Memulai Lembaran Baru

Memulai Lembaran Baru


Untuk memulai lembaran baru kita harus memeriksa dengan sungguh-sungguh dan jujur, tindakan-tindakan, ucapan, dan pikiran-pikiran kita di masa lalu serta menciptakan suatu permulaan yang segar di dalam diri kita dan hubungan kita dengan orang lain. Di pusat pelatihan kita melatih Memulai Lembaran Baru sebagai sebuah komunitas dua minggu sekali dan secara pribadi sesering yang kita inginkan.
Kita melatih Memulai Lembaran Baru untuk menjernihkan batin kita dan menjaga latihan kita tetap segar. Bilamana kesulitan timbul dalam hubungan kita dengan sesama praktisi dan salah satu dari kita merasa dendam atau sakit, kita tahu inilah waktunya untuk Memulai Lembaran Baru. Berikut ini adalah uraian dari proses empat bagian Memulai Lembaran Baru sebagaimana yang digunakan dalam tata cara resmi. Satu orang berbicara berturut-turut dan tanpa disela selama gilirannya. Para praktisi lainnya mempraktikkan cara mendengarkan dengan sepenuhnya dan mengikuti pernafasan mereka.

  1. Menyiram bunga – ini adalah kesempatan untuk berbagi apresiasi kita untuk orang lain. Kita mungkin menyebutkan contoh-contoh tertentu yang orang lain katakan atau lakukan, sesuatu yang kita kagumi. Ini adalah sebuah kesempatan untuk memancarkan kekuatan orang lain dan kontribusi untuk Sangha serta untuk menyemangati pertumbuhan akan kualitas-kualitas positifnya.
  2. Menyampaikan penyesalan – kita mungkin menyebutkan tindakan-tindakan, ucapan, atau pikiran-pikiran kita yang tidak cakap yang mana belum sempat kita minta maaf.
  3. Menyatakan rasa sakit – kita mungkin berbagi bagaimana kita merasakan sakit oleh interaksi dengan praktisi yang lain, dikarenakan tindakan-tindakan, ucapan, dan pikiran-pikirannya. (Untuk menyatakan perasaan sakit pertama-tama kita harus menyiram bunga orang lain dengan berbagi kualitas-kualitas positif yang telah benar-benar kita amati dalam dirinya. Menyatakan perasaan sakit sering dilakukan perorangan dengan praktisi lainnya daripada dalam susunan grup. Anda bisa meminta orang ketiga yang anda berdua percaya dan hormati untuk hadir, jika mengingini.)
  4. Menyampaikan kesulitan masa panjang dan meminta dukungan – kadang-kadang kita masing-masing mendapat kesulitan dan rasa kesakitan timbul dari masa lalu yang muncul sekarang. Ketika kita berbagi suatu persoalan yang sedang kita hadapi kita bisa biarkan orang di sekitar kita memahami kita lebih baik dan memberikan dukungan yang benar-benar kita perlukan.

Praktik Memulai Lembaran Baru membantu kita mengembangkan ucapan yang baik dan mendengarkan dengan rasa belas kasih. Memulai Lembaran Baru adalah sebuah latihan tentang pengakuan dan apresiasi akan elemen-elemen positif di dalam Sangha kita. Misalnya, mungkin kita memperhatikan bahwa teman sekamar kita itu dermawan dalam berbagi wawasan, dan teman yang lain peduli terhadap tumbuh-tumbuhan. Dengan mengakui sifat positif orang lain mengizinkan kita untuk melihat kualitas-kualitas baik kita sendiri juga.
Bersama dengan sifat-sifat baik ini, kita masing-masing memiliki bidang-bidang kelemahan, seperti menasehati supaya jangan murka atau terperangkap dalam salah-tanggap kita. Ketika kita melatih “menyiram bunga” kita saling menyokong pengembangan kualitas-kualitas baik dan pada waktu bersamaan kita membantu melemahkan kesulitan-kesulitan orang lain. Selagi di kebun, saat kita saling “menyiram bunga” cinta kasih dan belas kasih, kita juga menyingkirkan energi dari rumput liar kemarahan, kecemburuan, dan kesalah-tanggapan.
Kita dapat melatih Memulai Lembaran Baru setiap hari dengan menyatakan apresiasi kita terhadap sesama praktisi dan meminta maaf dengan segera bilamana kita melakukan atau mengucapkan sesuatu yang melukai mereka. Kita bisa dengan sopan membiarkan orang lain mengetahui saat kita terluka pula. Kesehatan dan kebahagiaan dari seluruh komunitas tergantung pada kerukunan, kedamaian, dan kegembiraan yang ada di antara setiap anggota Sangha.

