Berbesar Hati lewat Mindfulness

Berbesar Hati lewat Mindfulness
Foto bersama Retret Guru Sekolah Ananda Bagan Batu, Riau.

Mindfulness merupakan meditasi terapan. Saya bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya mencobanya terus setiap hari. Praktik Mindfulness membantu saya mengatasi stress dan menghindari cemas.

Day Of Mindfulness (DOM) adalah istilah yang saya tahu. Saya mendapatkan teknik ini dari Sekolah Ananda Bagan Batu. Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal apa itu Mindfulness. Lalu Ibu Rumini memperkenalkan Mindfulness ini kepada saya.

Praktik ini ternyata membuahkan perubahan pada diri saya. Perubahan ini mungkin kecil, namun ada sebuah keyakinan besar bahwa teknik ini perlahan-lahan merubah saya menjadi lebih baik lagi.

Momen Positif

Pertama kali saya praktik mindfulness lewat duduk hening di pagi hari dengan diawali suara lonceng tiga kali. Saya bersama teman-teman sekadar duduk hening dan relaks sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

Saya mencoba untuk lebih relaks sepanjang melakukan pekerjaan, saya mengatur napas masuk dan napas keluar. Inilah awal saya mencoba mulai mempraktikkan mindfulness dalam aktivitas sehari-hari terutama untuk diri sendiri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari setiap acara DOM yang dilaksanakan di sekolah. DOM pasti selalu bisa membuat saya terkesan dan bahagia. Hati saya menjadi lebih tenang. Setidaknya, setelah DOM ada perubahan positif yang saya rasakan.

Terkadang saya merasa setiap kali selesai DOM pasti ada saja momen positif yang terjadi. Melalui praktik mindfulness ini saya jauh merasa lebih bisa menghargai diri saya sendiri. Makan dengan hening menjadi salah satu hal positif yang saya dapatkan.

Anugerah Tuhan

Makan bersama-sama di meja makan dengan hening tanpa suara dan mengambil makanan secukupnya. Makan dengan penuh kesadaran dan tidak terburu-buru membuat saya lebih mensyukuri hidup ini.

Saya tersentak sadar bahwa selama ini saya belum mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan. Saya selalu makan terburu-buru dan ingin cepat selesai apalagi jika sudah lapar. Saya tidak mengunyah makanan dengan baik, sehingga perut saya bisa sakit tiba-tiba ketika diisi makanan dengan tidak teratur.

Sekarang, saya bersama suami sudah mulai perlahan-lahan membiasakan makan dengan hening tanpa suara sambil mensyukuri nikmatnya makanan tersebut. Mungkin memang belum seutuhnya bisa, tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menyayangi diri sendiri lewat pola makan berkesadaran, pelan, dan sehat.

Meredakan Emosi

Napas masuk napas keluar, salah satu praktik mindfulness yang selalu saya coba setiap hari. Ketika saya marah, saya jadi lebih bisa meredakan emosi lewat napas. Di rumah, jika ada hal-hal yang membuat saya kesal, saya berusaha tidak langsung marah.

Saya mencoba untuk bernapas masuk dan keluar, setelah itu saya merasa emosi saya mulai turun. Saya bisa membicarakan baik-baik tentang hal yang membuat saya kesal itu.

Demikian juga ketika ada kejadian tegang seperti berbeda pendapat dengan suami. Saya mencoba untuk mendengarkannya dengan sabar. Setelah mendengar saya menjadi lebih mengerti, lalu kami sama-sama mencari jalan keluar.

Sejak saya mengenal DOM, saya merasa menjadi jauh lebih sabar dalam menghadapi anak-anak di sekolah, terutama dalam proses belajar mengajar di kelas. Saya dapat lebih memahami anak-anak tersebut setiap kali berhadapan dengan tingkah laku mereka.

Berbesar Hati

Sangat banyak manfaat dan hal-hal positif yang saya rasakan. Praktik mindfulness membuat kehidupan sehari-hari saya menjadi lebih tenang dan bahagia. Relasi dengan suami, keluarga, lingkungan sekitar, teman-teman, rekan kerja, serta anak- anak didik saya, mulai terjadi perubahan.

Saya merasa perubahan terjadi dalam diri saya sendiri, bahkan sangat-sangat mengubah cara saya melihat berbagai kejadian hidup. Sebuah momen yang begitu luar biasa yang sudah saya rasakan dari praktik Mindfulness ini adalah bisa membuat saya lebih berbesar hati memaafkan orang lain (ini menurut pengalaman saya).

Kenapa saya mengatakan ini sebuah momen? Karena Mindfulness inilah saya punya kekuatan baru utnuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri juga berdamai dengan mereka yang saya anggap menyakiti hati saya.

Di dunia kerja, saya pernah mengalami kesalahpahaman yang terjadi di antara sesama rekan kerja, dengan hati yang ikhlas saya berdamai dan melepaskan beban yang ada di dalam hati.

Banyak hal baik yang sudah terjadi dari awal saya mengikuti kegiatan DOM ini di sekolah saya, kegiatan yang bisa membuat hati saya jauh lebih tenang dan bahagia daripada sebelumnya.

Bersama-sama

Saya punya cerita kecil tentang retret bersama Bhante Nyanabhadra di pertengahan Juli 2019. Retret itu memberi kesan yang sangat sangat mendalam. Sejak awal hingga akhir retret banyak hal positif yang saya rasakan.

Kami bernyanyi bersama-sama, makan bersama dengan hening penuh kesadaran, duduk hening di pagi hari, relaksasi total, menonton bersama, meditasi teh sambil sharing, jalan berkesadaran, circle sharing dan hal-hal yang lain yang buat saya bahagia selama mengikuti retret itu.

Oh ya noble silent. Saya entah mengapa sangat menyukai latihan itu. Begitu selesai acara pada malam hari, kami masuk kamar lalu benar-benar menggunakan waktu istirahat untuk tidur tanpa mengobrol dengan teman-teman sekamar dan melakukan aktivitas apa pun.

Saya sungguh merasakan manfaatnya dari noble silent. Pagi hari saya bangun, badan dan mata menjadi lebih segar karena tidur tepat waktu. Saya pun berinisiatif akan mencoba melakukan noble silent ini di rumah. Semoga saya bisa!

Berdamai

Pada hari terakhir, saya membuat suatu momen yang akan selalu saya ingat, yaitu berdamai dengan diri sendiri! Ya hari itu saya berusaha keras untuk mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Meminta maaf dan mau memaafkan orang yang saya anggap menyakiti hati saya.

Kesalahpahaman yang terjadi di antara saya dan rekan kerja selama ini bisa saya atasi dengan akhir bahagia. Rasa sakit hati yang selama ini sulit untuk saya maafkan, akhirnya saya mencoba berdamai dengan hati saya agar bisa memaafkan rekan saya.

Semoga praktik Mindfulness ini dapat lebih saya terapkan di kehidupan sehari-hari.
Terima kasih Bhante Y.M Nyanabhadra
Terima kasih Ibu Sri Astuti
Terima kasih Ibu Merlyna
Terima kasih Ibu Rumini Lim
Terima kasih teman-teman seperjuangan di Yayasan Pendidikan Ananda

Riama Juni Wanti Rajagukguk, Guru Sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.

Home Is Where The Heart Is

Home Is Where The Heart Is
Home is where the heart is

Unduh Mp3 klik sini

Been travelling a day
Been travelling a year
Been travelling a lifetime,
to find my way home

Home is where the heart is
Home is where the heart is
Home is where the heart is
My heart is with you

Home is where the heart is from the album Songs of Awakening.
Produced by Milarepa and One Sky Music, 1993.

Perfume River, Hue, Vietnam

The Insight That Brings Us To The Other Shore Mp3

The Insight That Brings Us To The Other Shore Mp3

Recorded by ex-Plum Village Brother Michael. This is Thich Nhat Hanh’s revised Heart Sutra, which he completed just before becoming ill in September 2014. The Music is composed by Br. Phap Linh, an English monk based at Plum Village. Thich Nhat Hanh approved the music before suffering a stroke in November 2014, from which he is still recovering.

Unduh Mp3 silakan klik The Insight That Brings Us To The Other Shore.Mp3

Avalokiteshvara
while practicing deeply with
the Insight that Brings Us to the Other Shore,
suddenly discovered that
all of the five Skandhas are equally empty,
and with this realisation
he overcame all Ill-being.

“Listen Sariputra,
this Body itself is Emptiness
and Emptiness itself is this Body.
This Body is not other than Emptiness
and Emptiness is not other than this Body.
The same is true of Feelings,
Perceptions, Mental Formations,
and Consciousness.

