Duduk Seperti Buddha

Duduk Seperti Buddha

Begawan Buddha, aku sungguh-sungguh ingin duduk seperti Engkau duduk, dengan postur tubuhku yang tenang, kokoh, dan kuat. Sebagai murid-Mu, aku juga ingin memiliki ketenangan-Mu. Aku telah diajarkan untuk duduk dengan punggung tegap dan relaks, kepala tegak sejajar dengan tulang punggung, tidak condong ke depan atau bersandar ke belakang, kedua bahuku relaks, dan telapak tangan satu diletakkan dengan lembut di atas telapak tangan lainnya. Aku merasa solid dan relaks dalam posisi ini.

Aku tahu bahwa kebanyakan orang terlalu sibuk dan sangat sedikit yang memiliki kesempatan untuk duduk hening dalam kebebasan batin. Aku bertekad untuk berlatih meditasi duduk sedemikian rupa sehingga aku merasakan kebahagiaan dan kebebasan saat duduk, baik ketika aku duduk dengan posisi teratai penuh (padmasana), setengah teratai, atau di kursi dengan kedua kakiku menapaki bumi.

Aku akan duduk seperti seorang yang memiliki kebebasan. Aku akan duduk sedemikian rupa sehingga tubuh dan pikiranku tenang dan damai. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan menyesuaikan postur tubuhku, membantu tubuhku menjadi tenang dan nyaman. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan mengenali dan membantu menenangkan perasaan dan emosi.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan membangkitkan kesadaran bahwa aku memiliki semua kondisi yang diperlukan untuk menyatukan tubuh dan pikiran serta untuk menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya aku akan melihat secara mendalam ke dalam persepsi dan bentuk mental (mental formation) aku lainnya ketika terbentuk. Aku akan melihat lebih mendalam ke akarnya sehingga aku dapat melihat dari mana asal dari bentuk mental itu.

Buddha, aku tidak akan melihat meditasi duduk sebagai upaya untuk membatasi tubuh dan pikiran, atau sebagai cara untuk memaksa diri sendiri untuk menjadi atau melakukan sesuatu, atau semacam usaha keras yang hanya akan membawa kebahagiaan di masa depan. Aku bertekad untuk berlatih duduk sedemikian rupa sehingga aku merawat diriku dengan kedamaian dan kegembiraan ketika sedang duduk. Banyak dari leluhurku yang tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa dari duduk dengan sadar sepenuhnya dan aku bertekad untuk duduk untuk leluhurku. Aku ingin duduk untuk ayah, ibu, saudara laki-laki, dan saudara perempuanku yang tidak berkesempatan untuk berlatih meditasi duduk.

Ketika aku dinutrisi oleh latihan meditasi duduk, semua leluhur dan kerabatku juga terawat. Setiap tarikan napas, setiap saat ketika melihat mendalam, setiap senyuman selama sesi duduk bermeditasi bisa menjadi hadiah untuk leluhurku, keturunanku, dan untuk diriku sendiri. Aku ingin selalu ingat untuk tidur lebih awal agar dapat bangun pagi ketika hari masih gelap dan berlatih meditasi duduk tanpa merasa mengantuk.

Ketika aku makan, minum teh, mendengarkan wejangan Dharma, atau berpartisipasi dalam berbagi Dharma, aku juga akan berlatih duduk dengan kokoh dan nyaman. Di bukit, di pantai, di kaki pohon, di atas batu, di ruang tamu, di bus, dalam demonstrasi menentang perang, atau dalam puasa tidak makan demi membela hak asasi manusia, aku akan juga duduk seperti ini.

Aku bertekad untuk tidak akan duduk di tempat-tempat yang aktivitasnya tidak bermanfaat, di tempat-tempat yang ada perjudian dan minum keras, di tempat-tempat yang orang-orang berkelahi, berdebat, saling menyalahkan, dan menghakimi orang lain, kecuali ketika aku memiliki tekad mendalam datang ke tempat-tempat itu untuk menyelamatkan orang.

