Kisah Hidup Thich Nhat Hanh

Kisah Hidup Thich Nhat Hanh

ditulis oleh Lindsay Kyte

Master Zen, aktivis perdamaian, dan guru dari kehidupan berkewawasan (mindful living) – Beliau merupakan satu dari sekian pemimpin spiritual berpengaruh pada masa kini. Ajarannya jelas, mendalam, dan orisinal. Ia menjawab tantangan pribadi dan global yang hadapi semua orang saat ini. Beliau telah membawa Dharma ke jutaan orang dan membantu mendefinisikan agama Buddha untuk dunia modern. Lindsay Kyte menceritakan kisah tentang apa yang barangkali menjadi ajaranya yang palin berpengaruh – Keberaniannya dalam kehidupan.

Thich Nhat Hanh. Foto oleh Dana Gluckstein

Kelahiran Engaged Buddhism:1926-1959

Pada tahun 1926, seorang anak laki-laki bernama Nguyen Xuan Bao lahir di ibukota kekaisaran kuno Hué, Vietnam. Ia tertarik pada ajaran Buddha sejak usia dini. Salah satu kenangan masa kecilnya yang pertama adalah melihat lukisan Buddha yang tersenyum dan damai. Suatu kali, dalam trip perjalanan sekolah, dia kecewa karena tidak bertemu dengan pertapa Buddhis bijaksana, namun ketika ia meneguk air dari sumur alami, dia merasa sangat segar. Ia kemudian menggambarkan pengalaman itu sebagai pengalaman religius pertamanya.

Sebagai seorang anak lelaki muda, Thich Nhat Hanh terpesona oleh potret Buddha yang tersenyum dan damai. Foto milik Parallax Press.

Bertentangan dengan keinginan orang tuanya yang merasa kehidupan seorang biksu akan terlalu sulit, Nguyen Xuan Bao tetap bergabung dengan kehidupan monastik Buddhis ketika berusia enam belas tahun. Pada usia 23 tahun, dia ditahbiskan menjadi biksu. Ia diberi nama Thich Nhat Hanh.

Biksu muda ini dikirim untuk mengikuti pelatihan di institut Buddhis tradisional, namun dia merasa tidak puas dengan kurikulumnya yang terbatas. Ia lalu pergi ke Universitas Saigon, tempat dia bisa mempelajari sastra dunia, filsafat, psikologi, dan sains selain agama Buddha.

Pada pertengahan usia dua puluhan, Thich Nhat Hanh sudah memiliki daftar prestasi yang mengesankan. Dia telah mendirikan wihara, memiliki beberapa buku yang diterbitkan, dan dikenal karena pandangan reformisnya tentang agama Buddha. Ketika pendirian Buddhis Vietnam kala itu sangat apolitis, ia percaya umat Buddha harus terlibat langsung dalam penderitaan banyak orang – dan itu berarti terlibat dalam kehidupan politik bangsa.

Ini terjadi pada saat perang delapan tahun antara Prancis dan perjuangan nasionalis Viet Minh untuk mengakhiri pemerintahan kolonial. “Dinding wihara kami di Hué dipenuhi dengan lubang peluru,” Thich Nhat Hanh mengingatnya dalam buku terbarunya, Inside the Now. “Prajurit Prancis menyerang wihara kami, mencari para pejuang yang melawan ataupun makanan, menuntut kami menyerahkan satu-satunya karung beras yang tersisa. Para biksu terbunuh, meskipun mereka tidak bersenjata.”

Namun baik keyakinan maupun keberaniannya tidak goyah: “Kami tahu bahwa semangat dari inspirasi puitis, hati spiritualitas, dan pikiran cinta kasih tidak bisa dipadamkan oleh kematian.”

Engaged Buddhism lahir sebagai tanggapan terhadap perang antara Viet Minh yang nasionalis, dipimpin oleh kaum komunis, dengan tentara Prancis. Perang berakhir dengan kekalahan Prancis di Dien Bien Phu pada tahun 1954.

Sebagai tanggapan terhadap perang yang semakin besar, Nhat Hanh mendirikan gerakan Engaged Buddhism. Misinya adalah menerapkan ajaran dan praktik Buddhis pada penderitaan dunia nyata yang disebabkan oleh perang, ketidakadilan sosial, dan penindasan politik. “Kami ingin menawarkan pandangan yang baru – suatu agama Buddha yang dapat bertindak sebagai rakit, untuk menyelamatkan seluruh negara dari kondisi keputusasaan terhadap konflik, perpecahan, dan perang,” kenangnya.

Istilah Engaged Buddhism untuk perdamaian bergema dalam diri para pemuda Buddhis Vietnam. Nhat Hanh diangkat sebagai pemimpin redaksi majalah Vietnamese Buddhism, memimpin pertemuan yang dihadiri oleh ratusan orang, dan merintis suatu majalah untuk para monastik muda bernama The New Lotus Season.

“Kami belajar, dan berlatih bersama dengan bahagia. Kami semua mencintai agama Buddha dan kami semua mencintai negara kami.” Foto milik Parallax Press.

Selama waktu ini, Nhat Hanh bertemu Cao Ngoc Phuong, seorang mahasiswi biologi yang khawatir bahwa umat Buddha tidak cukup peduli tentang orang miskin. Dia kemudian menjadi Sister Chan Khong, murid terdekatnya dan salah satu dari “tiga belas pohon aras,” sekelompok aktivis muda yang bersemangat untuk belajar bersama dan mendukungnya.

Tidak mengherankan, semakin populernya gerakan Engaged Buddhism menarik pertentangan dari para pendiri Buddhis konservatif. Nhat Hanh dituduh menyebarkan benih perbedaan pendapat dan jurnalnya kemudian dihentikan.

“Itu masih terlalu radikal untuk mayoritas para tetua dalam pengembangan Buddhisme,” kenangnya. “Mereka menepis gagasan-gagasan kami, dan mulai membungkam suara kami dengan mantap.”

Nhat Hanh dan para pengikutnya membutuhkan tempat untuk perlindungan spiritual, dan pada tahun 1957 mereka mendirikan Phuong Boi – Fragrant Palm Leaves Hermitage – di dataran tinggi Vietnam. Beliau mengatakan bahwa itu adalah “tempat untuk memulihkan luka kita dan melihat secara mendalam apa yang terjadi pada kita.” Sampai hari ini, beliau menganggap itu sebagai rumahnya yang sejati.

Sekolah Pemuda untuk Layanan Sosial: 1960-1965

Pada tahun 1960, ketenteraman Phuong Boi hancur ketika agen pemerintah Vietnam Selatan memasuki pertapaan itu. Mereka menangkap salah satu anggota dan memaksa yang lain agar masuk ke suatu dusun strategis untuk “perlindungan.” Thich Nhat Hanh lalu melarikan diri ke Saigon.

Di sana, ia memutuskan untuk menerima beasiswa studi perbandingan agama di Universitas Princeton. Masa tiga tahun pemimpin muda Buddhis ini di Amerika nantinya akan menjadi transformatif – secara politis dan spiritual.

Sangat ironis sebenarnya bahwa salah satu guru agama Buddha terbesar di Asia memiliki pengalaman spiritual transformatifnya di Barat- di perpustakaan Universitas Columbia, tepatnya.

Kantor pusat SYSS di Saigon. Lebih dari seribu generasi muda Buddhis mendaftar ke tiga ratus posisi dalam program tersebut. Foto milik Parallax Press.

Setelah menyelesaikan studinya di Princeton, ia ditunjuk sebagai dosen agama Buddha di Columbia. Suatu hari di perpustakaan, dia menemukan sebuah buku yang diambil hanya dua kali sebelumnya – sekali pada tahun 1915 dan sekali lagi pada tahun 1932. Memutuskan untuk menjadi peminjam ketiga, dia memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu dengan dua peminjam lainnya. Namun mereka telah lenyap – dan begitu pula dengan dirinya. Ia memiliki pengalaman kekosongan yang mendalam, yang dia jelaskan dalam jurnalnya: “Segala sesuatu yang dianggap ‘saya’ akan hancur. Lalu apa yang sebenarnya di sana mulai menampakkan dirinya…. Seperti belalang, saya tidak mempunyai pemikiran tentang yang bersifat ketuhanan.”

Thich Nhat Hanh nantinya akan menulis bahwa ketika Beliau menjadi seorang biksu di Vietnam, ia menyadari mengenai suatu perjalanan di Barat.

Sementara itu, perang di tanah airnya semakin membesar secara dramatis, dengan keterlibatan Amerika Serikat (AS) yang semakin banyak dan rezim presiden Katolik Roma, Ngo Dinh Diem, yang menekan umat Buddha (mayoritas) di negara itu. Pada tahun 1963, biksu Thich Quang Duc membakar dirinya hingga meninggal dunia sebagai bentuk protes, dan aksi bakar diri lainnya pun menyusul.

Di AS, Thich Nhat Hanh menjadi pelopor gerakan antiperang. Berbicara dari pengalamannya tentang kehidupan masyarakat Vietnam, ia melakukan puasa selama lima hari yang dipublikasikan dengan baik dan dilaporkan ke PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia di Vietnam Selatan.

Pada pertengahan tahun enam puluhan, Thich Nhat Hanh menjadi editor bacaan mingguan Buddhis paling populer di negara itu, pendiri Sekolah Pemuda untuk Layanan Sosial yang terkenal, dan promotor penting untuk perdamaian yang kemudian dikecam oleh kedua belah pihak dalam perang. Foto milik Parallax Press.

Ketika suatu kudeta militer yang didukung AS menggulingkan rezim Diem pada tahun 1963, Nhat Hanh kembali ke Vietnam dan mengajukan ajakan perdamaian ke Unified Buddhist Church (UBC), yang telah dibentuk untuk menyatukan berbagai sekte agama Buddha Vietnam. Dia menyerukan penghentian permusuhan, pendirian suatu lembaga Buddhis untuk para pemimpin negara, dan pembentukan lembaga untuk mempromosikan suatu perubahan sosial tanpa kekerasan.

UBC mendukung lembaga tersebut, yang dibuka pada tahun 1964 sebagai Institute for Higher Buddhist Studies, tetapi dua usulan lainnya ditolak karena dianggap merupakan mimpi yang tidak realistis. Tanpa gentar, Nhat Hanh menanggapinya dengan membangun desa-desa perintis untuk melatih penduduk dalam swasembada dan perubahan sosial.

Anggota SYSS yang terdiri dari para aktivis muda, termasuk Sister Chan Khong (kedua dari kanan). Foto milik Parallax Press.

Pada tahun 1964, Nhat Hanh menjadi kepala editor The Sound of the Rising Tide, yang menjadi bacaan mingguan Buddhis paling populer di Vietnam. Puisinya digunakan sebagai lagu protes oleh penduduk Vietnam yang menginginkan perdamaian – dan tentunya dikecam oleh kedua belah pihak dalam perang tersebut.

Menyadari bahwa pendidikan diperlukan agar dapat menjadi tindakan nyata, Nhat Hanh mendirikan Sekolah Pemuda untuk Layanan Sosial (Schoolof Youth for Social Service/SYSS) yang terkenal. Para anggota perdamaian SYSS mempertaruhkan hidup mereka pergi ke daerah pedesaan untuk mendirikan sekolah, membangun klinik kesehatan, dan membangun kembali desa-desa yang hancur akibat perang.

