Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu

Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu
Menepi sebentar

Sudah 40 tahun lebih saya menjalani hidup, walaupun banyak kondisi yang sudah saya lalui, tetapi saya tidak pernah paham arti kehidupan. Bagi saya bangun pagi, ke kantor, pulang dan tidur merupakan rutinitas yang kewajiban yang dilakoni setiap hari.

Ada seorang guru yang saya hormati, ia sering memberikan kata “kunci” untuk membuka pintu kebodohan dan kemelekatan saya. Suatu hari ia memberikan izin kepada saya untuk pergi berlatih di Plum Village Thailand.

Saya juga bersyukur karena ada seorang sahabat juga mendukung saya. Kami berkumpul dan belajar dalam jumlah peserta yang lumayan banyak dan dari berbagai Negara dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ritme Berjalan

Saat meditasi pagi, kami diminta duduk hening di baktisala,  setelah itu kami meditasi jalan. Saya mengenakan jaket karena masih sangat pagi dan cuaca dingin. Kondisi sekitar gelap, sehingga penglihatan sungguh terganggu. Tidak bisa melihat dengan jelas, berjalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti peserta lain yang jalan di depan.

Semua peserta berjalan dengan ritme yang berbeda, dengan cara yang berbeda. Tidak lama berjalan, ada batu kecil yang masuk dalam sepatu, membuat langkah saya tidak nyaman karena sakit. Saya masih tetap berjalan sampai akhirnya menepi. Agar tidak menghalangi peserta di belakang saya untuk melangkah, saya mengeluarkan batu kecil dari sepatu, setelah itu melangkah kembali.

Jalan yang kami lalui ada yang berbatu kecil-kecil, ada yang hanya tanah tanpa rumput, ada juga jalan yang lebih lembut karena basah, ada juga jalan yang datar dan yang tidak datar.

Selama kurang lebih 45 menit kami berjalan, matahari mulai bersinar, lingkungan di sekitar mulai kelihatan dengan jelas, ada berbagai tanaman buah, bunga dan rumput yang ikut tumbuh, ada banyak jenis dan bentuk batu di tempat kami berjalan.

Mengikuti Rutinitas

Saya mulai menikmati pemadangan, merasakan hangatnya matahari, melihat langit, matahari dan tanaman di sekitar terasa indah. Apa pun yang saya lihat indah, udara menyegarkan, cuaca menyejukkan, suara alam begitu damai. Matahari terbit terasa indah, terbenam juga indah, bulan juga indah, sampai rumput yang tumbuh pun terasa indah, membawa kedamaian.

Hari kedua meditasi jalan, saya memaknai hidup sama dengan meditasi jalan. Hidup tanpa tujuan, tanpa mengetahui apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sama halnya dengan berjalan dalam kegelapan, kita melewati hari hanya mengikuti rutinitas.

Semua orang punya cara dan reaksi yang berbeda dalam setiap kondisi yang dihadapinya, sama halnya saat berjalan dengan ritme berbeda dan juga cara berjalannya. Saat orang lain yang tidak sengaja melukai kita, sama halnya dengan batu kecil tidak tidak sengaja masuk ke dalam sepatu.

Perjalan hidup terkadang lancar, terkadang tidak lancar, sama halnya dengan medan jalan yang dilalui, berbatu, berpasir, penuh rumput atau tidak rata.

Titik Terang

Jika kita dapat terus bertahan dan melangkah maju, akan ada titik terangnya, tidak selamanya berjalan dalam kegelapan, ada matahari yang terbit menggantikan gelap menuju terang, hangatnya matahari mengusir rasa dingin yang dirasakan di awal berjalan.

Sepanjang menjalani kehidupan, pikiran dipenuhi dengan hal-hal positif, memancarkan cinta kasih ke semua akan terasa begitu indah. Matahari di Thailand dan di Indonesia sama saja,yang berbeda adalah bagaimana cara kita melihat, merasakan dan menanggapi hal yang berada di hadapan kita.

Jika sangat lelah, sedih dan kecewa, jangan dipaksakan, kita bisa menepi sebentar, mengeluarkan batu kerikil kecil yang tanpa sengaja masuk ke sepatu kita. Setelah siap kita baru melangkah kembali.

Saat berjalan terlalu cepat, di dalam kegelapan, tanpa sengaja menabrak atau menyakiti orang yang kita lalui dan tidak melihat sekitar, kita hanya fokus di depan, bagaimana bisa lebih cepat.

