Tiga Latihan Menyentuh Bumi

Tiga Latihan Menyentuh Bumi

Ini adalah teks lengkap panduan praktik Tiga Latihan Menyentuh Bumi yang digunakan di pusat latihan dan komunitas Tradisi Plum Village. Mempraktikkan Tiga Latihan Menyentuh Bumi memberi kesempatan kepada seorang praktisi untuk menyentuh secara mendalam realitas kesalingketerkaitan menembus batas ruang dan waktu.

Setelah berlatih dengan teks standar ini, kami menganjurkan Anda untuk menulis teks pribadi, sehingga Anda dapat mendalami Latihan ini lebih mendalam.

Untuk memulai latihan ini, kami mengundang Anda menyatukan telapak tangan di depan dada dalam bentuk kuncup lotus. Jika Anda bersama orang lain, salah satu dari Anda boleh bertugas sebagai bell master, dan mengundang lonceng serta membacakan teks untuk didengarkan oleh orang lain. Jika Anda sendirian, Anda boleh mengundang lonceng, dan membaca teks dengan suara lantang.

Kemudian, dengan perlahan turunkan tubuh ke lantai sehingga keempat anggota tubuh (kedua lengan dan kedua lutut) dan dahi beristirahat di atas lantai dengan nyaman. Saat menyentuh Bumi, buka telapak tangan menghadap ke atas, pasrahkan keterbukaan Anda kepada Tiga Permata – Buddha, Dharma, dan Sanggha. Saat menyentuh Bumi, kita menghirup semua kekuatan dan stabilitas Bumi, kemudian mengembuskan penderitaan – kemarahan, kebencian, ketakutan, dan ketidakmampuan serta perasaan duka.

Selamat berlatih.

I

Menyentuh Bumi, aku tersambungkan dengan para leluhur dan keturunan dari keluarga spiritual dan keluarga kandungku.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Para leluhur spiritualku mencakup Buddha, Bodhisattwa, Sanggha Mulia yang terdiri dari para siswa Buddha, ……………………[masukkan nama orang lain yang ingin Anda ikut sertakan], dan guru spiritualku sendiri yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Mereka hadir dalam diriku karena mereka telah mentransmisikan benih kedamaian, kebijaksanaan, cinta, dan kebahagiaan kepadaku. Mereka telah membangkitkan sumber pengertian dan kasih sayang dalam diriku. Ketika aku melihat leluhur spiritualku, aku melihat mereka yang telah sempurna dalam praktik latihan sadar penuh, pengertian, dan welas asih, dan mereka yang masih belum sempurna. Aku menerima mereka semua karena aku melihat dalam diriku juga ada kekurangan dan kelemahan. Sadar bahwa latihan sadar penuhku tidak selalu sempurna, dan bahwa aku tidak selalu memiliki pengertian dan berwelas asih seperti yang aku inginkan, aku membuka hati dan menerima semua keturunan spiritualku. Beberapa keturunanku mempraktikkan latihan sadar penuh, pengertian, dan welas asih sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa hormat, tetapi ada juga yang menghadapi banyak kesulitan dan bertubi-tubi mengalami pasang surut dalam latihannya.

Dengan cara yang sama, aku menerima semua leluhur dari keluarga pihak ibuku dan dari pihak ayahku. Aku menerima semua kualitas baik dan tindakan bajik mereka, dan aku juga menerima semua kelemahan mereka. Aku membuka hati dan menerima semua keturunanku bersama kualitas baik, talenta, dan juga kelemahan mereka.

Para leluhur spiritualku, leluhur kandung, keturunan spiritual, dan keturunan kandung, semuanya adalah bagian dari diriku. Aku adalah mereka, dan mereka adalah aku. Aku tidak memiliki diri yang terpisah. Semuanya eksis sebagai bagian dari arus kehidupan yang menakjubkan, arus terus bergerak.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]


II

Menyentuh Bumi, aku tersambungkan dengan semua orang dan semua spesies yang hidup di saat ini di dunia ini bersamaku.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Aku merupakan satu kesatuan dari pola kehidupan luar biasa yang memancar ke segala arah. Aku melihat hubungan erat antara aku dan orang lain, bagaimana kita merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang terlahir difabel atau yang menjadi cacat karena perang, kecelakaan, atau penyakit. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang terjebak dalam situasi perang atau penindasan. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang tidak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga, yang tidak memiliki akar dan pikiran yang tenang, yang lapar akan pengertian dan cinta, dan yang mencari sesuatu yang indah, bijak, dan benar untuk dirangkul dan dipercayai. Aku adalah seseorang yang berada di ambang kematian yang sangat takut dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku adalah seorang anak yang tinggal di daerah miskin dan penyakit yang mengakibatkan derita nestapa, kaki dan lengan kurus bagaikan tongkat kering dan masa depan suram. Aku juga adalah sang perakit bom yang dijual ke negara-negara miskin. Aku adalah katak yang berenang di kolam dan aku juga adalah ular yang membutuhkan tubuh katak sebagai makanan. Aku adalah ulat atau semut yang diburu oleh burung untuk dijadikan makanan, dan aku juga adalah burung yang sedang berburu ulat atau semut. Aku adalah hutan yang sedang ditebang. Aku adalah sungai dan udara yang sedang tercemar, dan aku juga adalah orang yang menebang hutan kemudian mencemari sungai dan udara. Aku melihat diriku eksis di dalam semua spesies, dan aku melihat semua spesies eksis dalam diriku.