Buddha, aku berjanji untuk duduk bagi-Mu. Duduk dengan ketenangan dan soliditas yang dalam, aku akan mewakili guru spiritualku, yang telah melahirkanku dalam kehidupan spiritual. Aku sadar jika semua orang di dunia memiliki kapasitas untuk duduk hening, maka kedamaian dan kebahagiaan pasti akan datang ke Bumi ini.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku menyentuh bumi di hadapan-Mu dan di hadapan dua saudara senior dalam Sangha-Mu, Yang Mulia Shariputra dan Yang Mulia Mahamoghalana. [Genta]

Berjalan dengan Kesadaran Penuh

Berjalan dengan Kesadaran Penuh
Jalur meditasi jalan di Upper Hamlet, PV Prancis

Begawan Buddha, aku merasakan kehangatan di hatiku setiap kali aku bercerita dan mecurahkan isi hatiku pada-Mu. Aku merasakan kehadiran-Mu di setiap sel tubuhku dan tahu jika Engkau mendengarkan dengan penuh kasih atas semua yang aku katakan. Engkau berjalan di planet Bumi ini bak orang bebas. Aku juga ingin berjalan di planet Bumi ini sebagai orang bebas.

Di sekelilingku masih ada orang yang tidak berjalan sebagai orang yang bebas. Mereka hanya tahu cara berlari. Mereka berlari ke masa depan karena berpikir bahwa kebahagiaan tidak dapat ditemukan pada saat ini. Mereka berjalan di bumi tetapi pikiran mereka di awan. Mereka berjalan seperti orang yang berjalan sambil tidur, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Aku sadar dalam diriku juga ada kebiasaan yang mengakibatkan kedamaian dan kebebasanku hilang ketika aku berjalan.

Buddha yang terkasih, aku bertekad untuk mengikuti teladan-Mu dan selalu berjalan sebagai seorang yang bebas dan sadar. Aku bertekad dalam setiap langkahku, kedua kakiku akan benar-benar menyentuh bumi dan aku akan waspada bahwa aku sedang berjalan di atas landasan realita dan bukan mimpi. Berjalan seperti itu, membuat aku terhubung dengan segala sesuatu yang indah dan menakjubkan di alam semesta. Aku bertekad untuk berjalan sedemikian rupa sehingga kakiku akan mampu mencetak jejak kebebasan dan perdamaian di bumi.

Aku tahu dalam langkah-langkah yang diayunkan seperti ini dapat menyembuhkan tubuh dan pikiranku juga planet Bumi. Ketika aku berlatih meditasi jalan di luar dengan Sangha, aku bertekad untuk mensyukuri bahwa ini berjalan bersama Sangha adalah kebahagiaan besar. Dalam setiap langkah, aku menyadari bahwa aku bukanlah setetes air, melainkan bagian dari sungai yang lebih besar. Dengan bernapas dan berjalan berkesadaran penuh, aku akan menciptakan energi kesadaran penuh dan konsentrasi yang berkontribusi pada kesadaran kolektif Sangha. Aku akan membuka tubuh dan pikiranku agar energi kolektif Sangha dapat masuk ke dalam diriku, melindungi, dan membantuku mengalir dengan lembut seperti sungai, menyelaraskan diri dengan segala sesuatu yang ada. Aku tahu bahwa dengan mempercayakan tubuh dan pikiranku, juga rasa sakit yang aku miliki kepada Sangha, semua itu berpeluang untuk dirangkul dan disembuhkan. Dengan cara ini aku akan dirawat saat aku berlatih berjalan dengan penuh perhatian bersama Sangha dan bertransformasi secara signifikan dalam tubuh dan pikiranku. Di aula meditasi aku akan membuka diri terhadap energi Sangha ketika berlatih meditasi jalan perlahan, berjalan satu langkah pada saat bernapas masuk dan satu langkah pada saat bernapas keluar. Aku berjanji untuk berjalan sedemikian rupa sehingga setiap langkah dapat menutrisiku dan Sangha dengan energi kebebasan dan soliditas.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku bersujud di hadapanmu, di hadapan Bodhisatwa Dharanimdhara, Penguasa Bumi, dan di hadapan Bodhisatwa Sadaparibhuta. [Genta]

Berjalan dalam Kebebasan

Berjalan dalam Kebebasan

Begawan Buddha, di masa lalu aku memiliki kebiasaan berjalan1 seolah-olah ada yang mengejarku. Aku ingin tiba dengan cepat dan tidak memiliki stabilitas dan kebebasan batin saat berjalan. Melalui meditasi jalan, aku telah banyak berubah. Namun, latihan meditasi jalanku masih belum kokoh dan tidak semua langkahku dilakukan dengan perhatian penuh.

