Hidup Pada Saat Ini

Hidup Pada Saat Ini

Begawan Buddha, aku menyadari energi kebiasaan terdalamku adalah pelupa. Aku sering membiarkan batinku memikirkan masa lampau, sehingga aku terbawa ke dalam kesedihan dan penyesalan. Ini menyebabkan aku kehilangan banyak kesempatan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang menakjubkan dari hidup di masa sekarang, pada saat ini. Aku tahu banyak di antara kita yang terperangkap oleh masa lalu. Kita menghabiskan waktu untuk mengeluh dan menyesali sesuatu yang telah hilang. Ini merampas kesempatan kita untuk merasakan dengan kesegaran, keindahan dan hal-hal menakjubkan yang dapat memperkuat dan mentransformasi kita pada saat ini. Kita tidak bisa merasakan langit biru, awan putih, pohon hijau, bunga kuning, suara angin pada pohon cemara, suara aliran sungai, suara burung bernyanyi, dan suara anak-anak tertawa di bawah sinar mentari pagi. Kita juga tidak dapat merasakan hal-hal menakjubkan yang ada dalam diri kita.

Kita tidak dapat melihat bahwa kedua mata merupakan dua permata yang menakjubkan. Ketika membuka mata, kita dapat bersentuhan dengan dunia yang terdiri dari aneka warna dan bentuk yang berbeda. Kita tidak mengenali bahwa kedua telinga kita merupakan organ yang menakjubkan. Jika kita mendengar dengan sadar penuh melalui kedua telinga, kita dapat mendengar suara angin semilir pada dahan pohon, kicauan burung, atau suara ombak yang merdu di pagi hari. Jantung, paru-paru, dan otak kita, beserta kapasitas kita untuk merasakan, berpikir dan mengamati juga merupakan keajaiban hidup. Gelas yang berisi air segar atau jus jeruk di tangan juga merupakan keajaiban hidup. Kendati aku sering tidak dapat bersentuhan dengan cara hidup sadar penuh pada saat ini, karena aku tidak latihan bernapas dan berjalan dengan sadar-penuh untuk kembali pada saat ini.

Buddha, mohon engkau menjadi saksiku. Aku berjanji untuk berlatih merealisasikan ajaran yang telah engkau babarkan. Aku tahu bahwa tanah suci bukanlah sebuah janji ilusi di masa depan. Tanah suci yang menakjubkan dalam semua aspek tersedia untukku saat ini juga. Jalan pada tanah merah dengan batasan rumput hijau merupakan tanah suci. Bunga violet juga merupakan tanah suci.  Suara aliran sungai yang kecil, batu karang yang bercahaya pada tempatnya juga merupakan tanah suci.  Tanah suci kita bukan hanya harum bunga teratai dan kumpulan bunga krisan saja, melainkan juga lumpur yang menumbuhkan akar teratai dan juga pupuk kompos yang memelihara krisan.

Tanah suci memiliki wujud luar yang mencerminkan kehidupan dan kematian, tetapi ketika melihat secara mendalam aku melihat kehidupan dan kematian keduanya saling terkait. Yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya. Jika kulihat lebih dalam lagi, aku melihat tidak ada kehidupan dan kematian; hanya ada manisfestasi. Aku tidak perlu menunggu sampai tubuh ini hancur untuk masuk ke tanah suci Buddha. Dengan cara aku melihat, berjalan, dan bernapas, aku dapat menghasilkan energi kesadaran penuh dan konsentrasi, mengizinkan aku untuk hadir di tanah suci dan merasakan langsung berbagai keajaiban hidup yang ditemukan di sini dan sekarang.

Menyentuh Bumi

Buddha, aku menyentuh bumi secara mendalam agar bersentuhan denganmu dan tanah suci pada saat ini.

Penghidupan Benar

Penghidupan Benar

Begawan Buddha, aku ingin menerapkan penghidupan benar. Aku bertekad tidak akan mencari nafkah dengan cara merusak welas asihku. Sebagai seorang praktisi latihan kewawasan (kesadaran penuh) pertama, aku bertekad tidak terlibat dalam profesi yang memaksaku untuk membunuh makhluk hidup, menghancurkan atau menyebabkan polusi lingkungan. Aku juga tidak akan mencari nafkah lewat eksploitasi dan menyakiti sesama manusia. Aku bertekad untuk tidak berinvestasi pada perusahaan yang hanya menguntungkan segelintir orang dengan mengorbakan kesempatan hidup masyarakat luas. Aku tidak akan berinvestasi pada perusahaan yang menyebabkan polusi lingkungan. Aku bertekad tidak mencari nafkah dengan memanfaatkan kepercayaan mistis masyarakat seperti menjual jimat dan guna-guna, membaca garis tangan, meramal keberuntungan, menjadi medium makhluk halus, atau mengusir makhluk halus.

Sebagai seorang monastik, aku tidak akan menjadi pembacaan doa untuk pengiriman energi dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Aku tidak akan memasang harga pada pelayanan rumah duka atau seremoni bagi mereka yang telah meninggal dunia. Begawan Buddha, Aku berjanji, jika aku tidak sengaja jatuh ke dalam penghidupan keliru seperti itu atau terpaksa masuk ke dalam penghidupan keliru yang tidak bajik itu, Aku akan mencari cara untuk keluar dan melepaskan diri dari situasi dan penghidupan keliru itu, kemudian memulai profesi baru yang sesuai dengan semangat penghidupan benar. Aku sadar, seandainya karir yang aku jalani bisa menumbuhkan welas asih setiap hari dan menumbuhkan kemampuan untuk menolong pihak lain, maka apa pun profesi saya, apakah seorang guru, perawat, dokter, penggiat lingkungan, ilmuwan, pekerja sosial, psikoterapis, ataupun profesi apa saja akan membuat aku sangat bahagia.

