Mengikuti Jejak Buddha

Mengikuti Jejak Buddha

Begawan Buddha, engkau merupakan guruku, engkau telah mengantarkanku ke dunia spiritual. Aku adalah muridmu, aku adalah adikmu, dan aku juga merupakan anakmu. Aku bertekad melanjutkan cita-citamu melayani semua makhluk. Engkau mengajarkan aku untuk berlatih rendah hati, sabar, dan penuh pengertian, dan tidak keras kepala. Engkau sendiri berlatih rendah hati agar bisa menjadi panutan bagi kami, siswa-siswamu.

Berkat pengertian mendalam, engkau tidak terjebak dalam kobaran api kemarahan, badai kekecewaan, dan ombak kekesalan, engkau juga tidak jatuh ke dalam jurang persepsi keliru. Caramu berpikir, berucap, dan bertindak penuh kesabaran dan pengertian, memancarkan kasih sayang dan welas asih kepada semua orang di sekitarmu.

Begawan Buddha, dari lubuk hatiku paling dalam, ternyata aku juga punya kehendak menjadi seperti dirimu, mengikuti jejak langkahmu, aku bertekad sepenuh hati untuk berlatih rendah hati, sabar, penuh pengertian dan tidak keras kepala, aku sadar apabila aku menjadi sombong, tergesa-gesa, bersikap tidak peduli dan keras kepala, maka aku menciptakan penderitaan besar bagi diriku sendiri dan juga penderitaan bagi orang-orang disekitarku. Diriku sendiri dan orang lain menjadi korban akibat sikap ketidakpedulian dan keras kepalaku.

Aku sadar bahwa sudah terlalu banyak persepsi keliru menumpuk dalam hatiku, sehingga aku tidak bisa menerima nasihat orang lain, bahkan aku selalu mengabaikan nasihat dari engkau, oh Buddha.

Mulai hari ini aku bertekad sepenuh hati berlatih menumbuhkan pengertian dan kasih, menghadirkan elemen-elemen kebahagiaan bagi diriku dan orang lain di sekelilingku, pada masa kini maupun masa akan datang.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi tiga kali dengan tubuh, ucapan dan pikiran yang bersatupadu untuk meresapi dan meneguhkan tekad ini.

Memvisualisasikan Begawan Buddha

Memvisualisasikan Begawan Buddha

Begawan Buddha, sembari mempraktikkan menyentuh bumi aku menyentuh Buddha. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai anak muda di Kapilavastu. Aku melihat Buddha sebagai meditator pengembara di hutan rimba. Aku melihat Buddha sebagai biksu yang mempraktikkan Samadhi dengan solid di bawah pohon Bodhi. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai guru mulia yang sedang memberikan instruksi kepada para murid di Puncak Burung Nasar dan di Hutan Jeta. Aku melihat Buddha sebagai biksu pengembara yang setiap langkahnya meninggalkan jejak di kerajaan-kerajaan kecil di lembah Sungai Gangga. Begawan Buddha kuat dan sehat secara fisik dan batin, hidup panjang umur tanpa bantuan obat modern. Aku melihat Buddha sebagai guru, yang telah berusia 80 tahun berbaring dalam posisi singa di bawah dua pohon sala sebelum memasuki maha parinirwana. Aku menuyentuh bumi di hadapan Raja Suddhodana dan Ratu Maya, dua orang ini yang menghadirkan Sakyamuni, membawa maha guru ini ke dunia.

Menyentuh Bumi

Buddha Sakyamuni, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur sepenuh hati, guru akarku yang telah hadir di dunia ini. [Genta]

Begawan Buddha, Aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada ayahanda, Raja Suddhodana dan ibunda, Ratu Maya. [Genta]

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

Delapan puluh empat ribu, angka yang luar biasa banyak untuk suatu metode, kesemuanya untuk membuka Dharma-door (sengaja tidak di-Indonesiakan karena saya sangat suka mendengar bunyi kata tersebut dalam bahasa inggris). Apakah semua perlu dicoba, apakah seumur hidup ngotot mengatakan hanya metode ini terbaik atau lebih parah lagi mengatakan suatu metode salah tanpa melakukan pemeriksaan seksama? Buddha mengumpamakan segenggam daun di tangan-Nya hanyalah sedikit metode yang diajarkan-Nya dibandingkan semua daun dari 1 hutan. Namun hati-hati juga mempraktikkan metode yang benar-benar salah.

