Memupuk Cinta Kasih dan Pengertian

Memupuk Cinta Kasih dan Pengertian

Begawan Buddha, Engkau telah mengajarkan kepada kami untuk tidak menyesali masa lalu atau terhanyut dalam kecemasan dan ketakutan akan masa depan. Aku melihat di sekitarku banyak yang terhanyut dalam kecemasan dan ketakutannya. Kecemasan ini mencegah kami untuk berada dalam kedamaian dan hidup secara mendalam di saat ini. Aku mempunyai wewenang dan kemampuan untuk merencanakan masa depan, tetapi aku tidak perlu terhanyut dalam kecemasanku akan masa depan.

Pada kenyataannya, aku tahu bahwa masa depan terbentuk dari masa sekarang. Ketika aku hidup pada saat ini secara mendalam dan aku hanya berpikir, berucap, dan melakukan hal-hal yang dapat membawa pengertian, cinta kasih, kedamaian, keselarasan, dan kebebasan ke dalam situasi saat ini, maka aku telah melakukan seluruh hal yang mampu aku lakukan untuk membangun fondasi bagi masa depan yang cerah.

Ke mana pun arah masa depan dunia ini dan apakah keturunanku akan memiliki kesempatan untuk hidup dengan bahagia dan bebas atau tidak bergantung pada bagaimana aku hidup di saat ini. Untuk memastikan masa depan yang bahagia dan damai bagi keturunanku, aku akan berlatih hidup sederhana, memupuk hati dan pikiran yang penuh pengertian dan cinta kasih, dan hidup harmonis dengan semua orang di sekelilingku sebagai saudara dan saudari sejati dalam keluarga spiritual.

Jika aku terus mengejar kekuasaan, ketenaran, kekayaan, dan otoritas maka aku tidak punya waktu untuk hidup dengan damai dan bebas. Aku juga akan terus mengeksploitasi sumber daya yang tidak diperlukan dari planet bumi ini, merusak lingkungan dan membawa perselisihan serta kebencian di dunia. Ini bukanlah perbuatan yang positif bagi diriku, bagi lingkungan, atau generasi masa depan.

Begawan Buddha, semoga aku dapat mengabdikan hidupku untuk memupuk kesadaran jernih akan diriku sendiri dan lingkunganku dalam setiap momen agar dapat meneruskan jalan-Mu yang tercerahkan dalam melihat dan bertindak di dunia. Inilah jalan hidup yang paling mulia.

Menyentuh Bumi


Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan-Mu yang telah mencapai pengertian dan tindakan yang tercerahkan. [Genta]

Walking in Freedom

Walking in Freedom

Pagi ini kami mengadakan latihan jalan berkesadaran bersama. Kali ini kami mencari tempat baru di luar sekolah, agar ada suasana baru. Dengan keterbatasan tempat yang ada di kota ini, kami mendapatkan dua tempat, kebun di sebelah sekolah sebagai tempat berlatih mindful walking dan kebun ubi dengan hamparan ladang kelapa sawit yang luas sebagai latar belakangnya sebagai tempat meditasi berdiri. Ini cukup menyegarkan karena dapat melihat dan merasakan suasana alam kembali di tengah rutinitas kami sebagai guru.

Berikut beberapa sharing berupa puisi, cerita dan insight dari guru-guru berdasarkan pengalaman mereka dalam berlatih mindful walking pada pagi ini atau selama ini.

Masih Adakah Alasan Bagi Kita Untuk Tidak Bersyukur?

Berjalan, tak hanya sekadar menapakkan kaki di Bumi.

Berjalan adalah sebuah keajaiban yang selayaknya harus disyukuri sepanjang napas masih bersarang di raga.

Sadari betapa luar biasa bahagianya seorang ibu yang melihat bayinya mulai bisa berjalan melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya.

Bayangkan dan sadari betapa seorang astronot atau angkasawan yang pasti sangat merindukan menginjakkan kakinya di Bumi, saat ia telah berada begitu lama di angkasa luar.

Atau…

Bayangkan betapa rindunya seorang kapten kapal atau awak kapal yang bekerja di laut lepas atau seorang nelayan yang berbulan-bulan berada di tengah laut, dan tak dapat menginjak bumi.

Jadi, adakah alasan lagi bagi kita untuk tidak bersyukur atas masih dapat dengan bebas menapakkan kaki di Bumi dan melangkahkannya? (VJM)

Sepatu Bagus Tidak Akan Berguna Apabila Kita tidak Dapat Berjalan

Aku pernah menonton sebuah film tentang kehidupan seorang perempuan dan ada sebuah quote di dalamnya yang berbunyi seperti ini, “Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus”, dan aku setuju dengannya waktu itu, sebelum aku mengenal tentang meditasi berjalan. Mengapa? Karena kita biasanya memakai sepatu bagus untuk pergi ke tempat yang bagus. Semua orang melakukan itu. Kita akan bahagia memakai sepatu yang bagus karena kita tahu kita akan pergi ke suatu tempat dengannya. Dan tentu, kita merasa bahagia karena itu.

Tetapi ketika aku belajar meditasi berjalan, pikiranku langsung berubah. Meditasi berjalan mengajarkan aku bahwa ke mana pun kita pergi, kuncinya bukan pada sepatu yang dikenakan, tetapi pada kaki yang merupakan bagian dari tubuh kita. Sepatu yang bagus tidak akan ada gunanya apabila kita tidak dapat berjalan. Disadari atau tidak, tubuh kita adalah keajaiban Tuhan, sangat indah. Kita memiliki perasaan karena kita dapat merasakan semua hal. Perasaan yang kita rasakan ketika memakai sepatu bagus yang akan membawa kita ke tempat yang bagus tidaklah sebanding dengan perasaan yang muncul ketika kita hanya memakai sepasang sandal biasa dan berjalan dengan penuh kesadaran. Aku menyadari insight ini, and it’s amazing.

Meditasi jalan telah mengajarkan aku untuk membuka mata, hati dan pikiranku bahwa aku memiliki tubuh yang menakjubkan yang harus kurawat. Aku memiliki kaki yang dapat membawaku ke mana saja yang aku inginkan. Aku memiliki mata yang dapat melihat pemandangan indah. Ini bukan lagi tentang sepasang sepatu bagus yang membuatku bahagia, tetapi kebahagiaan walau hanya memakai sandal, berjalan dengan perlahan dan penuh kesadaran, yang tidak dapat digantikan oleh apapun.

