Penyerahan Dana Pembangunan Ruang Kelas

Penyerahan Dana Pembangunan Ruang Kelas

Dengan penuh rasa sukacita, pada bulan Juni 2022, telah diserahkan dana yang terkumpul untuk Proyek Pembangunan Ruang Kelas di Plum Village Thailand (PVT). Dana sejumlah Rp250.797.629 tersebut diserahkan secara langsung kepada Abbot PVT, yaitu Br. Phap Anh, didampingi oleh Br. Phap Tu dan Br. Ky Ngo, dalam Gathering OI & Volunteer yang diadakan di Restoran Kembang Tandjoeng, Jakarta.

Penambahan ruang kelas ini sangat dibutuhkan mengingat PVT saat ini telah menjadi pusat pelatihan monastik bagi kawasan Asia. Proyek pembangunan ini direncanakan akan dimulai pada akhir 2022. Diharapkan dengan adanya penambahan dua ruang kelas ini dapat membantu pembelajaran dan pelatihan yang lebih memadai untuk para monastik di PVT.

Kami dari Komunitas Plum Village di Indonesia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur yang telah mendukung dan membantu proyek pembangunan tersebut. Ini merupakan salah satu cara untuk melanjutkan warisan guru kita, Master Zen Thich Nhat Hanh.

It takes time to practice generosity, but being generous is the best use of our time.  — Thich Nhat Hanh

 

 

Senyuman dari Plum Village

Senyuman dari Plum Village

Plum Village bukan merupakan sebuah wihara Vietnam yang terletak di tanah Eropa. Di Plum Village, kita bisa melihat budaya India, budaya Tiongkok, budaya Vietnam, dan budaya Barat. Jika kita perhatikan dengan saksama, kita melihat bahwa unsur non-Plum Village ada di Plum Village. Oleh sebab itu, Plum Village juga merupakan objek meditasi. Makin dalam kita mengamati, makin jelas kita melihatnya…. Jika kita melihat lebih mendalam, kita melihat bahwa Plum Village juga tidak lahir dan tidak mati. – Thich Nhat Hanh

 

Anh Thieu datang dari Vietnam dengan kapal bersama istri dan dua anaknya. Mereka adalah orang pertama yang membantu kami membangun Plum Village. Dari musim dingin tahun 1982 hingga musim panas tahun 1983, kami terus bekerja keras. Pada awal tahun 1983, kami mulai menanam beberapa pohon di Upper Hamlet. Pohon-pohon pertama yang ditanam adalah enam pohon pinus payung. – Thich Nhat Hanh

 

Jika Anda mengunjungi Plum Village, Anda harus membawa pulang Plum Village secara keseluruhan bersama Anda, tanpa kurang sedikit pun. Membawa pulang Plum Village, membuat Anda akan bisa bertahan lebih lama. Ajaran dan praktik mengenai “Aku telah tiba, aku di rumah” (I have arrived, I am home) selalu melengkapi ajaran tentang “mengalir seperti sebuah sungai dan bukan setetes air” (going as a river and not as a drop of water). Jika Anda adalah setetes air, maka Anda akan menguap di tengah jalan; tetapi jika Anda mengalir seperti sungai, Anda pasti akan mencapai samudera.– Thich Nhat Hanh

 

Foto-foto ini adalah milik Plum Village, Eileen Kiera, dan Lyn Fine. Sedangkan kutipan-kutipan dicetak ulang dari buku I Have Arrived, I Am Home (2003) oleh Thich Nhat Hanh dengan izin dari Parallax Press, Berkeley, California, www.parallax.org.

Melepaskan Kerbau Kita

Melepaskan Kerbau Kita

Ada banyak hal yang tidak bisa kita tinggalkan yang menyebabkan kita terperangkap di dalamnya. Pada awalnya, kita mungkin berpikir bahwa hal-hal itu sangatlah penting untuk kebahagiaan kita, akan tetapi sebenarnya justru bisa menjadi hambatan bagi kebahagiaan sejati kita dan menimbulkan penderitaan.

Kebebasan adalah landasan kebahagiaan. Kita tidak bisa bahagia jika kita terperangkap. Soliditas dan kebebasan adalah dasar otentik dari kebahagiaan. Itulah mengapa kita harus berlatih untuk memulihkan kebebasan kita dan menciptakan ruang di sekitar kita. Anda harus menemukan keberanian untuk melepaskan “kerbau” Anda.

Sukacita dan kebahagiaan lahir dari melepaskan kerbau-kerbau kita. (Dikutip dari The Path of Emancipation oleh Thich Nhat Hanh)

  1. Buatlah daftar tentang hal-hal yang menurut Anda penting bagi kesejahteraan dan kebahagiaan Anda
  2. Lihatlah secara mendalam apakah setiap hal tersebut membawa kebahagiaan bagi diri Anda atau malah menyebabkan Anda menderita
  3. Pertimbangkan kerbau mana yang ingin Anda latih untuk melepaskannya
  4. Tuliskan cara-cara konkret bagaimana berlatih melepaskan kerbau-kerbau Anda dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh

Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh

Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh adalah salah satu sutra terpenting dalam tradisi Plum Village, dan diajarkan di setiap retret Plum Village. Ketika Thich Nhat Hanh menemukan sutra ini, dia berkata, “Saya merasa saya adalah orang paling bahagia di dunia.

Terjemahan di bawah ini telah dipersiapkan oleh Thich Nhat Hanh dari Anapanasati Sutta, Majjhima Nikaya 118, dan juga ada di dalam buku Chanting from the Heart (Parallax Press, Rev.Ed., 2006). Terjemahan bahasa Inggris pertama Thay diterbitkan pada tahun 1988, dan beliau terus merevisi dan menyempurnakan terjemahannya dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk komentar lebih lanjut tentang teks ini, silakan melihat Thich Nhat Hanh, Breathe, You Are Alive! Sutra on the Full Awareness of Breathing (Parallax Press, Rev.Ed., 2010). Anda juga dapat membaca The Path of Emancipation: Talks from a 21-Day Mindfulness Retreat on the Discourse on the Full Awareness of Breathing (Parallax Press, 2000).

I

Aku mendengar sabda Buddha ini suatu ketika beliau menetap di Savatthi, di Taman Sebelah Timur, bersama sejumlah siswa yang terkenal dan berbakat, ada Sariputra, Mahamoggalyayana, Mahakassyapa, Mahakacchayana, Mahakotthita, Mahakappina, Mahachunda, Anuradha, Revata, dan Ananda. Para biksu senior dalam komunitas dengan tekun memberikan petunjuk kepada para biksu junior – beberapa mengajar sepuluh biksu, beberapa mengajar dua puluh, beberapa mengajar tiga puluh, dan beberapa mengajar empat puluh; dan dengan cara demikian para biksu yang baru berlatih mencapai kemajuan pesat secara bertahap.

Malam itu bulan purnama, dan Upacara Pavarana diadakan untuk mengakhiri retret musim hujan (vassa). Begawan Buddha, Yang Tercerahkan, sedang duduk di tempat terbuka, dan para siswa-Nya berkumpul di sekelilingnya. Setelah menatap semua orang yang hadir, Ia menyampaikan:

“Wahai para biksu, Saya bersukacita setelah mengetahui hasil yang telah Anda capai dalam latihan. Saya juga tahu Anda masih bisa mencapai kemajuan lebih jauh lagi. Apa yang belum Anda capai, bisa direalisasikan. Apa yang belum Anda sadari, dapat Anda sadari dengan sempurna. [Untuk ikut serta dalam memberikan dukungan] Saya akan menetap di sini hingga bulan purnama berikutnya. “

Ketika mereka mendengar bahwa Buddha akan menetap di Savatthi selama satu bulan lagi, para biksu dari seluruh negeri mulai berdatangan untuk menerima pelajaran dari Beliau. Para biksu senior terus mengajar para junior untuk berlatih bahkan lebih giat lagi. Beberapa biksu senior mengajar sepuluh biksu, beberapa mengajar dua puluh, beberapa mengajar tiga puluh, dan beberapa mengajar empat puluh. Melalui bantuan ini, para biksu yang lebih baru dapat, sedikit demi sedikit, mencapai kemajuan dalam pemahamannya.

