Makan dengan Rasa Syukur

Makan dengan Rasa Syukur

Begawan Buddha, setiap kali aku duduk untuk makan, aku bertekad untuk selalu membangkitkan rasa syukur. Aku tahu bahwa waktu untuk makan juga merupakan waktu untuk bermeditasi. Ketika aku menyantap makanan, aku bukan hanya menutrisi secara fisik, tetapi aku juga menutrisi batinku. Ketika aku menangkupkan kedua telapak tangan sebelum makan, aku mengikuti napasku untuk menyatukan batin dan tubuhku. Dan dalam keadaan murni dan waspada, aku akan melihat makanan yang ada di atas meja atau di dalam mangkokku kemudian aku akan merenungkan Lima Perenungan Sebelum Makan:

  1. Makanan ini adalah anugerah dari bumi, langit, berbagai makhluk hidup, dan dari berbagai hasil kerja keras.
  2. Semoga kami makan dengan penuh kesadaran dan rasa terima kasih, agar kami layak untuk menerimanya
  3. Semoga kami dapat mengenali dan mengubah bentuk-bentuk pikiran tidak bajik, terutama keserakahan.
  4. Semoga kami hanya menyantap makanan yang menutrisi dan menjaga kami agar tetap sehat.
  5. Kami terima makanan ini agar kami dapat merawat hubungan persaudaraan kakak dan adik, memperkuat Sanggha, dan memupuk tujuan luhur dalam melayani semua makhluk.

Buddha terkasih, sebagai seorang umat awam, aku berangkat kerja setiap hari untuk menghasilkan uang agar dapat membeli makanan bagi diriku dan keluargaku. Namun, aku tidak berpikir bahwa makanan itu adalah makananku, atau makanan yang dihasilkan olehku. Melihat mangkok yang berisi nasi, aku melihat dengan jelas bahwa makanan ini adalah anugerah dari bumi dan langit. Aku melihat sawah, kebun sayuran, matahari, hujan, pupuk, dan kerja keras dari para petani. Aku melihat ladang gandum keemasan yang indah, orang yang menuai panen, mereka yang menggiling gandum, yang membuat roti. Aku melihat kacang-kacangan yang ditanam dalam tanah; tumbuh menjadi pohon kacang. Aku melihat kebun apel, kebun plum, kebun tomat, dan para pekerja yang merawat tanaman-tanaman ini. Aku melihat lebah dan kupu-kupu berterbangan dari satu bunga ke bunga lainnya untuk mengumpulkan serbuk sari dan membuat madu yang manis untuk aku minum. Aku melihat bahwa setiap elemen dari kosmos telah berkontribusi menghasilkan apel atau plum yang sedang kupegang di tanganku atau daun dari sayuran yang direbus ini sedang aku celupkan ke dalam kecap asin. Hatiku penuh dengan rasa terima kasih dan kebahagiaan. Ketika aku sedang mengunyah makanan, aku menutrisi kesadaranku dan kebahagiaanku dan aku tidak akan membiarkan pikiranku dipenuhi oleh masa lalu, masa depan, atau pemikiran yang tidak berarti di masa sekarang. Setiap suap makanan menutrisi aku, leluhurku, dan semua keturunanku yang hadir dalam diriku. Saat aku mengunyah, aku menggunakan syair ini:

Aku sedang menyantap makanan di dimensi tertinggi

Aku sedang menutrisi semua leluhurku,

Aku sedang membuka jalan bagi semua keturunanku.

Aku menutrisi diriku sendiri dengan makanan lewat mulut dan dengan makanan kesan indra. Makanan yang bisa disantap lewat mulut dapat menutrisi fisikku. Makanan kesan indra dapat membawa sukacita dan welas asih saat aku makan. Ketika aku makan dengan berkesadaran penuh, aku menghasilkan welas asih, kebebasan, dan sukacita, menutrisi Sanggha-ku dan keluargaku dengan elemen-elemen ini.

Aku tidak akan membiarkan diriku untuk makan atau minum lebih dari yang aku butuhkan, karena itu berbahaya bagi diriku dan latihanku. Ketika aku antri untuk mengambil makanan atau ketika aku menaruh makanan di mangkokku, aku bertekad untuk mengingat berlatih hanya mengambil sejumlah yang aku butuhkan dan yang akan menjaga kedamaian dan keringanan dalam tubuhku. Sebagai seorang biksu atau biksuni, aku tahu bahwa mangkokku disebut sebagai wadah yang berukuran tepat, dan aku berlatih hanya mengambil makanan secukupnya.

Begawan Buddha, ketika aku melihat makanan yang sedang aku makan, aku juga melihat bahwa makanan itu merupakan anugerah dari bumi dan langit. Itu adalah hasil dari kerja keras. Sebagai seorang biksu atau biksuni, aku tahu makanan adalah anugerah yang dipersembahkan untukku oleh umat awam dan juga makanan yang diberikan oleh Buddha untukku. Ketika aku menjadi seorang biksu atau biksuni, Engkau memberiku sebuah mangkok makanan, dan Engkau mengajarkan bahwa selama aku memiliki mangkok ini, aku tidak perlu takut akan kelaparan jika aku berlatih sepenuh hati. Buddha, setiap aku selesai makan, aku memegang mangkokku dan mempersembahkan rasa syukur  kepada-Mu: “Terima kasih, Buddha, telah memberiku sesuatu untuk dimakan.” Ketika aku mengucapkan kalimat ini, hatiku penuh dengan rasa terima kasih. Mengekspresikan terima kasih kepada Buddha adalah sama halnya dengan mengekspresikan terima kasih kepada bumi, langit, semua makhluk, dan kerja keras dari banyak orang, termasuk saudara atau saudariku yang memasak makanan ini.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, aku menyentuh bumi tiga kali di hadapan-Mu, yang layak diberi penghormatan dan persembahan, untuk menyatakan rasa terima kasihku kepada bumi, langit, semua spesies makhluk hidup, dan juga demi memupuk kebahagiaanku. [Genta]

Tiga Latihan Menyentuh Bumi

Tiga Latihan Menyentuh Bumi

Ini adalah teks lengkap panduan praktik Tiga Latihan Menyentuh Bumi yang digunakan di pusat latihan dan komunitas Tradisi Plum Village. Mempraktikkan Tiga Latihan Menyentuh Bumi memberi kesempatan kepada seorang praktisi untuk menyentuh secara mendalam realitas kesalingketerkaitan menembus batas ruang dan waktu.

