Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Kepada Thay terkasih, dan para leluhur spiritual yang kami muliakan,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas untuk berlatih dan merayakan hari keberlanjutan dari guru Spiritual kami. Thay yang tanpa gentar telah menunjukan sang jalan, sebagai bintang di utara agar kami tidak tersesat pada pandangan salah tentang kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kami mengucap syukur dan merasa beruntung karena berjodoh dengan Para Guru dan Ajaran mulia. Kami menyadari tanpa bimbingan Guru Spiritual yang terampil, akan sulit bagi kami untuk mewujudkan transformasi diri dan transformasi sosial di sekitar kami.

Kami juga menyadari, bahwa praktik yang kami lakukan menjadi wujud dari keberlanjutan para guru dan leluhur spiritual. Di dalam setiap napas maupun langkah yang kami lakukan dengan sadar-penuh, kami dapat melihat kehadiran Guru kami serta para leluhur spiritual ada bersama latihan tersebut. Kami juga mampu melihat, hadirnya keberlanjutan Guru Spiritual kami pada Komunitas berlatih yang harmonis. Thay tidak pernah terpisah dan hilang dalam setiap aktivitas spiritual yang kami lakukan.

Thay yang kami kasihi, kami menyadari semangat idealmu untuk menghadirkan lebih banyak pengertian mendalam dan belas kasih dalam setiap tindakan kami. Melalui seni hidup berkesadaran, Engkau berikan proposal tentang tatanan kehidupan yang lebih baik bagi diri kami dan generasi selanjutnya. Kami menyadari masih banyak kelalaian dalam diri kami, sehingga kami tidak mampu berlatih dengan sungguh-sungguh.

Menyadari hal itu, kami ingin meneguhkan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Thay yang kami kasihi, pada hari berkelanjutanmu ini, kami persembahkan latihan kami sebagai hadiah untukmu. Semoga kami mampu untuk menghadirkan tatanan dunia yang lebih berwelas asih, dan secara kolektif mampu menghapus kejamnya sikap diskriminasi dan intoleransi yang ada di dalam diri kami dan kesadaran kolektif komunitas kami.

Dear Thay, and our most noble spiritual ancestors,

We have come here today as a fourfold community to practice mindfulness and to celebrate our Spiritual Teacher’s continuation day. Thay, you have unwaveringly guided our paths, as the north star guides travelers, so that we do not lose ourselves in harmful ideations in our journey to true happiness.

We express our boundless gratitude to you and we feel infinitely fortunate for having been destined for The Teachers and Noble Teachings. We realise that without a skilled Spiritual Teacher it would be difficult for us to undergo our self transformation and trigger the social transformation around us.

We realise that our practices are a manifestation of the continuation of our teachers and spiritual ancestors. In every step and breath we take mindfully, we see also our Teacher’s presence in ourselves along with that of our spiritual ancestors. We see the continuation of our Spiritual Teacher in our harmonious Community practices. Thay, you are never separate from and always present in any spiritual activity we do.

Thay whom we love, we admire the spirit in your ideals to bring deeper understanding and more compassion to every aspect of our lives. Through the art of living mindfully, you have given us and our future generations the opportunity to lead better lives. We realise there is still ignorance in our spirits, and therefore we are not yet capable of practicing with full sincerity.

Understanding that, we pledge to strengthen our commitment to our daily practice, seeking refuge in our beloved community, and continuing your ways and the ways of all the teachers amongst our spiritual ancestors. We vow to live life profoundly through breathing and walking mindfully in all the paths of our lives, because we know that that is your favourite practice. We know that you take joy in building sanghas, so we will continue building brotherhoods and sisterhoods with all our hearts, even though at times we may face challenges. We will never give up on our practices or leave our community, and we instead aspire to listen deeply and to help each other. We will never leave behind a member of our community, even if we may sometimes cause each other suffering.

Thay whom we love, on your continuation day today, we offer you our practice as a gift. May we face the challenges the world presents to us with compassion, and together transform the cruelty, discrimination, and intolerance in our hearts and collective consciousness.

oleh: True Forest of Communication – Chân Thông Lâm (真通林)

Berjalan dengan Kesadaran Penuh

Berjalan dengan Kesadaran Penuh
Jalur meditasi jalan di Upper Hamlet, PV Prancis

Begawan Buddha, aku merasakan kehangatan di hatiku setiap kali aku bercerita dan mecurahkan isi hatiku pada-Mu. Aku merasakan kehadiran-Mu di setiap sel tubuhku dan tahu jika Engkau mendengarkan dengan penuh kasih atas semua yang aku katakan. Engkau berjalan di planet Bumi ini bak orang bebas. Aku juga ingin berjalan di planet Bumi ini sebagai orang bebas.