Pada tahun 1964, banjir besar melanda Vietnam Selatan, menewaskan 4.000 orang dan menghancurkan ribuan rumah. Nhat Hanh memimpin anggota SYSS untuk membawa bantuan ke daerah-daerah terpencil. Risiko tembakan peluru, tidur di kapal dalam badai yang dingin, membantu warga sipil dan tentara yang terluka dari kedua pihak, mereka melihat penderitaan mereka sebagai ekspresi solidaritas dengan orang-orang yang mereka coba bantu. Sebagai isyarat simbolis, Nhat Hanh melukai jarinya dan membiarkan darahnya menetes ke sungai.

“Ini,” katanya, “adalah doa untuk semua korban yang tewas dalam perang dan banjir.”

The Order of Interbeing: 1966

Pada tahun 1966, Thich Nhat Hanh menahbiskan enam pemimpin SYSS dan menjadikannya The Order of Interbeing, komunitas yang didedikasikan untuk membawa agama Buddha langsung ke arena politik dan sosial. Anggotanya berkomitmen untuk melayani sesama dan mempraktikkan Empat Belas Latihan Kesadaran.

Sister Chan Khong adalah salah satu dari enam anggota asli, dan begitu juga teman terdekat Dharma-nya, seorang wanita muda bernama Nhat Chi Mai. Sister Chan Khong menulis dalam memoarnya, Learning True Love, bahwa suatu hari suara Sister Mai dengan anehnya menjadi lembut saat dia membaca latihan kesadaran kedua belas, Penghormatan untuk Hidup: “Jangan membunuh. Jangan biarkan orang lain membunuh. Temukan apa pun yang mungkin berarti untuk melindungi kehidupan dan membangun kedamaian.”

Keenam anggota asli dari Order of Interbeing. Sister Chan Khong berada di paling kiri, Sister Mai ketiga dari kiri. Saat ini, sudah ada lebih dari seribu anggota. Foto milik Parallax Press.

Beberapa minggu kemudian, Sister Mai menempatkan patung Bunda Maria dan Avalokiteshvara di depannya, lalu membakar dirinya sendiri. Dalam puisi dan surat-suratnya, ia meminta kepada umat Buddha dan Katolik untuk bekerja sama demi perdamaian, dan untuk perdamaian itulah maka dia kemudian mengorbankan dirinya.

Percaya bahwa cara terbaik untuk membantu menghentikan perang adalah dengan berbicara langsung kepada orang Amerika tentang harapan bangsa Vietnam akan perdamaian, maka Thich Nhat Hanh menerima undangan dari Universitas Cornell untuk memulai tur ceramahnya di AS. Beliau meninggalkan Vietnam yang dipikir hanya beberapa minggu saja dan meninggalkan Sister Chan Khong yang bertanggung jawab atas gerakan-gerakannya selama ini.

Keberangkatannya memberikan peluang bagi masyarakat Vietnam Selatan yang sudah menunggu kesempatan itu. Universitas Van Hanh menghentikan hubungannya dengan SYSS dan menuduh Sister Chan Khong sebagai seorang komunis. Meskipun anggota SYSS diserang, mereka tetap berjuang mengumpulkan dana dan dengan berani bertahan dalam pekerjaan mereka untuk meringankan penderitaan sesama tanpa memihak manapun.

Martin Luther King, Jr. berkata tentang Thich Nhat Hanh: “Saya pribadi tidak tahu siapa yang lebih layak lagi akan Hadiah Nobel Perdamaian selain biksu baik hati asal Vietnam ini.” Foto milik Parallax Press.

Di AS, Nhat Hanh bertemu dengan tokoh-tokoh penting dari kedua sisi perang, termasuk Menteri Pertahanan Robert McNamara, senator anti-perang William Fulbright, dan seorang Kristen kontemplatif terkenal Thomas Merton.

Thich Nhat Hanh membangun hubungan yang erat dengan promotor perdamaian besar lain pada masanya – pemimpin hak sipil Martin Luther King, Jr. Dalam suatu surat kepada King, Nhat Hanh mendesaknya untuk secara terbuka menentang Perang Vietnam, ia menulis, “Saya percaya dengan sepenuh hati bahwa para biksu yang membakar diri itu bukan berharap kematian dari para penindas, tetapi hanya pada perubahan dalam kebijakan mereka. … Saya juga yakin demi semua keberadaan saya bahwa perjuangan untuk kesetaraan dan kebebasan yang Anda pimpin di Birmingham, Alabama, bukan untuk menyerang orang-orang kulit putih, melainkan pada intoleransi, kebencian, dan diskriminasi. Merekalah musuh sejati manusia – bukan manusia itu sendiri.”

Ketika Nhat Hanh bertemu dengan King secara pribadi, ia mengatakan kepadanya bahwa umat Buddha Vietnam menganggap King sebagai bodhisattva. Ketika King kemudian menominasi Thich Nhat Hanh untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian, dia mengatakan kehormatan itu akan “mengingatkan seluruh bangsa bahwa orang-orang baik akan selalu siap untuk memimpin elemen-elemen yang berseteru keluar dari jurang kebencian dan kehancuran. Itu akan membawa kembali (mereka) pada ajaran keindahan dan cinta yang ditemukan dalam kedamaian.”

Pada hari yang sama ketika Thich Nhat Hanh mempresentasikan proposal perdamaiannya di Washington, pemerintah Vietnam Selatan menyatakan dia sebagai pengkhianat dan melarangnya kembali ke rumah. Foto milik Parallax Press.

Pada bulan Juni 1966, Thich Nhat Hanh mempresentasikan proposal perdamaian di Washington yang mendesak Amerika untuk menghentikan pengeboman dan menawarkan bantuan rekonstruksi yang bebas dari syarat politik atau ideologi. Beliau menekankan bahwa dia dan para pengikutnya tidak menyukai sisi manapun dalam perang dan hanya menginginkan perdamaian.

Sebagai tanggapan, pemerintah Vietnam Selatan langsung melarangnya kembali ke rumah. Perjalanan damai yang seharusnya berlangsung beberapa minggu menjadi empat puluh tahun di tempat pengasingan.

Pengasingan: 1966-2004

Thich Nhat Hanh mengatakan bahwa pengasingan dari Vietnam terasa seperti sel yang terpisah dari tubuhnya. Terlepas dari penderitaan pribadinya, pengasingan memungkinkannya bekerja untuk perdamaian dengan lebih bebas, dan, seperti yang dilakukan oleh Yang Mulia Dalai Lama, ini merupakan dasar baginya untuk menjadi guru spiritual yang terkenal di dunia seperti sekarang ini.

Thich Nhat Hanh di Paris, 1974.
Foto oleh Jim Forest.

Dengan suaka yang diberikan di Prancis, Nhat Hanh lalu menjadi ketua Delegasi Perdamaian Buddha Vietnam. Selama beberapa tahun berikutnya, kegiatannya termasuk mendirikan Gereja Buddhis Terpadu di Prancis, memberi ceramah di Sorbonne, dan sebagai delegasi untuk perundingan perdamaian Paris. Ketika Sister Chan Khong juga akhirnya bergabung dengannya di Prancis, pemerintah Vietnam Selatan juga mengasingkannya.

Ketika perang di Vietnam berakhir pada tahun 1975 dengan kemenangan Vietnam Utara, masyarakat Vietnam non-komunis – kurang lebih sebanyak dua juta – mulai mengungsi dari negara itu. Ratusan ribu orang mempertaruhkan perjalanan yang berbahaya melalui laut. Mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang kapal.

Pada 1978–1979, nasib orang-orang kapal menjadi krisis kemanusiaan yang besar. Mereka menjadi korban dari kapal yang penuh sesak, badai laut, dan pembunuhan serta perkosaan oleh para bajak laut. Kalau pun mereka berhasil sampai ke negara lain, mereka tertahan di kamp-kamp pengungsi. Terkadang kapal-kapal mereka dibuang kembali ke laut.

Nhat Hanh dan sekelompok kecil pengikutnya di Prancis sadar bahwa mereka harus turut membantu. Sister Chan Khong menyewa suatu kapal nelayan di Thailand, berpakaian seperti seorang nelayan, dan pergi ke laut untuk membantu orang-orang kapal tersebut. Setiap kali dia dan timnya menemukan kapal pengungsi, mereka memberinya makanan, bahan bakar, dan petunjuk menuju ke kamp pengungsi terdekat.

Dalam suatu rencana yang lebih ambisius, Nhat Hanh mengumpulkan uang untuk menyewa dua kapal besar, Roland dan Leapdal. Baru beberapa minggu di laut, mereka sudah menyelamatkan lebih dari delapan ratus orang-orang kapal dan berencana untuk membawa mereka ke Guam dan Australia. Meskipun rencana itu dihalangi oleh Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi, Nhat Hanh dan para pengikutnya tetap terus menyoroti penderitaan orang-orang kapal tersebut agar menjadi perhatian dunia, meyakinkan banyak negara dengan tujuan supaya mereka mau menerima para pengungsi dari Vietnam ini.

Ratusan pengungsi menaiki Roland, kapal barang yang disewa oleh komunitas Thich Nhat Hanh untuk menyelamatkan orang-orang kapal yang mengungsi dari Vietnam setelah kemenangan komunis. Foto milik Parallax Press.

Pada tahun 1971, setelah mendapatkan ketenangan yang mereka dambakan selama ini di Phuong Boi, Nhat Hanh dan para pengikutnya membeli suatu properti negara dengan suatu rumah kecil kumuh di sebelah tenggara Paris. Mereka menyebutnya Sweet Potatoes, dan itu menjadi pusat latihan pertama Thich Nhat Hanh di negara Barat.

Sweet Potatoes awalnya dijadikan sebagai suatu tempat tinggal sepanjang tahun bagi sebelas orang yang selamat dari perang, tetapi pada tahun 1982 rumah itu terlalu kecil untuk menampung orang-orang yang ingin berlatih di sana. Masyarakat lalu membeli tanah di Prancis selatan yang akhirnya sekarang menjadi Plum Village, namanya diambil dari buah manis yang tumbuh di wilayah tersebut walau tanahnya berbatu. Salah satu hal pertama yang mereka lakukan ialah menanam kebun buah plum dan keuntungannya digunakan untuk membantu anak-anak di negara-negara berkembang.

Sister Chan Kong bekerja di kebun Sweet Potatoes. Foto milik Parallax Press.

Bagi Thich Nhat Hanh, Plum Village merupakan bentuk kelahiran kembali semangat Phuong Bio. Hidup berkewawasan dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari – makan, berjalan, bekerja, atau menikmati secangkir teh dengan orang lain – dan pada tahun 1983 ada 117 praktisi di Plum Village. Ini kemudian menjadi kediaman utama Nhat Hanh, pusat komunitasnya dari seluruh dunia, dan monastik Buddha terbesar dan paling aktif di negara Barat.

Pada tahun 1987, Thich Nhat Hanh mendirikan Parallax Press di California untuk menerbitkan tulisan-tulisannya dalam bahasa Inggris, ditambah dengan buku-buku lainnya tentang ajaran Buddha dan kedamaian. Pada tahun 2000, ia mendirikan pusat pelatihan pertamanya di Amerika — Deer Park Monastery di California Selatan — dan komunitas mahasiswanya di Amerika tumbuh pesat.

