Memulai Lembaran Baru

Memulai Lembaran Baru


Untuk memulai lembaran baru kita harus memeriksa dengan sungguh-sungguh dan jujur, tindakan-tindakan, ucapan, dan pikiran-pikiran kita di masa lalu serta menciptakan suatu permulaan yang segar di dalam diri kita dan hubungan kita dengan orang lain. Di pusat pelatihan kita melatih Memulai Lembaran Baru sebagai sebuah komunitas dua minggu sekali dan secara pribadi sesering yang kita inginkan.
Kita melatih Memulai Lembaran Baru untuk menjernihkan batin kita dan menjaga latihan kita tetap segar. Bilamana kesulitan timbul dalam hubungan kita dengan sesama praktisi dan salah satu dari kita merasa dendam atau sakit, kita tahu inilah waktunya untuk Memulai Lembaran Baru. Berikut ini adalah uraian dari proses empat bagian Memulai Lembaran Baru sebagaimana yang digunakan dalam tata cara resmi. Satu orang berbicara berturut-turut dan tanpa disela selama gilirannya. Para praktisi lainnya mempraktikkan cara mendengarkan dengan sepenuhnya dan mengikuti pernafasan mereka.

  1. Menyiram bunga – ini adalah kesempatan untuk berbagi apresiasi kita untuk orang lain. Kita mungkin menyebutkan contoh-contoh tertentu yang orang lain katakan atau lakukan, sesuatu yang kita kagumi. Ini adalah sebuah kesempatan untuk memancarkan kekuatan orang lain dan kontribusi untuk Sangha serta untuk menyemangati pertumbuhan akan kualitas-kualitas positifnya.
  2. Menyampaikan penyesalan – kita mungkin menyebutkan tindakan-tindakan, ucapan, atau pikiran-pikiran kita yang tidak cakap yang mana belum sempat kita minta maaf.
  3. Menyatakan rasa sakit – kita mungkin berbagi bagaimana kita merasakan sakit oleh interaksi dengan praktisi yang lain, dikarenakan tindakan-tindakan, ucapan, dan pikiran-pikirannya. (Untuk menyatakan perasaan sakit pertama-tama kita harus menyiram bunga orang lain dengan berbagi kualitas-kualitas positif yang telah benar-benar kita amati dalam dirinya. Menyatakan perasaan sakit sering dilakukan perorangan dengan praktisi lainnya daripada dalam susunan grup. Anda bisa meminta orang ketiga yang anda berdua percaya dan hormati untuk hadir, jika mengingini.)
  4. Menyampaikan kesulitan masa panjang dan meminta dukungan – kadang-kadang kita masing-masing mendapat kesulitan dan rasa kesakitan timbul dari masa lalu yang muncul sekarang. Ketika kita berbagi suatu persoalan yang sedang kita hadapi kita bisa biarkan orang di sekitar kita memahami kita lebih baik dan memberikan dukungan yang benar-benar kita perlukan.

Praktik Memulai Lembaran Baru membantu kita mengembangkan ucapan yang baik dan mendengarkan dengan rasa belas kasih. Memulai Lembaran Baru adalah sebuah latihan tentang pengakuan dan apresiasi akan elemen-elemen positif di dalam Sangha kita. Misalnya, mungkin kita memperhatikan bahwa teman sekamar kita itu dermawan dalam berbagi wawasan, dan teman yang lain peduli terhadap tumbuh-tumbuhan. Dengan mengakui sifat positif orang lain mengizinkan kita untuk melihat kualitas-kualitas baik kita sendiri juga.
Bersama dengan sifat-sifat baik ini, kita masing-masing memiliki bidang-bidang kelemahan, seperti menasehati supaya jangan murka atau terperangkap dalam salah-tanggap kita. Ketika kita melatih “menyiram bunga” kita saling menyokong pengembangan kualitas-kualitas baik dan pada waktu bersamaan kita membantu melemahkan kesulitan-kesulitan orang lain. Selagi di kebun, saat kita saling “menyiram bunga” cinta kasih dan belas kasih, kita juga menyingkirkan energi dari rumput liar kemarahan, kecemburuan, dan kesalah-tanggapan.
Kita dapat melatih Memulai Lembaran Baru setiap hari dengan menyatakan apresiasi kita terhadap sesama praktisi dan meminta maaf dengan segera bilamana kita melakukan atau mengucapkan sesuatu yang melukai mereka. Kita bisa dengan sopan membiarkan orang lain mengetahui saat kita terluka pula. Kesehatan dan kebahagiaan dari seluruh komunitas tergantung pada kerukunan, kedamaian, dan kegembiraan yang ada di antara setiap anggota Sangha.

Invoking Avalokiteshvara

Invoking Avalokiteshvara

Unduh MP3 klik sini

We invoke your name, Avalokiteshvara.
We aspire to learn your way of listening
in order to help relieve the suffering in the world.
You know how to listen in order to understand.
Namo Avalokiteshvaraya……

We invoke your name in order to practice listening
with all our attention and openheartedness.
We will sit and listen without prejudice.
We will sit and listen without judging or reacting.
We will sit and listen in order to understand.
We will sit and listen so attentively
to hear what’s being said and what’s being left unsaid.
Just by listening deeply
we already,
alleviate,
much pain and suffering in the world.
Namo Avalokiteshvaraya
Namo Avalokiteshvaraya
Namo Abalokiteshvaraya


Kami mengagungkan namamu, Awalokiteswara.
Kami bercita-cita mempelajari cara mendengarmu
agar dapat membantu meringankan penderitaan di dunia.
Engkau tahu cara mendengar untuk memahami.
Namo Avalokitesvaraya…..

Kami mengagungkan namamu agar dapat berlatih mendengar
dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa disertai prasangka.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan duduk dan mendengar agar mampu memahami.
Kami akan duduk dan mendengarkan sedemikian rupa sehingga
kami dapat menyimak apa yang disampaikan orang lain serta apa yang belum dituturkannya.
Kami tahu hanya dengan mendengarkan secara mendalam saja,
kami dapat meringankan banyak kepedihan dan penderitaan di dunia ini.
Namo Avalokiteshvaraya
Namo Avalokiteshvaraya
Namo Avalokiteshvaraya


Memupuk Cinta Kasih dan Pengertian

Memupuk Cinta Kasih dan Pengertian

Begawan Buddha, Engkau telah mengajarkan kepada kami untuk tidak menyesali masa lalu atau terhanyut dalam kecemasan dan ketakutan akan masa depan. Aku melihat di sekitarku banyak yang terhanyut dalam kecemasan dan ketakutannya. Kecemasan ini mencegah kami untuk berada dalam kedamaian dan hidup secara mendalam di saat ini. Aku mempunyai wewenang dan kemampuan untuk merencanakan masa depan, tetapi aku tidak perlu terhanyut dalam kecemasanku akan masa depan.