Aku merupakan satu kesatuan dari makhluk-makhluk agung yang telah menyadari kebenaran tiada kelahiran dan tiada kematian, makhluk yang mampu melihat bentuk-bentuk kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan penderitaan, dengan mata yang tenang. Aku merupakan satu kesatuan dari orang-orang itu — yang dapat ditemukan di setiap sudut— yang memiliki cukup kedamaian pikiran, pengertian dan cinta, yang mampu menyentuh sesuatu yang indah, menutrisi, dan menyembuhkan, yang juga memiliki kapasitas untuk merangkul dunia dengan hati yang penuh cinta dan tangan yang siap membantu dan peduli. Aku adalah seseorang yang memiliki cukup kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan, seseorang yang mampu mempersembahkan keberanian dan kegembiraan kepada makhluk hidup di sekitar. Aku melihat bahwa aku tidak kesepian dan terasingkan. Cinta dan kebahagiaan dari makhluk agung di planet ini membantuku agar tidak tenggelam dalam keputusasaan. Mereka membantuku untuk melakoni hidupku dengan cara yang berarti, dengan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Aku melihat semuanya eksis di dalam diriku, dan aku melihat diriku sendiri eksis di dalam semuanya.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]


III

Menyentuh Bumi, aku melepaskan gagasanku bahwa aku adalah tubuh ini dan bahwa rentang masa hidupku adalah terbatas.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Aku melihat bahwa tubuh ini terbentuk dari empat elemen, sebenarnya bukanlah aku dan aku tidak dibatasi oleh tubuh ini. Aku adalah bagian dari arus kehidupan para leluhur spiritual dan leluhur kandung yang selama ribuan tahun telah mengalir hingga ke masa kini dan terus mengalir selama ribuan tahun ke masa depan. Aku merupakan satu kesatuan dari para leluhurku. Aku merupakan satu kesatuan dari semua orang dan semua spesies, saat mereka damai dan tidak takut, atau pun saat menderita dan takut. Pada saat ini, aku hadir di mana pun di planet ini. Aku juga hadir di masa lalu dan masa depan. Kefanaan tubuh ini tidak menyentuhku, seperti ketika bunga plum jatuh, itu tidak berarti akhir dari pohon plum. Aku melihat diriku sebagai ombak di permukaan samudra. Hakikatku adalah air samudra. Aku melihat diriku eksis dalam semua ombak lainnya dan melihat semua ombak lainnya eksis dalam diriku. Muncul dan menghilangnya bentuk dari ombak tidak mempengaruhi samudra. Tubuh Dharma dan kehidupan spiritualku tidak bergantung pada kelahiran dan kematian. Aku melihat kehadiran diriku sebelum tubuhku bermanifestasi dan setelah tubuhku hancur. Bahkan pada saat ini, aku melihat bagaimana aku eksis di tempat lain yang bukan di tubuh ini. Tujuh puluh atau delapan puluh tahun bukanlah rentang usiaku. Rentang usiaku seperti rentang usia sehelai daun atau seorang Buddha, tidak terbatas. Aku telah melampaui gagasan bahwa aku adalah tubuh yang terpisah dalam ruang dan waktu dari semua bentuk kehidupan lainnya.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]

Duduk Seperti Buddha

Duduk Seperti Buddha

Begawan Buddha, aku sungguh-sungguh ingin duduk seperti diriMu, Engkau dengan denga postur tubuh yang tenang, kokoh, dan kuat. Sebagai muridMu, aku juga ingin memiliki ketenanganMu. Aku telah diajarkan untuk duduk dengan punggung tegap dan relaks, kepala tegak sejajar dengan tulang punggung, tidak condong ke depan atau bersandar ke belakang, kedua bahuku relaks, dan telapak tangan satu diletakkan dengan lembut di atas telapak tangan lainnya. Aku merasa solid dan relaks dalam posisi ini.

Aku tahu bahwa kebanyakan orang terlalu sibuk dan sangat sedikit yang memiliki kesempatan untuk duduk hening dalam kebebasan batin. Aku bertekad untuk berlatih meditasi duduk sedemikian rupa sehingga aku merasakan kebahagiaan dan kebebasan saat duduk, baik ketika aku duduk dengan posisi teratai penuh (padmasana), setengah teratai, atau di kursi dengan kedua kakiku datar di bumi.