Ketika bulan purnama berikutnya tiba, Buddha, duduk di bawah langit terbentang luas, melihat ke sekeliling para biksu yang berkumpul dan mulai menyampaikan:

“Wahai para biksu, komunitas kita murni dan baik. Pada intinya, dalam komunitas ini tidak ada pembicaraan yang tidak berguna dan kesombongan, dan oleh karena itu patut untuk menerima persembahan dan dipandang sebagai ladang jasa kebajikan. Komunitas seperti ini jarang ada, dan setiap peziarah yang mencarinya, tidak peduli seberapa jauh ia harus melakukan perjalanan, akan menganggapnya layak untuk dilakukan.

“O para biksu, ada biksu-biksu dalam kelompok ini yang telah mencapai tingkat Arahat, menghancurkan setiap akar kotoran batin (kilesa), meletakkan setiap beban, dan mencapai pengertian benar dan emansipasi. Ada juga para biksu yang telah memotong lima ikatan internal (samyojana) pertama dan mencapai hasil berupa tidak pernah kembali lagi (anāgāmī) ke siklus kelahiran dan kematian.

“Ada orang-orang yang telah melepaskan tiga ikatan internal pertama dan mendapatkan hasil berupa kembali sekali lagi (sakadāgāmi). Mereka telah memotong akar keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, dan hanya perlu kembali ke siklus kelahiran dan kematian sekali lagi. Ada orang-orang yang telah melepaskan tiga ikatan internal dan mencapai tingkat memasuki-arus (sotāpanna), dengan tenang berjalan menuju kondisi Yang Tercerahkan. Ada orang yang mempraktikkan Empat Landasan Kesadaran Penuh (satipaṭṭhāna). Ada orang yang mempraktikkan Empat Upaya Benar (sammappadhānā), dan ada yang mempraktikkan Empat Landasan Keberhasilan (Iddhipāda). Ada mereka yang berlatih Lima Pancaindra (pañca indriya), ada yang berlatih Lima Kekuatan (pañca bala), ada yang berlatih Tujuh Faktor Pencerahan (satta bojjhaṅgā), dan ada yang berlatih Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ada yang mempraktikkan cinta kasih, ada yang berlatih welas asih, ada yang berlatih sukacita, dan ada yang berlatih ekuanimitas (upekkhā). Ada yang mempraktikkan Sembilan Perenungan (paṭikkūlamanasikāra), dan ada yang berlatih Pengamatan tentang Ketidakkekalan. Ada juga para bhikkhu yang telah berlatih Napas Berkesadaran Penuh. ”

II

“O para biksu, napas berkesadaran penuh, jika dikembangkan dan dilatih secara terus menerus, akan bermanfaat dan membawa manfaat besar. Latihan ini akan menuntun pada keberhasilan dalam mempraktikkan Empat Landasan Kesadaran Penuh. Jika metode Empat Landasan Kesadaran Penuh dikembangkan dan dipraktikkan secara terus-menerus, praktik ini akan menuntun pada keberhasilan dalam latihan Tujuh Faktor Percerahan. Tujuh Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan memunculkan pemahaman dan pembebasan batin (pikiran).

“Bagaimana cara untuk mengembangkan dan berlatih metode Napas Berkesadaran Penuh secara terus-menerus sehingga latihan ini akan membawa hasil dan memberikan manfaat besar?

“Itu adalah seperti ini, para biksu: seorang praktisi pergi ke hutan atau di bawah kaki pohon, atau ke tempat yang sepi, duduk dengan stabil dalam posisi bersila berbentuk lotus, menegakkan tubuhnya, dan berlatih seperti ini: ‘Bernapas masuk, aku tahu aku sedang bernapas masuk. Bernapas keluar, aku tahu aku sedang bernapas keluar.’

1. ‘Menarik napas panjang, aku tahu aku sedang menarik napas panjang. Mengembuskan napas panjang, aku tahu aku sedang mengembuskan napas panjang.

2. ‘Menarik napas pendek, aku tahu aku sedang bernapas pendek. Mengembuskan napas pendek, aku tahu aku sedang mengembuskan napas pendek.

3. ‘Napas masuk, aku menyadari seluruh tubuhku. Napas keluar, aku menyadari seluruh tubuhku.’ Ia berlatih seperti ini.

4. ‘Napas masuk, aku menenangkan seluruh tubuhku. Napas keluar, aku menenangkan seluruh tubuhku.’ Ia berlatih seperti ini.

5. ‘Napas masuk, aku merasa sukacita. Napas keluar, aku merasa sukacita.’ Ia berlatih seperti ini.

6. ‘Napas masuk, aku merasa bahagia. Napas keluar, aku merasa bahagia.’ Ia berlatih seperti ini.

7. ‘Napas masuk, aku menyadari bentukan mentalku. Napas keluar, saya menyadari bentukan mentalku.’ Ia berlatih seperti ini.

8. ‘Napas masuk, aku menenangkan bentukan mentalku. Napas keluar, aku menenangkan bentukan mentalku.’ Ia berlatih seperti ini.

9. ‘Napas masuk, aku menyadari pikiranku. Napas keluar, aku menyadari pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

10. ‘Napas masuk, aku membuat pikiranku bahagia. Napas keluar, aku membuat pikiranku bahagia.’ Ia berlatih seperti ini.

11. ‘Napas masuk, aku memusatkan pikiranku. Napas keluar, aku memusatkan pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

12. ‘Napas masuk, aku membebaskan pikiranku. Napas keluar, aku membebaskan pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

13. ‘Napas masuk, aku mengamati sifat ketidakkekalan dari semua dharma (fenomena). Napas keluar, aku mengamati sifat ketidakkekalan dari semua dharma.’ Ia berlatih seperti ini.

14. ‘Napas masuk, aku mengamati lenyapnya keinginan. Napas keluar, aku mengamati lenyapnya keinginan.’ Ia berlatih seperti ini.

15. ‘Napas masuk, aku mengamati hakikat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena. Napas keluar, aku mengamati hakikat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena.’ Ia berlatih seperti ini.

16. ‘Napas masuk, aku mengamati melepaskan. Napas keluar, aku mengamati melepaskan.’ Ia berlatih seperti ini.

“Napas Berkesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan terus menerus sesuai dengan petunjuk ini, akan bermanfaat dan membawa keuntungan besar.”

III

“Dengan cara apa seseorang mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan Napas Berkesadaran Penuh, agar berhasil dalam latihan Empat Landasan Kesadaran Penuh?

“Ketika praktisi menarik atau mengembuskan napas panjang atau pendek, menyadari napasnya atau seluruh tubuhnya, atau menyadari bahwa ia sedang membuat seluruh tubuhnya tenang dan damai, ia berdiam dengan damai mengamati tubuh di dalam tubuh, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Pertama, yaitu tubuh.

“Ketika praktisi menarik napas masuk atau keluar, menyadari sukacita atau kebahagiaan dari bentukan mental, atau untuk mengkondisikan bentukan mental menjadi damai, ia bersemayam dengan damai dalam mengamati perasaan di dalam perasaan, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Kedua, yaitu perasaan.

“Ketika praktisi menarik napas masuk atau keluar dengan kesadaran pikiran, atau untuk membuat pikiran menjadi bahagia, untuk mengumpulkan pikiran dalam konsentrasi, atau untuk melepaskan dan membebaskan pikiran, ia bersemayam dengan damai dalam pengamatan pikiran di dalam pikiran, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Ketiga, yaitu pikiran (batin). Tanpa Napas Berkesadaran Penuh, tidak akan ada perkembangan stabilitas dan pemahaman meditasi.

