Menghargai Semua Hal-hal Kecil

Menghargai Semua Hal-hal Kecil
Nomor dua dari kiri: Rohliyanah Saragih

Saya seorang muslimah. Per Juli 2019, saya sudah mengajar selama dua tahun di Sekolah Ananda. Di sekolah tersebut ada program pelatihan khusus DOM (Day of Mindfulness). Pelatihan itu adalah praktik hidup berkewawasan. Entah bagaimana, kok praktik hidup berkewawasan seperti ini malah membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya merasa bersyukur dan sadar bahwa Tuhan selalu memberikan saya napas, itulah yang saya butuhkan untuk hidup. Tanpa makanan dalam sehari saya masih bisa hidup, namun saya tidak akan bisa hidup jika tidak bernapas walau hanya 15 menit saja.

Kesadaran sepenuhnya

Mindfulness adalah momen kewawasan (kesadaran sepenuhnya) di sini dan saat ini. Latihan yang membawa atensi sepenuhnya terhadap apa pun yang sedang kita lakukan. Pertama-tama saya merasa nyaman mempraktikkan cara teknik demikian. Saya juga merasa ada energi kesabaran ketika di sekolah. Ada kekuatan kesabaran yang saya rasakan ketika harus menghadapi orang tua yang terkadang tidak puas dengan sekolah, terkadang saya pun ikut kena marah.

Ketika saya ingat mindfulness, saya jadi ingat bernapas masuk dan bernapas keluar. Saya menjadi sadar untuk tetap sabar, ketika saya membalas kemarahan dengan senyum kecil tulus di bibir, kemarahan mereka juga mulai berkurang sedikit. Selain menenangkan diri, ternyata saya menyadari lagi bahwa saya sering tidak sadar (terburu-buru) ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Sekarang saya bisa lebih santai, lebih sadar, dan bersyukur dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

Praktik mindfulness di sekolah hanya diadakan sebulan sekali, walaupun demikian saya merasa memberikan pengaruh kepada kehidupan saya. Mindfulness mengajari saya berbahagia sendiri terlebih dahulu untuk bisa ikut membahagiakan orang di sekitar. Saya diajarkan untuk menyayangi tubuh sendiri, menjaga asupan-asupan makanan yang saya santap.

Salah satu praktik mindfulness adalah makan dengan hening. Saya menjadi sadar bahwa saya sering jahat dengan lambung saya, makan terburu-buru, padahal dalam Islam diajarkan untuk makan dengan perlahan, namun saya sering alpa. Saya menjadi sadar kembali bahwa perlu makan dengan sadar dan mengunyah lebih banyak lagi agar lambung tidak bekerja keras, sekaligus membantu saya memilah asupan apa saja yang pantas masuk ke dalam tubuh saya.

Saya belajar menyayangi bumi, melakukan hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya, menghemat air. Saya sering kurang sadar, makanya sering memboroskan air, saya membiarkan air keran terus mengalir. Saya ingin menjaga bumi, jika saya memboroskan air terus maka saya salah satu orang yang bersalah terhadap anak saya sendiri, mungkin nanti generasi akan datang akan kekurangan air.

Plum Village Thailand

Bersabar berbaur

Saya mengikut retret mindfulness pada bulan Juli 2019. Saya berterima kasih kepada Ibu Ani telah menggabungkan saya dengan teman-teman yang berbeda karakter. Saya menjadi tahu bagaimana kasih seorang ibu kepada anaknya. Ada satu pengalaman waktu saya shalat, ada yang mengedor-gedor pintu yang saya harus menggunakan teknik napas masuk napas keluar untuk mengatasinya. Akhirnya saya memilih untuk membatalkan shalat saya agar orang lain tidak terganggu.

Berlatih dengan Bhante Nyanabhadra selama tiga hari membuat saya sadar untuk menikmati hari ini jangan memikirkan masa lalu atau masa depan , “Mindfulness is the energy of be being aware and awake to the present moment”. Saya baru pertama kali bertatapan langsung dengan seorang bhante. Retret ini saja jadi tahu bagaimana seorang bhante yang berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada jarak di antara kami. Kami makan bersama, bahkan waktu sarapan saya melihat dengan jelas bhante mau memindahkan piring sendiri ke sebelah untuk kami. Belum lagi saya benar-benar terheran saat melihat duduk bhante yang bersila sampai berjam-jam tanpa gelisah.

Semua pelajaran yang diberikan Bhante sangat berguna. Salah satu perkataan bhante adalah “jangan membungkus seseorang“, maksudnya tidak selamanya seseorang itu salah, bisa saja saat itu orang itu memang salah, tetapi kita tidak tahu besok seseorang itu bisa berubah dan belajar dari kesalahannya.

Perkataan lain dari bhante adalah “jangan menilai seseorang dari luar“, saya pun jadi memahami bahwa selama ini saya hanya menilai dari luar tidak dari dalam. Saya juga sangat suka saat bhante membunyikan lonceng dengan kata satukan pikiran, jadi jika tadinya pemikiran sudah bercabang-cabang, saat mendengar lonceng maka saya kembali lagi hadir seutuhnya.

Menikmati kehidupan

Dengan retret ini saya akan lebih kuat lagi menghadapi orang tua murid yang marah-marah karena bhante sudah memberi metodenya dengan bibo (breathing in breathing out) dan membersihkan ruang tamu hati agar negativitas dari gudang kesadaran bisa segera tenang, dan jarang masuk ke ruang tamu pikiran.

Terima kasih Bhante telah banyak memberi ilmu dan metode untuk kehidupan ini. Terima kasih Ibu Ani, saya bisa bertemu bhante, saya menjadi lebih bersyukur dan menikmati kehidupan saya.

Ada satu lagi yang terlewat saya ceritakan, yaitu ketika sesi siram bunga, hampir rata-rata memuji saya tidak pernah marah dan selalu senyum mulai dari pagi sampai sore hehehe. Sekali lagi terima kasih untuk retret ini mudah-mudahan tahun depan bisa ada retret lagi.

ROHLIYANA SARAGIH, guru sekolah Ananda, Bagan Batu.

