Master Zen Thich Nhat Hanh: Hanya Cinta yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Perubahan Iklim

Master Zen Thich Nhat Hanh: Hanya Cinta yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Perubahan Iklim

oleh Jo Confino

Cat: Wawancara ini dipublikasikan oleh The Guardian pada Tanggal 21 Januari 2013

Guru spiritual kondang mengingatkan, apabila manusia belum bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan, bagaimana bisa mengharapkan mereka cemas atas urusan penting Bumi Pertiwi.

Thich Nhat Hanh: kita mesti melampaui diri kita sendiri untuk menyelamatkan Ibu Pertiwi dari perubahan iklim. Sumber: AP

Master Zen, Thich Nhat Hanh merupakan salah satu dari guru spiritual kondang, sosok yang sangat damai walaupun dia bahkan memprediksi kemungkinan runtuhnya peradaban dalam kurun waktu 100 tahun ke depan akibat perubahan iklim yang tak terkendali.

Biksu berdarah Vietnam ini memiliki ratusan ribu pengikut di seluruh dunia. Dia yakin, alasan kebanyakan orang tidak menanggapi ancaman pemanasan global meskipun ada banyak bukti ilmiah adalah karena meraka tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan, apalagi mengkhawatirkan mengenai keadaan Ibu Pertiwi.

Thay, sapaan akrabnya, ia mengatakan menjadi damai itu bisa diwujudkan apabila Anda menembus realitas palsu kita yang didasari pada gagasan hidup dan mati, untuk menyentuh dimensi tertinggi sebagaimana sudut pandang Agama Buddha bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.

Dengan menyadari sepenuhnya akan kondisi saling keterhubungan dari semua kehidupan, kita dapat melampaui gagasan bahwa kita memiliki elemen pembentuk tunggal, kemudian memperluas welas asih dan cinta kita sedemikian rupa sehingga kita aktif melindungi Bumi.

Melihat Melampaui Ketakutan

Pada buku Thay yang berjudul Fear, beliau menuliskan tentang bagaimana masyarakat menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengkhawatirkan sakit, menua dan kehilangan hal-hal yang paling berharga, walaupun semua itu fakta, tidak bisa dihindari bahwa suatu hari mereka harus melepas itu semua.

Ketika kita menyadari bahwa keberadaan manusia bukanlah sekadar tubuh fisik saja, bahwa kita bukan berasal dari ketiadaan dan tidak akan menghilang tanpa bekas, dengan demikian kita bisa terbebaskan dari rasa takut. Beliau mengatakan bahwa ‘tiada rasa takut’ (fearless) tak hanya mungkinkan, tetapi merupakan suka cita tertinggi.

“Cara kita mempersepsikan waktu tampaknya bisa menjadi celahnya,” Thay memberitahu saya saat kami di rumah sederhananya di Biara Plum Village dekat Bordeaux. “Bagi kami, ini sangat mengkhawatirkan dan mendesak, lalu bagi Bumi Pertiwi, jika dia menderita, dia tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk memulihkan dirinya sendiri, walaupun membutuhkan 100 juta tahun. Kita berpikir waktu kita di bumi hanya 100 tahun, oleh karena itu kita menjadi sangat tak sabar. Karma kolektif dan ketidaktahuan dari ras kita, kemarahan dan kekerasan kolektif akan mengarah pada kehancuran, dan kita harus belajar untuk menerima kenyataan ini.”

“Dan mungkin Ibu Pertiwi akan menghasilkan makhluk yang hebat pada dekade berikutnya. Kita tidak tahu dan juga tidak dapat memprediksinya. Bumi Perwiti sangat berbakat. Dia telah melahirkan para Buddha, bodhisatwa, makhluk-makhluk hebat.

Jadi berlindunglah pada Bumi Pertiwi dan pasrah kepadanya, serta memohon padanya untuk menyembuhkan dan membantu kita. Dan kita harus menerima bahwa hal terburuk bisa saja terjadi; bahwa sebagian dari kita akan mati sebagai suatu spesies dan banyak spesies lain juga akan mati, serta Bumi Pertiwi akan mampu menghadirkan kita kembali, kita yang lebih bijaksana; mungkin beberapa juta tahun lagi.”

