Ulambana Hari Ibu

Ulambana Hari Ibu
Talkshow tentang Kebaikan Ibu

Sebagian umat Buddha di Indonesia memperingati hari Ulambana (盂蘭) pada pertengahan bulan tujuh kalender lunar. Seremoni Ulambana ini biasanya ditandai dengan memberikan persembahan yang diiringi dengan memanjatkan sutra dan pelimpahan jasa kepada leluhur.

Ulambana sendiri berkaitan erat dengan kisah Bhante Moggalana yang ingin menolong ibunya yang sedang menderita di alam preta (makhluk halus kelaparan). Buddha memberi nasihat kepadanya agar melakukan kebajikan dengan memberikan dana untuk para monastik yang baru saja menyelesaikan masa vassa (retret wajib 3 bulan pada musim hujan). Kebajikan berdana ini dapat dilimpahkan kepada mendiang ibunya.

Ketika agama Buddha menyebar ke Tiongkok, tradisi Ulambana dikaitkan dengan Festival Zhong Yuan (中元節) atau kadang disebut sebagai “Bulan Hantu” (鬼月). Sebagian masyarakat Tionghoa percaya bahwa pada bulan tersebut para leluhur yang telah meninggal dunia bisa bebas sementara karena pintu neraka sedang dibuka lebar.

Lain halnya dengan masyarakat Vietnam. Meskipun ada kemiripan dengan “Festival Zhong Yuan” dalam konteks Buddhis, sebagian masyarakat Vietnam memperingati Ulambana atau Vu Lan (dalam Bahasa Vietnam) sebagai hari mengenang sosok ibu. Kadang mereka menyebutnya sebagai Hari Ibu.

Meskipun terlihat kontras antara “Bulan Hantu” dan “Hari Ibu”, tetapi justru menarik untuk mengetahui beberapa aspek berbeda ini. Mendiang Master Zen Thich Nhat Hanh menulis buku saku berjudul “A Rose for Your Pocket: An Appreciation of Motherhood”, yang menjadi dasar bagi Plum Village untuk memperingati hari bakti kepada ibu.

Pada tanggal 11 Agustus 2022 lalu, Plum Village di Thailand menyambut ratusan praktisi awam untuk bersama-sama mengingat kembali jasa dan kebaikan orang tua, terutama sosok ibu. Acara ini diawali dengan talkshow pagi yang menghadirkan 3 orang monastik untuk mengisahkan pengalaman mereka yang berkenaan dengan ibu mereka.

Selesai mendengarkan talkshow, acara dilanjutkan dengan seremoni memasangkan pin bunga mawar sebagai tanda menyatakan tekad untuk berbakti kepada orang tua. Beberapa monastik memasangkan pin satu per satu kepada semua peserta yang hadir.

Pada siang hari komunitas berlatih menyantap makan siang dengan hening, dan saat malam hari dilakukan sesi Be-In untuk berbagi cerita, pengalaman, puisi, lagu, dan tarian untuk menyatakan bakti kepada orang tua.

Mempersembahkan lagu kepada orang tua
Menyematkan bunga mawar
Menyematkan bunga mawar
Ibu dan anak
Anak muda ikut dalam kegiatan Vu Lan

 

 

Pendarasan

Pendarasan

Sanggha diundang untuk kembali kepada napasnya,
sehingga energi kebersamaan kesadaran penuh
mempersatukan kita menjadi satu makhluk tunggal,
mengalir bagaikan sungai,
tiada lagi cerai berai pemisahan,
izinkanlah Sanggha bernapas bagaikan satu tubuh,
melantun bagaikan satu tubuh,
mendengar bagaikan satu tubuh,
menembus jauh
melampaui garis pembatas sang aku yang tidak nyata,
menembus batas ketidakmampuan dalam mengatasi
perasaan kompleks superior, inferior,
dan kesepadanan sejajar.