Pada kenyataannya, aku tahu bahwa masa depan terbentuk dari masa sekarang. Ketika aku hidup pada saat ini secara mendalam dan aku hanya berpikir, berucap, dan melakukan hal-hal yang dapat membawa pengertian, cinta kasih, kedamaian, keselarasan, dan kebebasan ke dalam situasi saat ini, maka aku telah melakukan seluruh hal yang mampu aku lakukan untuk membangun fondasi bagi masa depan yang cerah.

Ke mana pun arah masa depan dunia ini dan apakah keturunanku akan memiliki kesempatan untuk hidup dengan bahagia dan bebas atau tidak bergantung pada bagaimana aku hidup di saat ini. Untuk memastikan masa depan yang bahagia dan damai bagi keturunanku, aku akan berlatih hidup sederhana, memupuk hati dan pikiran yang penuh pengertian dan cinta kasih, dan hidup harmonis dengan semua orang di sekelilingku sebagai saudara dan saudari sejati dalam keluarga spiritual.

Jika aku terus mengejar kekuasaan, ketenaran, kekayaan, dan otoritas maka aku tidak punya waktu untuk hidup dengan damai dan bebas. Aku juga akan terus mengeksploitasi sumber daya yang tidak diperlukan dari planet bumi ini, merusak lingkungan dan membawa perselisihan serta kebencian di dunia. Ini bukanlah perbuatan yang positif bagi diriku, bagi lingkungan, atau generasi masa depan.

Begawan Buddha, semoga aku dapat mengabdikan hidupku untuk memupuk kesadaran jernih akan diriku sendiri dan lingkunganku dalam setiap momen agar dapat meneruskan jalan-Mu yang tercerahkan dalam melihat dan bertindak di dunia. Inilah jalan hidup yang paling mulia.

Menyentuh Bumi


Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan-Mu yang telah mencapai pengertian dan tindakan yang tercerahkan. [Genta]

The Need to Love

The Need to Love

Thich Nhat Hanh

Seorang Penulis Perancis bernama Antoine bilang: “Mencintai bukan berarti hanya duduk saling memandang saja, namun mencintai berarti bersama-sama memandang ke arah yang sama.” Saya tidak tahu kalimat ini membawa kesan apa buatmu, ketika saya mendengar kalimat itu, saya merenung sebentar kemudian saya tersenyum kecil, karena saya sedang membayangkan satu pasang suami istri yang sedang memandang ke arah yang sama, dan arah itu adalah ke televisi karena mereka sudah tidak bisa menikmati saling memandang lagi, demi mengurangi penderitaan masing-masing maka mereka mencoba untuk memandang ke arah televisi bersama-sama agar bisa melupakan penderitaannya.

Ketika mereka barusan menikah, mereka sangat antusias untuk menghabiskan waktu bersama untuk saling memandang, tetapi karena mereka tidak tahu bagaimana berlatih hidup sadar, tidak tahu bagaimana menjaga agar kasih sayangnya tetap membara, mereka tidak tahu bagaimana cara memperdalam pengertian dan welas asih sehingga mereka terus-menerus membuat keretakan keluarga dan stress dalam hubungan itu. Suatu hari mereka sadar bahwa rasanya sudah tidak nyaman lagi saling memandang, jadi daripada saling memandang, mereka secara diam-diam ada kesepakatan tak langsung bahwa lebih baik memandang ke arah televisi, ini sungguh sebuah tragedi!

Ketika engkau mencintai seseorang, engkau percaya pasanganmu memiliki sesuatu yang cantik dan pantas untuk di cintai, engkau selalu mencari sesuatu yang baik dan indah agar kamu bisa mencintainya, kalau tidak demikian, mengapa engkau mau mencintainya? Cinta ini hadir karena kita sedang kelaparan, kita lapar akan sesuatu yang baik, kita lapar akan sesuatu yang cantik, kita lapan akan sesuatu yang tulus, oleh karena itulah kita mencoba untuk mencari dan mencari. Pasangan kita memiliki tiga kualitas itu, cantik, baik, dan tulus. Engkau merasa dirimu sendiri tak punya kualitas itu, oleh karena itulah ketika ada seseorang yang memiliki kualitas itu, maka engkau akan segera mencintainya karena engkau sangat membutuhkan kualitas demikian, dalam cinta demikian, dalam kondisi kebutuhan demikian, engkau merasa ada sesuatu yang bisa kita taruh dalam dasar hatimu. Engkau selalu merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirimu dan engkau selalu merasa tidak memiliki fondasi kualitas itu. Engkau selalu mengembara untuk mencari dan mencari, mencari sesuatu yang baik, indah dan tulus. Ketika engkau menemukan orang yang memiliki kualitas seperti itu maka, engkau begitu bahagia, namun dibalik kebahagiaan itu ada ketakutan! Bagaimana kalau-kalau itu bukanlah kecantikan sesungguhnya? Bagaimana kalau-kalau itu bukanlah kebaikan sesungguhnya? Engkau akan takut atas renungan barusan, takut kalau itu kualitas palsu! Engkau juga begitu takut kalau-kalau suatu hari nanti rahasia terbongkar bahwa orang yang engkau cintai itu hanyalah objek imaginasi dirimu belaka. Ketika mencintai seseorang, engkau punya daya imaginasi luar biasa. Engkau menciptakan imaginasi-imaginasi indah dalam pikiranmu, engkau begitu takut kalau kenyataanya tidak sesuai dengan imaginasimu, oleh karena itulah ketakutan semakin besar dan semakin besar dalam dirimu.

Jadi, pertama, mencintai itu hadir karena engkau merasa ada sesuatu yang kurang atau tidak lengkap dalam dirimu yaitu kehampaan, kedua ada perasaan takut, bahkan ketika engkau menemukan sesuatu, engkau juga takut sesuatu itu bukanlah sesuatu yang engkau bayangkan dan bukan sesuatu yang ingin engkau percaya, bisa saja itu palsu! Walaupun engkau percaya bahwa itu benar, engkau tetap ada perasaan takut engkau takut akan impermanen. Engkau akan takut ketika 3 atau 5 tahun kemudian, bagaimana dirimu bisa hidup kalau sang kekasih sudah tidak mencintai dirimu lagi? Oleh karena itulah engkau selalu memaksa sang kekasih untuk mengulang statement “I love you darling, I love you”, karena engkau tak punya perasaan aman dan engkau dipenuhi rasa takut!