Aku melihat banyak orang di sekitarku yang tidak memiliki kapasitas untuk hidup dengan gembira dan nyaman pada saat ini karena mereka belum memiliki kesempatan untuk berlatih meditasi jalan. Buddha, Engkau telah memberitahu kami bahwa hidup hanya memungkinkan pada saat ini. Aku ingin setiap langkahku mengandung energi yang solid dan kebebasan, yang membawaku kembali ke saat ini.

Aku bertekad dalam setiap langkahku akan membantuku untuk terkoneksi secara mendalam dengan kehidupan dan keajaiban hidup. Aku sadar bahwa saat ini aku masih hidup; aku masih memiliki dua kaki yang sehat, dan dapat berjalan sebagai orang yang bebas di planet Bumi ini adalah keajaiban sejati.2

Buddha yang terkasih, di masa lalu Engkau berjalan dalam kebebasan, membabarkan ajaran tentang cinta kasih dan pengertian. Ke mana pun Engkau pergi, Engkau meninggalkan jejak langkah kaki dalam kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan. Di mana pun Engkau berjalan menjadi tempat suci. Buddha, aku juga ingin menggunakan kedua kaki-Mu untuk mengayunkan langkah penuh kedamaian dan kebahagiaan di lima benua.

Saat ini Sangha Buddha hadir hampir di setiap negara, tidak hanya di Asia tetapi juga di Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, Australia, dan Oceania. Kami hadir di mana-mana dan kami bertekad untuk berlatih meditasi jalan setiap hari sehingga seluruh planet ini menjadi tempat suci.

Buddha, di masa lalu Engkau menerima Bumi ini sebagai tanah Buddha-Mu. Aku ingin melanjutkan karir-Mu, membawakan ajaran dan praktik hidup kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dan menyebarkannya kepada teman-teman di semua benua. Buddha, aku berjanji pada-Mu bahwa bersama-sama sebagai Sangha (komunitas) kami akan berlatih berjalan dengan sadar penuh ke mana pun kami pergi untuk mengungkapkan cinta, rasa hormat, dan perhatian kami pada Bumi yang berharga.

Aku tahu bahwa ketika aku melangkah dengan sadar penuh, damai, dan gembira, Tanah Suci segera terwujud; Kerajaan Allah menjadi nyata. Semua keajaiban kehidupan tersedia pada saat ini, termasuk daun yang mulai tumbuh, kerikil, sungai, tupai, suara burung, angin sepoi-sepoi, bulan, dan gemerlap bintang di langit malam. Namun, karena aku sering didorong dan ditarik ke berbagai arah saat berjalan, aku tidak selalu dapat menyentuh hal-hal kehidupan yang menakjubkan ini.

Melihat lebih dalam aku melihat bahwa tidak ada fenomena yang tidak indah: setetes embun, helai rumput, sinar matahari, awan, atau kilatan petir. Di masa lalu aku telah berkeliaran seperti seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup. Aku telah melewatkan momen saat ini dalam pencarianku akan kebahagiaan ilusi di masa depan.

Sekarang, berkat ajaran-Mu tentang berdiam dengan bahagia di saat ini (drsta dharma sukha viharin), aku mulai sadar. Benapas dan berjalan dengan sadar penuh membawaku kembali ke masa kini, dan pada saat ini aku dapat menikmati Tanah Suci Buddha, di sini dan saat ini. Aku berjanji bahwa mulai sekarang aku akan berlatih sehingga setiap langkah yang aku ambil akan membawaku kembali ke saat ini, ke kehidupan, dan ke rumahku yang sejati.

Aku bertekad bahwa setiap kali aku melangkah, aku akan menyadari napasku dan keterhubungan yang indah antara telapak kakiku dan permukaan bumi. Aku tidak akan berbicara saat aku berjalan. Jika aku perlu mengatakan sesuatu, aku harus berhenti, mencurahkan segenap hatiku pada apa yang aku katakan atau mendengarkan orang lain berbicara. Setelah aku selesai berbicara atau mendengarkan, aku akan melanjutkan perjalananku kembali dengan penuh kesadaran.

Jika orang yang berjalan denganku belum mengetahui praktik ini, aku akan berdiri dan menjelaskan padanya. Saat aku berjalan, aku akan mampu mengerahkan segenap hatiku ke dalam setiap langkah dan menumbuhkan kebahagiaan Dharma yang akan menyegarkan dan menyembuhkan tubuh dan pikiranku.