Saat berjalan terlalu lambat, kita ketinggalan barisan, tidak ada yang bisa kita minta bantuan. Berjalan tidak perlu terlalu cepat atau terlalu lambat, tapi mengikuti irama, mendengar suara alam, melihat keindahan di hadapan kita, perasaan damai membawa kebahagiaan.

Lepaskan

Sahabatku, terima kasih punya kondisi yang sangat baik bisa bertemu dan berlatih bersama. Sahabatku begitu luar biasa, belajar bersama selama beberapa hari, membuat saya mengerti bahwa di atas langit ada langit lagi. Membuat saya merasa begitu kecil dan membuat saya melihat keakuan yang ada di dalam diri saya.

Saya bukan orang yang paling menderita, saya bukan orang yang paling benar, semua orang ada masalah yang dihadapinya, akan tetapi reaksi dan cara menyelesaikannya adalah yang paling penting. Akhirnya sampah yang saya pungut dalam perjalanan hidup akhirnya bisa saya lepaskan.

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan sedikit damai, Jika Anda melepas banyak, Anda akan banyak damai, Jika anda melepas penuh, Anda akan mengetahui kedamaian dan kebebasan penuh, Pergulatan Anda dengan dunia akan berakhir sudah

(Hello Happiness, Ajahn Brahm)

Saya akan berbagi sebuah kata kunci dari suhu :
Janganlah terpengaruh oleh masalah, kegelisahan, tidak nyaman, dan kemelekatan orang lain. Itu adalah urusan mereka. Suka, tidak suka, senang, tidak senang, nyaman, tidak nyaman biarlah mereka sendiri mengurusnya. Sementara ini, kita cukup menjaga kesadaran, terus belajar, berlatih dan berpraktik Dharma.

Terima kasih SUHU,

SVD

Walking Meditation

Walking Meditation

Music by Leong Wan Yee
Vocal: Bodhicitta Wendy Tiow, Leong Wan Yee, Sean Liew (Bear), Karamen Chia
A Bodhicitta Production with the blessing of Plum Village www.bodhicittaproductions.com
Illustrations by Yên
Cartoon Sunrise Sunshine Timelapse: https://www.youtube.com/watch?v=B_G5y…
Walking Meditation- poem by Thich Nhat Hanh

Audio Mp3

Unduh Mp3 klik sini

Walking Meditation

Take my hand.
We will walk.
We will only walk.
We will enjoy our walk
without thinking of arriving anywhere.
Walk peacefully.
Walk happily.
Our walk is a peace walk.
Our walk is a happiness walk.
Then we learn
that there is no peace walk;
that peace is the walk;
that there is no happiness walk;
that happiness is the walk.
We walk for ourselves.
We walk for everyone
always hand in hand.
Walk and touch peace every moment.
Walk and touch happiness every moment.
Each step brings a fresh breeze.
Each step makes a flower bloom under our feet.
Kiss the Earth with your feet.
Print on Earth your love and happiness.
Earth will be safe
when we feel in us enough safety.

– Thich Nhat Hanh

Jalan Penuh Rasa

Jalan Penuh Rasa

Foto dari headspace

Jalan raya bagi saya ibarat “medan perang”. Energi latihan saya benar–benar diuji di jalan raya. Berbagai hal menarik dapat saya temukan di jalan raya. Tentunya, saya pun bisa berlatih ketika berada di jalan raya. Di sini saya mau sharing tipe-tipe manusia dan pengalaman latihan saya di jalan raya.

Si Kepo
Sering kita jumpai tiba–tiba jalanan luar biasa muacet. Dan tak lain tak bukan, biasanya telah terjadi kecelakaan. Yang tabrakan 1 motor dan 1 mobil. Yang ikut berhenti 1 kampung, kalaupun tak berhenti, mereka mendadak melambat, berjalan sambil kepala celingukan. Pernah yang paling extreme, kecelakaan di jalur kiri, yang jalur kanan ikutan nyebrang cuma memenuhi ke-Kepo-an mereka. Kesal? Awalnya saya pasti kesal, dalam hati saya bergumam. “Bantuin kaga, Cuma lihatin sambil foto/video doang, ini mah kalau di belakang ada orang sekarat sampai meninggal, karma buruknya berlapis–lapis ini”

Tapi perlahan saya menyadari, nature dari pikiran memang mudah untuk tertarik ke hal negative, karena masih diliputi kebodohan. Dan sebagai bentuk latihan, biasa saya memberi klakson pendek agar pengendara di depan lebih sadar dalam berkendara. Jika ingin membantu, saya menepi. Jika tidak, atau sudah ada yang membantu, saya akan segera tancap gas meneruskan tujuan saya.

