Walking in Freedom

Walking in Freedom

Pagi ini kami mengadakan latihan jalan berkesadaran bersama. Kali ini kami mencari tempat baru di luar sekolah, agar ada suasana baru. Dengan keterbatasan tempat yang ada di kota ini, kami mendapatkan dua tempat, kebun di sebelah sekolah sebagai tempat berlatih mindful walking dan kebun ubi dengan hamparan ladang kelapa sawit yang luas sebagai latar belakangnya sebagai tempat meditasi berdiri. Ini cukup menyegarkan karena dapat melihat dan merasakan suasana alam kembali di tengah rutinitas kami sebagai guru.

Berikut beberapa sharing berupa puisi, cerita dan insight dari guru-guru berdasarkan pengalaman mereka dalam berlatih mindful walking pada pagi ini atau selama ini.

Masih Adakah Alasan Bagi Kita Untuk Tidak Bersyukur?

Berjalan, tak hanya sekadar menapakkan kaki di Bumi.

Berjalan adalah sebuah keajaiban yang selayaknya harus disyukuri sepanjang napas masih bersarang di raga.

Sadari betapa luar biasa bahagianya seorang ibu yang melihat bayinya mulai bisa berjalan melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya.

Bayangkan dan sadari betapa seorang astronot atau angkasawan yang pasti sangat merindukan menginjakkan kakinya di Bumi, saat ia telah berada begitu lama di angkasa luar.

Atau…

Bayangkan betapa rindunya seorang kapten kapal atau awak kapal yang bekerja di laut lepas atau seorang nelayan yang berbulan-bulan berada di tengah laut, dan tak dapat menginjak bumi.

Jadi, adakah alasan lagi bagi kita untuk tidak bersyukur atas masih dapat dengan bebas menapakkan kaki di Bumi dan melangkahkannya? (VJM)

Sepatu Bagus Tidak Akan Berguna Apabila Kita tidak Dapat Berjalan

Aku pernah menonton sebuah film tentang kehidupan seorang perempuan dan ada sebuah quote di dalamnya yang berbunyi seperti ini, “Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus”, dan aku setuju dengannya waktu itu, sebelum aku mengenal tentang meditasi berjalan. Mengapa? Karena kita biasanya memakai sepatu bagus untuk pergi ke tempat yang bagus. Semua orang melakukan itu. Kita akan bahagia memakai sepatu yang bagus karena kita tahu kita akan pergi ke suatu tempat dengannya. Dan tentu, kita merasa bahagia karena itu.

Tetapi ketika aku belajar meditasi berjalan, pikiranku langsung berubah. Meditasi berjalan mengajarkan aku bahwa ke mana pun kita pergi, kuncinya bukan pada sepatu yang dikenakan, tetapi pada kaki yang merupakan bagian dari tubuh kita. Sepatu yang bagus tidak akan ada gunanya apabila kita tidak dapat berjalan. Disadari atau tidak, tubuh kita adalah keajaiban Tuhan, sangat indah. Kita memiliki perasaan karena kita dapat merasakan semua hal. Perasaan yang kita rasakan ketika memakai sepatu bagus yang akan membawa kita ke tempat yang bagus tidaklah sebanding dengan perasaan yang muncul ketika kita hanya memakai sepasang sandal biasa dan berjalan dengan penuh kesadaran. Aku menyadari insight ini, and it’s amazing.

Meditasi jalan telah mengajarkan aku untuk membuka mata, hati dan pikiranku bahwa aku memiliki tubuh yang menakjubkan yang harus kurawat. Aku memiliki kaki yang dapat membawaku ke mana saja yang aku inginkan. Aku memiliki mata yang dapat melihat pemandangan indah. Ini bukan lagi tentang sepasang sepatu bagus yang membuatku bahagia, tetapi kebahagiaan walau hanya memakai sandal, berjalan dengan perlahan dan penuh kesadaran, yang tidak dapat digantikan oleh apapun.

