Pameran Kaligrafi dan Buku: Aroma Wangi Ibu Pertiwi

Pameran Kaligrafi dan Buku: Aroma Wangi Ibu Pertiwi
Para monastik melantunkan mantra “Namo Avalokitesvaraya” pada sesi pembukaan pameran “Aroma Wangi Ibu Pertiwi”

Koleksi kaligrafi dan buku karya Master Zen Thich Nhat Hanh bertajuk “Aroma Wangi Ibu Pertiwi” baru pertama kali dipamerkan di Kota Ho Chi Minh, Vietnam

Pameran Kaligrafi & Buku “Aroma Wangi Ibu Pertiwi”

Pameran ini dibuka pada tanggal 27 Maret 2021 di Toko Buku Hai An (2B Nguyen THi Minh Khai, Distrik 1, Kota Ho Chi Minh). Selamat seminggu, public bisa menikmati ratusan goresan kaligrafi dari Master Zen Thich Nhat Hanh.

Selain kaligfrafi, pameran ini juga menampilkan ratusan judul buku berbahasa Vietnam oleh sang Master Zen. Semua kaligrafi dan buku tertata rapi, didekorasi dengan nuansa kesederhanaan Zen, meditatif, elegan, dan menyejukkan.

Salah satu sudut pameran kaligrafi dan buku

Aroma Wangi Ibu Pertiwi mempersembahkan wewangian kepada tanah kelahiran sang master zen yaitu Vietnam. Energi cinta kasih juga dikirimkan kepada Ibunda Bumi kita, sang planet Bumi yang hijau ini.

Pameran ini memili banyak raung aktivitas buat para pengunjung untuk menikmati meditasi teh (tea meditation), mendengarkan ajaran Zen, berpartisipasi dalam praktik meditasi yang dipandu oleh Guru Dharma (Dharma Teachers) dari tradisi Zen Plum Village.

Pengunjung menikmati kaligrafi

Master Zen Thich Nhat Hanh pernah menyampaikan, “Dalam kaligrafi saya ada tinta, ada teh, ada napas, ada perhatian, dan juga konsentrasi. Menulis kaligrafi juga sebuah praktik meditasi. Saya menulis kata-kata atau kalimat yang dapat membantu setiap orang untuk mengingat praktik hidup berkesadaran (Mindful living).”

Tampaknya kekuatan meditasi dan perhatian penuh kesadaranlah yang membuat kaligrafi karya Master Zen Thich Nhat Hanh menarik perhatian khususnya dunia seniman, peneliti, aktivis, dan praktisi meditasi.

Kaligrafi karya Master Zen Thich Nhat Hanh merupakan perpaduan dari seni, budaya, dan gaya hidup berkesaran (mindful living)

Pameran demikian juga pernah diadakan di beberapa negara yang juga mendapat sambutan hangat. Masyarakat setempat sangat menikmati karya-karya master zen yang sarat dengan nuasa zen.

Menyaksikan karya kaligrafi Master Zen dipamerkan di Vietnam untuk pertama kalinya, Nguyen Xuan Hong sangat terkesima, “Saya sangat senang bahwa karya Master Zen Thich Nhat Hanh diperkenalkan kepada publik melalui pameran ini.

Bagi saya, setiap kaligrafi adalah kitab suci, seolah-olah sedang membaca kitab suci yang menumbuhkan cinta kasih, welas asih, kesabaran, perhatian kesadaran pada saat bersamaan menuju kehidupan lebih damai dan tenteram”, pungkas Nguyen Xuan Hong.

Bagi banyak pengunjung, karya kaligrafi sang master zen bagaikan kitab suci yang memberikan makna sangat mendalam

Vo Thi Kim Phuong yang merupakan murid awam Master Zen sejak lama menyatakan, “Kata-kata dalam kaligrafi sudah pernah saya baca, namun ketika saya membaca ulang kata-kata kaligrafi dalam pameran ini, saya terkejut, ada pencerahan baru, ada kedamaian luar biasa lahir dalam hatiku. Apalagi ditunjang dengan penataan dan dekorasi yang sangat menawan.