Menghadapi Kebenaran

Thay secara tidak langsung menyatakan bahwa kita mengejar ketenaran, kemakmuran, kekuasaan, dan kenikmatan seksual bisa menjadi perlindungan sempurna bagi masyarakat untuk bersembunyi di balik kebenaran atas tantangan yang sedang dihadapi oleh dunia ini. Lebih parah lagi, ketergantungan manusia atas barang-barang material dan gaya hidup sibuk yang hanya menyediakan tambal sulam sementara bagi celah emosional dan luka spiritual, semua itu justru memicu kesepian semakin dalam dan ketidakbahagiaan.

Thay yang baru saja merayakan masa kebiksuannya yang ke-70 tahun, ia merefleksikan kurangnya tindakan untuk menanggulangi kerusakan ekosistem dan kepunahan hayati yang begitu cepat: “Ketika mereka melihat kenyataannya, maka sudah terlambat untuk bertindak… tetapi mereka tidak ingin menyadarinya karena kemungkinan akan membuat mereka menderita. Mereka tidak sanggup menghadapi kenyataannya. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tidak ingin mengurusnya”.

“Mereka sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakannya. Kita tidak seharusnya membicarakan hal apa yang perlu mereka lakukan, apa yang seharusnya tak dilakukan demi melindungi masa depan. Kita perlu berbicara kepada mereka melalui cara yang bisa menyentuh hatinya, cara yang bisa membantu mereka terlibat dalam upaya yang bisa memberikan kebahagiaan sejati untuk mereka, jalur cinta dan pemahaman, keberanian untuk melepas. Ketika mereka telah merasakan sedikit kedamaian dan cinta, kemungkinan mereka akan bangkit.”

Thay menciptakan gerakan Umat Buddha yang Terjun Aktif (Engaged Buddhism), yang mempromosikan peran aktif suatu individu untuk menciptakan perubahan, dan latihan kewawasan – suatu jejak biru etis – menyerukan agar para praktisi untuk memboikot produk-produk yang merusak lingkungan dan untuk menghadapi ketidakadilan sosial.

Mengingat betapa sulitnya menyadarkan mereka, sementara mereka tidak berniat mengubah perilakunya. Thay mengatakan bahwa kita membutuhkan gerakan akar rumput, mengikuti taktik yang digunakan oleh Gandhi, tetapi menegaskan bahwa ini bisa efektif hanya jika aktivis terlebih dahulu mengatasi kemarahan dan ketakutan dirinya sendiri, ketimbang memproyeksikannya pada orang-orang yang dianggap mereka salah.

Konsumen yang sadar sepenuhnya dapat mempengaruhi cara perusahaan bertindak

Berkenaan dengan perusahaan yang memproduksi barang-barang berbahaya, beliau mengatakan,”Mereka seharusnya tidak terus memproduksi barang-barang ini. Kita tak membutuhkannya. Kita membutuhkan produk jenis lain yang membantu kita menjadi lebih sehat. Jika ada penyadaran di tingkat konsumen, maka produsen akan harus berubah. Kita bisa memaksa mereka untuk berubah dengan tidak membeli.

“Gandhi mampu mendesak bangsanya sendiri untuk memboikot sejumlah komoditi. Dia tahu cara untuk menjaga dirinya sendiri selama aksi tanpa kekerasan. Dia tahu cara untuk menghemat energi karena perjuangannya panjang, jadi praktik spiritual sangat dibutuhkan demi membantu perubahan masyarakat.”

Thay telah menulis lebih dari 100 buku, termasuk buku laris “Miracle of Mindfulness”. Beliau mengatakan bahwa memang sulit bagi pemegang kekuasaan untuk berterus terang atas sifat merusak dari sistem ekonomi saat ini, karena takut dikucilkan dan dicemooh, kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memiliki keberanian untuk menantang status quo tersebut.

“Para pemimpin bisnis dan politik perlu memupuk welas asih demi merangkul dan mengurangi ego agar bisa melakukan hal tersebut,” ucap Thay.