Setelah berlatih dengan teks standar ini, kami menganjurkan Anda untuk menulis teks pribadi, sehingga Anda dapat mendalami Latihan ini lebih mendalam.

Untuk memulai latihan ini, kami mengundang Anda menyatukan telapak tangan di depan dada dalam bentuk kuncup lotus. Jika Anda bersama orang lain, salah satu dari Anda boleh bertugas sebagai bell master, dan mengundang lonceng serta membacakan teks untuk didengarkan oleh orang lain. Jika Anda sendirian, Anda boleh mengundang lonceng, dan membaca teks dengan suara lantang.

Kemudian, dengan perlahan turunkan tubuh ke lantai sehingga keempat anggota tubuh (kedua lengan dan kedua lutut) dan dahi beristirahat di atas lantai dengan nyaman. Saat menyentuh Bumi, buka telapak tangan menghadap ke atas, pasrahkan keterbukaan Anda kepada Tiga Permata – Buddha, Dharma, dan Sanggha. Saat menyentuh Bumi, kita menghirup semua kekuatan dan stabilitas Bumi, kemudian mengembuskan penderitaan – kemarahan, kebencian, ketakutan, dan ketidakmampuan serta perasaan duka.

Selamat berlatih.

I

Menyentuh Bumi, aku tersambungkan dengan para leluhur dan keturunan dari keluarga spiritual dan keluarga kandungku.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Para leluhur spiritualku mencakup Buddha, Bodhisattwa, Sanggha Mulia yang terdiri dari para siswa Buddha, ……………………[masukkan nama orang lain yang ingin Anda ikut sertakan], dan guru spiritualku sendiri yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Mereka hadir dalam diriku karena mereka telah mentransmisikan benih kedamaian, kebijaksanaan, cinta, dan kebahagiaan kepadaku. Mereka telah membangkitkan sumber pengertian dan kasih sayang dalam diriku. Ketika aku melihat leluhur spiritualku, aku melihat mereka yang telah sempurna dalam praktik latihan sadar penuh, pengertian, dan welas asih, dan mereka yang masih belum sempurna. Aku menerima mereka semua karena aku melihat dalam diriku juga ada kekurangan dan kelemahan. Sadar bahwa latihan sadar penuhku tidak selalu sempurna, dan bahwa aku tidak selalu memiliki pengertian dan berwelas asih seperti yang aku inginkan, aku membuka hati dan menerima semua keturunan spiritualku. Beberapa keturunanku mempraktikkan latihan sadar penuh, pengertian, dan welas asih sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa hormat, tetapi ada juga yang menghadapi banyak kesulitan dan bertubi-tubi mengalami pasang surut dalam latihannya.

Dengan cara yang sama, aku menerima semua leluhur dari keluarga pihak ibuku dan dari pihak ayahku. Aku menerima semua kualitas baik dan tindakan bajik mereka, dan aku juga menerima semua kelemahan mereka. Aku membuka hati dan menerima semua keturunanku bersama kualitas baik, talenta, dan juga kelemahan mereka.

Para leluhur spiritualku, leluhur kandung, keturunan spiritual, dan keturunan kandung, semuanya adalah bagian dari diriku. Aku adalah mereka, dan mereka adalah aku. Aku tidak memiliki diri yang terpisah. Semuanya eksis sebagai bagian dari arus kehidupan yang menakjubkan, arus terus bergerak.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]


II

Menyentuh Bumi, aku tersambungkan dengan semua orang dan semua spesies yang hidup di saat ini di dunia ini bersamaku.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Aku merupakan satu kesatuan dari pola kehidupan luar biasa yang memancar ke segala arah. Aku melihat hubungan erat antara aku dan orang lain, bagaimana kita merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang terlahir difabel atau yang menjadi cacat karena perang, kecelakaan, atau penyakit. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang terjebak dalam situasi perang atau penindasan. Aku merupakan satu kesatuan dari mereka yang tidak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga, yang tidak memiliki akar dan pikiran yang tenang, yang lapar akan pengertian dan cinta, dan yang mencari sesuatu yang indah, bijak, dan benar untuk dirangkul dan dipercayai. Aku adalah seseorang yang berada di ambang kematian yang sangat takut dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku adalah seorang anak yang tinggal di daerah miskin dan penyakit yang mengakibatkan derita nestapa, kaki dan lengan kurus bagaikan tongkat kering dan masa depan suram. Aku juga adalah sang perakit bom yang dijual ke negara-negara miskin. Aku adalah katak yang berenang di kolam dan aku juga adalah ular yang membutuhkan tubuh katak sebagai makanan. Aku adalah ulat atau semut yang diburu oleh burung untuk dijadikan makanan, dan aku juga adalah burung yang sedang berburu ulat atau semut. Aku adalah hutan yang sedang ditebang. Aku adalah sungai dan udara yang sedang tercemar, dan aku juga adalah orang yang menebang hutan kemudian mencemari sungai dan udara. Aku melihat diriku eksis di dalam semua spesies, dan aku melihat semua spesies eksis dalam diriku.