Warisan Sejati Kita3

Semesta dipenuhi dengan permata yang berharga.
Aku ingin menawarkan beberapa permata itu kepadamu pagi ini.
Setiap saat ketika kamu hidup adalah permata, bersinar terang dan mengandung bumi dan langit, air dan awan.
Kamu hanya perlu bernapas dengan lembut agar keajaiban dapat dirasakan.
Seketika itu kamu akan mendengar suara kicauan burung,
pohon pinus bernyanyi;
kamu melihat bunga bermekaran,
langit biru,
awan putih,
senyum dan penampilan menakjubkan dari orang yang kamu cintai.
Kamu, adalah orang terkaya di dunia,
yang telah berkeliling untuk mencari nafkah kehidupan,
berhentilah menjadi orang yang miskin dan melarat.
Pulanglah dan ambil harta warisan sejatimu.
Kita harus menikmati kebahagiaan kita
dan memberikannya pada semua orang.
Hargai momen ini.
Lepaskan arus penderitaan
dan rangkullah hidup sepenuhnya dalam pelukanmu.

Buddha, aku berjanji akan mengatur kehidupan sehari-hariku sehingga kapan pun aku perlu pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, aku akan berjalan dengan penuh perhatian, berapapun jarak yang harus kutempuh itu dekat atau jauh. Aku akan berjalan dengan penuh perhatian setiap kali berjalan dari kamar tidur ke kamar mandi, dari dapur ke toilet, dari lantai dasar ke lantai atas, dari pintu ke tempat parkir. Di hutan, di tepi sungai, di bandara, atau di pasar, di mana pun aku berada, aku akan berlatih meditasi jalan.

Aku bertekad untuk menciptakan dan memancarkan energi ketenangan, kebebasan, stabilitas, kedamaian, dan kegembiraan kemanapun aku pergi. Buddha, aku tahu aku hanya perlu berjalan dengan penuh perhatian dan konsentrasi sehingga aku bisa menyatu dengan Sangha-Mu yang sebenarnya.

Buddha yang terkasih, Raja Prasenajit pernah berkata bahwa setiap kali dia melihat Sangha Buddha berpergian ke suatu tempat dengan kesadaran penuh, dengan soliditas dan kebebasan, dia memiliki keyakinan yang semakin besar pada Buddha. Aku bertekad untuk melakukannya seperti Sangha Buddha yang sesungguhnya lakukan, sehingga siapa pun yang kebetulan melihat aku berjalan akan merasakan rasa hormat dan yakin pada jalan pengertian dan cinta kasih.

Menyentuh Bumi

Buddha, aku akan menyentuh bumi untuk merasakan energi-Mu, energi Bodhisattwa Dharanimdhara, Pemilik Bumi, dan Bodhisattwa Kshitigarbha, Penjaga Bumi. [Genta]

Membangun Kembali Komunikasi

Membangun Kembali Komunikasi

Begawan Buddha, karena aku telah berhasil kembali ke diri sendiri dan mengenali akar penderitaan dalam persepsiku yang sebenarnya, aku tidak lagi menyalahkan Tuhan atau manusia atas penderitaanku. Aku bisa mendengarkan penderitaan orang lain dan membantu mereka mengenali akar penderitaan yang terdapat dalam persepsinya.

Aku akan menggunakan praktik mendengarkan mendalam dan penuh kasih untuk meningkatkan kemampuanku untuk memahami dan mencintai orang lain. Aku tidak akan menyalahkan mereka. Aku tahu bahwa jika aku dapat memahami orang lain, aku akan dapat menerima dan mencintai mereka.

Kemudian aku dapat menggunakan ucapan penuh kasih untuk membantu orang lain melihat bahwa penderitaan mereka muncul dari cara mereka memandang, memahami, dan tergantung pada gagasan dan persepsi mereka.

Ketika mereka bisa melihat itu, mereka juga tidak akan lagi menyalahkan dan menyimpan kebencian terhadap orang lain. Sebaliknya, mereka akan dapat melihat bahwa ketika mereka melepaskan persepsi keliru yang mereka miliki, mereka akan bahagia dan bebas.

Buddha, aku telah melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan masalah formasi internal (internal formation) dengan latihan mendengarkan secara mendalam dan berucap dengan penuh kasih. Mereka telah berhasil melepaskan kesalahpahamannya, membangun kembali komunikasi, dan menemukan kembali kebahagiaan.