Dalam hubungan kasih seperti itu, engkau perlu menenangkan orang itu, engkau merasa harus meyakinkan pasanganmu bahwa engkau mencintainya selamanya, namun dari lubuk hatimu yang paling dalam, engkau sadar bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa berlangsung lama alias impermanen. Engkau mengamati orang-orang dan engkau sendiri melihat bagaimana terjadinya perubahan. Kisah cinta pada awalnya akan bisa berubah menjadi begitu kecut setelah 2 atau 3 tahun kemudian. Engkau sendiri sudah banyak melihat kisah nyata seperti itu, namun engkau masih belum begitu percaya bahwa sang kekasih akan mencintaimu seumur hidup.

Jadi ketakutan hadir dalam kisah cintamu, ada juga kekosongan dan ketidakpastian, kemudian hadir juga ketakutan. Ketika engkau merenungkan tentang pasanganmu, maka engkau bisa percaya bahwa ada kualitas dari pasanganmu yang ternyata tidak ada dalam dirimu, oleh karena itu perlu merenungkan agar muncul rasa kagum, karena engkau sudah bisa merasakan kebahagiaan kecil, rasa nyaman ketika engkau kagum atas kecantikan, kebaikan, dan ketulusan pasanganmu. Pada saat bersamaan engkau juga sadar bahwa pasanganmu juga memiliki imaginasi tersendiri atas dirimu. Engkau juga takut kalau suatu hari nanti imaginasi pasanganmu tidak sesuai dengan kenyataannya, engkau mencoba untuk berpura-pura dan bermain sandiwara, engkau mencoba menjadi orang yang diimaginasikan oleh pasanganmu, engkau melakukan semua itu namun ketakutan tetap hadir di situ, ketakutan bahwa suatu hari nanti dia membongkar rahasia kepalsuanmu, bahwa engkau hanya sedang bersandiwara saja, engkau seperti seseorang yang pergi ke butik kosmetik untuk membeli ini dan itu, engkau mau menaburkan semua kosmetik agar tampak indah yang sebenarnya bukan dirimu sesungguhnya.

Dilihat dari segi spiritual dan aspek moral kita juga melakukan hal yang sama, kita menggunakan berbagai jenis kosmetik agar wajah kelihatan indah, mata terlihat bersinar agar orang lain mau mencintaimu. Pada kenyataanya ketika engkau menggunakan kosmetik, maka itu adalah sebuah tragedi bagi mental dan fisikmu sendiri. Sebuah tragedi terjadi karena engkau tidak percaya bahwa sesungguhnya dirimu sudah cantik apa adanya, oleh karena itulah engkau mencoba untuk membuat diri cantik, kita tidak percaya bahwa kita ini baik, tetapi kita mencoba untuk bersandiwara agar kelihatan berkualitas baik. Kita tidak percaya bahwa kita ini tulus. Dari lubuk hati paling dalam barangkali ada rasa mengkhianati pasanganmu kemudian juga mengkhianati dirimu sendiri, kemudian ada perasaan bahwa dirimu tidaklah layak dicintai. Kita memiliki kompleks bahwa diri sendiri tidak layak di cintai. Inilah yang menjadi elemen pembangkit penderitaan dalam hidup sehari-hari, karena kita enggan menyentuh dirimu yang paling dalam, engkau tidak punya kejelasan atau keruh dalam melihat kualitas dirimu sendiri, engkau merasa hampa dan tidak layak dicintai, engkau mencoba mencari sesuatu untuk mengisi hatimu, ini bisa disebut sejenis vakum. Mencintai bisa jadi adalah sebuah cara untuk mencari sesuatu kemudian engkau mengisikannya ke hatimu, yaitu kualitas cantik, baik, dan tulus. Walaupun engkau sudah menemukan kualitas itu, namun engkau tetap khuatir dan takut, engkau tidak yakin itu kualitas sesungguhnya atau bukan? Atau si dia itu sedang bersandiwara saja? Karena bisa saja itu kualitas palsu.

Ketika engkau bertemu seorang guru spiritual, engkau juga punya rasa takut seperti itu, namun seorang guru spiritual ternyata juga seperti manusia biasa, jadi engkau punya rasa takut akan ketulusan guru spritual tersebut. Seorang guru spiritual bisa saja tidak memiliki kecantikan, kebaikan, dan ketulusan sejati, guru spiritual itu juga mungkin memakai kosmetik agar kelihatan seperti seorang guru spiritual yang baik. Kadang kita merasakan bahwa guru spiritual kita ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan, kemudian engkau marah, kecewa, kemudian mencari guru lain lagi. Ini juga merupakan proses mencintai, engkau terus mencari suatu kualitas yang belum ada dalam dirimu sendiri, kualitas yang betul-betul engkau butuhkan.

Kadang-kadang engkau merasa seperti sebuah pot tanpa kover, engkau percaya bahwa kovernya ada di dunia luar sana, engkau harus berupaya mencari kover untuk menutupi pot itu. Perasaan vakum dan hampa selalu hadir dalam hati. Barangkali ini yang disebut kebutuhan akan cinta, kebutuhan akan dicintai dan kebutuhan untuk mengisi kehampaan dalam hati agar hidup menjadi bermakna. Ketika engkau meneliti lebih dalam tentang orang lain, engkau bisa melihat banyak kekurangan dalam diri sendiri, sehingga engkau ingin mencari seseorang agar bisa menjadi tempat berpijak atau tempat bersandar, tempat berlindung demi mengusir penderitaanmu. Kemudian engkau juga punya keinginan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang lain karena ada rasa kosong dalam hati, perasaan vakum, engkau tidak tahu cara memeluk penderitaan sendiri, oleh karena itulah engkau butuh orang lain agar bisa memberi perhatian.

Engkau membutuhkan seseorang agar bisa menjagamu setiap saat, seseorang yang bisa mengisi kehampaan hatimu, mengisi kevakuman dan penderitaan dengan energi perhatian penuh kesadaran. Tanpa energi itu engkau tidak bisa hidup, Cinta, inilah kebutuhan akan perhatian, energi perhatian dari orang lain akan membantumu menjadi tidak begitu kosong lagi. Energi yang membantu membantu mencairkan balok es penyumbat akibat penderitaan. Engkau sendiri tidak sanggup membangkitkan energi kesadaran itu oleh karena itulah engkau butuh orang lain, apabila pasanganmu tidak punya energi secukupnya untuk mengurangi penderitaanmu, maka engkau kecewa! Engkau merasa kehadiran pasangan sudah tidak berguna lagi oleh karena itulah cintamu juga ikut menguap!

[Genta]

Seandainya engkau cukup beruntung, engkau berkesempatan untuk menemukan kekasih yang tepat, kekasih yang punya kualitas kebaikan, elemen kecantikan begitu nyata dirasakan karena engkau punya kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu bersamanya, engkau punya kesempatan untuk membuktikan dan menyakinkan elemen kecantikan, elemen kebaikan, elemen ketulusan pada sang calon kekasih.