Memiliki penghidupan benar, aku akan punya kesempatan untuk menumbuhkan pengertian dan cinta kasih demi membantu pihak lain dan semua orang untuk lepas dari penderitaanya.

Begawan Buddha, Aku bertekad untuk hidup sederhana, tidak mengonsumsi berlebihan, agar aku tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mencari uang. Aku bertekad untuk memberikan watku bagi diri sendiri untuk hidup lebih bermakna dan memiliki kebebasan saat bekerja. Aku bertekad tidak terlena dalam berbagai jenis pekerjaan, mencari kerja sampingan demi mendapatkan uang tambahan. Aku brtekad untuk tidak mencari kebahagiaan dalam kesibukan dan mengonsumsi.

Aku akan menemukan kebahagiaan melalui pengembangan kebebasan internal dan mengembangkan cinta kasih. Sebagai monastik, aku bertekad tidak akan tenggelam dalam berbagai tugas dengan mengatasnamakan Buddha, yang sebetulnya demi mendapatkan pujian, jabatan, atau keuntungan pribadi. Kadang-kadang tugas membangun wihara, memahat patung, mengelola organisasi, seremoni, dan mengadakan retret bisa menjadi aktivitas pemuasan diri belaka. Apabila aku mendapat tugas seperti itu, aku bertekad untuk menciptakan keharmonisan pandangan dan pikiran dengan anggota sangha lainnya. Membangun dan mengelola pekerjaan organisasi merupakan kesempatan untuk bekerja sama dan berlatih melepaskan kebiasaan berpikir bahwa hanya ide aku yang paling bagus dan ide orang lain tidak bagus sama sekali.

Aku bertekad untuk mendengar secara mendalam atas ide dari semua anggota komunitas agar bisa menggabungkan ide-ide tersebut menjadi kebijaksaan kolektif untuk menjadi landasan keputusan bersama. Apabila aku melakukan hal demikian, aku akan bisa membangun kekeluargaan dan melepaskan kesombongan pribadi yang berpikir aku adalah ego terpisah. Melalui cari demikian aku bisa maju dalam jalur transfomasi dan penyembuhan. Aku tahu, jika berbagai ide dan gagasan bisa diharmoniskan, maka apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan menjadi tugas tulus demi Buddha, Dharma, dan Sangha. Semua pekerjaan dilakukan demi membebaskan semua mkhluk dari penderitaan dan menolong banyak orang.

Sebagai monstik, aku bertekad tidak membangun gubuk atau wihara yang terpisah dari sangha lainnya, sebagaimana harimau meninggalkan hutan. Aku hanya akan mengemban tugas yang telah diberikan oleh sangha dan aku bertekad untuk bekerja sama dengan semangat perdamaian dan respek semua praktisi dalam empat lapisan sangha.

Begawan Buddha, di masa lalu aku telah keliru dengan cara menenggelamkan diri dalam berbagai jenis pekerjaan. Aku bekerja demi mendapatkan pujian, kekuasaan, dan mendapatkan keuntungan dan tidak menyadarinya, bahkan percaya pekerjaan yang aku lakukan masih demi Buddha. Melalui cara menyelami ajaran Buddha aku sudah tersadarkan atas kekeliruan masa lalu dan dengan sepenuh hati menyatakan penyesalan.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam kesatupaduan sempurna, Aku menyentuh bumi tiga kali dihadapanmu, Engkau pemenang dunia yang mampu menyelamatkan manusia, Engkau yang telah tercerahkan sempurna, dan dipuja dan dipuji oleh seluruh dunia. [Genta]

Melepas: Memulai Lembaran Baru

Melepas: Memulai Lembaran Baru
Meditasi makan dengan hening bersama

Minggu itu, dengan diiringi hujan gerimis, tak menyurutkan niat kami untuk tetap berlatih bersama. Hari itu kami berkumpul pada pukul 6 pagi untuk berlatih bersama, sebelum berlatih kami menyempatkan diri untuk melepas ikan lele ke sungai, memberikan kebebasan dan kehidupan bagi ikan-ikan tersebut.

Tempat latihan kali ini kami laksanakan di luar wihara yaitu di Candi Kedaton, salah satu bagian dari kompleks percandian Muaro Jambi. Setelah pelepasan ikan di tepi sungai kami pun menuju Candi Kedaton untuk bersiap-siap latihan, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi, kami memulai latihan dengan makan pagi dengan hening dan berkesadaran selama 20 menit. Setelah sarapan, kami lanjutkan dengan peace walk.

Mengikuti Pemimpin

Bhante memimpin di depan, kami mengikuti tanpa memikirkan akan kemana dan tiba dimana. Semua peserta mengikuti dengan hening. Di sini Saya menyadari bahwa saat bersama komunitas, kita harus mengikuti kemanapun bhante (sebagai pemimpin) berjalan. Muncul pemikiran seharusnya bhante bisa mengitari kompleks lebih luas lagi, tapi kenapa bhante hanya berjalan mengitari candi saja.