Aku merasakan hal ini ketika retret di Pllum Village Thailand 2019. Aku melihat ratusan orang dengan wajah bahagia berlatih bersama meditasi berjalan pada pagi hari dengan pemandangan yang indah dan udara yang segar. Ya, aku dapat merasakan apa yang membuat mereka bahagia. Berjalan menyadari kaki melangkah, memperhatikan langkah kita perlahan menyentuh Bumi, dan menyadari kita dapat berjalan adalah kebahagiaan sesungguhnya. Aku yakin mereka juga merasakan hal yang sama waktu itu. Meditasi berjalan membawa kita pada perasaan lebih mendalam, lebih menghargai dan tentu saja, lebih bersyukur. (BAS)

Memandang Dari Sudut Pandang Yang Berbeda

Ketika kita berada di suatu tempat dalam suatu perjalanan, entah perjalanan sungguhan ataupun perjalanan hidup, ada banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya, termasuk suka duka yang kita lewati juga merupakan pembelajaran bagi kita sendiri. Saat kita berdiri sendiri, menyadari napas masuk napas keluar… saya sadar saya hidup…. meyakini bahwa kita masih hidup adalah salah satu momen wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Ada beberapa hal yang menjadi pengingat ‘momen saat ini’ tadi pagi. Ketika melihat hamparan warna hijau, yang terbayang adalah wujud kebesaran Allah SWT. Menyadari saat kita melihat, kita masih memiliki mata yang lengkap dan sempurna, saat kita mendengar dengan telinga, bernapas dengan hidung dan paru-paru yang sehat, berdiri dengan kaki yang tegak, semua kesehatan yang ada pada kita saat ini adalah berkah pemberian Allah SWT.

Melihat sebatang pohon kering, juga menjadikan pemikiran saya lebih mendalam. Terbersit beberapa pertanyaan, “Mengapa pohon itu begitu? Mungkin banyak faktor yang mempengaruhinya, entah tanahnya yang tidak subur lagi, entah mungkin memang saatnya ia menggugurkan daunnya atau mungkin memang ia sudah saatnya kering dan mati”.

Banyak hal yang bisa menyebabkan itu semua terjadi, menyadari bahwa ia adalah salah satu bukti siklus hidup di bumi ini. Bukti bahwa ia pernah hidup, pernah berada di sekitar kita, di dekat kita, bersama kita dan bahwa kita semua adalah bukti ketidakabadian dalam hidup ini. Semua itu menjadikan diri saya belajar. Belajar bersyukur, belajar untuk menerima dan melepaskan. Ikhlas, merupakan satu kata yang tepat walau tidak mudah untuk dilakukan.(ES)

Banyak Rasa Syukur Ketika Kita Menyadari Saat Ini

Masih banyak cerita lain dari guru-guru. Semua cerita bermuara pada rasa syukur atas saat ini. Ada di antara mereka yang sedang memiliki masalah, tetapi ketika berjalan menyadari setiap langkah dan menyadari momen saat ini, dapat menyegarkan dan menenangkan mereka.

“Ketika aku bernapas masuk, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Ini adalah menakjubkan bahwa aku masih dapat berjalan seperti ini.’ Dengan kesadaran itu, aku dapat menikmati setiap langkahku. Aku berkata, ‘Aku hidup!’

Mindfulness mengingatkan aku untuk memberi perhatian dan menikmati bahwa tubuhku masih hidup dan cukup kuat bagiku untuk berjalan.”

(Latihan Jalan Berkesadaranini sekaligus kami persembahkan sebagai hadiah kepada Thay Thich Nhat Hanh yang genap berusia 94 tahun pada tanggal 11 Oktober 2020. Happy Continuation Day, Thay!)

Rumini, Guru Sekolah Ananda, Bagan Batu

Berjalan dalam Kebebasan

Berjalan dalam Kebebasan

Begawan Buddha, di masa lalu aku memiliki kebiasaan berjalan1 seolah-olah ada yang mengejarku. Aku ingin segera tiba dan tidak memiliki stabilitas dan kebebasan batin saat berjalan. Melalui meditasi jalan, aku telah banyak berubah. Namun, latihan meditasi jalanku masih belum kokoh dan tidak semua langkahku dilakukan dengan perhatian penuh.

Aku melihat banyak orang di sekitarku yang tidak memiliki kapasitas untuk hidup dengan gembira dan nyaman pada saat ini karena mereka belum memiliki kesempatan untuk berlatih meditasi jalan. Buddha, Engkau telah memberitahu kami bahwa hidup hanya tersedia pada saat ini. Aku ingin setiap langkahku mengandung energi yang solid dan kebebasan, yang membawaku kembali ke saat ini.

Aku bertekad dalam setiap langkahku akan membantuku untuk terkoneksi secara mendalam dengan kehidupan dan keajaiban hidup. Aku sadar bahwa saat ini aku masih hidup; aku masih memiliki dua kaki yang sehat, dan dapat berjalan sebagai orang yang bebas di planet Bumi ini adalah keajaiban sejati.2

Buddha yang terkasih, di masa lalu Engkau berjalan dalam kebebasan, membabarkan ajaran tentang cinta kasih dan pengertian. Ke mana pun Engkau pergi, Engkau meninggalkan jejak langkah kaki kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan. Di mana pun Engkau berjalan menjadi tempat suci. Buddha, aku juga ingin menggunakan kedua kaki-Mu untuk mengayunkan langkah penuh kedamaian dan kebahagiaan di lima benua.

Saat ini Sanggha Buddha hadir hampir di setiap negara, tidak hanya di Asia tetapi juga di Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, Australia, dan Oseania. Kami hadir di mana-mana dan kami bertekad untuk berlatih meditasi jalan setiap hari sehingga seluruh planet ini menjadi tempat suci.

Buddha, di masa lalu Engkau menerima Bumi ini sebagai tanah BuddhaMu. Aku ingin melanjutkan karirMu, membawakan ajaran dan praktik hidup kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dan menyebarkannya kepada teman-teman di semua benua. Buddha, aku berjanji padaMu bahwa bersama-sama sebagai Sanggha (komunitas) kami akan berlatih berjalan dengan sadar penuh ke mana pun kami pergi untuk mengungkapkan cinta kasih, rasa hormat, dan perhatian kami kepada Bumi yang berharga ini.

Aku tahu bahwa ketika aku melangkah dengan sadar penuh, damai, dan gembira, Tanah Suci segera terwujud; Kerajaan Allah menjadi nyata. Semua keajaiban kehidupan tersedia pada saat ini, termasuk daun yang mulai tumbuh, kerikil, sungai, tupai, suara burung, angin sepoi-sepoi, bulan, dan gemerlap bintang di langit malam. Namun, karena aku sering didorong dan ditarik ke berbagai arah saat berjalan, aku tidak selalu dapat menyentuh hal-hal ajaib dalam kehidupan ini.