Aku merupakan satu kesatuan dari makhluk-makhluk agung yang telah menyadari kebenaran tiada kelahiran dan tiada kematian, makhluk yang mampu melihat bentuk-bentuk kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan penderitaan, dengan mata yang tenang. Aku merupakan satu kesatuan dari orang-orang itu — yang dapat ditemukan di setiap sudut— yang memiliki cukup kedamaian pikiran, pengertian dan cinta, yang mampu menyentuh sesuatu yang indah, menutrisi, dan menyembuhkan, yang juga memiliki kapasitas untuk merangkul dunia dengan hati yang penuh cinta dan tangan yang siap membantu dan peduli. Aku adalah seseorang yang memiliki cukup kedamaian, kegembiraan, dan kebebasan, seseorang yang mampu mempersembahkan keberanian dan kegembiraan kepada makhluk hidup di sekitar. Aku melihat bahwa aku tidak kesepian dan terasingkan. Cinta dan kebahagiaan dari makhluk agung di planet ini membantuku agar tidak tenggelam dalam keputusasaan. Mereka membantuku untuk melakoni hidupku dengan cara yang berarti, dengan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Aku melihat semuanya eksis di dalam diriku, dan aku melihat diriku sendiri eksis di dalam semuanya.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]


III

Menyentuh Bumi, aku melepaskan gagasanku bahwa aku adalah tubuh ini dan bahwa rentang masa hidupku adalah terbatas.

[mengundang genta]

[menyentuh bumi]

Aku melihat bahwa tubuh ini terbentuk dari empat elemen, sebenarnya bukanlah aku dan aku tidak dibatasi oleh tubuh ini. Aku adalah bagian dari arus kehidupan para leluhur spiritual dan leluhur kandung yang selama ribuan tahun telah mengalir hingga ke masa kini dan terus mengalir selama ribuan tahun ke masa depan. Aku merupakan satu kesatuan dari para leluhurku. Aku merupakan satu kesatuan dari semua orang dan semua spesies, saat mereka damai dan tidak takut, atau pun saat menderita dan takut. Pada saat ini, aku hadir di mana pun di planet ini. Aku juga hadir di masa lalu dan masa depan. Kefanaan tubuh ini tidak menyentuhku, seperti ketika bunga plum jatuh, itu tidak berarti akhir dari pohon plum. Aku melihat diriku sebagai ombak di permukaan samudra. Hakikatku adalah air samudra. Aku melihat diriku eksis dalam semua ombak lainnya dan melihat semua ombak lainnya eksis dalam diriku. Muncul dan menghilangnya bentuk dari ombak tidak mempengaruhi samudra. Tubuh Dharma dan kehidupan spiritualku tidak bergantung pada kelahiran dan kematian. Aku melihat kehadiran diriku sebelum tubuhku bermanifestasi dan setelah tubuhku hancur. Bahkan pada saat ini, aku melihat bagaimana aku eksis di tempat lain yang bukan di tubuh ini. Tujuh puluh atau delapan puluh tahun bukanlah rentang usiaku. Rentang usiaku seperti rentang usia sehelai daun atau seorang Buddha, tidak terbatas. Aku telah melampaui gagasan bahwa aku adalah tubuh yang terpisah dalam ruang dan waktu dari semua bentuk kehidupan lainnya.

[tiga napas]

[mengundang genta]

[berdiri]

Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Hadiah Untuk Thay (Gift for Thay)

Kepada Thay terkasih, dan para leluhur spiritual yang kami muliakan,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas untuk berlatih dan merayakan hari keberlanjutan dari guru Spiritual kami. Thay yang tanpa gentar telah menunjukan sang jalan, sebagai bintang di utara agar kami tidak tersesat pada pandangan salah tentang kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kami mengucap syukur dan merasa beruntung karena berjodoh dengan Para Guru dan Ajaran mulia. Kami menyadari tanpa bimbingan Guru Spiritual yang terampil, akan sulit bagi kami untuk mewujudkan transformasi diri dan transformasi sosial di sekitar kami.

Kami juga menyadari, bahwa praktik yang kami lakukan menjadi wujud dari keberlanjutan para guru dan leluhur spiritual. Di dalam setiap napas maupun langkah yang kami lakukan dengan sadar-penuh, kami dapat melihat kehadiran Guru kami serta para leluhur spiritual ada bersama latihan tersebut. Kami juga mampu melihat, hadirnya keberlanjutan Guru Spiritual kami pada Komunitas berlatih yang harmonis. Thay tidak pernah terpisah dan hilang dalam setiap aktivitas spiritual yang kami lakukan.

Thay yang kami kasihi, kami menyadari semangat idealmu untuk menghadirkan lebih banyak pengertian mendalam dan belas kasih dalam setiap tindakan kami. Melalui seni hidup berkesadaran, Engkau berikan proposal tentang tatanan kehidupan yang lebih baik bagi diri kami dan generasi selanjutnya. Kami menyadari masih banyak kelalaian dalam diri kami, sehingga kami tidak mampu berlatih dengan sungguh-sungguh.

Menyadari hal itu, kami ingin meneguhkan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Thay yang kami kasihi, pada hari berkelanjutanmu ini, kami persembahkan latihan kami sebagai hadiah untukmu. Semoga kami mampu untuk menghadirkan tatanan dunia yang lebih berwelas asih, dan secara kolektif mampu menghapus kejamnya sikap diskriminasi dan intoleransi yang ada di dalam diri kami dan kesadaran kolektif komunitas kami.

Dear Thay, and our most noble spiritual ancestors,

We have come here today as a fourfold community to practice mindfulness and to celebrate our Spiritual Teacher’s continuation day. Thay, you have unwaveringly guided our paths, as the north star guides travelers, so that we do not lose ourselves in harmful ideations in our journey to true happiness.

We express our boundless gratitude to you and we feel infinitely fortunate for having been destined for The Teachers and Noble Teachings. We realise that without a skilled Spiritual Teacher it would be difficult for us to undergo our self transformation and trigger the social transformation around us.

We realise that our practices are a manifestation of the continuation of our teachers and spiritual ancestors. In every step and breath we take mindfully, we see also our Teacher’s presence in ourselves along with that of our spiritual ancestors. We see the continuation of our Spiritual Teacher in our harmonious Community practices. Thay, you are never separate from and always present in any spiritual activity we do.