Pada pertengahan 2000-an, Thich Nhat Hanh dinyatakan sebagai seorang guru agama Buddha utama, pengarang buku terlaris, dan pengajar terkemuka kehidupan sadar. Sebagaimana yang beliau lakukan sejak awal, berliau bekerja untuk membuat agama Buddha menjadi relevan dan mudah dipraktikkan. Seperti yang ditulisnya dalam Being Peace, “Anda bukanlah seorang pengamat, Anda adalah pelaku.”

Kembali ke Vietnam: 2005-2008

Thich Nhat Hanh akhirnya melihat tanah kelahirannya lagi pada tanggal 11 Januari 2005. Seorang guru Buddhis yang terkenal di dunia, baru kemudian diizinkan untuk kembali pulang setelah dilakukan negosiasi yang panjang dengan pemerintah komunis Vietnam. Selama perjalanan, ia ditemani oleh para anggota The Order of Interbeing — yang didirikan 41 tahun sebelumnya di Saigon pada masa perang — dan juga bersama murid-murid lainnya.

Beliau fokus pada pembangunan agama Buddha yang relevan dengan generasi muda. Beliau menyerukan kesetaraan gender dalam kalangan Buddhis di Vietnam. Ia menerbitkan empat bukunya dalam bahasa Vietnam. Dua wihara dibangun kembali dengan Nhat Hanh sebagai kepala spiritualnya, dan ratusan anak muda memohon untuk menjadi murid-murid monastiknya. Prajna Monastery, tidak jauh dari Phuong Boi, menjadi pusat pelatihan mereka.

Namun itu adalah cerita yang sama seperti beberapa dekade sebelumnya di Vietnam Selatan – pemerintah komunis khawatir bahwa begitu banyak orang, terutama anak muda dan orang-orang yang berpendidikan tertarik pada ajaran Nhat Hanh. Sehingga beberapa umat Buddha khawatir pemerintah akan memanfaatkan kunjungan itu untuk memberikan kesan kebebasan beragama padahal pelanggaran terus berlanjut. The Unified Buddhist Church of Vietnam, yang secara teknis ilegal, meminta Nhat Hanh untuk mengkritik kurangnya kebebasan beragama di sana.

Di Saigon, Thich Nhat Hanh menyelenggarakan salah satu dari tiga Grand Requiem Masses untuk memulihkan luka yang diderita kedua belah pihak dalam Perang Vietnam. Puluhan ribu orang Vietnam menghadiri upacara tersebut. Foto oleh Kate Cummings.

Ketika Thich Nhat Hanh melakukan kunjungan kedua ke Vietnam selama tiga bulan untuk mengajar, retret, dan upacara-upacara pada tahun 2007, tujuannya ialah untuk memulihkan luka perang yang diderita oleh kedua belah pihak.

“Jika kita tidak mengubah penderitaan dan luka tersebut sekarang, maka itu akan diteruskan ke generasi berikutnya, “katanya kepada orang-orang Vietnam. “Mereka akan menderita dan mereka tidak mengerti mengapa. Lebih baik kita lakukan sesuatu untuk mengubah penderitaan itu.”

Nhat Hanh memimpin beberapa kelompok yang anggotanya hingga 10.000 orang di retret meditasi dan memberi ceramah di wihara-wihara yang penuh dengan orang-orang yang menentang ketidaksetujuan pemerintah terhadap tampilan keagamaan. Intinya adalah “Upacara Penyembuhan Besar-Besaran,” disebut juga “Grand Requiem Masses.” Nhat Hanh memimpin upacara penyembuhan selama tiga hari di tiga kota – satu di utara, satu di wilayah tengah, dan satu di selatan – dan ribuan orang Vietnam ikut berpartisipasi. Orang-orang dari seluruh dunia juga diundang agar mengetahui bahwa ada jutaan orang yang tewas selama perang, dan bahkan komunis dipersilakan untuk membaca teks-teks yang menonjolkan sisi kemanusiaan.

Thich Nhat Hanh kembali ke Pagoda Tu Hieu, wihara pertamanya di Huế.
Foto oleh Paul Davis.

Selama kunjungan ini, Nhat Hanh bertemu dengan presiden Vietnam dan mengajukan proposal khusus tentang kebebasan beragama, termasuk membubarkan polisi agama yang korup. Beliau menerbitkan proposal ini dan kembali ke Vietnam untuk ketiga kalinya sebagai pembicara utama pada Perayaan Waisak PBB 2008 yang diadakan di Hanoi.

Kali ini di sana ada reaksi. Dalam beberapa minggu, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah untuk melawan Prajna Monastery, yang telah berkembang menjadi lebih dari lima ratus monastik muda dalam kurun waktu empat tahun sejak kunjungan pertama Nhat Hanh.

Selama bulan-bulan berikutnya, pemerintah memutus aliran air, listrik, dan saluran telepon ke wihara, menjadikan monastik sebagai korban pelecehan fisik dan seksual, serta mengirim orang-orang bayaran untuk melemparkan tinja ke para biksu. Pada Desember 2009, semua biksu dan biksuni dipaksa bubar dari Prajna Monastery. Saat ini, tidak ada lagi pusat latihan dalam tradisi Plum Village di Vietnam.

Thich Nhat Hanh disebut sebagai ayah dari kesadaran, pendiri Engaged Buddhism, dan “guru Zen yang memenuhi stadion.” Beliau telah mengubah cara pandang kita memahami ajaran Buddha dan perannya di dunia ini. Foto oleh Don Farber.

Guru Dunia

Pada umurnya yang ke 92 tahun, Thich Nhat Hanh diakui sebagai salah satu guru spiritual paling berpengaruh di dunia. Buku-buku terlarisnya telah mengajarkan dharma dan kesadaran kepada jutaan orang. Beliau telah menginspirasi para aktivis perdamaian dan lingkungan. Beliau telah mengumpulkan komunitas yang memiliki dedikasi tinggi untuk melanjutkan ajarannya ke masa depan. Beliau telah membantu membawa Buddhisme keluar dari wihara-wihara ke dalam setiap aspek kehidupan kita saat ini. Beliau telah membawa manfaat yang sangat besar bagi kita semua.

“Hidup kita sendiri harus menjadi pesan yang ingin kita sampaikan.”

Thich Nhat Hanh

Bersama Yang Mulia Dalai Lama, Thich Nhat Hanh merupakan penggerak utama agama Buddha di Barat. Beliau telah menjual lebih dari tiga juta buku di Amerika saja, termasuk buku-buku klasik seperti Being Peace, The World We Have, The Miracle of Mindfulness, dan The Heart of the Buddha’s Teachings. Diterjemahkan ke dalam tiga puluh lima bahasa, lebih dari seratus judulnya berkisar dari ajaran tentang kesadaran dalam kehidupan sehari-hari hingga karya ilmiah tentang Zen, sutra, dan psikologi Buddhis, ditambah lagi dengan buku anak-anak dan puisi.

Thich Nhat Hanh bersama Yang Mulia Dalai Lama.

Dalam buku-buku dan pengajarannya, Thich Nhat Hanh telah menerapkan filsafat dan praktik Buddhis dalam hubungan, politik, komunitas, lingkungan, ketertiban, dan hubungan internasional. Beliau meluncurkan Wake Up, suatu gerakan mendunia bagi generasi muda untuk berlatih dalam kehidupan yang berkewawasan dan menciptakan program Etika Terapan internasional untuk melatih para guru agar mengajarkan kewawasan sepenuhnya di sekolah-sekolah.

Thich Nhat Hanh telah menciptakan komunitas yang tersebar di seluruh dunia dengan lebih dari enam ratus monastik dan puluhan ribu umat awam. Plum Village di Prancis tetap menjadi pusat pelatihan dan wihara yang terpenting bagi komunitas. Sementara itu di AS, beliau telah mendirikan Deer Park Monastery di Escondido, California; Blue Cliff Monastery di Pine Bush, New York; dan Magnolia Grove Monastery di Batesville, Mississippi. Umat awam dapat bergabung dengan lebih dari seribu komunitas di kota-kota di seluruh Amerika Utara dan Eropa.

Visi Thich Nhat Hanh tentang agama Buddha yang terlibat secara sosial dan politik telah berkembang menjadi gerakan di seluruh dunia yang menginspirasi umat Buddha dari berbagai sekolah untuk berkomitmen demi perdamaian, keadilan sosial, dan melindungi lingkungan. Nhat Hanh sendiri telah memimpin pawai perdamaian, berpidato di Kongres AS, dan membawa orang Israel dan Palestina bermeditasi bersama-sama. Ketika ia berusia delapan puluh tahun, ia menyampaikan pidato kepada UNESCO yang menyerukan penyudahan siklus kekerasan, peperangan, dan perubahan iklim.

Thich Nhat Hanh setelah menderita stroke pada bulan November 2014. Foto milik Plum Village.

Pada November 2014, Thich Nhat Hanh menderita stroke serius. Membutuhkan waktu sepuluh bulan sampai akhirnya dia dapat berbicara lagi, dan hanya beberapa kata. Meskipun dia tidak diharapkan untuk melanjutkan peran publiknya, ajarannya akan terus berlanjut. Suatu perbendaharaan tulisan-tulisan yang mendalam, sangha yang hidup, dan puluhan ribu praktisi yang terinspirasi akan membawa pesannya kepada generasi mendatang. Di atas segalanya, seperti yang ditulisnya dalam The World We Have, “Hidup kita sendiri harus menjadi pesan yang ingin kitasampaikan.” Demikianlah, kehidupannya sendiri yang penuh keberanian, kasih sayang, dan pencerahan merupakan ajaran terbesarnya.

Sumber: Lion’s Roar

Naskah diterjemahkan oleh: Mira, disunting kembali oleh: Endah & Br. Phap Tu

Here is India, India is here

Here is India, India is here

Day of Mindfulness 7 April 2018
Day of Mindfulness 7 April 2018

Bersentuhan dengan latihan, membawaku kembali ke rumah sejatiku. Day of Mindfulness (DOM) merupakan latihan yang sangat saya tunggu-tunggu.

Seperti biasa, satu hari sebelum DOM diselenggarakan, saya  turut serta membantu di persiapan. Pada awalnya saya cuma berpikir bahwa “ah akhirnya saya bisa kembali berlatih”. Pada saat akhir, tiba-tiba Bhante turun dan membawa gitar. Saya langsung excited begitu mendengar bahwa besok kita akan mengawali DOM dengan Chanting Avalokitesvara. Saya pulang sebentar dan mengambil biola lalu kembali untuk berlatih.

Saat latihan dan chanting Avalokitesvara saya sempat bergetar haru. Sudah lama sekali kami tidak chanting bersama. Sejenak berpikir semoga teman-teman komunitas bisa berkumpul dan chanting bersama.

Pada hari Sabtu, saya harus mengantar ibu ke bandara terlebih dahulu. Sepanjang jalan, saya mengingat-ingat latihan yang sudah dilakukan semalam. Sesampainya di vihara, saya sempatkan diri saya untuk mengajar biola kepada 2 orang murid yang salah satunya juga merupakan peserta dan volunteer DOM.