San Bu Yi Bai (三步一拜)
Ada satu e-book mampir di gadget saya, judulnya Master Empty Cloud, di sana diceritakan Biksu Xu Yun/Master Empty Cloud pada umur 43 tahun melakukan perjalanan ziarah dari Gunung Po To (Po To San) ke Gunung Five Peak Mountain sambil melakukan tiga langkah satu sujud. Beliau melakukannya karena malu setelah meninggalkan keluarga dan dua istrinya selama 20 tahun tidak juga tercerahkan (versi lain mengatakan sebagai wujud bakti untuk Ibu yang melahirkannya).

Selama perjalanannya Beliau menceritakan diselamatkan nyawanya dari dinginnya musim salju sebanyak dua kali oleh pengemis bernama Wen Ji yang belakangan dipercaya sebagai perwujudan Buddha Maitreya. Di akhir cerita, dituliskan Master meninggal dengan tenang dengan posisi tidur seperti Buddha Gautama, di bagian ini tak terasa air mata tak terbendung keluar, Saya rindu Master yang tidak pernah Saya kenal.

Penasaran dengan metode San Bu Yi Pai ini, Saya temukan referensi lain yaitu kisah dua Biksu Amerika, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalan ziarah tiga langkah satu sujud selama dua setengah tahun untuk perdamaian dunia di sepanjang pantai California dari tahun 1977 hingga 1979. Keduanya di kemudian hari menjadi guru besar universitas. Curiosity of the heart, itu katanya.

Tindakan Tidak Masuk Akal
Agama Buddha memiliki banyak ritual anggun, bagi orang-orang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai semua hal tersebut dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal, namun saat kita mengenalnya lebih mendalam kita akan melihat praktik tersebut sebagai metode untuk mengkultivasi atau menjangkarkan ilusi kita agar tersadarkan dan menjadi tercerahkan seperti halnya Buddha. Metode-metode ini membantu kita untuk mengetahui cara untuk menghindari penderitaan dan hidup bahagia.

Salah satu metode yang dikenal adalah San Bu Yi Bai, adalah ritual berjalan tiga langkah dan kemudian melakukan sujud sekali sambil menyebutkan nama Bodhisatwa atau nama Buddha, Setiap sujud adalah memberi penghormatan kepada Buddha (termasuk juga Bodhisatwa). Praktik ini untuk melepaskan tiga pikiran dan menghilangkan empat bentuk.

Tiga pikiran bahwa masa lalu sudah lewat dan tidak dapat digengam; saat ini pun akan mejadi masa lalu dan juga tidak bisa digengam, masa depan belum tersedia dan tentu saja tidak bisa pula digengam.

Empat bentuk karakteristik, setiap orang memiliki ego, ini adalah bentuk ego; ketika kita melihat seseorang, kita memunculkan bentuk pikiran bahwa ini manusia; ketika buah pikir muncul dalam pikiran kita, kita menghasilkan wujud-wujud dalam pikiran kita; kesinambungan buah pikir ini melalui waktu memunculkan bentuk waktu.

memurnikan pikiran, merendahkan ego dan mengurangi rintangan di sepanjang jalan spiritual saat seseorang menyesali perbuatan buruk masa lalu dan bercita-cita menuju perkembangan spiritual. Tubuh, ucapan dan pikiran selama melakukannya bersatu.

Mencicipi Metode Zen
Thay, panggilan akrab Thich Nhat Hanh seorang guru zen dari Vietnam mengutamakan komunitas harmonis yang tidak mengandalkan satu sosok utama.

Joy adalah kata tepat untuk mengambarkan efek dari latihan dengan metodenya. Racikan Beliau terlihat enteng dan kadang diberi label main-main, seiring waktu saya tahu, bahwa tidak ada yang mudah dalam berlatih. Ada bel yang mengingatkan saya bahwa dalam keringanannya ada latihan super berat, super serius. Maukah anda berlatih bersama Saya untuk mencicipi 1 dari 84.000 metode?

KSANTICA seorang praktisi mindfulness, anggota Ordo Interbeing Indonesia, dan volunteer retret dan Day of Mindfulness