Thay whom we love, we admire the spirit in your ideals to bring deeper understanding and more compassion to every aspect of our lives. Through the art of living mindfully, you have given us and our future generations the opportunity to lead better lives. We realise there is still ignorance in our spirits, and therefore we are not yet capable of practicing with full sincerity.

Understanding that, we pledge to strengthen our commitment to our daily practice, seeking refuge in our beloved community, and continuing your ways and the ways of all the teachers amongst our spiritual ancestors. We vow to live life profoundly through breathing and walking mindfully in all the paths of our lives, because we know that that is your favourite practice. We know that you take joy in building sanghas, so we will continue building brotherhoods and sisterhoods with all our hearts, even though at times we may face challenges. We will never give up on our practices or leave our community, and we instead aspire to listen deeply and to help each other. We will never leave behind a member of our community, even if we may sometimes cause each other suffering.

Thay whom we love, on your continuation day today, we offer you our practice as a gift. May we face the challenges the world presents to us with compassion, and together transform the cruelty, discrimination, and intolerance in our hearts and collective consciousness.

oleh: True Forest of Communication – Chân Thông Lâm (真通林)

Sutra Thera

Sutra Thera

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu ketika Buddha sedang menetap di wihara dalam Hutan Jeta, di kota Shravasti. Pada waktu itu tersebutlah seorang biksu bernama Thera (sesepuh), yang lebih memilih menyendiri. Kapan pun dia bisa, dia memuji latihan hidup sendirian. Dia memohon sedekah sendirian dan duduk bermeditasi sendirian.

Suatu ketika sekelompok biksu datang menghadap Buddha, memberi hormat dengan cara bersujud, lalu mengambil posisi di samping, kemudian duduk berdekatan, dan berkata, “Buddha, ada seorang sesepuh bernama Thera yang selalu ingin sendirian. Ia selalu memuji latihan hidup sendirian. Ia mengunjungi desa sendirian untuk memohon sedekah, kembali sendirian, dan duduk bermeditasi sendirian.

Buddha meminta salah satu biksu,”Mohon pergilah ke tempat tinggal Biksu Thera dan beritahukan bahwa saya ingin menemuinya.

Seorang biksu melaksanakannya. Saat Biksu Thera mendengar permintaan Buddha, dia segera datang, bersujud di kaki Buddha, mengambil posisi di samping kemudian duduk berdekatan. Kemudian Buddha bertanya kepada Biksu Thera, “Apakah benar adanya bahwa Anda lebih memilih untuk sendirian, memuji hidup berkesendirian, memohon sedekah sendirian, kembali dari desa sendirian, dan duduk bermeditasi sendirian?

Biksu Thera menjawab, “Itu benar adanya, Yang Mulia.

Buddha bertanya kepada Biksu Thera, “Bagaimana cara Anda hidup sendirian?

Biksu Thera menjawab, “Saya hidup sendirian; tidak ada orang lain yang hidup bersama saya. Saya memuji latihan hidup sendirian. Saya memohon sedekah sendirian, dan saya kembali dari desa sendirian. Saya duduk bermeditasi sendirian. Itu saja.

Buddha bersabda sebagai berikut, “Sangatlah jelas bahwa Anda menyukai latihan hidup sendirian. Saya tidak menentangnya, tapi saya ingin memberitahu Anda bahwa ada cara yang lebih indah dan mendalam untuk hidup sendirian. Cara itu adalah pengamatan mendalam untuk melihat bahwa masa lalu telah pergi dan masa depan belum juga tiba, dan bersemayam dengan nyaman di momen kekinian, bebas dari nafsu keinginan. Saat seseorang hidup dengan cara seperti ini, tidak ada keraguan dalam dirinya. Ia meletakkan semua kecemasan dan penyesalan, melepaskan semua keinginan yang mengikat, dan memutuskan belenggu yang menghalanginya untuk hidup bebas. Inilah yang disebut ‘cara lebih baik untuk hidup sendirian.’ Tidak ada cara yang lebih indah untuk hidup sendirian daripada ini.

Kemudian Buddha menyampaikan syair berikut ini:

“Mengamati kehidupan secara mendalam,
memungkinkan melihat apa adanya dengan jelas.
Tidak diperbudak oleh apa pun,
memungkinkan untuk menyingkirkan semua kemelekatan,
menuntun kepada kehidupan yang penuh kedamaian dan kegembiraan.
Inilah hidup sendirian yang sesungguhnya.”

Mendengarkan sabda Buddha, Biksu Thera merasa puas. Ia bersujud dengan hormat kepada Buddha dan meninggalkan tempat itu.

Samyukta Agama 1071,
Sesuai dengan Kitab Pali: Theramano Sutta, Samyutta Nikaya 21.10

Alih bahasa: Oktavia Khoman

Di Atas Bumi Inilah Kita Menjadi Satu

Di Atas Bumi Inilah Kita Menjadi Satu
Hari Hidup Berkewawasan @Bali

Day of mindfulness (DOM) adalah program latihan hidup berkewawasan (mindfulness) sehari. Prinsip utamanya adalah hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Kewawasan menjadi energi dasar untuk mengenali dan memahami kondisi jiwa dan raga yang terjadi dalam diri.

Saya mengenal latihan ini sejak 2007. Saya berupaya agar latihan ini terus berlanjut kemudian menjadikannya sebagai pola hidup. Praktik ini membuat saya dekat dengan Master Zen Thich Nhat Hanh, bahkan saya bisa merasakan kehadirannya dalam setiap keheningan dan setiap napas.

Sehari Mencintai Diri

Pada hari Rabu, 3 April 2019, saya pertama kali berlatih hidup berkewawasan bersama Komunitas Swadhita Bali, lokasi latihan di Buddhayana Buddhist Centre, Denpasar, Bali.

