik seputar agama Buddha Amerika. Walaupun agama Buddha hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah pemeluk agama di negara tersebut (contohnya, hanya terdapat 800.000 orang yang mengakui telah mempraktikkan agama Buddha di California), agama Buddha adalah satu-satunya agama yang mampu menarik pemeluk dari generasi muda – pada tahun 2007, 23% dari pemeluk agama Buddha berusia antara 18 sampai 29 tahun.

Sepuluh tahun kemudian, angka tersebut mencapai 34% (menurut Pew Research Center). Seorang akademisi di Universitas Berkeley, Layne R. Little, menyatakan bahwa agama Buddha mampu berkembang seperti ini berkat persepsi publik yang memandang Dharma sebagai ajaran pragmatis, berfokus pada pemahaman sifat sejati batin, kondisi manusia, serta cara mengurangi penderitaan.

Dengan keadaan dunia yang semakin tidak stabil dan tidak menentu, semakin banyak organisasi buddhis yang merasa bahwa pendekatan terhadap kepercayaan serta keimanan yang lebih humanis dan aktif, disertai dengan rasa kepedulian terhadap masyarakat, merupakan hal yang penting. Para pendukung ajaran Buddha humanis/aktif telah memimpin selama berpuluh-puluh tahun. Mereka berasal dari tradisi dan daerah yang berbeda-beda, dari Biksu Bodhi ke Thich Nhat Hanh ke Master Hsing Yun.

Kendati demikian gerakan agama Buddha maupun gerakan lainnya membutuhkan semangat, kreativitas, dan kecerdasan generasi muda untuk menyokongnya, terutama ketika dunia menyambut permasalahan-permasalahan baru. Ketika generasi muda diizinkan untuk mengembangkan potensi Bodhisatwa dengan sepenuhnya, maka masyarakat luas bisa merasakan berpuluh kali lipat manfaatnya.

Generasi muda dan institusi harus bekerja sama untuk saling memahami dan terbuka terhadap satu sama lainnya. Hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak ini bisa jadi merupakan kunci untuk menyembuhkan penderitaan dan kegelisahan yang dirasakan pemuda masa kini, serta mungkin memperkenalkan kehidupan dan perspektif baru ke dalam struktur konvensional kita.

Generasi muda masa kini tenggelam dalam pertukaran pengetahuan yang terglobalisasi melalui internet dan media sosial. Karena informasi tentang agama bagi mereka tidak hanya berasal dari orangtua, guru, ataupun komunitas lokal, dan mereka akan terkepung oleh opini-opini yang saling bertentangan (tidak semua opini akan memihak pada agama), generasi muda tidak akan secara otomatis menghubungkan antara kepercayaan beragama dengan institusi yang menyatakan otoritas spiritual.

Walaupun kita mendukung generasi muda untuk mengeksplorasi tradisi Buddhis, kita percaya bahwa eksplorasi itu tidak perlu (atau tidak harus) memiliki penekanan doktrin yang sama dari generasi-generasi lalu. Hal ini dikarenakan walaupun inti Dharma tidak pernah berubah, agama Buddha terus-menerus merespon perkembangan kebutuhan sesuai dengan masyarakat yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Pada tahun 1960, Master Zen Thich Nhat Hanh menulis surat detail kepada seorang pemuda mengenai bentuk latihan religius yang tidak akan bermanfaat baginya, dan yang menurut Thich Nhat Hanh harus ia hindari: “Bagi kebanyakan orang, agama hanyalah sekumpulan aturan dan ritual yang diwariskan oleh keluarga dan masyarakat. Akibat kemalasan atau kurangnya ketertarikan, banyak orang berpuas diri dengan pemahaman dangkal mengenai agama yang mereka peluk. Mereka tidak mempertimbangkan kebenaran ajaran agama tersebut berdasarkan pengalaman mereka sendiri, apalagi mempraktikkan ajaran-ajaran tersebut untuk mengembangkan dan menyembuhkan diri mereka. Orang-orang seperti ini lebih berpeluang untuk mengekspresikan kedogmatisan dan inteloransi.” (Plum Village)

