Penghidupan Benar

Penghidupan Benar

Begawan Buddha, aku ingin menerapkan penghidupan benar. Aku bertekad tidak akan mencari nafkah dengan cara merusak welas asihku. Sebagai seorang praktisi latihan kewawasan (kesadaran penuh) pertama, aku bertekad tidak terlibat dalam profesi yang memaksaku untuk membunuh makhluk hidup, menghancurkan atau menyebabkan polusi lingkungan. Aku juga tidak akan mencari nafkah lewat eksploitasi dan menyakiti sesama manusia. Aku bertekad untuk tidak berinvestasi pada perusahaan yang hanya menguntungkan segelintir orang dengan mengorbakan kesempatan hidup masyarakat luas. Aku tidak akan berinvestasi pada perusahaan yang menyebabkan polusi lingkungan. Aku bertekad tidak mencari nafkah dengan memanfaatkan kepercayaan mistis masyarakat seperti menjual jimat dan guna-guna, membaca garis tangan, meramal keberuntungan, menjadi medium makhluk halus, atau mengusir makhluk halus.

Sebagai seorang monastik, aku tidak akan menjadi pembacaan doa untuk pengiriman energi dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Aku tidak akan memasang harga pada pelayanan rumah duka atau seremoni bagi mereka yang telah meninggal dunia. Begawan Buddha, Aku berjanji, jika aku tidak sengaja jatuh ke dalam penghidupan keliru seperti itu atau terpaksa masuk ke dalam penghidupan keliru yang tidak bajik itu, Aku akan mencari cara untuk keluar dan melepaskan diri dari situasi dan penghidupan keliru itu, kemudian memulai profesi baru yang sesuai dengan semangat penghidupan benar. Aku sadar, seandainya karir yang aku jalani bisa menumbuhkan welas asih setiap hari dan menumbuhkan kemampuan untuk menolong pihak lain, maka apa pun profesi saya, apakah seorang guru, perawat, dokter, penggiat lingkungan, ilmuwan, pekerja sosial, psikoterapis, ataupun profesi apa saja akan membuat aku sangat bahagia.

Memiliki penghidupan benar, aku akan punya kesempatan untuk menumbuhkan pengertian dan cinta kasih demi membantu pihak lain dan semua orang untuk lepas dari penderitaanya.

Begawan Buddha, Aku bertekad untuk hidup sederhana, tidak mengonsumsi berlebihan, agar aku tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mencari uang. Aku bertekad untuk memberikan watku bagi diri sendiri untuk hidup lebih bermakna dan memiliki kebebasan saat bekerja. Aku bertekad tidak terlena dalam berbagai jenis pekerjaan, mencari kerja sampingan demi mendapatkan uang tambahan. Aku brtekad untuk tidak mencari kebahagiaan dalam kesibukan dan mengonsumsi.

Aku akan menemukan kebahagiaan melalui pengembangan kebebasan internal dan mengembangkan cinta kasih. Sebagai monastik, aku bertekad tidak akan tenggelam dalam berbagai tugas dengan mengatasnamakan Buddha, yang sebetulnya demi mendapatkan pujian, jabatan, atau keuntungan pribadi. Kadang-kadang tugas membangun wihara, memahat patung, mengelola organisasi, seremoni, dan mengadakan retret bisa menjadi aktivitas pemuasan diri belaka. Apabila aku mendapat tugas seperti itu, aku bertekad untuk menciptakan keharmonisan pandangan dan pikiran dengan anggota sangha lainnya. Membangun dan mengelola pekerjaan organisasi merupakan kesempatan untuk bekerja sama dan berlatih melepaskan kebiasaan berpikir bahwa hanya ide aku yang paling bagus dan ide orang lain tidak bagus sama sekali.

Aku bertekad untuk mendengar secara mendalam atas ide dari semua anggota komunitas agar bisa menggabungkan ide-ide tersebut menjadi kebijaksaan kolektif untuk menjadi landasan keputusan bersama. Apabila aku melakukan hal demikian, aku akan bisa membangun kekeluargaan dan melepaskan kesombongan pribadi yang berpikir aku adalah ego terpisah. Melalui cari demikian aku bisa maju dalam jalur transfomasi dan penyembuhan. Aku tahu, jika berbagai ide dan gagasan bisa diharmoniskan, maka apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan menjadi tugas tulus demi Buddha, Dharma, dan Sangha. Semua pekerjaan dilakukan demi membebaskan semua mkhluk dari penderitaan dan menolong banyak orang.

Sebagai monstik, aku bertekad tidak membangun gubuk atau wihara yang terpisah dari sangha lainnya, sebagaimana harimau meninggalkan hutan. Aku hanya akan mengemban tugas yang telah diberikan oleh sangha dan aku bertekad untuk bekerja sama dengan semangat perdamaian dan respek semua praktisi dalam empat lapisan sangha.