“Listen Sariputra,
all phenomena bear the mark of Emptiness;
their true nature is the nature of
no Birth no Death,
no Being no Non-being,
no Defilement no Purity,
no Increasing no Decreasing.

“That is why in Emptiness,
Body, Feelings, Perceptions,
Mental Formations and Consciousness
are not separate self entities.

The Eighteen Realms of Phenomena
which are the six Sense Organs,
the six Sense Objects,
and the six Consciousnesses
are also not separate self entities.

The Twelve Links of Interdependent Arising
and their Extinction
are also not separate self entities.
Ill-being, the Causes of Ill-being,
the End of Ill-being, the Path,
insight and attainment,
are also not separate self entities.

Whoever can see this
no longer needs anything to attain.

Bodhisattvas who practice
the Insight that Brings Us to the Other Shore
see no more obstacles in their mind,
and because there
are no more obstacles in their mind,
they can overcome all fear,
destroy all wrong perceptions
and realize Perfect Nirvana.

“All Buddhas in the past, present and future
by practicing
the Insight that Brings Us to the Other Shore
are all capable of attaining
Authentic and Perfect Enlightenment.

“Therefore Sariputra,
it should be known that
the Insight that Brings Us to the Other Shore
is a Great Mantra,
the most illuminating mantra,
the highest mantra,
a mantra beyond compare,
the True Wisdom that has the power
to put an end to all kinds of suffering.
Therefore let us proclaim
a mantra to praise
the Insight that Brings Us to the Other Shore.

Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!”

Ada Damai Di Hatiku

Ada Damai Di Hatiku

Judul Buku: Ada Damai Di Hatiku
Penulis: Master Zen Thich Nhat Hanh
Penerbit: Yayasan Karaniya
Pesan Lewat Telepon : +62 21 5687957

Kedamaian sejati itu tidak mustahil. Namun membutuhkan kegigihan dan latihan, apalagi pada masa-masa sulit. Bagi sebagian orang, kedamaian dan semangat ahimsa (tanpa-kekerasan) sama dengan sikap terima saja dan tidak berdaya. Justru, melatih kedamaian dan semangat ahimsa itu sebaliknya. Berlatih menjadi damai, menghadirkan kedamaian di dalam diri sendiri, berarti secara terus menerus memupuk pengertian, cinta dan belas kasih walaupun harus berhadapan dengan kesalahpahaman dan konflik. Menghadirkan kedamaian diri dalam suasana perang membutuhkan keberanian.

Kita semua bisa mempraktikkan semangat ahimsa. Kita mulai dengan mengenali bahwa di kedalaman kesadaran kita ada benih kasih sayang dan juga benih kekerasan. Kita tiba-tiba sadar bahwa pikiran itu seperti kebun yang mengandung semua jenis benih: benih-benih pengertian, benih memaafkan, benih sadar penuh, dan juga benih kebodohan, ketakutan, dan kebencian. Kita sadar bahwa setiap saat kita bisa saja bertindak dengan kekerasan ataupun belas kasih, tergantung dari kekuatan benih-benih ini di dalam diri kita.

Bilamana benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan di dalam diri kita disirami beberapa kali sehari, benih itu akan tumbuh semakin kuat. Maka kita tidak bisa berbahagia dan tidak dapat menerima diri apa adanya; kita menderita dan juga membuat banyak orang menderita. Namun bilamana kita cerdas dalam memupuk benih cinta kasih, kasih sayang, dan pengertian dalam diri kita setiap hari, benih-benih tersebut akan menjadi kuat dan benih kekerasan dan kebencian akan semakin lemah. Kita tahu apabila benih-benih kemarahan, kekerasan, dan ketakutan tersirami, maka kita menjadi tidak damai dan tidak stabil. Kita akan menderita dan sekaligus menyebabkan banyak orang menderita. Kita wajib merawat benih-benih belas kasih, memupuk kedamaian dan lingkungan. Melalui cara demikian kita sudah melangkah di jalan untuk mewujudkan kedamaian.

Ajaran-ajaran di dalam buku ini dipersembahkan untuk menolong siapa saja yang ingin menempuh hidup ahimsa. Latihan ini merupakan warisan nyata dari Buddha dan para guru-guru leluhur saya. Latihan ini masih begitu ampuh di zaman modern ini, sama persis dengan 2.600 tahun lalu waktu Buddha mencapai penerangan sempurna. Mereka bersama-sama merangkai petunjuk-petunjuk praktis bagaimana menjadi damai untuk diri sendiri, keluarga, komunitas, dan dunia ini. Pada saat ini, kita berhadapan dengan demikian banyak konflik di dunia, saya persembahkan buku ini untuk membantu Anda agar menyadari bahwa Anda bisa menghindari kekerasan. Kedamaian sudah tersedia bagi kita di setiap saat. Tergantung pilihan kita.

Beli di Karaniya – Ada Damai Di Hatiku

Memperbarui Sutra Hati

Memperbarui Sutra Hati

Pada Tanggal 11 September 2014, Bhante Thich Nhat Hnah telah menyelesaikan penerjemahan ulang satu dari Sutra sangat penting dalam Mahayana yakni Sutra Hati ke dalam Bahasa Inggris.

Sutra Hati vesi Inggris ini diterjemahkan dari Bahasa Vietnam yang mana versi Vietnman ini juga hasil penerjemahan baru oleh Bhante setelah sekitar 3 minggu di European Institute of Applied Buddhism di Jerman.

Hasil penerjemahan versi Inggris yang baru ini akan dimasukkan dalam buku Pendarasan Plum Village, dan tentu saja akan dimasukkan dalam buku pendarasan versi baru nanti. Sutra Hati versi baru ini sedang dalam proses penataan irama dan lagu oleh monastik di Plum Village, semoga bisa segera dipublikasikan nanti.

 

Sutra Hati:
Prajna Paramita

Kala Bodhisatwa Awalokiteswara
merenungkan secara mendalam
Tentang prajna paramita
Seketika itu menyadari bahwa
Pancaskandha juga kosong adanya
Setelah penyadaran ini,
Ia berhasil mengatasi semua duka

Wahai Sariputra
Tubuh ini adalah sunyata,
dan sunyata adalah tubuh ini.
Tubuh ini tiada beda dengan sunyata
dan sunyata tiada beda dengan tubuh ini
demikian juga dengan perasaan, persepsi, bentukan pikiran, dan pencerapan
(Genta)

Wahai Sariputra,
Semua fenomena bersifat sunyata
tidak lahir juga tidak mati
tidak ada juga tidak tak ada
tidak kotor juga tidak murni
Tidak berkurang juga tidak bertambah.

Oleh sebab itu dalam sunyata,
Pancaskandha tidak bisa berdiri sendiri
Delapan belas ranah fenomena
yang terdiri dari enam organ indra,
enam objek indra, dan enam pencerapan
juga tidak bisa berdiri sendiri

Dua belas mata rantai interdependen
kemunculan dan hilang lenyapnya
juga tidak bisa berdiri sendiri

duka, sebab duka,
akhir duka, dan jalan mengakhiri duka,
kearifan dan pencapaian
juga tidak bisa berdiri sendiri
(Genta)

Berkat Prajna Paramita, para bodhisatwa
Tiada lagi rintangan dalam pikirannya
Karena sudah tiada rintangan pikiran
maka tiada juga ketakutan
Hancurlah semua persepsi keliru
Terealiasi nirwana tertinggi

Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan
berkat prajna paramita
mereka mencapai pencerahan otentik dan sempurna
(Genta)

Wahai Sariputra
perlu diketahui bahwa
prajna paramita adalah mantra teragung
mantra sakti mandraguna,
mantra tertinggi
mantra yang tiada taranya
kearifan sejati berkekuatan
melenyapkan semua jenis duka
(Genta)

Marilah kita mendaraskan
mantra untuk mengagungkan
prajna paramita

Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha (3x)

 

Alasan Thich Nhat Hanh menerjemahkan ulang Sutra Hati

Keluarga terkasih,

Alasan Thay (Bhante Thich Nhat Hanh akrab disapa Thay, Bahasa Vietnam yang berarti Bhante) menerjemahkan ulang Sutra Hati adalah karena para sesepuh belum memaksimalkan penggunaan bahasa secara utuh dalam menuliskannya. Oleh karena itu hampir 2000 tahun banyak terjadi pemahaman keliru.

Thay ingin menceritakan ulang dua buah kisah: yang pertama adalah kisah seorang samanera yang pergi bertemu dengan guru zen, dan kisah kedua berkaitan dengan seorang biksu yang datang untuk bertanya kepada Master Tue Trung.