Sebaliknya, Thich Nhat Hanh menyarankan generasi muda bahwa walaupun agama adalah sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, agama juga merupakan cerminan perjalanan yang sangat personal, yang harus terus-menerus menjadi percakapan internal. “Jika kamu mengikuti suatu agama, jangan menjadi seperti mereka. Pelajari agamamu dengan kemampuan intelektualmu, sampai ke kedalaman dan keindahan ajaran-ajarannya, sehingga agamamu bisa menutrisi kehidupan spiritual.

Agama yang sehat adalah agama yang hidup. Agama harus bisa berkembang dan belajar merespon kesulitan-kesulitan masa kini… Agama harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Jangan biarkan siapapun menderita atau kehilangan nyawa atas nama agama.” (Plum Village)

Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, apa yang bisa diharapkan oleh generasi muda buddhis? Mereka seharusnya bisa mengharapkan agama Buddha yang menyadari dirinya sendiri, agama Buddha yang tidak memandang remeh pemuda, agama Buddha yang bersedia mengeksplorasi secara terbuka mengenai bagaimana memahami konsep-konsep tradisional.

Sebagai contoh, apakah makna sadar penuh (mindfulness) di era media sosial dan reaksi serta penilaian seketika? Bagaimanakah seseorang menerima pengalaman-pengalaman emosional yang dialami di masa remaja (juga dalam kehidupan) sambil melatih ketidakmelekatan dengan tulus? Kita tidak mampu memberikan jawabannya di sini. Namun, adalah sekolah-sekolah dan para guru yang melibatkan generasi muda dan bersedia mengeksplorasi isu-isu masa kini yang akan mengekspresikan agama Buddha yang tidak lekang oleh waktu.

Dunia makin tidak terduga. Perubahan iklim mengancam masa depan umat manusia. Ini adalah era dominasi teknologi data dan perusahaan-perusahaan raksasa. Tantangan-tantangan yang dihadapi para pendidik, pemimpin dan penyembuh masa depan akan semakin penting. Namun jika pemimpin dan institusi spiritual mendukung generasi muda dan sebaliknya, maka tidak ada yang tidak bisa dicapai bersama-sama.

Sumber: Buddhistdoor View: Our Young Future
Terjemahan Bebas oleh: Aya Muhartono

Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan

Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan


Di halaman rumahku yang tidak begitu luas, aku menanam sebatang pohon lemon di dalam pot. Pohon lemon itu kupandangi dan kusayangi setiap hari, kadang ranting-rantingnya yang terlalu rimbun kugunting dengan penuh perhatian, karena dikhawatirkan itulah cikal bakal bunga buah nantinya.

Namun, suatu hari ini aku pulang ke rumah setelah seharian berada di wihara, aku mendapati pohon lemonku dalam keadaan yang sangat menyedihkan, satu cabangnya yang besar telah terpotong tak beraturan, hanya tersisa satu cabang lagi yang tidak begitu besar. Hati ini terasa sakit, seperti ada yang tersayat di tubuhku.

Menenangkan Diri
Aku berusaha meredam emosi, aku pergi ke wihara dan mencoba bernapas masuk dan bernapas keluar. Namun tidak mudah untuk berkonsentrasi. Pikiran aku kembali lagi dan kembali lagi tentang si pohon lemon. Seharusnya orang yang membabat pohon lemonku bisa bertanya terlebih dahulu atau membiarkan aku saja yang memangkasnya. Seharusnya begini begitu dan berbagai pikiran yang menyayangkan kenapa peristiwa itu harus terjadi sehingga aku merasa sangat sakit. Untuk memejamkan mata berkonsentrasi saja sulit sekali, apalagi berpikir jernih, karena aku dipenuhi oleh emosi.