“Ketika praktisi bernapas masuk atau bernapas keluar dan merenungkan inti dari ketidakkekalan atau inti dari lenyapnya keinginan atau sifat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena atau melepaskan, ia bersemayam dengan damai dalam pengamatan objek pikiran dalam objek pikiran, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Keempat, yaitu objek pikiran (objek batin, dharma).

“Praktik Napas Berkesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan menuntun pada pencapaian sempurna dari Empat Landasan Kesadaran Penuh.”

IV

Lebih dari itu, jika mereka dikembangkan dan terus menerus dipraktikkan, Empat Landasan Perhatian Penuh akan menuntun pada Tujuh Faktor Pencerahan yang sempurna. Bagaimana bisa?

“Ketika praktisi dapat mempertahankan, tanpa gangguan, berlatih mengamati tubuh di dalam tubuh, perasaan di dalam perasaan, pikiran di dalam pikiran, dan objek pikiran di dalam objek pikiran, dengan tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini, dengan stabilitas meditasi yang teguh, kukuh dan tak tergoyahkan, ia akan mencapai Faktor Pencerahan Pertama, yaitu kesadaran penuh (mindfulness). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat bersemayam dalam kestabilan meditasi tanpa terganggu dan dapat menyelidiki setiap dharma (fenomena, objek pikiran), setiap objek pikiran yang muncul, maka Faktor Pencerahan Kedua akan lahir dan berkembang dalam dirinya, yaitu faktor menyelidiki dharma (factor of investigating dharmas, dhamma vicaya). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat mengamati dan menyelidiki setiap dharma dengan cara berkelanjutan, tekun, dan teguh, tanpa terganggu, Faktor Pencerahan Ketiga akan lahir dan berkembang dalam dirinya, yaitu faktor energi (factor of energy, viriya). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi telah mencapai kestabilan, diam tak tergoyahkan dalam arus latihan, Faktor Pencerahan Keempat akan lahir dan dikembangkan dalam dirinya, yaitu faktor sukacita (factor of joy, pīti). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat berdiam tanpa gangguan dalam keadaan sukacita, ia akan merasakan tubuh dan pikirannya menjadi ringan dan damai. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Kelima akan lahir dan dikembangkan, yaitu faktor kelegaan (factor of ease, passaddhi). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika tubuh dan pikiran tenang, praktisi dapat dengan mudah masuk ke dalam konsentrasi. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Keenam akan lahir dan dikembangkan di dalam dirinya, yaitu faktor konsentrasi (factor of concentration, samādhi). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi berdiam dalam konsentrasi dengan ketenangan yang dalam, ia akan berhenti membeda-bedakan dan membandingkan. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Ketujuh muncul, lahir, dan dikembangkan dalam dirinya, yaitu faktor pelepasan (factor of letting go, upekkha). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

Ini adalah bagaimana Empat Landasan Kesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan menuntun pada pencapaian sempurna dalam Tujuh Faktor Pencerahan. ”

V.

“Bagaimana Tujuh Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dipraktikkan terus menerus, menuntun pada pencapaian sempurna dari pemahaman sejati dan pembebasan penuh?

“Jika praktisi mengikuti jalan Tujuh Faktor Pencerahan, hidup di tempat terpencil yang tenang, mengamati dan merenungkan lenyapnya nafus keinginan, ia akan mengembangkan kemampuan untuk melepaskan. Ini akan menjadi hasil dari mengikuti jalan Tujuh Faktor Pencerahan dan akan menuntun pada pencapaian sempurna dari pemahaman sejati dan pembebasan sepenuhnya.”

VI

Inilah yang disabdakan oleh Begawan, Yang Tercerahkan; dan setiap orang di dalam pesamuhan tersebut merasa bersyukur dan gembira telah mendengar ajaran-Nya.

Anapanasati Sutta, Majjhima Nikaya 118

 

51 Bentukan Mental

51 Bentukan Mental

Tiếng Việt

Sanskerta

English

Indonesia

 

徧行五

5 tâm sở biến hành

sarvatraga

5 Universals

5 Universal

xúc sparśa contact kontak
作意 tác ý mānaskāra attention perhatian
thọ vedanā feeling perasaan
tưởng saṃjñā perception persepsi
cetanā volition kehendak

別境五

5 tâm sở biệt cảnh

viniyata

5 Particulars

5 Partikular

dục chanda intention niat
勝解 thắng giải adhimokṣa determination ketetapan hati
niệm smṛti mindfulness kesadaran penuh
định samādhi concentration konsentrasi
tuệ prajñā (mati) insight wawasan

善十一

11 tâm sở thiện

11 Kuśala

11 Wholesome

11 Hal Bajik

tín śraddhā faith keyakinan
tàm hrī inner shame malu tidak berbuat bajik
quý apatrāpya, apatrapā shame before others takut tidak berbuat bajik
無貪 vô tham alobha absence of craving tanpa keserakahan
無瞋 vô sân adveśa absence of hatred tanpa kebencian
無癡 vô si amoha absence of ignorance tanpa ketidaktahuan
精進 cần vīrya diligence, energy keuletan, semangat
輕安 khinh an praśrabdhi tranquility, ease ketenangan, ketenteraman
不放逸 bất phóng dật apramāda vigilance, energy kewaspadaan, semangat
行捨 hành xả upekṣā equanimity ekuanimitas, non diskriminasi
不害 bất hại ahiṃsā non harming tanpa kekerasan


禪師添

Thầy Nhất Hạnh
thêm

Wholesome M.F.
added by Thầy

Bentukan Mental Bajik yang ditambahkan oleh Thầy

無畏 vô úy abhaya non fear tanpa ketakutan
無憂 vô ưu asóka absence of anxiety tanpa kegelisahan
kiên sthira stability, solidity kekokohan, kestabilan
từ maitri loving kindness cinta kasih
bi karuna compassion welas asih
hỷ mudita joy sukacita
khiêm sagauravatā humility kerendahan hati
lạc sukha happiness kebahagiaan
清涼 thanh lương nirjvara feverlessness kesejukan batin
自在 tự tại vasika freedom/sovereignty kebebasan/kedaulatan

根本煩惱六

6 căn bản
phiền não

6 Kleśa

6 Primary
Unwholesome

6 Kekotoran Batin Utama

tham rāga craving, covetousness keserakahan, ketagihan
sân pratigha hatred kebencian
si mudhi ignorance, confusion ketidaktahuan, kebingungan
mạn māna arrogance kesombongan
nghi vicikitsā doubt, suspicion keraguan, kecurigaan
惡見 kiến dṛṣṭi wrong view pandangan keliru

隨煩惱二十

20 tùy phiền não

được chia làm 3 phần

20 Upakleśa

20 Secondary
Unwholesome

20 Kotoran Batin Sekunder

小隨煩惱十

tiểu tùy: 10

10 Minor Secondary
Unwholesome

10 Kotoran Batin Sekunder Kecil

忿 phẫn krodha anger kemarahan
hận upanāha resentment, enmity kebencian, permusuhan
phú mrakṣa concealment menyembunyikan/merahasiakan sesuatu
não pradāśa maliciousness kedengkian
tật īrṣyā jealousy kecemburuan
xan mātsarya selfishness, parsimony keegoisan, kekikiran
cuống māyā deceitfulness, fraud kecurangan, kebohongan
siễm śāṭhya guile tipu muslihat
hại vihiṃsā desire to harm keinginan untuk menyakiti
kiêu mada pride keangkuhan

中隨煩惱二

trung tùy: 2

2 Middle Secondary
Unwholesome

2 Kotoran Batin Menengah

無慚 vô tàm āhrīkya lack of inner shame tanpa rasa malu berbuat jahat
無愧 vô quý anapatrāpya, anapatrapā lack of shame before others tanpa rasa takut berbuat jahat

大隨煩惱八

đại tùy: 8

8 Greater Secondary
Unwholesome

8 Kotoran Batin Sekunder Besar

掉擧 trạo cử auddhatya restlessness kegelisahan
惛沉 hôn trầm styāna drowsiness ketidur-tiduran
不信 bất tín āśraddhyā lack of faith, unbelief kurang keyakinan
懈怠 giải đãi pramāda laziness kemalasan
放逸 phóng dật kausīdya negligence kelalaian
失念 thất niệm muṣitasmṛtitā forgetfulness kealpaan, tanpa kesadaran penuh
散亂 tán loạn vikṣepa distraction distraksi
不正知 bất chánh tri asaṃprajanya lack of discernment tanpa pikiran tepat