Aku akan duduk seperti orang bebas. Aku akan duduk sedemikian rupa sehingga tubuh dan pikiranku tenang dan damai. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan menyesuaikan postur tubuhku, membantu tubuhku menjadi tenang dan nyaman. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan mengenali dan membantu menenangkan perasaan dan emosi.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan membangkitkan kesadaran bahwa aku memiliki semua kondisi yang diperlukan untuk menyatukan tubuh dan pikiran serta untuk menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya aku akan melihat secara mendalam ke dalam persepsi dan bentukan mental lainnya ketika mereka muncul. Aku akan melihat lebih mendalam ke akarnya sehingga aku dapat melihat dari mana sumber bentukan mental itu.

Begawan Buddha, aku tidak akan melihat meditasi duduk sebagai upaya untuk membatasi tubuh dan pikiran, atau sebagai cara untuk memaksa diri sendiri untuk menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu, atau semacam usaha keras yang hanya akan membawa kebahagiaan di masa depan. Aku bertekad untuk berlatih duduk sedemikian rupa sehingga aku merawat diriku dengan kedamaian dan kegembiraan ketika sedang duduk. Banyak dari leluhurku yang tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa dari duduk dengan sadar sepenuhnya dan aku bertekad untuk duduk demi leluhurku. Aku ingin duduk untuk ayah, ibu, saudara dan saudariku yang tidak berkesempatan untuk berlatih meditasi duduk.

Ketika aku mendapat nutrisi dari latihan meditasi duduk, semua leluhur dan kerabatku juga mendapatkan manfaat. Setiap tarikan napas, setiap saat ketika melihat mendalam, setiap senyuman selama sesi duduk bermeditasi bisa menjadi kado untuk leluhurku, keturunanku, dan demi diriku sendiri. Aku ingin selalu ingat agar tidur lebih awal dan bangun lebih pagi saat langit masih gelap dan berlatih meditasi duduk tanpa merasa mengantuk.

Ketika aku makan, meminum teh, mendengarkan wejangan Dharma, atau berpartisipasi dalam berbagi Dharma, aku juga akan berlatih duduk dengan kokoh dan nyaman. Di bukit, di pantai, di kaki pohon, di atas batu, di ruang tamu, di bus, dalam demonstrasi menentang perang, atau dalam mogok makan demi membela hak asasi manusia, aku akan juga duduk seperti ini.

Aku bertekad untuk tidak akan duduk di tempat-tempat yang aktivitasnya tidak bermanfaat, di tempat-tempat yang ada perjudian dan minum keras, di tempat-tempat yang orang-orang berkelahi, berdebat, saling menyalahkan, dan menghakimi orang lain, kecuali ketika aku memiliki tekad mendalam datang ke tempat-tempat itu untuk menyelamatkan orang lain.

Buddha, aku berjanji untuk duduk untukMu. Duduk dengan ketenangan dan soliditas yang dalam, aku akan mewakili guru spiritualku, yang telah melahirkanku dalam kehidupan spiritual ini. Aku sadar jika semua orang di dunia ini memiliki kapasitas untuk duduk dengan hening, maka kedamaian dan kebahagiaan pasti akan hadir ke Bumi ini.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku menyentuh bumi di hadapanMu dan di hadapan dua saudara senior dalam SangghaMu, Yang Mulia Shariputra dan Yang Mulia Mahamaudgalyayana. [Genta]

Berjalan dengan Kesadaran Penuh

Berjalan dengan Kesadaran Penuh
Jalur meditasi jalan di Upper Hamlet, PV Prancis

Begawan Buddha, aku merasakan kehangatan di hatiku setiap kali aku bercerita dan mecurahkan isi hatiku kepadaMu. Aku merasakan kehadiranMu di setiap sel tubuhku dan tahu jika Engkau mendengarkan dengan penuh kasih atas semua yang aku katakan. Engkau berjalan di planet Bumi ini bak orang bebas. Aku juga ingin berjalan di planet Bumi ini sebagai orang bebas.

Di sekelilingku masih ada orang yang tidak berjalan sebagai orang yang bebas. Mereka hanya tahu cara berlari. Mereka berlari ke masa depan karena berpikir bahwa kebahagiaan tidak dapat ditemukan pada saat ini. Mereka berjalan di bumi tetapi pikiran mereka di awan. Mereka berjalan seperti orang yang berjalan sambil tidur, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Aku sadar dalam diriku juga ada kebiasaan yang mengakibatkan kedamaian dan kebebasanku hilang ketika aku berjalan.