Buddha, aku menyentuh bumi tiga kali untuk membangkitkan aspirasi mendalam bahwa mulai sekarang, daripada menyalahkan dan menuduh orang lain, aku akan dengan sepenuh hati berlatih berucap penuh kasih dan mendengarkan secara mendalam untuk membangun kembali komunikasi.

Menyentuh Bumi

Bersujud kepada Buddha Konakamuni. [Genta]
Bersujud kepada Bodhisattwa Mendengarkan Secara Mendalam, Awalokiteshwara. [Genta]
Bersujud kepada Guru Agung Yang Penuh Bakti yang aku hormati, Maha Moghalana. [Genta]

Menghargai Semua Hal-hal Kecil

Menghargai Semua Hal-hal Kecil
Nomor dua dari kiri: Rohliyanah Saragih

Saya seorang muslimah. Per Juli 2019, saya sudah mengajar selama dua tahun di Sekolah Ananda. Di sekolah tersebut ada program pelatihan khusus DOM (Day of Mindfulness). Pelatihan itu adalah praktik hidup berkewawasan. Entah bagaimana, kok praktik hidup berkewawasan seperti ini malah membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya merasa bersyukur dan sadar bahwa Tuhan selalu memberikan saya napas, itulah yang saya butuhkan untuk hidup. Tanpa makanan dalam sehari saya masih bisa hidup, namun saya tidak akan bisa hidup jika tidak bernapas walau hanya 15 menit saja.

Kesadaran sepenuhnya

Mindfulness adalah momen kewawasan (kesadaran sepenuhnya) di sini dan saat ini. Latihan yang membawa atensi sepenuhnya terhadap apa pun yang sedang kita lakukan. Pertama-tama saya merasa nyaman mempraktikkan cara teknik demikian. Saya juga merasa ada energi kesabaran ketika di sekolah. Ada kekuatan kesabaran yang saya rasakan ketika harus menghadapi orang tua yang terkadang tidak puas dengan sekolah, terkadang saya pun ikut kena marah.

Ketika saya ingat mindfulness, saya jadi ingat bernapas masuk dan bernapas keluar. Saya menjadi sadar untuk tetap sabar, ketika saya membalas kemarahan dengan senyum kecil tulus di bibir, kemarahan mereka juga mulai berkurang sedikit. Selain menenangkan diri, ternyata saya menyadari lagi bahwa saya sering tidak sadar (terburu-buru) ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Sekarang saya bisa lebih santai, lebih sadar, dan bersyukur dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Praktik mindfulness di sekolah hanya diadakan sebulan sekali, walaupun demikian saya merasa memberikan pengaruh kepada kehidupan saya. Mindfulness mengajari saya berbahagia sendiri terlebih dahulu untuk bisa ikut membahagiakan orang di sekitar. Saya diajarkan untuk menyayangi tubuh sendiri, menjaga asupan-asupan makanan yang saya santap.

Salah satu praktik mindfulness adalah makan dengan hening. Saya menjadi sadar bahwa saya sering jahat dengan lambung saya, makan terburu-buru, padahal dalam Islam diajarkan untuk makan dengan perlahan, namun saya sering alpa. Saya menjadi sadar kembali bahwa perlu makan dengan sadar dan mengunyah lebih banyak lagi agar lambung tidak bekerja keras, sekaligus membantu saya memilah asupan apa saja yang pantas masuk ke dalam tubuh saya.

Saya belajar menyayangi bumi, melakukan hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya, menghemat air. Saya sering kurang sadar, makanya sering memboroskan air, saya membiarkan air keran terus mengalir. Saya ingin menjaga bumi, jika saya memboroskan air terus maka saya salah satu orang yang bersalah terhadap anak saya sendiri, mungkin nanti generasi akan datang akan kekurangan air.

Plum Village Thailand

Bersabar berbaur

Saya mengikut retret mindfulness pada bulan Juli 2019. Saya berterima kasih kepada Ibu Ani telah menggabungkan saya dengan teman-teman yang berbeda karakter. Saya menjadi tahu bagaimana kasih seorang ibu kepada anaknya. Ada satu pengalaman waktu saya shalat, ada yang mengedor-gedor pintu yang saya harus menggunakan teknik napas masuk napas keluar untuk mengatasinya. Akhirnya saya memilih untuk membatalkan shalat saya agar orang lain tidak terganggu.