Melihat lebih dalam, aku melihat bahwa tidak ada fenomena yang tidak indah: setetes embun, sehelai rumput, sinar matahari, awan, atau kilatan petir. Di masa lalu aku telah berkeliaran seperti seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup. Aku telah kehilangan momen saat ini dalam pencarianku akan kebahagiaan ilusi di masa depan.

Sekarang, berkat ajaranMu tentang berdiam dengan bahagia di saat ini (drsta dharma sukha viharin), aku mulai sadar. Benapas dan berjalan dengan sadar penuh membawaku kembali ke masa kini, dan pada saat ini aku dapat menikmati Tanah Suci Buddha, di sini dan saat ini. Aku berjanji bahwa mulai sekarang aku akan berlatih sehingga setiap langkah yang aku ambil akan membawaku kembali ke saat ini, ke kehidupan, dan ke rumahku yang sejati.

Aku bertekad bahwa, setiap kali aku melangkah, aku akan menyadari napasku dan koneksi yang indah antara telapak kakiku dan permukaan bumi. Aku tidak akan berbicara saat aku berjalan. Jika aku perlu mengatakan sesuatu, aku harus berhenti, mencurahkan segenap hatiku pada apa yang aku katakan atau mendengarkan orang lain berbicara. Setelah aku selesai berbicara atau mendengarkan, aku akan melanjutkan perjalananku kembali dengan penuh kesadaran.

Jika orang yang berjalan denganku belum mengetahui praktik ini, aku akan berdiri dan menjelaskan padanya. Saat aku berjalan, aku akan mampu mengerahkan segenap hatiku ke dalam setiap langkah dan menumbuhkan kebahagiaan Dharma yang akan menyegarkan dan menyembuhkan tubuh dan pikiranku.

Warisan Sejati Kita3

Semesta dipenuhi dengan permata yang berharga.
Aku ingin mempersembahkan beberapa permata itu kepadamu pagi ini.
Setiap momen kehidupanmu adalah permata, bersinar terang dan mengandung bumi dan langit, air, dan awan.
Kamu cukup bernapas dengan lembut agar keajaiban dapat dirasakan.
Seketika itu kamu akan mendengar suara kicauan burung,
pohon pinus bernyanyi;
kamu melihat bunga bermekaran,
langit biru,
awan putih,
senyum dan penampakan menakjubkan dari orang yang kamu cintai.
Kamu adalah orang terkaya di dunia ini,
yang telah berkeliling untuk mencari nafkah kehidupan,
berhentilah menjadi orang yang miskin dan melarat.
Pulanglah dan ambil harta warisan sejatimu.
Kita harus menikmati kebahagiaan
dan memberikannya kepada semua orang.
Hargailah momen ini.
Lepaskanlah arus penderitaan
dan rangkullah hidup sepenuhnya dalam pelukanmu.

Buddha, aku berjanji akan menata kehidupan sehari-hariku sehingga kapan pun aku perlu pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki, aku akan berjalan dengan penuh perhatian, berapa pun jarak yang harus kutempuh apakah dekat maupun jauh. Aku akan berjalan dengan penuh perhatian setiap kali berjalan dari kamar tidur ke kamar mandi, dari dapur ke toilet, dari lantai dasar ke lantai atas, dari pintu ke tempat parkir. Di hutan, di tepi sungai, di bandara, atau di pasar, di mana pun aku berada, aku akan berlatih meditasi jalan.

Aku bertekad untuk menciptakan dan memancarkan energi ketenangan, kebebasan, stabilitas, kedamaian, dan kegembiraan kemana pun aku pergi. Buddha, aku tahu aku hanya perlu berjalan dengan penuh perhatian dan konsentrasi sehingga aku bisa menyatu dengan SangghaMu yang sebenarnya.

Buddha yang terkasih, Raja Prasenajit pernah berkata bahwa setiap kali dia melihat Sanggha Buddha berpergian ke suatu tempat dengan kesadaran penuh, dengan soliditas dan kebebasan, dia memiliki keyakinan yang semakin besar kepada Buddha. Aku bertekad untuk melakukannya seperti Sanggha Buddha yang sesungguhnya lakukan, sehingga siapa pun yang kebetulan melihat aku berjalan akan merasakan rasa hormat dan yakin pada jalur pengertian dan cinta kasih.

Menyentuh Bumi

Buddha, aku akan menyentuh bumi untuk merasakan energi-Mu, energi Bodhisattwa Dharanimdhara, Pemilik Bumi, dan Bodhisattwa Kshitigarbha, Penjaga Bumi. [Genta]

Kebahagiaan Dalam Setiap Napas

Kebahagiaan Dalam Setiap Napas

Sumber: Lion’s Roar

Oleh: Thich Nhat Hanh

Belajar bernapas, sumber foto kanan: Buddha Doodles

Menurut Thich Nhat Hanh, “Ketika kita berhenti memberi makan kepada benih loba, seketika itu juga kita bisa menyadari bahwa kondisi kebahagiaan sudah lengkap sebetulnya”

Pikiran manusia selalu ingin memiliki sesuatu dan tidak pernah merasa puas. Inilah penyebab bertambahnya tindakan buruk. Bodhisatwa selalu mengingat akan prinsip memiliki sedikit keinginan. Mereka hidup sederhana dalam kedamaian agar bisa mempraktikkan jalur spiritual dan menjadikan realisasi pengertian sempurna sebagai karier satu-satunya.

Sutra Delapan Realisasi Makhluk Agung

Buddha bersabda bahwa loba itu seperti seseorang memegang obor berjalan melawan hembusan angin; api akan membakar tangannya. Ketika seseorang haus lalu disuguhkan air asin, semakin banyak dia meneguk semakin haus jadinya. Jika Anda mengejar uang, berkesimpulan bahwa dengan sejumlah uang akan membuat Anda bahagia. Namun, setelah Anda mencapai target, Anda tetap saja merasa belum cukup, Anda ingin lebih banyak lagi. Ada banyak orang kaya, namun mereka tidak bahagia. Buddha memberikan analogi bahwa objek loba kita seperti tulang. Seekor anjing asyik mengerat tulang itu berulang-ulang namun tidak pernah puas.