Pada saat hari ini juga bertepatan dengan hari libur nasional yaitu memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhamad. Salah satu dari peserta ada yang meyakini hari istimewa ini dan kami memberikan ucapan selamat kepadanya. Latihan hidup berkewawasan adalah kesempatan saya mengenali tubuh dan pikiran dengan latihan dasar melalui mengamati setiap napas masuk dan keluar.

Pada awal latihan, kami mengawali dengan menghadirkan suka cita (joy) melalui nyanyian berkewawasan (mindful singing) yaitu: “breathing in, breathing out”. Terlihat perasaan suka cita dalam diri mereka dan ini adalah praktik nyata dalam menghadirkan suka cita secara wawas (mindful). 

Saya memulai latihan ini dengan memberikan orientasi tentang “apa itu praktik berkewawasan”? Tentunya dalam komunitas ini, banyak yang lebih tahu dan sering mendengar istilah “kewawasan”, karena sebagian dari komunitas ini adalah para praktisi psikolog profesi.

Ada yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan ada juga yang berprofesi sebagai konselor untuk para remaja di Bali. Mereka tertarik dengan praktik kewawasan, karena mereka adalah seorang praktisi untuk menyembuhkan mental orang-orang yang sedang gundah.

Menjadi seorang praktisi konseling dan psikolog klinis, mereka sadar bahwa berdamai dengan diri sendiri itu penting. Agar bisa demikian, maka ia perlu mulai dengan mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. DOM adalah kesempatan untuk mengenali diri sendiri sehingga kita bisa lebih jauh mencintai diri sendiri melalui napas.

Beberapa dari peserta mengatakan praktik ini yang bisa membantu mereka mengenali diriya sendiri. Mereka bisa mengenali emosi, kemarahan dan masalah dalam pasangannya. Mereka akan menjadikan latihan ini sebagai latihan yang berkelanjutan dalam mendukung profesinya.

Penyembuhan Atas Trauma

Satu peserta berasal dari Palu. Dia adalah seorang psikolog klinis. Rasa takut dan trauma yang masih terngiang dalam dirinya dan juga duka mendalam. Kota Palu membuat dirinya mengingat peristiwa duka itu, sehingga dia tidak ingin tinggal di Palu untuk sementara ini sebelum rasa traumanya terobati.

Kota ke kota, provinsi ke provinsi yang dia tuju untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penyembuhan jiwa. Walaupun seorang psikolog tetapi “saya adalah manusia biasa juga yang bisa merasakan penderitaan batin” ini yang dikatakan oleh peserta itu sewaktu berbagi rasa kepada kelompok berlatih.

Dalam sesi berbagi dia mengatakan, “Hari ini saya merasakan suka cita dan bahagia melalui latihan wawas napas dan saya cocok dengan metode ini dalam rangka mencari penyembuhan jiwa atas trauma bencana yang menimpa keluarga saya di Palu.

Berbeda Menjadi Satu

Peserta DOM ada 18 orang. Kami berasal dari berbagai daerah, suku, agama dan etnis berbeda. Hal ini yang menjadi menarik dan membuat warna komunitas berlatih ini menjadi indah. Latihan kewawasan ini membuat kami menjadi satu rasa yaitu rasa hening dan rasa damai. Rasa damai ada dalam napas, ada dalam langkah hening dan ada dalam setiap aktivitas.

Kita menjadi berbeda karena memiliki asal usul, budaya, agama dan leluhur darah masing-masing. Di saat kita berada di dalam rahim ibu, kita hanya berada di dalam tubuh ibu selama sembilan bulan, namun di saat kita sudah lahir kita akan berada di rahim yang sesungguhnya yaitu rahim ibu pertiwi.

Kita berbeda asal usul namun kita sekarang sedang berada di dalam rahim ibu pertiwi, rahim yang sejati dan rahim yang besar. Di atas bumi inilah kita menjadi satu. Kita menjadi satu, satu keluarga tidaklah cukup namun kita butuh keluarga spiritual yang dapat menyatukan kita semua. Semua menjadi satu, satu menjadi semua.

Istirahat Total

Latihan kami tidak hanya duduk hening saja, tapi juga ada jalan hening, mendengarkan Dharma Sharing (Berbagi Dharma). Sesi setelah makan siang dengan hening yaitu sesi relaksasi total (total relaxation). Latihan yang tidak kalah penting dan saya bilang sesi ini menjadi sesi yang sangat favorit untuk peserta.

Sesi ini menjadi sangat berkesan waktu disampaikan dalam sesi berbagi. Tubuh dan pikiran istirahat secara total, tubuh dan pikiran relaks selamat 45 menit. Kami diberikan panduan untuk mengenali bagian-bagian tubuh dan organ yang selama ini tidak memiliki waktu untuk mengunjungi mereka.

Ketika tubuh terasa capek, relaksasikanlah tubuhmu. Kami berbaring dan pikiran pun diistirahatkan. Setelah sesi ini selesai, kami dapat merasakan kesegaran kembali dalam tubuh. Ternyata tubuh ini butuh istirahat toh.

Latihan bersama di Buddhayana Buddhis Centre telah selesai dan kami pun berpamitan untuk kembali membawa energi kebahagiaan ini kedalam kehidupan sehari-hari. Sesampai tempat istirahat, saya memberikan tubuh dan pikiran untuk istirahat juga. Setelah memberikan bimbingan dan berbagi kepada komunitas berlatih, saya juga memberikan nutrisi kepada diri saya dengan santai sejenak di tempat yang sangat hening dan sejuk.

          “After charging others, we need to go to recharge ourselves too”.


WANDI BHADRAGUNA, aspiran Ordo Interbeing, dosen, praktisi hidup berkewawasan, sukarelawan retret dan DOM, aktif di kepanditaan Majelis Buddhayana Indonesia.