Berlatih dengan Bhante Nyanabhadra selama tiga hari membuat saya sadar untuk menikmati hari ini jangan memikirkan masa lalu atau masa depan , “Mindfulness is the energy of be being aware and awake to the present moment”. Saya baru pertama kali bertatapan langsung dengan seorang bhante. Retret ini saja jadi tahu bagaimana seorang bhante yang berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada jarak di antara kami. Kami makan bersama, bahkan waktu sarapan saya melihat dengan jelas bhante mau memindahkan piring sendiri ke sebelah untuk kami. Belum lagi saya benar-benar terheran saat melihat duduk bhante yang bersila sampai berjam-jam tanpa gelisah.

Semua pelajaran yang diberikan Bhante sangat berguna. Salah satu perkataan bhante adalah “jangan membungkus seseorang“, maksudnya tidak selamanya seseorang itu salah, bisa saja saat itu orang itu memang salah, tetapi kita tidak tahu besok seseorang itu bisa berubah dan belajar dari kesalahannya.

Perkataan lain dari bhante adalah “jangan menilai seseorang dari luar“, saya pun jadi memahami bahwa selama ini saya hanya menilai dari luar tidak dari dalam. Saya juga sangat suka saat bhante membunyikan lonceng dengan kata satukan pikiran, jadi jika tadinya pemikiran sudah bercabang-cabang, saat mendengar lonceng maka saya kembali lagi hadir seutuhnya.

Menikmati kehidupan

Dengan retret ini saya akan lebih kuat lagi menghadapi orang tua murid yang marah-marah karena bhante sudah memberi metodenya dengan bibo (breathing in breathing out) dan membersihkan ruang tamu hati agar negativitas dari gudang kesadaran bisa segera tenang, dan jarang masuk ke ruang tamu pikiran.

Terima kasih Bhante telah banyak memberi ilmu dan metode untuk kehidupan ini. Terima kasih Ibu Ani, saya bisa bertemu bhante, saya menjadi lebih bersyukur dan menikmati kehidupan saya.

Ada satu lagi yang terlewat saya ceritakan, yaitu ketika sesi siram bunga, hampir rata-rata memuji saya tidak pernah marah dan selalu senyum mulai dari pagi sampai sore hehehe. Sekali lagi terima kasih untuk retret ini mudah-mudahan tahun depan bisa ada retret lagi.

ROHLIYANA SARAGIH, guru sekolah Ananda, Bagan Batu.

Bersatu dengan Alam

Bersatu dengan Alam

Oh Begawan Buddha, melihat lebih dalam pada alam ini, aku melihat ada cahaya, kehangatan dari sinar matahari yang memungkinkan segala sesuatu di bumi ini bisa tumbuh dan berkembang. Aku juga melihat bahwa sungai jernih yang mengalir di planet ini menjadi urat nadi kehidupan. Aku juga merasakan kehadiran atmosfer dan semua elemen di angkasa seperti oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan nitrogen. Tanpa atmosfer maka air, dedaunan hijau, bambu, bunga kuning, semua ini tidak mungkin ada untuk menghiasi alam yang indah ini.

Di setiap sudut alam ini aku melihat empat elemen, yaitu: tanah, air, api, dan udara. Aku sadar sepenuhnya bahwa elemen-elemen tersebut sangat erat kaitannya dengan diriku. Aku hendaknya menyentuh bumi agar bisa tetap memiliki hubungan dekat dengan bumi yang sering dianggap sebagai ibunda alam, ibu pertiwi. Sesungguhnya aku dan ibunda alam merupakan satu kesatuan. Aku adalah cahaya matahari, aku adalah sungai, aku adalah danau, aku adalah samudra, aku adalah awan di langit.

Empat elemen terkandung dalam badan jasmaniku dan elemen-elemen itu juga terkandung di seluruh alam semesta.