Semua orang pernah mengalami momen kesepian, kesedihan, kekosongan, kefrustasian, atau ketakutan. Anda mengisi kekosongan perasaan itu dengan film dan roti apit (sandwich). Anda belanja demi menutupi kepedihan, keputus-asaan, kemarahan, dan depresi. Anda mencari cara untuk mengonsumsi dengan harapan mengenyahkan semua perasaan itu. Bahkan ada program TV yang tidak menarik sekalipun tetap Anda tonton. Anda berkesimpulan bahwa semua aktivitas itu lebih baik daripada mendera malaise, keadaan lesu dan serba sulit dalam dirimu. Pandanganmu sudah kabur bahkan remang-remang, tidak bisa melihat semua elemen kebahagiaan yang ada dalam dirimu.

Semua orang punya gagasan tentang kebahagiaan. Justru karena gagasan itulah Anda mengejar objek yang didambakan. Anda mengorbankan waktu, bahkan kesehatan jasmani dan rohani juga. Menurut Buddha, kebahagiaan itu sederhana, jika Anda kembali ke momen kekinian, menyadari bahwa banyak kondisi kebahagiaan sudah cukup di sini dan saat ini. Semua keajaiban hidup sudah tersedia. Inilah realisasi yang bisa membantumu melepaskan semua loba, murka, dan mara.

Semakin banyak Anda mengonsumsi, semakin banyak toksin yang menyuburkan loba, murka, dan awidya (batin gelap gulita). Anda perlu melakukan dua hal agar bisa terjaga kembali. Pertama, tataplah secara mendalam bahan nutrisi apa saja yang menyuburkan loba, cari tahu sumbernya. Semua binatang dan tumbuhan butuh makanan untuk bertahan hidup. Loba itu butuh makanan agar bisa bertahan hidup, demikian juga cinta kasih dan penderitaan. Jika loba terus membesar, itu berarti Anda menyuburkannya setiap hari. Jika Anda sudah menemukan sumber penyuburnya, Anda bisa memotongnya, kemudian loba akan mengecil.

Praktik kedua adalah berkewawasan dalam mengonsumsi. Jika Anda berhenti mengonsumsi hal-hal yang menyuburkan loba, awidya, dan persepsi keliru, Anda bisa memberikan nutrisi lain kepada dirimu. Pengertian dan welas asih bisa lahir. Sukacita pada momen kekinian juga bisa terjadi. Anda berkesempatan untuk mentransformasikan penderitaanmu.

Empat Nutrimen

Buddha pernah menjelaskan tentang empat jenis nutrisi, empat jenis makanan yang Anda santap setiap hari. Kebahagiaan dan penderiaan sangat tergantung pada jenis nutrisi yang Anda santap, apakah itu bajik atau tidak bajik.

Nutrisi Pertama: Makanan Lewat Mulut

Nutrisi jenis pertama adalah makanan lewat mulut, apa pun yang Anda masukkan ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, atau diminum. Anda tahu makanan apa saja yang menyehatkan dan tidak menyehatkan bagi badan jasmani, namun Anda sering tidak memikirkannya. Sebelum menyantap makanan, lihatlah makanan yang ada di meja, bernapas masuk dan keluar lalu bertanya apakah makanan ini akan membuat saya lebih sehat atau semakin sakit? Ketika Anda jajan di luar, contoh kudapan, makan malam pada acara tertentu, mengemil sesuatu ketika sedang kerja, maka Anda boleh berhenti sejenak dan memutuskan untuk menyantap makanan yang sehat. Inilah makan berkewawasan.

Wawas dalam menyantap makanan mulai dari belanja. Saat Anda pergi ke toko kelontongan, Anda bisa memilih jenis makanan yang menyehatkan. Anda bisa memilih memasak makanan sebagai kesempatan sebagai praktisi kewawasan. Di meja makan, Anda bisa praktik hening sejenak. Anda bisa praktik bernapas masuk dan keluar kemudian membangkitkan rasa syukur atas makanan sehat yang sudah tersedia ini.

Nutrisi Kedua: Kesan Impresi

Kesan impresi merupakan konsumsi lewat mata, telinga, hidung, badan, dan batin. Program telvisi, buku, film, musik, dan topik pembicaraan merupakan bahan konsumsi. Ada yang sehat ada juga yang toksin. Ketika Anda berbicara dengan seorang sahabat baik atau mendengarkan wejangan Dharma, maka benih welas asih, pengertian, dan sikap memaafkan akan tersirami, menjadi subur, kita menjadi lebih sehat. Lain cerita kalau iklan atau film, ini yang banyak menyirami benih-benih loba, maka Anda bisa menjadi cemas, tidak nyaman, dan sedih.

Ketika Anda menyetir mobil melewati kota, Anda juga mengonsumsi, terlepas dari Anda ingin atau tidak. Anda diserbu selama 24 jam sehari oleh kesan impresi papan reklame, radio, dan semua informasi dari lingkungan sekitar. Tanpa kewawasan, Anda menjadi rentan. Kekuatan kewawasan membuat Anda bisa lebih terjaga dalam melihat, mendengar, membau, dan menyentuh. Keterjagaan dengan kewawasan membantu Anda merubah fokus dan atensi, sehingga mendapat nutrisi positif dari segala sesuatu dari lingkungan. Langit biru, nyanyian burung, dan kehadiran para sahabat, semua ini menyuburkan benih welas asih dan sukacita.

Nutrisi Ketiga: Niat

Nutrisi ketiga adalah niat, istilah lainnya adalah aspirasi dan dorongan keinginan. Setiap manusia memiliki keinginan terdalamnya, Anda bisa dinutrisi oleh keinginan itu. Tanpa keinginan, seseorang tidak memiliki energi untuk hidup. Keinginan terdalam bisa saja bajik atau non bajik. Ketika Siddharta meninggalkan istana untuk menekuni jalur spiritual, dia memiliki keinginan kuat untuk melatih dirinya untuk mencapai pencerahan demi membantu orang lain mengurangi penderitaanya. Itu merupakah keinginan bajik, karena keinginan itu memberikannya energi untuk berlatih, mengatasi kesulitan, dan berhasil. Ada juga keinginan untuk menghukum orang lain, meraih harta, atau sukses dengan cara mengorbankan orang lain, ini merupakan keinginan non bajik yang justru membawa penderitaan kepada orang lain.

Setiap orang bisa menatap mendalam untuk mengetahui keinginan hati terdalamnya masing-masing, melihat apakah keinginan itu bajik atau tidak. Keinginan untuk mengurangi polusi atau melestarikan planet ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Namun, serakah harta, kekuasaan, seks, ketenaran, atau keinginan menghukum orang lain menuntun pada penderitaan. Keinginan seperti itu menyeret ke arah malapetaka. Jika Anda menemukan keinginan seperti itu muncul dalam dirimu, Anda perlu memberhentikannya dan menatap mendalam. Dorongan penyebab keinginan itu apa? Apakah ada perasaan sedih dan kesepian sehingga Anda mencoba untuk menutupinya?