Buddha yang terkasih, aku bertekad untuk mengikuti teladanMu dan selalu berjalan sebagai seorang yang bebas dan sadar. Aku bertekad dalam setiap langkahku, kedua kakiku akan benar-benar menyentuh bumi dan aku akan waspada bahwa aku sedang berjalan di atas landasan realita dan bukan mimpi. Berjalan seperti itu, membuat aku terhubung dengan segala sesuatu yang indah dan menakjubkan di alam semesta. Aku bertekad untuk berjalan sedemikian rupa sehingga kakiku akan mampu mencetak jejak kebebasan dan perdamaian di bumi.

Aku tahu dalam langkah-langkah yang diayunkan seperti ini dapat menyembuhkan tubuh dan pikiranku juga planet Bumi. Ketika aku berlatih meditasi jalan di luar dengan Sanggha, aku bertekad untuk mensyukuri bahwa ini berjalan bersama Sanggha adalah kebahagiaan besar. Dalam setiap langkah, aku menyadari bahwa aku bukanlah setetes air, melainkan bagian dari sungai yang lebih besar. Dengan bernapas dan berjalan berkesadaran penuh, aku akan menciptakan energi kesadaran penuh dan konsentrasi yang berkontribusi pada kesadaran kolektif Sanggha. Aku akan membuka tubuh dan pikiranku agar energi kolektif Sanggha dapat masuk ke dalam diriku, melindungi, dan membantuku mengalir dengan lembut seperti sungai, menyelaraskan diri dengan segala sesuatu yang ada. Aku tahu bahwa dengan mempercayakan tubuh dan pikiranku, juga rasa sakit yang aku miliki kepada Sanggha, semua itu berpeluang untuk dirangkul dan disembuhkan. Dengan cara ini aku akan dirawat saat aku berlatih berjalan dengan penuh perhatian bersama Sanggha dan bertransformasi secara signifikan dalam tubuh dan pikiranku. Di aula meditasi aku akan membuka diri terhadap energi Sanggha ketika berlatih meditasi jalan perlahan, berjalan satu langkah pada saat bernapas masuk dan satu langkah pada saat bernapas keluar. Aku berjanji untuk berjalan sedemikian rupa sehingga setiap langkah dapat menutrisiku dan Sanggha dengan energi kebebasan dan soliditas.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku bersujud di hadapanmu, di hadapan Bodhisattwa Dharanimdhara, Penguasa Bumi, dan di hadapan Bodhisattwa Sadaparibhuta. [Genta]

Berjalan dalam Kebebasan

Berjalan dalam Kebebasan

Begawan Buddha, di masa lalu aku memiliki kebiasaan berjalan1 seolah-olah ada yang mengejarku. Aku ingin segera tiba dan tidak memiliki stabilitas dan kebebasan batin saat berjalan. Melalui meditasi jalan, aku telah banyak berubah. Namun, latihan meditasi jalanku masih belum kokoh dan tidak semua langkahku dilakukan dengan perhatian penuh.

Aku melihat banyak orang di sekitarku yang tidak memiliki kapasitas untuk hidup dengan gembira dan nyaman pada saat ini karena mereka belum memiliki kesempatan untuk berlatih meditasi jalan. Buddha, Engkau telah memberitahu kami bahwa hidup hanya tersedia pada saat ini. Aku ingin setiap langkahku mengandung energi yang solid dan kebebasan, yang membawaku kembali ke saat ini.

Aku bertekad dalam setiap langkahku akan membantuku untuk terkoneksi secara mendalam dengan kehidupan dan keajaiban hidup. Aku sadar bahwa saat ini aku masih hidup; aku masih memiliki dua kaki yang sehat, dan dapat berjalan sebagai orang yang bebas di planet Bumi ini adalah keajaiban sejati.2

Buddha yang terkasih, di masa lalu Engkau berjalan dalam kebebasan, membabarkan ajaran tentang cinta kasih dan pengertian. Ke mana pun Engkau pergi, Engkau meninggalkan jejak langkah kaki kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan. Di mana pun Engkau berjalan menjadi tempat suci. Buddha, aku juga ingin menggunakan kedua kaki-Mu untuk mengayunkan langkah penuh kedamaian dan kebahagiaan di lima benua.

Saat ini Sanggha Buddha hadir hampir di setiap negara, tidak hanya di Asia tetapi juga di Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, Australia, dan Oseania. Kami hadir di mana-mana dan kami bertekad untuk berlatih meditasi jalan setiap hari sehingga seluruh planet ini menjadi tempat suci.

Buddha, di masa lalu Engkau menerima Bumi ini sebagai tanah BuddhaMu. Aku ingin melanjutkan karirMu, membawakan ajaran dan praktik hidup kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dan menyebarkannya kepada teman-teman di semua benua. Buddha, aku berjanji padaMu bahwa bersama-sama sebagai Sanggha (komunitas) kami akan berlatih berjalan dengan sadar penuh ke mana pun kami pergi untuk mengungkapkan cinta kasih, rasa hormat, dan perhatian kami kepada Bumi yang berharga ini.