Aku bertekad untuk kembali lagi ke bumi ini, kembali ke Ibunda alam, serta  menjadikan bumi ini tempat berlindung. Aku merasakan bumi yang kokoh dan tegar ini dan juga kekokohan dan ketegaran yang ada dalam diriku.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi dihadapan bodhisatwa Dharanimdhara, bodhisatwa alam semesta. Aku menyentuh bumi di hadapan bodhisatwa Ksitigarbha, bodhisatwa harta karun bumi.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, engkau adalah anak dari bumi ini dan engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, engkau telah memberi semangat kepada para bodhisatwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sadharmapundarika Sutra, engkau mengundang semua bodhisatwa, ribuan dan jutaan bodhisatwa bermunculan dari bumi. Para bodhisatwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisatwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi sadar-penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi.

Bentuk Luar

Bentuk Luar

Begawan Buddha, aku merasa malu, karena aku sering berlatih tapi hanya bentuk luar saja, tanpa memperhatikan makna sesungguhnya. Ketika mempersembahkan dupa, menyentuh bumi, praktik meditasi duduk dan berjalan, membaca sutra, aku membiarkan pikiran terus mengembara ke masa lalu dan masa depan, dan aku terjebak dalam pemikiran tak bermanfaat tentang masa kini. Aku telah sering kehilangan banyak kesempatan berharga karena tidak berlatih dengan serius. Sebetulnya, ketika melangkah atau bernapas dengan penuh kewawasan, aku berkesempatan untuk membangkitkan energi kewawasan dan konsentrasi tepat. Ketika kewawasan dan konsentrasi tepat telah bangkit, maka energi pencerahan dan pengertian juga akan hadir.

Aku sangatlah beruntung karena sudah mendapatkan instruksi latihan itu. Semetara aku masih seperti orang tidak mengerti apa pun. Aku berjalan, berdiri, berbicara, dan tersenyum dalam kealpaan. Aku berjanji, Begawan Buddha, aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam setiap momen dalam kehidupan sehari-hari, aku akan membangkitkan kewawasan dan konsentrasi tepat lebih banyak lagi. Membangkitkan kewawasan dan konsentrasi bukan hanya menyembuhkan dan mentransformasikan batin dan tubuh, tetapi juga mendukung banyak anggota sangha lainnya dan akan meningkatkan kualitas praktik dari seluruh sangha.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur kepadamu, Buddha yang telah tiba di pantai seberang, yang mampu menunjukkan jalan, agar aku selalu mengingatkan janjiku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam satu kesatuan, aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada Buddha Vipasyin. [Genta]

Buddha dan Sangha Orisinal

Buddha dan Sangha Orisinal

Begawan Buddha, Aku melihat Buddha duduk bersama Sangha biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Aku seperti Raja Prasenajit, setiap kali raja melihat komunitas Sangha biksu dan biksuni, raja merasa Buddha begitu luar biasa dan energi keyakinan, respek, dan kagum tumbuh besar. Aku merasakan kehadiran Buddha dalam Sangha. Buddha telah mentransmisikan kearifan dan welas asih kepada begitu banyak orang. Begawan Buddha, semua murid-muridmu, apakah itu biksu, biksuni, upasaka, atau upasika, merupakan kelanjutan dari Buddha; sebetulnya mereka juga adalah Buddha. Aku melihat Buddha dalam metode praktik yang telah diajarkan, jika ajaran itu diterapkan dengan terampil, maka akan membawa pada transformasi dan penyembuhan. Begawan Buddha, aku bisa melihat Buddha dalam energi pengertian dan welad asih yang terwujud dalam setiap manusia, dalam karya tulisan, puisi, arsitektur, musik, dan karya seni dan bentuk budaya. Aku bisa merasakan Buddha dalam diriku, dalam benih pencerahan dan cinta kasih yang memungkinkan aku berlatih mengembangkan kearifan dan welasasih.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi agar bisa menyentuh Buddha dalam diriku, dalam Sangha, menyentuh Buddha dalam ajaran beserta praktik Dharma, juga dalam kesempatan menakjubkan yang telah Buddha ciptakan untuk kehidupan spiritualku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan Buddha Dipankara, dia yang telah memprediksi pencerahan dari guru akarku, Buddha Sakyamuni. [Genta]

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

Delapan puluh empat ribu, angka yang luar biasa banyak untuk suatu metode, kesemuanya untuk membuka Dharma-door (sengaja tidak di-Indonesiakan karena saya sangat suka mendengar bunyi kata tersebut dalam bahasa inggris). Apakah semua perlu dicoba, apakah seumur hidup ngotot mengatakan hanya metode ini terbaik atau lebih parah lagi mengatakan suatu metode salah tanpa melakukan pemeriksaan seksama? Buddha mengumpamakan segenggam daun di tangan-Nya hanyalah sedikit metode yang diajarkan-Nya dibandingkan semua daun dari 1 hutan. Namun hati-hati juga mempraktikkan metode yang benar-benar salah.