Buddha mendefinisikan Maitri sebagai kasih sayang sebagai suatu jenis kecantikan. Ketika engkau berlatih maitri, maka engkau bisa merasakan kecantikan alami. Saya sangat terkesan ketika saya membaca kalimat itu. Seseorang yang punya hati yang baik, dia selalu bersedia untuk melakukan sesuatu demi memberikan rasa lega, menghadirkan sukacita, membawa rasa nyaman bagi orang lain, jika kejadian seperti ini hadir dalam sang kekasih, punya kesempatan untuk berkenalan dengan orang demikian, maka engkau orang yang beruntung sekali. Orang itu terdorong oleh sebuah energi untuk memberikan kebaikan dan sukacita kepada orang lain, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Apabila engkau telah berhubungan dengannya dalam kurun cukup lama maka engkau bisa mengetahui bahwa dia punya kualitas kecantikan sesungguhnya. Ketika engkau berkesempatan menyentuh energi kecantikan itu, maka secara alami engkau sedang menyentuh kecantikan alami dalam dirimu sendiri.

Engkau sering tidak percaya bahwa dirimu sendiri juga punya kecantikan itu, engkau tak percaya bahwa dirimu sendiri juga punya kemampuan untuk mencintai, dicintai, dan welas asih, engkau merasa minder bahwa dirimu tidak ada cinta kasih sama sekali, engkau tak sanggup mencintai, engkau begitu menderita gara-gara perasaan seperti ini, engkau selalu meremehkan diri sendiri, engkau merasa dirimu tidak berguna sama sekali, tetapi engkau cukup beruntung karena bisa mencitai seseorang yang punya energi maitri, energi kasih sayang, engkau punya kesempatan untuk bersentuhan dengan energi itu dan sekaligus menyentuh energi itu yang memang sudah ada dalam dirimu. Oleh karena itu energi perhatian penuh kesadaran sangat penting sekali, energi kesadaran membantumu melihat bahwa ada kasih sayang dan welas asih dalam dirimu.

Saat menjelang subuh ketika Siddharta mencapai pencerahan di bawah pohon bodhi, beliau takjub sendiri, beliau meditasi sepanjang malam, subuh itu ia melihat meteor, beliau jadi sadar bahwa semua orang punya kemampuan untuk mengerti, kemampuan sadar, dan kemampuan mencintai, namun sementara ini mereka tenggelam dalam samudra penderitaan dari satu kehidupan menuju kehidupan selanjutnya.”

Kemampuan ini dimiliki oleh semua orang, namun mereka tidak percaya, oleh karena itulah mereka jatuh ke dalam kompleks bahwa dirinya bukanlah orang yang layak dicintai, tidak layak menjadi leluhur, tidak layak menjadi guru spiritual, dan sebagainya. Ini disebut kompleks inferior, kompleks ini perlu ditransformasi. Caranya yaitu lewat mengenali bahwa ada sifat layak dari orang lain, dia adalah orang yang engkau cintai. Mengenali bahwa kasih sayang dan welas asih merupakan sumber energi yang penting bagi seseorang, ketika engkau menyentuh energi baik sang kekasihmu maka energi ini akan memantul balik ke dirimu, ketika engkau merenungkan orang lain berarti engkau sedang merenungkan dirimu sendiri. Sama juga ketika engkau bersujud kepada Buddha di altar maka engkau punya kesempatan untuk menyentuh Buddha yang ada dalam hatimu.

Ada orang yang punya waktu untuk memberikan kesempatan kepada energi pengertian, welas asih, dan kasih sayang untuk tumbuh. Ketika energi seperti ini tumbuh, mereka menjadi bahagia, mereka yang punya energi kasih sayang, welas asih, sukacita, dan kebebasan adalah orang bahagia. Apabila engkau punya kesempatan untuk bersentuhan dengan orang demikian, mencintainya, maka engkau punya kesempatan untuk menyentuh sifat baik dalam dirimu. Mungkin ada banyak energi derita, keragu-raguan, putus asa, sifat cemburu, namun energi ini tidak bisa mematikan energi kebaikan dalam dirimu, energi ini tidak bisa mematikan kasih sayang dalam dirimu.

Buddha mengatakan pikiran selalu bersinar seperti cermin, namun cermin ini terkubur dalam debu ratusan tahun, kita cuman perlu menggunakan kain lap untuk membersihkannya dengan demikian cermin ini bisa bersinar kembali, ini yang disebut benih Buddha atau elemen dasar pencerahan, semua orang punya elemen dasar ini. Akibat dari penderitaan dan persepsi keliru sangat banyak maka, debu-debu ini menutupi elemen dasar pencerahan, begitu banyak persepsi keliru dalam dirimu. Tugas kita adalah berlatih untuk membersihka lapisan debu ini dan mengangkat layar persepsi keliru agar engkau bisa mengerti bahwa elemen dasar kencantikan, kebaikan, dan ketulusan memang sudah ada dalam dirimu, ini merupakan latihan esensial meditasi buddhis. Pada umumnya engkau merasa minder, makanya engkau mencari orang lain, engkau mencari guru yang bisa memberi sesuatu yang engkau tidak punya, tetapi sesungguhnya seorang guru yang mahir adalah guru yang membantu kamu menemukan guru dalam dirimu, guru itu akan meminta kamu untuk kembali ke gurumu ‘sendiri’, karena engkau telah punya elemen dasar kebaikan, elemen dasar pencerahan, elemen dasar welas asih dan sukacita, ketika engkau kembali pada dirimu sendiri dan menyentuh kehidupanmu dengan mendalam, maka engkau menemukan guru dalam hatimu sendiri. Seorang guru yang mahir adalah guru yang tidak membuat kamu menjadi orang yang tergantung kepadanya, seorang guru yang mahir adalah dia yang menyuruhmu kembali ke diri sendiri untuk menemukan bahwa ada guru dalam hatimu, engkau tidak perlu mengemis apa pun, engkau tidak perlu mengemis kecantikan, engkau tidak perlu mengemis kebaikan, engkau juga tidak perlu mengemis kebenaran, ternyata semua itu sudah ada dalam dirimu, inilah pernyataan Buddha ketika beliau tercerahkan, “Sungguh aneh, semua orang punya elemen dasar itu, namun mereka tenggelam dari satu kehidupan menuju kehidupan berikutnya, mereka tenggelam dalam samudra penderitaan”.