1.   Persembahan Dupa

(GENTA 3x)

Harumnya dupa telah mengundang bodhicitta hadir
Bersamaku, bersamaku sesungguhnya di sini, sesungguhnya di sini
Harumnya dupa ini melindungi serta menjaga batin
Oh… harumnya dupa ini menyatukan kita semua
Dalam pelaksanaan sila samadhi prajna
Kami datang persembahkan semua
Namo bodhisattvebhyah
Namo mahasattvebhyah
(GENTA)


2.   Menyentuh Bumi

Gatha Pembuka

Yang bersujud dan objek sujud pada hakikatnya sunyata.
Oleh sebab itu komunikasi, terjalin sempurna apa adanya.
Pusat latihan kami adalah jaring Indra
memantulkan semua Buddha di setiap sudut.
Diriku berdiri di hadapan setiap Buddha,
Aku berlindung kepadaMu.
(GENTA)

 

Bersujud

(menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

BERSUJUD (menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

Pemimpin:
Mempersembahkan cahaya di Sepuluh Penjuru

Bersama-sama:
Buddha, Dharma, dan Sanggha,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin: 
Mengajar dan hidup melalui kesadaran-penuh
di tengah-tengah penderitaan dan kebingungan,

Bersama-sama:
Buddha Sakyamuni,
Dia yang telah sadar sepenuhnya,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Memancarkan cahaya di semua penjuru
Sumber kehidupan di dunia ini

Bersama-sama:
Mahavairocana Tathagatha,
Ayahnda matahari
Buddha cahaya dan hidup tanpa batas
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Memotong tembus ketidaktahuan,
menyadarkan hati dan pikiran kami,

Bersama-sama:
Manjusri, Bodhisattwa Pengertian Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Bekerja dengan penuh kesadaran, penuh suka cita
untuk kepentingan semua makhluk hidup,

Bersama-sama:
Samantabhadra, Bodhisattwa Tindak Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Mendengar secara mendalam,
melayani makhluk dalam cara tanpa batas,

Bersama-sama:
Awalokiteswara, Bodhisattwa Welas Asih Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Tiada ketakutan dan tekun mengarungi
alam-alam penderitaan dan kegelapan

Bersama-sama:
Ksitigarbha, Bodhisattwa Aspirasi Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Benih kesadaran dan cinta kasih
dalam anak-anak dan semua makhluk,

Bersama-sama:
Maitreya, Buddha yang akan datang,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Ibunda semua Buddha, bodhisattwa dan semua makhluk
Menopang dan menyembuhkan semuanya

Bersama-sama:
Bodhisattwa Pertiwi, Ibunda bumi
Permata indah jagad raya
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Menunjukkan jalan tanpa rasa takut,
dan penuh welas asih
Bersama-sama:
seluruh guru silsilah leluhur spiritual,
kami bersujud padamu.
(GENTA 2x)


 

3.   Gatha Pembukaan

(GENTA 3x)

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya (3x)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā-sambuddhassa (3x)
Namo Sarva Bodhisattvāya-Mahāsattvāya (3x)
(GENTA)

Dharma begitu dalam dan indah,
Kini kami berkesempatan melihat,
mempelajari, dan mempraktikkannya.
Kami bertekad merealisasikan makna sejatinya.
(GENTA)


 

4a.   Sutra Hati Prajnaparamita

Kala Bodhisattwa Awalokita,
merenungkan Pengertian Sempurna secara mendalam,
menerangi lima skandha dan menyadari itu kosong adanya.
Setelah penembusan ini, Ia berhasil mengatasi duka.
(GENTA)

Dengarlah, Sariputra,
Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud.
Wujud tiada beda dengan kekosongan.
Kekosongan tiada beda dengan wujud.
Demikian pula dengan perasaan,
Pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran.
(GENTA)

Dengarlah, Sariputra,
Semua dharma bercirikan kekosongan,
Dharma tidak diciptakan juga tidak dimusnahkan,
Tidak kotor juga tidak murni,
Tidak berkurang juga tidak bertambah.
Oleh sebab itu dalam kekosongan tiada wujud,
Tiada perasaan, tiada pencerapan,
Tiada bentuk-bentuk pikiran, tiada kesadaran;
Tiada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, ataupun pikiran;
Tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada objek, dan tiada objek pikiran;
Tiada alam berbagai elemen (dari kesadaran mata hingga kesadaran pikiran);
Tiada asal mula yang saling bergantungan serta kemusnahannya (dari ketidaktahuan sampai kematian dan pelapukan);
Tiada duka, tiada sebab duka,
Tiada akhir duka dan tiada jalan untuk mengakhiri duka;
Tiada pengertian, tiada pencapaian.
(GENTA)

Oleh karena tiada yang harus dicapai,
Para Bodhisattwa, yang dipenuhi Pengertian Sempurna,
Tidak menemukan rintangan untuk pikiran mereka.
Karena tiada rintangan, mereka mengatasi ketakutan,
Membebaskan diri mereka selamanya dari ilusi.
Dan merealisasi nirwana yang sempurna.
Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan,
Berkat Pengertian Sempurna ini,
Tiba pada pencerahan penuh, yang sempurna
dan universal.
(GENTA)