Kami mulai kegiatan DOM tepat pukul 9 pagi. Ketika saya sudah maju ke depan, kami pemanasan dengan menyanyikan beberapa lagu-lagu latihan. Ada juga lagu yang kami belum latihan. Tapi ternyata kami dapat memainkannya dengan baik.

Sambil bermain, saya melihat teman-teman dari komunitas saya turut hadir. Awalnya teman-teman komunitas yang hadir hanya duduk di belakang, lalu bhante memanggil teman-teman agar dapat maju dan dapat melakukan chanting Avalokitesvara secara bersama-sama.

Chanting ini merupakan salah satu momen yang sangat saya senangi. Selain saya bisa merasakan getar nyanyian seluruh komunitas yang hadir. Saya merasa lebih tenang dan rileks. Sempat saya merasa sangat bersyukur masih memiliki kesehatan telinga sehingga bisa mendengar dengan baik. Beberapa peserta sempat terlihat merasakan haru yang sama rupanya. Bahagia? Tentunya sangat bahagia.

When you walk, you don’t talk
Saya ingin berbagi  sebuah cerita sangat menarik yang saya dengarkan saat bhante ceramah. Bhante bercerita ketika beliau sedang berlatih meditasi jalan bertiga di Plum Village. Sambil berjalan, bhante berbicara seru dengan 2 monastik llainnya. Tak lama, dari kejauhan Thich Nhat Hanh (Thay) melihat mereka. Seketika itu pun bhante dan 2 monastik lainnya terdiam. Saat berpapasan dengan Thay, Thay berkata “when you walk, you don’t talk”. Guru Thay kemudian berlalu begitu saja. Bhante merasa sangat tertampar dengan hal itu.

Saya sempat merasa sangat lucu pada awalnya. Namun kemudian berpikir. Kita terlalu sering mengerjakan banyak hal dalam satu momen. Sudahkah kita menyadari semua momen kekinian kita? Sudahkah kita berlatih hidup sadar hari ini? Apakah kita sedang sungguh-sungguh berlatih saat ini?

Terkadang saya pun merasa saya masih harus banyak berlatih. Dan dalam latihan, saya juga membutuhkan “lonceng kesadaran” dalam bentuk apa pun. Teguran Thay tadi juga sangat mengena di hati saya. Ketika saya naik motor jangan sambil mendengarkan lagu. Ketika saya makan jangan lah saya sambil berbicara. Nikmati satu momen kekinian pada satu waktu.

Here is India, India is here
DOM kali ini tidak ada diskusi kelompok seperti yang dilakukan pada DOM yang sudah-sudah. Kami justru mengganti diskusi bersama dengan nonton film berjudul “walk with me”. Ini adalah film dokumentasi tentang kegiatan-kegiatan keseharian yang dilakukan saat berlatih bersama. Setelah menonton, saya mendengarkan sharing Bhante pada saat tanya jawab sedang berlangsung.

Pada saat itu diceritakan bahwa Bhante merasa bosan berada di Perancis dan ingin kembali ke India. Lalu ketika ada kesempatan untuk bertemu dengan Guru Thay, Bhante meminta ijin untuk kembali ke India. Lucunya saat itu Guru Thay hanya terdiam. Beliau hanya menatap dengan tajam dan tidak berkata apa-apa. Sebentar kemudian Guru Thay beranjak untuk meninggalkan Bhante seorang diri. Dan ketika hendak membuka pintu untuk keluar, Guru Thay membalikkan badan dan berkata “Here is India, India is here”.

Ini adalah insight ke-2 yang saya dapatkan ketika mengikuti DOM di Ekayana. Sering kali ketika saya sedang berada di kantor atau sedang jenuh dengan semua pekerjaan yang menumpuk, saya merindukan rumah. Dan tidak lagi menyenangi hal-hal yang ada di lingkungan sekitar.

Kita menjadi lupa, bahwa kebahagiaan sesungguhnya berada di sini dan sekarang. Saya jadi terburu-buru karena ingin segera kembali ke rumah. Padahal belum tentu ketika kembali ke rumah, kita menjadi bahagia. Belum tentu ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, kita akan menjadi bahagia.

Seketika di momen itu, saya memusatkan pikiran sejenak untuk membayangkan rumah yang saya cintai dan menyadari bahwa saya sedang bernapas sekarang dan saya sedang berada bersama komunitas untuk berlatih. Penderitaan saya perlahan memudar. Terkadang kita tidak perlu mengkotak-kotak-an pikiran agar kita bisa bahagia.

Semua itu adalah bentuk-bentuk persepsi yang sebenarnya hanya akan membuat kita semakin menderita. Dengan melepaskan semua bentuk-bentuk persepsi dan membuka semua kotak-kotak yang ada di pikiran. Maka kita akan bahagia. Happiness is as simple as you breathe. Simple right?

DANIEL volunteer mindfulness dari Wihara Ekayana Arama.

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

Delapan puluh empat ribu, angka yang luar biasa banyak untuk suatu metode, kesemuanya untuk membuka Dharma-door (sengaja tidak di-Indonesiakan karena saya sangat suka mendengar bunyi kata tersebut dalam bahasa inggris). Apakah semua perlu dicoba, apakah seumur hidup ngotot mengatakan hanya metode ini terbaik atau lebih parah lagi mengatakan suatu metode salah tanpa melakukan pemeriksaan seksama? Buddha mengumpamakan segenggam daun di tangan-Nya hanyalah sedikit metode yang diajarkan-Nya dibandingkan semua daun dari 1 hutan. Namun hati-hati juga mempraktikkan metode yang benar-benar salah.

San Bu Yi Bai (三步一拜)
Ada satu e-book mampir di gadget saya, judulnya Master Empty Cloud, di sana diceritakan Biksu Xu Yun/Master Empty Cloud pada umur 43 tahun melakukan perjalanan ziarah dari Gunung Po To (Po To San) ke Gunung Five Peak Mountain sambil melakukan tiga langkah satu sujud. Beliau melakukannya karena malu setelah meninggalkan keluarga dan dua istrinya selama 20 tahun tidak juga tercerahkan (versi lain mengatakan sebagai wujud bakti untuk Ibu yang melahirkannya).

Selama perjalanannya Beliau menceritakan diselamatkan nyawanya dari dinginnya musim salju sebanyak dua kali oleh pengemis bernama Wen Ji yang belakangan dipercaya sebagai perwujudan Buddha Maitreya. Di akhir cerita, dituliskan Master meninggal dengan tenang dengan posisi tidur seperti Buddha Gautama, di bagian ini tak terasa air mata tak terbendung keluar, Saya rindu Master yang tidak pernah Saya kenal.

Penasaran dengan metode San Bu Yi Pai ini, Saya temukan referensi lain yaitu kisah dua Biksu Amerika, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalan ziarah tiga langkah satu sujud selama dua setengah tahun untuk perdamaian dunia di sepanjang pantai California dari tahun 1977 hingga 1979. Keduanya di kemudian hari menjadi guru besar universitas. Curiosity of the heart, itu katanya.

Tindakan Tidak Masuk Akal
Agama Buddha memiliki banyak ritual anggun, bagi orang-orang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai semua hal tersebut dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal, namun saat kita mengenalnya lebih mendalam kita akan melihat praktik tersebut sebagai metode untuk mengkultivasi atau menjangkarkan ilusi kita agar tersadarkan dan menjadi tercerahkan seperti halnya Buddha. Metode-metode ini membantu kita untuk mengetahui cara untuk menghindari penderitaan dan hidup bahagia.

Salah satu metode yang dikenal adalah San Bu Yi Bai, adalah ritual berjalan tiga langkah dan kemudian melakukan sujud sekali sambil menyebutkan nama Bodhisatwa atau nama Buddha, Setiap sujud adalah memberi penghormatan kepada Buddha (termasuk juga Bodhisatwa). Praktik ini untuk melepaskan tiga pikiran dan menghilangkan empat bentuk.

Tiga pikiran bahwa masa lalu sudah lewat dan tidak dapat digengam; saat ini pun akan mejadi masa lalu dan juga tidak bisa digengam, masa depan belum tersedia dan tentu saja tidak bisa pula digengam.

Empat bentuk karakteristik, setiap orang memiliki ego, ini adalah bentuk ego; ketika kita melihat seseorang, kita memunculkan bentuk pikiran bahwa ini manusia; ketika buah pikir muncul dalam pikiran kita, kita menghasilkan wujud-wujud dalam pikiran kita; kesinambungan buah pikir ini melalui waktu memunculkan bentuk waktu.

memurnikan pikiran, merendahkan ego dan mengurangi rintangan di sepanjang jalan spiritual saat seseorang menyesali perbuatan buruk masa lalu dan bercita-cita menuju perkembangan spiritual. Tubuh, ucapan dan pikiran selama melakukannya bersatu.

Mencicipi Metode Zen
Thay, panggilan akrab Thich Nhat Hanh seorang guru zen dari Vietnam mengutamakan komunitas harmonis yang tidak mengandalkan satu sosok utama.

Joy adalah kata tepat untuk mengambarkan efek dari latihan dengan metodenya. Racikan Beliau terlihat enteng dan kadang diberi label main-main, seiring waktu saya tahu, bahwa tidak ada yang mudah dalam berlatih. Ada bel yang mengingatkan saya bahwa dalam keringanannya ada latihan super berat, super serius. Maukah anda berlatih bersama Saya untuk mencicipi 1 dari 84.000 metode?

KSANTICA seorang praktisi mindfulness, anggota Ordo Interbeing Indonesia, dan volunteer retret dan Day of Mindfulness

Di Manakah Rumah Saya yang Sesungguhnya?

Di Manakah Rumah Saya yang Sesungguhnya?

Retret di Belanda. Bhadrawarman, dari kanan pertama.

Tahun lalu saya berkesempatan pergi ke Belanda bersama keluarga saya dan Brother Duc Pho, yang menjadi tubuh kedua (second body) saya. Di hari pertama saya menginjakkan kaki di Belanda, saya merasa seperti tiba di rumah. Saya pernah mengunjungi beberapa negara di Eropa lainnya, tetapi saya tidak merasakan perasaan yang sama seperti yang saya alami di Belanda. Di Perancis, saya belajar latihan agar tiba di rumah yang sesungguhnya, “I have arrived, I am home”.

Tanah air saya adalah Indonesia. Sering kali saya renungkan bahwa ketika saya masih berada di Indonesia, bahkan ketika saya berada di rumah, saya tidak benar-benar berada di rumah. Pikiran saya seringkali tidak berada di rumah, tidak bersama tubuh saya. Sekarang walaupun saya tidak berada di Indonesia, saya merasa lebih tiba di rumah. Saya belajar untuk bernapas masuk dan keluar ketika pikiran saya sedang meloncat-loncat. Saya belajar untuk berjalan dengan sedemikian rupa agar saya dapat kembali ke rumah yang sesungguhnya.