Di sekelilingku masih ada orang yang tidak berjalan sebagai orang yang bebas. Mereka hanya tahu cara berlari. Mereka berlari ke masa depan karena berpikir bahwa kebahagiaan tidak dapat ditemukan pada saat ini. Mereka berjalan di bumi tetapi pikiran mereka di awan. Mereka berjalan seperti orang yang berjalan sambil tidur, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Aku sadar dalam diriku juga ada kebiasaan yang mengakibatkan kedamaian dan kebebasanku hilang ketika aku berjalan.

Buddha yang terkasih, aku bertekad untuk mengikuti teladan-Mu dan selalu berjalan sebagai seorang yang bebas dan sadar. Aku bertekad dalam setiap langkahku, kedua kakiku akan benar-benar menyentuh bumi dan aku akan waspada bahwa aku sedang berjalan di atas landasan realita dan bukan mimpi. Berjalan seperti itu, membuat aku terhubung dengan segala sesuatu yang indah dan menakjubkan di alam semesta. Aku bertekad untuk berjalan sedemikian rupa sehingga kakiku akan mampu mencetak jejak kebebasan dan perdamaian di bumi.

Aku tahu dalam langkah-langkah yang diayunkan seperti ini dapat menyembuhkan tubuh dan pikiranku juga planet Bumi. Ketika aku berlatih meditasi jalan di luar dengan Sangha, aku bertekad untuk mensyukuri bahwa ini berjalan bersama Sangha adalah kebahagiaan besar. Dalam setiap langkah, aku menyadari bahwa aku bukanlah setetes air, melainkan bagian dari sungai yang lebih besar. Dengan bernapas dan berjalan berkesadaran penuh, aku akan menciptakan energi kesadaran penuh dan konsentrasi yang berkontribusi pada kesadaran kolektif Sangha. Aku akan membuka tubuh dan pikiranku agar energi kolektif Sangha dapat masuk ke dalam diriku, melindungi, dan membantuku mengalir dengan lembut seperti sungai, menyelaraskan diri dengan segala sesuatu yang ada. Aku tahu bahwa dengan mempercayakan tubuh dan pikiranku, juga rasa sakit yang aku miliki kepada Sangha, semua itu berpeluang untuk dirangkul dan disembuhkan. Dengan cara ini aku akan dirawat saat aku berlatih berjalan dengan penuh perhatian bersama Sangha dan bertransformasi secara signifikan dalam tubuh dan pikiranku. Di aula meditasi aku akan membuka diri terhadap energi Sangha ketika berlatih meditasi jalan perlahan, berjalan satu langkah pada saat bernapas masuk dan satu langkah pada saat bernapas keluar. Aku berjanji untuk berjalan sedemikian rupa sehingga setiap langkah dapat menutrisiku dan Sangha dengan energi kebebasan dan soliditas.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku bersujud di hadapanmu, di hadapan Bodhisatwa Dharanimdhara, Penguasa Bumi, dan di hadapan Bodhisatwa Sadaparibhuta. [Genta]

I Vow to Live this Day with Love

I Vow to Live this Day with Love

Unduh Mp3 klik sini


Composed by Sze Chai


There’s a time, when the sun starts to fall
When the fire and tears come along
The life of an innocent child is risking its all
Is there hope comes with with dawn?

There’s a time, I wish to do something more
But I’m all alone, I cannot be strong
Though the sun has risen, it’s hard to feel its warmth
On this path, please guide me along!

It’s time to stop
It’s time to breathe
It’s time to take care of myself
It’s not a fault to take a walk in peace and harmony
How can I heal a wounded heart
If I only see the dark
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

There’s a time, I take a little pause
The world seems so different than before
My friends still smiling, my beloved still alive
There is hope, and love can re-born!