Si Cepat
Yang ini selalu yang terdepan. Berhentinya aja di depan lampu merah, pokoknya kalau ada garis, harus di depan! Kalau di depan garis ada motor lain, dia lebih depan lagi. Dan pas jalur seberang kosong, ngeeeng tancap gas bro!

Jujur, awal remaja saya, diawali karakter begini, karena saya dulu sering last minute kalau berangkat. Dan ada pengalaman menarik setelah mulai sering berlatih hidup sadar. Suatu ketika saya berhenti di depan lampu merah. Sebaris dengan ‘si cepat warrior’ lainnya. Tiba–tiba di belakang ada yang klakson, mereka tancap gas, saya pun ikut. Dari arah seberang, kendaraan masih melaju dan membunyikan klakson.

Di sana saya tersadarkan kalau lampu saya masih merah, dan menyadari inilah kebodohan. Dengan berhenti di depan lampu merah, saya tidak akan tahu, kapan lampu berubah hijau, saya hanya mengikuti orang lain yang belum tentu benar. Sejak saat itu, saya berlatih untuk berhenti di belakang lampu merah dan berangkat lebih awal saya tidak berubah jadi ‘si cepat’.

Si Buta Arah
Sejak kecil saya diajarkan mana kiri, mana kanan. Tapi kebodohan dan ego terkadang membuat saya lupa semuanya. Jalan yang tadinya 1 arah, tiba–tiba menjadi 2 arah. Dan yang paling edan, sudah lawan arah, lebih galak daripada yang berjalan di arah yang benar lagi.

Again, saya juga pernah menjadi pengendara buta arah. Tapi bersyukur, sejak latihan hidup sadar. Saya mulai menganalisa. Kenapa sih saya jadi buta arah? Ooh, karena bangunnya telat jadi buru–buru. Kalau sudah buru–buru, semua cara dilakukan. Maka dari itu, saya menambah latihan saya, yaitu berangkat lebih awal agar tidak lawan arah lagi.

Selain karena buru–buru, masih ada sebab lain yaitu tumor ganas bernama malas. Saya malas putar lebih jauh, dan ingin shortcut. Dan tentunya bila terus melakukan hal ini, akan menambah kebodohan batin saya. Kenapa disebut bodoh? Sudah tahu ini salah, tapi terus dilakukan. Bahkan kadang “membenarkan” diri dengan alasan seperti: “Kan jalannya lagi sepi”. “Tanggung cuman sedikit”. Tapi sejak berlatih mindfulness, rambu–rambu mulai muncul di tempat biasanya akan lawan arah. “Eh lurus bro, kalau belok kanan, nanti situ lawan arah.” Dengan adanya kesadaran, perlahan saya mulai mengendarai di arah yang benar.

Si Pemberi Jalan
Nah, ini salah 1 tipe pengendara yang baik di jalan, dulu sering sekali saya diberi jalan. Ada rasa senang ketika didahulukan. Sering kali, keadaan jalan macet, karena tidak ada yang mau mengalah. saya mulai belajar memberi jalan terutama kepada orang yang mau menyeberang.

Jika ada yang memberi saya jalan, tak lupa saya lambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Baru tadi pagi, saya teringat memberi jalan seekor kucing, iya, terkadang banyak kucing mati tertabrak, karena mereka panik melihat cara mengendarai kita yang sangat cepat. Mereka jadi ragu menyeberang. Maju mundur maju mundur cantiiik!!

Tapi ternyata, kalau kita melambat, mereka mengerti kok untuk menyeberang. Walaupun ada yang tak tau diri juga sih, sudah diberi jalan, eh dia santai–santai nyeberangnya hahaha.

Singkatnya, berlatih hidup sadar, bisa dijalankan di mana saja. Salah satunya di jalan raya. Contoh: Sadar ketika membunyikan klakson.

Klakson harusnya menjadi “bel kesadaran” untuk pengendara lain agar lebih hati-hati. Tapi sering kita bunyikan hanya untuk melampiaskan emosi dan ketidaksabaran kita. Yang pada akhirnya menambah penderitaan kita.

So, itulah tipe–tipe makhluk yang saya temukan di “medan perang” dan bagimana cara saya berlatih.

Semoga bermanfaat & teruslah untuk berlatih

Be Mindful and Be Happy, always!