Nutrisi keempat: Alam Penyadaran

Alam Penyadaran berarti penyadapan kolektif. Anda terkena dampak dari cara berpikir dan berpandang orang lain dalam banyak cara. Penyadaran individual terbentuk dari penyadaran kolektif, dan penyadaran kolektif terbentuk dari penyadaran individual.

Sesungguhnya, alam penyadaran kitalah yang membentuk cara hidup kita di dunia ini. Jika Anda kurang wawas dan hidup di lingkungan yang banyak orang murka, kasar, dan keji, maka lambat laun Anda juga bisa mengikuti sifat mereka. Walaupun Anda mencoba untuk membangkitkan welas asih dan kebaikan hati, itu terlalu sulit, Anda tetap terkena dampak penyadaran kolektif itu. Jika semua orang mengonsumsi hal serupa yaitu mendorong keserakahan, maka semakin sulit mempertahankan kewawasan terjaga. Hal ini terjadi pada anak-anak. Ketika anak-anak berada di lingkungan tertentu maka dia akan terkena dampak dari lingkungan itu lewat pola asuh orang tuanya.

Rata-rata dari kita tidak tinggal di lingkungan yang dominan orang yang memiliki kedamaian, welas asih, dan terbuka. Namun, kita bisa membangkitkan kewawasan agar bisa menciptakan lingkungan baik. Walaupun hanya rumah kita atau beberapa blok dari rumah kita atau komunitas kecil, kita butuh dikelilingi oleh mereka yang penuh welas asih.

Buddha menyatakan, “Jika Anda tahu bagaimana menatap mendalam atas hakikat sang keserakahan dalam dirimu dan mengetahui sumber nutrisi yang menyuburkannya, Anda sudah memulai dalam proses transformasi dan penyembuhan”. Setiap jenis penderitaan selalu disebabkan oleh satu atau lebih jenis nutrisi. Menatap mendalam atas hakikat penderitaan dalam konteks empat nutrisi bisa menuntun kita menuju jalur mengonsumsi dengan penuh kewawasan, ujungnya menuju ke jalan kebahagiaan sejati.

Kewawasan dalam Mengonsumsi

Sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha telah memberikan tuntunan yang disebut sebagai Lima Sila yang menakjubkan kepada para murid awamnya, Sila ini membantu mereka hidup damai, bajik, dan bahagia.

Saya telah menerjemahkan sila itu agar sesuai dengan zaman modern dengan sebutan Lima Latihan Kewawasan, karena kewawasan merupakan fondasi dari semua sila itu. Latihan kewawasan pertama fokus pada menghargai kehidupan; kedua yaitu kedermawanan dan penghidupan benar, ketiga yaitu cinta sejati dan tanggung jawab seksual, keempat yaitu mendengar secara mendalam dan ucapan jujur.

Latihan kewawasan kelima fokus pada kesehatan dan penyembuhan lewat kewawasan dalam mengonsumsi, “Menyadari bahwa kebahagiaan sejati berakar dalam kedamaian, soliditas, kebebasan, dan welas asih, dan bukan dalam kekayaan atau ketenaran, saya bertekad untuk tidak menjadikan ketenaran, profit, kekayaan, dan kenikmatan sensual sebagai tujuan hidup, saya juga tidak akan mengumpulkan kekayaan sementara jutaan orang sedang lapar dan sekarat. Saya berkomitmen untuk hidup sederhana dan berbagi waktu, energi, dan sumber materi kepada mereka yang membutuhkannya. Saya akan mempraktikkan berkewawasan dalam mengonsumsi, tidak meneguk alkohol, narkoba atau semua produk yang memasukkan toksin kepada penyadaran kolektif maupuan individual.”

Anda bisa memutuskan untuk mempraktikkan latihan kewawasan itu dan tidak mengonsumsi apa pun yang bisa membawa masuk toksin ke dalam badan dan batin. Berkewawasan dalam mengonsumsi merupakan solusi bagi mengurangi keserakahan, bukan hanya untuk diri sendiri juga untuk semua orang, juga dunia ini. Salah satu cara berkelanjutan bagi umat manusia agar bisa terus mengurangi bahan konsumsi dan memiliki sikap berkecukupan dan tidak memiliki banyak barang. Apabila Anda bisa hidup sederhana dan bahagia, Anda sedang berada dalam posisi baik untuk membantu orang lain. Anda punya waktu dan energi lebih untuk dibagikan kepada orang lain.

Berkewawasan dalam mengonsumsi berarti menatap mendalam atas keinginan untuk mengonsumsi ketika keinginan itu muncul, pertahankan kekuatan kewawasan atas keinginan itu sampai Anda menghasilkan wawasan mendalam atas sumber akar keinginan itu. Ketika Anda mempersepsikan sesuatu, atau apa pun itu, semua proses itu menciptakan label dalam batin. Sebuah label merupakan objek persepsi kita. Contoh, ketika Anda menatap seorang teman, Anda bisa melihat elemen-elemen dalam dirinya yang bukan dirinya. Anda bisa melihat udara, air, zat padat seperti tanah bahkan sinar matahari dalam dirinya. Anda juga bisa melihat ada elemen leluhurnya. Jadi, Anda tidak terjebak dalam hasil pemikiran atas bentuk luarnya, labelnya, semua itu sesungguhnya adalah dirinya juga.

Ketika ada label, tanda, atau tampak luar, maka di situ ada pengecohan. Label bisa menipu dan mengelabui. Namun, kita bisa menembus lapisan label, dan melihat sifat sejati dari segala sesuatu. Melihat hakikat realitas bukan melalui hasil meditasi dua puluh tahuh; namun itu hasil dari latihan sehari-hari. Anda bisa melakukannya di rumah, kantor, atau di mana pun Anda berada. Ketika Anda mentap mendalam, Anda bisa menemukan hakikat dari seorang manusia atau materi; Anda melihat karakteristik interdependensi dan interkoneksinya. Anda menyentuh realitas dari makanan yang sedang Anda santap, atau minuman yang sedang Anda teguk. Anda melihat sepotong roti sebagai realitas, Anda melihat kakak laki-laki dan perempuan, kekasih, anak, dan teman sejawat, melihat mereka sebagaimana adanya. Anda bisa menatap mendalam atas hakikat uang dan materi dan menyadari bahwa semua itu tidak akan membawakan semakin banyak kebahagiaan sebagaimana yang sudah ada saat ini. Semakin seseorang menatap mendalam, dia akan bisa melihat dengan jernih, dan realitas akan menyingkapkan dirinya di hadapan mata secara perlahan-lahan. Ketika Anda melihat realitas sebagaimana adanya, tiada keserakahan, tiada kemarahan, dan tiada ketakutan.

