Memvisualisasikan Begawan Buddha

Begawan Buddha, sembari mempraktikkan menyentuh bumi aku menyentuh Buddha. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai anak muda di Kapilavastu. Aku melihat Buddha sebagai meditator pengembara di hutan rimba. Aku melihat Buddha sebagai biksu yang mempraktikkan Samadhi dengan solid di bawah pohon Bodhi. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai guru mulia yang sedang memberikan instruksi kepada para murid di Puncak Burung Nasar dan di Hutan Jeta. Aku melihat Buddha sebagai biksu pengembara yang setiap langkahnya meninggalkan jejak di kerajaan-kerajaan kecil di lembah Sungai Gangga. Begawan Buddha kuat dan sehat secara fisik dan batin, hidup panjang umur tanpa bantuan obat modern. Aku melihat Buddha sebagai guru, yang telah berusia 80 tahun berbaring dalam posisi singa di bawah dua pohon sala sebelum memasuki maha parinirwana. Aku menuyentuh bumi di hadapan Raja Suddhodana dan Ratu Maya, dua orang ini yang menghadirkan Sakyamuni, membawa maha guru ini ke dunia.

Menyentuh Bumi

Buddha Sakyamuni, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur sepenuh hati, guru akarku yang telah hadir di dunia ini. [Genta]

Begawan Buddha, Aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada ayahanda, Raja Suddhodana dan ibunda, Ratu Maya. [Genta]