Bersatu dengan Alam

Bersatu dengan Alam

Oh Begawan Buddha, melihat lebih dalam pada alam ini, aku melihat ada cahaya, kehangatan dari sinar matahari yang memungkinkan segala sesuatu di bumi ini bisa tumbuh dan berkembang. Aku juga melihat bahwa sungai jernih yang mengalir di planet ini menjadi urat nadi kehidupan. Aku juga merasakan kehadiran atmosfer dan semua elemen di angkasa seperti oksigen, karbon dioksida, hidrogen, dan nitrogen. Tanpa atmosfer maka air, dedaunan hijau, bambu, bunga kuning, semua ini tidak mungkin ada untuk menghiasi alam yang indah ini.

Di setiap sudut alam ini aku melihat empat elemen, yaitu: tanah, air, api, dan udara. Aku sadar sepenuhnya bahwa elemen-elemen tersebut sangat erat kaitannya dengan diriku. Aku hendaknya menyentuh bumi agar bisa tetap memiliki hubungan dekat dengan bumi yang sering dianggap sebagai ibunda alam, ibu pertiwi. Sesungguhnya aku dan ibunda alam merupakan satu kesatuan. Aku adalah cahaya matahari, aku adalah sungai, aku adalah danau, aku adalah samudra, aku adalah awan di langit.

Empat elemen terkandung dalam badan jasmaniku dan elemen-elemen itu juga terkandung di seluruh alam semesta.

Aku bertekad untuk kembali lagi ke bumi ini, kembali ke Ibunda alam, serta  menjadikan bumi ini tempat berlindung. Aku merasakan bumi yang kokoh dan tegar ini dan juga kekokohan dan ketegaran yang ada dalam diriku.

Menyentuh Bumi

Aku menyentuh bumi dihadapan bodhisatwa Dharanimdhara, bodhisatwa alam semesta. Aku menyentuh bumi di hadapan bodhisatwa Ksitigarbha, bodhisatwa harta karun bumi.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, engkau adalah anak dari bumi ini dan engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, engkau telah memberi semangat kepada para bodhisatwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sadharmapundarika Sutra, engkau mengundang semua bodhisatwa, ribuan dan jutaan bodhisatwa bermunculan dari bumi. Para bodhisatwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisatwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi sadar-penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi.

Bentuk Luar

Bentuk Luar

Begawan Buddha, aku merasa malu, karena aku sering berlatih tapi hanya bentuk luar saja, tanpa memperhatikan makna sesungguhnya. Ketika mempersembahkan dupa, menyentuh bumi, praktik meditasi duduk dan berjalan, membaca sutra, aku membiarkan pikiran terus mengembara ke masa lalu dan masa depan, dan aku terjebak dalam pemikiran tak bermanfaat tentang masa kini. Aku telah sering kehilangan banyak kesempatan berharga karena tidak berlatih dengan serius. Sebetulnya, ketika melangkah atau bernapas dengan penuh kewawasan, aku berkesempatan untuk membangkitkan energi kewawasan dan konsentrasi tepat. Ketika kewawasan dan konsentrasi tepat telah bangkit, maka energi pencerahan dan pengertian juga akan hadir.

Aku sangatlah beruntung karena sudah mendapatkan instruksi latihan itu. Semetara aku masih seperti orang tidak mengerti apa pun. Aku berjalan, berdiri, berbicara, dan tersenyum dalam kealpaan. Aku berjanji, Begawan Buddha, aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam setiap momen dalam kehidupan sehari-hari, aku akan membangkitkan kewawasan dan konsentrasi tepat lebih banyak lagi. Membangkitkan kewawasan dan konsentrasi bukan hanya menyembuhkan dan mentransformasikan batin dan tubuh, tetapi juga mendukung banyak anggota sangha lainnya dan akan meningkatkan kualitas praktik dari seluruh sangha.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur kepadamu, Buddha yang telah tiba di pantai seberang, yang mampu menunjukkan jalan, agar aku selalu mengingatkan janjiku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam satu kesatuan, aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada Buddha Vipasyin. [Genta]

Buddha dan Sangha Orisinal

Buddha dan Sangha Orisinal

Begawan Buddha, Aku melihat Buddha duduk bersama Sangha biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Aku seperti Raja Prasenajit, setiap kali raja melihat komunitas Sangha biksu dan biksuni, raja merasa Buddha begitu luar biasa dan energi keyakinan, respek, dan kagum tumbuh besar. Aku merasakan kehadiran Buddha dalam Sangha. Buddha telah mentransmisikan kearifan dan welas asih kepada begitu banyak orang. Begawan Buddha, semua murid-muridmu, apakah itu biksu, biksuni, upasaka, atau upasika, merupakan kelanjutan dari Buddha; sebetulnya mereka juga adalah Buddha. Aku melihat Buddha dalam metode praktik yang telah diajarkan, jika ajaran itu diterapkan dengan terampil, maka akan membawa pada transformasi dan penyembuhan. Begawan Buddha, aku bisa melihat Buddha dalam energi pengertian dan welad asih yang terwujud dalam setiap manusia, dalam karya tulisan, puisi, arsitektur, musik, dan karya seni dan bentuk budaya. Aku bisa merasakan Buddha dalam diriku, dalam benih pencerahan dan cinta kasih yang memungkinkan aku berlatih mengembangkan kearifan dan welasasih.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi agar bisa menyentuh Buddha dalam diriku, dalam Sangha, menyentuh Buddha dalam ajaran beserta praktik Dharma, juga dalam kesempatan menakjubkan yang telah Buddha ciptakan untuk kehidupan spiritualku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan Buddha Dipankara, dia yang telah memprediksi pencerahan dari guru akarku, Buddha Sakyamuni. [Genta]

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

84.000 Metode Telah Buddha Ajarkan

Delapan puluh empat ribu, angka yang luar biasa banyak untuk suatu metode, kesemuanya untuk membuka Dharma-door (sengaja tidak di-Indonesiakan karena saya sangat suka mendengar bunyi kata tersebut dalam bahasa inggris). Apakah semua perlu dicoba, apakah seumur hidup ngotot mengatakan hanya metode ini terbaik atau lebih parah lagi mengatakan suatu metode salah tanpa melakukan pemeriksaan seksama? Buddha mengumpamakan segenggam daun di tangan-Nya hanyalah sedikit metode yang diajarkan-Nya dibandingkan semua daun dari 1 hutan. Namun hati-hati juga mempraktikkan metode yang benar-benar salah.