Kisah Samanera Kecil
Dalam kisah pertama, seorang guru zen bertanya kepada samanera: “Apa yang engkau pahami tentang Sutra Hati?”

Samanera itu beranjali dan membalas:
“Saya telah mengerti bahwa pancaskandha itu kosong. Tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, tidak ada badan jasmani juga pikiran; tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada perasaan, tiada objek pikiran; enam kesadaran indra juga tidak eksis, enam belas fenomena juga tidak eksis, dua belas rantai saling memunculkan juga tidak eksis, bahkan kearifan dan pencapaian juga tidak eksis.”

Guru bertanya, “Apakah Anda percaya apa yang tertera dalam Sutra Hati?”
Samanera menjawab, “Ya, saya percaya sepenuhnya.”

“Coba kamu ke sini,” ucap Guru seraya memanggil samanera tersebut. Ketika samanera mendekat, Ia menggunakan jempol dan jari telunjuknya untuk mencubit hidung samanera itu.
Samanera kontan meronta kesakitan, “Guru! Mengapa engkau mencubit hidungku?!” Guru menatap samanera itu dan berkata “Barusan kamu bilang hidung itu tidak eksis, kalau memang benar hidung itu tidak eksis lalu apa yang sakit?”

Kisah Master Tue Trung
Master Tue Trung merupakan seorang guru zen perumah tangga, beliau pernah menjadi mentor bagi raja muda Tran Nhan Tong pada abad ke-13 di Vietnam. Suatu hari, seorang biksu datang berkunjung untuk bertanya tentang Sutra Hati.

“Yang mulia, Apa arti dari kalimat ‘badan jasmani adalah sunyata, sunyata adalah badan jasmani’? Apa makna sesungguhnya?”
Pada awalnya Master Tue Trung hanya terdiam saja, dan kemudian dia bertanya kepada biksu itu, “Apakah Anda punya badan jasmani?”
“Iya, punya.”
“Lantas, mengapa engkau bilang tidak punya badan jasmani?”

Master Tue Trung melanjutkan, “Coba bayangkan angkasa, apakah angkasa juga berwujud?”
“Tidak, angkasa tidak berwujud.”
“Lantas mengapa engkau bilang kekosongan adalah wujud?”

Biksu itu berdiri, membungkuk hormat, dan pergi. Tapi Master Tue Trung segera memanggil dia kembali dan melantunkan gatha berikut ini:

Wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud,
Merupakan suatu cara upaya kausalya sementara yang digunakan oleh para Buddha tiga masa
Kekosongan bukanlah wujud, dan wujud bukanlah kekosongan
Hakikat kekosongan dan wujud selalu jernih dan terang, tidak terjebak pada ada maupun tiada

Kisah Master Tue Trung tampaknya memunculkan kontradiksi Sutra Hati dan menantang konsep “Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud”, konsep yang dianggap pakem dalam literatur Prajñāpāramitā.

Thay merasa bahwa Master Tue Trung terlalu berlebihan dalam kisah itu. Master Tue Trung tidak mampu melihat bahwa kesalahan bukan terletak pada konsep ‘wujud adalah kekosongan’, justru kesalahannya terletak pada struktur kalimatnya, ‘Oleh karena itu dalam kekosongan tiada wujud’. Menurut Thay, struktur syair dalam Sutra Hati dari awal hingga baris yang berbunyi ‘tiada kelahiran, tiada kematian, tiada noda, tiada murni, tiada penambahan, tiada pengurangan’ sudah bagus adanya. Thay menyayangkan bahwa para sesepuh yang menyalin Sutra Hati tidak mengikutsertakan istilah ‘tiada ada dan tiada tak ada’ yang seharusnya diletakkan sebelum ‘tiada kelahiran, tiada kematian’, karena dua istilah itu bisa membantu kita melampaui gagasan ada dan tiada, dan kita tidak lagi terjebak pada ide seperti ‘tiada mata, tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, dan seterusnya’. Hidung samanera itu masih sakit hingga hari ini, pahamkah Anda?

Perkaranya mulai dari kalimat: “Dengarlah Shariputra, karena dalam kekosongan, tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, dan tiada kesadaran indra (sanskerta: TasmācŚāriputraśūnyatayāmnarūpamnavedanānasamjñānasamskārānavijñānam). Sungguh aneh! Sebelumnya dinyatakan bahwa kekosongan adalah wujud, dan wujud adalah kekosongan, tapi sekarang malahan pernyataan berlawanan: Tiada kekosongan, tiada badan jasmani. Bagian dalam Sutra Hati ini bisa membawa mudarat kekeliruan pemahaman. Bagian ini menyatakan bahwa semua fenomena itu bukan bagian dari kategori ‘ada’, dan dengan demikian menyatakan bahwa semua fenomena termasuk bagian dari ‘tiada’ (tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, tiada kesadaran indra). Sementara hakikat dari semua fenomena merupakan tiada juga tiada tak ada, tiada lahir dan tiada mati. Pandangan ‘ada’ merupakan pandangan ekstrem dan pandangan ‘tiada’ juga merupakan pandangan ekstrem. Hanya karena kalimat yang tidak tepat inilah hidung samanera itu masih sakit hingga kini.

Gatha tersohor yang ditulis oleh Patriak ke-6 Hui Neng, yang beliau sampaikan kepada Patriak ke-5 Hung Ren, juga menyatakan demikian dan Hui Neng juga terjebak pada pandangan keliru:

Sesungguhnya, tiada pohon bodhi
Cermin jernih juga tidak pernah eksis
Tiada sesuatu yang pernah eksis dari waktu tanpa awal
Lantas bagaimana mungkin ada debu bisa menempel padanya?

Iringan awan bergerak menutupi lubang gua
Menyebabkan banyak burung tidak bisa pulang ke rumah

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan pengertian yang sangat ampuh, membantu kita mengatasi dua sisi yang saling bertolak belakang seperti: lahir dan mati, ada dan tiada, noda dan suci, bertambah dan berkurang, subjek dan objek, dan sebagainya,. Pengertian itu juga membantu kita bersentuhan dengan hakikat sejatinya tiada lahir atau tiada mati, tiada ada dan tiada tak ada, dan sebagainya, yang merupakan hakikat sejati dari semua fenomena. Keadaan bebas ini disebut keadaan dingin, damai, tiada ketakutan; yang bisa kita alami dalam kehidupan ini juga, di dalam badan jasmanimu, dan juga dalam pancaskandhamu, yakni Nirwana. Sebagaimana burung terbang ke angkasa, para rusa berlari bebas di hutan, demikian pula para bijaksana bersemayam dalam keadaan Nirwana. Kalimat ini sungguh indah, bisa ditemukan dalam bab Nirwana dalam Dharmapada versi mandarin.

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan kebenaran tertinggi, menembus batas semua kebenaran konvensional. Pengertian ini merupakan visi tertinggi dari Buddha. Apa pun yang tercantum dalam Tripitaka, bahkan koleksi prajñāpāramitā yang sangat menakjubkan sekalipun, apabila isinya bertolak belakang dengan konsep itu, maka itu sama saja masih terjebak dalam kebenaran konvensional. Sungguh malangnya, ternyata ada paragraf cukup panjang dalam Sutra Hati saat ini yang juga mengandung kontradiksi tersebut.

Oleh karena alasan inilah Thay telah mengubah penggunaan istilah dalam versi terjemahan baru Sutra Hati (sebelumnya berbahasa Sanskerta maupun Mandarin) yang diterjemahkan oleh Xuan Zang. Thay menerjemahkannya sebagai berikut: ‘Oleh karena itu dalam kekosongan, badan jasmani, perasaan, persepsi, dan bentuk-bentuk mental, dan kesadaran indra tidak bisa berdiri sendirian.’ Semua fenomena merupakan produk dari saling ketergantungan: Inilah poin utama dari ajaran prajñāpāramitā. ‘Bahkan pengertian mendalam dan pencapaian juga tidak bisa terwujud sendirian.’ Thay juga menambahkan istilah ‘tiada ada (kurang ‘ada’ ya?) dan tiada tak ada’ dalam teks terjemahan baru. Tiada & tiada tak ada merupakan visi mendalam Buddha yang dinyatakan dalam Sutra Kātyāyana ketika Buddha menjelaskan tentang pandangan tepat. Istilah tiada dan tiada tak ada akan membantu generasi mendatang agar tidak menderita lagi akibat cubitan di hidung.