Berbeda lagi dengan Nguyen Quang Tiep, salah satu pengunjung pameran, “Saya juga mulai belajar gaya hidup berkesadaran ala Master Zen Thich Nhat Hanh. Melihat satu demi satu kaligrafinya membuat saya sangat menghargai setiap upaya dalam menulis kaligrafi itu. Senang rasanya bisa meluangkan waktu menikmati kaligrafi apalagi dalam kehidupan modern yang sangat hektik ini. Saya menemukan makna hidup baru melalui menyaksikan kaligrafi dengan penuh perhatian.

Kiri: “Kebahagiaan putra-putri merupakan persembahan paling berharga bagi kedua orangtua”
kanan: “Kebahagiaan kedua orang tua merupakan warisan paling berharga bagi putra-putrinya”

Dua kaligrafi dalam Bahasa Vietnam ini sangat disukai oleh Nguyen Quang Tiep, “Kebahagiaan putra-putri merupakan persembahan paling berharga bagi kedua orangtua”, kemudian “Kebahagiaan kedua orang tua merupakan warisan paling berharga bagi putra-putrinya.”


Sumber berita: tuoitre.vn foto oleh HỮU HẠNH
Sumber foto lainnya: giacngo.vn

Ada Damai Di Hatiku

Ada Damai Di Hatiku

Judul Buku: Ada Damai Di Hatiku
Penulis: Master Zen Thich Nhat Hanh
Penerbit: Yayasan Karaniya
Pesan Lewat Telepon : +62 21 5687957

Kedamaian sejati itu tidak mustahil. Namun membutuhkan kegigihan dan latihan, apalagi pada masa-masa sulit. Bagi sebagian orang, kedamaian dan semangat ahimsa (tanpa-kekerasan) sama dengan sikap terima saja dan tidak berdaya. Justru, melatih kedamaian dan semangat ahimsa itu sebaliknya. Berlatih menjadi damai, menghadirkan kedamaian di dalam diri sendiri, berarti secara terus menerus memupuk pengertian, cinta dan belas kasih walaupun harus berhadapan dengan kesalahpahaman dan konflik. Menghadirkan kedamaian diri dalam suasana perang membutuhkan keberanian.

Kita semua bisa mempraktikkan semangat ahimsa. Kita mulai dengan mengenali bahwa di kedalaman kesadaran kita ada benih kasih sayang dan juga benih kekerasan. Kita tiba-tiba sadar bahwa pikiran itu seperti kebun yang mengandung semua jenis benih: benih-benih pengertian, benih memaafkan, benih sadar penuh, dan juga benih kebodohan, ketakutan, dan kebencian. Kita sadar bahwa setiap saat kita bisa saja bertindak dengan kekerasan ataupun belas kasih, tergantung dari kekuatan benih-benih ini di dalam diri kita.

Bilamana benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan di dalam diri kita disirami beberapa kali sehari, benih itu akan tumbuh semakin kuat. Maka kita tidak bisa berbahagia dan tidak dapat menerima diri apa adanya; kita menderita dan juga membuat banyak orang menderita. Namun bilamana kita cerdas dalam memupuk benih cinta kasih, kasih sayang, dan pengertian dalam diri kita setiap hari, benih-benih tersebut akan menjadi kuat dan benih kekerasan dan kebencian akan semakin lemah. Kita tahu apabila benih-benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan tersirami, maka kita menjadi tidak damai dan tidak stabil. Kita akan menderita dan sekaligus menyebabkan banyak orang menderita. Kita wajib merawat benih-benih belas kasih, memupuk kedamaian dan lingkungan. Melalui cara demikian kita sudah melangkah di jalan untuk mewujudkan kedamaian.