Harusnya bhante bisa seperti ini dan seperti itu.  Begitulah pikiran berseliweran, tapi tetap harus mengikuti kemana bhante berjalan, dengan tetap tenang, hening serta sadar penuh. Saat bersama komunitas, alangkah indahnya tetap bersama-sama dalam satu arah, sehingga terlihat harmonis, indah, dan memudahkan untuk di foto (hasil foto diibaratkan pada kualitas latihan yang diingat lebih lama). Mengalir bagaikan sungai untuk mencapai lautan, bila sendiri-sendiri akan menguap di jalan sebelum mencapai lautan.

Saat berjalan di belakang bhante, saya tidak melihat ke belakang, ternyata saya berjalan berbeda dengan yang lain, saya menyadari ini setelah melihat foto, jika tidak melihat foto saya tidak tahu jika saya beda sendiri.
Berjalan di belakang bisa melihat keseluruhan anggota komunitas, namun berjalan di depan akan sulit untuk memperhatikan komunitas. Terkadang harus berjalan di depan untuk memimpin namun terkadang juga harus berjalan di belakang untuk memperhatikan, mengayomi dan memberitahu saat ada yang keluar dari rel.

Di sepanjang perjalanan juga ada binatang-binatang kecil yang harus kita perhatikan jangan sampai terinjak. Sebisa mungkin menghindar agar tidak sampai menginjak mereka. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal-hal kecil yang harus kita usahakan untuk tidak menjadikannya hal besar, sebisa mungkin menghindari untuk tidak menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain (makhluk lain).

Watering flower & beginning a new

Ini saatnya saling mengungkapkan ketidaksukaan atau kekesalan yang pernah dialami terhadap sahabat yang duduk di hadapan kita. Setelah mengungkapkan hal yang negatif, kami juga mengungkapkan hal yang positif, saling memaafkan dan siap memulai lembaran baru, tentunya diiringi oleh tetesan air mata.

Terima kasih mendalam kepada Thay yang telah mengajarkan metode latihan yang sangat membantu saya dan komunitas yang tak lepas dari energi-energi negatif kami saat kami kelelahan dengan kegiatan di vihara, kami masih bisa bersentuhan dengan keindahan Dharma.

Sudut Pandang Teman

Saat melihat hasil foto, ada foto-foto yang di-shoot dari jarak jauh sehingga view yang terfoto adalah Candi secara utuh sedangkan kami terlihat sangat kecil.  Bagi fotografer, mungkin yang dianggap objek yang bagus adalah Candi, namun bagi kami tentunya kami ingin terlihat dengan jelas jika kami sedang berlatih.

Dalam keseharian, kita punya pandangan dan pengertian kita masing-masing, setiap orang punya pembenarannya sendiri, kita mau orang lain untuk mengerti dan mengikuti maunya kita, namun sulit bagi kita untuk mengerti dan mengikuti maunya orang lain.

Bila si fotografer bisa mengerti keinginan kami, tentu lain waktu dia akan dipanggil lagi, namun bila dia ‘ngeyel‘ dengan pembenarannya, lain waktu dia tidak akan dipanggil lagi sebagai fotografer. Mungkin dia tidak cocok menjadi fotografer tapi lebih cocok menjadi tour guide.

Widyamaitri praktisi mindfulness, volunteer retreat dan Day of Mindfulness, juga anggota Ordo Interbeing

Pesan Thich Nhat Hanh untuk Generasi Muda

Pesan Thich Nhat Hanh untuk Generasi Muda

Dikutip dari salah satu buku Thay “Nói với tuổi hai mươi” (diterbitkan pada tahun 1960-an), disusun dan diterjemahkan oleh Brother Phap The dan teman-teman.

 

Revolusi
Bukan hanya orang tua saja yang telah meninggalkan mimpi mereka. Banyak anak muda juga telah meninggalkan mimpi mereka. Mungkin mereka terlihat seperti “mayat hidup” bagimu, tetapi kamu perlu memberi ruang bagi mereka. Mereka membutuhkan cinta, sama halnya seperti kita semua. Kita ada di sini hari ini karena kita sadar akan situasi yang terjadi di masyarakat. Kita tidak ingin hidup di dalam ilusi ataupun mati di dalam ilusi. Kita harus memberontak melawan kekuatan yang mengarahkan hidup kita pada kehidupan yang tidak bermakna dan penuh ilusi. Kuncinya adalah mengetahui bagaimana caranya ‘memberontak’. Ada cara-cara memberontak yang hanya akan menciptakan lebih banyak keterikatan dan penderitaan. Namun, ada juga cara-cara pemberontakan yang dapat memberi kita kebebasan yang sesungguhnya. Ini adalah apa yang ingin saya sampaikan kepadamu hari ini.

Jangan mengharapkan perubahan untuk datang dari luar. Namun, jika di dalam dirimu, kamu masih diliputi oleh kesepian dan ketakutan, kamu juga tidak dapat melakukan apa-apa. Di masa lalu, banyak dari mereka yang memberontak, tetapi dengan penuh kekeliruan dan pemisahan. Oleh karena itu masyarakat menghukum, membenci, dan mengabaikan mereka. Sebagai gantinya, rasa kesepian dan kebencian semakin bertumbuh di dalam diri mereka.