It’s time to stop
It’s time to breathe
It’s time to take care of myself
It’s not a fault to take a walk in peace and harmony
How can I heal a wounded heart
If I only see the dark
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

I vow to talk
I vow to think
I vow to act only out of love
Though in the darkest phase of time, there is no hatred and no fear
Our compassion is the light
Guides us to pass through the night
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

Membangun Kembali Komunikasi

Membangun Kembali Komunikasi

Begawan Buddha, karena aku telah berhasil kembali ke diri sendiri dan mengenali akar penderitaan dalam persepsiku yang sebenarnya, aku tidak lagi menyalahkan Tuhan atau manusia atas penderitaanku. Aku bisa mendengarkan penderitaan orang lain dan membantu mereka mengenali akar penderitaan yang terdapat dalam persepsinya.

Aku akan menggunakan praktik mendengarkan mendalam dan penuh kasih untuk meningkatkan kemampuanku untuk memahami dan mencintai orang lain. Aku tidak akan menyalahkan mereka. Aku tahu bahwa jika aku dapat memahami orang lain, aku akan dapat menerima dan mencintai mereka.

Kemudian aku dapat menggunakan ucapan penuh kasih untuk membantu orang lain melihat bahwa penderitaan mereka muncul dari cara mereka memandang, memahami, dan tergantung pada gagasan dan persepsi mereka.

Ketika mereka bisa melihat itu, mereka juga tidak akan lagi menyalahkan dan menyimpan kebencian terhadap orang lain. Sebaliknya, mereka akan dapat melihat bahwa ketika mereka melepaskan persepsi keliru yang mereka miliki, mereka akan bahagia dan bebas.

Buddha, aku telah melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan masalah formasi internal (internal formation) dengan latihan mendengarkan secara mendalam dan berucap dengan penuh kasih. Mereka telah berhasil melepaskan kesalahpahamannya, membangun kembali komunikasi, dan menemukan kembali kebahagiaan.

Buddha, aku menyentuh bumi tiga kali untuk membangkitkan aspirasi mendalam bahwa mulai sekarang, daripada menyalahkan dan menuduh orang lain, aku akan dengan sepenuh hati berlatih berucap penuh kasih dan mendengarkan secara mendalam untuk membangun kembali komunikasi.

Menyentuh Bumi

Bersujud kepada Buddha Konakamuni. [Genta]
Bersujud kepada Bodhisattwa Mendengarkan Secara Mendalam, Awalokiteshwara. [Genta]
Bersujud kepada Guru Agung Yang Penuh Bakti yang aku hormati, Maha Moghalana. [Genta]

The Heart of the Matter

The Heart of the Matter

Thich Nhat Hanh menjawab tiga pertanyaan tentang emosi kita
Thich Nhat Hanh | Musim Dingin 2009

Keinginan saya untuk mencapai suatu keberhasilan telah menyebabkan banyak penderitaan. Apa pun yang saya lakukan, rasanya tidak pernah cukup. Bagaimana saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri?
Kualitas tindakan Anda tergantung pada kualitas diri Anda. Misalkan Anda ingin menawarkan kebahagiaan, untuk membuat seseorang bahagia. Itu hal yang baik untuk dilakukan. Tetapi jika Anda tidak bahagia, maka Anda tidak bisa melakukannya. Untuk membuat orang lain bahagia, diri Anda harus bahagia terlebih dahulu. Jadi ada keterkaitan antara melakukan (doing) dan menjadi (being). Jika Anda tidak berhasil menjadi yang diinginkan, Anda tidak dapat berhasil melakukan apa yang Anda inginkan. Jika Anda tidak merasa bahwa Anda berada di jalan yang benar, kebahagiaan adalah tidak mungkin. Ini berlaku untuk semua orang; jika Anda tidak tahu ke mana Anda pergi, Anda menderita. Sangat penting untuk menyadari jalan Anda dan melihat jalan sejati Anda.

Kebahagiaan berarti Anda merasa berada di jalan yang benar setiap saat. Anda tidak perlu tiba di ujung jalan agar bahagia. Jalan yang benar mengacu pada cara-cara yang sangat konkret bagaimana Anda melakoni hidup di setiap saat. Dalam Agama Buddha, kita berbicara tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, tindakan benar, penghidupan benar, upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Memungkinkan bagi kita untuk menjalani Jalan Mulia Berunsur Delapan setiap saat dalam kehidupan kita sehari-hari. Itu tidak hanya membuat kita bahagia, ia juga membuat orang di sekitar kita bahagia. Jika Anda mempraktikkan jalan tersebut, Anda menjadi sangat menyenangkan, sangat segar, dan sangat berwelas asih.