San Bu Yi Bai (三步一拜)
Ada satu e-book mampir di gadget saya, judulnya Master Empty Cloud, di sana diceritakan Biksu Xu Yun/Master Empty Cloud pada umur 43 tahun melakukan perjalanan ziarah dari Gunung Po To (Po To San) ke Gunung Five Peak Mountain sambil melakukan tiga langkah satu sujud. Beliau melakukannya karena malu setelah meninggalkan keluarga dan dua istrinya selama 20 tahun tidak juga tercerahkan (versi lain mengatakan sebagai wujud bakti untuk Ibu yang melahirkannya).

Selama perjalanannya Beliau menceritakan diselamatkan nyawanya dari dinginnya musim salju sebanyak dua kali oleh pengemis bernama Wen Ji yang belakangan dipercaya sebagai perwujudan Buddha Maitreya. Di akhir cerita, dituliskan Master meninggal dengan tenang dengan posisi tidur seperti Buddha Gautama, di bagian ini tak terasa air mata tak terbendung keluar, Saya rindu Master yang tidak pernah Saya kenal.

Penasaran dengan metode San Bu Yi Pai ini, Saya temukan referensi lain yaitu kisah dua Biksu Amerika, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalan ziarah tiga langkah satu sujud selama dua setengah tahun untuk perdamaian dunia di sepanjang pantai California dari tahun 1977 hingga 1979. Keduanya di kemudian hari menjadi guru besar universitas. Curiosity of the heart, itu katanya.

Tindakan Tidak Masuk Akal
Agama Buddha memiliki banyak ritual anggun, bagi orang-orang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai semua hal tersebut dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal, namun saat kita mengenalnya lebih mendalam kita akan melihat praktik tersebut sebagai metode untuk mengkultivasi atau menjangkarkan ilusi kita agar tersadarkan dan menjadi tercerahkan seperti halnya Buddha. Metode-metode ini membantu kita untuk mengetahui cara untuk menghindari penderitaan dan hidup bahagia.

Salah satu metode yang dikenal adalah San Bu Yi Bai, adalah ritual berjalan tiga langkah dan kemudian melakukan sujud sekali sambil menyebutkan nama Bodhisatwa atau nama Buddha, Setiap sujud adalah memberi penghormatan kepada Buddha (termasuk juga Bodhisatwa). Praktik ini untuk melepaskan tiga pikiran dan menghilangkan empat bentuk.

Tiga pikiran bahwa masa lalu sudah lewat dan tidak dapat digengam; saat ini pun akan mejadi masa lalu dan juga tidak bisa digengam, masa depan belum tersedia dan tentu saja tidak bisa pula digengam.

Empat bentuk karakteristik, setiap orang memiliki ego, ini adalah bentuk ego; ketika kita melihat seseorang, kita memunculkan bentuk pikiran bahwa ini manusia; ketika buah pikir muncul dalam pikiran kita, kita menghasilkan wujud-wujud dalam pikiran kita; kesinambungan buah pikir ini melalui waktu memunculkan bentuk waktu.

memurnikan pikiran, merendahkan ego dan mengurangi rintangan di sepanjang jalan spiritual saat seseorang menyesali perbuatan buruk masa lalu dan bercita-cita menuju perkembangan spiritual. Tubuh, ucapan dan pikiran selama melakukannya bersatu.

Mencicipi Metode Zen
Thay, panggilan akrab Thich Nhat Hanh seorang guru zen dari Vietnam mengutamakan komunitas harmonis yang tidak mengandalkan satu sosok utama.

Joy adalah kata tepat untuk mengambarkan efek dari latihan dengan metodenya. Racikan Beliau terlihat enteng dan kadang diberi label main-main, seiring waktu saya tahu, bahwa tidak ada yang mudah dalam berlatih. Ada bel yang mengingatkan saya bahwa dalam keringanannya ada latihan super berat, super serius. Maukah anda berlatih bersama Saya untuk mencicipi 1 dari 84.000 metode?

KSANTICA seorang praktisi mindfulness, anggota Ordo Interbeing Indonesia, dan volunteer retret dan Day of Mindfulness