Kebahagiaan Dalam Setiap Napas

Kebahagiaan Dalam Setiap Napas

Sumber: Lion’s Roar

Oleh: Thich Nhat Hanh

Belajar bernapas, sumber foto kanan: Buddha Doodles

Menurut Thich Nhat Hanh, “Ketika kita berhenti memberi makan kepada benih loba, seketika itu juga kita bisa menyadari bahwa kondisi kebahagiaan sudah lengkap sebetulnya”

Pikiran manusia selalu ingin memiliki sesuatu dan tidak pernah merasa puas. Inilah penyebab bertambahnya tindakan buruk. Bodhisatwa selalu mengingat akan prinsip memiliki sedikit keinginan. Mereka hidup sederhana dalam kedamaian agar bisa mempraktikkan jalur spiritual dan menjadikan realisasi pengertian sempurna sebagai karier satu-satunya.

Sutra Delapan Realisasi Makhluk Agung

Buddha bersabda bahwa loba itu seperti seseorang memegang obor berjalan melawan hembusan angin; api akan membakar tangannya. Ketika seseorang haus lalu disuguhkan air asin, semakin banyak dia meneguk semakin haus jadinya. Jika Anda mengejar uang, berkesimpulan bahwa dengan sejumlah uang akan membuat Anda bahagia. Namun, setelah Anda mencapai target, Anda tetap saja merasa belum cukup, Anda ingin lebih banyak lagi. Ada banyak orang kaya, namun mereka tidak bahagia. Buddha memberikan analogi bahwa objek loba kita seperti tulang. Seekor anjing asyik mengerat tulang itu berulang-ulang namun tidak pernah puas.

Semua orang pernah mengalami momen kesepian, kesedihan, kekosongan, kefrustasian, atau ketakutan. Anda mengisi kekosongan perasaan itu dengan film dan roti apit (sandwich). Anda belanja demi menutupi kepedihan, keputus-asaan, kemarahan, dan depresi. Anda mencari cara untuk mengonsumsi dengan harapan mengenyahkan semua perasaan itu. Bahkan ada program TV yang tidak menarik sekalipun tetap Anda tonton. Anda berkesimpulan bahwa semua aktivitas itu lebih baik daripada mendera malaise, keadaan lesu dan serba sulit dalam dirimu. Pandanganmu sudah kabur bahkan remang-remang, tidak bisa melihat semua elemen kebahagiaan yang ada dalam dirimu.

Semua orang punya gagasan tentang kebahagiaan. Justru karena gagasan itulah Anda mengejar objek yang didambakan. Anda mengorbankan waktu, bahkan kesehatan jasmani dan rohani juga. Menurut Buddha, kebahagiaan itu sederhana, jika Anda kembali ke momen kekinian, menyadari bahwa banyak kondisi kebahagiaan sudah cukup di sini dan saat ini. Semua keajaiban hidup sudah tersedia. Inilah realisasi yang bisa membantumu melepaskan semua loba, murka, dan mara.

Semakin banyak Anda mengonsumsi, semakin banyak toksin yang menyuburkan loba, murka, dan awidya (batin gelap gulita). Anda perlu melakukan dua hal agar bisa terjaga kembali. Pertama, tataplah secara mendalam bahan nutrisi apa saja yang menyuburkan loba, cari tahu sumbernya. Semua binatang dan tumbuhan butuh makanan untuk bertahan hidup. Loba itu butuh makanan agar bisa bertahan hidup, demikian juga cinta kasih dan penderitaan. Jika loba terus membesar, itu berarti Anda menyuburkannya setiap hari. Jika Anda sudah menemukan sumber penyuburnya, Anda bisa memotongnya, kemudian loba akan mengecil.

Praktik kedua adalah berkewawasan dalam mengonsumsi. Jika Anda berhenti mengonsumsi hal-hal yang menyuburkan loba, awidya, dan persepsi keliru, Anda bisa memberikan nutrisi lain kepada dirimu. Pengertian dan welas asih bisa lahir. Sukacita pada momen kekinian juga bisa terjadi. Anda berkesempatan untuk mentransformasikan penderitaanmu.

Empat Nutrimen

Buddha pernah menjelaskan tentang empat jenis nutrisi, empat jenis makanan yang Anda santap setiap hari. Kebahagiaan dan penderiaan sangat tergantung pada jenis nutrisi yang Anda santap, apakah itu bajik atau tidak bajik.