Lihatlah pohon di halaman depan. Tampaknya pohon itu tidak melakukan apa-apa. Ia berdiri di sana, kuat, segar, dan indah, dan semua orang mendapat manfaat darinya. Itulah keajaiban dari keberadaan. Jika sebatang pohon tidak seperti sebatang pohon, kita semua akan berada dalam kesulitan. Tetapi jika sebatang pohon adalah pohon yang sebenar-benarnya dan apa adanya, maka ada harapan dan kegembiraan di sana. Itu sebabnya jika Anda bisa menjadi diri sendiri, itu sudah merupakan tindakan. Tindakan berdasarkan pada non-aksi; tindakan adalah wujud dari keberadaan.

Saya sibuk dari pagi hingga larut malam. Saya jarang sendirian. Bagaimana saya bisa menemukan tempat dan waktu untuk berkontemplasi dalam keheningan?
Diam adalah sesuatu yang datang dari hatimu, bukan dari luar. Diam tidak berarti tidak berbicara dan tidak melakukan sesuatu; diam berarti bahwa Anda tidak terganggu di dalam. Jika Anda benar-benar hening, maka apa pun situasi yang Anda alami, Anda dapat menikmati keheningan. Ada saat-saat ketika Anda berpikir bahwa Anda hening dan semua di sekitar tidak bersuara, tetapi pembicaraan terus terjadi di dalam kepala Anda. Itu bukan keheningan. Praktiknya adalah bagaimana menemukan keheningan dalam semua kegiatan yang Anda lakukan.

Mari kita ubah cara berpikir dan cara memandang kita. Kita harus menyadari bahwa keheningan datang dari hati kita dan bukan dari ketiadaan berbicara. Duduk untuk makan siang mungkin merupakan kesempatan bagi Anda untuk menikmati keheningan; meskipun orang lain berbicara, tetap memungkinkan bagi Anda untuk hening di dalam. Buddha dikelilingi oleh ribuan biksu. Meskipun beliau berjalan, bersila, dan menyantap makanan di antara para biksu dan biksuni, beliau selalu berdiam dalam keheningan-Nya. Buddha menjelaskan bahwa untuk menyendiri, untuk diam, tidak berarti Anda harus pergi ke hutan. Anda dapat hidup di Sangha (komunitas), Anda bisa berada di pasar, namun Anda masih menikmati keheningan dan kesunyian. Sendiri tidak berarti tidak ada orang di sekitar Anda.

Menjadi sendiri berarti Anda kokoh di sini dan saat ini dan Anda menjadi sadar akan apa yang terjadi di saat ini. Anda menggunakan perhatian Anda untuk menyadari setiap perasaan, setiap persepsi yang Anda miliki. Anda menyadari apa yang terjadi di sekitar Anda dalam Sangha, tetapi Anda selalu bersama diri sendiri, Anda tidak kehilangan diri sendiri. Itulah definisi Buddha tentang praktik keheningan yang ideal: tidak terjebak di masa lalu atau terbawa oleh masa depan, tetapi selalu berada di sini, tubuh dan pikiran bersatu, menyadari apa yang terjadi di saat ini. Itu adalah keheningan yang nyata.

Saya masih takut kehilangan ibu saya atau orang yang saya kasihi lainnya. Bagaimana saya bisa mengubah rasa takut ini?
Kita dapat melihat secara mendalam bahwa ibu kita tidak hanya ada di luar sana, tetapi juga di sini. Ibu dan ayah kita sepenuhnya hadir di setiap sel tubuh. Kita membawa mereka ke masa depan. Kita dapat belajar berbicara dengan ayah dan ibu di dalam diri kita. Saya sering berbicara dengan ibu, ayah, dan semua leluhur di dalam diri saya. Saya tahu bahwa saya hanyalah kelanjutan dari mereka. Dengan wawasan seperti itu, Anda tahu bahwa bahkan dengan hilangnya tubuh ibumu, ibumu masih berlanjut di dalam dirimu, terutama dalam energi yang telah ia ciptakan dalam hal pemikiran, ucapan, dan tindakan. Dalam Agama Buddha kita menyebutnya energi karma. Karma berarti tindakan, tiga tindakan dari berpikir, berbicara, dan melakukan.