EDWIN HALIM musisi juga pakar di bidang teknologi informasi

Mindfulness Class: Meditasi Jalan

Mindfulness Class: Meditasi Jalan

Meditasi Jalan siswa-siswi SD

“Take my hand we will walk,
we will only walk.
We will enjoy our walk without thinking of arriving anywhere.”
~Thich Nhat Hanh

Anak-anak senang sekali berlari atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, meditasi jalan bukan saja dilakukan untuk siswa SD dan SMP, tapi juga oleh murid PG dan TK.

Dalam sesi bersama anak TK, saya tidak menjelaskan secara panjang lebar kepada mereka. Saya hanya menjelaskan secara singkat bagaimana nanti berjalan dengan tenang dan hening, sambil berucap ‘Terima kasih, Bumi’ atau ‘Thank you, Earth’ di dalam hati, dalam setiap langkah. Kalimat ini sengaja dipilih agar mereka perlahan dapat memahami betapa bumi telah sangat berjasa dalam perjalanan kehidupan kita.

Awalnya mereka dapat berjalan pelan. Tapi setengah perjalanan mereka sudah mulai tidak sabar dan kembali berjalan seperti biasa (baca: cepat). Tapi ada beberapa anak yang benar-benar serius melangkah dengan perlahan sambil mengamati langkahnya. Sambil bergandengan tangan, mereka mengatur langkah agar tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat bersama temannya.

Lain halnya dengan siswa SD dan SMP. Saya sengaja mencari lokasi di luar sekolah agar mereka dapat menikmati suasana baru. Kebetulan di sebelah sekolah ada kebun yang sangat luas dan memiliki kolam. Anak-anak sangat antusias mengetahui akan bermeditasi jalan di sana. Setelah selesai melakukan meditasi jalan, mereka diberi kesempatan untuk menikmati suasana kebun. Mereka juga diingatkan untuk dapat mempraktikkan ini di rumah atau di mana saja. Dari gerbang sekolah hingga ke kelas pada pagi hari, dari kelas ke kamar mandi sekolah.

Setiap langkah sadar penuh adalah seperti kita sedang mencetak jejak kaki kita ke bumi. Menjejakkan kaki seperti mencium bumi dengan kaki. Kita seharusnya tidak mencetak kesedihan, kecemasan, dan ketakutan kita pada bumi, tapi cetaklah kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian di setiap langkah kita. Kita dapat melakukannya sebanyak kita mau. Kapan saja ketika kita melangkah, kita dapat melakukan ini dengan penuh sadar.

Untuk siswa SMP pernah saya siapkan materi secara visual yang menerangkan tentang jalan berkesadaran ini sebelum mereka mulai mempraktikkannya. Beberapa video saya kumpulkan, diantaranya tentang flash mob meditation di Hong Kong dan trailer film ‘Walk With Me’. Sebagian besar kelas antusias menonton. Ini adalah pengetahuan baru bagi mereka.

Saat berjalan sadar penuh bersama para remaja ini, ternyata jauh lebih baik. Kami berjalan dalam hening, dengan perlahan, mengamati setiap langkah. Hanya ada dua atau tiga anak yang kurang konsentrasi. Tapi secara keseluruhan, saya senang mereka bisa mengikuti kegiatan ini. Hingga kembali ke kelas, suasana masih tetap tenang untuk beberapa saat. Beberapa anak mengakui menikmati jalan berkesadaran ini.

”I have arrived, I’m home
In the here, in the now
I’m solid, I’m free
In the ultimate, I dwell.”

Memberi pengetahuan dan pengalaman baru selalu deg-degan, harap-harap cemas tapi antusias. Saya tidak tahu seberapa banyak yang mereka serap dan ingat akan pelajaran-pelajaran ini. Tapi seperti kata guru saya, andaikan mereka tidak mendapat manfaatnya, paling tidak masih ada satu orang yang mendapatkannya. Saya. Ya, saya selalu mendapat pengalaman baru pada setiap kali kesempatan berbagi dengan mereka di kelas.

Di semester depan, telah saya siapkan beberapa materi baru lagi bagi mereka. Meditasi kerikil, meditasi kerja, meditasi gerakan, dan mengulangi beberapa materi sebelumnya. Mereka akan belajar bahwa meditasi tidaklah hanya berupa duduk diam dan memejamkan mata.