Aku tahu bahwa ketika aku melangkah dengan sadar penuh, damai, dan gembira, Tanah Suci segera terwujud; Kerajaan Allah menjadi nyata. Semua keajaiban kehidupan tersedia pada saat ini, termasuk daun yang mulai tumbuh, kerikil, sungai, tupai, suara burung, angin sepoi-sepoi, bulan, dan gemerlap bintang di langit malam. Namun, karena aku sering didorong dan ditarik ke berbagai arah saat berjalan, aku tidak selalu dapat menyentuh hal-hal ajaib dalam kehidupan ini.

Melihat lebih dalam, aku melihat bahwa tidak ada fenomena yang tidak indah: setetes embun, sehelai rumput, sinar matahari, awan, atau kilatan petir. Di masa lalu aku telah berkeliaran seperti seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup. Aku telah kehilangan momen saat ini dalam pencarianku akan kebahagiaan ilusi di masa depan.

Sekarang, berkat ajaranMu tentang berdiam dengan bahagia di saat ini (drsta dharma sukha viharin), aku mulai sadar. Benapas dan berjalan dengan sadar penuh membawaku kembali ke masa kini, dan pada saat ini aku dapat menikmati Tanah Suci Buddha, di sini dan saat ini. Aku berjanji bahwa mulai sekarang aku akan berlatih sehingga setiap langkah yang aku ambil akan membawaku kembali ke saat ini, ke kehidupan, dan ke rumahku yang sejati.

Aku bertekad bahwa, setiap kali aku melangkah, aku akan menyadari napasku dan koneksi yang indah antara telapak kakiku dan permukaan bumi. Aku tidak akan berbicara saat aku berjalan. Jika aku perlu mengatakan sesuatu, aku harus berhenti, mencurahkan segenap hatiku pada apa yang aku katakan atau mendengarkan orang lain berbicara. Setelah aku selesai berbicara atau mendengarkan, aku akan melanjutkan perjalananku kembali dengan penuh kesadaran.

Jika orang yang berjalan denganku belum mengetahui praktik ini, aku akan berdiri dan menjelaskan padanya. Saat aku berjalan, aku akan mampu mengerahkan segenap hatiku ke dalam setiap langkah dan menumbuhkan kebahagiaan Dharma yang akan menyegarkan dan menyembuhkan tubuh dan pikiranku.

Warisan Sejati Kita3

Semesta dipenuhi dengan permata yang berharga.
Aku ingin mempersembahkan beberapa permata itu kepadamu pagi ini.
Setiap momen kehidupanmu adalah permata, bersinar terang dan mengandung bumi dan langit, air, dan awan.
Kamu cukup bernapas dengan lembut agar keajaiban dapat dirasakan.
Seketika itu kamu akan mendengar suara kicauan burung,
pohon pinus bernyanyi;
kamu melihat bunga bermekaran,
langit biru,
awan putih,
senyum dan penampakan menakjubkan dari orang yang kamu cintai.
Kamu adalah orang terkaya di dunia ini,
yang telah berkeliling untuk mencari nafkah kehidupan,
berhentilah menjadi orang yang miskin dan melarat.
Pulanglah dan ambil harta warisan sejatimu.
Kita harus menikmati kebahagiaan
dan memberikannya kepada semua orang.
Hargailah momen ini.
Lepaskanlah arus penderitaan
dan rangkullah hidup sepenuhnya dalam pelukanmu.

Buddha, aku berjanji akan menata kehidupan sehari-hariku sehingga kapan pun aku perlu pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, aku akan berjalan dengan penuh perhatian, berapa pun jarak yang harus kutempuh apakah dekat maupun jauh. Aku akan berjalan dengan penuh perhatian setiap kali berjalan dari kamar tidur ke kamar mandi, dari dapur ke toilet, dari lantai dasar ke lantai atas, dari pintu ke tempat parkir. Di hutan, di tepi sungai, di bandara, atau di pasar, di mana pun aku berada, aku akan berlatih meditasi jalan.

Aku bertekad untuk menciptakan dan memancarkan energi ketenangan, kebebasan, stabilitas, kedamaian, dan kegembiraan kemana pun aku pergi. Buddha, aku tahu aku hanya perlu berjalan dengan penuh perhatian dan konsentrasi sehingga aku bisa menyatu dengan SangghaMu yang sebenarnya.

Buddha yang terkasih, Raja Prasenajit pernah berkata bahwa setiap kali dia melihat Sanggha Buddha berpergian ke suatu tempat dengan kesadaran penuh, dengan soliditas dan kebebasan, dia memiliki keyakinan yang semakin besar kepada Buddha. Aku bertekad untuk melakukannya seperti Sanggha Buddha yang sesungguhnya lakukan, sehingga siapa pun yang kebetulan melihat aku berjalan akan merasakan rasa hormat dan yakin pada jalur pengertian dan cinta kasih.