Sutra Hati ditujukan untuk membantu para Sarvāstivādin melepaskan pandangan tiada aku dan tiada dharma. Esensi paling dalam dari Prājñāpāramitā adalah kekosongan ‘aku’ (ātmaśūnyatā) dan kekosongan dharma (dharmanairātmya) dan bukan tiada dari aku dan dharma. Dalam Sutra Kātyāyana Buddha bersabda bahwa banyak di antara manusia terjebak dalam pandangan ada dan tiada. Oleh karena itulah kalimat ‘dalam kekosongan tiada wujud, perasaan…’ sudah jelas sekali masih terjebak dalam konsep ‘tiada’ dan tidak sesuai dengan kebenaran tertinggi. Kekosongan aku hanya berarti aku yang tidak bisa berdiri sendiri, bukan aku yang tidak eksis; sebagaimana balon yang bagian tengahnya kosong bukan berarti balon tidak eksis. Demikian juga kekosongan dharma: berarti bahwa fenomena tidak bisa berdiri sendiri dan bukan semua dharma tidak eksis. Contohnya bunga yang terbuat dari elemen non bunga. Bunga itu tidak bisa terwujud tanpa elemen lain, tapi itu bukan berarti bunga itu tidak ada.

Sutra Hati sedikit terlambat muncul yang mana pada saat itu ajaran Tantra telah menyebar. Sesepuh Buddhis mengompilasi Sutra Hati agar para penganut ajaran Tantra juga berlatih dan melafalkan Sutra Hati, oleh karena itulah Sutra Hati dibuat dalam bentuk Mantra. Ini juga termasuk upaya mahir. Thay menggunakan kalimat, ‘Kearifan yang menyeberangkan kita ke pantai seberang’, karena dalam mantra itu ada istilah pāragate yang berarti ‘pergi menuju pantai seberang, pantai kearifan.’

Pārāyana dan pāramitā sama-sama diterjemahkan menjadi ‘menyeberang ke pantai sana’. Dalam Sutta Nipāta ada bab yang berjudul Pārāyana yang juga diterjemahkan sebagai ‘menyeberang ke pantai sana’.

Para sahabat, saya harap Anda bisa menikmati berlatih Sutra Hati baru versi Inggris. Brother Phap Linh sedang menciptakan irama pendarasan yang baru. Sutra Hati versi baru ini akan diikutsertakan dalam Edisi baru Buku Pendarasan Plum Village. Kemarin, tanggal 21 Agustus, setelah selesai menerjemahkan Sutra Hati sekitar pukul 3 subuh, seberkas cahaya bulan menyinari kamar Thay.

Dengan kasih sayang dan kepercayaan,
Gurumu,

Insitut Ashoka, EIAB Waldbröl – Jerman

Sutra Vajracchedika Prajñaparamita

Sutra Vajracchedika Prajñaparamita

1
Demikian yang telah kudengar, suatu ketika Buddha bersemayam di Wihara Anathapindika-arama di Hutan Jeta, dekat Shravasti, disertai oleh serombongan biksu yang jumlahnya 1.250 orang, para biksu yang telah menerima penahbisan penuh.
Hari itu, tatkala tiba saatnya untuk mengumpulkan makanan, Buddha mengenakan jubah sanghati, dengan membawa mangkuk, pergi ke kota Shravasti untuk mengumpulkan sedekah makanan dari rumah ke rumah. Seusai pengumpulan makanan, Beliau kembali ke wihara, menyantap sarapan tengah hari. Kemudian Beliau menanggalkan jubah sanghati, menyimpan mangkuk-Nya, mencuci kaki, menata alas duduk, dan duduk di atasnya.

2
Pada kesempatan tersebut, Bhante Subhuti bangkit berdiri, bahu kanannya terbuka, berlutut, serta merangkapkan kedua telapak tangannya dengan penuh hormat berkata kepada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, sungguh langka menjumpai orang seperti-Mu. Engkau senantiasa mendukung dan menaruh kepercayaan istimewa kepada para Bodhisattwa.”
“Bhagawa Junjungan Dunia, jika putra-putri dari keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, apa yang hendaknya mereka andalkan? Dan apa yang hendaknya mereka lakukan untuk mengendalikan pikiran mereka?”
Buddha menjawab, “Pernyataan yang bagus, Subhuti! Apa yang engkau katakan itu sepenuhnya benar. Tathagata senantiasa mendukung dan menunjukkan kepercayaan yang istimewa kepada para Bodhisattwa. Dengarkanlah dengan penuh perhatian dan Tathagata akan menjawab pertanyaanmu. Jika putri dan putra keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, mereka hendaknya mengandalkan dan mengendalikan pikirannya berdasarkan cara berikut ini.”
Yang Mulia Subhuti berkata, “Bhagawa, dengan gembira kami akan mendengarkan ajaran-Mu.”

3
Buddha berkata pada Subhuti, “Beginilah hendaknya para Bodhisattwa Mahasattwa mengendalikan pikirannya. ‘Berapa pun banyaknya spesies makhluk—entah terlahir melalui telur, kandungan, kelembapan, atau secara spontan; entah mereka memiliki wujud yang terlihat atau yang tak terlihat; entah mereka memiliki persepsi atau tak memiliki persepsi; atau entah tak dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki persepsi atau mereka tidak memiliki persepsi, kita harus membimbing semua makhluk tersebut menuju Nirwana yang tertinggi, sehingga mereka dapat terbebaskan. Begitu para makhluk yang jumlahnya tak terhingga, tak terbilang, tak terhitung ini telah terbebaskan, kita sesungguhnya tidak berpikir bahwa ada satu makhluk yang telah terbebaskan.’
“Mengapa demikian? Subhuti, jika seorang Bodhisattwa melekat pada gagasan bahwa suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan sungguh-sungguh ada, ia bukanlah Bodhisattwa yang sejati.”

4
“Lebih jauh lagi, Subhuti, jikalau seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan (dana), ia tidaklah mengandalkan objek apa pun—dengan kata lain, ia tidak bergantung pada apa pun wujud yang terlihat, suara, bebauan, cita rasa, objek sentuhan, dan objek pikiran—untuk mempraktikkan kedermawanan. Subhuti, demikianlah hakikat bagaimana seharusnya seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan, yakni tidak bergantung pada ciri-ciri apa pun. Mengapa demikian? Apabila seorang Bodhisattwa mempraktikkan kedermawanan tanpa mengandalkan ciri-ciri apa pun, kebahagiaan yang timbul tak dapat dibayangkan atau diukur. Subhuti, apakah engkau berpikir bahwa ruang angkasa di sebelah timur dapat diukur?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, dapatkah ruang angkasa di sebelah barat, selatan, utara, atas, dan bawah diukur?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, jika seorang Bodhisattwa tidak bergantung pada konsep apa pun sewaktu mempraktikkan kedermawanan, maka kebahagiaan yang timbul dari perbuatan bajik tersebut adalah seluas ruang angkasa. Ia tak dapat diukur. Subhuti, para Bodhisattwa hendaknya mengikhlaskan pikirannya sebagaimana ajaran-ajaran yang Aku babarkan.”

5
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Mungkinkah memahami Tathagata melalui ciri-ciri tubuh jasmani?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Ketika Tathagata menyatakan tentang ciri-ciri tubuh jasmani, bukan ciri-ciri yang dibicarakan.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Di mana ada sesuatu yang bisa dibedakan berdasarkan ciri-ciri, di sana pula terdapat hal yang memperdaya. Jikalau engkau dapat memahami hakikat tiadanya ciri yang terdapat dalam ciri-ciri, maka engkau dapat melihat Tathagata.”