一行禪師添加

Thầy Nhất Hạnh
thêm

Unwholesome M.F.
added by Thầy

Kotoran Batin yang ditambahkan oleh Thầy

恐懼 sợ hãi bhaya fear ketakutan
lo lắng (hồi hộp) soka anxiety kegelisahan
絕望 tuyệt vọng visada despair keputusasaan

不定四

4 tâm sở bất định

aniyata

4 Indeterminate

4 Hal yang Tidak Pasti

hối kaukṛtya regret, repentance penyesalan, pertobatan
miên middha sleepiness rasa kantuk
tầm vitarka initial thought pikiran awal
từ vicāra sustained thought pikiran lanjutan

 

Gerakan Berkesadaran Ilustrasi

Gerakan Berkesadaran Ilustrasi
Ilustrasi oleh Vietske Vriezen

Oleh Thich Nhat Hanh | 24 Desember 2017

Thich Nhat Hanh memberikan tiga latihan untuk kesejahteraan tubuh dan batin kita.

Berkesadaran penuh (mindfulness) adalah kemampuan kita untuk menyadari apa yang terjadi baik di dalam diri kita maupun di sekitar kita. Mindfulness adalah kesadaran yang berkesinambungan dari tubuh, emosi, dan pikiran kita. Melalui berkesadaran penuh, kita menghindari menyakiti diri sendiri dan orang lain, dan kita dapat melakukan keajaiban. Jika kita hidup dengan penuh kesadaran dalam kehidupan sehari-hari, berjalan dengan penuh kesadaran, penuh cinta kasih dan perhatian, maka kita dapat menciptakan keajaiban dan mengubah dunia menjadi tempat yang indah. Kejernihan batin mengalir dari mindfulness. Ketika kita sadar penuh, kita dapat berlatih pikiran benar dan ucapan benar. Dengan energi berkesadaran penuh, kita selalu dapat kembali ke rumah sejati kita, yaitu saat ini.

Praktik berkesadaran penuh mencakup semua bidang dan aktivitas, termasuk tindakan keseharian yang sederhana dan setiap napas kita. Kita sering menganggap bernapas hanyalah keterampilan alami biasa; semua orang tahu bagaimana cara menghirup dan mengembuskan napas. Akan tetapi bernapas adalah keajaiban. Menyadari napas tidak hanya membantu kita mengatasi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi juga membantu mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih kita. Kita dapat duduk bersila dan bernapas, tetapi berlatih bernapas penuh kesadaran saat kita bergerak juga sama pentingnya.

Hidup adalah sebuah jalan, tetapi hidup bukan tentang pencapaian pada tempat tertentu. Gerak berkesadaran di bawah ini adalah cara untuk berlatih bergerak tanpa suatu tujuan atau niat. Gerak berkesadaran adalah cara yang bagus untuk menghubungkan antara pikiran dan tubuh Anda di dalam mindfulness. Ketika Anda melakukannya, silakan menikmati setiap bagian dari setiap gerakan. Lakukan apa yang Anda bisa. Mereka tidak seperti aerobik, di mana Anda harus bergerak secepat mungkin. Tidak perlu terburu-buru. Ketika saya melakukannya, saya menemukan diri saya tidak bisa menahan senyum. Saya harap gerakan-gerakan ini memberi Anda sukacita.

Untuk memulai, berdirilah dengan kedua kaki kokoh di atas lantai, dan dibuka selebar bahu. Lutut Anda lembut, sedikit ditekuk dan tidak terkunci. Berdirilah dengan tegak dan santai. Kendurkan kedua bahu Anda. Bayangkan seutas benang tak terlihat menempel di bagian atas kepala Anda dan menarik Anda ke atas langit. Jaga agar tubuh tetap tegak, masukkan sedikit dagu Anda ke dalam agar leher bisa rileks. Biarkan napas masuk turun hingga ke perut. Kemudian buang napas sepenuhnya. Lanjutkan bernapas secara perlahan, sadari setiap napas masuk dan napas keluar.

Bumi dan Langit

Buka kaki Anda selebar pinggul. Bernapas masuk, angkat tangan hingga ke atas kepala, kedua telapak tangan menghadap ke depan. Regangkan sepenuhnya, dan lihat ke atas seakan-akan Anda menyentuh langit. Bernapas keluar, tekuk pinggang saat Anda menurunkan tangan untuk menyentuh bumi. Lepaskan ketegangan di leher Anda. Dari posisi ini, tarik napas masuk dan jaga punggung tetap lurus saat Anda kembali naik ke atas dan menyentuh langit. Lakukan gerakan menyentuh bumi dan langit ini sebanyak tiga hitungan lagi.

 

Jadilah Seperti Bunga

Bernapas masuk, angkat kedua lengan ke samping, telapak tangan menghadap ke atas, kedua lengan setinggi bahu, dan sejajar dengan lantai. Bernapas keluar, sentuh bahu Anda dengan ujung jari, jaga agar lengan atas agar tetap horizontal. Bernapas masuk, buka kedua lengan Anda, rentangkan hingga ke posisi horizontal lagi. Bernapas keluar, tekuk kedua siku, bawa ujung jari kembali ke bahu. Ketika Anda menarik napas masuk, Anda seperti bunga yang terbuka di bawah sinar matahari yang hangat. Saat mengembuskan napas keluar, bunga menutup. Dimulai dari posisi dengan ujung jari di bahu, lakukan gerakan ini tiga kali lagi. Kemudian turunkan kembali kedua lengan Anda ke samping badan.

Membuat Lingkaran dengan Kaki

Mulailah dengan kaki Anda berdiri tegak dan kedua tangan Anda di pinggang. Letakkan berat badan Anda di kaki kiri dan, bernapas masuk, angkat kaki kanan lurus di depan Anda, lalu buatlah gambar lingkaran menjauh dari Anda ke arah kanan. Bernapas keluar, buatlah lingkaran ke arah belakang dan turunkan di belakang Anda, biarkan jari kaki menyentuh lantai. Bernapas masuk, angkat kaki Anda ke belakang, lalu buatlah lingkaran menjauh dari Anda ke arah kiri. Bernapas keluar, lanjutkan membuat lingkaran ke arah depan, lalu turunkan kaki Anda dan letakkan kaki di lantai, biarkan berat badan Anda kembali berada di kedua kaki. Sekarang lakukan latihan dengan kaki lainnya. Ulangi rangkaian gerakan ini sebanyak tiga hitungan lagi. ♦

Diadaptasi dari Mindful Movements: Ten Exercises for Well-Being, oleh Thich Nhat Hanh, atas izin dari Parallax Press.

Astrid Prajogo

Astrid Prajogo

Pendiri dan CEO di Haofood, Cina

Bisakah Anda mengubah sistem makanan yang sudah ketinggalan zaman menjadi sesuatu yang jauh lebih berbasis tanaman (plant-based), berkelanjutan (sustainable), dan ramah hewan (animal friendly), tetapi tidak harus mengidentifikasi diri sebagai vegan? Oh, tentu saja! Bagi Astrid Prajogo, kira-kira seperti ini:

“Sebagai orang Indonesia, saya memiliki hubungan yang kuat dengan laut. Kami berenang, snorkeling, dan menyelam di laut setiap saat sejak masa kanak-kanak. Itu memberi kami banyak kebahagiaan,” kenangnya. “Pada salah satu sesi menyelam saya di Bali delapan tahun lalu, saya mulai melihat semakin banyak warna karang yang berubah menjadi putih. Momentum itu benar-benar menyadarkan saya, seperti: “Wah, perubahan iklim memang sangat nyata”. Itu membuat saya berpikir bahwa jika perubahan iklim itu nyata, maka mungkin akan segera sulit bagi kita untuk mendapatkan bahan makanan dengan kualitas terbaik. Hal-hal tidak selalu semudah dan terjangkau seperti sekarang ini.” Sebagai seorang foodie (dan juga manusia), membayangkan kelangkaan makanan lezat benar-benar telah mengguncangnya.