Ajaran-ajaran di dalam buku ini dipersembahkan untuk menolong siapa saja yang ingin menempuh hidup ahimsa. Latihan ini merupakan warisan nyata dari Buddha dan para guru-guru leluhur saya. Latihan ini masih begitu ampuh di zaman modern ini, sama persis dengan 2.600 tahun lalu waktu Buddha mencapai penerangan sempurna. Mereka bersama-sama merangkai petunjuk-petunjuk praktis bagaimana menjadi damai untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan dunia ini. Pada saat ini, kita berhadapan dengan demikian banyak konflik di dunia, saya persembahkan buku ini untuk membantu Anda agar menyadari bahwa Anda bisa menghindari kekerasan. Kedamaian sudah tersedia bagi kita di setiap saat. Tergantung pilihan kita.

Beli di Karaniya – Ada Damai Di Hatiku

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Suatu ketika Buddha menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian dipisahkan oleh garis pembatas tipis yakni kesadaran. Seseorang hidup atau tidak, ini tergantung pada apakah ia sadar atau tidak. Dalam Samyutta Nikaya, Buddha menceritakan sebuah kisah yang terjadi di sebuah desa kecil.

Seorang penari terkenal baru saja datang mengunjungi sebuah desa dan banyak orang berhamburan ke jalanan untuk meliriknya sebentar. Pada saat bersamaan, ada seorang kriminal yang dihukum untuk berjalan mengelilingi desa dengan membawa semangkuk penuh minyak. Ia harus berkonsentrasi sebaik-baiknya agar mangkuk tersebut tetap stabil, apabila setetes saja minyak tertumpah, prajurit yang berjalan tepat di belakangnya akan memenggal lehernya. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha bertanya, “Sekarang, menurut Anda apakah kriminal tersebut sanggup menjaga perhatiannya dan fokus di mangkuk minyak tersebut sehingga pikirannya tidak tersedot untuk memandang si penari terkenal itu atau tidak melirik ke kerumunan penduduk desa yang sedang berkumpul di jalanan. Kita tahu tempat keramaian ada saja orang yang mungkin menabraknya?”

Di lain kesempatan Buddha menyampaikan kisah yang membuat saya langsung melihat betapa pentingnya berlatih kesadaran atas diri sendiri untuk melindungi dan merawat diri sendiri, bukan sebaliknya yakni terjebak pada persepsi bagaimana orang lain memandang diri kita, kebiasaan pikiran yang mengakibatkan ketidakpuasan dan kecemasan. Buddha mengatakan, “Suatu ketika ada sepasang pemain akrobat. Gurunya adalah seorang duda miskin dan muridnya adalah seorang gadis kecil bernama Meda. Mereka berdua mengadakan pertunjukan di jalanan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bisa menopang kehidupan. Mereka menggunakan bambu panjang yang akan diseimbangkan oleh si guru di atas kepalanya sedangkan si gadis akan perlahan-lahan memanjat bambu tersebut hingga ke puncak. Ia akan berdiam di sana sedangkan si guru akan terus berjalan.

“Mereka berdua harus mencurahkan semua konsentrasi untuk mempertahankan kesimbangan sempurna dan mencegah agar tidak terjadi kecelakaan. Suatu hari guru itu memberikan instruksi kepada muridnya: ‘Meda, dengarkanlah, saya akan menjaga kamu dan kamu menjaga saya, sehingga kita bisa saling membantu untuk tetap menjaga konsentrasi dan keseimbangan demi menghindari kecelakaan. Dengan demikian kita akan punya cukup uang untuk makan.’ Tetapi gadis kecil itu bersikap bijak, dan ia pun menjawab, ‘Guruku, saya pikir akan lebih baik jika kita menjaga diri kita masing-masing. Menjaga diri sendiri berarti juga menjaga kita berdua.’” Buddha mengatakan bahwa gadis kecil itu benar.

Dalam sebuah keluarga, jika ada satu orang anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga akan menjadi lebih sadar. Karena kehadiran satu anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga selalu diingatkan untuk hidup dengan penuh kesadaran. Jika dalam satu kelas, ada satu orang siswa yang selalu hidup dalam kesadaran, seluruh kelas akan ikut terpengaruh.