Mengejar keserakahan telah membawa banyak penderitaan dan keputusasaan. Apabila Anda berkomitmen untuk mempraktikkan berkewawasan dalam mengonsumsi maka itu adalah komitmen untuk kebahagiaan. Itu merupakan keputusan penuh kesadaran agar membuat hati lebih lapang untuk menerima kebahagiaan yang sudah tersedia dalam setiap langkah dan setiap napas. Setiap napas dan langkah bisa memperkuat dan menyembuhkan. Sebagaimana Anda bernapas masuk dan keluar, atau ketika Anda melangkah dengan kewawasan, melantunkan mantra: “Inilah momen bahagia”. Anda tidak perlu membayar apa pun. Itulah sebabnya saya bilang bahwa berkewawasan dalam mengonsumsi merupakan jalan keluar dari penderitaan. Ajaran ini sederhana, dan juga tidak sulit untuk dipraktikkan.

Alih bahasa: Nyanabhadra Chân Pháp Tử

Be Still And Heal – Mindful Music

Be Still And Heal – Mindful Music

I (Yên) own nothing but the editing. All credit goes to their rightful owners.

1. I am home (ft. Sisters and Layfriends of Clarity Hamlet)
2. Be an island (A Jam session with Deer Park monastics and lay people right before the Family Retreat. Jun 2011)
3. Alone Again (Brother Pháp Khôi)
4. Walking meditation (Bodhicitta Production)
5. And when I rise (Wiches Brew)
6. Cloud and the tea (Ellen from joe in Plum Village project)
7. Peace
8. Inter-being (Bodhicitta Production)
9. The seed of corn (Ellen from joe in Plum Village project)
10. Be thankful for all these blessing (Sister Hải Ấn- Ocean)

Help us caption & translate this video! https://amara.org/v/h9MG/

Hidup Pada Saat Ini

Hidup Pada Saat Ini

Begawan Buddha, aku menyadari energi kebiasaan paling dominan dalam diriku adalah pelupa. Aku sering membiarkan batinku memikirkan masa lampau, sehingga aku terbawa ke dalam kesedihan dan penyesalan. Hal demikian menjadi penyebab aku kehilangan banyak kesempatan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang menakjubkan dari hidup di masa sekarang, pada saat ini. Aku tahu banyak di antara kita yang terperangkap oleh masa lalu. Kita menghabiskan waktu untuk mengeluh dan menyesali sesuatu yang telah hilang. Ini merampas kesempatan kita untuk merasakan dengan kesegaran, keindahan dan hal-hal menakjubkan yang dapat memperkuat dan mentransformasikan kita pada saat ini. Kita tidak bisa merasakan langit biru, awan putih, pohon hijau, bunga kuning, suara angin pada pohon cemara, suara aliran sungai, suara burung bernyanyi, dan suara anak-anak tertawa di bawah sinar mentari pagi. Kita juga tidak dapat merasakan hal-hal menakjubkan yang ada dalam diri kita.

Kita tidak dapat melihat bahwa kedua mata merupakan dua permata yang menakjubkan. Ketika membuka mata, kita dapat bersentuhan dengan dunia yang terdiri dari aneka warna dan bentuk yang berbeda. Kita tidak mengenali bahwa kedua telinga kita merupakan organ yang menakjubkan. Jika kita mendengar dengan sadar penuh melalui kedua telinga, kita dapat mendengar suara angin semilir pada dahan pohon, kicauan burung, atau suara ombak yang merdu di pagi hari. Jantung, paru-paru, dan otak kita, beserta kapasitas kita untuk merasakan, berpikir dan mengamati juga merupakan keajaiban hidup. Gelas yang berisi air segar atau jus jeruk di tangan juga merupakan keajaiban hidup. Kendati aku sering tidak dapat bersentuhan dengan cara hidup sadar penuh pada saat ini, karena aku tidak latihan bernapas dan berjalan dengan sadar sepenuhnya untuk kembali pada saat ini.

Begawan Buddha, mohon Engkau menjadi saksiku. Aku berjanji untuk berlatih merealisasikan ajaran yang telah Engkau babarkan. Aku tahu bahwa tanah suci bukanlah sebuah janji ilusi di masa depan. Tanah suci yang menakjubkan dalam semua aspek tersedia untukku saat ini juga. Jalan pada tanah merah dengan batasan rumput hijau merupakan tanah suci. Bunga violet juga merupakan tanah suci.  Suara aliran sungai yang kecil, batu karang yang bercahaya pada tempatnya juga merupakan tanah suci.  Tanah suci kita bukan hanya harum aroma bunga teratai dan kumpulan bunga krisan saja, melainkan juga lumpur yang menumbuhkan akar teratai dan juga pupuk kompos yang menjadi asupan bagi bunga krisan.

Tanah suci memiliki wujud luar yang mencerminkan kehidupan dan kematian, tetapi ketika melihat secara mendalam aku melihat kehidupan dan kematian keduanya saling terkait. Yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya. Jika kulihat lebih dalam lagi, aku melihat tidak ada kehidupan dan kematian; hanya ada manisfestasi. Aku tidak perlu menunggu sampai tubuh ini hancur untuk masuk ke tanah suci Buddha. Melalui cara aku melihat, berjalan, dan bernapas, aku dapat menghasilkan energi kesadaran penuh dan konsentrasi, mengizinkan aku untuk hadir di tanah suci dan merasakan langsung berbagai keajaiban hidup yang ditemukan di sini dan saat ini.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, aku menyentuh bumi secara mendalam agar bersentuhan denganmu dan tanah suci pada saat ini.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, Engkau adalah anak dari bumi ini dan Engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, Engkau telah memberi semangat kepada para bodhisattwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sutra Sadharmapundarika, Engkau mengundang semua bodhisattwa, ribuan bahkan jutaan bodhisattwa bermunculan dari bumi. Para bodhisattwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisattwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi kesadaran penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi. (Genta)

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari
Meditasi jalan di pagi hari

Saya mengikuti retret di Amitayus dari tanggal 29 sampai dengan 30 September 2018. Retret 2 hari ini sangat menyentuh hati. Saya merasa seperti kembali ke rumah diri sendiri. Anggota sangha monastik dan komunitas memberikan kondisi damai, hal ini membuat saya bisa memaknai kehidupan saat ini.