“Anda memiliki keberanian untuk melakukannya karena Anda memiliki welas asih. Welas asih adalah energi yang kuat,” ucapnya. “Dengan welas asih Anda mengorbankan diri untuk orang lain, seperti seorang ibu rela mati demi anaknya. Anda memiliki keberanian untuk mengeksposnya karena Anda tidak takut kehilangan apa pun, karena Anda mengetahui bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan dasar dari kebahagiaan. Apabila Anda takut kehilangan status, jabatan, maka Anda tidak akan berani melakukannya.”

Suatu momen perenungan

Sementara banyak orang merasa kehilangan arah yang disebabkan oleh kerumitan kehidupannya dan begitu banyaknya pilihan yang ditawarkan oleh masyarakat konsumtif ini, retret Thay menawarkan alternatif yang sangat sederhana.

Selamat retret musim dingin tiga bulan di Plum Village, Thay berulang kali menginstruksikan ratusan biksu, biksuni dan praktisi awam tentang menghentikan keributan tanpa ujung di kepalanya dan fokus pada inti kewawasan, sukacita dari bernapas, berjalan, perenungan di momen kekinian.

Ketimbang mencari jawaban soal hidup dalam pembelajaran filosofi atau mencari pengalaman puncak yang dipicu adrenalin, Thay menyarankan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dengan menyentuh hal-hal yang bermakna pada setiap pengalaman hidup yang sangat sederhana, yang sebagian besar telah kita abaikan.

Contohnya adalah seberapa sering kita menghargai sepenuhnya kerja keras jantung setiap siang dan malam untuk mempertahankan kita agar tetap hidup. Beliau menyarankan bahwa memungkinkan untuk menemukan kebenaran mendalam melalui konsentrasi pada sesuatu yang mendasar seperti memakan wortel, sebagaimana Anda akan memperoleh wawasan bahwa sayuran tidak bisa ada tanpa dukungan seluruh alam semesta.

“Jika Anda sepenuhnya bersentuhan dengan sepotong wortel, Anda bersentuhan dengan tanah, hujan, sinar matahari,” ucap beliau. “Anda bersentuhan dengan Bumi Pertiwi dan memakannya sedemikian rupa, Anda merasakan bersentuhan dengan kehidupan sejati, akar Anda, dan inilah meditasi. Jika kita mengunyah setiap bagian makanan dengan cara demikian, kita menjadi bersyukur dan ketika kita bersyukur, Anda bahagia.”

Walaupun sudah bermeditasi setiap hari selama tujuh dekade terakhir, Thay yakin masih ada banyak hal yang perlu dipelajari. “Dalam ajaran Buddha, kita membicarakan cinta kasih sebagai sesuatu yang tak terbatas,” ucapnya.

“Empat unsur cinta yang mencakup cinta kasih, welas asih, sukacita dan ekuanimitas, tidak ada batasnya.”

Itulah cara berpikir Buddha. Dengan rasa hormat para pengikut Buddha menyebutnya sebagai ‘dia yang telah sempurna’, sesungguhnya Anda tak perlu menjadi sempurna. Perlu untuk diketahui. Jika Anda mendapatkan sedikit kemajuan setiap hari, sedikit kemajuan sehingga lebih berbahagia dan merasakan kedamaian, ini sudah cukup baik, sehingga Anda terus berlatih, lalu wawasan akan terus tumbuh setiap hari.

“Pratik itu tiada batasnya. Dan saya pikir ini berlaku untuk semua umat manusia. Kita bisa terus belajar dari generasi ke generasi dan kini saatnya untuk memulai belajar bagaimana cara mencintai dengan tanpa diskriminasi karena kita cukup cerdas, tetapi sebagai makluk hidup, kita tidak memiliki kandungan cinta seukupnya.”

Thich Nhat Hanh: kehidupan yang jauh dari mata publik

Thay sering dibandingkan dengan Dalai lama tetapi sering luput dari pandangan publik karena ia memutuskan untuk menjalankan hidup sebagai biksu sederhana. Beliau telah menghindari jebakan dikelilingi para pesohor dan Thay hanya mau diwawancarai oleh jurnalis yang telah bermeditasi bersamanya karena kewawasan perlu dialami ketimbang dijelaskan.