Saya merasa sangat bahagia dan rasanya sangat mudah untuk mempraktikkan “I have arrived, I am home” di Belanda. Teringat Sister Dieu Nghiem (Sister Jina) pernah menceritakan hal yang sama kepada saya. Ketika beliau datang ke Indonesia, beliau merasa seperti tiba di rumah. Beliau mempelajari bahwa banyak makanan di Belanda yang asalnya ternyata dari Indonesia. Saya baru saja tiba dari Belanda untuk mendukung retret yang diadakan di sana.

Retret di Belanda “Insight is the source of deep happiness”
Di awal retret, muncul perasaan sedikit tidak nyaman dan tidak disambut oleh peserta dan panitia retret. Peserta retret mengetahui dari informasi yang mereka dapatkan sebelum retret bahwa retret ini akan diadakan dalam bahasa Belanda. Di hari pertama saya memfasilitasi sesi berbagi Dharma di dalam sebuah kelompok yang kita sebut sebagai keluarga, mereka terkejut bahwa ada satu monastik yang tidak bisa berbahasa Belanda. Saya memfasilitasi sesi tersebut dalam bahasa Inggris. Awalnya semua orang berbicara dalam bahasa Inggris, karena sebenarnya mereka bisa berbahasa Inggris. Beberapa orang kemudian mengatakan bahwa mereka tidak merasa nyaman untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Kemudian kami memutuskan untuk membiarkan peserta retret di keluarga saya untuk berbicara dalam bahasa Belanda. Ada seseorang yang menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk saya.

Beberapa peserta retret di keluarga saya berbagi bahwa meskipun pada awalnya mereka merasa tidak nyaman karena masalah ini, akan tetapi mereka merasakan perasaan hangat di dalam keluarga. Tema retret ini adalah “Insight is the source of deep happiness”.

Saya berbagi kepada mereka bahwa pada awalnya saya tidak mengerti mengapa Thay memilih kata insight atau understanding sebagai terjemahan dari kata prajna dalam bahasa Sanskerta. Biasanya kata prajna diterjemahkan sebagai wisdom atau kebijaksanaan. Saya tidak mengerti mengapa Thay memilih kata yang maknanya terlihat lebih dangkal. Namun seiring berlalunya waktu, saya semakin mengerti mengapa Thay memilih kata pengertian atau insight. Teringat pada retret sadar penuh yang pertama saya ikuti, saya ajukan pertanyaan “Bagaimana caranya berlatih agar mendapatkan kebijaksanaan?” di sesi Tanya Jawab. Jawabannya adalah berlatih sila, samadhi, prajna.

Pada saat itu saya tidak begitu mengerti jawabannya. Barangkali karena pada saat itu saya baru mengenal latihan dan belum menerima sila Buddhis. Di Plum Village tiga latihan yang menjadi inti latihan adalah smrti, samadhi, prajna. Smrti adalah sila dalam bahasa Sanskerta. Samadhi adalah konsentrasi. Ketika Thay mengajarkan bahwa latihan sadar penuh dan konsentrasi dapat membantu kita untuk mendapatkan insight atau pengertian saya baru dapat mulai memahaminya. Saya dapat memahami diri saya sendiri, memahami tubuh dan pikiran saya.

Dahulu saya tidak benar-benar memahami tubuh saya sendiri. Makan berlebihan dan pola hidup yang tidak sehat membuat tubuh saya sangat gemuk. Sekarang saya sudah menurunkan lebih dari 20 kg berat badan saya. Dengan tubuh yang semakin ringan, pikiran pun menjadi lebih ringan. Saya dapat lebih memahami pikiran saya. Sekarang saya lebih memahami apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan berdasarkan Thay. Menurut saya sekarang, kata pengertian atau insight bahkan bermakna lebih dalam, dan membantu saya dalam memahami kebijaksanaan yang sesungguhnya dalam ajaran Buddha.

Jalinan Jodoh

Di sesi berbagi Dharma saya pun berbagi dengan jujur perasaan apa yang saya rasakan di awal retret, bahwa saya merasa sedikit terluka karena perasaan “tidak diterima” oleh peserta retret. Namun perasaan bahagia dan syukur saya jauh melampaui luka yang ada di dalam diri saya, dan membantu saya dalam menyembuhkan luka tersebut. Kemudian saya berbagi bahwa di tahun pertama saya di Plum Village, saya berada di kamar bersama tiga brother dari Vietnam. Dua diantaranya tidak begitu fasih dalam berbahasa Inggris, sehingga kami tidak dapat berkomunikasi dengan lancar. Saya melihat bahwa barangkali ini salah satu hal yang membuat saya di awal sulit untuk benar-benar tiba di Plum Village.

Di tahun kedua saya berada di kamar bersama dua brother dari Belanda, dan satu brother dari Vietnam. Semuanya fasih dalam berbahasa Inggris, sehingga membuat saya merasa nyaman ketika berada di kamar. Kedua brother tersebut juga merupakan sahabat spiritual (kalyanamitra) saya. Sebelum sekamar dengan mereka, saya sudah bersahabat dengan cukup erat dengan mereka. Sekamar dengan mereka membuat persahabatan kami kian erat. Kami semua adalah penggemar minum teh. Biasanya kami minum teh bersama kala fajar menyingsing sebelum meditasi duduk. Kadang kami minum teh bersama di siang, sore, atau malam hari.

Saya merasa mempunyai jalinan jodoh yang sangat erat dengan monastik dari Belanda. Teringat seorang monastik dari Indonesia pernah mengatakan bahwa tidaklah aneh bahwa monastik dari Indonesia dapat bersahabat erat dengan monastik dari Belanda. Barangkali karena jalinan jodoh yang kami miliki di masa lalu. Teringat pula Sister Chan Duc berbagi ketika beliau tiba di India pada pertama kali, beliau merasa sangat nyaman seakan tiba di rumah. Kemudian Thay berkata pada beliau bahwa barangkali beliau pernah terlahir sebagai orang India di kehidupan masa lalunya. Ketika saya mendengar hal ini, saya berpikir bahwa mungkin saya pernah terlahir sebagai orang Belanda di kehidupan masa lalu saya.

Memulai Lembaran Baru

Seiring dengan eratnya hubungan saya dengan mereka, kesalahpahaman dan miskomunikasi kerap kali muncul. Pertama kali saya merasa terluka karena salah satu brother dari Belanda yang salah paham terhadap saya. Cara dia mengungkapkan perasaannya sangatlah langsung, yang ternyata merupakan salah satu budaya orang Belanda. Jika pada waktu itu saya tidak mengungkapkan keinginan untuk berlatih memulai lembaran baru, barangkali persahabatan saya dengannya sudah berakhir. Hal ini terjadi karena saya menganggap bahwa saya tidak salah, dan dia memiliki persepsi keliru terhadap saya.

Jika saya dikuasai oleh keangkuhan diri saya, saya tidak akan mau untuk berlatih memulai lembaran baru dengan dirinya. Namun ternyata setelah berlatih latihan ini, kami melihat bahwa akar permasalahan ini sangatlah kecil, hanyalah kesalahpahaman belaka. Persahabatan kami pun kian erat karena kami semakin memahami satu sama lain. Saya mulai memahami budaya orang Belanda, dan dia mulai memahami budaya orang Indonesia. Ketika pengertian muncul di dalam sebuah hubungan, persahabatan (atau biasa disebut sebagai brotherhood & sisterhood di Plum Village) pun semakin erat!

Saya melihat bahwa pengertian (mutual understanding) merupakan salah satu aspek penting dalam suatu hubungan. Dahulu karena saya tidak mengetahui latihan sadar penuh, saya memiliki kesulitan untuk mengerti keluarga saya, maka dari itu sulit bagi saya untuk merasa “tiba di rumah” di rumah keluarga saya. Baru setelah mengetahui latihan, saya belajar untuk mengerti dan mengasihi orangtua saya. Dahulu saya belajar ilmu komunikasi di perguruan tinggi, namun saya tidak mempelajari bagaimana cara berkomunikasi dan berhubungan dengan keluarga saya.

Hubungan saya dengan orangtua dan adik saya dahulu sangatlah buruk. Baru setelah mempelajari seni mendengar secara mendalam dan berbicara dengan cinta kasih, hubungan saya dengan keluarga saya menjadi semakin membaik. Saya belajar untuk mendengar ketika papa saya marah. Dahulu saya tidak mengerti mengapa papa saya mudah sekali marah.

Sekarang saya mengerti bahwa itulah cara papa saya mengekspresikan kasihnya dan berupaya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena papa saya tidak mengetahui latihan untuk mendengarkan kemarahan di dalam dirinya, ucapan yang dilontarkan oleh papa saya menjadi dipenuhi dengan kepahitan. Alhasil hubungan kami bukan semakin baik namun menjadi semakin buruk. Baru setelah saya belajar untuk mendengar, saya memutuskan untuk berlatih mendengar ketika papa saya marah. Mama saya kemudian tertarik untuk mempelajari latihan, sehingga membantu mengubah keadaan di keluarga saya. Setelah itu saya baru merasa “tiba di rumah” di rumah keluarga saya. Sekarang saya berkesempatan untuk memperdalam ketibaan saya di Plum Village.

Teringat Thay mengajarkan bahwa tiba di rumah “I have arrived, I am home” adalah suatu latihan. Seiring dengan semakin dalam latihan kita, semakin dalam pula ketibaan kita. Di salah satu buku Thay mengajarkan bahwa latihan “I have arrived, I am home” adalah latihan paling mudah atau sederhana yang beliau telah ajarkan. Alangkah terkejutnya ketika saya membaca buku Thay yang lain, Thay mengatakan bahwa latihan “I have arrived, I am home” adalah latihan terdalam yang beliau telah ajarkan. Jadi di manakah rumah saya yang sesungguhnya? Saya menuju dalam perjalanan pulang ke rumah saya! (Bhadrawarman)

BHADRAWARMAN ditahbiskan sebagai samanera di Wihara Ekayana Arama, sekarang sedang berlatih di Upper Hamlet, Plum Village Perancis

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil
Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Batu kerikil (pebble) adalah bagian dari alam dan sangat mudah ditemukan dimana-mana. Supaya lebih menarik lagi, saya mengecat beberapa batu contoh agar anak-anak lebih fokus. Dua minggu ini pun diisi dengan memperkenalkan meditasi kerikil untuk semua kelas.

Sebelum berpraktik meditasi, saya mejelaskan terlebih dahulu tentang empat hal yang diwakili oleh setiap kerikil.

Kerikil pertama mewakili unsur bunga

Setiap manusia adalah seperti setangkai bunga di semesta. Seperti halnya bunga, manusia juga dapat layu dan tidak segar karena banyaknya masalah dan tekanan yang dihadapi. Oleh karena itu kita perlu menata dan mengembalikan kesegaran kita.

“Bunga berarti kesegaran kita. Kita semua memiliki kemampuan untuk menjadi segar, kekuatan untuk menjadi segar. Jika kita kehilangan kesegaran, maka kita bisa berpraktik menarik dan mengembuskan napas, sambil menata kembali kesegaran kita. Kamu juga sekuntum bunga, dan kamu memiliki kesegaranmu. Kita akan menjadi indah kembali, setiap kali kita menata kembali kesegaran kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai bunga.

Mengembuskan napas, saya merasa segar.

Bunga, segar.”