Nutrisi Pertama: Makanan Lewat Mulut

Nutrisi jenis pertama adalah makanan lewat mulut, apa pun yang Anda masukkan ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, atau diminum. Anda tahu makanan apa saja yang menyehatkan dan tidak menyehatkan bagi badan jasmani, namun Anda sering tidak memikirkannya. Sebelum menyantap makanan, lihatlah makanan yang ada di meja, bernapas masuk dan keluar lalu bertanya apakah makanan ini akan membuat saya lebih sehat atau semakin sakit? Ketika Anda jajan di luar, contoh kudapan, makan malam pada acara tertentu, mengemil sesuatu ketika sedang kerja, maka Anda boleh berhenti sejenak dan memutuskan untuk menyantap makanan yang sehat. Inilah makan berkewawasan.

Wawas dalam menyantap makanan mulai dari belanja. Saat Anda pergi ke toko kelontongan, Anda bisa memilih jenis makanan yang menyehatkan. Anda bisa memilih memasak makanan sebagai kesempatan sebagai praktisi kewawasan. Di meja makan, Anda bisa praktik hening sejenak. Anda bisa praktik bernapas masuk dan keluar kemudian membangkitkan rasa syukur atas makanan sehat yang sudah tersedia ini.

Nutrisi Kedua: Kesan Impresi

Kesan impresi merupakan konsumsi lewat mata, telinga, hidung, badan, dan batin. Program telvisi, buku, film, musik, dan topik pembicaraan merupakan bahan konsumsi. Ada yang sehat ada juga yang toksin. Ketika Anda berbicara dengan seorang sahabat baik atau mendengarkan wejangan Dharma, maka benih welas asih, pengertian, dan sikap memaafkan akan tersirami, menjadi subur, kita menjadi lebih sehat. Lain cerita kalau iklan atau film, ini yang banyak menyirami benih-benih loba, maka Anda bisa menjadi cemas, tidak nyaman, dan sedih.

Ketika Anda menyetir mobil melewati kota, Anda juga mengonsumsi, terlepas dari Anda ingin atau tidak. Anda diserbu selama 24 jam sehari oleh kesan impresi papan reklame, radio, dan semua informasi dari lingkungan sekitar. Tanpa kewawasan, Anda menjadi rentan. Kekuatan kewawasan membuat Anda bisa lebih terjaga dalam melihat, mendengar, membau, dan menyentuh. Keterjagaan dengan kewawasan membantu Anda merubah fokus dan atensi, sehingga mendapat nutrisi positif dari segala sesuatu dari lingkungan. Langit biru, nyanyian burung, dan kehadiran para sahabat, semua ini menyuburkan benih welas asih dan sukacita.

Nutrisi Ketiga: Niat

Nutrisi ketiga adalah niat, istilah lainnya adalah aspirasi dan dorongan keinginan. Setiap manusia memiliki keinginan terdalamnya, Anda bisa dinutrisi oleh keinginan itu. Tanpa keinginan, seseorang tidak memiliki energi untuk hidup. Keinginan terdalam bisa saja bajik atau non bajik. Ketika Siddharta meninggalkan istana untuk menekuni jalur spiritual, dia memiliki keinginan kuat untuk melatih dirinya untuk mencapai pencerahan demi membantu orang lain mengurangi penderitaanya. Itu merupakah keinginan bajik, karena keinginan itu memberikannya energi untuk berlatih, mengatasi kesulitan, dan berhasil. Ada juga keinginan untuk menghukum orang lain, meraih harta, atau sukses dengan cara mengorbankan orang lain, ini merupakan keinginan non bajik yang justru membawa penderitaan kepada orang lain.

Setiap orang bisa menatap mendalam untuk mengetahui keinginan hati terdalamnya masing-masing, melihat apakah keinginan itu bajik atau tidak. Keinginan untuk mengurangi polusi atau melestarikan planet ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Namun, serakah harta, kekuasaan, seks, ketenaran, atau keinginan menghukum orang lain menuntun pada penderitaan. Keinginan seperti itu menyeret ke arah malapetaka. Jika Anda menemukan keinginan seperti itu muncul dalam dirimu, Anda perlu memberhentikannya dan menatap mendalam. Dorongan penyebab keinginan itu apa? Apakah ada perasaan sedih dan kesepian sehingga Anda mencoba untuk menutupinya?