Tetapi Thay bukan orang kesepian, ia telah menjalani kehidupan yang luar biasa, termasuk penominasian Thay untuk menerima penghargaan Nobel perdamaian oleh Martin Luther King pada tahun 1967 atas usahanya mencari cara untuk meredakan perang Vietnam. Dalam penominasiannya, King mengatakan “Saya secara pribadi tidak menemukan ada orang lain yang lebih layak mendapatkan penghargaan ini dibandingkan biksu yang lembut dari Vietnam ini. Gagasannya atas perdamaian jika diterapkan akan membangun suatu monumen ekumenisme, untuk persaudaraan dunia, untuk kemanusiaan.”

Thay mendirikan Plum Village 30 tahun lalu setelah diasingkan dari tanah kelahirannya. Sejak itu biara di Thailand, Hong Kong dan Amerika Serikat, dan juga Institut Agama Buddha Terapan di Jerman mulai bermekaran. Beliau melanjutkan usahanya demi solusi perdamaian pada konflik di seluruh dunia, termasuk menyelenggarakan beberapa retret untuk masyarakat Israel dan Palestina.

Pada tahun 2009 dia menghadapi konflik dalam hidupnya. Ketika pihak yang berwenang di Vietnam menggunakan kekerasan dan pemaksaan untuk menutup Biara Bhat Nha yang baru diresmikan. Thay yakin tindakan tidak bertanggung jawab itu didalangi oleh Tiongkok sebab Thay menyatakan dukungannya secara publik kepada Tibet. Masyarakat Uni Eropa dan negara-negara lain menyuarakan protes. Sekitar 400an biksu dan biksuni tersebar ke berbagai tempat, namun secara diam-diam masih beroperasi di Vietnam.

The Guardian mengeluarkan pesan kedutaan Amerika Serikat yang menyoroti kekhawatiran mengenai tindakan keras tersebut. Salah satu pesan rahasia mengatakan, “penanganan yang buruk dari Vietnam terhadap situasi di komunitas Plum Village di Biara Bat Nha dan paroki Katolik Dong Chiem minggu lalu – khususnya pengunaan kekerasan yang berlebihan – merupakan masalah dan menandakan tindakan kekerasan GVN yang lebih luas pada hak asasi manusia mejelang Kongres Partai pada Januari 2011.”

Terlepas dari seluruh penghargaannya, termasuk tugas baru-baru ini sebagai penyunting tamu di Times of India, Thay adalah orang yang sederhana ketika dia melihat kembali hidupnya.

“Tidak banyak yang kita capai selain kedamaian, beberapa kepuasan di dalam. Ini sudah cukup banyak,” ucapnya. “Momen paling bahagia adalah ketika kita duduk dan saling mensyukuri kehadiran saudara-saudari, umat awam dan monastik yang berlatih meditasi jalan dan duduk. Ini adalah pencapaian utama dan hal-hal lain seperti mempublikasikan buku dan menyiapkan lembaga seperti di Jerman menjadi tidak begitu penting.”

“Hal yang penting adalah kita memiliki sangha (komunitas) dan wawasan karena Buddha di masa kita kemungkinan bukan seorang individu tetapi kemungkinan adalah sebuah sangha. Jika setiap hari Anda berlatih meditasi jalan dan duduk, serta membangkitkan energi kewawasan, konsentrasi, dan kedamaian, Anda adalah suatu sel dalam tubuh Buddha yang baru. Ini bukan mimpi, tetapi kemungkinan hari ini dan esok. Buddha bukan sesuatu yang jauh, tetapi di sini dan saat ini.”

Sementara Thay masih dalam kondisi sehat dan tajam seperti jarum, dia tidak semakin muda dan kemungkinan akan mulai menarik diri dari jadwal berat yang membuatnya terlihat berulang kali melintasi dunia, memimpin retret dan meneruskan ajarannya. Tahun ini dia berkelana melintasi Amerika Serikat dan Asia, kemungkinan ini adalah perjalanan luar negeri utama terakhirnya.”