Jika Anda melihat lebih dalam, Anda akan melihat kelanjutan ibu Anda di dalam dirimu dan di luar dirimu. Setiap pikiran, setiap ucapan, setiap tindakannya sekarang berlanjut dengan atau tanpa kehadiran tubuhnya. Kita harus melihatnya lebih dalam. Ia tidak terbatas pada tubuhnya, dan Anda tidak terbatas pada tubuhmu. Sangat penting untuk melihat hal ini. Ini adalah keajaiban meditasi Buddhis — dengan praktik melihat secara mendalam Anda dapat menyentuh hakikat tanpa kelahiran dan tanpa kematian Anda sendiri. Anda menyentuh sifat tidak-lahir dan tidak-mati dari ayah, ibu, anak Anda, dari semua yang ada dalam diri Anda dan di sekitar Anda. Hanya wawasan inilah yang dapat mengurangi dan mengubah rasa takut. (Alih bahasa: Rumini)

Sumber: The Heart of the Matter

Awakening the Heart of Compassion

Awakening the Heart of Compassion

Meditation and music with Brother Spirit (Phap Linh) during his two week quarantine in Plum Village. Watch live streams from the Plum Village monastery on https://PlumVillage.org and download the free Plum Village mindfulness app from https://plumvillage.app

The music is a new instrumental arrangement of the Plum Village chant “De La Vision Profonde” — which is a poetic translation by Thich Nhat Hanh, of a traditional classical Chinese invocation — see below for text in English and French.

Wake Up

Wake Up

Generasi muda Buddhis dan Non-Buddhis demi masyarakat yang lebih sehat dan berwelas asih.

Thich Nhat Hanh

Wake Up merupakan komunitas global yang terdiri praktisi muda berusia dari 18 s.d. 35 tahun, komunitas ini terinspirasi oleh metode pengajaran Master Zen Thich Nhat Hanh. Kami berkumpul bersama mempraktikkan kewawasan (mindfulness) untuk merawat dirinya, memberikan kontribusi bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan berwelas asih.

Kami ingin membantu dunia ini yang telah dibanjiri oleh intoleransi, diskriminasi, loba, kemarahan, dan putus asa. Kami menyadari bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh masyarakat, dengan demikian kami memilih cara hidup agar bumi ini bisa bertahan lebih lama.

Mempraktikkan kewawasan, konsentrasi, dan keatifan (mindfulness, concentration, and insight) memungkinkan kita untuk menumbuhkan sikap toleransi, non diskriminasi, dan sikap welas asih di dalam diri sendiri dan dunia ini.

Praktik

Kami menjadikan 5 Latihan Sadar Penuh (Five Mindfulness Trainings) sebagai pedoman praktik konkrit tentang cinta sejati dan welas asih, dan jalan kehidupan harmonis dengan setiap orang dan bumi ini. Pedoman ini merupakan fondasi kehidupan dan mewakili pelayanan ideal kami.

Praktik yang kami lakukan berlandaskan upaya untuk membangkitkan kewaspadaan lewat napas dan hidup penuh kewawasan pada momen kekinian, menyadari apa yang sedang terjadi di dalam hati dan lingkungan sekitar. Praktik ini membantu kami menurunkan tensi (tension) dalam tubuh dan perasaan agar kami bisa hidup lebih bermakna dan bahagia, lalu menggunakan cara mendengar dengan penuh welas asih dan bahasa kasih untuk membangun kembali komunikasi dan rekonsiliasi dengan pihak lain.

Melindungi Bumi

Melindungi Bumi

Oh Begawan Buddha, engkau adalah anak dari bumi ini dan engkau memilih terlahir di bumi ini sebagai tempat untuk mengajarkan Dharma. Begawan Buddha yang mulia, melalui semua proses berlatih dan mengajar, engkau telah memberi semangat kepada para bodhisatwa untuk melindungi bumi ini, bumi yang indah ini. Aku ingat dalam Sadharmapundarika Sutra, engkau mengundang semua bodhisatwa, ribuan dan jutaan bodhisatwa bermunculan dari bumi. Para bodhisatwa bertekad untuk tetap tinggal di bumi ini untuk melindungi dan sekaligus menjadi pelindung Dharma agar cinta kasih dan pengertian bisa terus disebarkan.