Nutrisi keempat: Alam Penyadaran

Alam Penyadaran berarti penyadapan kolektif. Anda terkena dampak dari cara berpikir dan berpandang orang lain dalam banyak cara. Penyadaran individual terbentuk dari penyadaran kolektif, dan penyadaran kolektif terbentuk dari penyadaran individual.

Sesungguhnya, alam penyadaran kitalah yang membentuk cara hidup kita di dunia ini. Jika Anda kurang wawas dan hidup di lingkungan yang banyak orang murka, kasar, dan keji, maka lambat laun Anda juga bisa mengikuti sifat mereka. Walaupun Anda mencoba untuk membangkitkan welas asih dan kebaikan hati, itu terlalu sulit, Anda tetap terkena dampak penyadaran kolektif itu. Jika semua orang mengonsumsi hal serupa yaitu mendorong keserakahan, maka semakin sulit mempertahankan kewawasan terjaga. Hal ini terjadi pada anak-anak. Ketika anak-anak berada di lingkungan tertentu maka dia akan terkena dampak dari lingkungan itu lewat pola asuh orang tuanya.

Rata-rata dari kita tidak tinggal di lingkungan yang dominan orang yang memiliki kedamaian, welas asih, dan terbuka. Namun, kita bisa membangkitkan kewawasan agar bisa menciptakan lingkungan baik. Walaupun hanya rumah kita atau beberapa blok dari rumah kita atau komunitas kecil, kita butuh dikelilingi oleh mereka yang penuh welas asih.

Buddha menyatakan, “Jika Anda tahu bagaimana menatap mendalam atas hakikat sang keserakahan dalam dirimu dan mengetahui sumber nutrisi yang menyuburkannya, Anda sudah memulai dalam proses transformasi dan penyembuhan”. Setiap jenis penderitaan selalu disebabkan oleh satu atau lebih jenis nutrisi. Menatap mendalam atas hakikat penderitaan dalam konteks empat nutrisi bisa menuntun kita menuju jalur mengonsumsi dengan penuh kewawasan, ujungnya menuju ke jalan kebahagiaan sejati.

Kewawasan dalam Mengonsumsi

Sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha telah memberikan tuntunan yang disebut sebagai Lima Sila yang menakjubkan kepada para murid awamnya, Sila ini membantu mereka hidup damai, bajik, dan bahagia.

Saya telah menerjemahkan sila itu agar sesuai dengan zaman modern dengan sebutan Lima Latihan Kewawasan, karena kewawasan merupakan fondasi dari semua sila itu. Latihan kewawasan pertama fokus pada menghargai kehidupan; kedua yaitu kedermawanan dan penghidupan benar, ketiga yaitu cinta sejati dan tanggung jawab seksual, keempat yaitu mendengar secara mendalam dan ucapan jujur.

Latihan kewawasan kelima fokus pada kesehatan dan penyembuhan lewat kewawasan dalam mengonsumsi, “Menyadari bahwa kebahagiaan sejati berakar dalam kedamaian, soliditas, kebebasan, dan welas asih, dan bukan dalam kekayaan atau ketenaran, saya bertekad untuk tidak menjadikan ketenaran, profit, kekayaan, dan kenikmatan sensual sebagai tujuan hidup, saya juga tidak akan mengumpulkan kekayaan sementara jutaan orang sedang lapar dan sekarat. Saya berkomitmen untuk hidup sederhana dan berbagi waktu, energi, dan sumber materi kepada mereka yang membutuhkannya. Saya akan mempraktikkan berkewawasan dalam mengonsumsi, tidak meneguk alkohol, narkoba atau semua produk yang memasukkan toksin kepada penyadaran kolektif maupuan individual.”

Anda bisa memutuskan untuk mempraktikkan latihan kewawasan itu dan tidak mengonsumsi apa pun yang bisa membawa masuk toksin ke dalam badan dan batin. Berkewawasan dalam mengonsumsi merupakan solusi bagi mengurangi keserakahan, bukan hanya untuk diri sendiri juga untuk semua orang, juga dunia ini. Salah satu cara berkelanjutan bagi umat manusia agar bisa terus mengurangi bahan konsumsi dan memiliki sikap berkecukupan dan tidak memiliki banyak barang. Apabila Anda bisa hidup sederhana dan bahagia, Anda sedang berada dalam posisi baik untuk membantu orang lain. Anda punya waktu dan energi lebih untuk dibagikan kepada orang lain.