Dengan keyakinannya pada tidak ada kelahiran dan tidak ada kematian, bagaimana dia merasakan mengenai kematiannya sendiri?

“Sangat jelas bahwa Thay tidak akan mati, tetapi akan terus berlanjut hadir dalam setiap orang,” ucapnya. “Jadi tidak ada kehilangan dan kita bahagia karena kita mampu membantu Buddha untuk memperbarui ajarannya. Dia sering disalahpahami oleh banyak pihak, oleh karena itulah kita mencoba mengondisikan agar ajaran Buddha bisa dipraktikkan dengan mudah dan sederhana sehingga semua orang dapat memanfaatkan dengan baik ajaran dan latihannya.”

Sambil mengangkat segelas teh untuk diminum, beliau menambahkan: “Saya sudah mati beberapa kali dan Anda mati setiap momen dan Anda lahir kembali dalam setiap momen sehingga ini adalah cara kita melatih diri sendiri. Ini seperti teh. Ketika Anda menuangkan air panas dalam teh, Anda meminumnya untuk pertama kali, dan kemudian Anda menuangkan lagi sejumlah air panas dan Anda minum lagi, daun-daun teh masih ada dalam teko itu tetapi rasanya telah berpindah ke dalam teh dan jika Anda mengatakan mereka telah mati, maka itu tidak benar, karena mereka terus hidup dalam teh, jadi tubuh ini hanya residu.”

“Daun ini masih dapat menyediakan sejumlah rasa teh, tetapi suatu hari tidak ada rasa teh yang tersisa dan ini bukanlah kematian. Dan bahkan daun-daun teh dapat Anda masukkan ke dalam pot bunga dan mereka melanjutkan peranannya, jadi kita perlu melihat hidup dan mati seperti demikian. Jadi ketika Saya melihat monastik muda dan umat awam berlatih, saya melihat itulah kelanjutan dari Buddha, kelanjutan dari saya.”

Sepucut surat pemberitahuan kepada Thay bahwa ada seseorang telah membangun wihara di Hanoi untuk Thay demi mengenang hidupnya, Thay baru-baru ini mengirimkan surat ke wihara Tu Hieu di pusat Vietnam tempat dia berlatih sebagai samanera, menjelaskan bahwa dia tidak ingin wihara dibangun untuk menghormatinya ketika dia mati: “Saya mengatakan jangan menyia-nyiakan tanah wihara untuk membangun stupa untuk saya. Jangan masukkan saya ke dalam pot kecil itu dan meletakkan saya di sana. Saya tidak ingin berlanjut seperti demikian. Lebih baik menaburkan abu di luar untuk membantu pohon tumbuh. Inilah meditasi.”

Dia menambahkan: “Saya meminta mereka membuat pernyataan tertulis bahwa ‘Saya tidak di sini'” dan jika ada orang yang tidak mengerti, Anda menambahkan kalimat kedua ‘Saya juga tidak ada di luar sana’ dan jika mereka masih tidak mengerti, pada kalimat ketiga dan terakhir tambahkan ‘Saya bisa ditemukan dalam cara Anda berjalan atau bernapas.”

Sumber: The Guardian, 21 Januari 2013

Alih bahasa: Endah

You Are A Buddha To Me

You Are A Buddha To Me
You Are A Buddha To Me

Unduh Mp3 klik sini

You are a Buddha to me

Composed by: Chi Sing

You are a Buddha to me
and I am a Buddha to you
The Dharma is what we share
The Sangha is how we care

This is our Way
This is our Truth
This is our Life

You Are A Buddha To Me

Mengikuti Jejak Buddha

Mengikuti Jejak Buddha

Begawan Buddha, engkau merupakan guruku, engkau telah mengantarkanku ke dunia spiritual. Aku adalah muridmu, aku adalah adikmu, dan aku juga merupakan anakmu. Aku bertekad melanjutkan cita-citamu melayani semua makhluk. Engkau mengajarkan aku untuk berlatih rendah hati, sabar, dan penuh pengertian, dan tidak keras kepala. Engkau sendiri berlatih rendah hati agar bisa menjadi panutan bagi kami, siswa-siswamu.