Kerikil kedua mewakili gunung yang kokoh

Terkadang muncul rasa gelisah, rapuh, tidak percaya diri dan putus asa dalam diri kita. Sehingga dibutuhkan kekokohan dan kestabilan dalam batin kita agar tidak goyah.

“Gunung mewakili kekokohan dan kestabilan. Ada pegunungan di dalam batinmu, karena ketika kamu berpraktik meditasi duduk dan meditasi jalan, kamu sedang menumbuhkan kemampuanmu untuk kokoh dan stabil. Kekokohan dan kestabilan sangatlah penting bagi kebahagiaan kita. Kita tahu bahwa kita memiliki kemampuan untuk stabil, kemampuan untuk kokoh. Jika kita tahu cara berpraktik berjalan sadar penuh, atau duduk sadar penuh, maka kita menumbuhkan kekokohan kita, kestabilan kita. Itulah gunung di dalam batin kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai gunung.

Mengembuskan napas, saya merasa kokoh.

Gunung, kokoh.”

Kerikil ketiga mewakili air yang tenang

Ketika permukaan air tenang, ia akan memantulkan apapun yang ada ada di atasnya dengan sempurna. Ketika kita hening, kita akan melihat segala hal sebagaimana adanya. Sebaliknya, jika kita tidak tenang, kita akan menjadi korban persepsi keliru.

“Air yang tenang memantulkan langit, awan, dan pegunungan. Air yang tenang sangatlah indah. Saat airnya tenang, maka ia akan memantulkan apapun seperti apa adanya, tanpa menambah atau menguranginya. Ketika kita belajar cara untuk menarik dan mengembuskan napas dengan sadar penuh, kita bisa menenangkan diri kita. Kita menjadi tenang dan damai, tidak lagi menjadi korban pandangan keliru. Kita memiliki kemampuan untuk menjadi luar biasa jernih, dan itulah air yang tenang di dalam batin kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai air yang tenang.

Mengembuskan napas, saya memantulkan apapun sebagaimana adanya.

Air yang tenang, memantulkan.”

Kerikil keempat mewakili ruang yang bebas

Ruang adalah kebebasan dan kebebasan adalah fondasi dari kebahagiaan sejati. Ketika diminta untuk memilih, pasti kita akan memilih berada di ruang yang luas dan bebas, alih-alih terhimpit dan sesak. Tetapi pada kenyataannya, kita sering berada dalam kondisi yang sesak akibat masalah dan tugas-tugas keseharian kita. Untuk itu, kita perlu menumbuhkan ruang dalam diri dan juga memberi ruang pada orang di sekitar kita, agar kita dapat merasa bahagia.

“Kita perlu memiliki ruang di dalam batin kita, agar kita bisa mengalami kebebasan dan sukacita. Tanpa ruang, kita tidak bisa berbahagia atau penuh kedamaian. Menarik dan mengembuskan napas, kita menyadari bahwa ada banyak sekali ruang di dalam batin kita. Ketika kita berpraktik, dalam cara yang bisa menumbuhkan ruang di dalam batin kita, maka kita menjadi bebas dan berbahagia.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai ruang.

Mengembuskan napas, saya merasa bebas.

Ruang, bebas.”

Setelah mendapat penjelasan, anak-anak lalu mengambil sikap duduk bermeditasi sambil memegang kerikil yang telah dibagikan. Usai bermeditasi, saya membagi lembaran kertas praktik untuk mereka gambar. Menggambar bunga, gunung, air yang tenang serta ruang yang bebas, sesuai imajinasi mereka.

Sebelum kelas berakhir, saya meminta mereka untuk menjawab pertanyaan di balik lembaran gambar mereka. Pertanyaan berupa kapan mereka merasa segar, semangat, penuh semangat dan ceria; kapan mereka merasa kokoh, kuat, dan penuh percaya diri; kapan mereka merasa tenang, hening, sunyi dan fokus; dan kapan mereka merasa bebas, ringan, dan relaks. Dari jawaban-jawaban yang terkumpul saya dapat merasakan kepolosan cara berpikir anak-anak. Sederhana dan tidak rumit.

This slideshow requires JavaScript.

Ada yang menarik setelah selesai sesi meditasi kerikil ini. Sekelompok anak-anak bersemangat mendatangi saya sambil menyodorkan batu yang telah mereka cari sendiri untuk saya beri warna. Hahaha.. Semoga praktik yang telah diberikan dapat mereka pahami dan praktikkan di rumah, serta bermanfaat bagi perkembangan spiritual mereka. (Rumini Lim)*

“Through mindful breathing and visualization, the qualities of freshness, solidity, clarity, and freedom are cultivated using the images of a flower, a mountain, still water, and a spacious blue sky. The pebbles help us make what can be abstract concepts into something more concrete.”

This slideshow requires JavaScript.

RUMINI LIM guru sekolah Ananda di Bagan Batu dan mengajar mindfulness class

Keindahan dari Sesuatu yang Sederhana

Keindahan dari Sesuatu yang Sederhana

Meditasi Minum Teh
Meditasi Minum Teh

Pada Sabtu, 24 Maret 2018 ini, kami akan berlatih meditasi mindfulness di kota kabupaten Muara Bungo. Keistimewaan dari latihan mindfulness kali ini adalah tambahan latihan meditasi menggunakan lilin yang mensimulasikan pelita dalam diri masing-masing.

Perjalanan dan Persiapan

Kami berkumpul di wihara pada pukul 6 pagi dan berangkat bersama-sama melalui jalan darat tepat pada pukul 06.30 pagi. Sepanjang kiri dan kanan jalan antara Jambi hingga Muara Bungo di Sumatera ini banyak terlihat pepohonan sawit dan karet yang mungkin bagi sebagian orang kurang menarik. Kendati demikian kami bahagia dapat menikmati perjalanan dengan bersenda gurau.

Sesuai dengan perkiraan, waktu tempuh ke lokasi memakan waktu 6 jam. Tepat pukul 12.30 siang. Perjalanan panjang yang berkelok-kelok tentunya membuat rasa lapar lebih terasa. Untungnya tuan rumah langsung menyambut dengan sajian makan siang yang sangat nikmat.

Jumlah peserta meditasi mindfulness kali ini berjumlah 32 orang. Latihan mindfulness dimulai pukul 14.00, dengan susunan jadwal relaksasi total, meditasi duduk, meditasi minum teh dan sharing pengalaman dan cerita. Persiapan segala kebutuhan latihan dan pembagian tugas dilakukan mulai pukul 13.30. Tugas-tugas tersebut mencakup menyiapkan teh dan makanan kecil, dokumentasi dan lain-lain.

Kami harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar dapat selesai latihan sesuai jadwal, sebab wihara akan dipakai untuk kebaktian puja Mahayana (liam keng). Hari ini memang bertepatan dengan hari uposatha tanggal 8 penanggalan lunar.

Relaksasi total

Kegiatan ini dilakukan selama 45 menit diiringi dengan renungan dan backsound yang mengantarkan relaksasi sangat berkualitas. Sahabat dari Bungo membawakan relaksasi ini dengan sangat apik walau pun baru perdana.

Relaksasi Total
Relaksasi Total

Meditasi Duduk

Usai relaksasi total, saya pun membacakan tuntunan meditasi duduk dari buku retret “Go as a River”. Meditasi ini kami lakukan selama 15 menit, mulai dari pukul 15.00 hingga pukul 15.15. Kemudian para peserta dipersilakan break selama 15 menit yang bisa dimanfaatkan untuk ke kamar kecil atau sekadar mengambil minum. Para volunteer pun menyiapkan teh dan makanan kecil.

Meditasi Duduk
Meditasi Duduk

Meditasi Minum Teh

Mengingat jumlah peserta yang cukup banyak dan kami harus bisa selesai tepat waktu, maka para volunteer membantu menuang teh yang akan dibagikan. Meditasi minum teh ini dimulai tepat pukul 15.30 dan saya menjelaskan cara melakukan pembagian gelas teh dan makanan kecil.

Saya mengangkat nampan dengan cangkir-cangkir berisi teh dan mengarahkan ke sahabat di sisi kanan saya. Sahabat tersebut akan beranjali dan mengambil satu cangkir teh dengan penuh perhatian dan meletakkannya di lantai. Kemudian kembali beranjali lagi ke saya dan menyambut nampan dari saya. Saya pun beranjali kepadanya sebelum dia mengarahkan nampan tersebut ke sahabat di sisi kanannya. Begitulah seterusnya nampan teh tersebut berpindah dari satu sahabat ke sahabat yang lainnya.

Ternyata cangkir teh di satu nampan tersebut tak cukup untuk seluruh peserta yang telah duduk melingkar dalam sebuah lingkaran besar. Seorang volunteer pun membawa satu nampan yang sudah disediakan di depan saya untuk menyambung nampan yang sudah kosong.

Cara yang sama pun dilakukan ketika mengedarkan makanan kecil. Makanan kecil kali ini terdiri dari chaipao mini (bakpao berisi chai = sayur-sayuran) dan brownies yang telah dipotong kecil-kecil. Masing-masing makanan dialasi dengan daun pisang yang digunting berbentuk bundar menyerupai piring kertas kecil.

Ketika lonceng dibunyikan, para peserta mengikuti instruksi untuk mengangkat cangkir teh masing-masing. Mereka pun mendengarkan syair minum teh yang saya bacakan.

 Secangkir teh di dalam kedua tanganku

Aku membangkitkan kesadaran sepenuhnya

Badan jasmani dan pikiran hadir sepenuhnya di sini dan saat ini.

 

Meditasi minum teh secara hening ini dilakukan selama 15 menit, yang diakhiri dengan mendengarkan bunyi lonceng.

Meditasi Minum Teh dan Sharing
Meditasi Minum Teh dan Sharing

Sharing 

Pada acara sharing, seorang sahabat bertanya mengenai posisi relaksasi total. Apakah harus tidur telentang lurus? Apakah tidak boleh miring ke kiri atau kanan?

Sahabat yang lain pun menjawab bahwa inti relaksasi total adalah mendapatkan posisi seluruh tubuh yang benar-benar relaks. Jika pertama-tama terasa kurang nyaman atau tidak relaks, maka dapat dicoba merelakskan seluruh tubuhnya. Lama-lama pun akan terbiasa.

Relaksasi total merupakan sesi yang sangat disukai, rata-rata peserta merasa sangat nyaman dan relaks setelah relaksasi total.

Ada juga pernyataan menggelitik dari salah seorang peserta yang baru pertama kali mengikuti latihan. “Mau minum teh saja kok repot, dari haus, sampai tidak terasa haus lagi.” Melihat mendalam atas kerepotan itu, ternyata bisa ditemukan pelatihan kesabaran. Jika fokus pada kesabaran maka benih kesabaran tersirami. Jika fokus pada kerepotan maka benih kerepotan yang tersirami.

Tepat pukul 16.30 acara sharing pun ditutup dengan membacakan sutra pelimpahan jasa. Hal ini dilakukan untuk mendedikasikan seluruh jasa kebajikan yang telah kami lakukan bersama-sama selama 2½ jam kepada para leluhur dan semua makhluk.

Cerita Si Buta dan Lentera

Pada rangkaian latihan ini sebenarnya ada satu sesi yang seharusnya dilakukan beruntun. Tetapi sesi tersebut cocoknya dilakukan pada malam hari, sehingga kami pun melakukan kegiatan sesi tersebut di malam harinya.