6
Yang Mulia Subhuti bertanya pada Buddha, “Di masa mendatang, akankah ada orang yang ketika mendengar ajaran ini, memiliki keyakinan sejati dan menaruh kepercayaan padanya?
Buddha menjawab, “Jangan berkata begitu, wahai Subhuti. Lima ratus tahun setelah Tathagata mangkat, masih akan ada orang-orang yang menikmati kebahagiaan karena mengamalkan aturan-aturan moralitas. Apabila mereka mendengarkan sabda-sabda ini, mereka akan memiliki keyakinan dan percaya bahwa inilah kebenaran. Hendaknya kita ketahui bahwa mereka telah menanam benih kebajikan tidak hanya semasa kehidupan satu Buddha saja, atau bahkan dua, tiga, empat, atau lima Buddha, melainkan sebenarnya pernah menanam benih kebajikan selama kurun waktu kehidupan puluhan ribu Buddha. Barangsiapa yang hanya dalam sekejap saja membangkitkan keyakinan yang murni dan tulus begitu mendengar sabda-sabda Tathagata ini, maka Tathagata akan melihat serta mengenali orang tersebut, dan mereka akan mencapai kebahagiaan yang tak terukur berkat pemahaman ini. Mengapa?”
“Karena orang semacam itu tidak terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Mereka tidak terperangkap dalam gagasan mengenai suatu fenomena atau gagasan mengenai bukan fenomena. Mereka tidak terperangkap dalam konsep bahwa inilah suatu ciri dan itu bukan suatu ciri. Mengapa? Jika engkau terperangkap dalam gagasan mengenai suatu fenomena, engkau juga akan terperangkap dalam gagasan-gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Jika engkau terperangkap dalam gagasan mengenai bukan fenomena, engkau masih terperangkap dalam gagasan-gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Oleh karena itu, kita hendaknya tidak terperangkap dalam dharma-dharma (fenomena-fenomena) atau dalam gagasan bahwa dharma-dharma tidaklah ada. Inilah makna tersembunyi dari sabda Tathagata, “Para Biksu, hendaknya kalian mengetahui bahwa seluruh ajaran yang Kubabarkan bagi kalian adalah laksana sebuah rakit. Seluruh ajaran harus ditinggalkan, terlebih lagi yang bukan ajaran.”

7
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata telah merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna? Apakah Tathagata telah membabarkan ajaran?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Sejauh saya memahami ajaran Buddha, tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, begitu pula tidak ada ajaran yang berdiri sendiri yang dibabarkan oleh Tathagata. Mengapa? Ajaran yang direalisasi dan dibabarkan oleh Tathagata tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang terpisah, berdiri sendiri tidak bergantung hal lainnya, sehingga tak dapat digambarkan. Ajaran Tathagata bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, bukan pula tidak berdiri sendiri. Mengapa? Karena guru-guru yang mulia hanya dapat dibedakan dari yang lainnya dalam konteks hal yang mutlak tak terkondisi.”

8
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Karena hakikat yang paling mendasar dari kebajikan dan kebahagiaan adalah bukan kebajikan dan kebahagiaan yang menurut Tathagata dapat dibicarakan mengenai kebajikan dan kebahagiaan.”
Buddha berkata, “Di sisi lain, jika ada orang yang menerima ajaran-ajaran ini dan mempraktikkannya, walau hanya sebait gatha empat baris, serta menjelaskan maknanya pada orang lain, kebahagiaan yang diperoleh dari kebajikan ini jauh melampaui kebahagiaan mempersembahkan tujuh macam permata berharga. Mengapa? Karena, Subhuti, semua Buddha dan dharma dari pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna pada semua Buddha timbul dari ajaran-ajaran ini. Subhuti, apa yang disebut Buddhadharma adalah segala sesuatu yang bukan Buddhadharma.”

9
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Pemasuk Arus (Srotapanna) berpikir, ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Memasuki Arus’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Pemasuk Arus berarti memasuki arus, namun sesungguhnya tiada arus yang dimasuki. Ia tidaklah memasuki arus yang berupa wujud, ataupun arus yang berupa suara, bebauan, cita rasa, sentuhan, atau objek pikiran. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan memasuki arus.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Yang Kembali Sekali Lagi (Sakrdagamin), berpikir ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Yang Kembali Sekali Lagi’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Yang Kembali Sekali Lagi berarti pergi dan kembali terlahir sekali lagi, namun sesungguhnya, tiada yang pergi serta tiada yang kembali. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan Yang Kembali Sekali Lagi.”
“Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah seorang Yang Tidak Kembali Lagi (Anagamin) berpikir seperti ini, ‘Aku telah merealisasi buah tingkatan Tidak Kembali Lagi’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Yang Tidak Kembali Lagi berarti tidak kembali terlahir di muka bumi ini, namun sesungguhnya mustahil ada Yang Tidak Kembali Lagi. Itulah maksudnya ketika kita mengatakan Yang Tidak Kembali Lagi.”
“Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah seorang Arahat (Arhant) berpikir seperti ini, ‘Aku telah merealisasi buah Kearahatan’?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Karena tidak ada sesuatu yang terpisah yang bisa disebut Arahat. Jika seorang Arahat memiliki pemikiran bahwa ia telah merealisasi buah Kearahatan, maka ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan. Bhagawa Junjungan Dunia, Engkau kerap mengatakan bahwa saya telah merealisasi konsentrasi ketenangan yang tak kunjung henti dan dalam Sanggha, saya adalah Arahat yang terunggul mengatasi hawa nafsu dan keinginan. Bhagawa Junjungan Dunia, jika saya berpikir bahwa saya telah merealisasi buah Kearahatan, pastilah Engkau tidak akan mengatakan bahwa saya gemar bersemayam dalam konsentrasi ketenangan yang tak kunjung henti.

10
Buddha bertanya pada Subhuti, “Di masa lampau sewaktu Tathagata berlatih di bawah bimbingan Buddha Dipankara, apakah Ia mencapai sesuatu?”
Subhuti menjawab, “Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Di masa lampau sewaktu Tathagata berlatih di bawah bimbingan Buddha Dipankara, Ia tidaklah mencapai apa pun.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah seorang Bodhisattwa menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah bukanlah sesungguhnya menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Itulah sebabnya, kenapa disebut menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah.”
Buddha bertanya, “Subhuti, seluruh Bodhisattwa Mahasattwa hendaknya membangkitkan niat yang murni dan tulus dengan semangat ini. Sewaktu mereka membangkitkan niat tersebut, mereka hendaknya tidak bergantung pada wujud, suara, bebauan, cita-rasa, objek-objek sentuhan, atau objek-objek pikiran. Mereka hendaknya membangkitkan niat dengan pikiran mereka yang tidak bercokol di mana pun juga.”
“Subhuti, jika ada orang yang tubuhnya sebesar Gunung Sumeru, apakah engkau akan mengatakan tubuhnya besar?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, sangat besar. Mengapa? Apa yang Tathagata katakan bukan tubuh yang besar, itulah yang dikenal sebagai tubuh yang besar.”

11
“Subhuti, sehubungan dengan seluruh butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya, akankah engkau katakan bahwa butiran-butiran pasir dari Sungai Gangga tersebut sangat banyak?”
Subhuti menjawab, “Sungguh-sungguh sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia. Jika Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya sudah sangat banyak jumlahnya, betapa jauh lebih banyak lagi jumlah butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya.”
“Subhuti, kini Aku hendak bertanya padamu: jikalau seorang putri atau putra keluarga berbudi luhur mengisi tiga juta jagat raya dengan permata-permata berharga sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga beserta seluruh anak sungainya, yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
Subhuti menjawab, “Sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Jikalau seorang putri atau putra keluarga berbudi luhur terampil menerima, mempraktikkan, dan menjelaskan Sutra ini pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris, kebahagiaan yang diperoleh dari kebajikan ini adalah jauh lebih besar.”

12
“Lebih jauh lagi, Subhuti, di kawasan mana pun tempat Sutra ini dibabarkan, walau hanya sebait gatha empat baris, akan menjadi kawasan tempat para dewa, manusia, dan asura hadir menghaturkan persembahan sebagaimana mereka menghaturkan persembahan di hadapan stupa Buddha. Jikalau kawasan tersebut dianggap sebagai tempat yang suci, terlebih lagi orang yang mempraktikkan dan mendaras Sutra ini. Subhuti, hendaknya engkau ketahui bahwa orang yang sanggup mewujudkannya telah mencapai sesuatu yang sungguh langka dan berharga. Di mana pun tempat Sutra ini dipelihara akan menjadi suci dan Buddha atau salah seorang siswa utama-Nya hadir di sana.”

13
Kemudian Subhuti bertanya pada Buddha, “Apa namanya Sutra ini dan bagaimanana seharusnya kami berbuat memperhatikan ajarannya?”
Buddha menjawab, “Sutra ini hendaknya dinamakan Intan Pemotong Ilusi, karena ia sanggup memotong sepenuhnya seluruh ilusi dan penderitaan serta membawa kita menuju pantai pembebasan. Gunakanlah judul tersebut dan praktikkanlah sesuai dengan maknanya yang terdalam. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi, sesungguhnya bukanlah pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi. Karena itulah yang benar-benar pemahaman kebijaksanaan transenden yang tertinggi.”
Buddha bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Subhuti? Apakah ada barang sesuatu dharma yang Tathagata ajarkan?”
Subhuti menjawab, “Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata tidak mengajarkan apa pun.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah ada banyak butiran debu dalam ketiga juta jagat raya?”
“Sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, Tathagata mengatakan bahwa butiran-butiran debu ini bukanlah butiran-butiran debu. Itulah sebabnya mereka benar-benar adalah butiran-butiran debu. Apa yang Tathagata sebut sebagai jagat raya sesungguhnya bukanlah jagat raya. Itulah sebabnya mereka disebut jagat raya.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata dapat dikenali karena memiliki ketiga puluh dua tanda fisik?”
Yang Mulia Subhuti menjawab, “Tidak. Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Karena apa yang Tathagata sebut sebagai ketiga puluh dua tanda, pada dasarnya bukanlah tanda-tanda, dan itulah sebabnya Tathagata menyebutnya sebagai ketiga puluh dua tanda.”
“Subhuti, jika seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur mengorbankan hidupnya berkali-kali sebanyak jumlah butiran pasir di Sungai Gangga sebagai wujud kedermawanan (dana paramita) dan jikalau seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur lainnya mengetahui bagaimana menerima, mempraktikkan dan membabarkan Sutra ini pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris, kebahagiaan yang timbul sebagai buah membabarkan Sutra ini adalah jauh lebih besar.”