San Bu Yi Bai (三步一拜)
Ada satu e-book mampir di gadget saya, judulnya Master Empty Cloud, di sana diceritakan Biksu Xu Yun/Master Empty Cloud pada umur 43 tahun melakukan perjalanan ziarah dari Gunung Po To (Po To San) ke Gunung Five Peak Mountain sambil melakukan tiga langkah satu sujud. Beliau melakukannya karena malu setelah meninggalkan keluarga dan dua istrinya selama 20 tahun tidak juga tercerahkan (versi lain mengatakan sebagai wujud bakti untuk Ibu yang melahirkannya).

Selama perjalanannya Beliau menceritakan diselamatkan nyawanya dari dinginnya musim salju sebanyak dua kali oleh pengemis bernama Wen Ji yang belakangan dipercaya sebagai perwujudan Buddha Maitreya. Di akhir cerita, dituliskan Master meninggal dengan tenang dengan posisi tidur seperti Buddha Gautama, di bagian ini tak terasa air mata tak terbendung keluar, Saya rindu Master yang tidak pernah Saya kenal.

Penasaran dengan metode San Bu Yi Pai ini, Saya temukan referensi lain yaitu kisah dua Biksu Amerika, Heng Sure dan Heng Chau, melakukan perjalan ziarah tiga langkah satu sujud selama dua setengah tahun untuk perdamaian dunia di sepanjang pantai California dari tahun 1977 hingga 1979. Keduanya di kemudian hari menjadi guru besar universitas. Curiosity of the heart, itu katanya.

Tindakan Tidak Masuk Akal
Agama Buddha memiliki banyak ritual anggun, bagi orang-orang yang belum memiliki pengetahuan yang memadai semua hal tersebut dianggap sebagai tindakan tidak masuk akal, namun saat kita mengenalnya lebih mendalam kita akan melihat praktik tersebut sebagai metode untuk mengkultivasi atau menjangkarkan ilusi kita agar tersadarkan dan menjadi tercerahkan seperti halnya Buddha. Metode-metode ini membantu kita untuk mengetahui cara untuk menghindari penderitaan dan hidup bahagia.

Salah satu metode yang dikenal adalah San Bu Yi Bai, adalah ritual berjalan tiga langkah dan kemudian melakukan sujud sekali sambil menyebutkan nama Bodhisatwa atau nama Buddha, Setiap sujud adalah memberi penghormatan kepada Buddha (termasuk juga Bodhisatwa). Praktik ini untuk melepaskan tiga pikiran dan menghilangkan empat bentuk.

Tiga pikiran bahwa masa lalu sudah lewat dan tidak dapat digengam; saat ini pun akan mejadi masa lalu dan juga tidak bisa digengam, masa depan belum tersedia dan tentu saja tidak bisa pula digengam.

Empat bentuk karakteristik, setiap orang memiliki ego, ini adalah bentuk ego; ketika kita melihat seseorang, kita memunculkan bentuk pikiran bahwa ini manusia; ketika buah pikir muncul dalam pikiran kita, kita menghasilkan wujud-wujud dalam pikiran kita; kesinambungan buah pikir ini melalui waktu memunculkan bentuk waktu.

memurnikan pikiran, merendahkan ego dan mengurangi rintangan di sepanjang jalan spiritual saat seseorang menyesali perbuatan buruk masa lalu dan bercita-cita menuju perkembangan spiritual. Tubuh, ucapan dan pikiran selama melakukannya bersatu.

Mencicipi Metode Zen
Thay, panggilan akrab Thich Nhat Hanh seorang guru zen dari Vietnam mengutamakan komunitas harmonis yang tidak mengandalkan satu sosok utama.

Joy adalah kata tepat untuk mengambarkan efek dari latihan dengan metodenya. Racikan Beliau terlihat enteng dan kadang diberi label main-main, seiring waktu saya tahu, bahwa tidak ada yang mudah dalam berlatih. Ada bel yang mengingatkan saya bahwa dalam keringanannya ada latihan super berat, super serius. Maukah anda berlatih bersama Saya untuk mencicipi 1 dari 84.000 metode?

KSANTICA seorang praktisi mindfulness, anggota Ordo Interbeing Indonesia, dan volunteer retret dan Day of Mindfulness

Sayangi Bumi Bersihkan Dari Sampah

Sayangi Bumi Bersihkan Dari Sampah

Sahabat terkasih,

Melindungi bumi sudah menjadi tugas semua anak-anak bumi. Mari kita berusaha praktik hidup berkesadaran dengan menyanyangi bumi dan bersihkan bumi dari sampah-sampah yang membahayakan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bidang Pengelolaan Kebersihan 9 tips untuk mengurangi penggunaan plastik dalam keseharian, mari kita jadikan setiap hari menjadi hari peduli sampah nasional.

Simak visualgrafi berikut ini:

Doa Tahun Baru Kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Doa Tahun Baru Kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Kepada Thay yang terkasih, para leluhur yang kami muliakan, dan Ibu Pertiwi,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas pada momen penuh khidmat di tahun baru untuk mengungkapkan rasa syukur dan aspirasi mendalam kami sebagai sebuah keluarga spiritual serta untuk memulai lembaran baru.

Kami tahu bahwa para leluhur juga bersama kami pada momen ini, semua leluhur menjadi tempat kami berlindung. Ketika kami menyentuh bumi pada malam ini, kami merasa suatu hubungan yang erat dengan para leluhur, juga dengan Ibu Pertiwi: Bumi biru yang indah, bodhisattwa maha penyegaran, harum dan sejuk, baik hati dan inklusif, menerima semuanya. Ibu Pertiwi, kami semua adalah anak-anakmu, dan begitu juga kami masih memiliki kesalahan dan kekurangan, setiap kali kami pulang ke rumah, engkau selalu siap membuka dekapan untuk memeluk kami.

Thay yang kami kasihi, pada masa lalu kami telah membiarkan benih-benih kekhawatiran dan ketidakpastian tersirami berulang kali mengakibatkan begitu banyak ketakutan dalam diri kami. Kami ragu untuk berlindung pada jalan Dharma, dan bahkan kami juga meragukan keluarga spiritual ini. Kami tidak sungguh-sungguh dalam praktik. Kami telah membiarkan emosi negatif dan persepsi keliru mengambil alih diri kami, sehingga memunculkan putus asa, merasa terkucilkan, dan kesedihan.