Di komunitas pelayan perdamaian, kita harus menjalankan prinsip yang sama. Jangan cemas jika ada orang di sekitar kita yang tidak berupaya maksimal. Pikirkan cara bagaimana membuat diri sendiri agar bisa memberikan kontribusi dalam suasana itu. Melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan adalah cara terbaik untuk mengingatkan siapa saja di sekitar untuk ikut melakukan yang terbaik. Tetapi, ini membutuhkan latihan hidup berkesadaran yang dilakukan secara berkesinambungan. Ini adalah sebuah keharusan. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita tidak menderita tetapi merasakan kebahagiaan dan kedamaian sejati. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita bisa membuka pikiran dan mata cinta kasih.

Saya diundang untuk menikmati secangkir teh di sebuah apartemen tempat tinggal seorang teman yang membantu kami. Ia punya sebuah piano yang sering ia mainkan. Ketika Kirsten—yang berasal dari Belanda—menuangkan teh, saya melihat setumpuk kertas kerjanya dan berkata, “Mengapa Anda tidak berhenti menerjemahkan surat permohonan anak asuh tersebut sejenak dan memainkan piano untuk saya?” Kirsten dengan senang hati menghentikan pekerjaannya dan duduk di depan piano untuk memainkan sebuah karya Chopin yang sudah ia hafal sejak kecil. Sebuah karya musik yang lembut dan melodis tetapi juga kencang dan cepat. Anjingnya, yang sedang berbaring di bawah meja teh, mulai menyalak dan mendengking ketika alunan piano berubah menjadi enerjik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman dan ingin musik itu berhenti. Anjing Kirsten dirawat dengan penuh kebaikan dan kelembutan layaknya merawat seorang anak kecil. Ia mungkin lebih sensitif terhadap musik dibandingkan anak-anak pada umumnya. Atau, anjing itu mungkin merespon seperti itu karena telinganya menangkap sejenis getaran yang tidak tertanggap oleh telinga manusia. Kirsten terus bermain piano sambil berusaha menenangkan anjingnya, tetapi sia-sia. Kirsten akhirnya menyelesaikan lagu tersebut dan mulai memainkan Mozart yang ringan dan harmonis. Sekarang, anjing tersebut duduk dengan tenang dan kelihatannya damai. Setelah selesai, ia datang menghampiri kemudian duduk di samping saya dan berkata, “Sering kali ketika saya memainkan musik Chopin yang sedikit keras, anjing saya akan datang mendekat dan menarik celana saya, tampaknya dia mencoba untuk mengusir saya dari piano. Terkadang saya harus menyeretnya keluar sebelum saya bisa melanjutkan. Tetapi ketika saya memainkan Bach atau Mozart, ia menjadi damai.”

Kirsten menyampaikan sebuah laporan tentang orang Kanada yang menyetel musik Mozart untuk tanamannya di malam hari. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan lebih cepat dan bunga-bunga condong tumbuh menghadap sumber musik tersebut. Yang lain memainkan musik Mozart setiap hari di ladang gandum dan bisa mengukur bahwa gandum tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan di tempat lain.

Ketika Kirsten mengangkat bicara, saya langsung terbayang tentang ruang konferensi yang mana banyak orang berargumen dan berdebat, kata-kata penuh kemarahan dan kebencian silih berganti. Jika ada satu orang yang menaruh setangkai bunga dan satu pot tanaman di ruangan seperti itu, kemungkinan besar keduanya tidak akan tumbuh.

Saya memikirkan tentang taman yang dirawat oleh seorang biksu yang hidup dengan penuh kesadaran. Bunga-bunganya selalu hijau dan segar, dirawat dengan kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir dari perhatian kesadarannya. Salah satu teks kuno mengatakan,

Ketika seorang Guru Agung dilahirkan, air sungai menjadi lebih jernih, rumput menjadi lebih hijau.

Kita perlu mendengarkan musik atau duduk dan berlatih bernapas di setiap awal pertemuan atau diskusi.

Dikutip dari Keajaiban Hidup Sadar