Berkewawasan dalam mengonsumsi berarti menatap mendalam atas keinginan untuk mengonsumsi ketika keinginan itu muncul, pertahankan kekuatan kewawasan atas keinginan itu sampai Anda menghasilkan wawasan mendalam atas sumber akar keinginan itu. Ketika Anda mempersepsikan sesuatu, atau apa pun itu, semua proses itu menciptakan label dalam batin. Sebuah label merupakan objek persepsi kita. Contoh, ketika Anda menatap seorang teman, Anda bisa melihat elemen-elemen dalam dirinya yang bukan dirinya. Anda bisa melihat udara, air, zat padat seperti tanah bahkan sinar matahari dalam dirinya. Anda juga bisa melihat ada elemen leluhurnya. Jadi, Anda tidak terjebak dalam hasil pemikiran atas bentuk luarnya, labelnya, semua itu sesungguhnya adalah dirinya juga.

Ketika ada label, tanda, atau tampak luar, maka di situ ada pengecohan. Label bisa menipu dan mengelabui. Namun, kita bisa menembus lapisan label, dan melihat sifat sejati dari segala sesuatu. Melihat hakikat realitas bukan melalui hasil meditasi dua puluh tahuh; namun itu hasil dari latihan sehari-hari. Anda bisa melakukannya di rumah, kantor, atau di mana pun Anda berada. Ketika Anda mentap mendalam, Anda bisa menemukan hakikat dari seorang manusia atau materi; Anda melihat karakteristik interdependensi dan interkoneksinya. Anda menyentuh realitas dari makanan yang sedang Anda santap, atau minuman yang sedang Anda teguk. Anda melihat sepotong roti sebagai realitas, Anda melihat kakak laki-laki dan perempuan, kekasih, anak, dan teman sejawat, melihat mereka sebagaimana adanya. Anda bisa menatap mendalam atas hakikat uang dan materi dan menyadari bahwa semua itu tidak akan membawakan semakin banyak kebahagiaan sebagaimana yang sudah ada saat ini. Semakin seseorang menatap mendalam, dia akan bisa melihat dengan jernih, dan realitas akan menyingkapkan dirinya di hadapan mata secara perlahan-lahan. Ketika Anda melihat realitas sebagaimana adanya, tiada keserakahan, tiada kemarahan, dan tiada ketakutan.

Mengejar keserakahan telah membawa banyak penderitaan dan keputusasaan. Apabila Anda berkomitmen untuk mempraktikkan berkewawasan dalam mengonsumsi maka itu adalah komitmen untuk kebahagiaan. Itu merupakan keputusan penuh kesadaran agar membuat hati lebih lapang untuk menerima kebahagiaan yang sudah tersedia dalam setiap langkah dan setiap napas. Setiap napas dan langkah bisa memperkuat dan menyembuhkan. Sebagaimana Anda bernapas masuk dan keluar, atau ketika Anda melangkah dengan kewawasan, melantunkan mantra: “Inilah momen bahagia”. Anda tidak perlu membayar apa pun. Itulah sebabnya saya bilang bahwa berkewawasan dalam mengonsumsi merupakan jalan keluar dari penderitaan. Ajaran ini sederhana, dan juga tidak sulit untuk dipraktikkan.

Alih bahasa: Nyanabhadra Chân Pháp Tử

Makan Bersama

Makan Bersama

Makan makanan bersama-sama adalah sebuah latihan yang meditatif. Seharusnya kita berusaha untuk mempersembahkan kehadiran kita di setiap saat makan. Selagi kita menyajikan makanan kita sudah bisa memulai latihan. Melayani diri kita, kita menyadari bahwa banyak elemen, seperti hujan, sinar mentari, bumi, udara, dan kasih, semuanya telah menyatu untuk membentuk makanan yang hebat ini. Kenyataannya, melalui makanan ini kita melihat bahwa seluruh alam semesta tengah menyokong keberadaan kita.