Menyadari hal itu, kami ingin memulai lembaran baru dan mengingatkan kami akan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Ibu Pertiwi, sebagai keluarga dalam kemanusiaan, kami sering keliru dalam mencari kebahagiaan, kami membiarkan keserakahan dan materialisme memerintah. Kami sering mengejar status, kekuasaan, barang dan materi, kesenangan duniawi, lalai bahwa hal-hal demikian tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan kebebasan. Kami telah melukai Tanah tempat kami berpijak juga diri sendiri, kami mengeksploitasi gunung dan sungai, bertindak semena-mena terhadap hutan dan spesies lainnya, menyebabkan polusi atmosfir dan menyebabkan bumi ini kehilangan keseimbangan dan keindahannya.

Kami bertekad untuk menyederhanakan hidup kami, mengingat kami bahwa pada momen kekinian telah memiliki banyak kondisi untuk berbahagia. Kami berjanji untuk hidup lebih mendalam dan bersyukur, menyadari bahwa kehidupan itu sendiri adalah keajaiban. Pada tahun baru ini, kami bertekad untuk mengurangi konsumsi dan berupaya untuk hidup lebih bertanggung jawab dan swasembada untuk diri sendiri dan Ibu Pertiwi.

Wahai para leluhur, kami telah membiarkan rasa takut, fanatik dan intoleransi memicu perpecahan dalam keluarga. Kami telah menjadi penyebab penderita sesamanya, diskriminasi atas nama agama, etnik, dan warga negara. Kami telah menutup pintu hati dan menutupi semua perbatasan karena ketakutan dan ketidaktahuan. Kami telah menyebabkan peperangan, teror dan konflik antar sesama manusia, mengizinkan pergolakan militer menjadi semakin parah dalam masyarakat. Kami telah melupakan bahwa sesungguhnya kita saling berkaitan erat, dan kebahagiaan dan penderitaan kita saling bergantungan kepada kebahagiaan dan penderitaan pihak lain.

Kami yakin bahwa kami memiliki kearifan non diskriminasi dan welas asih yang luhur, itu semua telah diwariskan oleh guru spiritual dan para leluhur, juga dari Ibu Pertiwi. Kami bertekad untuk terus berada di jalan Dharma ini, tetap membuka hati, dan meletakkan keangkuhan kami, agar pengertian dan cinta kasih bisa hadir dalam hati kami.

Ketika kami menyentuh bumi, kami menyampaikan rasa syukur kepada guru terkasih kami, Thay, para leluhur kandung dan spiritual, dan Ibu Pertiwi. Kami telah menemukan jalan Dharma dan praktik dalam keluarga spiritual yang menjadi tempat kami berlindung. Kami telah memperoleh sukacita, kedamaian, dan transformasi. Kami telah mencicipi kebebasan dari melepaskan gagasan-gagasan. Kami bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dalam persaudaraan kakak dan adik, kami tahu dengan berkumpul bersama, kami bisa menghadapi berbagai tantangan dan merealisasi aspirasi kami, Kami berjanji, pada momen khidmat ini, kami ingin terus membangun keluarga, membangun komunitas dan membuka lebar jalan Dharma ini untuk diri sendiri dan generasi berikutnya.

Thay yang kami muliakan, Ibu Pertiwi, mohon terimalah permohonan yang kami haturkan, dupa, bunga, buah, teh yang semua ini menjadi sebuah bentuk kesungguhan hati, aspirasi, penghormatan, rasa syukur, dan cinta kasih kami. (Alih bahasa: Br. Phap Tu*, Penyunting: Rahka**)

*Dharmacharya dari Indonesia
**Anggota dari Ordo Interbeing Indonesia

Pendarasan

Pendarasan

1.   Persembahan Dupa

(GENTA 3x)

Harumnya dupa telah mengundang bodhicitta hadir
Bersamaku, bersamaku sesungguhnya di sini, sesungguhnya di sini
Harumnya dupa ini melindungi serta menjaga batin
Oh… harumnya dupa ini menyatukan kita semua
Dalam pelaksanaan sila samadhi prajna
Kami datang persembahkan semua
Namo bodhisattvebhyah
Namo mahasattvebhyah
(GENTA)

 

2.   Menyentuh Bumi

Gatha Pembuka

Yang bersujud dan objek sujud pada hakikatnya sunyata.
Oleh sebab itu komunikasi, terjalin sempurna apa adanya.
Pusat latihan kami adalah jaring Indra
memantulkan semua Buddha di setiap sudut.
Diriku berdiri di hadapan setiap Buddha,
Aku berlindung kepadaMu.
(GENTA)

 

Bersujud

(menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

BERSUJUD (menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

Pemimpin:
Mempersembahkan cahaya di Sepuluh Penjuru

Bersama-sama:
Buddha, Dharma, dan Sanggha,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin: 
Mengajar dan hidup melalui kesadaran-penuh
di tengah-tengah penderitaan dan kebingungan,

Bersama-sama:
Buddha Sakyamuni,
Dia yang telah sadar sepenuhnya,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Memancarkan cahaya di semua penjuru
Sumber kehidupan di dunia ini

Bersama-sama:
Mahavairocana Tathagatha,
Ayahnda matahari
Buddha cahaya dan hidup tanpa batas
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Memotong tembus ketidaktahuan,
menyadarkan hati dan pikiran kami,

Bersama-sama:
Manjusri, Bodhisattwa Pengertian Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Bekerja dengan penuh kesadaran, penuh suka cita
untuk kepentingan semua makhluk hidup,

Bersama-sama:
Samantabhadra, Bodhisattwa Tindak Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Mendengar secara mendalam,
melayani makhluk dalam cara tanpa batas,

Bersama-sama:
Awalokiteswara, Bodhisattwa Welas Asih Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Tiada ketakutan dan tekun mengarungi
alam-alam penderitaan dan kegelapan

Bersama-sama:
Ksitigarbha, Bodhisattwa Aspirasi Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Benih kesadaran dan cinta kasih
dalam anak-anak dan semua makhluk,

Bersama-sama:
Maitreya, Buddha yang akan datang,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Ibunda semua Buddha, bodhisattwa dan semua makhluk
Menopang dan menyembuhkan semuanya

Bersama-sama:
Bodhisattwa Pertiwi, Ibunda bumi
Permata indah jagad raya
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Menunjukkan jalan tanpa rasa takut,
dan penuh welas asih
Bersama-sama:
seluruh guru silsilah leluhur spiritual,
kami bersujud padamu.
(GENTA 2x)


 

3.   Gatha Pembukaan

(GENTA 3x)