Setelah 10 menit berlalu, aku menyudahi meditasiku. Karena sudah menjelang waktu makan malam, khawatir dicari, aku pun pulang dengan membawa rasa sakit yang baru berkurang sedikit. Pulang ke rumah saya masih berusaha menenangkan diri untuk tidak meluapkan emosi dari rasa sakit itu.

Kemudian terpikir olehku untuk memindahkan si pohon lemon ke tempat yang bisa kutitipkan untuk dirawat. Daripada ketika aku keluar masuk rumah dan melihat si pohon lemon yang sekarat itu, maka sama saja dengan saya kembali terpanah oleh rasa sakit untuk kesekian kalinya.

Menunjuk Rembulan
Satu hal yang membuat aku tersadarkan adalah saat membaca buku Jalur Tua Awan Putih buku kedua, tentang “jari telunjuk bukanlah sang rembulan“. Bagian itu menceritakan tentang kisah seorang bapak yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil. Ketika si bapak sedang pergi berniaga meninggalkan anaknya seorang diri di rumah, hari itu terjadi perampokan di desa tersebut dan anak kecil itu disandera oleh bajak laut.

Ketika si bapak pulang ke rumah mendapati ada jasad anak kecil di dekat rumahnya dan meyakini bahwa jasad itu adalah anaknya, lalu diambilnya dan dikremasikannya, kemudian abunya dibawanya ke manapun dia pergi.

Suatu hari sang anak berhasil melarikan diri dari kawanan bajak laut dan kembali ke rumahnya memanggil-manggil bapaknya utk membukakannya pintu, namun si bapak meyakini bahwa anaknya sudah mati dan abu yang dipegangnya adalah abu anaknya, dia mengabaikan panggilan anaknya sehingga akhirnya mereka pun berpisah selamanya.

Waktu Terbaik
Saya mengibaratkan diri saya sebagai sang bapak dan abu anak kecil tersebut adalah pohon lemonku, ketika pohon lemon yang telah terbabat habis, lalu terus kuingat-ingat akan terus menyakiti hatiku.

Sementara keluargaku yang telah membabat pohon tersebut tanpa seizinku jika aku marah kepadanya terus menerus, bukankah aku akan seperti si bapak yang menyia-nyiakan anak kesayangannya yang telah kembali? Yang artinya mengabaikannya, marah dengannya, dan mengabaikan keberadaan keluargaku hanya demi pohon lemon yang tak mungkin bisa disambung kembali.

Dari sinilah kesadaran itu muncul, bahwa waktu bersama orang-orang terdekat sering kita sia-siakan dengan bertengkar dengannya, marah dan bahkan tidak bicara hanya karena urusan kecil yang sudah berlalu. Terlalu melekat dan meyakini apa yang kita pikir benar sebagai sebuah kebenaran hakiki.

Baiklah, saya akan mentransformasi rasa sakit itu menjadi sebuah pengertian bahwa kebersamaan dengan keluarga kita adalah waktu terbaik yang tidak perlu disia-siakan karena kemarahan atau sakit hati.

Ujian Selesai
Toh, pohon lemon pasti akan tumbuh lagi dengan baik, karena dia masih punya satu cabang yang masih hidup, dan kelak aku masih bisa menyapanya di tempat baru yang sedang aku titipkan di sana. Ok… ujian saya selesai.

Hal yang kualami ini bisa menjadi hal besar jika aku tidak berhasil mengendalikan emosi seketika, yang mungkin akibatnya akan merusak keharmonisan dalam keluarga bahkan bisa mengakibatkan keributan.

Aku sadar bahwa yang harus aku lihat adalah rembulan, bukan jari yang menunjuk ke rembulan.

Bersyukur dan berterimakasih mengenal mindfulness. “Aku perlu bersiap sedia sebelum badai tiba”

Widyamaitri praktisi mindfulness, volunteer retreat dan Day of Mindfulness, juga anggota Ordo Interbeing