Oh Begawan Buddha, aku juga merupakan anak dari bumi ini, aku juga ingin melindungi bumi yang indah menawan ini. Aku juga ingin mengikuti jejak para bodhisatwa untuk melindungi bumi. Aku bertekad untuk tetap belajar dan berlatih bersama-sama dengan para sahabat Dharma demi membantu membebaskan semua makhluk dari penderitaanya.

Saat ini, aku memohon gunung dan sungai menjadi saksiku. Aku membungkukkan badan dan kepala memohon Begawan Buddha untuk menerima serta mendukung tekadku ini. Aku lahir di bumi ini dan nanti akan kembali lagi ke bumi ini. Aku akan terlahir kembali berulang kali di bumi ini, bahkan berjuta-juta kali tak terhitung sebagai bagian dari komunitas berlatih bersama para sahabat Dharma, terus-menerus melanjutkan tugas mulia dalam mengubah sampah kompos menjadi pupuk untuk bunga, melindungi kehidupan, membangun tanah suci di bumi ini. Aku tahu persis bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan kondisi dasar untuk membangun tanah suci, oleh karena itu dari detik ini aku bertekad untuk membangkitkan energi sadar-penuh, cinta kasih, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari.

Menyentuh Bumi

Buddha yang mulia, aku menyentuh bumi tiga kali demi mengukuhkan tekadku untuk melindungi bumi.

Nothing Shall Be Impossible

Nothing Shall Be Impossible
Meditasi Jalan, Retret Edukator Sekolah Ananda, Bagan Batu

September 2018, tahun lalu, saya mengenal istilah BIBO. Sekarang sudah pertengahan 2019. Waktu berlalu begitu cepat. Saya semakin akrab dengan BIBO yaitu Breathing In Breathing Out. Istilah unik ini datang dari Sekolah tempat saya mengajar, sekolah Ananda di Bagan Batu.

Ada seorang guru, namanya Rumini, akrab kita sapa Laoshi Ani. Dialah yang mengajarkan BIBO kepada saya lewat metode mindfulness, teknik untuk selalu sadar akan momen kekinian, apakah itu dalam situasi yang baik maupun kurang baik.

Hadir Seutuhnya

Mindfulness adalah keadaan yang ditandai oleh munculnya introspeksi diri, keterbukaan pikiran, refleksi dan penerimaan diri apa adanya dengan sikap positif (M . Jojo Raharjo, 2008). Introspeksi diri membuat saya semakin tertarik dengan kegiatan Mindfulness.

Teknik mindfulness mangajarkan saya untuk selalu hadir di sini dan saat ini melalui bernapas masuk dan bernapas keluar (breathing in breathing out). Teknik ini juga mencakup makan dengan berkesadaran agar bisa mempertahankan kesehatan. Kegiatan lain seperti deep relaxation melalui teknik body scanning (pemindaian tubuh). Mencintai alam dengan walking meditation. Meningkatkan rasa syukur lewat “BIBO”.

Saya bahkan mengikuti akun sosial media yang berkaitan dengan praktik mindfulness seperti @plumvillageindonesia dan Thich Nhat Hanh collective quotes. Melalui akun tersebut saya mengenal seorang biksu Zen, Thich Nhat Hanh yang menjadi panutan bagi Buddhis dan non Buddhis di seluruh dunia. Pelopor mindfulness sejati menurut saya.

Berdoa

Mindfulness telah memberi pengaruh positif bagi saya. Simpel, lewat penerapan BIBO. Ada satu kisah waktu kecil hingga sekolah menengah atas. Saya diajarkan untuk rajin berdoa di gereja. Sejak SMP saya sudah ikut melayani Tuhan dengan menjadi guru sekolah minggu di Gereja Kesukuan di kampung saya.

Doa adalah hidup saya. Berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, berdoa sesudah bangun tidur, berdoa dalam suka dan duka. Berdoa sudah begitu melekat dalam diri saya.

Ada suatu ketika saya berhenti melakoninya. Alasannya, saya tidak lolos seleksi ke universitas yang saya dambakan. Saya berhenti berdoa sejak itu. Saya tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Mungkin sebagai bentuk tuntutan atau protes ketidakadilan Tuhan pada saat itu.