Meditasi adalah berlatih melakukan kegiatan keseharian kita dengan sadar penuh, baik dalam duduk, berjalan, berbaring, makan, kerja, bahkan mendengar suara lonceng atau genta. Sama halnya seperti sedang menanam benih kesadaran dan menyiraminya dengan baik setiap hari sehingga dapat tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan berguna, berlatih hidup sadar penuh sejak masa kanak-kanak akan membangun banyak karakter positif dalam diri mereka tumbuh hingga dewasa kelak. (Rumini Lim)*

“When we are mindful, deeply in touch with the present moment, our understanding of what is going on deepens, and we begin to be filled with acceptance, joy, peace and love.” ~Thich Nhat Hanh

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Sosok tubuh seperti melayang menuju ke tengah panggung kosong. Setiap geraknya hening, seperti menghayati setiap tarikan dan embusan napas. Setelah duduk merapikan jubah, Thich Nhat Hanh (84) melalukan anjali. Ia membungkukkan tubuh, mengatupkan kedua tangan, membentuk kuncup bunga, seperti menyodorkan “sekuntum teratai untukmu”; simbol kedamaian dan kesadaran akan kesalingterkaitan.

Oleh: Maria Hartiningsih
Sumber: Kompas cetak tahun 2010

Zen Master Thich Nhat Hanh memberikan wejangan Dharma di tahun 2010 di Indonesia

Keheningan sekitar lima menit seperti ritual, membumikan kaligrafi “Practice from the heart” yang melatari panggung, sebelum Thay—sapaan akrab Bhante Thich Nhat Hanh di Plum Village, yang artinya Guru, dalam bahasa Vietnam—memulai ceramahnya di depan sekitar 900 peserta retret di Caringin, Sukabumi, pekan lalu.

Ia berbicara tanpa teks, sambil duduk, kadang berdiri, berjalan perlahan ke papan tulis, menjelaskan istilah-istilah dalam psikologi Buddhisme dengan contoh-contoh sederhana dari kehidupan riel. Humornya subtil. Ketika lonceng kesadaran bergema, dia berhenti, kembali pada keheningan sepanjang tiga kali embusan napas.

Keteduhan Thay memancarkan tatapan mata dan bibir yang selalu tersenyum, Namun, suara lembut di balik tubuh yang tampak ringkih itu mengandung energi ajaib yang menggedor kesadaran terdalam, menguakkan selubung demi selubung penderitaan di balik realitas yang ditangkap sepintas oleh lima indera.

Ceramah Dharma selama empat hari itu mengeluarkan orang dari gulungan hidup serba cepat, kompetisi ketat meraih lebih banyak dan lebih banyak lagi, mengejar batas tak terbatas; ilusi “kemajuan” dan “kesuksesan”.

Kejaran target membuat orang tak punya lagi kemampuan menghidupi momen demi momen berharga dalam kehidupan sehari-hari, seberapa pun besar kekayaan dan kemewahan material yang dimiliki. Kemampuan mendengar sirna. Komunikasi di dalam dan di luar rumah macet, tidak bisa saling mengerti, tidak bisa melihat penderitaan orang lain, terus menuduh dan menyalahkan pihak lain. Sikap itu menggelembungkan persepsi yang keliru, melahirkan kegelisahan, kemarahan, kebencian, ketakutan, kekerasan, kalau akarnya tidak dikenali.

Ia menceritakan kisah seorang suami yang menuduh istrinya berselingkuh selama beberapa tahun ia berada di medan perang. Persepsi itu keliru, tetapi tak pernah terkuak karena keduanya membisu, sang istri dikuasai kesedihan, sampai memutuskan bunuh diri. Suatu malam, di bawah lentera, si anak menunjuk bayangan di dinding, “Pak, Ibu bilang itu ayahku…”

Perang dan terorisme, menurut Thay, juga lahir dari persepsi keliru. Akarnya, kesalahpahaman, nir-toleransi, kebencian, ketiadaan harapan dan pembalasan, tak bisa disentuh apalagi dihancurkan oleh bom dan peluru kendali. “Persepsi keliru adalah sumber segala penderitaan,” tutur Thay.

Ajakan “Pulang”

Retret selama lima hari itu adalah ajakan “pulang ke rumah”; di sini, kini (in the here and now). Latihan meditasi adalah kembali kepada napas berkesadaran dan jalan berkesadaran. Napas adalah sahabat setia, seperti bumi solid tempat berlindung dari berbagai situasi mental, pikiran, emosi, dan persepsi.
“Bagi praktisi meditasi, kalau Anda sedang marah, Anda tidak akan melakukan apa pun kecuali kembali kepada napas untuk mengetahui apakah akar kemarahanmu berasal dari persepsi kekeliruan. Kalau Anda mengenalinya, Anda terbebaskan….”