Jadi, apa artinya cinta? Mencintai berarti saling memandang dan memandang bersama pada arah yang sama, ketika engkau tahu cara memandang, maka saling memandang akan menjadi suatu hal yang indah sekali, karena engkau tahu cara saling memandang dan menemukan elemen dasar kebaikan, kecantikan, dan ketulusan di pasanganmu dan dirimu sendiri. Memandang orang lain berarti memandang diri sendiri, jadi engkau punya kesempatan untuk menemukan bahwa cinta merupakan sesuatu yang nyata dan eksis.

Banyak kesempatan sudah hadir bagimu, bagi kita semua, beruntung bisa menerimanya. Cinta merupakan sesuatu yang sungguh eksis, cinta merupakan sebuah energi yang membantu engkau menjadi kuat, menjadi penuh kasih, dan menjadi penuh perhatian. Perhatian terhadap kondisi orang dan makhluk lain, perhatian dicurahkan untuk meringankan penderitaan, perhatian dicurahkan untuk menolong orang lain agar mereka berbahagia. Ketika engkau bersentuhan dengan orang lain maka, engkau menghadirkan energi cinta, pada saat bersamaan engkau bersentuhan dengan kecantikan, karena cinta adalah kecantikan. Melalui pengalaman seperti ini engkau sadar bahwa cinta dan kecantikan itu eksis maka engkau bisa membangkitkan cinta dan kecantikan setiap hari, hidupmu menjadi lebih bermakna.

Buddha bilang, berlatih maitri membawa kecantikan, kecantikan yang membuat hidup lebih bermakna. Beliau juga bilang ketika engkau berlatih karuna atau welas asih, maka hatimu seperti angkasa raya tanpa batas, karuna merupakan sebuah energi yang membantumu untuk mengurangi penderitaan, membantu orang disekeliling untuk mengurangi penderitaanya. Karuna juga merupakan energi untuk mentrasformasi penderitaan. Penderitaan itu seperti sampah kompos, cinta seperti bunga. Kompos itu tidak begitu indah sedangkan cinta atau bunga itu indah, tugas penderitaan dan kompos sudah jelas, kalau kita tau bagaimana memanfaatkan penderitaan maka kita bisa mentransformasi penderitaan menjadi cinta, kita bisa menghadirkan kecantikan bunga.

Mengerti tentang penderitaan orang disekelilingmu dan mengerti penderitaan pribadi sangat penting, karena melalui pengertian atas penderitaan engkau baru bisa mentransformasi penderitaan menjadi cinta. Ketika kecantikan hadir maka cinta juga ada disitu, ketika welas asih hadir disitu maka engkau merasa punya banyak ruang di hatimu. Ketika engkau berucap penuh cinta kasih dan welas asih, kita sangat percaya bahwa orang yang mendapatkan manfaat hanyalah orang lain, engkau cenderung lupa bahwa pada momen itu cinta telah lahir dalam hatimu, begitu juga welas asih sudah lahir dari hatimu paling dalam, jadi orang pertama yang mendapatkan manfaat adalah dirimu sendiri, ketika cinta dan welas asih lahir dalam dirimu maka kecantikan dan kebahagiaan lahir seketika itu juga.

Buddha mengatakan bahwa berlatih maitri maka, engkau bisa merasakan banyak ruang dalam hatimu, ruang kosong ini memberi kesempatan kepada sukacita untuk tumbuh, kebahagiaan dan sukacita sesungguhnya tidak akan bisa terjadi kalau hatimu tidak ada ruang. Maitri diterjemahkan menjadi kasih sayang, ini merupakan elemen pertama dari true love. Karuna adalah welas asih, kemampuan untuk mengurangi dan mentransformasi penderitaan. Mudita atau sukacita merupakan elemen ketiga true love yang diajarkan oleh Buddha, elemen keempat adalah upeksa yang berarti kesetaraan atau non diskriminasi atau bisa diterjemahkan menjadi kebebasan. Engkau mencintai bukan karena orang tersebut bagian dari keluarga kandungmu, engkau mencintai seseorang bukan karena dia sama agamanya. Engkau mencintai bukan karena dia adalah anak kandungmu atau istri atau suamimu. Engkau mencintai karena orang itu butuh cintai, itu saja! Cintamu tanpa harus ada syarat apa pun, ini namanya cinta tanpa syarat, engkau mencintai untuk mengurangi penderitaan, mentransformasi penderitaan, menghadirkan sukacita, menghadirkan kebahagiaan. Engkau tidak berharap balasan apa pun. Buddha bilang ketika engkau mencintai maka engkau tidak ada apa pun, namun “tidak ada apa pun” juga suatu hal yang indah, berarti engkau tidak butuh apa pun, namun engkau punya semuanya.

Tanpa kehadiran Upeksa, cinta berubah menjadi posesif. Hembusan angin pada musim panas memberi kesegaran, namun apabila engkau mencoba untuk mengalengkan angin itu agar bisa menikmatinya sendirian, maka angin itu akan mati.

Kekasih atau orang yang kita sayangi juga demikian, dia bagaikan awan, angin atau bunga, apabila engkau mengurungnya dalam kaleng, dia akan mati. Ternyata banyak orang bertindak demikian, mereka merampas kebebasan sang kekasih, lebih parah lagi bahkan sang kekasih sudah tidak bisa menjadi dirinya sendiri lagi.

Banyak orang yang hanya hidup untuk memuaskan dirinya sendiri saja, menjadikan kekasihnya sebagai objek untuk memenuhi keinginannya, tindakan demikian bukanlah mencintai namun menghancurkan!

Engkau berulang kali mengatakan “aku cinta padamu”, namun apabila engkau tidak mengerti aspirasi, kebutuhan, kesulitannya, maka engkau sedang memenjarakan kekasihmu dalam sel yang bernama “cinta”.

Cinta sejati memberimu dan kekasihmu ruang agar tetap memiliki kebebasan

Wejangan Dharma oleh Thich Nhat Hanh pada tanggal 01 Januari 1998 di Plum Village Prancis

Ucapan Benar

Ucapan Benar

Begawan Buddha, selama hidup-Mu, Engkau telah mencurahkan banyak waktu untuk mengajarkan Dharma kepada para biksu, biksuni, dan praktisi awam. Kata-kata-Mu menyiram benih-benih pengertian dalam diri mereka yang mendengarnya dan membantu mereka untuk melepaskan persepsi salah. Ucapan-Mu menuntun banyak orang menuju ke arah yang positif. Ucapan-Mu menghibur mereka yang tertekan dan membangkitkan kepercayaan diri dan energi yang dibutuhkan.

Ada saat-saat ketika ada orang mengajukan pertanyaan kepada-Mu dan Engkau hanya duduk diam, tersenyum, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Engkau melihat bahwa bagi orang-orang ini, keheningan jauh lebih manjur daripada kata-kata. Sebagai murid-Mu, aku ingin dapat melakukan apa yang Engkau lakukan dan hanya berbicara jika diperlukan, dan diam bila diperlukan untuk diam.