“Daging nabati yang lezat dapat membantu non-vegan mendukung orang yang mereka cintai dengan lebih baik.”

Inspirasi, hal yang disukai dan kiat hidup:

  • Kiat hidup pada masa pandemi yang membantu Anda bertahan hidup di tahun 2021: Praktik bernapas berkesadaran penuh dan berjalan berkesadaran penuh tanpa berpikir atau “tiba” di mana pun. Tidak hanya pada tahun 2021 tetapi selama lima belas tahun terakhir ini.
  • Seseorang yang menginspirasi Anda: Thich Nhat Hanh.
  • Serial/film terakhir yang membuat Anda terjaga: Emily in Paris (sangat lucu!)
  • Buku favorit/Buku yang harus dibaca semua orang: Anger dan How to Eat oleh Thich Nhat Hanh.
  • Obsesi podcast terbaru: Saya tidak punya podcast favorit. Namun saya paling sering mendengar podcast dari guru saya Thich Nhat Hanh dan mentor saya di Plum Village.
  • Aplikasi yang menurut Anda paling berharga: Plum Village App.
  • Makanan favorit/suguhan vegan favorit: Baguette, roti khas Prancis, dan sayuran tumis ala Kanton.

Pertama, dia tidak bisa membayangkan menjadi seorang vegan. “Rasanya seperti konflik yang tidak pernah berakhir dalam diri saya: Saya tahu saya harus mengubah cara makan saya untuk mempertahankan kebahagiaan saya dari makanan yang baik, dan salah satu cara utama untuk melakukannya adalah dengan mengurangi asupan daging, tapi saya tidak menyukai rasa daging vegan yang saya kenal selama ini. Saya yakin saya tidak sendirian dalam hal ini.” Segalanya mulai berubah pada saat dia menyantap Beyond Burger dan Impossible Meat. “Lalu saya mengerti. Produk-produk itu sangat berbeda dalam rasa dan tekstur dari daging vegetarian tradisional Cina yang saya pikir adalah satu-satunya alternatif saya! Itu mengilhami saya untuk membuat ayam nabati yang sangat lezat,” kata Astrid tentang momen yang menentukannya itu.

Pengalaman tujuh belas tahun dalam berwirausaha, mulai dari komunikasi kreatif hingga keahlian memasak (gastronomy), sepertinya merupakan dasar yang baik untuk dikembangkan. Sosok perempuan yang selalu bangga terhadap Indonesia yang pindah ke Tiongkok 23 tahun lalu, Astrid, sebelumnya telah membangun Good Indonesian Food, disajikan di Kementerian Pariwisata Indonesia, dan dengan kegiatan tersebut, telah memperkenalkan kepada banyak orang akan budaya lokal yang autentik, yang kaya dan beragam. Dia bisa melakukan hal serupa di industri protein nabati, sambil melakukan perjalanannya sendiri. Haofood, perusahaan ayam vegannya yang berbasis di Shanghai yang menggunakan protein kacang sebagai bahan dasar, mulai bersinar di tahun 2020. “Motivasi tambahan adalah putri saya yang berusia 9 tahun menjadi vegetarian dalam semalam. Meskipun saya sangat bangga padanya, sebagai seorang ibu, saya juga merasa stres karena dia tidak dapat menemukan apa pun untuk dimakan, dan saya khawatir apakah dia akan mendapatkan nutrisi yang tepat.

“Saya ingin memberdayakan orang untuk mengalami keajaiban dan pesona magis makanan, dan membuat mereka lebih bahagia melaluinya, selamanya.”

“Ketika saya melakukan sesuatu, saya memberikan dedikasi diri saya 100%. Saya hanya ingin yang terbaik dari yang terbaik, tidak ada yang lain selain yang terbaik. Jika tidak, saya tidak akan melakukannya. Dan ketika saya melakukannya, itu selalu terbayarkan. Jika saya tidak mendapatkan hasil yang saya proyeksikan, setidaknya saya mendapat pelajaran yang bagus dan itu membantu saya untuk melompat.” Dalam satu tahun, mereka tumbuh dari 4 anggota pendiri menjadi tim yang terdiri dari 20 orang, dan dari 0 restoran menjadi 150 gerai restoran. Puas namun ingin lebih, dia mengerjakan sesuatu yang bagi setiap pengusaha yang memiliki misi tahu dengan baik: “Bagaimana saya mempertahankan diri saya secara efisien dan efektif untuk jangka pendek, menengah, dan panjang sehingga saya dapat melayani dan mengangkat orang lain?” Bekerja 80 jam seminggu, ini adalah tantangan utama yang harus dihadapinya. Dalam jangka panjang, dia terutama ingin melihat orang-orang lebih menghargai, penuh perhatian, dan sadar penuh dengan pilihan makanan mereka. “Saya ingin memastikan bahwa anak-anak saya, anak-anak kita, dan anak cicit kita dapat mengakses makanan berkualitas baik dengan harga paling terjangkau di masa depan.”

Astrid adalah salah satu Food Heroes untuk tahun 2022. Lihat lebih banyak kisah inspiratif dan mengubah dunia dari Food Heroes di website https://www.v-label.eu/food-heroes-20.

Mengenang Thich Nhat Hanh (1926-2022)

Mengenang Thich Nhat Hanh (1926-2022)

Oleh Lily Greenblatti | 21 Januari 2022

Thich Nhat Hanh, seorang biksu Buddha dari Vietnam dan pendiri gerakan Engaged Buddhism, meninggal dunia pada tanggal 22 Januari di negara asalnya Vietnam. Beliau berusia 95 tahun.

Sumber artikel Lion’s Roar
Sumber foto Plum Village

Salah satu guru Buddhis terbesar di zaman kita, Thich Nhat Hanh telah meninggal dunia hari ini di Pagoda Tu Hieu di Vietnam, kuil Buddha tempat ia ditahbiskan pada usia enam belas tahun. Setelah terserang strok pada tahun 2014, ia telah menyatakan keinginannya untuk kembali ke tanah airnya, dan, pada bulan Oktober 2018, ia kembali ke kuil di tanah kelahirannya. Di sana, ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dikelilingi oleh murid-murid terdekat dan para pengikutnya.

Komunitas Engaged Buddhism dari Plum Village Internasional merilis pernyataan yang mengumumkan wafatnya Nhat Hanh, diikuti dengan jadwal seremoni peringatan yang disiarkan secara langsung untuk menghormati guru mereka yang disiarkan sepanjang minggu dari Hue, Vietnam dan Plum Village, Prancis.

Nhat Hanh, yang akrab dipanggil “Thay,” oleh murid-muridnya, sering disebut sebagai “bapak mindfulness“. Dalam usia 95 tahun, ia membuat dampak global sebagai seorang guru, penulis, aktivis, dan pendiri gerakan Engaged Buddhism. Ajarannya yang sederhana namun sangat mendalam telah menuntun banyak orang menuju kehidupan yang berkesadaran penuh, penuh sukacita, dan kedamaian.

Nhat Hanh menderita pendarahan otak pada November 2014 dan menghabiskan empat setengah bulan di klinik rehabilitasi strok di Rumah Sakit Universitas Bordeaux, setelah itu ia kembali ke Plum Village di Prancis, di mana ia dapat menikmati “berjalan di alam, menikmati bunga, mendengarkan kicauan burung dan beristirahat di kaki pohon.” Pada bulan Juli 2015, Nhat Hanh melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk rehabilitasi intensif di UCSF Medical Center San Francisco. Pada Januari 2016, ia kembali lagi ke Plum Village, Prancis untuk bersama sanggha, seperti yang telah di-update pada hari ulang tahunnya yang ke-92.