Sehari-hari, saya tidak punya waktu untuk menenangkan diri, namun selama retret saya merenungkan semua proses kehidupan yang penuh dengan suka dan duka, baik dan buruk, benar dan salah. Ternyata banyak terjadi penyimpangan yang telah saya lakukan, apakah itu secara sadar atau pun tidak sadar.

Retret ini menyadarkan saya betapa pentingnya untuk stop (berhenti) dari penyimpangan itu. Lewat kondisi berhenti inilah saya bisa merenung dengan mendalam sehingga saya kembali disadarkan untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Selain mendapatkan pencerahan kecil, saya juga mengenal teman-teman baru, suatu hal yang menarik mengobservasi bagaimana sikap dan tingkah laku yang unik dari setiap orang. Ini membuat saya lebih mengerti tentang perbedaan agar bisa menerimanya.

Hal yang menarik bagi saya adalah ketika sesi makan. Kami mengambil makanan dengan cara yang teratur, antri, dan hening. Setelah itu duduk untuk menunggu semuanya duduk, mendengarkan genta berkesadaran lalu mendengarkan perenungan. Hal ini melatih kesabaran saya. Hal seperti ini tampaknya bagus diterapkan di rumah, menyadari aktivitas sehari-hari.

Saya menyadari bahwa prilaku saya menjadi lebih baik saat retret, terutama ketika membaca dan mendengar dengan penuh kesadaran. Topik pembahasan mencakup keluarga, anak, dan leluhur. Tentu saja bagaimana menuju pada keharmonisan melalui komunikasi, saling memberi perhatian, kemudian juga menciptakan kedamaian antara pasangan suami istri.

Meditasi kerja juga menarik. Kami berbagi tugas untuk bersih-bersih, menyapu, menyuci, semua tugas ini serasa sangat nyaman, kerjaan menjadi mudah dan cepat terlesesaikan. Menjaga kebersihan juga merupakan cara kami untuk menjaga kesehatan bersama.

Retret selama 2 hari tampaknya kurang lama. Walaupun hanya 2 hari namun memberikan dampak besar agar saya bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anggota sangha monastik, semua panitia, serta teman-teman yang bersama-sama dalam retret itu.

Ini adalah karma baik bagi saya sehingga bisa berkumpul dengan komunitas latihan hidup berkesadaran. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Andi, peserta retret dari Cimone, Tangerang

Menjadi Pelita Penerang Kegelapan

Menjadi Pelita Penerang Kegelapan


Saya sudah menjadi aktivis di wihara cukup lama. Saya sering melihat bahwa di setiap kepanitiaan sebuah acara sering ada air mata bercucuran, atau berbagai jenis gesekan-gesekan yang membuat banyak orang tidak nyaman atau kecewa.

Saya juga sudah beberapa kali ikut membantu dalam kegiatan Retret Hidup Berkesadaran. Saya tidak tahu apa bedanya secara persis, tapi kami menyebutnya volunteer (sukarelawan). Retret Hidup Berkesadaran ini menggunakan pintu Dharma dari tradisi Zen Plum Village.

Volunteer membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan dalam retret. Wihara juga punya kegiatan namun mereka sering menyebutnya panitia. Dalam kegiatan retret, saya merasakan semua tugas dan pekerjaan menjadi damai dan mudah karena antara satu volunteer dengan yang lainnya bisa bekerja dengan lebih sadar sehingga lebih harmonis.

Ini merupakan kepanitiaan yang saya sukai, karena selain kita bisa memberikan pelayanan kepada peserta, kita juga bisa sekaligus berlatih, dan tidak pakai marah-marahan atau bahkan berurai air mata (antar sesama volunteer) hanya karena ada pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Kadang juga ada beberapa orang yang bahkan tidak saling mendukung justru seringnya mencari kesalahan pihak lain.

Di sini terlihat bahwa jika kita sadari, ketika badan lelah dan pikiran capek, maka akibatnya emosi pun cepat memuncak. Terkadang hanya karena masalah sepele kita bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Sebetulnya orang yang melontarkan kata-kata pahit juga sedang lelah fisik dan capek pikiran.

Dalam keadaan ini apakah hanya kita yang kelelahan? Apakah hanya kita yang pantas untuk membuang sampah emosi kita ke orang lain?

Dalam sebuah kegiatan panitia atau volunteer, mereka telah bekerja dengan sedemikian rupa, dan banyak yang telah mereka korbankan, mereka meninggalkan pekerjaan rumah dan keluarganya serta waktu santainya. Banyak hal lainnya yang telah dikorbankan. Bukan hanya kita, sehingga jika kita bisa melihat dengan jernih bahwa dalam sebuah kegiatan alangkah indahnya jika kita bisa bekerja sama dengan penuh sukacita dan damai harmonis.

Ya itu baru saya temukan dalam kepanitiaan Retret Hidup Berkesadaran.

Saya berharap jika bagian dari komunitas mindfulness yang telah sama-sama berlatih, kelak bila mereka membantu di kepanitiaan lainnya seperti kegiataan wihara, seharusnya bisa menciptakan kepanitiaan yang damai dan harmonis juga.

Begitu juga bila bagian dari komunitas juga merupakan pengurus di organisasi wihara, hendaknya juga dapat menjadi pengurus yang selalu rukun, harmonis, bahagia dan mampu menyalakan pelita kedamaian untuk yang lainnya. Mari kita menjadi pelita yang bisa menerangi kegelapan serta mampu menyalakan banyak pelita lainnya. (Ely)*

*Volunteer Day of Mindfulness dan Retret Hidup Berkesadaran dari Jambi

Ada Damai Di Hatiku

Ada Damai Di Hatiku

Judul Buku: Ada Damai Di Hatiku
Penulis: Master Zen Thich Nhat Hanh
Penerbit: Yayasan Karaniya
Pesan Lewat Telepon : +62 21 5687957

Kedamaian sejati itu tidak mustahil. Namun membutuhkan kegigihan dan latihan, apalagi pada masa-masa sulit. Bagi sebagian orang, kedamaian dan semangat ahimsa (tanpa-kekerasan) sama dengan sikap terima saja dan tidak berdaya. Justru, melatih kedamaian dan semangat ahimsa itu sebaliknya. Berlatih menjadi damai, menghadirkan kedamaian di dalam diri sendiri, berarti secara terus menerus memupuk pengertian, cinta dan belas kasih walaupun harus berhadapan dengan kesalahpahaman dan konflik. Menghadirkan kedamaian diri dalam suasana perang membutuhkan keberanian.