Begawan Buddha, aku berjanji kepada-Mu bahwa mulai sekarang aku akan berlatih berbicara lebih sedikit. Aku tahu bahwa di masa lalu aku telah berbicara terlalu banyak. Aku telah melontarkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diriku atau bagi mereka yang mendengarkannya. Aku juga telah melontarkan hal-hal yang menyebabkan diriku dan orang lain menderita. 

Dalam ceramah Dharma pertama yang Engkau berikan kepada lima biksu di Taman Rusa, Engkau menyebutkan praktik Ucapan Benar, salah satu dari delapan Praktik Benar yang termasuk dalam Jalan Mulia Beruas Delapan. Latihan ucapan benarku masih sangat lemah. Aku telah mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, yang membuat komunikasi menjadi sulit antara aku dan orang lain karena persepsiku yang salah, karena pemikiranku yang tidak matang atau karena aku berbicara dengan kemarahan, kesombongan, dan kecemburuan. Aku tahu bahwa ketika komunikasi menjadi sulit atau terputus sama sekali, maka aku tidak bisa bahagia. 

Aku bertekad mulai dari sekarang, ketika bentuk-bentuk mental (mental formations) dari kejengkelan, kesombongan, dan kecemburuan timbul dalam diriku, aku akan kembali ke napas berkesadaran sehingga aku dapat mengenali bentuk-bentuk mental itu. Aku akan berlatih berdiam dalam keheningan dan tidak bereaksi lewat ucapan negatif. Saat aku ditanya mengapa aku tidak berbicara, aku akan jujur mengatakan bahwa ada iritasi, kesedihan, atau kecemburuan dalam diriku dan aku khawatir jika aku berbicara maka akan dapat menyebabkan perpecahan.

Aku akan meminta kesempatan lain untuk mengutarakannya ketika pikiranku telah menjadi lebih damai. Aku tahu bahwa jika aku melakukan itu, aku akan dapat melindungi diriku dan pihak lain. Aku tahu bahwa aku juga seharusnya tidak membekap emosiku. Untuk itu, aku akan menggunakan napas berkesadaran untuk mengenali dan menjaga emosiku, dan berlatih melihat secara mendalam ke akar bentuk-bentuk mentalku. Jika aku berlatih seperti itu, aku akan dapat menenangkan dan metransformasikan penderitaan yang sedang aku rasakan.

Aku tahu bahwa aku memiliki hak dan kewajiban untuk mengizinkan orang yang aku cintai mengetahui kesulitan dan penderitaanku. Meskipun demikian, aku akan berlatih untuk memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berbicara, dan akan berbicara dengan menggunakan kata-kata yang menenangkan dan penuh kasih. Aku tidak akan menggunakan kata-kata menyalahkan, tuduhan, atau kecaman. Sebaliknya, aku hanya akan berbicara tentang kesulitan dan penderitaanku sehingga orang tersebut memiliki kesempatan untuk mengerti lebih baik tentang diriku.

Ketika aku berbicara aku dapat menolong orang lain untuk melepaskan persepsi salahnya tentang diriku, dan itu akan membantu kami berdua. Aku akan berbicara dengan penuh kesadaran bahwa yang aku katakan dapat saja muncul dari persepsiku yang salah tentang diriku atau pihak lain. Aku akan bertanya kepada orang tersebut, jika ia melihat elemen salah persepsi dari ucapanku, memohon dia menunjukkannya kepadaku dengan terampil dan memberikan nasihat kepadaku.

Begawan Buddha, aku berjanji untuk berlatih berbicara dengan berkesadaran sehingga pihak lain dapat mengerti diriku dan dirinya sendiri dengan lebih baik, tanpa menyalahkan, mengkritik, menghina atau marah. Ketika aku menceritakan penderitaanku, luka dalam diriku mungkin akan tersentuh dan bentuk-bentuk mental dari kemarahan akan muncul. Aku berjanji kapanpun rasa marah dan iritasi mulai muncul, aku akan berhenti berbicara dan kembali ke napasku sehingga aku dapat mengenali kemarahanku dan tersenyum padanya.

Aku akan meminta izin pada orang yang sedang duduk dan mendengarkanku untuk berhenti berbicara beberapa saat. Ketika aku melihat bahwa aku telah kembali pada keadaan yang tenang, aku akan melanjutkan pembicaraan. Ketika orang lain berbicara, aku akan mendengarkan secara mendalam dengan pikiran yang tenang dan tanpa prasangka. Ketika aku sedang mendengarkan, jika aku mengenali apa yang dikatakan orang tersebut bukanlah kebenaran, aku tidak akan menginterupsinya. Aku akan terus mendengarkan secara mendalam dan sungguh-sungguh; demi mengerti apa yang menyebabkan orang itu memiliki persepsi salah.

Aku akan mencoba melihat apa yang telah aku lakukan atau katakan sehingga membuat orang itu salah paham terhadapku. Pada hari berikutnya, aku akan menggunakan ucapan dan tindakan yang lembut dan terampil dan membantu orang lain menyelaraskan persepsinya terhadapku. Ketika orang tersebut selesai berbicara, aku akan menyatukan kedua telapak tanganku dan berterima kasih padanya atas pembicaraan yang tulus dan terbuka denganku.

Aku akan merenungkan secara mendalam apa yang telah dikatakan oleh orang tersebut sehingga pengertian dan kemampuanku untuk hidup secara harmonis dengannya semakin baik hari demi hari. Aku sadar dengan membuka hati dan pikiran kita satu sama lainnya secara bertahap, kita akan dapat melepaskan kesalahpahaman, penilaian dan kritikan antara satu sama lainnya. Dengan berlatih berbicara dengan terampil dan penuh kasih, aku akan memiliki kesempatan terbaik untuk merawat cinta dan pengertian.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan-Mu dan di hadapan Bodhisatwa Mendengarkan Mendalam, Avalokiteshvara. [Genta]

Surat Cinta Untuk Bumi

Surat Cinta Untuk Bumi

UNTUK MERAYAKAN HARI BUMI kami ingin menawarkan mediasi berikut ini, yaitu surat cinta untuk Bumi, yang ditulis oleh Thay. Ini adalah kontemplasi yang dapat membantu menciptakan percakapan yang mendalam, dialog yang hidup, dengan planet kita. Dan yang terpenting, ini adalah praktik melihat secara mendalam.