Namo Sanghyang Ādi Buddhaya (3x)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā-sambuddhassa (3x)
Namo Sarva Bodhisattvāya-Mahāsattvāya (3x)
(GENTA)

Dharma begitu dalam dan indah,
Kini kami berkesempatan melihat,
mempelajari, dan mempraktikkannya.
Kami bertekad merealisasikan makna sejatinya.
(GENTA)

 

4.   Sutra Hati Prajnaparamita

Kala Bodhisattwa Awalokita,
merenungkan Pengertian Sempurna secara mendalam,
menerangi lima skandha dan menyadari itu kosong adanya.
Setelah penembusan ini, Ia berhasil mengatasi duka.
(GENTA)

Dengarlah, Sariputra,
Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud.
Wujud tiada beda dengan kekosongan.
Kekosongan tiada beda dengan wujud.
Demikian pula dengan perasaan,
Pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran.
(GENTA)

Dengarlah, Sariputra,
Semua dharma bercirikan kekosongan,
Dharma tidak diciptakan juga tidak dimusnahkan,
Tidak kotor juga tidak murni,
Tidak berkurang juga tidak bertambah.
Oleh sebab itu dalam kekosongan tiada wujud,
Tiada perasaan, tiada pencerapan,
Tiada bentuk-bentuk pikiran, tiada kesadaran;
Tiada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, ataupun pikiran;
Tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada objek, dan tiada objek pikiran;
Tiada alam berbagai elemen (dari kesadaran mata hingga kesadaran pikiran);
Tiada asal mula yang saling bergantungan serta kemusnahannya (dari ketidaktahuan sampai kematian dan pelapukan);
Tiada duka, tiada sebab duka,
Tiada akhir duka dan tiada jalan untuk mengakhiri duka;
Tiada pengertian, tiada pencapaian.
(GENTA)

Oleh karena tiada yang harus dicapai,
Para Bodhisattwa, yang dipenuhi Pengertian Sempurna,
Tidak menemukan rintangan untuk pikiran mereka.
Karena tiada rintangan, mereka mengatasi ketakutan,
Membebaskan diri mereka selamanya dari ilusi.
Dan merealisasi nirwana yang sempurna.
Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan,
Berkat Pengertian Sempurna ini,
Tiba pada pencerahan penuh, yang sempurna
dan universal.
(GENTA)

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa Pengertian Sempurna
Merupakan mantra sakti mandraguna, mantra teragung yang tiada banding,
Penghancur segala duka, kebenaran sejati yang tak tergoyahkan.
Oleh karena itu, mantra prajnaparamita sudah selayaknya diproklamasikan :

Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha. (3x)
(GENTA 2x)

4a. Sutra Hati:
Prajna Paramita

Kala Bodhisatwa Awalokiteswara
merenungkan secara mendalam
Tentang prajna paramita
Seketika itu menyadari bahwa
Pancaskandha juga kosong adanya
Setelah penyadaran ini,
Ia berhasil mengatasi semua duka

Wahai Sariputra
Tubuh ini adalah sunyata,
dan sunyata adalah tubuh ini.
Tubuh ini tiada beda dengan sunyata
dan sunyata tiada beda dengan tubuh ini
demikian juga dengan perasaan, persepsi, bentukan pikiran, dan pencerapan
(Genta)

Wahai Sariputra,
Semua fenomena bersifat sunyata
tidak lahir juga tidak mati
tidak ada juga tidak tak ada
tidak kotor juga tidak murni
Tidak berkurang juga tidak bertambah.

Oleh sebab itu dalam sunyata,
Pancaskandha tidak bisa berdiri sendiri
Delapan belas ranah fenomena
yang terdiri dari enam organ indra,
enam objek indra, dan enam pencerapan
juga tidak bisa berdiri sendiri

Dua belas mata rantai interdependen
kemunculan dan hilang lenyapnya
juga tidak bisa berdiri sendiri

duka, sebab duka,
akhir duka, dan jalan mengakhiri duka,
kearifan dan pencapaian
juga tidak bisa berdiri sendiri
(Genta)

Berkat Prajna Paramita, para bodhisatwa
Tiada lagi rintangan dalam pikirannya
Karena sudah tiada rintangan pikiran
maka tiada juga ketakutan
Hancurlah semua persepsi keliru
Terealiasi nirwana tertinggi

Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan
berkat prajna paramita
mereka mencapai pencerahan otentik dan sempurna
(Genta)

Wahai Sariputra
perlu diketahui bahwa
prajna paramita adalah mantra teragung
mantra sakti mandraguna,
mantra tertinggi
mantra yang tiada taranya
kearifan sejati berkekuatan
melenyapkan semua jenis duka
(Genta)

Marilah kita mendaraskan
mantra untuk mengagungkan
prajna paramita

Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha (3x)

 

5. Mengagungkan Nama Para Bodhisattwa

Kami mengagungkan namamu, Awalokiteswara.
Kami bercita-cita mempelajari cara mendengarmu
agar dapat membantu meringankan penderitaan di dunia.
Engkau tahu cara mendengar untuk memahami.
Kami mengagungkan namamu agar dapat berlatih mendengar
dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa disertai prasangka.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan duduk dan mendengar agar mampu memahami.
Kami akan duduk dan mendengarkan sedemikian rupa
sehingga kami dapat menyimak apa yang disampaikan orang lain
serta apa yang belum dituturkannya.
Kami tahu hanya dengan mendengarkan secara mendalam saja,
kami dapat meringankan banyak kepedihan dan penderitaan dalam diri orang lain.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Manjusri.
Kami bercita-cita mempelajari caramu,
yaitu diam tak bergeming dan melihat jauh ke dalam jantung segala sesuatu dan hati manusia secara mendalam.
Kami akan melihat dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati kami.
Kami akan melihat dengan mata polos tanpa prasangka.
Kami akan melihat tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan melihat secara mendalam sehingga kami mampu melihat dan memahami akar-akar penderitaan, ketidakkekalan, dan hakikat tanpa-diri segala sesuatu.
Kami akan berlatih caramu menggunakan pedang kebijaksanaan
untuk memotong tembus belenggu penderitaan,
sehingga membebaskan diri kami dan berbagai spesies lainnya.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Samantabhadra.
Kami bercita-cita mempraktikkan aspirasimu
untuk bertindak dengan mata dan hati yang penuh belas kasih.
Kami menyatakan bersedia dan sanggup untuk membawa suka cita kepada satu orang di pagi hari
serta meringankan penderitaan satu orang di sore hari.
Kami tahu kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan kami
dan kami siap dan bersedia mempraktikkan mudita di jalan pelayanan.
Kami tahu bahwa setiap kata, setiap tatapan, setiap tindakan, dan setiap senyuman dapat menghantarkan kebahagiaan kepada orang lain.
Kami tahu jika kami berlatih dengan sepenuh hati,
kami sendiri dapat menjadi sumber kedamaian dan suka cita yang tiada habisnya bagi orang-orang yang kami kasihi maupun semua spesies.
(GENTA 2x)