To Live Happily in the Here and Now

To Live Happily in the Here and Now
Dharma Sharing bersama anak sekolah

Siswa SMP Sekolah Ananda pertama kali mengadakan Day of Mindfulness (DoM). Anak-anak sudah pernah mempraktikkan hidup berkewawasan (mindfulness) ketika makan, duduk, relaksasi total. Praktik ini sudah dilakukan secara rutin oleh para guru, sekarang saatnya untuk mengajak anak-anak untuk ikut latihan juga.

Tema DoM perdana ini adalah Happiness is here and now. Anak remaja banyak terbebani oleh tugas sekolah, maka dari itu penting mengajarkan mereka cara untuk berbahagia melalui meditasi. Kami ingin anak-anak berbahagia di sekolah juga di rumah, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berkewawasan.

Menyentuh Momen Saat Ini

“The present moment is filled with joy and happiness. If you are attentive, you will see it.”

Thich Nhat Hanh

Sesi berbagi Dharma (Dharma Sharing), anak-anak diminta untuk menyebutkan hal apa yang membuat mereka bahagia maupun tidak bahagia. Mereka berbahagia ketika dapat berkumpul dengan orang tua dan keluarga. Mereka tidak berbahagia ketika orang tua bertengkar, kurang diperhatikan, berselisih paham dengan teman, tidak dibelikan barang yang diinginkan, nilai rapor rendah, ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal dunia. Jawaban ini lebih bervariasi.

Siswa mulai mengerti bahwa kondisi untuk berbahagia sebenarnya sudah ada, mereka sering melupakannya. Contoh, matahari di langit. Luangkan waktu sejenak untuk merasakan hangatnya matahari, semua kehidupan bisa berlangsung dikarenakan sinar matahari.

Banyak makanan bergantung pada sinar matahari, matahari seperti seorang ayah dan ibu merawat kita, selalu hadir setiap hari. Jika seseorang merasa tidak diperhatikan, tidak ada yang menyayangi, ingatlah matahari selalu merawat semuanya, setiap detik dan menit, bahkan setiap hari. Bumi, pohon, air, udara, burung, serangga, mereka selalu hadir untuk kita. Itu adalah suatu kebahagiaan.

Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain atau materi. Jangan berpikir, “Saya akan bahagia jika saya menjadi juara kelas, atau ketika saya dibelikan handphone terbaru, atau ketika mama bahagia, maka saya akan bahagia.” Kita bisa memunculkan rasa bahagia dalam diri kita terlebih dahulu.

Jika seseorang berhentik sejenak untuk menyentuh momen kekinian, maka banyak kondisi kebahagiaan yang terlihat jelas. Kita tidak perlu mencari kondisi-kondisi kebahagiaan di luar sana, justru saat ini kita sudah memiliki banyak kondisi kebahagiaan.

Berhenti dan menyentuh momen kekinian, maka tubuh dan pikiran bisa beristirahat. Berhenti untuk memberi kesempatan bagi kita untuk mengenali kondisi-kondisi bagi kebahagiaan sesungguhnya sudah hadir dan ada di depan kita. Jika kita bahagia, maka kita dapat menjadi sumber kebahagiaan juga bagi orang lain.

Mengenali Benih Positif dan Benih Negatif di Dalam Diri

“The seed of suffering in you may be strong, but don’t wait until you have no more suffering before allowing yourself to be happy.”

Thich Nhat Hanh

Anak-anak diberi kesempatan untuk mengenal benih positif dan negatif yang dominan dalam dirinya. Mereka sudah mampu mengenali benih-benih itu. Mereka menuliskan cara-cara menyirami benih positif, dan menghindari menyirami benih negatif.

Benih-benih positif yang ada dalam diri para siswa antara lain suka memberi, rendah hati, suka tersenyum, ramah, ceria, perhatian, easy going, bersyukur, humoris, percaya diri, tenang, jujur, penyayang, bersemangat, mudah memaafkan, pantang menyerah, tidak suka cakap kotor, dan lain-lain.

Benih-benih negatif yang dalam diri para siswa antara lain pemarah, egois, serakah, tidak percaya diri, malas, iri hati, suka melawan, suka menunda, berbohong, rendah diri, keras kepala, sombong, boros, kasar, dan lain-lain.

Cara menyiram atau tidak meyiram benih agar bertumbuh antara lain:

  • Selalu bersyukur
  • Sabar dan selalu tersenyum
  • Tidak membandingkan diri dengan orang lain
  • Mencari dan berkumpul dengan orang-orang dan lingkungan yang baik
  • Berpikir positif
  • Mengingat hal-hal yang diajarkan orang tua
  • Lebih dekat dengan Tuhan, rajin ibadah dan berdoa
  • Banyak membaca quote-quote motivasi
  • Mengendalikan emosi
  • Memahami sifat dan karakter orang lain
  • Menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan
  • Memikirkan orang lain dan menempatkan diri di posisi orang lain untuk dapat memahami bagaimana keadaannya jika kita berlaku tidak mengenakkan pada mereka
  • Menenangkan diri

Bagi anak seusia 12 – 15 tahun, pemikiran-pemikiran seperti ini cukup bagus, walaupun masih ada sebagian siswa yang menjawab masih tidak tahu bagaimana cara menyiram atau tidak menyiram benih-benih tersebut. Hal ini memberikan saya ide baru untuk membahas topik ini lebih mendalam pada DoM bulan berikutnya dengan cara lebih seru.

Sharing Bersama Fasilitator

“I am determined to practice deep listening. I am determined to practice loving speech.”

Thich Nhat Hanh

Setelah relaksasi total, para siswa berpencar sesuai kelompoknya untuk bermain games dan berbagi cerita bersama masing-masing fasilitator. Dalam kelompok kecil, para fasilitator menjelaskan terlebih dahulu tata cara dalam sharing. Diawali dengan memberi bow (hormat) sebelum dan setelah bercerita, tidak memotong pembicaraan teman, tidak mengejek apabila teman salah bicara, belajar mendengarkan teman tanpa menghakimi, dan berbicara dengan bahasa yang sopan dan tidak menyakiti teman. Mereka juga belajar mengundang lonceng secara bergiliran setiap kali seorang temannya selesai berbagi cerita.