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa Pengertian Sempurna
Merupakan mantra sakti mandraguna, mantra teragung yang tiada banding,
Penghancur segala duka, kebenaran sejati yang tak tergoyahkan.
Oleh karena itu, mantra prajnaparamita sudah selayaknya diproklamasikan :

Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha. (3x)
(GENTA 2x)


4b. Sutra Hati:
Prajna Paramita

Kala Bodhisatwa Awalokiteswara
merenungkan secara mendalam
Tentang prajna paramita
Seketika itu menyadari bahwa
Pancaskandha juga kosong adanya
Setelah penyadaran ini,
Ia berhasil mengatasi semua duka

Wahai Sariputra
Tubuh ini adalah sunyata,
dan sunyata adalah tubuh ini.
Tubuh ini tiada beda dengan sunyata
dan sunyata tiada beda dengan tubuh ini
demikian juga dengan perasaan, persepsi, bentukan pikiran, dan pencerapan
(Genta)

Wahai Sariputra,
Semua fenomena bersifat sunyata
tidak lahir juga tidak mati
tidak ada juga tidak tak ada
tidak kotor juga tidak murni
Tidak berkurang juga tidak bertambah.

Oleh sebab itu dalam sunyata,
Pancaskandha tidak bisa berdiri sendiri
Delapan belas ranah fenomena
yang terdiri dari enam organ indra,
enam objek indra, dan enam pencerapan
juga tidak bisa berdiri sendiri

Dua belas mata rantai interdependen
kemunculan dan hilang lenyapnya
juga tidak bisa berdiri sendiri

duka, sebab duka,
akhir duka, dan jalan mengakhiri duka,
kearifan dan pencapaian
juga tidak bisa berdiri sendiri
(Genta)

Ketika siapa pun merenungkan prajnaparamita
lalu menyadari bahwa tiada yang perlu dicapai lagi

Berkat Prajna Paramita, 
Tiada lagi rintangan dalam pikirannya
Karena sudah tiada rintangan,
maka tiada juga ketakutan
Hancurlah semua persepsi keliru
Terealiasilah nirwana tertinggi

Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan
berkat prajna paramita
mereka mencapai pencerahan otentik dan sempurna
(Genta)

Wahai Sariputra
perlu diketahui bahwa
prajna paramita adalah mantra teragung
mantra sakti mandraguna,
mantra tertinggi
mantra yang tiada taranya
kearifan sejati berkekuatan
melenyapkan semua jenis duka
(Genta)

Marilah kita mendaraskan
mantra untuk mengagungkan
prajna paramita

Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha (3x)


5. Mengagungkan Nama Para Bodhisattwa

Kami mengagungkan namamu, Awalokiteswara.
Kami bercita-cita mempelajari cara mendengarmu
agar dapat membantu meringankan penderitaan di dunia.
Engkau tahu cara mendengar untuk memahami.
Kami mengagungkan namamu agar dapat berlatih mendengar
dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa disertai prasangka.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan duduk dan mendengar agar mampu memahami.
Kami akan duduk dan mendengarkan sedemikian rupa
sehingga kami dapat menyimak apa yang disampaikan orang lain
serta apa yang belum dituturkannya.
Kami tahu hanya dengan mendengarkan secara mendalam saja,
kami dapat meringankan banyak kepedihan dan penderitaan dalam diri orang lain.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Manjusri.
Kami bercita-cita mempelajari caramu,
yaitu diam tak bergeming dan melihat jauh ke dalam jantung segala sesuatu dan hati manusia secara mendalam.
Kami akan melihat dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati kami.
Kami akan melihat dengan mata polos tanpa prasangka.
Kami akan melihat tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan melihat secara mendalam sehingga kami mampu melihat dan memahami akar-akar penderitaan, ketidakkekalan, dan hakikat tanpa-diri segala sesuatu.
Kami akan berlatih caramu menggunakan pedang kebijaksanaan
untuk memotong tembus belenggu penderitaan,
sehingga membebaskan diri kami dan berbagai spesies lainnya.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Samantabhadra.
Kami bercita-cita mempraktikkan aspirasimu
untuk bertindak dengan mata dan hati yang penuh belas kasih.
Kami menyatakan bersedia dan sanggup untuk membawa suka cita kepada satu orang di pagi hari
serta meringankan penderitaan satu orang di sore hari.
Kami tahu kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan kami
dan kami siap dan bersedia mempraktikkan mudita di jalan pelayanan.
Kami tahu bahwa setiap kata, setiap tatapan, setiap tindakan, dan setiap senyuman dapat menghantarkan kebahagiaan kepada orang lain.
Kami tahu jika kami berlatih dengan sepenuh hati,
kami sendiri dapat menjadi sumber kedamaian dan suka cita yang tiada habisnya bagi orang-orang yang kami kasihi maupun semua spesies.
(GENTA 2x)