Kita sadar akan keseluruhan Sangha seperti kita melayani diri kita dan seharusnya kita mengambil sejumlah makanan yang baik bagi kita. Sebelum makan genta akan dibunyikan sebanyak tiga kali dan kita bisa menikmati pernafasan masuk dan keluar sementara mempraktikkan kelima perenungan.

  1. Makanan ini adalah anugerah dari alam semesta: Bumi, Langit, berbagai makhluk hidup, dan hasil kerja keras
  2. Semoga kita makan dengan sadar-penuh dan syukur sehingga kita layak menyantap makanan ini
  3. Semoga kita mengenali dan mengubah bentuk-bentuk mental yang tidak sehat, terutama keserakahan, dan belajar makan secukupnya
  4. Semoga kita bisa terus menjaga welas asih agar tetap hidup dengan makan sedemikian rupa sehingga dapat meringankan penderitaan semua makhluk, melestarikan planet kita, dan mengurangi efek perubahan iklim
  5. Kita menerima makanan ini supaya dapat merawat tali persaudaraan, membangun komunitas, dan memupuk semangat ideal untuk melayani semua makhluk.

Kita seharusnya tidak makan dengan tergesa-gesa, dengan mengunyah masing-masing suap sedikitnya 30 kali, sampai makanan menjadi cair. Ini membantu proses pencernaan. Mari kita nikmati setiap potong makanan kita dan kehadiran para saudara-saudari se-Dharma di sekeliling kita. Mari tetapkan diri kita di saat sekarang, makan dengan cara seperti ini sehingga kekokohan, kegembiraan, dan kedamaian menjadi mungkin selama waktu makan. Makan dengan diam, makanan menjadi nyata dengan perhatian penuh kita dan kita benar-benar sadar akan makanannya. Untuk memperdalam latihan makan kita yang sadar dan untuk menyokong suasana yang damai, kita tetap duduk selama masa diam ini. Dua puluh menit setelah makan dengan diam, bunyi genta dua kali akan terdengar. Lalu kita boleh memulai percakapan penuh perhatian dengan teman kita atau mulai berdiri dari meja.

Saat tengah menghabiskan makanan kita, kita gunakan beberapa menit untuk memperhatikan bahwa kita sudah selesai, mangkok kita sekarang kosong dan kelaparan kita sudah terpuaskan. Rasa bersyukur menyelimuti kita karena kita menyadari betapa beruntungnya kita sudah makan makanan yang bergizi, menyokong kita di jalan kasih dan pengertian.

Sutra Empat Jenis Makanan

Sutra Empat Jenis Makanan

Inilah yang saya dengar, suatu hari, saat Buddha sedang berada di Wihara Anathapindika, di Hutan Jeta dekat kota Shravasti. Hari itu, Buddha memberitahu para bhiksu: “Ada empat jenis makanan yang memungkinkan makhluk hidup bertumbuh serta mempertahankan kehidupan. Apakah keempat jenis makanan tersebut? Pertama adalah makanan jasmani, kedua adalah makanan bagi persepsi, ketiga adalah makanan bagi kehendak, dan keempat adalah makanan bagi kesadaran.”

“Oh bhikkhu, bagaimanakah seorang praktisi seharusnya memandang makanan jasmani? Imajinasikan sepasang suami istri muda yang memiliki bayi laki-laki, yang mereka jaga serta besarkan dengan sepenuh kasih. Mereka harus melewati kesulitan dan bahaya di padang pasir. Selama perjalanan, mereka kehabisan bekal serta sangat kelaparan. Tidak ada jalan keluar, dan mereka mendiskusikan rencana berikut: ‘Kita hanya memiliki satu anak yang sangat kita kasihi sepenuh hati. Jika kita memakan dagingnya, maka kita akan bertahan hidup, serta bisa berjuang untuk mengatasi situasi berbahaya ini. Jika tidak memakan dagingnya, maka kita bertiga semuanya akan mati.’ Setelah melakukan diskusi itu, mereka membunuh bayinya, dengan air mata kepedihan serta gemertak gigi, mereka memakan daging bayi lelakinya, hanya demi bisa hidup serta menembus padang pasir.”

Buddha bertanya: “Apakah menurut kalian, pasangan tersebut memakan daging anaknya karena ingin menikmati kelezatannya, juga karena ingin agar tubuh mereka mendapatkan makanan yang akan membuatnya lebih rupawan?”