Meditasi Jalan berkesadaran bersama di pagi hari

Menurut Thay, di dalam kesadaran terdapat sedikitnya dua lapisan. Di lapisan bawah, menurut tradisi Buddha, tersimpan 51 benih yang muncul sebagai mental positif dan negatif. Di lapisan atas adalah kesadaran pikiran atau bentuk-bentuk mental.
“Ketika benih kemarahan bermanifestasi menjadi bentuk mental, kita tak boleh membiarkannya terlalu lama sendirian di dalam kesadaran kita. Kita harus mengundang benih kebersadaran untuk menjaganya, menenangkannya.”

Thay melanjutkan, “Benih kebersadaran akan mengenali benih-benih negatif yang muncul. Tiada ada pertempuran di antara dua energi itu. Tugas benih kebersadaran adalah mengenali benih lain sebagaimana adanya, lalu memeluknya lembut, seperti ibu memeluk anaknya yang menangis. Prinsip meditasi Buddhis adalah nondualitas dan nonkekerasan. Nondualitas berarti engkau adalah kemarahan dan kebersadaran.”

Latihan berkesadaran melalui bernapas dan berjalan membuat benih kebersadaran menjadi bentuk mental dan meningkatkan energi kebersadaran.

“Sebagai praktisi meditasi, Anda harus mengawasi hakikat pikiran yang berasal dari salah satu dari 51 bentuk mental. Kalau yang diproduksi adalah pikiran welas asih, maka yang muncul adalah sikap saling pengertian, welas asih dan non-diskriminasi. Inilah yang disebut berpikir benar oleh Buddha.”

Latihan kebersadaran juga mencakup berpikir benar, pandangan benar, berbicara benar, dan bertindak benar. “Berpandangan benar yang didapat dari latihan meditasi, kebersadaran, dan konsentrasi membantu kita menyentuh kebenaran interbeing (saling menjadikan), kesalingterkaitan, kebenaran kesementaraan dan non-diri..”

Dalam bahasa yang lebih sederhana, latihan hidup berkesadaran adalah latihan eling (dan wasapada), dengan menemukan “maitri” di dalam diri. Kualitasnya disimbolkan sebagai bunga merekah, embun segar, kesolidan gunung, dan kekokohan bumi, ketenangan dan kejernihan air, dan ruang tak bersekat di angkasa luas.
“Maitri tak bisa dibeli dengan uang berapa pun banyaknya,” ujar Thay.

Sang Guru

Thich Nhat Hanh dikenal sebagai salah satu Guru Zen terkemuka, intelektual, sekaligus penyair, penulis (menulis lebih dari 100 buku, diterjemahkan dalam berbagai bahasa, yang terbaru adalah The World We Have: A Buddhist Approach to Peace and Ecology), tokoh perdamaian internasional. Menurut Sister Chan Khong dalam bukunya Learning True Love: Pengamalan Ajaran Buddha di Masa Tersulit (1933, terjemahan 2009), Thay suka berkebun dan ahli dalam pekerjaan manual.

Sister Chan Khong, asisten dan murid tertua Bhante Thich Nhat Hanh

Dilahirkan di Vietnam Tengah, 11 Oktober 1926, ia menjalani hidup yang luar biasa. Ia mengalamai tiga perang, bertahan hidup dari penyiksaan, dan lebih dari 30 tahun di pengasingan. Lulusan Universitas Princeton, Amerika Serikat dan pernah mengajar di Universitas Cornell dan Universitas Colombia di AS itu juga mendirikan organisasi pelayanan sosial, menyelamatkan manusia perahu, dan memimpin Delegasi Buddhis Vietnam pada Perundingan Perdamaian Paris. Martin Luther King menominasikannya sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1967.

Sejak usia 16 tahun, ia telah menjadi samanera (calon biksu), aktivis perdamaian, dan pencari jalan. Dia adalah kepala sebuah wihara di Vietnam yang silsilahnya dapat ditelusuri sampai lebih dari 2.000 tahun ke belakang.

Ia mendirikan Universitas Buddhis Van Hanh dan Ordo Interbeing, dan membangun jalan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “Engaged Buddhism”; praktik penghayatan nilai-nilai spiritual dalam tindakan sehari-hari.

Thay mendapat suaka dari pemerintah Perancis dan kemudian membangun dan memimpin komunitas Plum Village di Selatan Perancis, wihara Buddha dan pusat pelatihan hidup berkesadaran bagi orang awam.