Dalam kesempatan ini bukan hanya sesama siswa berbagi cerita, tapi juga para fasilitator (yang juga adalah guru). Di sekolah mungkin tidak banyak hal yang mereka ketahui tentang guru-guru mereka, tapi pada kesempatan ini para guru tidak segan berbagi cerita. Berbagi tentang keluarga, keseharian mereka, tentang cita-cita, apa yang membuat mereka bahagia pada hari itu, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, dan lain-lain.

Latihan berkewawasan selesai pada sore hari. Ada beberapa anak yang jujur mengatakan bahwa hal yang membuat ia bahagia pada hari itu adalah ia dapat bangun lebih telat dari biasanya (karena DoM dimulai pukul 8.30 pagi), tidak perlu belajar pada Sabtu ini, dapat bermain game dengan teman-teman dan  menikmati relaksasi total, serta tidak perlu memikirkan pelajaran sekolah ataupun pekerjaan rumah.

Latihan DoM ini adalah pengalaman pertama bagi para siswa. Semoga latihan hari ini memberi rasa relaks dan semoga mereka dapat mengingat bahwa untuk menumbuhkan rasa bahagia dalam diri adalah tidak sulit, cukup menyadari saat ini, menyentuh momen saat ini, maka kita akan menyadari bahwa kondisi-kondisi untuk berbahagia sebenarnya telah ada di hadapan kita.

“It is possible to live happily in the here and now. So many conditions of happiness are available—more than enough for you to be happy right now. You don’t have to run into the future in order to get more.”

Thich Nhat Hanh

RUMINI LIM, guru sekolah Ananda Bagan Batu, pengajar mindfulness class dan volunteer retret mindfulness

Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu

Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu
Menepi sebentar

Sudah 40 tahun lebih saya menjalani hidup, walaupun banyak kondisi yang sudah saya lalui, tetapi saya tidak pernah paham arti kehidupan. Bagi saya bangun pagi, ke kantor, pulang dan tidur merupakan rutinitas yang kewajiban yang dilakoni setiap hari.

Ada seorang guru yang saya hormati, ia sering memberikan kata “kunci” untuk membuka pintu kebodohan dan kemelekatan saya. Suatu hari ia memberikan izin kepada saya untuk pergi berlatih di Plum Village Thailand.

Saya juga bersyukur karena ada seorang sahabat juga mendukung saya. Kami berkumpul dan belajar dalam jumlah peserta yang lumayan banyak dan dari berbagai Negara dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ritme Berjalan

Saat meditasi pagi, kami diminta duduk hening di baktisala,  setelah itu kami meditasi jalan. Saya mengenakan jaket karena masih sangat pagi dan cuaca dingin. Kondisi sekitar gelap, sehingga penglihatan sungguh terganggu. Tidak bisa melihat dengan jelas, berjalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti peserta lain yang jalan di depan.

Semua peserta berjalan dengan ritme yang berbeda, dengan cara yang berbeda. Tidak lama berjalan, ada batu kecil yang masuk dalam sepatu, membuat langkah saya tidak nyaman karena sakit. Saya masih tetap berjalan sampai akhirnya menepi. Agar tidak menghalangi peserta di belakang saya untuk melangkah, saya mengeluarkan batu kecil dari sepatu, setelah itu melangkah kembali.

Jalan yang kami lalui ada yang berbatu kecil-kecil, ada yang hanya tanah tanpa rumput, ada juga jalan yang lebih lembut karena basah, ada juga jalan yang datar dan yang tidak datar.

Selama kurang lebih 45 menit kami berjalan, matahari mulai bersinar, lingkungan di sekitar mulai kelihatan dengan jelas, ada berbagai tanaman buah, bunga dan rumput yang ikut tumbuh, ada banyak jenis dan bentuk batu di tempat kami berjalan.

Mengikuti Rutinitas

Saya mulai menikmati pemadangan, merasakan hangatnya matahari, melihat langit, matahari dan tanaman di sekitar terasa indah. Apa pun yang saya lihat indah, udara menyegarkan, cuaca menyejukkan, suara alam begitu damai. Matahari terbit terasa indah, terbenam juga indah, bulan juga indah, sampai rumput yang tumbuh pun terasa indah, membawa kedamaian.

Hari kedua meditasi jalan, saya memaknai hidup sama dengan meditasi jalan. Hidup tanpa tujuan, tanpa mengetahui apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sama halnya dengan berjalan dalam kegelapan, kita melewati hari hanya mengikuti rutinitas.

Semua orang punya cara dan reaksi yang berbeda dalam setiap kondisi yang dihadapinya, sama halnya saat berjalan dengan ritme berbeda dan juga cara berjalannya. Saat orang lain yang tidak sengaja melukai kita, sama halnya dengan batu kecil tidak tidak sengaja masuk ke dalam sepatu.

Perjalan hidup terkadang lancar, terkadang tidak lancar, sama halnya dengan medan jalan yang dilalui, berbatu, berpasir, penuh rumput atau tidak rata.

Titik Terang

Jika kita dapat terus bertahan dan melangkah maju, akan ada titik terangnya, tidak selamanya berjalan dalam kegelapan, ada matahari yang terbit menggantikan gelap menuju terang, hangatnya matahari mengusir rasa dingin yang dirasakan di awal berjalan.

Sepanjang menjalani kehidupan, pikiran dipenuhi dengan hal-hal positif, memancarkan cinta kasih ke semua akan terasa begitu indah. Matahari di Thailand dan di Indonesia sama saja,yang berbeda adalah bagaimana cara kita melihat, merasakan dan menanggapi hal yang berada di hadapan kita.