Para bhiksu menjawab: “Tidak, Yang Mulia.”

Buddha bertanya: “Apakah kedua pasangan tersebut terpaksa memakan daging anaknya, demi bertahan hidup serta selamat dari bahaya padang pasir?”

Para bhiksu menjawab: “Ya, Yang Mulia.”

Buddha mengajarkan: “Oh bhikkhu, setiap kali kita mencerna makanan jasmani, kita harus melatih diri untuk memandangnya seolah [sedang memakan] daging anak kita. Jika memeditasikannya dengan cara seperti ini, maka kita akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan jasmani, serta kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi akan melenyap. Begitu kemelekatan terhadap kenikmatan-kenikmatan indrawi sudah tertransformasi, maka tidak akan ada lagi formasi-formasi internal sehubungan dengan kelima obyek kenikmatan indrawi, pada para siswa-suci [sekkha; orang-orang suci yang sedang belajar] yang mendedikasikan dirinya untuk latihan dan praktik. Ketika formasi-formasi internal masih mengikat kita, maka kita akan harus terus kembali ke dunia ini.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi persepsi? Imajinasikan seekor sapi yang kehilangan kulitnya. Kemanapun pergi, serangga serta belatung yang hidup di tanah, debu, dan pada tanaman, akan menempel ke sapi tadi serta menghisap darahnya. Jika sapi tadi berbaring di tanah, maka belatung di tanah akan melekat padanya serta menggerogotinya. Baik ketika berbaring maupun berjalan, sapi tadi akan terganggu dan menderita kepedihan. Saat sedang mencerna makanan bagi persepsi, kalian seharusnya berpraktik untuk melihatnya dengan cara ini. Kalian akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi persepsi. Ketika memiliki pandangan-jernih ini, maka kalian tidak akan lagi melekat pada ketiga jenis perasaan. Ketika sudah tidak lagi melekat pda ketiga jenis perasaan, maka para siswa-suci tidak perlu lagi berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kehendak? Imajinasikan ada sebuah perkampungan atau kota besar di samping lubang tungku arang. Hanya tersisa bara api hangat tanpa asap. Sekarang, ada pria cerdik yang memiliki kebijaksanaan memadai, yang tidak ingin menderita serta hanya menginginkan kebahagiaan dan kedamaian. Dia tidak ingin mati, dia hanya ingin hidup. Dia pikir: “Di sana panasnya sangat tinggi, meskipun tidak ada asap dan api. Namun tetaplah, jika aku harus masuk ke dalam tungku itu, tidak diragukan lagi aku pastilah mati.” Mengetahui hal tersebut, dengan mantap dia meninggalkan kota besar atau perkampungan itu, serta pergi ke tempat lain. Praktisi harus bermeditasi seperti ini berkenaan makanan bagi kehendak. Dengan bermeditasi seperti ini, dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kehendak. Ketika mencapai pemahaman ini, maka ketiga jenis nafsu akan berakhir. Saat ketiga jenis nafsu berakhir, maka siswa-mulia yang berlatih serta berpraktik, tidak akan lagi memiliki apa pun untuk dilaksanakan, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

“Bagaimana seharusnya seorang praktisi memeditasikan makanan bagi kesadaran? Imajinasikan para prajurit raja telah menangkap seorang penjahat. Mereka mengikat serta membawa penjahat tersebut ke hadapan raja. Karena sudah melakukan pencurian, maka dihukum dengan menusuk tubuhnya menggunakan tiga ratus pisau. Dia didera ketakutan dan kepedihan sepanjang siang dan sepanjang malam.

Praktisi harus memandang makanan bagi kesadaran dengan cara ini. Jika dia melakukannya, maka dia akan memiliki pandangan-jernih serta pemahaman, yang akan mengakhiri mispersepsi berkenaan makanan bagi kesadaran. Ketika memiliki pemahaman seperti ini berkenaan makanan bagi kesadaran, maka para siswa-suci yang berlatih serta berpraktik, tidak akan perlu lagi untuk berjuang-keras, karena apa pun yang perlu dilaksanakan sudahlah terlaksana.”

Begitu Buddha selesai berbicara, para bhiksu dengan sangat berbahagia menghadirkan ajaran-ajaran ini ke dalam praktik.

Samyukta Agama, Sutra 373*