Sesi ini terinspirasi dari suatu artikel mengenai seorang buta yang membawa lentera di malam hari yang suasananya gelap. Si buta pun ditanya oleh orang yang berpapasan dengannya, “Mengapa engkau  membawa lentera? Apakah engkau menyalakan lentera untuk orang lain?”.

“Saya menyalakan lentera untuk diri saya sendiri,” jawab si buta.

Orang yang berpapasan pun kembali bertanya pada si buta,” Bukankah engkau buta dan tak bisa membedakan terang atau gelap?”

Si buta pun menjawab, “Tadi saya berjalan tanpa lentera dan beberapa kali saya tertabrak oleh orang lain yang berjalan berlawanan arah dengan saya. Saya pun menyalakan lentera agar orang lain dapat melihat jalan dan juga saya.”

Bila kita mampu menyalakan lentera atau pelita kita masing-masing maka kita akan bisa memperlihatkan terang kepada orang lain. Saat orang lain tergugah oleh terangnya lentera kita maka orang tersebut pun akan menyalakan lenteranya sendiri.

Lantas bagaimana cara melakukannya ?

Meditasi dengan Lilin

Caranya sederhana dan mudah, dan semoga simulasi ini dapat memberi inspirasi lebih kepada sahabat-sahabat terkasih.

Meditasi dengan Lilin
Meditasi dengan Lilin

Pertama-tama kami mempersiapkan backsound instrument lagu ‘lilin-lilin kecil’ dari Chrisye dan lilin-lilin untuk dibagikan. Setiap lilin diselipkan kertas agar lelehannya tak menetes di tangan. Masing-masing sahabat mendapatkan satu lilin.

Satu orang sahabat bertugas menyalakan lilin pertama dari lilin di altar baktisala. Setelah lilin menyala, sahabat tersebut duduk sambil memperhatikan nyala lilin ditangannya bernapas masuk dan keluar dengan damai. Sahabat di sisi kanannya pun menyalakan lilin dengan mengarahkan lilin yang dipegangnya ke lilin sahabat yang sudah menyala. Demikian seterusnya hingga lilin yang dipegang seluruh sahabat menyala.

Lilin-lilin tersebut menggambarkan diri kita. Jika kita mampu menyalakan pelita kita untuk menerangi kegelapan, maka kita akan menginspirasi orang lain untuk menyalakan pelita-pelita mereka. Setelah semua lilin menyala, kami pun berfoto. Hasil foto tersebut memperlihatkan keindahan dari suatu hal yang sangat sederhana.

Demikian juga dengan kita, bila pelita-pelita setiap orang menyala dengan benar maka dunia ini akan menjadi begitu indah.

Sebuah pelita bisa menyalakan banyak pelita

Bhante Nyanabhadra juga terus mendukung kami untuk dapat membentuk komunitas mindfulness agar kami bisa terus berlatih secara berkala. Kami pun dapat menyalakan pelita kami dan kelak dapat menginspirasi orang lain untuk menyalakan pelita mereka masing-masing.

Terima kasih kepada sahabat di Bungo yang telah berlatih bersama-sama kami. Semoga semakin banyak pelita yang menyala dengan benar sehingga tidak membakar namun hanya menjadi penerang kegelapan.

ELYSANTY Volunteer Day of Mindfulness dan Retret Hidup Berkesadaran dari Jambi

Sandal Butut yang Sangat Membahagiakan

Sandal Butut yang Sangat Membahagiakan

Sandal Butut yang Sangat Membahagiakan
Sandal Butut yang Sangat Membahagiakan

Betapa kebahagiaan itu sangat dekat dengan kita, apabila selalu hidup dengan pikiran-pikiran positif.

Baru-baru ini kami melakukan perjalanan ke sebuah wihara di salah satu kabupaten. Perjalanan ini menggunakan mobil dan waktu tempuhnya sekitar 6 jam. Tentunya dalam perjalanan kami harus berhenti untuk keperluan ke toilet dan meluruskan kaki yang tertekuk. Demi alasan ekonomis, mobil Avanza itu kami maksimalkan sampai tidak ada tempat yang tersisa.

Di dalam mobil tersebut terisi 1 orang di samping sopir, 3 orang di tengah dan 3 orang lagi di bangku belakang dengan jarak antara bangku yang begitu dekat, sehingga kaki kami harus bersentuhan langsung dengan jok bangku di depan. Ditambah lagi jalan yang berkelok-kelok membuat kami mabuk.

Saat turun di SPBU untuk ke toilet, semua penumpang turun, dan bagi mereka yang mabuk tentunya sekalian mengeluarkan isi perut yang tadi terguncang-guncang (muntah).

Demi menjaga kebersihan toilet, pada umumnya petugas menyediakan sandal pengganti. Hal ini dilakukan untuk mencegah kotornya toilet akibat sandal atau sepatu pengunjung yang menggunakan toilet. Maka kita wajib mengganti sandal atau sepatu yang digunakan dengan sandal yang telah disediakan. Jangan lupa juga untuk membayar pemakaian toilet ya, walau Rp. 2 ribu saja.

Setelah semuanya selesai ke toilet, kami pun melanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam kemudian, tiba-tiba mimik wajah seorang teman kami menunjukkan kekagetan dan shock. Dia baru menyadari bahwa telah lupa mengganti kembali sepatunya dengan sandal dari toilet di SPBU. “Ada yang tertinggal, ada yang tertinggal!” dia menyergah.

Saat ditanya, “Apa yang tertinggal?

Dia menjawab,”Sepatuku, sepatuku…

Spontan teman-teman yang lain pun melihat ke arah kakinya. Tampaklah di kakinya ada sepasang sandal jepit butut dengan talinya yang 2 warna, secara serempak semua teman-teman tertawa terbahak-bahak.

Yah sudah satu jam perjalanan, tidak mungkin untuk kembali lagi. Dan lagipula, jika kembali belum tentu si sepatu masih ada di tempatnya. Apa boleh buat dibawa tertawa sajalah. Dan ternyata hanya dengan melihat sandal jepit tersebut telah bisa membuat semua teman-teman tertawa berhari-hari. Saat melihat sandal itu maka memori momen di mobil saat itu langsung muncul dan menjadi lucu begitu saja.

Begitulah kebahagiaan bisa muncul dalam kondisi apa pun. Saat mabuk perjalanan menyebabkan kurangnya kesadaran, sehingga sampai bisa lupa untuk mengganti kembali sandal toilet dengan sepatu. Tetapi ternyata hal itu justru menjadi hal yang lucu. Hanya melihat foto sandal jepit tersebut saja bisa tertawa, begitupun saat melihat sandalnya yang tidak rela dibuang walau telah butut.

Si butut yang memberi begitu banyak kebahagiaan.

*ELYSANTY Volunteer Day of Mindfulness dan Retret Hidup Berkesadaran dari Jambi

Saran Sederhana Seorang Guru Zen Vietnam dalam Membangun Jiwa Murah Hati

Saran Sederhana Seorang Guru Zen Vietnam dalam Membangun Jiwa Murah Hati

Dalam menjalani hubungan, jangan menjadi seperti seorang akuntan saklek yang memperhitungkan pendapatan dan penerimaan. (Reuters/Athit Perawongmetha)
Dalam menjalani hubungan, jangan menjadi seperti seorang akuntan saklek yang memperhitungkan pendapatan dan penerimaan. (Reuters/Athit Perawongmetha)

Guru Zen Thich Nhat Hanh mungkin adalah tamu yang menyenangkan ketika berkunjung ke rumah. Beliau mempraktikkan latihan sederhana: setiap kali Anda mengunjungi rumah seseorang, cucilah piring mereka.

Latihan ini bukan hanya baik dilakukan untuk orang lain, namun Thich Nhat Hanh menjelaskan bahwa latihan ini juga membantu menumbuhkan semangat kemurahan hati. Mencuci piring orang lain adalah cara mengatasi kecenderungan manusia untuk menjadi akuntan dalam suatu hubungan, yaitu mencatat seberapa banyak yang sudah kita berikan, berapa banyak yang orang lain ambil, dan berusaha menjaga keduanya tetap seimbang.

Menurut Thich Nhat Hanh, memperhitungkan apa yang sudah kita berikan dan apa yang orang lain terima adalah hal yang buruk. Menurut beliau, memberi dengan penuh rasa kemurahan hati itu lebih masuk akal supaya kita bisa menemukan makna hidup berkelimpahan. Beliau menjelaskan:

Ada jenis sayuran di Vietnam yang disebut he (dibaca “hey”). Sayuran ini termasuk dalam keluarga bawang-bawangan, mirip seperti daun bawang, dan sangat enak dimasak dalam sup. Semakin sering anda memotong tanaman he pada pangkalnya, maka sayur ini akan semakin bertumbuh. Jika Anda tidak memotongnya, sayur ini tidak akan tumbuh besar. Namun jika Anda sering memotong he tepat di pangkal tangkainya, maka sayur ini akan tumbuh semakin besar. Demikian halnya dengan latihan kemurah-hatian. Jika Anda terus-menerus memberi, Anda akan menjadi semakin kaya sepanjang waktu, kaya dalam artian kebahagiaan dan kesejahteraan. Tampaknya aneh, namun inilah kebenarannya.

Perhitungan spiritual tidak berlaku seperti kapitalisme, perhitungannya juga agak berbeda. Saldo rekeningnya tidak bisa diseimbangkan seperti neraca karena tidak ada nilai yang disepakati bersama untuk mengukur tindakan-tindakan kebaikan. Selain itu, suatu hubungan tidaklah murni transaksional.

Thich Nhat Hanh berpendapat bahwa tindakan-tindakan kebaikan itu membantu baik orang yang memberi maupun menerima kebaikan. Beliau yakin kemurahan hati lebih memberikan imbal hasil dibandingkan jiwa yang kikir. “Lakukan sesuatu untuk orang lain dengan penuh keikhlasan, maka Anda akan menerima manfaatnya”, ucap beliau.

Latihan mencuci piring ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri untuk berlatih kemurahan hati, bahkan jika orang lain pelit. Tentu saja idealnya semua orang berkontribusi dengan setara, namun tidak semua orang memiliki posisi untuk berbagi dengan setara di setiap situasi. Jadi, jika Anda bisa memberi ketika seseorang sedang membutuhkan, ini membuat hidup menjadi lebih baik bagi semua orang. Dan jika Anda bisa memberi tanpa alasan apapun, maka itu adalah kemahiran yang sesungguhnya.

Selanjutnya, Thich Nhat Hanh menambahkan, kita bisa melatih diri untuk menikmati melakukan tindakan kemurahan hati. Contohnya, mencuci piring: “menurut saya, pemikiran bahwa mencuci piring itu tidak menyenangkan hanya muncul ketika Anda tidak benar-benar melakukannya,” tulis beliau. “begitu Anda berdiri di depan bak cuci piring dengan lengan kemeja Anda tergulung dan tangan Anda menyentuh air yang sejuk, maka mencuci piring itu benar-benar nyaman.”