Jika sangat lelah, sedih dan kecewa, jangan dipaksakan, kita bisa menepi sebentar, mengeluarkan batu kerikil kecil yang tanpa sengaja masuk ke sepatu kita. Setelah siap kita baru melangkah kembali.

Saat berjalan terlalu cepat, di dalam kegelapan, tanpa sengaja menabrak atau menyakiti orang yang kita lalui dan tidak melihat sekitar, kita hanya fokus di depan, bagaimana bisa lebih cepat.

Saat berjalan terlalu lambat, kita ketinggalan barisan, tidak ada yang bisa kita minta bantuan. Berjalan tidak perlu terlalu cepat atau terlalu lambat, tapi mengikuti irama, mendengar suara alam, melihat keindahan di hadapan kita, perasaan damai membawa kebahagiaan.

Lepaskan

Sahabatku, terima kasih punya kondisi yang sangat baik bisa bertemu dan berlatih bersama. Sahabatku begitu luar biasa, belajar bersama selama beberapa hari, membuat saya mengerti bahwa di atas langit ada langit lagi. Membuat saya merasa begitu kecil dan membuat saya melihat keakuan yang ada di dalam diri saya.

Saya bukan orang yang paling menderita, saya bukan orang yang paling benar, semua orang ada masalah yang dihadapinya, akan tetapi reaksi dan cara menyelesaikannya adalah yang paling penting. Akhirnya sampah yang saya pungut dalam perjalanan hidup akhirnya bisa saya lepaskan.

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan sedikit damai, Jika Anda melepas banyak, Anda akan banyak damai, Jika anda melepas penuh, Anda akan mengetahui kedamaian dan kebebasan penuh, Pergulatan Anda dengan dunia akan berakhir sudah

(Hello Happiness, Ajahn Brahm)

Saya akan berbagi sebuah kata kunci dari suhu :
Janganlah terpengaruh oleh masalah, kegelisahan, tidak nyaman, dan kemelekatan orang lain. Itu adalah urusan mereka. Suka, tidak suka, senang, tidak senang, nyaman, tidak nyaman biarlah mereka sendiri mengurusnya. Sementara ini, kita cukup menjaga kesadaran, terus belajar, berlatih dan berpraktik Dharma.

Terima kasih SUHU,

SVD

Bentuk Luar

Bentuk Luar

Begawan Buddha, aku merasa malu, karena aku sering berlatih tapi hanya bentuk luar saja, tanpa memperhatikan makna sesungguhnya. Ketika mempersembahkan dupa, menyentuh bumi, praktik meditasi duduk dan berjalan, membaca sutra, aku membiarkan pikiran terus mengembara ke masa lalu dan masa depan, dan aku terjebak dalam pemikiran tak bermanfaat tentang masa kini. Aku telah sering kehilangan banyak kesempatan berharga karena tidak berlatih dengan serius. Sebetulnya, ketika melangkah atau bernapas dengan penuh kewawasan (mindfulness), aku berkesempatan untuk membangkitkan energi kewawasan dan konsentrasi tepat. Ketika kewawasan dan konsentrasi tepat telah bangkit, maka energi pencerahan dan pengertian juga akan hadir.

Aku sangatlah beruntung karena sudah mendapatkan instruksi latihan itu. Sementara aku masih seperti orang tidak mengerti apa pun. Aku berjalan, berdiri, berbicara, dan tersenyum dalam kealpaan. Aku berjanji, Begawan Buddha, aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam setiap momen dalam kehidupan sehari-hari, aku akan membangkitkan kewawasan dan konsentrasi tepat lebih banyak lagi. Membangkitkan kewawasan dan konsentrasi bukan hanya menyembuhkan dan mentransformasikan batin dan tubuh, tetapi juga mendukung banyak anggota sanggha lainnya dan akan meningkatkan kualitas praktik dari seluruh sanggha.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi dengan rasa syukur kepadaMu, Buddha yang telah tiba di pantai seberang, yang mampu menunjukkan jalan, agar aku selalu mengingatkan janjiku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran dalam satu kesatuan, aku menyentuh bumi dengan penuh rasa syukur kepada Buddha Vipasyin. [Genta]

Buddha dan Sanggha Orisinal

Buddha dan Sanggha Orisinal

Begawan Buddha, Aku melihat Buddha duduk bersama Sanggha biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Aku seperti Raja Prasenajit, setiap kali raja melihat komunitas Sanggha biksu dan biksuni, raja merasa bahwa Buddha begitu luar biasa dan energi keyakinan, respek, dan kagum tumbuh besar. Aku merasakan kehadiran Buddha dalam Sanggha. Buddha telah mentransmisikan kearifan dan welas asih kepada begitu banyak orang. Begawan Buddha, semua murid-muridMu, apakah itu biksu, biksuni, upasaka, atau upasika, merupakan kelanjutan dari Buddha; sebetulnya mereka juga adalah Buddha. Aku melihat ada Buddha di dalam metode praktik yang telah diajarkan, jika ajaran itu diterapkan dengan terampil, maka akan membawa pada transformasi dan penyembuhan. Begawan Buddha, aku bisa melihat Buddha dalam energi pengertian dan welas asih yang terwujud dalam setiap manusia, dalam karya tulisan, puisi, arsitektur, musik, dan karya seni dan bentuk budaya. Aku bisa merasakan Buddha dalam diriku, dalam benih pencerahan dan cinta kasih yang memungkinkan aku berlatih mengembangkan kearifan dan welas asih.

Menyentuh Bumi

Begawan Buddha, dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi agar bisa menyentuh Buddha dalam diriku, dalam Sanggha, menyentuh Buddha dalam ajaran beserta praktik Dharma, juga dalam kesempatan menakjubkan yang telah Buddha ciptakan untuk kehidupan spiritualku. [Genta]

Dengan tubuh, ucapan, dan pikiran bersatu padu, aku menyentuh bumi di hadapan Buddha Dipankara, Dia yang telah memprediksi pencerahan dari guru akarku, Buddha Sakyamuni. [Genta]