Rasa Kesepian
Kadang kita merasa sangat sendirian. Bahkan, di dalam keluarga kita sendiri pun kita juga merasa sendirian. Kita menarik diri, berharap dapat menemukan kedamaian, tetapi nyatanya tidak berhasil. Kemudian kita mencoba membuat diri kita tenggelam di tengah keramaian. Namun, ketika kelompok tersebut bubar, kita merasa kesepian, lebih dari yang kita rasakan sebelumnya. Kita tidak memiliki keberanian untuk menghadapi rasa kesepian kita. Kita terus saja berlari hari demi hari. Janganlah terus tenggelam dalam lautan kesepian yang kamu ciptakan. Belajarlah untuk menenangkan pikiranmu, sehingga badai di dalam dirimu dapat tenang, dan langit bisa cerah. Ingatkanlah dirimu bahwa kesulitan merupakan bagian dari hidup manusia pada umumnya, dengan demikian kamu akan mampu untuk mengatasi penderitaan dalam dirimu. Kamu tidak sendirian dan hidup sangatlah berharga untuk dijalani. Hidup itu indah. Langit biru di dalam matamu adalah keajaiban. Matamu juga merupakan keajaiban. Jagalah tubuh dan pikiranmu. Mereka merupakan manifestasi dari kehidupan, kebenaran dan anugerah.

Kebutuhan mendalam dan kebutuhan superfisial
Saya merasa prihatin melihat begitu banyak orang menyia-nyiakan hidup mereka. Mereka tidak tahu bagaimana hidup seutuhnya. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendengarkan suara hati mereka. Mereka terus mengejar hal-hal yang tidak diperlukan, tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya paling berharga dalam hidup ini.

Kita telah menciptakan begitu banyak kebutuhan artifisial bagi diri kita sendiri. Banyak dari kita merasa “perlu” minum alkohol, menggunakan narkoba. Kita menjadi kecanduan dan membiarkan hal-hal tersebut mengatur hidup kita. Realitanya adalah kita tidak pernah membutuhkan alkohol ataupun obat-obat terlarang. Hal-hal tersebut tidak membantu kita untuk bertumbuh dengan baik, sebaliknya, justru membuat diri kita hancur. Kebutuhan kita yang sejati selayaknya akan membuat diri kita menjadi lebih baik, serta membawa kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan bagi diri kita.

Ada orang yang tidak bisa tinggal diam ketika mereka mendengar teman mereka mengalami kecelakaan. Entah hujan ataupun cerah, tidak peduli malam ataupun siang, mereka akan segera pergi untuk membantu tanpa ragu. Mereka melakukan hal ini karena kebutuhan: kebutuhan untuk mencintai. Kebutuhan mendalam ini menggerakkan seseorang untuk mengekspresikan dan mengembangkan sifat tertinggi mereka.

Keberhasilanmu bergantung pada kemampuan untuk memahami antara apa yang benar-benar kamu butuhkan dan apa yang tidak kamu butuhkan. Jika kamu meluangkan waktu untuk mendengar hatimu, kamu akan mampu mendengar kebutuhan paling dalam untuk bertumbuh, memahami, dan cinta, serta kamu akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang. Saya jamin: Saya tidak ingin membuat kamu menjadi seorang “Buddhis yang sempurna”, saya juga tidak meminta kamu untuk melepaskan kegembiraan masa muda yang kamu miliki. Sebaliknya, saya ingin melihat kamu bebas, bebas untuk tumbuh dan menyentuh kebahagiaan sejati. Saya ingin melihat kamu bebas, tapi, perlu kamu sadari bahwa kebebasan tanpa pemahaman dapat menjadi sumber penderitaan. Kamu bebas memilih apa yang akan kamu makan, tetapi, jika kamu tidak tahu makanan apa yang baik untuk tubuhmu, cepat atau lambat, kamu akan menderita karena akibatnya. Agar menjadi benar-benar bahagia, kebebasan harus berjalan beriringan dengan pemahaman.

Aspirasi
Mendengar apa yang diinginkan oleh hatimu sudah termasuk menyentuh kebahagiaan. Kamu tidak perlu “menciptakan” suatu mimpi atau aspirasi. Mimpimu sudah ada di dalam dirimu, sebagaimana tujuan sudah ada di jalur. Kamu hanya perlu menyesuaikan arahnya. Alihkan haluan hidupmu selagi masih ada waktu. Gunakan energi yang kamu miliki.

Terkadang kamu memiliki pandangan bahwa orang yang lebih tua pasti memiliki kekuatan yang lebih besar dari dirimu. Kamu mengkritik mereka karena mereka tidak menggunakannya dengan bijak dan gagal membantu masyarakat. Namun, jika kamu berada di posisi mereka, kamu akan sadar bahwa mereka juga memiliki kesulitan mereka sendiri. Jangan berharap terlalu banyak dari mereka, jangan berkecil hati, dan jangan putus asa. Dengan demikian kamu dapat menghemat banyak energi. Jangan berpikir bahwa hanya pemerintah revolusioner yang dapat memimpin revolusi. Karena mungkin kamu akan menunggu selamanya.

Sebaliknya, gunakan kecerdasan, bakat dan sumber daya yang kamu miliki. Lakukan apa yang dapat kamu lakukan sesuai kemampuanmu. Revolusi atau perubahan sesungguhnya dimulai dari bawah ke atas. Semua hal positif yang kamu tawarkan akan memberikan pengaruh yang lebih baik bagi masyarakat. Saya yakin kamu dapat membantu menciptakan dunia yang lebih baik, sebagaimana saya yakin bahwa potensi generasi muda tidak terbatas.

Edukasi
Mari kita berbicara tentang pendidikan. Mengapa kita belajar? Untuk lulus ujian? Untuk mendapat gelar? Untuk mencapai posisi tertentu di masyarakat? Apakah hal-hal tersebut hanyalah alasannya? Tidak. Alasan pertama dan terpenting untuk belajar adalah untuk mendapatkan kegembiraan dari belajar dan membuka wawasan baru.