Menyentuh Bumi

Buddha, aku akan menyentuh bumi untuk merasakan energi-Mu, energi Bodhisattwa Dharanimdhara, Pemilik Bumi, dan Bodhisattwa Kshitigarbha, Penjaga Bumi. [Genta]

Membangun Kembali Komunikasi

Membangun Kembali Komunikasi

Begawan Buddha, karena aku telah berhasil kembali ke diriku sendiri dan mengenali akar penderitaan dalam persepsiku yang sesungguhnya, aku tidak lagi menyalahkan Tuhan atau manusia atas penderitaanku. Aku bisa mendengarkan penderitaan orang lain dan membantu mereka mengenali akar penderitaan yang terdapat dalam persepsinya.

Aku akan menggunakan praktik mendengarkan mendalam dan penuh kasih untuk meningkatkan kemampuanku dalam memahami dan mengasihi orang lain. Aku tidak akan menyalahkan mereka. Aku tahu bahwa, jika aku dapat memahami orang lain, aku akan dapat menerima dan mengasihi mereka.

Kemudian aku dapat menggunakan ucapan penuh kasih untuk membantu orang lain melihat bahwa penderitaan mereka muncul dari cara mereka memandang, memahami, dan tergantung pada gagasan dan persepsinya.

Ketika mereka bisa melihat itu, mereka juga tidak akan lagi menyalahkan dan menyimpan kebencian terhadap orang lain. Sebaliknya, mereka akan dapat melihat bahwa ketika mereka melepaskan persepsi keliru yang mereka miliki, mereka akan bahagia dan bebas.

Buddha, aku telah melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan masalah formasi internal (internal formation) melalui latihan mendengarkan secara mendalam dan berucap penuh kasih. Mereka telah berhasil melepaskan kesalahpahamannya, membangun kembali komunikasi, dan menemukan kembali kebahagiaan.

Buddha, aku menyentuh bumi tiga kali untuk membangkitkan aspirasi mendalam bahwa mulai saat ini, daripada menyalahkan dan menuduh orang lain, aku akan dengan sepenuh hati berlatih berucap penuh kasih dan mendengarkan secara mendalam untuk membangun kembali komunikasi.

Menyentuh Bumi

Bersujud kepada Buddha Konakamuni. [Genta]
Bersujud kepada Bodhisattwa Mendengarkan Secara Mendalam, Avalokiteshvara. [Genta]
Bersujud kepada Guru Agung Yang Penuh Bakti yang aku hormati, Maha Maudgalyayana. [Genta]

Menghargai Semua Hal-hal Kecil

Menghargai Semua Hal-hal Kecil
Nomor dua dari kiri: Rohliyanah Saragih

Saya seorang muslimah. Per Juli 2019, saya sudah mengajar selama dua tahun di Sekolah Ananda. Di sekolah tersebut ada program pelatihan khusus DOM (Day of Mindfulness). Pelatihan itu adalah praktik hidup berkewawasan. Entah bagaimana, kok praktik hidup berkewawasan seperti ini malah membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya merasa bersyukur dan sadar bahwa Tuhan selalu memberikan saya napas, itulah yang saya butuhkan untuk hidup. Tanpa makanan dalam sehari saya masih bisa hidup, namun saya tidak akan bisa hidup jika tidak bernapas walau hanya 15 menit saja.

Kesadaran sepenuhnya

Mindfulness adalah momen kewawasan (kesadaran sepenuhnya) di sini dan saat ini. Latihan yang membawa atensi sepenuhnya terhadap apa pun yang sedang kita lakukan. Pertama-tama saya merasa nyaman mempraktikkan cara teknik demikian. Saya juga merasa ada energi kesabaran ketika di sekolah. Ada kekuatan kesabaran yang saya rasakan ketika harus menghadapi orang tua yang terkadang tidak puas dengan sekolah, terkadang saya pun ikut kena marah.

Ketika saya ingat mindfulness, saya jadi ingat bernapas masuk dan bernapas keluar. Saya menjadi sadar untuk tetap sabar, ketika saya membalas kemarahan dengan senyum kecil tulus di bibir, kemarahan mereka juga mulai berkurang sedikit. Selain menenangkan diri, ternyata saya menyadari lagi bahwa saya sering tidak sadar (terburu-buru) ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Sekarang saya bisa lebih santai, lebih sadar, dan bersyukur dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Praktik mindfulness di sekolah hanya diadakan sebulan sekali, walaupun demikian saya merasa memberikan pengaruh kepada kehidupan saya. Mindfulness mengajari saya berbahagia sendiri terlebih dahulu untuk bisa ikut membahagiakan orang di sekitar. Saya diajarkan untuk menyayangi tubuh sendiri, menjaga asupan-asupan makanan yang saya santap.