14
Sewaktu Subhuti mendengarkan dan menyelami makna mendalam Sutra ini, ia begitu tergugah hatinya sehingga meneteskan air mata. Ia berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, Engkau sungguh adalah sosok yang langka di muka bumi ini. Semenjak saya memperoleh mata pengertian, saya belum pernah mendengar ajaran yang begitu mendalam dan menakjubkan seperti ini, terima kasih atas bimbingan Buddha. Bhagawa Junjungan Dunia, jikalau seseorang mendengarkan Sutra ini, memiliki keyakinan yang murni dan tulus terhadapnya, serta memasuki wawasan kebenaran, orang itu akan merealisasi kebajikan yang paling langka. Bhagawa Junjungan Dunia, wawasan memahami kebenaran pada dasarnya bukanlah wawasan. Itulah yang Tathagata sebut sebagai wawasan memahami kebenaran.
“Bhagawa Junjungan Dunia, saat ini tidaklah sulit bagi saya mendengar Sutra yang menakjubkan ini, membangkitkan keyakinan padanya, memahami, menerima, dan mempraktikkannya. Namun di masa mendatang, lima ratus tahun kemudian, jikalau ada orang yang bisa mendengar Sutra ini, membangkitkan keyakinan padanya, memahami, menerima, dan mempraktikannya, maka tentulah orang semacam itu sungguh agung serta langka adanya. Mengapa? Orang itu tidak akan dikuasai oleh gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Mengapa? Gagasan mengenai adanya suatu diri bukanlah suatu gagasan, begitu pula sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, dan suatu jangka kehidupan, bukanlah suatu gagasan. Mengapa? Para Buddha disebut para Buddha karena Mereka bebas dari gagasan-gagasan.”
Buddha berkata pada Subhuti, “Benar demikian adanya. Jika seseorang mendengar Sutra ini dan tidak merasa takut atau khawatir, orang itu sungguh langka di muka bumi ini. Mengapa? Subhuti, apa yang Tathagata sebut parama-paramita, transendensi yang tertinggi, pada hakikatnya bukanlah transendensi yang tertinggi, dan itulah sebabnya ia disebut transendensi yang tertinggi.
“Subhuti, Tathagata mengatakan bahwa apa yang disebut kesabaran transenden bukanlah kesabaran transenden. Itulah sebabnya ia disebut kesabaran transenden. Mengapa? Subhuti, ribuan kelahiran yang lampau sewaktu tubuh-Ku dipotong-potong oleh Raja Kalinga, Aku tidaklah terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Jikalau pada saat itu, Aku terperangkap dalam gagasan-gagasan tersebut, Aku akan merasa marah dan sakit hati terhadap raja itu.
Aku juga ingat di masa lampau, selama lima ratus kali kehidupan, Aku mempraktikkan kesabaran transenden tanpa terperangkap oleh gagasan mengenai adanya suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Karenanya, Subhuti, jika seorang Bodhisattwa membangkitkan kesadaran pencerahan yang tiada bandingannya, ia harus melepaskan diri dari segenap gagasan. Ia tak dapat bergantung pada wujud sewaktu ia membangkitkan kesadaran tersebut, dan tidak pula pada suara, bebauan, cita rasa, objek-objek sentuhan, atau objek-objek pikiran. Ia hanya dapat membangkitkan kesadaran itu dengan tidak terikat oleh apa pun.
Tathagata menyatakan bahwa segenap konsep bukanlah konsep dan semua makhluk bukanlah makhluk. Subhuti, Tathagata mengatakan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya, mengatakan apa yang benar, dan mengatakan sesuai dengan realitas. Ia tidaklah memperdayakan atau demi menyenangkan orang lain. Subhuti, jika kita mengatakan bahwa Tathagata telah merealisasi suatu ajaran, maka ajaran itu bukanlah dapat dimengerti atau sukar untuk dipahami.
Subhuti, seorang Bodhisattwa yang masih bergantung pada konsep-konsep agar dapat mempraktikkan kedermawanan adalah laksana seseorang yang berjalan dalam kegelapan. Ia tak akan melihat apa pun. Namun jikalau seorang Bodhisattwa tidak bergantung pada konsep apa pun untuk mempraktikkan kedermawanan, ia adalah laksana orang yang penglihatannya normal berjalan di bawah terangnya sinar mentari. Ia akan sanggup melihat segala bentuk wujud dan warna.
Subhuti, jika di masa mendatang terdapat putri atau putra dari keluarga berbudi luhur yang sanggup menerima, membaca, dan mempraktikkan Sutra ini, Tathagata akan melihat orang itu dengan mata pengertian. Tathagata akan mengenali orang itu, dan orang itu akan merealisasi buah perbuatan bajiknya yang tak terukur, tak terbatas.”

15
“Subhuti, jika di satu pihak, seorang putri atau putra dari keluarga berbudi luhur mengorbankan hidupnya di pagi hari berkali-kali sebanyak jumlah butiran pasir di Sungai Gangga sebagai wujud kedermawanan, dan sama banyaknya mengorbankan hidupnya di siang hari, begitu pula di malam hari, serta mereka terus-menerus melakukannya dalam masa yang tak terhitung lamanya; sementara itu, di pihak lain, jika ada orang yang mendengarkan Sutra ini dengan penuh keyakinan tanpa penyangkalan, kebahagiaan yang dialami orang itu adalah jauh lebih besar. Namun kebahagiaan dari orang yang menyalin kembali Sutra ini, menerima, mendaras, dan membabarkannya pada orang lain, tidaklah dapat dibandingkan dengannya.
“Subhuti, secara ringkas, Sutra ini mendatangkan kebajikan beserta kebahagiaan yang tak terhingga, yang tak dapat dibayangkan maupun diukur. Jika ada seseorang yang mampu menerima, mempraktikkan, mendaras, dan berbagi Sutra ini dengan insan lain, Tathagata akan melihat serta mengenali orang tersebut. Ia akan memiliki kebajikan yang tak terbayangkan, tak tergambarkan, dan tiada bandingannya. Orang semacam itu akan sanggup mengemban karier dari Tathagata yang tercerahkan, yang tertinggi, yang paling sempurna. Mengapa? Subhuti, jika seseorang sudah puas dengan ajaran-ajaran kecil, jika ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, ia tak akan sanggup mendengarkan, menerima, mendaras, dan membabarkan Sutra ini pada orang lain. Subbhuti, di mana pun Sutra ini dijumpai, kawasan itu merupakan tempat para dewa, manusia, beserta asura menghaturkan persembahan. Tempat semacam itu adalah tempat yang suci dan hendaknya dihormati dengan upacara, pradaksina, dan persembahan bunga beserta dupa.”

16
“Subhuti, lebih jauh lagi, jika seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur, sewaktu mendaras dan mempraktikkan Sutra ini, dihina atau difitnah, akibat karma buruknya yang dilakukan di masa lampau, termasuk yang bakal membuahkan kelahiran yang menyedihkan, akan terhapuskan, dan orang itu akan merealisasi hasil pencerahan yang paling sempurna. Subhuti, di masa lampau sebelum Aku berjumpa dengan Buddha Dipankara, Aku telah melakukan persembahan serta menjadi pengikut dari 84.000 jutaan Buddha. Apabila seseorang mampu menerima, mendaras, mempelajari, dan mempraktikkan Sutra ini di masa akhir zaman, kebahagiaan yang dihasilkan oleh kebajikan ini adalah ratusan ribu kali lebih besar dibandingkan dengan apa yang pernah Kulakukan di masa lampau. Pada kenyataannya, kebahagiaan semacam itu tidak dapat dibayangkan atau dibandingkan dengan apa pun, bahkan tak dapat pula dihitung. Kebahagiaan semacam itu adalah tak terukur.
“Subhuti, kebahagiaan yang berasal dari kebajikan putra atau putri dari keluarga baik-baik yang menerima, mendaras, mempelajari, dan mempraktikkan Sutra ini di masa akhir zaman adalah begitu agungnya, sehingga jika Aku menjelaskannya sekarang secara terperinci, beberapa orang akan merasa sangsi dan tidak percaya, serta pikiran mereka mungkin kehilangan arah. Subhuti, hendaknya engkau ketahui bahwa makna Sutra ini melampaui pengertian konsepsi dan diskusi. Begitu pula, buah yang berasal dari menerima serta mempraktikkan Sutra ini melampaui pengertian konsepsi dan diskusi.”