Ada banyak hal yang bisa kita temukan, namun kita tidak boleh menutup mata terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitar kita. Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah mengurangi studi saya tentang agama Buddha dan filsafat agama, agar saya memiliki lebih banyak waktu untuk belajar tentang cara membangun komunitas, pekerjaan sosial, dan pertanian. Dulu, saya tidak terlalu tertarik mempelajari hal-hal ini, tetapi sekarang saya senang meneliti hal-hal ini karena saya tahu betapa penting dan bermanfaat pengetahuan ini.

Namun, berhati-hatilah dengan pengetahuan intelektual semata, karena hal tersebut bisa menjadi sangat abstrak. Tetaplah melihat realitas, periksalah semua yang kamu pelajari, dan simpanlah hal-hal yang memang dilandasi pada pengalaman nyata dari kehidupan. Janganlah kamu berpikir bahwa kamu tidak akan bisa melampaui gurumu. Teruslah belajar. Jangan terjebak pada apa yang telah kamu pelajari, karena hal ini akan mencegah dirimu untuk mengenal dan merangkul gagasan serta wawasan baru.

Cinta
Cinta adalah kebutuhan dasar setiap orang. Hanya dengan cinta, dalam bentuk apapun, asalkan cinta itu sehat dan sejati maka dapat memecahkan dinding kesepian.

Bagi sebagian besar dari kita, Ibu kita adalah orang pertama yang mengajarkan kita tentang cinta. Saat kita lahir, kita masih sangat kecil, sangat lemah, dan tidak mampu membela diri kita sendiri. Kapanpun kita membutuhkan ibu kita, kita hanya perlu menangis, dan Ibu kita akan langsung muncul bagaikan malaikat di samping kita. Hanya dengan seperti itulah kita bisa merasa lengkap dan bahagia. Cinta selalu menjadi jawaban atas suatu kebutuhan, kekurangan, dan penderitaan. Seiring dengan tumbuhnya kamu menjadi pribadi yang lebih mandiri, kamu semakin lama semakin tidak terlalu membutuhkan ibu dan ayah. Itulah mengapa rasa cinta yang kamu miliki untuk mereka mungkin dapat sedikit berkurang. Namun, aliran cinta antara dirimu dan orang tuamu masih tetap hidup, jauh di dalam dirimu. Kamu hanya perlu kembali kepadanya, membiarkan rasa cinta itu muncul kembali dan menyegarkan hubunganmu.

Sekarang saya ingin berbagi dengan Anda tentang cinta romantis. Kamu mungkin akan bertanya-tanya atas dasar apa seorang biksu dapat berbicara tentang cinta romantis. Namun, saya masih memiliki pandangan pribadi yang ingin saya bagikan denganmu. Pada usiamu sekarang ini, cinta romantis dapat menjadi sebuah panggilan kuat, yang dapat dengan mudah menutupi panggilan-panggilan lain di dalam hatimu. Menutupi, tapi tidak berarti membuatnya tidak bersuara.

Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Cinta dapat membantu menyembuhkan luka yang dalam atau mewujudkan aspirasi yang besar, asalkan kamu tahu bagaimana menunggunya, mengenalinya, menyambutnya, melakukannya, melindunginya, merawatnya, serta mengarahkannya. Tentu saja, kamu akan menemukan berbagai kesulitan dan kesedihan. Tetapi jangan khawatir. Belajarlah dari pengalamanmu, sehingga kamu mampu mencintai dengan lebih baik dan lebih baik lagi.

Hubungan romantis yang pahit penuh dengan penderitaan dan bisa sangat merusak. Kamu tahu bahwa hubungan yang kamu jalani bersifat membangun ketika hubungan itu membantu dirimu untuk mencintai kehidupan, dan mengisi dirimu dengan antusiasme, keberanian, kekuatan, dan dedikasi. Tidaklah mudah untuk menemukan pasangan yang tepat. Jangan berpikir bahwa keindahan fisik, talenta, atau reputasi dapat menjadi tolak ukur untuk menjamin sebuah hubungan yang memuaskan. Cobalah untuk memahami orang lain – karakter, preferensi, aspirasi, dan tujuan hidup mereka. Kemudian tanyalah pada dirimu apakah mereka cocok untukmu. Cocok tidak berarti harus sama, tetapi lebih kepada tidak saling bertentangan, dan mampu melengkapi satu sama lain.

Pasangan yang cerdas tahu bagaimana cara menyelaraskan aspirasi mendalam mereka. Menemukan pasangan yang tepat dan mampu mencintai dengan cara yang tepat merupakan suatu kebahagiaan yang besar. Ingatkan dirimu sesering mungkin, dan biarkan orang lain mengetahui betapa beruntungnya kamu dapat bersama dengan pasanganmu. Kesadaran ini akan membantu dirimu untuk menghargai hubungan yang kamu miliki dan mencegah keretakan hubungan yang diakibatkan kecerobohan. Kamu tidak akan mampu untuk menghindari rasa frustasi dan cemburu. Tetaplah tenang, jangan melakukan sesuatu dengan gegabah dan jangan membesar-besarkan masalah.

Cinta romantis menjawab kebutuhan alami dari tubuh dan jiwa manusia. Sementara beberapa orang mungkin memandang cinta romantis tidak lebih dari sebuah kesepakatan yang nyaman di antara dua orang, cinta romantis juga dapat menjadi pintu menuju cinta yang lebih luas dan lebih besar.