Meditasi Jalan

Meditasi Jalan

Meditasi sambil berjalan ini adalah praktik yang ampuh untuk hadir sepenuhnya pada saat ini setiap saat. Setiap langkah yang diambil dalam keadaan sadar-penuh membantu kita menyentuh keajaiban hidup yang memang ada di sana, dan dapat kita raih sekarang juga. Anda dapat menyelaraskan langkah sesuai dengan napas sewaktu berjalan seperti biasa di pinggir jalan, di stasiun kereta, atau di pinggir sungai—di manapun Anda berada. Sambil menarik napas, langkahkan satu kaki dan renungkan, “Aku telah tiba; aku sudah di rumah.

Aku telah tiba” itu berarti aku sudah ada di tempat yang semestinya kutuju—bertemu dengan kehidupan—dan aku tak harus bergegas ke manapun, tak perlu lagi mencari apa pun. “Aku sudah di rumah” artinya aku sudah pulang ke rumahku yang sejati, yang tak lain adalah hidup pada saat ini. Hanya momen saat inilah yang nyata; masa lalu dan masa depan hanyalah hantu-hantu yang dapat menyeret kita ke penyesalan, penderitaan, kekhawatiran, dan ketakutan. Bila setiap langkah membawa Anda kembali ke saat ini, maka hantu-hantu itu tidak lagi dapat menguasai diri Anda.

Sambil mengembuskan napas, Anda dapat mengayunkan tiga langkah dan berkata pada diri sendiri, “Aku sudah tiba; Aku sudah di rumah.

Anda sudah tiba di rumah Anda yang sejati dan menyentuh berbagai keajaiban hidup yang memang sudah tersedia; Anda tak perlu mencari-cari lagi. Anda berhenti berlari. Dalam konteks Zen, ini dinamakan meditasi samatha, yang berarti “berhenti.” Bila Anda dapat berhenti, maka kedua orang tua, kakek-nenek, dan segenap leluhur Anda juga dapat berhenti. Bila Anda dapat melangkah sebagai orang yang bebas, maka segenap leluhur Anda yang hadir di setiap sel di tubuh Anda juga dapat berjalan dengan bebas. Bila Anda berhenti berlari dan dapat melangkah dengan bebas seperti itu, Anda sedang mengungkapkan cinta kasih secara nyata dan riil, kesetiaan, serta rasa bakti kepada kedua orang tua dan kepada para leluhur.

Aku telah tiba, aku sudah di rumah
Di sini, pada saat ini.
Aku solid, aku bebas.
Dalam dimensi tertinggi aku bersemayam.

Syair meditasi ini membantu Anda sehingga bisa hadir seutuhnya pada saat ini. Resapi kata-kata ini, dan kehadiran Anda tidak akan tergoyahkan pada saat ini, sama seperti bila Anda berpegangan kuat pada susuran tangga, Anda tidak akan jatuh.

Di sini, pada saat ini” adalah alamat kehidupan. Itulah tempat kita pulang—rumah kita yang sejati—tempat kita merasa benar-benar damai, aman, dan bahagia, tempat kita dapat bersentuhan dengan para leluhur, teman-teman, dan keturunan-keturunan kita.

Manfaat praktik meditasi adalah selalu membawa kita pulang ke tempat itu. Setiap langkah membawa kita kembali menyentuh kehidupan di saat ini.

Silakan mencoba mempraktikkan meditasi berjalan perlahan dan buktikan sendiri. Sambil menarik napas, melangkahlah dan katakan, “Aku telah tiba.” Kita mesti mencurahkan 100 persen raga dan pikiran kita ke dalam pernapasan dan langkah kita, agar dapat mengatakan bahwa kita sudah tiba dan sudah berada di rumah. Bila keadaan sadar-penuh dan konsentrasi mantap, Anda dapat tiba 100 persen dan benar-benar sampai di rumah di mana pun Anda berada.

Bila Anda belum pulang 100 persen ke sini dan saat ini, jangan dulu melanjutkan langkah berikutnya!

Diam saja dulu di sana dan bernapaslah sampai Anda dapat menghentikan pikiran yang melantur, sampai Anda benar-benar 100 persen tiba di saat ini. Kemudian Anda dapat menyunggingkan senyum kemenangan, lalu melangkah lagi dengan ucapan, “Aku sudah di rumah.

Langkah-langkah yang mantap seperti itu sama seperti cap stempel kerajaan pada dekret raja. Kaki-kaki Anda mencetak, “Aku sudah tiba; Aku sudah di rumah” di Bumi ini. Berjalan dengan cara seperti ini menghasilkan energi soliditas dan kebebasan.