Salah satu praktik mindfulness adalah makan dengan hening. Saya menjadi sadar bahwa saya sering jahat dengan lambung saya, makan terburu-buru, padahal dalam Islam diajarkan untuk makan dengan perlahan, namun saya sering alpa. Saya menjadi sadar kembali bahwa perlu makan dengan sadar dan mengunyah lebih banyak lagi agar lambung tidak bekerja keras, sekaligus membantu saya memilah asupan apa saja yang pantas masuk ke dalam tubuh saya.

Saya belajar menyayangi bumi, melakukan hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya, menghemat air. Saya sering kurang sadar, makanya sering memboroskan air, saya membiarkan air keran terus mengalir. Saya ingin menjaga bumi, jika saya memboroskan air terus maka saya salah satu orang yang bersalah terhadap anak saya sendiri, mungkin nanti generasi akan datang akan kekurangan air.

Plum Village Thailand

Bersabar berbaur

Saya mengikut retret mindfulness pada bulan Juli 2019. Saya berterima kasih kepada Ibu Ani telah menggabungkan saya dengan teman-teman yang berbeda karakter. Saya menjadi tahu bagaimana kasih seorang ibu kepada anaknya. Ada satu pengalaman waktu saya shalat, ada yang mengedor-gedor pintu yang saya harus menggunakan teknik napas masuk napas keluar untuk mengatasinya. Akhirnya saya memilih untuk membatalkan shalat saya agar orang lain tidak terganggu.

Berlatih dengan Bhante Nyanabhadra selama tiga hari membuat saya sadar untuk menikmati hari ini jangan memikirkan masa lalu atau masa depan , “Mindfulness is the energy of be being aware and awake to the present moment”. Saya baru pertama kali bertatapan langsung dengan seorang bhante. Retret ini saja jadi tahu bagaimana seorang bhante yang berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada jarak di antara kami. Kami makan bersama, bahkan waktu sarapan saya melihat dengan jelas bhante mau memindahkan piring sendiri ke sebelah untuk kami. Belum lagi saya benar-benar terheran saat melihat duduk bhante yang bersila sampai berjam-jam tanpa gelisah.

Semua pelajaran yang diberikan Bhante sangat berguna. Salah satu perkataan bhante adalah “jangan membungkus seseorang“, maksudnya tidak selamanya seseorang itu salah, bisa saja saat itu orang itu memang salah, tetapi kita tidak tahu besok seseorang itu bisa berubah dan belajar dari kesalahannya.

Perkataan lain dari bhante adalah “jangan menilai seseorang dari luar“, saya pun jadi memahami bahwa selama ini saya hanya menilai dari luar tidak dari dalam. Saya juga sangat suka saat bhante membunyikan lonceng dengan kata satukan pikiran, jadi jika tadinya pemikiran sudah bercabang-cabang, saat mendengar lonceng maka saya kembali lagi hadir seutuhnya.

Menikmati kehidupan

Dengan retret ini saya akan lebih kuat lagi menghadapi orang tua murid yang marah-marah karena bhante sudah memberi metodenya dengan bibo (breathing in breathing out) dan membersihkan ruang tamu hati agar negativitas dari gudang kesadaran bisa segera tenang, dan jarang masuk ke ruang tamu pikiran.

Terima kasih Bhante telah banyak memberi ilmu dan metode untuk kehidupan ini. Terima kasih Ibu Ani, saya bisa bertemu bhante, saya menjadi lebih bersyukur dan menikmati kehidupan saya.

Ada satu lagi yang terlewat saya ceritakan, yaitu ketika sesi siram bunga, hampir rata-rata memuji saya tidak pernah marah dan selalu senyum mulai dari pagi sampai sore hehehe. Sekali lagi terima kasih untuk retret ini mudah-mudahan tahun depan bisa ada retret lagi.

ROHLIYANA SARAGIH, guru sekolah Ananda, Bagan Batu.

Bersatu dengan Alam

Bersatu dengan Alam

Oh Begawan Buddha, melihat lebih dalam pada alam ini, aku melihat ada cahaya, kehangatan dari sinar matahari yang memungkinkan segala sesuatu di bumi ini bisa tumbuh dan berkembang. Aku juga melihat bahwa sungai jernih yang mengalir di planet ini menjadi urat nadi kehidupan. Aku juga merasakan kehadiran atmosfer dan semua elemen di angkasa seperti oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan nitrogen. Tanpa atmosfer maka air, dedaunan hijau, bambu, bunga kuning, semua ini tidak mungkin ada untuk menghiasi alam yang indah ini.