Aku merasakan hal ini ketika retret di Pllum Village Thailand 2019. Aku melihat ratusan orang dengan wajah bahagia berlatih bersama meditasi berjalan pada pagi hari dengan pemandangan yang indah dan udara yang segar. Ya, aku dapat merasakan apa yang membuat mereka bahagia. Berjalan menyadari kaki melangkah, memperhatikan langkah kita perlahan menyentuh Bumi, dan menyadari kita dapat berjalan adalah kebahagiaan sesungguhnya. Aku yakin mereka juga merasakan hal yang sama waktu itu. Meditasi berjalan membawa kita pada perasaan lebih mendalam, lebih menghargai dan tentu saja, lebih bersyukur. (BAS)

Memandang Dari Sudut Pandang Yang Berbeda

Ketika kita berada di suatu tempat dalam suatu perjalanan, entah perjalanan sungguhan ataupun perjalanan hidup, ada banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya, termasuk suka duka yang kita lewati juga merupakan pembelajaran bagi kita sendiri. Saat kita berdiri sendiri, menyadari napas masuk napas keluar… saya sadar saya hidup…. meyakini bahwa kita masih hidup adalah salah satu momen wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Ada beberapa hal yang menjadi pengingat ‘momen saat ini’ tadi pagi. Ketika melihat hamparan warna hijau, yang terbayang adalah wujud kebesaran Allah SWT. Menyadari saat kita melihat, kita masih memiliki mata yang lengkap dan sempurna, saat kita mendengar dengan telinga, bernapas dengan hidung dan paru-paru yang sehat, berdiri dengan kaki yang tegak, semua kesehatan yang ada pada kita saat ini adalah berkah pemberian Allah SWT.

Melihat sebatang pohon kering, juga menjadikan pemikiran saya lebih mendalam. Terbersit beberapa pertanyaan, “Mengapa pohon itu begitu? Mungkin banyak faktor yang mempengaruhinya, entah tanahnya yang tidak subur lagi, entah mungkin memang saatnya ia menggugurkan daunnya atau mungkin memang ia sudah saatnya kering dan mati”.

Banyak hal yang bisa menyebabkan itu semua terjadi, menyadari bahwa ia adalah salah satu bukti siklus hidup di bumi ini. Bukti bahwa ia pernah hidup, pernah berada di sekitar kita, di dekat kita, bersama kita dan bahwa kita semua adalah bukti ketidakabadian dalam hidup ini. Semua itu menjadikan diri saya belajar. Belajar bersyukur, belajar untuk menerima dan melepaskan. Ikhlas, merupakan satu kata yang tepat walau tidak mudah untuk dilakukan.(ES)

Banyak Rasa Syukur Ketika Kita Menyadari Saat Ini

Masih banyak cerita lain dari guru-guru. Semua cerita bermuara pada rasa syukur atas saat ini. Ada di antara mereka yang sedang memiliki masalah, tetapi ketika berjalan menyadari setiap langkah dan menyadari momen saat ini, dapat menyegarkan dan menenangkan mereka.

“Ketika aku bernapas masuk, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Ini adalah menakjubkan bahwa aku masih dapat berjalan seperti ini.’ Dengan kesadaran itu, aku dapat menikmati setiap langkahku. Aku berkata, ‘Aku hidup!’

Mindfulness mengingatkan aku untuk memberi perhatian dan menikmati bahwa tubuhku masih hidup dan cukup kuat bagiku untuk berjalan.”

(Latihan Jalan Berkesadaranini sekaligus kami persembahkan sebagai hadiah kepada Thay Thich Nhat Hanh yang genap berusia 94 tahun pada tanggal 11 Oktober 2020. Happy Continuation Day, Thay!)

Rumini, Guru Sekolah Ananda, Bagan Batu

Kumpulan Cerita Yang Tidak Pernah Selesai

Kumpulan Cerita Yang Tidak Pernah Selesai
Chanting Namo Avalokitesvaraya @Lower Hamlet, Plum Village France

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Kalimat ini tentu sudah sering terdengar, terlepas dari apa agama apa pun. Tentu saja ini benar. Contohnya saya berencana memotong rambut agar rambut saya tidak mekar seperti singa jantan, kenyataannya malah seperti orang baru bangun tidur. Contoh lain saya berencana membuat pudding cantik dengan bunga asli, kenyataannya warna kuning sang bunga krisan kalah genjreng dengan warna kuning buah mangga yang sedang musim, alih-alih terlihat bunganya, semua lapisan hanya terlihat kuning.

Di waktu lain, saya berencana menjadi penulis artikel pendek yang produktif, kenyataannya semua artikel saya setengah jalan, tidak ada yang selesai dan tidak ada yang dikirimkan ke media mana pun. Hal di atas hanya cerita dari sisi manusia biasa, bagaimana cerita manusia adidaya seperti Buddha Gautama?