Dikutip dari “Surat Cinta untuk Bumi” oleh Thich Nhat Hanh

IBU TERCINTA DARI SEMUA HAL

Ibu Bumi yang terkasih,

Aku menunduk hormat di hadapan-Mu saat aku melihat secara mendalam dan menyadari bahwa Engkau hadir dalam diriku dan bahwa aku adalah bagian dari diri-Mu. Aku terlahir dari diri-Mu dan Engkau selalu ada dan hadir, menawarkan semua yang aku butuhkan untuk makanan dan pertumbuhan diriku. Ibuku, ayahku, dan semua leluhurku juga adalah anak-anakmu. Kami menghirup udara segar dari-Mu. Kami minum air jernih milik-Mu. Kami makan makanan bergizi dari-Mu. Tumbuhan herbal dari-Mu menyembuhkan kami ketika kami sakit.

Engkau adalah ibu dari semua makhluk. Aku memanggil-Mu dengan nama manusia Ibu, namun aku tahu sifat keibuan-Mu lebih luas dan tua daripada peradaban umat manusia. Kami hanyalah satu spesies muda dari banyak anak-anak-Mu. Jutaan spesies lain yang hidup — atau yang pernah hidup — di Bumi juga adalah anak-anak-Mu. Engkau bukan manusia, tapi aku tahu Engkau juga seperti manusia. Engkau adalah makhluk bernapas yang hidup dalam bentuk sebuah planet.

Setiap spesies memiliki bahasanya sendiri, namun sebagai Ibu kami, Engkau dapat memahami kami semua. Itulah mengapa Engkau dapat mendengarkan aku hari ini saat aku membuka hatiku untuk-Mu dan mempersembahkan doaku.

Ibu terkasih, di mana pun ada tanah, air, batu atau udara, Engkau ada di sana, memberi makan untukku dan memberi kehidupan padaku. Engkau hadir di setiap sel tubuhku. Tubuh fisikku adalah tubuh fisik-Mu, dan sama seperti matahari dan bintang-bintang yang hadir di dalam diri-Mu, mereka juga hadir dalam diriku. Engkau tidak berada di luar diriku dan aku tidak berada di luar diri-Mu. Engkau lebih dari sekedar lingkunganku. Engkau tidak kurang dari diriku.

Aku berjanji untuk menjaga kesadaran tetap menyala bahwa Engkau selalu ada di dalam diriku, dan aku selalu ada di dalam diri-Mu. Aku berjanji untuk menyadari bahwa kesehatan dan kesejahteraan-Mu adalah kesehatan dan kesejahteraan diriku sendiri. Aku tahu bahwa aku perlu menjaga kesadaran ini tetap menyala dalam diriku agar kita berdua menjadi damai, bahagia, sehat, dan kuat.

Terkadang aku lupa. Tersesat dalam kebingungan dan kecemasan akan kehidupan sehari-hari, aku lupa bahwa tubuhku adalah tubuh-Mu, dan terkadang bahkan lupa sama sekali bahwa aku memiliki tubuh. Tidak menyadari keberadaan tubuhku dan planet indah di sekelilingku dan di dalam diriku, membuat aku tidak dapat menghargai dan merayakan anugerah kehidupan yang berharga yang telah Engkau berikan kepadaku. Ibu terkasih, harapan terdalamku adalah untuk bangkit dan sadar akan keajaiban kehidupan. Aku berjanji untuk melatih diriku agar selalu hadir bagi diriku sendiri, bagi hidupku, dan bagi-Mu setiap saat. Aku tahu bahwa kehadiranku yang sebenarnya adalah hadiah terbaik yang bisa aku berikan kepada-Mu, Ibu yang aku cintai.

***

AGAR KITA DAPAT BERTAHAN, baik sebagai individu maupun sebagai spesies, kita membutuhkan revolusi dalam kesadaran. Hal ini bisa dimulai dengan kebangkitan kolektif kita. Dengan melihat lebih mendalam, dengan kesadaran penuh dan konsentrasi, kita dapat melihat bahwa kita adalah Bumi dan, dengan ini maka wawasan, cinta dan pengertian akan lahir.

Tidak ada batas di mana atau bagaimana salah satu dari kita dapat melakukan percakapan secara mendalam dengan Bumi. Anda bahkan mungkin dapat menulis surat cinta Anda sendiri untuk Ibu Bumi sesuai dengan keinginan Anda.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan Terima Kasih


Kami dari Sanggha monastik, biksu dan biksuni dari Tradisi Zen Plum Village yang berada di Thailand, mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati kepada semua kebaikan para donatur yang telah berbaik hati membantu kelangsungan monastik selama tahun 2020 ini. Semoga Anda semua sehat, semoga semua makhluk berbagai, dunia aman dan damai.

Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Kepada Thay terkasih, dan para leluhur spiritual yang kami muliakan,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas untuk berlatih dan merayakan hari keberlanjutan dari guru Spiritual kami. Thay yang tanpa gentar telah menunjukan sang jalan, sebagai bintang di utara agar kami tidak tersesat pada pandangan salah tentang kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kami mengucap syukur dan merasa beruntung karena berjodoh dengan Para Guru dan Ajaran mulia. Kami menyadari tanpa bimbingan Guru Spiritual yang terampil, akan sulit bagi kami untuk mewujudkan transformasi diri dan transformasi sosial di sekitar kami.

Kami juga menyadari, bahwa praktik yang kami lakukan menjadi wujud dari keberlanjutan para guru dan leluhur spiritual. Di dalam setiap napas maupun langkah yang kami lakukan dengan sadar-penuh, kami dapat melihat kehadiran Guru kami serta para leluhur spiritual ada bersama latihan tersebut. Kami juga mampu melihat, hadirnya keberlanjutan Guru Spiritual kami pada Komunitas berlatih yang harmonis. Thay tidak pernah terpisah dan hilang dalam setiap aktivitas spiritual yang kami lakukan.

Thay yang kami kasihi, kami menyadari semangat idealmu untuk menghadirkan lebih banyak pengertian mendalam dan belas kasih dalam setiap tindakan kami. Melalui seni hidup berkesadaran, Engkau berikan proposal tentang tatanan kehidupan yang lebih baik bagi diri kami dan generasi selanjutnya. Kami menyadari masih banyak kelalaian dalam diri kami, sehingga kami tidak mampu berlatih dengan sungguh-sungguh.

Menyadari hal itu, kami ingin meneguhkan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Thay yang kami kasihi, pada hari berkelanjutanmu ini, kami persembahkan latihan kami sebagai hadiah untukmu. Semoga kami mampu untuk menghadirkan tatanan dunia yang lebih berwelas asih, dan secara kolektif mampu menghapus kejamnya sikap diskriminasi dan intoleransi yang ada di dalam diri kami dan kesadaran kolektif komunitas kami.