Pada tahun 2016, dua bulan setelah ulang tahunnya yang ke-90, Nhat Hanh mengungkapkan keinginannya untuk melakukan perjalanan ke Thailand agar lebih dekat dengan tanah airnya di Vietnam. Ia menghabiskan hampir dua tahun di Thai Plum Village. Pada bulan Oktober 2018, Thich Nhat Hanh melakukan perjalanan ke Vietnam untuk menghabiskan sisa hari-harinya di kuil akarnya.

Nhat Hanh lahir sebagai Nguyen Xuan Bao di Hué, Vietnam pada Oktober 1926. Tertarik pada ajaran Buddha sejak usia dini, ia memasuki wihara di Kuil Tu Hieu di Vietnam pada usia enam belas tahun. Di sana, ia bekerja dengan guru utamanya, master Zen Thanh Quy Chan That. Pada tahun 1951, Nhat Hanh ditahbiskan sebagai biksu setelah menerima pelatihan dalam tradisi Buddha Mahayana dan Thien Vietnam. Saat itulah ia menerima nama Thich Nhat Hanh.

Seperti yang dilaporkan Lindsay Kyte untuk Lion’s Roar dalam “The Life of Thich Nhat Hanh,” Nhat Hanh dikirim untuk pelatihan di akademi Buddhis tetapi ia tidak puas dengan kurikulumnya dan ingin mempelajari mata pelajaran yang lebih modern. Ia berangkat ke Universitas Saigon, di mana ia bisa belajar sastra dunia, filsafat, psikologi, dan sains selain agama Buddha. Ia memulai kembali pekerjaan aktivisnya, mendirikan La Boi Press dan Universitas Buddhis Van Hanh di Saigon. Ia juga mendirikan School of Youth for Social Service (Sekolah Pemuda untuk Pelayanan Sosial), sebuah korps netral untuk para pekerja perdamaian Buddhis yang mendirikan sekolah, membangun klinik kesehatan, dan membangun kembali desa-desa di daerah pedesaan.

Nhat Hanh menerima beasiswa untuk belajar perbandingan agama di Universitas Princeton pada tahun 1960 kemudian diangkat sebagai dosen agama Buddha di Universitas Columbia. Ia menjadi fasih berbahasa Inggris, Jepang, Cina, Sansekerta, Pali, dan Inggris.

Pada tahun 1963, kudeta militer yang didukung AS berhasil menggulingkan rezim Diem, dan Nhat Hanh kembali ke Vietnam untuk melanjutkan upaya perdamaian tanpa kekerasan. Ia mengajukan proposal perdamaian ke Unified Buddhist Church (UBC) atau Gereja Buddhis Bersatu, menyerukan penghentian pertikaian, pendirian lembaga Buddhis untuk para pemimpin negara, dan pembentukan pusat latihan untuk mempromosikan perubahan sosial tanpa kekerasan. Pembentukan gerakan Engaged Buddhism adalah tanggapannya terhadap Perang Vietnam. Misi Nhat Hanh adalah untuk terlibat dalam penderitaan yang disebabkan oleh perang dan ketidakadilan dan menciptakan aliran baru agama Buddha yang dapat menyelamatkan negaranya. Pada tahun-tahun pembentukan gerakan Engaged Buddhism, Nhat Hanh bertemu Cao Ngoc Phuong, yang kemudian menjadi Sister Chan Kong. Ia berharap untuk mendorong aktivisme bagi orang miskin di komunitas Buddhis, dan bekerja sama erat dengan Nhat Hanh untuk melakukannya. Ia tetap menjadi murid dan kolaborator terdekat Thay selama sisa hidupnya.

Pada tahun 1966, Nhat Hanh kembali ke AS untuk memimpin simposium di Universitas Cornell tentang Vietnamese Buddhism. Di sana, ia bertemu dengan Dr. Martin Luther King, Jr. dan meminta King untuk mengecam Perang Vietnam. Dr. King mengabulkan permintaan itu pada tahun berikutnya dengan pidato yang mempertanyakan keterlibatan Amerika dalam perang. Segera setelah itu, ia menominasikan Nhat Hanh untuk Hadiah Nobel Perdamaian. “Saya secara pribadi tidak mengenal siapa pun yang lebih layak [untuk mendapatkan hadiah] daripada biksu lembut dari Vietnam ini. Ide-idenya untuk perdamaian, jika diterapkan, akan membangun monumen untuk persatuan, untuk persaudaraan dunia, untuk kemanusiaan,” tulisnya.

Pada bulan Juni tahun itu, Nhat Hanh mempresentasikan proposal perdamaian di Washington yang mendesak Amerika untuk berhenti mengebom Vietnam, menekankan bahwa ia dan para pengikutnya tidak mendukung pihak mana pun dalam perang dan hanya menginginkan perdamaian. Sebagai tanggapannya, Nhat Hanh diasingkan dari Vietnam. Ia diberikan suaka di Prancis, di tempat ia menjadi ketua Delegasi Perdamaian Umat Buddha Vietnam.

Nhat Hanh adalah kepala Ordo Interbeing, sebuah kelompok yang terdiri dari para monastik dan umat awam yang ia dirikan pada tahun 1966. Pada tahun 1969, ia juga mendirikan Unified Buddhist Church (Gereja Buddhis Bersatu), dan kemudian pada tahun 1975, membentuk Pusat Meditasi Sweet Potatoes di sebelah tenggara kota Paris, Prancis. Seiring semakin populernya pusat latihan tersebut, Nhat Hanh dan Sister Chan Khong mendirikan Plum Village, sebuah wihara dan Zen center, di Prancis Selatan pada tahun 1982. Pada tahun 1987, ia mendirikan Parallax Press di California, yang menerbitkan tulisan-tulisannya dalam bahasa Inggris. Ia mendirikan Deer Park Monastery di California Selatan, wihara pertamanya di Amerika pada tahun 2000. Sejak itu, banyak pusat dharma di seluruh AS, yang melayani puluhan ribu murid awam, yang didirikan sebagai bagian dari Ordo Interbeing.

Setelah bernegosiasi, pemerintah Vietnam mengizinkan Nhat Hanh, yang sekarang menjadi guru Buddhis terkenal, untuk kembali ke Vietnam dalam kunjungan pada tahun 2005. Ia mampu mengajar, menerbitkan empat buku dalam bahasa Vietnam, berkeliling negara Vietnam, dan mengunjungi kuil akarnya. Meskipun perjalanan kepulangan pertamanya menimbulkan kontroversi, Nhat Hanh diizinkan untuk kembali lagi pada tahun 2007 untuk mendukung monastik baru di Ordonya, mengatur seremoni chanting untuk menyembuhkan luka dari Perang Vietnam, dan memimpin retret untuk kelompok hingga 10.000 orang.

“Kita mengukur kehebatan guru spiritual berdasarkan kedalaman, keluasan, dan dampak dari ajaran mereka, dan dengan teladan kehidupan mereka bagi kita. Dengan semua penilaian ini, Thich Nhat Hanh adalah salah satu guru spiritual terkemuka di masa kita,” tulis pemimpin redaksi Lion’s Roar Melvin McLeod dalam pengantarnya untuk The Pocket Thich Nhat Hanh.

Semasa hidupnya, Nhat Hanh telah menulis lebih dari 100 buku, yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa, dalam berbagai topik — mulai dari ajaran sederhana tentang kesadaran penuh hingga buku anak-anak, puisi, dan esai ilmiah tentang praktik Zen. Buku terbarunya, Zen and the Art of Saving the Planet, telah diterbitkan oleh HarperCollins pada bulan Oktober 2021. Komunitasnya terdiri dari lebih dari 600 orang monastik di seluruh dunia, dan sekarang ada lebih dari 1000 komunitas praktik yang diikuti oleh sangha yang berdedikasi di seluruh Amerika Utara dan Eropa.