Begawan Buddha, di masa lalu aku telah keliru dengan cara menenggelamkan diri dalam berbagai jenis pekerjaan. Aku bekerja demi mendapatkan pujian, kekuasaan, dan mendapatkan keuntungan dan tidak menyadarinya, bahkan percaya pekerjaan yang aku lakukan masih demi Buddha. Melalui cara menyelami ajaran Buddha aku sudah tersadarkan atas kekeliruan masa lalu dan dengan sepenuh hati menyatakan penyesalan.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam kesatupaduan sempurna, Aku menyentuh bumi tiga kali dihadapanmu, Engkau pemenang dunia yang mampu menyelamatkan manusia, Engkau yang telah tercerahkan sempurna, dan dipuja dan dipuji oleh seluruh dunia. [Genta]

Apakah Saya Paling Benar?

Apakah Saya Paling Benar?
Jalan setapak di Lower Hamlet, Plum Village Prancis.

Setiap bangun pagi, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka ponsel, membaca status/berita di Media Sosial (Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp dan lainnya), saya akan menghabiskan waktu beberapa menit bahkan lebih.

Media sosial adalah media online, tempat para penggunanya bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi, sarana pergaulan sosial yang dilakukan secara online melalui jaringan internet. Para pengguna media sosial atau bisa juga disebut dengan user ini bisa melakukan komunikasi atau interaksi, berkirim pesan, baik pesan teks, gambar, audio hingga video, saling berbagi (sharing) dan juga membangun jaringan atau networking.

Banyak di antara teman saya, memposting status yang tanpa sengaja melukai perasaan orang lain. Banyak juga di antara mereka yang selalu terbawa perasaan (baper)  bahwa status yang diposting, sengaja dibuat untuk orang tertentu, akan tetapi belum tentu kata-kata tersebut ditujukan kepada satu orang tertentu.

Saat membaca sebait kalimat, saya merasa bagus, memberikan inspirasi, memotivasi semangat dan meningkatkan keyakinan, biasanya saya membagikan atau mengopi kata-kata motivasi tersebut. Akan tetapi saat orang lain membaca posting tersebut, bisa saja merasa sindiran dan tanpa disadari ia merasa kesal.

Saat saya kesal dan benci kepada seseorang, saya dengan sengaja membuat sindiran ataupun kata kata kebencian untuk melampiaskan kekesalan, supaya seluruh dunia tahu siapa dia. Secara tidak sadar saya telah menuduh mereka salah ……..  Yakin mereka salah ? Apakah saya paling benar?

Sahabat, teman di media sosial kebanyakan tidak saling mengenal, tapi mereka menilai seseorang dari status, bahasa, video, dan foto. Apa yang seseorang post di media sosial, menunjukan Kualitas, Karakter dan Watak orang tersebut.

Postingan yang dipost, saat orang lain membaca dan melihat, apakah setiap orang mempunyai pemikiran yang sama satu sama lainnya ? TIDAK

Semua orang punya pendapat dan pemikiran yang berbeda, walaupun Status (bahasa) yang ditulis sama. Ada yang membenarkan pendapat tersebut, ada juga yang tidak.

Bagaimana perasaan orang lain, saat membaca status yang dengan sengaja dibuat untuk dia?

Terluka, sedih dan kecewa ………    setelah itu bahagia?

Seberapa lama kebahagian itu bisa dirasakan ?

Keuntungan apa yang didapatkan ?

Saat saya terluka oleh sebuah pukulan atau goresan, begitu luka itu sembuh, saya dengan cepat melupakannya. Tapi jika kata-kata yang melukai hati, bisa membentuk dendam yang dibawa sampai akhir hidup.

Mari renungkan, apa yang saya berikan? Seberapa besar perhatian, bantuan yang seseorang berikan kepada orang lain? Sehingga dengan mudah dia merusak reputasi seseorang menggunakan bahasa emosi dan tuduhan, jika tidak ada, apa hak seseorang untuk menciptakan bahasa kebencian kepada orang lain.

Ada yang terlihat sedang menutupi kekurangan dirinya dengan terus mengungkit kelemahan orang lain ke permukaan untuk dilihat banyak orang. Tujuannya untuk menutupi kekurangan dirinya, agar pihak lain tidak melihat kekurangannya, tapi tanpa disadari, hal itu melukai dirinya sendiri.

Bagaimana perasaan saya jika bahasa kebencian saya tidak ditanggapi ?

Orang itu tidak membaca status saya atau mungkin sudah membaca tapi tidak menanggapinya sama sekali ? Bagaimana jika bahasa kebencianmu hanya dianggap sampah?  Marah……. Kecewa ……. Gelisah ……

Memilih diam saat kondisi tidak nyaman, bukan berarti takut. Banyak orang memilih diam karena mereka tidak mau mengambil sampah orang lain.

Surga ….. Neraka ….. begitu dekat, saat saya mengambil sampah yang dibuang oleh orang lain, masuk kedalam pikiran dan perasaan, maka saya sudah memilih neraka untuk diri sendiri. Jika saya hanya melihat, mengamati dan melepaskan sampah itu, maka saya memilih surga, bahagia tanpa merasakan kesedihan, kekecewaan dan penyesalan.

Mencari cari kesalahan orang lain itu membuang waktu, karena seberapa banyak kesalahan yang diperbuat orang lain, tidak akan mengubah apa pun pada diri saya.

Jangan hidup dalam kemarahan dan kebencian di hatimu. Anda hanya menyakiti dirimu sendiri lebih dari orang yang Anda benci (Dalai Lama XIV)

SVD