Kita semua bisa mempraktikkan semangat ahimsa. Kita mulai dengan mengenali bahwa di kedalaman kesadaran kita ada benih kasih sayang dan juga benih kekerasan. Kita tiba-tiba sadar bahwa pikiran itu seperti kebun yang mengandung semua jenis benih: benih-benih pengertian, benih memaafkan, benih sadar penuh, dan juga benih kebodohan, ketakutan, dan kebencian. Kita sadar bahwa setiap saat kita bisa saja bertindak dengan kekerasan ataupun belas kasih, tergantung dari kekuatan benih-benih ini di dalam diri kita.

Bilamana benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan di dalam diri kita disirami beberapa kali sehari, benih itu akan tumbuh semakin kuat. Maka kita tidak bisa berbahagia dan tidak dapat menerima diri apa adanya; kita menderita dan juga membuat banyak orang menderita. Namun bilamana kita cerdas dalam memupuk benih cinta kasih, kasih sayang, dan pengertian dalam diri kita setiap hari, benih-benih tersebut akan menjadi kuat dan benih kekerasan dan kebencian akan semakin lemah. Kita tahu apabila benih-benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan tersirami, maka kita menjadi tidak damai dan tidak stabil. Kita akan menderita dan sekaligus menyebabkan banyak orang menderita. Kita wajib merawat benih-benih belas kasih, memupuk kedamaian dan lingkungan. Melalui cara demikian kita sudah melangkah di jalan untuk mewujudkan kedamaian.

Ajaran-ajaran di dalam buku ini dipersembahkan untuk menolong siapa saja yang ingin menempuh hidup ahimsa. Latihan ini merupakan warisan nyata dari Buddha dan para guru-guru leluhur saya. Latihan ini masih begitu ampuh di zaman modern ini, sama persis dengan 2.600 tahun lalu waktu Buddha mencapai penerangan sempurna. Mereka bersama-sama merangkai petunjuk-petunjuk praktis bagaimana menjadi damai untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan dunia ini. Pada saat ini, kita berhadapan dengan demikian banyak konflik di dunia, saya persembahkan buku ini untuk membantu Anda agar menyadari bahwa Anda bisa menghindari kekerasan. Kedamaian sudah tersedia bagi kita di setiap saat. Tergantung pilihan kita.

Beli di Karaniya – Ada Damai Di Hatiku

Duduk dan Bernapas

Duduk dan Bernapas

Jika Anda punya altar di rumah, Anda dapat duduk di dekatnya. Jika tidak punya, duduklah di tempat yang nyaman, seperti di depan jendela yang menghadap ke luar.

Duduklah di atas bantal dengan kedua kaki disilangkan dengan santai dan lutut menyentuh lantai. Posisi ini membuat Anda duduk dengan amat stabil dengan tiga titik penyangga (satu dudukan Anda di atas bantal dan kedua lutut).

Duduk dengan tegak dan santai, dengan demikian Anda bisa duduk lebih lama tanpa membuat kaki kesemutan. Anda boleh mencoba-coba beberapa ketinggian dan kelebaran bantal pengganjal sampai menemukan yang paling pas untuk tubuh Anda.

Jika Anda suka, bakarlah dupa untuk menghidupkan suasana sakral. Peganglah dupa di tangan Anda dengan tenang, dan berkonsentrasilah pada diri Anda yang sedang menyalakan dupa itu dan taruh dupa di dalam wadahnya.

Nyalakan dupa itu dengan keadaan sadar-penuh dan konsentrasi. Segenap diri Anda ada di sana, hadir sepenuhnya, pada saat Anda menyalakan dupa itu.

Sewaktu duduk, luruskan punggung dan leher, tetapi jangan sampai kaku atau tegang. Fokuskan perhatian pada napas masuk dan kemudian napas keluar lewat perut dan dada.

Napas masuk, terasa napas masuk ke dalam perut dan dadaku.
Napas keluar, terasa napasku keluar dari perut dan dadaku.
Napas masuk, aku menyadari seluruh tubuhku
Napas keluar, aku tersenyum kepada seluruh tubuhku
Napas masuk, aku sadar akan rasa nyeri atau tegang di tubuhku
Napas keluar, kulepaskan semua nyeri dan ketegangan di tubuhku
Napas masuk, aku merasa sehat walafiat.
Napas keluar, aku merasa nyaman.

Anda dapat berlatih dengan kalimat-kalimat di atas seharian, di tempat kerja atau kapanpun, untuk mengembalikan perasaan lapang, relaks, dan segar.


Pedoman Meditasi Duduk oleh Rohana (True Beauty of Clarity – 真明秀)

Unduh bahan presentasi klik sini


Gatha Meditasi Duduk Pagi

Gatha meditasi duduk pagi (versi maret 2019)

Unduh Mp3 klik sini

Dharma(G)-kaya(G) bersinar kala(G) fajar menyingsing(GGGggg)
Tubuh ini he-ning-(G), batin ini(G) menjadi da-mai-(G)
Senyum simpul terlahir di bibir kami.(GGGggg)
Ini hari baru(G), kami bertekad hi-dup berkesadaran.(G)
Agar mentari pengertian(G), bisa terbit(G), menyinari(G) seluruh penjuru.(GGGggg)
Wahai Sanggha mulia-, curahkan perhatian pada meditasi.
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA 2x)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)

G: Genta


Gatha Meditasi Duduk Pagi – Br. Bao Tang

Unduh Mp3 klik sini

Dharmakaya kita(G) bersinar(G) kala(G) fajar menyingsing(GGGggg)
Tubuh ini hening(G), batin ini(G) menjadi tenang(G)
Senyum kecil pun terlahir di bibir kita.(GGGggg)
Hari ini hari yang baru(G), kita bertekad melaluinya dengan sadar-penuh.(G)
Agar mentari kearifan dapat terbit(G), menyinari(G) segala penjuru.(GGGggg)
Wahai Sanggha yang mulia curahkan perhatianmu ke dalam meditasi.
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA 2x)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)

G: Genta


Gatha Meditasi Duduk Sore – Br. Bao Tang

Unduh Mp3 klik sini

Dengan postur(G) tegak dan solid(G) kita duduk(G) di bawah Pohon Bodhi(GGGggg)
Tubuh ucapan dan batin kita(G), bersatu di dalam hening(G)
Tiada lagi pikiran yang benar dan salah.(GGGggg)
Tubuh dan batin kita(G), berdiam di dalam sadar-penuh yang sempurna.(G)
Ditemukan kembali(G) hakikat sejati kita(G), terseberangi dari pulau ilusi.(GGGggg)
Wahai Sanggha yang mulia curahkan perhatianmu ke dalam meditasi.
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA 2x)
Namo Shakyamunaye Buddhaya (GENTA)

G: Genta