 

6. Tiga Perlindungan

Aku berlindung kepada Buddha,
yang menunjukkan kepadaku jalan dalam kehidupan ini.
Aku berlindung kepada Dharma,
jalan pengertian dan cinta kasih.
Aku berlindung kepada Sanggha,
komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan penuh kesadaran.
(GENTA)

Berada dalam perlindungan Buddha,
aku dengan jelas melihat kejernihan dan keindahan di dunia.
Berada dalam perlindungan Dharma,
aku belajar untuk membuka banyak pintu jalan transformasi.
Berada dalam perlindungan Sanggha,
cahaya menyinari yang mendukungku,
menjaga latihanku bebas dari gangguan.
(GENTA)

Berlindung kepada Buddha dalam diriku,
aku beraspirasi membantu semua orang mengenali hakikat diri sejati mereka yang sudah cerah,
untuk merealisasi Pikiran penuh Cinta.
Berlindung kepada Dharma dalam diriku,
aku beraspirasi mebantu semua orang menguasai jalan latihan dengan sempurna,
dan berjalan bersama-sama di jalan kebebasan.
Berlindung kepada Sanggha dalam diriku,
aku beraspirasi membantu semua orang membangun Empat Komunitas,
untuk merangkul semua orang dan mendukung transformasi mereka.
(GENTA 2x)

 

6a. Tisarana

Bud-dha yang mu-lia
Pe-nun-juk ja-lan ke pen-ce-ra-han
namo buddhaya

Dhar-ma yang mu-lia
a-ja-ran ka-sih bi-jak-sa-na
namo dharmaya

san-gha yang mu-lia
hi-dup ber-sa-ma da-mai dan har-mo-nis
namo sanghaya

Buddhang saranang gacchami
dharmang saranang gacchami
sanghang saranang gacchami

 

7.   Berbagi Jasa Kebajikan

Membaca sutra, mempraktikkan jalan penuh kesadaran,
memberikan manfaat tanpa batas.
Kami bersedia untuk berbagi hasil kemajuan praktik kepada semua makhluk.
Kami bersedia untuk mempersembahkan penghormatan kepada orang tua,
para guru, sahabat, serta makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya
yang telah memberikan bimbingan dan dukungan di sepanjang jalan.
(GENTA 3x)

 

7a.   Berbagi Jasa Kebajikan

Semoga jasa dan kebajikan
Memperindah Tanah Suci para Buddha
Membalas Empat Budi Besar
Dan menolong mereka di Tiga Alam Sengsara

Semoga mereka yang mendengarkan Dharma ini
Semua bertekad membangkitkan kebodhian
Sampai di akhir kehidupan ini
Bersama-sama lahir di alam bahagia.

Lima Latihan Menyentuh Bumi

Lima Latihan Menyentuh Bumi

MENYENTUH BUMI

Latihan Menyentuh Bumi adalah kembali ke bumi, ke akar kita, ke leluhur kita, dan menyadari bahwa kita tidak sendirian tapi tersambung dengan seluruh aliran spiritual dan darah leluhur. Kita adalah penerus, kelanjutan dari mereka, dan bersama mereka kita akan berlanjut ke generasi yang akan datang. Kita menyentuh bumi untuk menghalau ide bahwa kita terpisah, dan mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari kehidupan dan bumi.

Ketika menyentuh bumi, kita menjadi kecil, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan seorang anak kecil. Ketika kita menyentuh bumi, kita menjadi besar, seperti pohon purba menancapkan akarnya jauh ke dalam tanah, dan minum dari sumber semua air. Ketika kita menyentuh bumi, kita menarik napas bersama semua kekuatan dan kemantapan bumi, dan kita menghembuskan semua penderitaan kita—perasaan marah, benci, takut, ketidakmampuan, dan ratapan kita.

Kita mempertemukan kedua telapak tangan kita untuk membentuk kuntum lotus dan dengan lembut kita menundukkan diri kita ke tanah, sehingga keempat anggota tubuh dan dahi kita nyaman bertumpu pada lantai. Ketika menyentuh bumi, kita putarkan tangan kita ke atas, menunjukkan keterbukaan kita pada Tiga Permata—Buddha, Dharma, dan Sanggha. Bahkan setelah melaksanakan “Lima Jurus Menyentuh atau Tiga Jurus Menyentuh” sebanyak satu atau dua kali, kita akan dapat membuang sejumlah penderitaan dan perasaan terasing dan kita bersatu dengan leluhur, orang tua, anak, dan teman-teman.

LIMA BAGIAN MENYENTUH BUMI

I
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada semua leluhur saya dalam hubungan darah.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat ibu dan ayah saya, yang darah daging dan vitalitasnya mengalir dalam pembuluh darah dan memberi makan setiap sel dalam tubuh saya. Melalui mereka, saya melihat keempat kakek-nenek saya. Harapan-harapan, pengalaman-pengalaman, dan kebijaksanaan mereka ditransmisikan dari begitu banyak generasi leluhur. Saya membawa dalam diri saya, hidup, darah, pengalaman, kebijaksanaan, kebahagiaan, dan penderitaan semua generasi. Saya berlatih untuk mengubah penderitaan dan semua elemen yang harus diubah. Saya membuka hati, daging, dan tulang untuk menerima energi pemahaman, cinta, dan pengalaman yang ditransmisikan kepada saya oleh semua leluhur saya. Saya melihat akar saya pada ayah, ibu, kakek, nenek, dan semua leluhur saya.