Ditulis oleh: Ephrat Livni | 9 Maret 2018 
Alih Bahasa oleh: Aya M

Sumber: A Vietnamese Zen master’s simple advice on how to build generosity of spirit

Mendamaikan Hati dengan Latihan Mindfulness

Mendamaikan Hati dengan Latihan Mindfulness

Day of Mindfulness, Pusdiklat Buddhis Bodhidharma Jakarta

Secara tidak sengaja saya melihat poster kegiatan Day of Mindfulness (DOM) di grup WhatsApp yang diposting oleh teman saya. Tema kegiatan DOM yang diselenggarakan pada 10 Maret 2018 di Pusdiklat Buddhis Bodhidharma, Jakarta tersebut adalah “Drink your tea”. Sontak saya pun mengajak teman saya tersebut untuk ikut serta, kejadian tersebut sekitar dua minggu sebelum acara diselenggarakan.

Setelah bekoordinasi dengan komunitas di Wihara tempat kami biasa ibadah, total ada 8 orang yang melakukan pendaftaran. Tetapi ternyata beberapa orang di antaranya berhalangan, dan tersisa kami berdua saja. Saya awalnya sempat ragu, karena lokasinya cukup jauh dan kami berdua tidak tahu jalan. Sempat terpikirkan oleh saya untuk batal ikut serta jika teman saya tidak jadi. Tadinya saya ingin nebeng, tetapi entah kenapa justru saya tiba-tiba mengambil keputusan membawa kendaraan sendiri.

Dorongan cukup kuat justru timbul malam sebelum acara tersebut dan pada hari H. Kami memang meluangkan cukup waktu untuk nyasar-nyasar sedikit sebelum tiba di tempat tujuan. Ternyata saya dan teman saya berhasil tiba dengan selamat di Pusdiklat Buddhis Bodhidharma.

Memasuki lokasi tersebut sudah timbul perasaan tenang, padahal acara belum dimulai. Perlu diketahui juga bahwa saya adalah orang yang pesimis, sering dicakupi kesedihan yang tentunya dilingkupi energi negatif. Bahkan semalam sebelumnya pun saya mengalami kekesalan, anehnya hal tersebut sirna begitu saja. Entah karena saya memang sudah berniat untuk menjalani latihan, atau memang tempat tersebut benar-benar memancarkan energi positif yang kuat.

Meditasi Duduk
Acara dimulai agak telat, tetapi seperti telah saya ungkapkan sebelumnya, perasaan saya bahkan sudah tenang sebelum acara dimulai. Sebagai pembuka kami diberikan teks lirik lagu. Para volunteer memandu kami lengkap dengan gerakan tangan sesuai lirik. Sepertinya ini semacam pemanasan untuk membangkitkan rasa bahagia, sesuai dengan lirik lagu tentang happiness.

Kemudian Bhante Nyanabhadra melanjutkan acara dengan memberikan wejangan untuk  membangkitkan energi positif. Hal ini dapat dilakukan dengan hal yang sederhana, yaitu dengan senyuman. Memang senyuman bisa menularkan energi positif dengan cepat, karena mau tak mau orang cenderung balas tersenyum ketika ada yang tersenyum. Raut wajah Bhante pun senantiasa dihiasi dengan senyum dan mengingatkan untuk sering tersenyum.

Dibantu dengan suara lonceng, Bhante pun memandu latihan meditasi duduk. Selain meditasi duduk, latihan juga diiringi dengan beberapa gerakan yang dilakukan dengan tetap memperhatikan napas. Usai sesi ini, kami pun beristirahat sejenak dan bisa ke kamar kecil.

Meditasi Jalan
Selanjutnya latihan dipandu oleh Sister Rising Moon yang dimulai dengan ceramah mengenai Right Diligence atau Samma vayama yang merupakan bagian dari jalan utama berunsur delapan. Unsur ini merupakan usaha untuk mencegah bangkitnya keserakahan, kemarahan dan ketidakpedulian yang menjadi bibit penderitaan. Latihan mindfulness bisa menjadi usaha untuk mencegah bangkitnya kemarahan. Jadi setiap kali emosi mulai terpancing, kembali ingat untuk sadar memperhatikan napas.

Memang tidak mudah, tetapi senantiasa kemarahan dapat memudar. Saat mendengarkan ceramah tersebut sempat terbersit pertanyaan di diri saya, apakah hal tersebut berlaku juga untuk kesedihan. Setelah ceramah, dilakukan praktik meditasi jalan. Tak perlu berjalan terlalu pelan atau terlalu cepat, yang penting konsentrasi saat jalan untuk tetap memperhatikan napas.

Makan dengan Kesadaran
Kami kembali ke lantai dasar untuk makan bersama. Pada masing-masing meja sudah tersaji makanan yang beragam dan sederhana. Biasanya saya jarang ikut makan bersama, tetapi sepertinya latihan yang cukup menguras tenaga membangkitkan rasa lapar. Kami pun mengambil sajian ke piring dan mangkuk masing-masing dengan tertib.

Acara makan bersama dengan kesadaran dimulai dengan mendengarkan lonceng dan membaca lima renungan sebelum makan. Berikut adalah lima renungan tersebut:

  1. Makanan ini adalah pemberian seluruh alam semesta—bumi, langit, dan dari berbagai hasil kerja keras
  2. Semoga kami makan dan hidup dengan penuh kesadaran dan rasa terima kasih, agar kami layak untuk menerimanya
  3. Semoga kami dapat mengenali dan mengubah bentuk-bentuk pikiran tidak bajik, terutama keserakahan, dan belajar untuk makan dengan kewajaran
  4. Semoga kami dapat menjaga welas asih agar tetap hidup, melalui cara makan sedemikian rupa sehingga mengurangi penderitaan semua makhluk, melestarikan planet ini dan mengurangi efek perubahan iklim
  5. Kami terima makanan ini agar dapat merawat hubungan persaudaraan kakak dan adik, memperkuat Sangha, dan memupuk tujuan luhur dalam melayani semua makhluk.

Kemudian kami pun mulai makan dengan penuh kesadaran. Makan dengan kesadaran dilakukan dengan menyuapkan makanan ke mulut untuk dikunyah dan dirasakan dengan penuh kesadaran. Saat mengunyah dan menghayati rasa makanan, sendok diletakkan di piring. Jadi tangan tidak melakukan kegiatan apa pun, tidak menyiapkan suapan berikutnya. Cukup fokus pada kunyahan dan rasa makanan di mulut.

Setelah selesai menelan, baru menyiapkan suapan berikutnya, menyuapkan ke mulut dan kembali meletakkan sendok ke piring. Ternyata sensasinya luar biasa, makanan yang awalnya terlihat sederhana, terasa bukan main enaknya. Padahal saya tergolong orang yang pilih-pilih makanan. Tetapi makanan yang biasanya bukan merupakan favorit saya itu terasa sangat enak.

Usai sesi makan dengan kesadaran, kami tetap bisa melanjutkan makan dan minum sambil mengobrol. Jeda istirahat dan kembali ke ruangan latihan meditasi.

QiGong dan Meditasi Baring
Kembali ke kelas, kami bersantai sambil bernyanyi-nyanyi sejenak. Kemudian dilanjutkan dengan latihan QiGong atau Chikung yang dipandu oleh volunteer Kshantica. Latihan ini konon baik untuk kesehatan organ dalam. Namun tak boleh dilakukan sepotong-sepotong atau pun tak urut. Bagi saya yang jarang olahraga, bahkan jarang bergerak, alhasil chikung ini membutuhkan perjuangan berat. Rasanya otot kaki dan tangan pegal-pegal, namun terasa ada kehangatan yang menjalar. Padahal setiap gerakan hanya dilakukan satu menit saja.

Selesai latihan Chikung, dilakukan pendinginan, dan tibalah latihan yang dinanti-nantikan, meditasi baring. Selain dengan bunyi bel, volunteer memandu kami untuk merasakan kerja bagian tubuh saat meditasi baring ini. Suara mereka semakin sayup tak jelas, di sela-sela panduan juga sudah mulai terdengar suara dengkuran dari peserta lain. Saya termasuk orang yang susah tertidur, tetapi walau saya tak bisa hanyut tidur, rasa relaks terasa maksimal pada tubuh.

Minum Teh
Latihan meditasi ditutup dengan ritual minum teh dan sharing pengalaman. Sebelumnya saya sudah pernah mengikuti latihan meditasi dan ritual minum teh yang diselenggarakan DOM. Tetapi  tentu saja setiap kegiatan pasti ada variasi dan sedikit perbedaan.

Pada ritual minum teh ini kami duduk melingkar. Kemudian nampan berisi gelas teh pun diedarkan secara berkeliling. Sebelum mengambil gelas teh, penerima melakukan sikap Anjali, kemudian setelah gelas diambil, penerima kembali bersikap anjali dan mengambil alih nampan untuk ditawarkan ke penerima berikutnya. Hal tersebut berlaku juga untuk nampan cemilan. Cemilan yang tersedia terdiri dari dua jenis, yaitu manis dan asin.

Setelah masing-masing peserta sudah mendapatkan gelas teh dan cemilan, bhante pun memimpin upacara minum teh. Gelas teh dipegang dengan kedua tangan, lalu kami pun menikmati aroma teh dari gelas, baru kemudian mulai meminumnya. Benar-benar terasa kenikmatan teh tersebut.

Demikian juga dengan cemilan, saat gigitan pertama, perlahan rasa demi rasa dikecap oleh lidah. Perpaduan berbagai rasa tersebut memberikan kenikmatan yang lebih dari sekedar manis atau asin saja. Pada cemilan manis berupa Kitkat Matcha misalnya, gigitan pertama terasa manis susu, yang kemudian mulai terasa perpaduan teh hijau, kerenyahan wafer yang dibalut. Semua dirasakan dengan penuh kesadaran, bukan sambil lalu saja.

Sharing
Pada sesi sharing, Bhante juga berbagi, bahwa menikmati sesuatu dengan penuh kesadaran ini bisa dilakukan di kegiatan apa pun, bahkan saat menggosok gigi. Ketika melakukan gosok gigi dengan penuh kesadaran, hasilnya bisa terasa lebih segar karena memang semuanya dihayati dengan cermat.

Sebenarnya sempat ada rasa khawatir dari diri saya, bahwa latihan saat itu akan memudar, dan saya akan kembali bersedih kemudian. Tetapi saat mengobrol usai acara, memang latihan harus bisa tetap dilakukan sendiri. Selalu ingat untuk meditasi atau pun memperhatikan napas saat timbul perasaan yang negatif. Pertanyaan saya yang sempat terbersit saat Sister berceramah pun terjawab, ketika saya bersedih, saya pun harus mencoba untuk ingat untuk konsentrasi pada napas masuk dan napas keluar agar perasaan sedih tersebut sirna. Memang tak bisa langsung manjur, tetapi jika senantiasa dilatih layaknya menuang air tawar pada gelas yang berisi air pahit. Berangsur-angsur kepahitan tersebut akan berkurang.

Semoga energi positif terus berada di seputar saya dan ikut serta dalam memancarkan energi positif tersebut. Dalam keseharian, saya mencoba untuk ingat tersenyum, dan memperhatikan napas saat kesedihan muncul.

ENDAH praktisi telekomunikasi dan finansial yang bekerja secara freelance, ia juga menikmati menulis dan menyunting naskah.