Berkat pengertian mendalam, engkau tidak terjebak dalam kobaran api kemarahan, badai kekecewaan, dan ombak kekesalan, engkau juga tidak jatuh ke dalam jurang persepsi keliru. Caramu berpikir, berucap, dan bertindak penuh kesabaran dan pengertian, memancarkan kasih sayang dan welas asih kepada semua orang di sekitarmu.

Begawan Buddha, dari lubuk hatiku paling dalam, ternyata aku juga punya kehendak menjadi seperti dirimu, mengikuti jejak langkahmu, aku bertekad sepenuh hati untuk berlatih rendah hati, sabar, penuh pengertian dan tidak keras kepala, aku sadar apabila aku menjadi sombong, tergesa-gesa, bersikap tidak peduli dan keras kepala, maka aku menciptakan penderitaan besar bagi diriku sendiri dan juga penderitaan bagi orang-orang disekitarku. Diriku sendiri dan orang lain menjadi korban akibat sikap ketidakpedulian dan keras kepalaku.

Aku sadar bahwa sudah terlalu banyak persepsi keliru menumpuk dalam hatiku, sehingga aku tidak bisa menerima nasihat orang lain, bahkan aku selalu mengabaikan nasihat dari engkau, oh Buddha.

Mulai hari ini aku bertekad sepenuh hati berlatih menumbuhkan pengertian dan kasih, menghadirkan elemen-elemen kebahagiaan bagi diriku dan orang lain di sekelilingku, pada masa kini maupun masa akan datang.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi tiga kali dengan tubuh, ucapan dan pikiran yang bersatupadu untuk meresapi dan meneguhkan tekad ini.

Memvisualisasikan Begawan Buddha

Memvisualisasikan Begawan Buddha

Begawan Buddha, sembari mempraktikkan menyentuh bumi aku menyentuh Buddha. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai anak muda di Kapilavastu. Aku melihat Buddha sebagai meditator pengembara di hutan rimba. Aku melihat Buddha sebagai biksu yang mempraktikkan Samadhi dengan solid di bawah pohon Bodhi. Aku memvisualisasikan Buddha sebagai guru mulia yang sedang memberikan instruksi kepada para murid di Puncak Burung Nasar dan di Hutan Jeta. Aku melihat Buddha sebagai biksu pengembara yang setiap langkahnya meninggalkan jejak di kerajaan-kerajaan kecil di lembah Sungai Gangga. Begawan Buddha kuat dan sehat secara fisik dan batin, hidup panjang umur tanpa bantuan obat modern. Aku melihat Buddha sebagai guru, yang telah berusia 80 tahun berbaring dalam posisi singa di bawah dua pohon sala sebelum memasuki maha parinirwana. Aku menuyentuh bumi di hadapan Raja Suddhodana dan Ratu Maya, dua orang ini yang menghadirkan Sakyamuni, membawa maha guru ini ke dunia.

Menyentuh Bumi

Buddha Sakyamuni, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur sepenuh hati, guru akarku yang telah hadir di dunia ini. [Genta]

Begawan Buddha, Aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada ayahanda, Raja Suddhodana dan ibunda, Ratu Maya. [Genta]

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

Delapan puluh empat ribu, angka yang luar biasa banyak untuk suatu metode, kesemuanya untuk membuka Dharma-door (sengaja tidak di-Indonesiakan karena saya sangat suka mendengar bunyi kata tersebut dalam bahasa inggris). Apakah semua perlu dicoba, apakah seumur hidup ngotot mengatakan hanya metode ini terbaik atau lebih parah lagi mengatakan suatu metode salah tanpa melakukan pemeriksaan seksama? Buddha mengumpamakan segenggam daun di tangan-Nya hanyalah sedikit metode yang diajarkan-Nya dibandingkan semua daun dari 1 hutan. Namun hati-hati juga mempraktikkan metode yang benar-benar salah.