Saya belum buntu, walau tidak masuk ke universitas negeri yang saya dambakan, saya pun beralih ke universitas swasta. Jurusan yang saya pilih adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya lulus sebagai sarjana pendidikan.

Tahun 2018 saya diterima di SD swasta Yayasan Pendidikan Ananda. Di tempat inilah titik balik hubungan saya dengan Tuhan. Saya menerapkan mindfulness lewat praktik BIBO, dan entah mengapa secara alamiah saya merasa mengalami hubungan saya dengan Tuhan membaik.

Melalui mindfulness saya diajarkan untuk hidup bersyukur atas berkat dan keadaan yang saya dapat pada saat ini. Teknik ini Mengajarkan untuk hidup dengan penuh cinta kasih dengan sesama manusia, alam dan juga Tuhan. Saya ”disadarkan” untuk mengubah pola hidup dengan lebih meningkatkan sifat-sifat baik yang ada dalam diri saya.

Sadar Pancaindra

Tanggal 15- 17 Juli 2019 kami kembali mengikuti retret mindfulness yang dihadiri juga oleh seorang biksu. Bagi saya beliau lebih ahli dalam praktik mindfulness tentunya. Saya mendapatkan banyak sekali bahkan terlalu banyak hal-hal baik dalam acara itu. Beliau bernama Bhante Nyanabhadra. Beliau mengajari saya untuk selalu “sadar” pancaindra agar emosi negatif tidak bisa berbuat semena-mena.

Tata cara sifat manusia beliau gambarkan seperti “ruang tamu” dan “gudang”. Di dalam ruang tamu biasanya tempat menjamu para tamu yang datang, emosi apa pun selalu berkumpul di ruang tamu. Di dalam “gudang” merupakan tempat penyimpanan sifat positif dan negatif yang diibaratkan sebagai benih. Jika ada suatu kejadian masuk melalui pancaindra maka menyentuh benih itu lalu muncul di ruang tamu.

Jika lupa menerapkan “BIBO”, maka sifat negatif bisa membuat kekacauan di ruang tamu, membuat kita menjadi manusia yang lebih kental sifat negatifnya. Melalui BIBO juga saya belajar mencintai diri sendiri, sesama dan juga alam, ini membuat saya menjadi lebih kental sifat positifnya. Itulah yang beliau ajarkan kepada kami

Rasa Haru

Saya sangat menyukai sesi sitting meditation di pagi hari. Bhante Nyanabhadra melantunkan syair meditasi pagi, bernyanyi dengan suara lembut dan menyentuh. Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Kesalahan dan dosa-dosa yang saya lakukan terlintas dalam pikiran kemudian menguap begitu saja. Saya semakin disadarkan bahwa saya masih belum apa-apa dalam hal berbuat baik terhadap Tuhan, sesama dan lingkungan.

Saya mengutip satu catatan yang sempat saya tulis di dalam note saya. Beliau berkata ”Masa lalu telah pergi, masa depan belum juga tiba, hanya ada satu masa untuk hidup, yaitu masa sekarang.” Lalu saya teringat dengan kutipan dari biksu Thich Nhat Hanh yang berkata ”Because you are alive everything is possible”.

Saya langsung teringat ada ayat di Alkitab yang sangat saya sukai yaitu, Luke 1:37 ”With God nothing shall be imposible”. Saya kemudian menggabungkan kutipan tersebut ke dalam sebuah pemahaman baru “Karena kamu hidup di momen ini, bersama dengan Tuhan, maka segalanya menjadi mungkin”.

Mari BIBO

Pengalaman praktik mindfulness mulai membuat kualitas hidup saya semakin membaik. Saat ini saya fokus memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan saya. Satu hal yang saya rasakan, mindfulness tidak akan pernah merugikan pelaku mindfulness.

Pedoman saya sebagai pemula di kegiatan ini adalah “When you touch one thing with deep awareness, you touch everything,” ~ Thich Nhan Hanh. Praktik ini memiliki kontribusi positif yang sangat besar bagi saya, semoga demikian juga untuk Anda. Mari ber”BIBO” bersama-sama.

Bita Astuanna Siburian, guru sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.