Diperkirakan bahwa Nhat Hanh telah menciptakan lebih dari 10.000 karya kaligrafi semasa hidupnya, masing-masing berisi pesan unik dan sederhana: “Bernapaslah, Anda hidup”; “Kebahagiaan ada di sini dan sekarang”; “Saat ini, saat yang indah”; “Bangunlah; Sekarang sedang bersalju”; “This is it”. Hidupnya sendiri adalah sebuah meditasi dalam tindakan, menciptakan kedamaian di setiap langkah.

Dalam buletin untuk komunitas, Plum Village memberitahukan bahwa mulai hari Sabtu, 22 Januari, komunitas global diundang untuk berkumpul secara online untuk memperingati kehidupan dan warisan Thich Nhat Hanh. Plum Village akan menyiarkan lima hari latihan dan seremoni secara langsung dari Hue, Vietnam dan Plum Village, Prancis. Rincian lebih lanjut dapat ditemukan di situs web mereka.

“Sekarang adalah saatnya untuk kembali pada napas dan jalan berkesadaran penuh kita, untuk membangkitkan energi kedamaian, kasih sayang, dan rasa syukur untuk dipersembahkan kepada Guru kita yang terkasih. Ini adalah momen untuk berlindung pada teman spiritual kita, pada sangha dan komunitas lokal kita, dan sesama kita,” tulis Plum Village.

Dalam bukunya, At Home in the World, yang diterbitkan pada 2016, Nhat Hanh membahas kematiannya yang tak terhindarkan. Ia menulis:

Tubuh saya ini akan hancur, tetapi tindakan saya akan melanjutkan saya… Jika Anda berpikir saya hanyalah tubuh ini, maka Anda belum benar-benar melihat saya. Ketika Anda melihat teman-teman saya, Anda melihat kelanjutan saya. Ketika Anda melihat seseorang berjalan dengan perhatian penuh dan welas asih, Anda tahu dia adalah kelanjutan saya. Saya tidak mengerti mengapa kita harus mengatakan “Saya akan mati,” karena saya sudah dapat melihat diri saya di dalam diri Anda, dalam diri orang lain, dan pada generasi mendatang.

Bahkan ketika awan tidak ada, ia terus berlanjut sebagai salju atau hujan. Tidak mungkin awan itu mati. Ia bisa menjadi hujan atau es, tetapi ia tidak bisa menjadi bukan sesuatu. Awan tidak perlu memiliki jiwa agar dapat berlanjut. Tidak ada awal dan tidak ada akhir. Saya tidak akan pernah mati. Akan ada akhir dari tubuh ini, tetapi itu tidak berarti kematian saya.

Saya akan berlanjut, selalu.

Alih bahasa oleh: RuminiChân Tiết Xuân [真節春]

Pesan dari Pemerintah Amerika Serikat

Pesan dari Pemerintah Amerika Serikat

Atas nama rakyat Amerika, kami menyampaikan belasungkawa yang tulus atas wafatnya Master Zen Thích Nhất Hạnh, seorang biksu Buddha, aktivis perdamaian, dan pendiri gerakan Engaged Buddhism dan Tradisi Plum Village, sebuah praktik monastik yang berpusat pada mindfulness (kesadaran penuh).

Seorang guru dan pemimpin spiritual yang terkenal dan dicintai dunia, yang telah menjangkau orang-orang dari semua keyakinan, Thích Nhất Hạnh menghabiskan waktu lebih dari 60 tahun memperjuangkan kebebasan beragama, hak asasi manusia, non-kekerasan, dan mencintai sesama. Pekerjaan semasa hidupnya ini membuat beliau mendapatkan nominasi Hadiah Nobel Perdamaian dan banyak pujian lainnya.

Beliau adalah sosok yang menonjol melampaui komunitas spiritual, dan dunia akan sangat kehilangan suara bijaksana Thích Nhất Hạnh. Saat kita merenungkan kehidupan beliau, kita akan mengingat warisan abadi dan nilai yang mendalam yang beliau tinggalkan untuk kemanusiaan. Pikiran kami bersama rakyat Vietnam, tempat beliau lahir dan wafat, dan juga bersama orang-orang di seluruh dunia yang terinspirasi oleh semangat lembutnya.

Sumber informasi: On the Passing of Zen Master Thích Nhất Hạnh

Pesan dari Sangha Agung Indonesia

Pesan dari Sangha Agung Indonesia

Namo Sanghyang Adi Buddhaya

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sama-sambuddhasa

Namo Sarve Bodhisattvaya-Mahasattvaya,

Atas nama anggota Sangha monastik, para Pandita, Upasaka dan Upasika dari Keluarga ​​Buddhayana Indonesia, kami ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Mahabhikshu Thich Nhat Hanh, seorang biksu, guru Zen, pemimpin spiritual, aktivis perdamaian, pendiri gerakan Engaged Buddhism, yang mendorong kebebasan beragama, anti kekerasan, dan cinta kasih kepada sesama, pada hari Sabtu, 22 Januari 2022, di usia 95 tahun.

Kehadirannya di Indonesia pada tahun 2010 masih terpatri dalam diri kami semua di sini. Berjalan bersama dengan damai di pelataran Candi Borobudur, pesan dharma yang menyejukkan, panduan retret yang menciptakan kedamaian di hati semua peserta dan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan beliau. Itu adalah momen berharga yang tidak akan pernah kami lupakan dari seorang manusia yang luar biasa, seorang biksu yang sangat damai dan sederhana.

Terima kasih atas cinta dan kebijaksanaan Anda untuk dunia ini. Terima kasih telah mengajari kami untuk mencintai dan menjalani hidup ini dengan cara yang indah dan sederhana. Semoga kami dapat terus menjaga semangatmu dan berusaha keras untuk menciptakan dunia yang lebih indah dan lebih bahagia.

Semarang, 23 Januari 2022

Mettacittena,

Bhikkhu Khemacaro

Ketua

Sangha-Agung-Indonesia-CL-to-TNH-2022

Pesan Dukacita dari WALUBI

Pesan Dukacita dari WALUBI

Pesan Dukacita

Kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya guru tercinta Yang Mulia Thich Nhat Hanh, pada tanggal 22 Januari 2022, pukul 00:00 di Wihara Tu Hieu di Hue, Vietnam.

Kita telah kehilangan seorang guru yang luar biasa. Beliau telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menyampaikan ajaran Dharma dengan cara yang sangat sederhana dan dapat diterima secara universal. Kebijaksanaan dan dedikasi beliau terhadap perdamaian telah menginspirasi jutaan orang di dunia.

Terima kasih atas kebijaksanaan dan cinta kasihmu pada sesama. Semoga engkau beristirahat dengan damai, Yang Mulia Thay, pesanmu akan welas asih dan kebijaksanaan tidak akan dilupakan.

Dengan hormat,

Hartati Murdaya

Ketua Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)

Pendiri KCBI (Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia)

00_SHM_CondolenceMessage_240122

Makan Berkesadaran Penuh: 7 Alasan untuk Mencobanya + Panduan Setahap demi Setahap

Oleh: Plum Village App Team

Makan berkesadaran penuh berarti membawa kesadaran kita pada makanan yang ada di piring dan mulut kita; mencurahkan perhatian penuh pada sensasi menyantap makanan pada saat ini. Cara demikian dapat mengubah hubungan kita dengan makanan sekaligus merupakan cara bagus untuk menerapkan perhatian penuh ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut adalah beberapa alasan untuk makan dengan penuh kesadaran dan panduan untuk membantu Anda memulainya.

Mengapa perlu mencoba makan berkesadaran penuh?

1. Sangat menyenangkan

Menyantap makanan adalah pengalaman yang sangat sensual: aneka warna, tekstur, aroma, dan rasa. Tetapi seringkali tuntutan kehidupan sehari-hari membuat kita melewatkan kenikmatan yang dirasakan saat menyantap makanan. Ketika kita makan dengan penuh berkesadaran, bahkan makanan sederhana sekalipun bisa terasa jauh lebih nikmat.