Saya tahu bahwa saya hanyalah penerus, kelanjutan dari leluhur saya. Dukunglah, lindungi, dan alirkan pada saya energimu. Saya tahu di mana anak dan cucu berada, leluhur juga ada di situ. Saya tahu orang tua selalu menyayangi dan mendukung anak-anak dan cucu-cucunya, meskipun mereka tidak selalu mampu mengungkapkannya secara piawai karena kesulitan yang mereka hadapi. Saya melihat leluhur saya berusaha untuk membangun cara hidup berdasarkan rasa syukur, kegembiraan, keyakinan, hormat, dan cinta kasih. Sebagai penerus dari leluhur saya, saya membungkuk dengan dalam dan membiarkan energi mereka mengalir melalui saya. Saya mengharapkan dukungan, perlindungan, dan kekuatan leluhur saya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


II
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada semua generasi leluhur dalam keluarga spiritual saya.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat dalam diri saya, guru-guru saya, mereka yang menunjukkan pada saya jalan cinta dan pengertian, cara untuk bernapas, tersenyum, memaafkan, dan hidup sepenuhnya pada momen ini. Saya melihat melalui guru-guru saya semua guru dari banyak generasi dan tradisi, kembali pada mereka yang memulai keluarga spiritual saya ribuan tahun yang lalu. Saya melihat Buddha atau patriark laki-laki dan perempuan sebagai guru-guru saya, dan juga sebagai leluhur spiritual saya. Saya melihat energi mereka dan energi dari banyak generasi para guru memasuki diri saya dan menciptakan kedamaian, kegembiraan, pengertian, kasih sayang dalam diri saya. Saya tahu bahwa energi guru-guru ini telah banyak mengubah dunia. Tanpa Buddha dan semua leluhur spiritual, saya tidak akan tahu cara berlatih untuk menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup saya serta hidup keluarga saya dan masyarakat. Saya membuka hati dan tubuh saya untuk menerima energi pengertian, kasih sayang, dan perlindungan dari mereka yang tercerahkan, ajarannya, dan komunitas yang mempraktikkannya dari generasi ke generasi. Saya adalah penerus mereka, saya mengharapkan para leluhur spiritual saya menyalurkan kepada saya sumber energi kedamaian, kemantapan, pengertian, dan cinta yang tak terbatas. Saya berikrar untuk berlatih mengubah penderitaan saya dan dunia, dan menyalurkan energi mereka kepada para praktisi generasi yang akan datang. Leluhur spiritual saya mungkin menghadapi kesulitan mereka sendiri dan tidak selalu dapat meneruskan ajarannya, tapi saya menerima mereka apa adanya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


III
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada bumi ini dan semua leluhur yang telah menghadirkannya.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat diri saya utuh, terlindung, dan diberi makan oleh tanah ini dan semua makhluk hidup yang ada di sini dan yang membuat hidup saya mungkin dan mudah melalui usaha mereka semua. Saya melihat Ibu Kartini, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Gus Dur, dan lain-lain yang terkenal dan tidak terkenal. Saya melihat mereka semua yang telah menjadikan negara ini tempat berlindung bagi orang-orang dari beragam asal-usul dan warna kulit, dengan talenta mereka, ketekunan, dan cinta—mereka yang telah bekerja keras membangun sekolah, rumah sakit, jembatan, jalan-jalan, melindungi hak asasi manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan sosial. Saya melihat diri saya menyentuh leluhur nenek moyang bangsa Nusantara asli yang telah hidup di tanah ini untuk waktu yang lama dan tahu cara untuk hidup dalam damai dan selaras dengan alam, melindungi gunung-gunung, hutan-hutan, binatang, tumbuhan, dan mineral tanah ini. Saya merasa energi tanah ini menembus tubuh dan jiwa saya, mendukung dan menerima saya. Saya berikrar untuk mengembangkan dan memelihara energi ini dan mengalirkannya ke generasi yang akan datang. Saya berikrar untuk menyumbangkan peran saya mengubah kekerasan, kebencian, dan delusi yang masih bersemayam di kedalaman kesadaran kolektif masyarakat, sehingga generasi mendatang akan lebih menikmati keamanan, kegembiraan, dan kedamaian. Saya mengharapkan tanah ini memberi perlindungan dan dukungannya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


IV
Dengan penuh syukur dan welas asih, saya membungkuk rendah dan mengirimkan energi saya kepada mereka yang saya cintai.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Semua energi yang saya terima ingin saya kirimkan kepada ayah saya, ibu saya, dan semua orang yang saya cintai, semua yang menderita dan cemas karena saya dan demi saya. Saya tahu saya tidak cukup sadar dalam hidup sehari-hari. Saya juga tahu bahwa mereka sendiri pun yang mencintai saya menghadapi kesulitannya masing-masing. Mereka telah menderita karena mereka kurang beruntung, tidak memiliki lingkungan yang mendorong mereka berkembang penuh. Saya mengirimkan energi saya untuk ibu, ayah, saudara laki-laki dan perempuan, orang yang saya cintai, suami saya, istri saya, anak perempuan dan laki-laki saya, sehingga penderitaan mereka bisa teratasi, sehingga mereka bisa tersenyum dan merasakan kegembiraan hidup. Saya ingin mereka semua sehat dan gembira. Saya tahu bahwa kalau mereka bahagia, saya juga akan bahagia. Saya tidak lagi merasa dendam kepada siapa pun di antara mereka. Saya berdoa agar semua leluhur keluarga saya dalam pertalian darah dan spiritual memusatkan energinya kepada mereka semua, untuk melindungi dan mendukung mereka. Saya tahu bahwa saya tidak terpisah dari mereka. Saya menyatu dengan mereka yang saya cintai.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


V
Dalam pengertian dan welas asih, saya membungkuk rendah untuk mendamaikan diri saya dengan mereka yang telah membuat saya menderita.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya membuka hati dan mengirimkan energi cinta dan pengertian saya kepada siapa saja yang telah membuat saya menderita, kepada mereka yang telah merusak hidup saya dan hidup mereka yang saya cintai. Saya tahu orang-orang ini telah mengalami banyak penderitaan dan hati mereka diliputi dengan kepedihan, kemarahan, dan kebencian. Saya tahu bahwa semua orang yang menderita akan menyebabkan semua yang ada di sekitarnya juga menderita. Saya tahu mereka kurang berunutung, tidak pernah memiliki kesempatan untuk disayangi dan dicintai. Kehidupan dan masyarakat memberi mereka banyak kesulitan. Mereka telah dipersalahkan dan diperlakukan secara kejam. Mereka tidak mendapat bimbingan untuk menjalani hidup penuh kesadaran. Mereka telah mengakumulasikan persepsi yang keliru tentang hidup, tentang saya, dan tentang kita. Mereka telah menyalahkan kita dan orang-orang yang kita cintai. Saya berdoa agar leluhur keluarga saya dalam pertalian darah dan spiritual mengirimkan energi cinta dan perlindungan kepada mereka, orang-orang yang telah membuat saya menderita, sehingga hati mereka mampu menerima madu cinta dan mekar seperti bunga. Saya berdoa agar mereka dapat berubah untuk mengalami kebahagiaan hidup, sehingga mereka tidak terus menyebabkan mereka dan orang lain menderita. Saya melihat penderitaan mereka dan tidak ingin menyimpan dalam diri saya perasaan benci atau marah terhadap mereka. Saya tidak ingin mereka menderita. Saya salurkan energi cinta dan pengertian saya kepada mereka dan mengharapkan semua leluhur saya menolong mereka.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]