Cinta seperti layaknya semua hal lainnya, lahir, bertahan selama beberapa waktu, dan kemudian akan berlalu. Seperti sebatang pohon yang indah di tamanmu, cinta membutuhkan perawatan dan perlindungan agar dapat tetap sehat untuk waktu yang lama.

Pada akhirnya, cinta bukan hanya sekadar kelembutan. Cinta juga mencakup kesabaran, keberanian, dan pengorbanan. Cinta adalah kebutuhan dasar manusia, itulah mengapa kamu tidak akan mampu untuk tidak mencintai.

Spiritualitas
Tujuan dari agama adalah untuk berhubungan. Agama yang sejati tidak pernah memisahkan.

Agama, bagi kebanyakan orang, tidak lebih dari seperangkat kebiasaan dan ritual yang diturunkan turun temurun dari keluarga dan masyarakat. Entah karena kemalasan atau kurangnya ketertarikan, banyak orang yang merasa puas dengan pemahaman yang dangkal tentang agama mereka. Mereka tidak memeriksa kebenaran dari ajaran-ajaran agama melalui pengalaman mereka sendiri, apalagi mempraktikkan ajaran tersebut untuk membuat mereka lebih baik dan memulihkan. Orang-orang seperti ini cenderung lebih menunjukkan dogmatisme dan sikap intoleransi.

Jika kamu menganut agama tertentu, janganlah menjadi seperti mereka. Pelajarilah agamamu dengan cerdas, dengan segala keindahan dan kedalamannya, sehingga agamamu dapat mengembangkan kehidupan spiritualmu. Agama yang sehat adalah agama yang hidup. Ia harus mampu berkembang dan belajar untuk menjawab kesulitan-kesulitan semasa hidup kita.

Bertemulah dengan teman-teman dari agama lain. Bukalah hatimu kepada satu sama lain dan belajar untuk bekerja bersama. Bekerjalah dengan niat murni untuk melayani orang, bukan untuk memperluas kekuasaan dan pengaruh dari kelompok sendiri.

Agama harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Jangan biarkan siapa pun menderita atau kehilangan hidup mereka atas nama agama. Suasana ini seringkali masih kental dalam komunitas spiritual. Kita membutuhkan keterbukaan, kreativitas, dan keterampilan dari generasi muda.

Kesimpulan
Terima kasih telah mengikuti tulisanku sampai saat ini. Dalam berbicara denganmu, saya tidak membandingkan kewenangan atau figur tertentu. Saya ingin kita menggunakan kemampuan kita sendiri untuk melihat secara langsung ke dalam diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Saya telah berbagi denganmu pandangan pribadi saya tentang kebutuhan dasar manusia akan cinta dan pengertian.

Adalah cinta yang dapat membantu kamu mengatasi ketakutan dan isolasi. Adalah pengertian yang dapat membawamu ke jantung kemanusiaan, kehidupan, dan kosmos. Pengertian dan cinta akan membuka dirimu pada situasi nyata masyarakat dan planet ini, serta akan memandumu dalam pilihan yang kamu ambil.

Ranselmu sudah penuh. Sudah tiba waktunya untuk pergi.

Terjemahan bebas oleh: Cinthya Tania
Sumber: https://wkup.org/thich-nhat-hanh-message-youth/

Bersyukur Mengenal Praktik Hidup Sadar

Bersyukur Mengenal Praktik Hidup Sadar

Pagi itu saya lagi berias seperti biasa mau ke kantor, tiba-tiba hp saya berdering. Krrring-krrring, waktu saya lihat teryata dari adik laki-laki saya.

Halooo dia berkata “Maafkan saya ya mungkin waktu hidup saya sekarang ini sudah tinggal sedikit lagi.” Jantung saya mulai berdegup kencang. Saya bertanya, “Kamu kenapa?” Saya mulai membatin kacau, karena saya tahu dia lagi kerja urus renovasi rumah tante saya, lalu saya berpikiran apakah dia jatuh dari atas rumahnya?

Ternyata saya keliru, dia bilang “Saya sakit”, ini sudah tidak sanggup hidup lagi. Saya bertanya lagi “Kamu kenapa?” Ternyata dia demam panas tinggi dan tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Pukul 10 pagi, saat itu juga saya segera meluncur ke rumah orang tua saya untuk melihat keadaannya dan apa yang sebenarnya terjadi. Sesampai di sana, saya melihat dia mengoceh terus dan ngomonganya ngelantur berkata dia sudah mau mati. Dia merasa sudah tidak sanggup menahan rasa sakit atau rasa panas di tubuhnya.

Waktu itu saya hanya duduk dan berpikir apa yang perlu saya lakukan ya? Ok,saya coba! Saya masuk ke kamar dan meminta dia meletakkan jari manisnya di bawah hidung. Saya bilang, “Tarik napas masuk, hembuskan napas keluar.” Saya minta dia ulangi beberapa kali. Lalu saya bertanya apa yang dia rasakan, dia bilang, “Dada saya sesak”.

Saya kembali meminta dia untuk bernapas lagi seperti tadi, napas masuk, napas keluar. Beberapa saat kemudian ruangan kamar pun menjadi hening.

Saya pun berlalu keluar kamar dan duduk di ruang tamu sambil menunggu. Tak terasa 15 menit berlalu, adik saya keluar dari kamarnya menuju toilet. Setelah dari toilet dia berjalan menuju kembali ke kamar untuk istrahat.