Di setiap sudut alam ini aku melihat empat elemen, yaitu: tanah, air, api, dan udara. Aku sadar sepenuhnya bahwa elemen-elemen tersebut sangat erat kaitannya dengan diriku. Aku hendaknya menyentuh bumi agar bisa tetap memiliki hubungan dekat dengan bumi yang sering dianggap sebagai ibunda bumi, ibu pertiwi. Sesungguhnya aku dan ibunda bumi merupakan satu kesatuan. Aku adalah cahaya matahari, aku adalah sungai, aku adalah danau, aku adalah samudra, aku adalah awan di langit.

Empat elemen terkandung dalam badan jasmaniku dan elemen-elemen itu juga terkandung di seluruh alam semesta.

Aku bertekad untuk kembali lagi ke bumi ini, kembali ke Ibunda bumi, serta  menjadikan bumi ini tempat berlindung. Aku merasakan bumi yang kokoh dan tegar ini dan juga kekokohan dan ketegaran yang ada dalam diriku.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi dihadapan Bodhisattwa Dharanimdhara, Bodhisattwa alam semesta. Aku menyentuh bumi di hadapan Bodhisattwa Ksitigarbha, bodhisatwa harta karun bumi.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, Engkau adalah anak dari bumi ini dan Engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, Engkau telah memberi semangat kepada para bodhisattwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sutra Sadharmapundarika, Engkau mengundang semua bodhisattwa, ribuan bahkan jutaan bodhisattwa bermunculan dari bumi. Para bodhisattwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisattwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi. (Genta)

Bentuk Luar

Bentuk Luar

Begawan Buddha, aku merasa malu, karena aku sering berlatih tapi hanya bentuk luar saja, tanpa memperhatikan makna sesungguhnya. Ketika mempersembahkan dupa, menyentuh bumi, praktik meditasi duduk dan berjalan, membaca sutra, aku membiarkan pikiran terus mengembara ke masa lalu dan masa depan, dan aku terjebak dalam pemikiran tak bermanfaat tentang masa kini. Aku telah sering kehilangan banyak kesempatan berharga karena tidak berlatih dengan serius. Sebetulnya, ketika melangkah atau bernapas dengan penuh kewawasan (mindfulness), aku berkesempatan untuk membangkitkan energi kewawasan dan konsentrasi tepat. Ketika kewawasan dan konsentrasi tepat telah bangkit, maka energi pencerahan dan pengertian juga akan hadir.

Aku sangatlah beruntung karena sudah mendapatkan instruksi latihan itu. Sementara aku masih seperti orang tidak mengerti apa pun. Aku berjalan, berdiri, berbicara, dan tersenyum dalam kealpaan. Aku berjanji, Begawan Buddha, aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam setiap momen dalam kehidupan sehari-hari, aku akan membangkitkan kewawasan dan konsentrasi tepat lebih banyak lagi. Membangkitkan kewawasan dan konsentrasi bukan hanya menyembuhkan dan mentransformasikan batin dan tubuh, tetapi juga mendukung banyak anggota sanggha lainnya dan akan meningkatkan kualitas praktik dari seluruh sanggha.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur kepadaMu, Buddha yang telah tiba di pantai seberang, yang mampu menunjukkan jalan, agar aku selalu mengingatkan janjiku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam satu kesatuan, aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada Buddha Vipasyin. [Genta]

Buddha dan Sanggha Orisinal

Buddha dan Sanggha Orisinal

Begawan Buddha, Aku melihat Buddha duduk bersama Sanggha biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Aku seperti Raja Prasenajit, setiap kali raja melihat komunitas Sanggha biksu dan biksuni, raja merasa bahwa Buddha begitu luar biasa dan energi keyakinan, respek, dan kagum tumbuh besar. Aku merasakan kehadiran Buddha dalam Sanggha. Buddha telah mentransmisikan kearifan dan welas asih kepada begitu banyak orang. Begawan Buddha, semua murid-muridMu, apakah itu biksu, biksuni, upasaka, atau upasika, merupakan kelanjutan dari Buddha; sebetulnya mereka juga adalah Buddha. Aku melihat ada Buddha di dalam metode praktik yang telah diajarkan, jika ajaran itu diterapkan dengan terampil, maka akan membawa pada transformasi dan penyembuhan. Begawan Buddha, aku bisa melihat Buddha dalam energi pengertian dan welas asih yang terwujud dalam setiap manusia, dalam karya tulisan, puisi, arsitektur, musik, dan karya seni dan bentuk budaya. Aku bisa merasakan Buddha dalam diriku, dalam benih pencerahan dan cinta kasih yang memungkinkan aku berlatih mengembangkan kearifan dan welas asih.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi agar bisa menyentuh Buddha dalam diriku, dalam Sanggha, menyentuh Buddha dalam ajaran beserta praktik Dharma, juga dalam kesempatan menakjubkan yang telah Buddha ciptakan untuk kehidupan spiritualku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan Buddha Dipankara, Dia yang telah memprediksi pencerahan dari guru akarku, Buddha Sakyamuni. [Genta]