San Bu Yi Bai (三步一拜)
Ada satu e-book mampir di gadget saya, judulnya Master Empty Cloud, di sana diceritakan Biksu Xu Yun/Master Empty Cloud pada umur 43 tahun melakukan perjalanan ziarah dari Gunung Po To (Po To San) ke Gunung Five Peak Mountain sambil melakukan tiga langkah satu sujud. Beliau melakukannya karena malu setelah meninggalkan keluarga dan dua istrinya selama 20 tahun tidak juga tercerahkan (versi lain mengatakan sebagai wujud bakti untuk Ibu yang melahirkannya).

Selama perjalanannya Beliau menceritakan diselamatkan nyawanya dari dinginnya musim salju sebanyak dua kali oleh pengemis bernama Wen Ji yang belakangan dipercaya sebagai perwujudan Buddha Maitreya. Di akhir cerita, dituliskan Master meninggal dengan tenang dengan posisi tidur seperti Buddha Gautama, di bagian ini tak terasa air mata tak terbendung keluar, Saya rindu Master yang tidak pernah Saya kenal.

Penasaran dengan metode San Bu Yi Pai ini, Saya temukan referensi lain yaitu kisah dua Biksu Amerika, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalan ziarah tiga langkah satu sujud selama dua setengah tahun untuk perdamaian dunia di sepanjang pantai California dari tahun 1977 hingga 1979. Keduanya di kemudian hari menjadi guru besar universitas. Curiosity of the heart, itu katanya.

Tindakan Tidak Masuk Akal
Agama Buddha memiliki banyak ritual anggun, bagi orang-orang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai semua hal tersebut dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal, namun saat kita mengenalnya lebih mendalam kita akan melihat praktik tersebut sebagai metode untuk mengkultivasi atau menjangkarkan ilusi kita agar tersadarkan dan menjadi tercerahkan seperti halnya Buddha. Metode-metode ini membantu kita untuk mengetahui cara untuk menghindari penderitaan dan hidup bahagia.

Salah satu metode yang dikenal adalah San Bu Yi Bai, adalah ritual berjalan tiga langkah dan kemudian melakukan sujud sekali sambil menyebutkan nama Bodhisatwa atau nama Buddha, Setiap sujud adalah memberi penghormatan kepada Buddha (termasuk juga Bodhisatwa). Praktik ini untuk melepaskan tiga pikiran dan menghilangkan empat bentuk.

Tiga pikiran bahwa masa lalu sudah lewat dan tidak dapat digengam; saat ini pun akan mejadi masa lalu dan juga tidak bisa digengam, masa depan belum tersedia dan tentu saja tidak bisa pula digengam.

Empat bentuk karakteristik, setiap orang memiliki ego, ini adalah bentuk ego; ketika kita melihat seseorang, kita memunculkan bentuk pikiran bahwa ini manusia; ketika buah pikir muncul dalam pikiran kita, kita menghasilkan wujud-wujud dalam pikiran kita; kesinambungan buah pikir ini melalui waktu memunculkan bentuk waktu.

memurnikan pikiran, merendahkan ego dan mengurangi rintangan di sepanjang jalan spiritual saat seseorang menyesali perbuatan buruk masa lalu dan bercita-cita menuju perkembangan spiritual. Tubuh, ucapan dan pikiran selama melakukannya bersatu.

Mencicipi Metode Zen
Thay, panggilan akrab Thich Nhat Hanh seorang guru zen dari Vietnam mengutamakan komunitas harmonis yang tidak mengandalkan satu sosok utama.

Joy adalah kata tepat untuk mengambarkan efek dari latihan dengan metodenya. Racikan Beliau terlihat enteng dan kadang diberi label main-main, seiring waktu saya tahu, bahwa tidak ada yang mudah dalam berlatih. Ada bel yang mengingatkan saya bahwa dalam keringanannya ada latihan super berat, super serius. Maukah anda berlatih bersama Saya untuk mencicipi 1 dari 84.000 metode?

KSANTICA seorang praktisi mindfulness, anggota Ordo Interbeing Indonesia, dan volunteer retret dan Day of Mindfulness