6. Pembacaan Sutra / Meditasi

(Pemimpin kebaktian membacakan sutra, sementara para peserta lainnya menyimak dengan hening dan berkesadaran sepenuhnya)

(GENTA 2x)


7a. Tiga Perlindungan

Aku berlindung kepada Buddha,
yang menunjukkan kepadaku jalan dalam kehidupan ini.
Aku berlindung kepada Dharma,
jalan pengertian dan cinta kasih.
Aku berlindung kepada Sanggha,
komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan penuh kesadaran.
(GENTA)

Berada dalam perlindungan Buddha,
aku dengan jelas melihat kejernihan dan keindahan di dunia.
Berada dalam perlindungan Dharma,
aku belajar untuk membuka banyak pintu jalan transformasi.
Berada dalam perlindungan Sanggha,
cahaya menyinari yang mendukungku,
menjaga latihanku bebas dari gangguan.
(GENTA)

Berlindung kepada Buddha dalam diriku,
aku beraspirasi membantu semua orang mengenali hakikat diri sejati mereka yang sudah cerah,
untuk merealisasi Pikiran penuh Cinta.
Berlindung kepada Dharma dalam diriku,
aku beraspirasi mebantu semua orang menguasai jalan latihan dengan sempurna,
dan berjalan bersama-sama di jalan kebebasan.
Berlindung kepada Sanggha dalam diriku,
aku beraspirasi membantu semua orang membangun Empat Komunitas,
untuk merangkul semua orang dan mendukung transformasi mereka.
(GENTA 2x)


7b. Tisarana

Bud-dha yang mu-lia
Pe-nun-juk ja-lan ke pen-ce-ra-han
namo buddhaya

Dhar-ma yang mu-lia
a-ja-ran ka-sih bi-jak-sa-na
namo dharmaya

san-gha yang mu-lia
hi-dup ber-sa-ma da-mai dan har-mo-nis
namo sanghaya

Buddhang saranang gacchami
dharmang saranang gacchami
sanghang saranang gacchami


8a.   Berbagi Jasa Kebajikan

Membaca sutra, mempraktikkan jalan penuh kesadaran,
memberikan manfaat tanpa batas.
Kami bersedia untuk berbagi hasil kemajuan praktik kepada semua makhluk.
Kami bersedia untuk mempersembahkan penghormatan kepada orang tua,
para guru, sahabat, serta makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya
yang telah memberikan bimbingan dan dukungan di sepanjang jalan.
(GENTA 3x)


8b.   Berbagi Jasa Kebajikan

Semoga jasa dan kebajikan
Memperindah Tanah Suci para Buddha
Membalas Empat Budi Besar
Dan menolong mereka di Tiga Alam Sengsara

Semoga mereka yang mendengarkan Dharma ini
Semua bertekad membangkitkan kebodhian
Sampai di akhir kehidupan ini
Bersama-sama lahir di alam bahagia.


8c.   Berbagi Jasa Kebajikan

Sehari telah berlalu
Usia telah berkurang
Bagai ikan kekurangan air
Sungguh tiada kebahagiaan

Wahai komunitas,
berupayalah sekarang juga
seperti memadamkan api di kepala
renungkanlah ketidak-kekalan
tetap terjaga dan jangan lengah

Makhluk tiada batas, aku bertekad membebaskannya
Gagguan batin tiada ujung, aku bertekad memutuskannya
Pintu Dharma tak terukur, aku bertekad mempelajarinya
Buddhadharma tak tertandingi, aku bertekad merealisasikannya

Membaca sutra, mempraktikkan jalan penuh kesadaran,
memberikan manfaat tanpa batas.
Kami bersedia untuk berbagi hasil kemajuan praktik kepada semua makhluk.
Kami bersedia untuk mempersembahkan penghormatan kepada orang tua, para guru, sahabat, serta makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya yang telah memberikan bimbingan dan dukungan di sepanjang jalan.
Saddhu, Saddhu, Saddhu (GENTA 3x)