17
Saat itu, Bhante Subhuti berkata pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, perkenankanlah saya bertanya lagi, jika putra-putri dari keluarga berbudi luhur ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, apa yang hendaknya mereka andalkan? Dan apa yang hendaknya mereka lakukan untuk mengendalikan pikiran mereka?”
Buddha menjawab, “Subhuti, seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur yang ingin merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna hendaknya berbuat sebagai berikut: “Kita hendaknya membimbing semua makhluk menuju pantai pencerahan, namun setelah semua makhluk ini terbebaskan, kita sesungguhnya tidak berpikir bahwa ada satu makhluk yang telah terbebaskan.’ Mengapa demikian? Subhuti, jika seorang Bodhisattwa masih terperangkap dalam gagasan mengenai adanya suatu aku, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, orang itu bukanlah Bodhisattwa yang sejati. Mengapa demikian?
“Subhuti, sesungguhnya tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Subhuti, bagaimana pendapatmu? Di masa lampau, sewaktu Tathagata hidup bersama Buddha Dipankara, apakah Ia merealisasi sesuatu yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Menurut pemahaman saya atas ajaran Buddha, tidak ada realisasi sesuatu yang disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna.”
Buddha berkata, “Subhuti, engkau benar. Sesungguhnya tidak ada apa yang dinamakan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang direalisasi oleh Tathagata. Karena jika ada hal semacam itu, Buddha Dipankara tidak akan bernubuat tentang Aku, ‘Di masa mendatang, Engkau akan menjadi Buddha bernama Sakyamuni.’ Nubuat ini dikemukakan karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang dapat dicapai yang disebut dengan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Mengapa? Maksud Tathagata ‘kedemikian segala sesuatu (dharma).’ Seseorang akan keliru kalau mengatakan bahwa Tathagata mencapai pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, karena tidak ada pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang dicapai. Subhuti, pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang direalisasi Tathagata bukanlah dapat dimengerti atau sukar untuk dipahami. Inilah sebabnya mengapa Tathagata berkata, ‘Semua dharma adalah Buddhadharma.’ Apa yang disebut seluruh dharma sesungguhnya bukanlah seluruh dharma. Itulah sebabnya mereka dinamakan semua dharma.
“Subhuti, kita dapat membandingkannya dengan gagasan mengenai tubuh manusia besar.”
Subhuti berkata, “Apa yang Tathagata sebut sebagai tubuh manusia besar, sesungguhnya bukan tubuh manusia besar.”
“Subhuti, begitu pula halnya dengan para Bodhisattwa. Jikalau seorang Bodhisattwa berpikir bahwa ia harus membebaskan semua makhluk, ia bukanlah seorang Bodhisattwa. Mengapa? Subhuti, tidak ada objek pikiran yang berdiri sendiri yang disebut Bodhisattwa. Itulah sebabnya, Buddha berkata bahwa semua dharma tidak mengandung suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Subhuti, jika seorang Bodhisattwa berpikir, ‘Aku harus menciptakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah,’ ia bukanlah seorang Bodhisattwa. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai Tanah Buddha yang tenteram dan indah, sesungguhnya bukanlah Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Itulah sebabnya ia dinamakan Tanah Buddha yang tenteram dan indah. Subhuti, Bodhisattwa yang memahami sepenuhnya prinsip tiada-diri dan bukan-dharma disebut oleh Tathagata sebagai Bodhisattwa sejati.”

18
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata manusia?”
“Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata manusia.”
Buddha bertanya, “Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Buddha memiliki mata dewa?”
Subhuti berkata, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata dewa.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata waskita?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Tathagata memang memiliki mata waskita.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagata memiliki mata kebijaksanaan yang melampaui segalanya?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata kebijaksanaan yang melampaui segalanya.”
Buddha bertanya, “Apakah Tathagata memiliki mata Buddha?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata memang memiliki mata Buddha.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Buddha melihat pasir di Sungai Gangga sebagai pasir?”
Subhuti berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, Tathagata juga menyebutnya pasir.”
“Subhuti, jika terdapat sebanyak butiran-butiran pasir di Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya dan terdapat Tanah Buddha untuk setiap butiran pasir di seluruh Sungai Gangga beserta anak-anak sungainya itu, apakah Tanah-Tanah Buddha itu dapat dikatakan banyak?”
“Ya, Bhagawa Junjungan Dunia, sangat banyak.”
Buddha berkata, “Subhuti, betapapun banyaknya para makhluk yang ada di keseluruhan Tanah Buddha ini, meskipun mereka masing-masing mempunyai mentalitas berbeda, Tathagata memahami mereka semuanya. Mengapa demikian? Subhuti, apa yang Tathagata sebut sebagai mentalitas-mentalitas yang berbeda sesungguhnya bukanlah mentalitas-mentalitas yang berbeda. Itulah sebabnya, mereka disebut mentalitas-mentalitas yang berbeda.”
“Mengapa? Subhuti, pikiran masa lalu tidaklah dapat digenggam, begitu pula pikiran sekarang ataupun mendatang.”

19
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga yang dipersembahan sebagai wujud kedermawanannya, apakah orang itu akan mendapatkan banyak kebahagiaan karena perbuatan bajik tersebut?”
“Ya, sangat banyak, Bhagawa Junjungan Dunia.”
“Subhuti, jika kebahagiaan semacam itu dibayangkan sebagai sesuatu yang terpisah dari seluruh hal lainnya, Tathagata tak akan menyebutnya banyak, namun karena ia tak dapat digenggam, Tathagata mengatakan bahwa kebajikan orang itu membawa banyak kebahagiaan.”

20
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari tubuh fisik-Nya yang sempurna?”
“Tidak,
Bhagawa Junjungan Dunia. Apa yang Tathagata sebut sebagai tubuh fisik yang sempurna sesungguhnya bukanlah tubuh fisik yang sempurna. Itulah sebabnya ia disebut sebagai tubuh fisik yang sempurna.”
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagata dilihat dari raut wajah-Nya yang sempurna?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Mustahil melihat Tathagata dari raut wajah apa pun yang sempurna. Mengapa? Karena apa yang Tathagata sebut sebagai raut wajah yang sempurna sesungguhnya bukanlah raut wajah yang sempurna. Itulah sebabnya disebut raut wajah yang sempurna.”

21
“Subhuti, janganlah mengatakan bahwa Tathagata membentuk gagasan dalam pikiran bahwa “Aku akan membabarkan ajaran.” Janganlah berkesimpulan demikian. Mengapa? Jika seseorang mengatakan bahwa Tathagata memiliki sesuatu untuk diajarkan, orang itu meremehkan Buddha karena ia tak memahami apa yang Kukatakan. Subhuti, membabarkan Dharma sesungguhnya berarti tiada pembabaran yang disampaikan. Inilah pembabaran Dharma yang sejati.”
Selanjutnya, Bhante Subhuti berkata pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, di masa mendatang, akankah ada makhluk-makhluk hidup yang menaruh keyakinan sepenuhnya sewaktu mendengarkan sabda-sabda ini?”
Buddha berkata, “Subhuti, Makhluk-makhluk tersebut bukanlah makhluk-makhluk hidup maupun bukan-makhluk-makhluk hidup. Mengapa demikian? Subhuti, apa yang Tathagata sebut bukan-makhluk-makhluk hidup sesungguhnya adalah makhluk-makhluk hidup.”

22
Subhuti bertanya pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, Apakah pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna yang dicapai oleh Buddha bukan pencapaian?”
Buddha berkata, “Benar sekali, Subhuti. Sehubungan dengan pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, Aku tidaklah mencapai apa pun. Itulah sebabnya, ia disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna.”