Saya melihat dia di kamar sudah tidak berselimut lagi dan sudah Relaks “Breathe you are alive!” Keadaannya sudah lebih baik, saya pun memutuskan untuk lanjut pergi ke kantor. Saya bersyukur dapat mengenal mindfulness ini beberapa bulan sebelum kejadian ini. (Sri)*

*Wanita karir, bersuami satu dan dua orang anak.

Breathe you are alive

Breathe you are alive

Unduh MP3 klik sini

Breathe and you know that you are alive
Breathe and you know that all is helping you
Breathe and you know that you are the world
Breathe and you know that the flower is breathing you
Breathe for yourself, breathe for the world
Breathe in compassion and breathe out the joy

Breathe and be one with the air that you breathe
Breathe and be one with the river that flows
Breathe and be one with the earth that you tread
Breathe and be one with the fire that glows
Breathe and you break the thought of birth and death
Breathe and you see impermanence is life

Breathe for your joy to be steady and calm
Breathe for your sorrow to flow away
Breathe to renew every cell in your blood
Breathe to renew the depths of consciousness
Breathe and you dwell in the here and now
Breathe and all you touch is new and real

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Suatu ketika Buddha menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian dipisahkan oleh garis pembatas tipis yakni kesadaran. Seseorang hidup atau tidak, ini tergantung pada apakah ia sadar atau tidak. Dalam Samyutta Nikaya, Buddha menceritakan sebuah kisah yang terjadi di sebuah desa kecil.

Seorang penari terkenal baru saja datang mengunjungi sebuah desa dan banyak orang berhamburan ke jalanan untuk meliriknya sebentar. Pada saat bersamaan, ada seorang kriminal yang dihukum untuk berjalan mengelilingi desa dengan membawa semangkuk penuh minyak. Ia harus berkonsentrasi sebaik-baiknya agar mangkuk tersebut tetap stabil, apabila setetes saja minyak tertumpah, prajurit yang berjalan tepat di belakangnya akan memenggal lehernya. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha bertanya, “Sekarang, menurut Anda apakah kriminal tersebut sanggup menjaga perhatiannya dan fokus di mangkuk minyak tersebut sehingga pikirannya tidak tersedot untuk memandang si penari terkenal itu atau tidak melirik ke kerumunan penduduk desa yang sedang berkumpul di jalanan. Kita tahu tempat keramaian ada saja orang yang mungkin menabraknya?”

Di lain kesempatan Buddha menyampaikan kisah yang membuat saya langsung melihat betapa pentingnya berlatih kesadaran atas diri sendiri untuk melindungi dan merawat diri sendiri, bukan sebaliknya yakni terjebak pada persepsi bagaimana orang lain memandang diri kita, kebiasaan pikiran yang mengakibatkan ketidakpuasan dan kecemasan. Buddha mengatakan, “Suatu ketika ada sepasang pemain akrobat. Gurunya adalah seorang duda miskin dan muridnya adalah seorang gadis kecil bernama Meda. Mereka berdua mengadakan pertunjukan di jalanan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bisa menopang kehidupan. Mereka menggunakan bambu panjang yang akan diseimbangkan oleh si guru di atas kepalanya sedangkan si gadis akan perlahan-lahan memanjat bambu tersebut hingga ke puncak. Ia akan berdiam di sana sedangkan si guru akan terus berjalan.

“Mereka berdua harus mencurahkan semua konsentrasi untuk mempertahankan kesimbangan sempurna dan mencegah agar tidak terjadi kecelakaan. Suatu hari guru itu memberikan instruksi kepada muridnya: ‘Meda, dengarkanlah, saya akan menjaga kamu dan kamu menjaga saya, sehingga kita bisa saling membantu untuk tetap menjaga konsentrasi dan keseimbangan demi menghindari kecelakaan. Dengan demikian kita akan punya cukup uang untuk makan.’ Tetapi gadis kecil itu bersikap bijak, dan ia pun menjawab, ‘Guruku, saya pikir akan lebih baik jika kita menjaga diri kita masing-masing. Menjaga diri sendiri berarti juga menjaga kita berdua.’” Buddha mengatakan bahwa gadis kecil itu benar.

Dalam sebuah keluarga, jika ada satu orang anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga akan menjadi lebih sadar. Karena kehadiran satu anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga selalu diingatkan untuk hidup dengan penuh kesadaran. Jika dalam satu kelas, ada satu orang siswa yang selalu hidup dalam kesadaran, seluruh kelas akan ikut terpengaruh.

Di komunitas pelayan perdamaian, kita harus menjalankan prinsip yang sama. Jangan cemas jika ada orang di sekitar kita yang tidak berupaya maksimal. Pikirkan cara bagaimana membuat diri sendiri agar bisa memberikan kontribusi dalam suasana itu. Melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan adalah cara terbaik untuk mengingatkan siapa saja di sekitar untuk ikut melakukan yang terbaik. Tetapi, ini membutuhkan latihan hidup berkesadaran yang dilakukan secara berkesinambungan. Ini adalah sebuah keharusan. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita tidak menderita tetapi merasakan kebahagiaan dan kedamaian sejati. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita bisa membuka pikiran dan mata cinta kasih.