Meditasi Jalan

Meditasi Jalan

Meditasi sambil berjalan ini adalah praktik yang ampuh untuk hadir sepenuhnya pada saat ini setiap saat. Setiap langkah yang diambil dalam keadaan sadar-penuh membantu kita menyentuh keajaiban hidup yang memang ada di sana, dan dapat kita raih sekarang juga. Anda dapat menyelaraskan langkah sesuai dengan napas sewaktu berjalan seperti biasa di pinggir jalan, di stasiun kereta, atau di pinggir sungai—di manapun Anda berada. Sambil menarik napas, langkahkan satu kaki dan renungkan, “Aku telah tiba; aku sudah di rumah.

Aku telah tiba” itu berarti aku sudah ada di tempat yang semestinya kutuju—bertemu dengan kehidupan—dan aku tak harus bergegas ke manapun, tak perlu lagi mencari apa pun. “Aku sudah di rumah” artinya aku sudah pulang ke rumahku yang sejati, yang tak lain adalah hidup pada saat ini. Hanya momen saat inilah yang nyata; masa lalu dan masa depan hanyalah hantu-hantu yang dapat menyeret kita ke penyesalan, penderitaan, kekhawatiran, dan ketakutan. Bila setiap langkah membawa Anda kembali ke saat ini, maka hantu-hantu itu tidak lagi dapat menguasai diri Anda.

Sambil mengembuskan napas, Anda dapat mengayunkan tiga langkah dan berkata pada diri sendiri, “Aku sudah tiba; Aku sudah di rumah.

Anda sudah tiba di rumah Anda yang sejati dan menyentuh berbagai keajaiban hidup yang memang sudah tersedia; Anda tak perlu mencari-cari lagi. Anda berhenti berlari. Dalam konteks Zen, ini dinamakan meditasi samatha, yang berarti “berhenti.” Bila Anda dapat berhenti, maka kedua orang tua, kakek-nenek, dan segenap leluhur Anda juga dapat berhenti. Bila Anda dapat melangkah sebagai orang yang bebas, maka segenap leluhur Anda yang hadir di setiap sel di tubuh Anda juga dapat berjalan dengan bebas. Bila Anda berhenti berlari dan dapat melangkah dengan bebas seperti itu, Anda sedang mengungkapkan cinta kasih secara nyata dan riil, kesetiaan, serta rasa bakti kepada kedua orang tua dan kepada para leluhur.

Aku telah tiba, aku sudah di rumah
Di sini, pada saat ini.
Aku solid, aku bebas.
Dalam dimensi tertinggi aku bersemayam.

Syair meditasi ini membantu Anda sehingga bisa hadir seutuhnya pada saat ini. Resapi kata-kata ini, dan kehadiran Anda tidak akan tergoyahkan pada saat ini, sama seperti bila Anda berpegangan kuat pada susuran tangga, Anda tidak akan jatuh.

Di sini, pada saat ini” adalah alamat kehidupan. Itulah tempat kita pulang—rumah kita yang sejati—tempat kita merasa benar-benar damai, aman, dan bahagia, tempat kita dapat bersentuhan dengan para leluhur, teman-teman, dan keturunan-keturunan kita.

Manfaat praktik meditasi adalah selalu membawa kita pulang ke tempat itu. Setiap langkah membawa kita kembali menyentuh kehidupan di saat ini.

Silakan mencoba mempraktikkan meditasi berjalan perlahan dan buktikan sendiri. Sambil menarik napas, melangkahlah dan katakan, “Aku telah tiba.” Kita mesti mencurahkan 100 persen raga dan pikiran kita ke dalam pernapasan dan langkah kita, agar dapat mengatakan bahwa kita sudah tiba dan sudah berada di rumah. Bila keadaan sadar-penuh dan konsentrasi mantap, Anda dapat tiba 100 persen dan benar-benar sampai di rumah di mana pun Anda berada.

Bila Anda belum pulang 100 persen ke sini dan saat ini, jangan dulu melanjutkan langkah berikutnya!

Diam saja dulu di sana dan bernapaslah sampai Anda dapat menghentikan pikiran yang melantur, sampai Anda benar-benar 100 persen tiba di saat ini. Kemudian Anda dapat menyunggingkan senyum kemenangan, lalu melangkah lagi dengan ucapan, “Aku sudah di rumah.

Langkah-langkah yang mantap seperti itu sama seperti cap stempel kerajaan pada dekret raja. Kaki-kaki Anda mencetak, “Aku sudah tiba; Aku sudah di rumah” di Bumi ini. Berjalan dengan cara seperti ini menghasilkan energi soliditas dan kebebasan.

Semua itu akan memberi kesempatan kepada Anda untuk menyentuh berbagai keajaiban hidup. Anda mendapat santapan rohani secukupnya; terpulihkan. Saya tahu ada di antara mereka yang sudah berhasil menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan melatih meditasi berjalan sepenuh hati.

Aku solid; Aku bebas” artinya Anda tidak sedang ditarik oleh hantu-hantu dari masa lalu dan tidak diseret ke masa depan; Anda adalah tuan rumah bagi diri sendiri. Mengucapkan kalimat-kalimat itu tidak sama dengan pemikiran yang memberi sugesti pada diri sendiri atau harapan kosong semata. Bila Anda mampu bersemayam pada saat ini, Anda sungguh-sungguh memiliki keutuhan dan kebebasan. Anda bebas dari masa lalu dan masa depan, tidak gelagapan ke sana kemari seperti seorang yang sedang kesurupan. Keutuhan dan kebebasan adalah dasar kebahagiaan sejati.