23
“Lebih jauh lagi, Subhuti, pikiran itu di mana pun sama. Karena ia tidaklah tinggi, tidak juga rendah, maka ia disebut pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna. Hasil dari pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna direalisasi dengan mempraktikkan seluruh kebajikan berdasarkan semangat tiadanya diri, tiadanya sosok pribadi, tiadanya sosok makhluk hidup dan tiadanya jangka kehidupan. Subhuti, apa yang disebut berbuat kebajikan sesungguhnya bukanlah berbuat kebajikan. Itulah sebabnya itu disebut berbuat kebajikan.”

24
“Subhuti, jika seseorang mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga hingga setinggi Gunung Sumeru yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanan, kebahagiaan yang dihasilkannya masih lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang terampil menerima, mempraktikkan, dan menjelaskan Sutra Vajracchedika Prajñaparamita pada orang lain. Kebahagiaan yang dihasilkan dari kebajikan orang yang mempraktikkan Sutra ini, walau hanya sebait gatha empat baris, tidaklah dapat digambarkan memakai perumpamaan atau bilangan .”

25
Subhuti, janganlah mengatakan bahwa Tathagata memiliki gagasan, “Aku akan menyeberangkan para makhluk menuju pantai pembebasan.” Janganlah berpikir demikian, Subhuti. Mengapa? Sesungguhnyalah tiada satu makhluk pun yang Tathagata seberangkan ke pantai seberang. Jikalau Tathagata berpikir demikian, Ia masih terperangkap dalam gagasan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Subhuti, apa yang Tathagata sebut sebagai diri, pada hakikatnya bukanlah diri sebagaimana yang dipahami oleh orang awam mengenai adanya suatu diri. Subhuti, Tathagata tidaklah memandang barang seorang pun sebagaimana orang awam. Itulah sebabnya, Ia dapat menyebut mereka orang awam.”

26
“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah seseorang merenung mengenai Tathagata melalui ketiga puluh dua tanda fisik?”
Subhuti menjawab, “Ya, Bhagawa Junjungan Dunia. Kita hendaknya menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik dalam perenungan mengenai Tathagata.”
Buddha berkata, “Jikalau engkau mengatakan bahwa engkau dapat menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik untuk mengenali Tathagata, lalu apakah seorang Cakravartin juga adalah Tathagata?”
Subhuti berkata, “Bhagawa Junjungan Dunia, saya memahami ajaran-Mu. Seseorang hendaknya tidak menggunakan ketiga puluh dua tanda fisik dalam perenungan mengenai Tathagata.”
Lalu Bhagawa Junjungan Dunia mengucapkan gatha sebagai berikut:
“Seseorang yang mencari Aku dalam wujud jasmaniah atau mencari Aku dalam suara ia telah menapaki jalan yang salah dan tak dapat melihat Tathagata.”

27
“Subhuti, jika engkau berpikir bahwa Tathagata merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, serta tidak perlu memiliki seluruh tanda-tanda fisik tersebut, engkau keliru. Subhuti, janganlah menganggap demikian. Janganlah mengira bahwa jika seseorang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna, ia perlu memandang seluruh objek pikiran sebagai tidak ada, menyingkir dari kehidupan. Janganlah menganggap demikian. Seseorang yang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna tak berpandangan bahwa seluruh objek pikiran tidak ada serta menyingkir dari kehidupan.”

28
“Subhuti, jika seorang Bodhisattwa mengisi tiga juta jagat raya dengan tujuh macam harta berharga sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga beserta seluruh anak sungainya, yang dipersembahkan sebagai wujud kedermawanan, kebahagian yang berasal dari kebajikan tersebut masih kurang dibanding kebahagiaan seseorang yang memahami dan sepenuh hati menerima kebenaran bahwa seluruh dharma pada hakikatnya tiada mengandung inti yang kekal, serta sanggup hidup bersesuaian dengan kebenaran ini. Subhuti, mengapa demikian? Karena seorang Bodhisattwa tidaklah perlu mengumpulkan kebajikan maupun kebahagiaan.
Subhuti bertanya pada Buddha, “Bhagawa Junjungan Dunia, apakah yang Engkau maksudkan bahwa seorang Bodhisattwa tidaklah perlu mengumpulkan kebajikan maupun kebahagiaan?”
“Subhuti, seorang Bodhisattwa merealisasi kebajikan dan kebahagiaan, namun tidak terperangkap dalam gagasan mengenai kebajikan dan kebahagiaan. Itulah sebabnya Tathagata mengatakan bahwa seorang Bodhisattwa tidak perlu mengumpulkan kebajikan dan kebahagiaan.”

29
“Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Bhagawa datang, pergi, duduk, dan berbaring, orang itu tidak memahami apa yang Kukatakan. Mengapa? Makna dari Tathagata adalah “tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana.” Itulah sebabnya, Ia disebut Tathagata.”

30
“Subhuti, jika seorang putri atau putra dari keluarga berbudi luhur menggiling tiga juta jagat raya menjadi partikel-partikel debu, apakah engkau berpendapat bahwa partikel-partikel itu banyak sekali?”
Subhuti menjawab, “Tentu saja banyak sekali, Bhagawa Junjungan Dunia. Mengapa? Jika partikel-partikel debu benar-benar ada dengan memiliki inti yang kekal, Buddha tidak akan menyebutnya sebagai partikel-partikel debu. Apa yang Buddha sebut sebagai partikel-partikel debu pada hakikatnya bukanlah partikel-partikel debu. Itulah sebabnya, semua itu dapat disebut partikel-partikel debu. Bhagawa Junjungan Dunia, apa yang Tathagata sebut sebagai tiga juta jagat raya adalah bukan jagat raya. Itulah sebabnya semua itu disebut jagat raya. Mengapa? Jikalau semua jagat raya sungguh-sungguh eksis, semua itu merupakan gabungan partikel-partikel yang terkondisi berpadu membentuk sebuah objek. Apa yang Tathagata sebut sebagai gabungan pada hakikatnya bukanlah sebuah gabungan. Itulah sebabnya fenomena itu disebut gabungan.”
“Subhuti, apa yang disebut gabungan itu hanyalah cara konvensional mengungkapkan sesuatu. Ia tidaklah memiliki landasan nyata. Hanya para awam saja yang terperangkap dalam istilah-istilah konvensional.”

31
“Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Buddha menyatakan pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, apakah orang itu memahami apa yang Aku maksudkan?”
“Tidak, Bhagawa Junjungan Dunia. Orang itu tidaklah memahami Tathagata. Mengapa? Apa yang Tathagata sebut sebagai pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan, pada hakikatnya bukanlah pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan. Itulah sebabnya mereka disebut sebagai pandangan mengenai suatu diri, sesosok pribadi, sesosok makhluk hidup, atau suatu jangka kehidupan.”
“Subhuti, seseorang yang merealisasi pikiran tercerahkan yang tertinggi dan paling sempurna mengetahui bahwa inilah kebenaran semua dharma, hendaknya memandang bahwa seluruh dharma adalah demikian adanya, hendaknya meyakini pengertian mengenai seluruh dharma tanpa disertai konsepsi apa pun mengenai dharma. Subhuti, apa yang disebut konsepsi mengenai berbagai dharma, sebagaimana yang dikatakan Tathagata, bukanlah konsepsi mengenai berbagai dharma. Itulah sebabnya ia disebut konsepsi mengenai berbagai dharma.”

32
“Subhuti, jika seseorang mempersembahkan tujuh macam harta berharga yang tak terhingga jumlahnya mengisi seluruh jagat raya yang tiada batasnya sebagai wujud kedermawanan, kebahagiaan yang berasal dari kebajikan tersebut tidaklah dapat dibandingkan dengan kebahagiaan seorang putra atau putri dari keluarga berbudi luhur yang merealisasi pencerahan serta menerima, membaca, mendaras, mempraktikkan Sutra ini, dan menjelaskannya pada orang lain, walau hanya sebait gatha empat baris. Apakah makna penjelasan ini? Tanpa terperangkap oleh berbagai ciri, sesuai dengan apa adanya saja, tanpa tersinggung. Mengapa demikian?
“Segala sesuatu yang terbentuk dari paduan unsur adalah laksana mimpi,
bayangan, tetesan embun, sebesit kilat. Demikianlah cara merenungkan semua itu, Begitulah cara mengamati semua itu.”
Setelah mendengarkan Buddha membabarkan Sutra ini, Bhante Subhuti, para biksu, biksuni, upasaka, dan upasika, beserta para dewa dan asura, merasa gembira dan penuh keyakinan. Mereka bertekad mempraktikkan ajaran-ajaran ini.

Vajracchedika Prajñaparamita Sutra,
Taisho Revised Tripitaka 335