Saya diundang untuk menikmati secangkir teh di sebuah apartemen tempat tinggal seorang teman yang membantu kami. Ia punya sebuah piano yang sering ia mainkan. Ketika Kirsten—yang berasal dari Belanda—menuangkan teh, saya melihat setumpuk kertas kerjanya dan berkata, “Mengapa Anda tidak berhenti menerjemahkan surat permohonan anak asuh tersebut sejenak dan memainkan piano untuk saya?” Kirsten dengan senang hati menghentikan pekerjaannya dan duduk di depan piano untuk memainkan sebuah karya Chopin yang sudah ia hafal sejak kecil. Sebuah karya musik yang lembut dan melodis tetapi juga kencang dan cepat. Anjingnya, yang sedang berbaring di bawah meja teh, mulai menyalak dan mendengking ketika alunan piano berubah menjadi enerjik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman dan ingin musik itu berhenti. Anjing Kirsten dirawat dengan penuh kebaikan dan kelembutan layaknya merawat seorang anak kecil. Ia mungkin lebih sensitif terhadap musik dibandingkan anak-anak pada umumnya. Atau, anjing itu mungkin merespon seperti itu karena telinganya menangkap sejenis getaran yang tidak tertanggap oleh telinga manusia. Kirsten terus bermain piano sambil berusaha menenangkan anjingnya, tetapi sia-sia. Kirsten akhirnya menyelesaikan lagu tersebut dan mulai memainkan Mozart yang ringan dan harmonis. Sekarang, anjing tersebut duduk dengan tenang dan kelihatannya damai. Setelah selesai, ia datang menghampiri kemudian duduk di samping saya dan berkata, “Sering kali ketika saya memainkan musik Chopin yang sedikit keras, anjing saya akan datang mendekat dan menarik celana saya, tampaknya dia mencoba untuk mengusir saya dari piano. Terkadang saya harus menyeretnya keluar sebelum saya bisa melanjutkan. Tetapi ketika saya memainkan Bach atau Mozart, ia menjadi damai.”

Kirsten menyampaikan sebuah laporan tentang orang Kanada yang menyetel musik Mozart untuk tanamannya di malam hari. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan lebih cepat dan bunga-bunga condong tumbuh menghadap sumber musik tersebut. Yang lain memainkan musik Mozart setiap hari di ladang gandum dan bisa mengukur bahwa gandum tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan di tempat lain.

Ketika Kirsten mengangkat bicara, saya langsung terbayang tentang ruang konferensi yang mana banyak orang berargumen dan berdebat, kata-kata penuh kemarahan dan kebencian silih berganti. Jika ada satu orang yang menaruh setangkai bunga dan satu pot tanaman di ruangan seperti itu, kemungkinan besar keduanya tidak akan tumbuh.

Saya memikirkan tentang taman yang dirawat oleh seorang biksu yang hidup dengan penuh kesadaran. Bunga-bunganya selalu hijau dan segar, dirawat dengan kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir dari perhatian kesadarannya. Salah satu teks kuno mengatakan,

Ketika seorang Guru Agung dilahirkan, air sungai menjadi lebih jernih, rumput menjadi lebih hijau.

Kita perlu mendengarkan musik atau duduk dan berlatih bernapas di setiap awal pertemuan atau diskusi.

Dikutip dari Keajaiban Hidup Sadar

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Dalam Keheningan

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Dalam Keheningan

Aku mendengar sabda ini dari Buddha, suatu ketika beliau tinggal di Wihara Hutan Jeta di kota Sawatthi. Beliau mengundang semua biksu datang dan memberikan petunjuk
“Para biksu”
Dan kemudian para biksu menjawab, “Ya kami sudah hadir di sini”

Buddha menyampaikan, “Saya akan menjelakan makna dari “mengetahui cara baik untuk hidup dalam keheningan.” Saya akan mulai dengan garis-garis besarnya, dan saya akan memberikan penjelasan mendetail kemudian. Biksu mohon dengarkanlah secara seksama”

“Buddha, kami sudah siap”

Buddha bersabda:
“Jangan mengejar masa lalu
Jangan terhanyut oleh masa depan
Masa lalu sudah pergi
Masa depan belum juga tiba
Menatap secara mendalam atas kehidupan sebagaimana adanya
Di saat ini dan di sini,
Praktisi bersemayam
Dalam stabilitas dan kebebasan.
Hari ini kita harus rajin.
Jangan menunggu sampai besok, karena terlambat sudah
Kematian datang secara mendadak
Bagaimana engkau bisa tawar-menawar degannya?
Para orang suci menyebut mereka yang
Bersemayam dengan penuh kesadaran
Siang dan malam adalah
Mereka yang tahu cara baik untuk hidup dalam keheningan.’

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘Mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut sedang mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak diperbudak oleh kemelekatan dan juga tidak melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut tidak mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmani di masa depan, memikirkan seperti apa perasaan di masa depan, memikirkan seperti apa persepsi di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mental di masa depan, memikirkan seperti apa kesadaran di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmaninya di masa depan, memikirkan seperti apa perasaannya di masa depan, memikirkan seperti apa persepsinya di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mentalnya di masa depan, memikirkan seperti apa kesadarannya di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak terbebani dan tidak melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut tidak terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang tidak studi atau tidak belajar sesuatu tentang Buddha, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut sedang terlena jauh oleh masa kini.’

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘tidak terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang studi atau belajar sesuatu tentang dia yang telah tercerahkan, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia tidak merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut tidak terlena jauh oleh masa kini.

“Para biksu, saya telah menyampaikan garis-garis besar dan penjelasan detail tentang bagaimana cara baik hidup dalam keheningan.”

Demikianlah yang diajarkan oleh Buddha, dan para biksu dengan senang hati menerapkan ajaran.

Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikaya 131