Dear Thay, and our most noble spiritual ancestors,

We have come here today as a fourfold community to practice mindfulness and to celebrate our Spiritual Teacher’s continuation day. Thay, you have unwaveringly guided our paths, as the north star guides travelers, so that we do not lose ourselves in harmful ideations in our journey to true happiness.

We express our boundless gratitude to you and we feel infinitely fortunate for having been destined for The Teachers and Noble Teachings. We realise that without a skilled Spiritual Teacher it would be difficult for us to undergo our self transformation and trigger the social transformation around us.

We realise that our practices are a manifestation of the continuation of our teachers and spiritual ancestors. In every step and breath we take mindfully, we see also our Teacher’s presence in ourselves along with that of our spiritual ancestors. We see the continuation of our Spiritual Teacher in our harmonious Community practices. Thay, you are never separate from and always present in any spiritual activity we do.

Thay whom we love, we admire the spirit in your ideals to bring deeper understanding and more compassion to every aspect of our lives. Through the art of living mindfully, you have given us and our future generations the opportunity to lead better lives. We realise there is still ignorance in our spirits, and therefore we are not yet capable of practicing with full sincerity.

Understanding that, we pledge to strengthen our commitment to our daily practice, seeking refuge in our beloved community, and continuing your ways and the ways of all the teachers amongst our spiritual ancestors. We vow to live life profoundly through breathing and walking mindfully in all the paths of our lives, because we know that that is your favourite practice. We know that you take joy in building sanghas, so we will continue building brotherhoods and sisterhoods with all our hearts, even though at times we may face challenges. We will never give up on our practices or leave our community, and we instead aspire to listen deeply and to help each other. We will never leave behind a member of our community, even if we may sometimes cause each other suffering.

Thay whom we love, on your continuation day today, we offer you our practice as a gift. May we face the challenges the world presents to us with compassion, and together transform the cruelty, discrimination, and intolerance in our hearts and collective consciousness.

oleh: True Forest of Communication – Chân Thông Lâm (真通林)

Berjalan dengan Kesadaran Penuh

Berjalan dengan Kesadaran Penuh
Jalur meditasi jalan di Upper Hamlet, PV Prancis

Begawan Buddha, aku merasakan kehangatan di hatiku setiap kali aku bercerita dan mecurahkan isi hatiku kepadaMu. Aku merasakan kehadiranMu di setiap sel tubuhku dan tahu jika Engkau mendengarkan dengan penuh kasih atas semua yang aku katakan. Engkau berjalan di planet Bumi ini bak orang bebas. Aku juga ingin berjalan di planet Bumi ini sebagai orang bebas.

Di sekelilingku masih ada orang yang tidak berjalan sebagai orang yang bebas. Mereka hanya tahu cara berlari. Mereka berlari ke masa depan karena berpikir bahwa kebahagiaan tidak dapat ditemukan pada saat ini. Mereka berjalan di bumi tetapi pikiran mereka di awan. Mereka berjalan seperti orang yang berjalan sambil tidur, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Aku sadar dalam diriku juga ada kebiasaan yang mengakibatkan kedamaian dan kebebasanku hilang ketika aku berjalan.

Buddha yang terkasih, aku bertekad untuk mengikuti teladanMu dan selalu berjalan sebagai seorang yang bebas dan sadar. Aku bertekad dalam setiap langkahku, kedua kakiku akan benar-benar menyentuh bumi dan aku akan waspada bahwa aku sedang berjalan di atas landasan realita dan bukan mimpi. Berjalan seperti itu, membuat aku terhubung dengan segala sesuatu yang indah dan menakjubkan di alam semesta. Aku bertekad untuk berjalan sedemikian rupa sehingga kakiku akan mampu mencetak jejak kebebasan dan perdamaian di bumi.

Aku tahu dalam langkah-langkah yang diayunkan seperti ini dapat menyembuhkan tubuh dan pikiranku juga planet Bumi. Ketika aku berlatih meditasi jalan di luar dengan Sanggha, aku bertekad untuk mensyukuri bahwa ini berjalan bersama Sanggha adalah kebahagiaan besar. Dalam setiap langkah, aku menyadari bahwa aku bukanlah setetes air, melainkan bagian dari sungai yang lebih besar. Dengan bernapas dan berjalan berkesadaran penuh, aku akan menciptakan energi kesadaran penuh dan konsentrasi yang berkontribusi pada kesadaran kolektif Sanggha. Aku akan membuka tubuh dan pikiranku agar energi kolektif Sanggha dapat masuk ke dalam diriku, melindungi, dan membantuku mengalir dengan lembut seperti sungai, menyelaraskan diri dengan segala sesuatu yang ada. Aku tahu bahwa dengan mempercayakan tubuh dan pikiranku, juga rasa sakit yang aku miliki kepada Sanggha, semua itu berpeluang untuk dirangkul dan disembuhkan. Dengan cara ini aku akan dirawat saat aku berlatih berjalan dengan penuh perhatian bersama Sanggha dan bertransformasi secara signifikan dalam tubuh dan pikiranku. Di aula meditasi aku akan membuka diri terhadap energi Sanggha ketika berlatih meditasi jalan perlahan, berjalan satu langkah pada saat bernapas masuk dan satu langkah pada saat bernapas keluar. Aku berjanji untuk berjalan sedemikian rupa sehingga setiap langkah dapat menutrisiku dan Sanggha dengan energi kebebasan dan soliditas.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku bersujud di hadapanmu, di hadapan Bodhisattwa Dharanimdhara, Penguasa Bumi, dan di hadapan Bodhisattwa Sadaparibhuta. [Genta]

I Vow to Live this Day with Love

I Vow to Live this Day with Love

Unduh Mp3 klik sini


Composed by Sze Chai


There’s a time, when the sun starts to fall
When the fire and tears come along
The life of an innocent child is risking its all
Is there hope comes with with dawn?

There’s a time, I wish to do something more
But I’m all alone, I cannot be strong
Though the sun has risen, it’s hard to feel its warmth
On this path, please guide me along!

It’s time to stop
It’s time to breathe
It’s time to take care of myself
It’s not a fault to take a walk in peace and harmony
How can I heal a wounded heart
If I only see the dark
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

There’s a time, I take a little pause
The world seems so different than before
My friends still smiling, my beloved still alive
There is hope, and love can re-born!

It’s time to stop
It’s time to breathe
It’s time to take care of myself
It’s not a fault to take a walk in peace and harmony
How can I heal a wounded heart
If I only see the dark
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

I vow to talk
I vow to think
I vow to act only out of love
Though in the darkest phase of time, there is no hatred and no fear
Our compassion is the light
Guides us to pass through the night
It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love

It’s gonna change tomorrow
Because I vow to live this day with love