2. Makan berkesadaran penuh dapat membantu kita makan dengan tidak berlebihan

Menyantap makanan tanpa pertimbangan bisa menjadi salah satu penyebab kita makan berlebihan. Kita tidak sepenuhnya memperhatikan apa yang kita makan. Makan tanpa berkesadaran juga membutuhkan waktu lebih lama bagi usus untuk menyampaikan pesan ke otak kita bahwa kita sudah kenyang. Jika kita memperlambat cara makan, menikmati makanan dan benar-benar memperhatikan sensasi di mulut, kita bisa merasa sangat puas dengan makanan kita meskipun makan lebih sedikit. Kita juga akan menjadi lebih sadar bahwa tubuh kita sudah cukup.

3. Makan dengan penuh kesadaran membantu pencernaan

Ketika kita makan dengan penuh kesadaran, kita cenderung mengunyah makanan kita lebih lama. Kelihatannya mungkin sederhana, tetapi kunyahan ekstra itu bisa membuat tubuh kita lebih mudah mencerna makanan dan membuat perut kita terasa lebih tenang setelah makan.

4. Ini cara yang bagus untuk selalu mindful setiap hari

Kita menyantap makanan setiap hari jadi jika kita bisa membiasakan makan dengan penuh kesadaran. Ini adalah cara yang bagus untuk membawa lebih banyak mindfulness ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

5. Makan dengan penuh kesadaran menumbuhkan rasa syukur

Bersyukur adalah hal yang sangat baik bagi kita. Rasa syukur bahkan bisa mengubah otak kita. Dengan bersyukur kita akan jauh lebih mudah mengenali hal-hal baik yang sudah kita miliki dibandingkan mengejar lebih banyak lagi hal lain. Dan jika kita benar-benar dapat memperhatikan makanan yang kita makan, kita dapat lebih menghargai lagi hal-hal baik tersebut setiap hari.

6. Ini dapat menjadi pengalaman kosmik

Thich Nhat Hanh mengatakan bahwa kita dapat melihat sepotong makanan sebagai “duta kosmos”. Jika kita berhenti dan memikirkannya, itu benar! Hujan, sinar matahari, hasil kerja seorang petani, semuanya terkandung dalam sepotong wortel di piring kita. Jika kita meluangkan waktu untuk terhubung dengan cara itu, bahkan camilan kecil pun dapat menjadi pengalaman kosmik.

7. Kita dapat terhubung dengan nilai-nilai kita

Mungkin kita mencoba mengurangi konsumsi produk hewani karena kita tahu mereka berkontribusi terhadap krisis iklim. Atau mungkin kita ingin memperbanyak porsi makanan organik karena khawatir dengan efek pestisida di pedesaan. Ketika kita makan dengan penuh kesadaran, kita menjadi lebih sadar akan apa yang kita makan dan akan lebih memudahkan kita secara alami menyelaraskan dengan nilai-nilai kita tanpa perlu terlalu banyak kemauan atau usaha lagi.

Makan dengan penuh kesadaran: panduan setahap demi setahap

Tertarik untuk mencobanya? Begini caranya…

1. Berkomitmen untuk hanya makan

Seringkali kita makan dengan tangan masih memegang ponsel atau duduk di depan layar komputer di tempat kerja. Untuk makan dengan penuh kesadaran, kita dapat menyimpan perangkat kita terlebih dahulu dan meluangkan waktu hanya untuk makan. Bahkan jika itu hanya beberapa menit, itu akan membuat perbedaan besar.

2. Berhenti dan perhatikan

Berhenti sejenak sebelum Anda makan. Mungkin Anda dapat menyadari satu atau dua napas Anda. Kemudian perhatikan apa yang Anda lihat di dalam makanan. Warnanya, bentuknya, aroma apa saja. Luangkan waktu sejenak untuk benar-benar melihat apa yang ada di depan Anda.

3. Lihat sedikit lebih dalam

Luangkan waktu berikutnya untuk memperhatikan sedikit lebih dalam pada makanan di depan Anda. Bagaimana makanan tersebut sampai ke piring di depan Anda? Apa dan siapa yang mungkin terlibat dalam prosesnya? Bisakah Anda melihat matahari dan hujan di makanan Anda? Apakah ada rasa syukur yang muncul ketika Anda merenungkan semua kondisi yang telah hadir bersama sehingga makanan ini ada di depan Anda? Terlebih lagi jika Anda dapat memikirkan bahwa masih banyak orang yang kelaparan di dunia saat ini.

4. Makan sesuap lalu letakkan kembali garpu atau sendok di atas piring

Saat makanan masuk ke mulut, nikmati semua sensasi yang ditawarkan. Rasa dan teksturnya, juga air liur di dalam mulut Anda.

Akan lebih baik jika Anda meletakkan garpu atau sendok saat mengunyah. Telah mejadi kebiasaan kita untuk menyiapkan suapan berikutnya saat kita sedang mengunyah makanan. Ini adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan kebiasaan kolektif kita yang suka berlari ke masa depan, sementara kita tidak sepenuhnya merasakan apa yang terjadi saat ini.

Kunyah makanan Anda sedikit lebih lama dari biasanya. Benar-benar menikmati suapan makanan yang di dalam mulut sebelum mengambil garpu atau sendok untuk menyiapkan suapan berikutnya!

5. Kembalikan pikiran Anda

Tidak dapat dihindari bahwa pikiran Anda akan mengembara. Satu menit Anda akan menikmati sensasi makanan di mulut Anda, selanjutnya pikiran Anda mungkin akan memikirkan pekerjaan apa yang perlu dilakukan setelah ini atau bahkan apa makanan Anda selanjutnya! Ini benar-benar normal. Setiap kali Anda menyadari bahwa pikiran Anda telah melayang, dengan lembut arahkan pikiran kembali untuk menyadari sedang menyantap makanan pada saat ini.

6. Tanyakan: ke mana makanannya “pergi”?

Setelah Anda selesai menyantap makan, mungkin akan sangat mencerahkan jika Anda bertanya pada diri sendiri ke mana makanan itu “pergi”. Kentang atau nasi akan benar-benar menjadi bagian dari kita, diserap ke dalam tubuh, dan mereka akan berlanjut ke masa depan dengan menyediakan energi bagi tindakan kita. Ini adalah cara lain untuk melihat saling keterkaitan (interbeing) dalam tindakan.

7. Berbaik hatilah pada diri sendiri

Kita tidak selalu dapat menyantap makanan dengan penuh berkesadaran. Kadang kala kita akan lupa. Terkadang terlepas dari upaya terbaik yang telah dilakukan, kita malah mengunyah pikiran dan rencana kita dan tidak sadar kunyahan kita. Itu tidak apa-apa. Kebiasaan kita untuk makan tanpa sadar adalah kebiasaan kolektif, dan kita mungkin telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memperkuatnya. Lihatlah setiap kali Anda dapat makan berkesadaran penuh sebagai sebuah kemenangan kecil dan teruslah berusaha.

8. Dapatkan beberapa dukungan

Makan dengan kesadaran penuh lebih mudah jika dilakukan bersama dengan orang lain. Ketika sekelompok orang duduk bersama makan berkesadaran penuh dengan tenang, semua orang bertindak sebagai pengingat bagi satu sama lain. Anda dapat merasakan pengalaman makan berkesadaran penuh bersama di retret Plum Village atau mungkin Sanggha setempat (komunitas praktik mindfulness) Anda mengadakan kegiatan makan berkesadaran penuh bersama dan jika tidak, Anda selalu dapat memberikan saran untuk itu!

Jika Anda tidak dapat menemukan orang lain untuk mempraktikkan makan berkesadaran penuh, aplikasi Plum Village dapat mendukung Anda. Aplikasi meditasi gratis ini memiliki bagian tentang meditasi makan termasuk meditasi minum kopi atau teh, meditasi jeruk, dan Lima Perenungan yang dibacakan di pusat latihan Plum Village sebelum makan.

Kami berharap Anda menikmati makan berkesadaran penuh!

Alih bahasa (Rumini, Chân Tiết Xuân “True Spring Season”)