Semua itu akan memberi kesempatan kepada Anda untuk menyentuh berbagai keajaiban hidup. Anda mendapat santapan rohani secukupnya; terpulihkan. Saya tahu ada di antara mereka yang sudah berhasil menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan melatih meditasi berjalan sepenuh hati.

Aku solid; Aku bebas” artinya Anda tidak sedang ditarik oleh hantu-hantu dari masa lalu dan tidak diseret ke masa depan; Anda adalah tuan rumah bagi diri sendiri. Mengucapkan kalimat-kalimat itu tidak sama dengan pemikiran yang memberi sugesti pada diri sendiri atau harapan kosong semata. Bila Anda mampu bersemayam pada saat ini, Anda sungguh-sungguh memiliki keutuhan dan kebebasan. Anda bebas dari masa lalu dan masa depan, tidak gelagapan ke sana kemari seperti seorang yang sedang kesurupan. Keutuhan dan kebebasan adalah dasar kebahagiaan sejati.

Sutra Jalan Tengah

Sutra Jalan Tengah

Aku mendengar sabda Buddha ini, suatu ketika beliau sedang menetap di hutan Nala. Pada saat itu, Bhante Kacchayana datang berkunjung kemudian berujar: Tathagata pernah menyebutkan tentang pandangan benar. Mohon Tathagata mendefinisikan tentang pandangan benar”

Buddha menyampaikan kepada Bhante Kacchayana, “Manusia di dunia ini cenderung percaya akan dua pandangan berikut ini: Pertama adalah pandangan tentang keberadaan dan kedua pandangan tentang non-keberadaan. Hal ini dikarenakan mereka terjebak dalam pandangan keliru. Pandangan keliru inilah yang menyebabkan mereka terjebak dalam konsep keberadaan maupun non-keberadaan. Kacchayana, sebagian besar manusia terikat oleh bentuk-bentuk mental diskriminasi dan keberpihakan, nafsu, dan kemelekatan. Mereka yang tidak terikat pada simpul internal nafsu dan kemelekatan adalah mereka yang tidak lagi terkurung oleh imajinasi dan terbelenggu dalam gagasan akan sang aku. Mereka telah mengerti bahwa penderitaan muncul karena ada kondisi yang matang, dan penderitaan akan sirna apabila kematangan kondisi telah usai.

Mereka tidak lagi ragu-ragu. Pemahaman mereka bukan berasal dari pemberian orang lain, namun pemahaman mereka lahir dari hasil latihan yakni pemahaman mendalam. Pemahaman inilah yang disebut pandangan benar, dan demikianlah cara Tathagata mendefinisikan pandangan benar.

“Bagaimana bisa demikian?” Apabila seseorang memiliki pemahaman benar kemudian dia mengobservasi bagaimana dunia ini terbentuk, gagasan tentang non-keberadaan tidak akan muncul dalam dirinya, demikian juga ketika dia mengobservasi bagaimana dunia ini terurai, gagasan tentang keberadaan juga tidak muncul dalam dirinya. Kacchayana, pandangan seseorang yang menyatakan bahwa dunia ini “ada” merupakan pandangan ekstrem; pandangan bahwa dunia ini “tiada” juga sisi lain dari ekstrem. Tathagata menghindari dua pandangan ekstrem tersebut dan mengajarkan Dharma yang selaras dengan Jalan Tengah.

“Pandangan Jalan Tengah menyatakan demikian, sesuatu ini terjadi demikian karena itu demikian; sesuatu ini tidak demikian karena itu tidak demikian. Karena ketidaktahuan, maka ada dorongan, karena ada dorongan, maka ada kesadaran; karena ada kesadaran maka ada psiko-soma; karena ada psiko-soma maka ada enam organ, karena ada enam organ maka ada kontak; karena ada kontak maka ada perasaan; karena ada perasaan maka ada nafsu; karena ada nafsu maka ada kemelekatan; karena ada kemelekatan maka ada pembentukan; karena ada pembentukan maka ada kelahiran; ketika ada kelahiran maka ada usia tua dan mati, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah semua penderitaan muncul. Tetapi ketika ketidaktahuan sirna, maka dorongan juga sirna, ketika dorongan sirna maka kesadaran juga sirna;…dan akhirnya lahir, usia tua, kematian, kesedihan, dan kesengsaraan juga akan sirna. Dengan demikianlah semua penderitaan ini sirna.”

Setelah mendengar penjelasan Buddha, Bhante Kacchayana tercerahkan, terbebaskan dari penderitaan. Bhante Kacchayana telah meletakkan semua simpul internal kemudian mencapai kesucian Arahat.

Samyukta Agama 301