Konon tertulis bahwa Buddha sewaktu bangkit dari pencerahannya, Beliau lama terdiam, merenung dan memikirkan apakah Beliau mangkat saja atau tetap tinggal di Bumi, mengajarkan Dharma dengan susah payah, jungkir balik dan mungkin dibenci banyak orang. Singkat cerita, Buddha tinggal dan mengajarkan Dharma hingga jejaknya masih ada saat ini, apakah Buddha berencana?

Pertanyaan di atas tentu saja bukan pertanyaan yang mudah dijawab, apalagi bagi kita yang belum mengembangkan jalan hidup spiritual dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang duniawi. Seseorang mungkin menjawab, Buddha pasti membuat rencana buktinya Beliau mengunjungi kelima sahabatnya berlatih dan membabarkan Dharma sehingga kelimanya menjadi murid-Nya. Orang lain mungkin berkata Buddha tidak berencana mengajarkan Dharma dan membiarkan ajaran Buddha menjadi banyak aliran.

Terlepas dari perencanaan, dunia sendiri berubah dan semakin cepat dengan berkembangnya information and technology, baru-baru ini saya membaca beberapa berita kasus bunuh diri karena kehidupan nyata dan imajinasi yang dibuat oleh games online sudah tidak bisa dibedakan lagi, dan yang mengejutkan lagi hal ini tidak mengenal umur, gender, pendidikan ataupun kemajuan pendidikan suatu negara. Ada anak remaja yang menjatuhkan diri dari tingginya apartemen karena dalam games yang dimainkan dikisahkan dia akan begitu saja hidup kembali.

Lalu apa sumbangsih kita selaku manusia yang masih waras?  Apakah kita biarkan saja dunia berputar apa adanya, toh Buddha pernah menyatakan, “Apakah Buddha muncul atau tidak, Dhamma tetap ada selamanya di dunia ini.”  Siapa berjodoh, dia akan bertemu dan mendengar ajaran ini, siapa belum berjodoh mungkin dikelahiran nanti akan berjodoh, bertemu dan mendengar ajaran ini. Tentu saja, ini pemikiran keliru, perlu ada upaya agar ajaran ini bisa menyentuh dan diberikan kepada orang lain yang belum mengenalnya. Pertanyaan selanjutnya “Bagaimana caranya?”.

Thay, panggilan akrab untuk Master Zen Thich Nhat Hanh seorang pemimpin spiritual pernah berkata transform yourself. Bertransformasi bukan perkara mudah. Saya pikir saya telah banyak berubah, namun disela-sela latihan saya tahu, egoisme saya masih dekat dengan awan, tindak-laku saya masih memikirkan apa keuntungan yang saya dapat jika saya melakukannya, saya masih memihak seseorang atau lembaga yang saya sukai.

Pernahkan kita membayangkan mengusap ingus dari anak jalanan yang sedang sakit tanpa rasa jijik sedikit pun? Atau secara spontanitas memberikan sebagian besar simpanan kita untuk masyarakat papa yang membutuhkan biaya pengobatan dan kemudian berhari-hari kemudian puasa makan sampai gajian tiba dan mendapat julukan orang bodoh dari teman-teman kita?

Tentu saja ada kabar baiknya, Buddha selalu menyarankan kita bertindak bijaksana, pedomannya pun sudah diberikan kepada para perumah-tangga, Sigalovada Sutta adalah contohnya.  

Kembali ke pertanyaan “Bagaimana caranya?” Dari pengalaman saya, jawabannya hanya satu, berlatihlah. Luangkan waktu setiap hari menyadari napas berhembus mengempiskan perut, menyadari napas masuk membuat perut membulat, menyadari napas hangat keluar di ujung hidung, menyadari udara segar memasuki tubuh melalui hidung.

Semua guru akan melatih hal yang sama, bernapaslah, mengembara kemana pun mereka akan berkata, bernapaslah dengan sadar dan sabar. Semakin menyadari napas, saya semakin tahu pikiran saya sering lari ke seribu arah, dia sibuk seperti radio yang berbunyi selama dua puluh empat jam, tujuh hari dalam seminggu dan tanpa pernah rusak.  Semakin mengerti maka saya tahu tahu ego saya masih tinggi, semakin tinggi maka guru pun tidak akan mendekat.

*CHÂN MINH TUYỀN (真明泉) anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, wanita karir, sekaligus adalah apoteker yang juga meraih gelar master di bidang manajemen pendidikan