Rekomendasi & Sendiri Lagi

Rekomendasi & Sendiri Lagi

Naskah ini merupakan terjemahan dari plumvillage.org, Anda bisa baca versi Inggris lewat pranala ini.


Puisi ini digubah oleh Thich Nhat Hanh (Thay) sewaktu perang vietnam. Setiap hari, nyawa dirinya dan muridnya terancam. Sementara puisi ini memberi dukungan agar setiap insan menumbuhkan wawasan mendalam, welas asih, dan sikap memaafkan. Kemudian puisi ini juga telah dijadikan lagu. Selamat menikmati.

Rekomendasi

Thich Nhat Hanh

Berjanjilah padaku,
berjanjilah padaku hari ini,
berjanjilah padaku sekarang juga,
selama matahari masih di atas kepala
tepat di zenit,

Berjanjilah padaku:
walaupun mereka
menyerang kamu
dengan kebencian dan kekerasan sebesar gunung;
walaupun mereka menginjak-injak dirimu
menghancurkanmu bagaikan ulat,
walaupun mereka memotong dan
merobek dirimu,
ingatlah saudaraku, ingatlah:
manusia bukanlah musuh kita.

Satu-satunya hal yang layak engkau tumbuhkan adalah welas asih
terkuat, tanpa batas, dan tanpa syarat.
Kebencian tidak akan membiarkanmu
menghadapi sifat buas manusia.

Suatu hari nanti, ketika engkau menghadapi kebuasanmu
dengan keberanianmu utuh, matamu penuh kasih, tidak terusik
senyumanmu akan memekarkan bunga.

Mereka yang engkau cintai
akan menemanimu
berjalan melalui sepuluh ribu
dunia kelahiran dan kematian.

Sendiri lagi,
aku akan terus berjalan
dengan kepala tertunduk,
aku tahu bahwa cinta kasih akan langgeng.
Di perjalanan panjang dan penuh tantangan ini
matahari dan bulan akan terus bersinar.


“Manusia bukanlah musuh. Sang musuh kita sesungguhnya adalah kebencian, kemarahan, ketidaktahuan, dan ketakutan”

Thich Nhat Hanh

Thich Nhat Hanh mengisahkan cerita dibalik puisi itu

Saya menulis puisi itu pada tahun 1965 untuk anak-anak mudah School of Youth for Social Service, nyawa mereka terancam setiap hari pada masa perang. Saya memberikan rekomendasi kepada mereka, jika memang harus gugur dalam misi perdamaian, maka gugurlah dengan tidak membawa kebencian. Ada beberapa kawan kami telah dibunuh dengan kejam, dan saya menegaskan kepada mereka agar tidak terhanyut dalam kebencian.

Musuh kita sesungguhnya adalah kemarahan, kebencian, keserakahan, kefanatikan, diskriminasi sesama manusia. Jika engkau harus gugur karena kekerasan, maka engkau wajib memeditasikan welas asih agar bisa memaafkan mereka yang membunuhmu. Ketika engkau berhasil mewujudkan welas asih secara nyata, engkau sungguh adalah anak sejati dari Buddha. Walaupun engkau harus gugur karena penindasan, dihina, dan kekerasan, jika engkau bisa tersenyum dengan sikap memaafkan, ini berarti engkau telah memiliki kekuatan besar.

Ketika membaca ulang puisi ini sebaris demi sebaris, saya tiba-tiba mengerti bahwa ada bagian dalam Sutra Intan yang menjelaskan tentang Kshanti (kesabaran), kekuatan untuk menanggung derita dan toleransi: “Keberanianmu utuh, matamu penuh kasih, tidak terusik, melalui senyumanmu akan memekarkan bunga. Dan mereka yang engkau cintai akan menemanimu berjalan melalui sepuluh ribu dunia kelahiran dan kematian”.

Jika engkau gugur dengan pikiran welas asih, engkau menjadi pelita penerang jalan. Nhat Chi Mai adalah seorang anggota Ordo Interbeing paling awal, sebelum dia membakar dirinya, dia membacakan puisi ini dan direkam sebagai pesan kepada kedua orangtuanya.

Sendiri lagi, aku akan terus berjalan dengan kepala tertunduk” demi melihatmu, mengetahui tentangmu, mengingatmu. Cinta kasihmu telah menjadi langgeng. “Di perjalanan panjang dan penuh tantangan ini matahari dan bulan akan terus bersinar”. Jika ada relasi antara mereka yang telah matang, maka selalu ada welas asih dan sikap memaafkan.

Dalam hidup manusia, kita butuh orang lain melihat dan mengetahui bahwa kita mendapat dukungan. Kita juga ingin Buddha mengetahuinya! Perjalanan melayani semua makhluk, ada momen-momen merasakan kepedihan dan kesepian, namun kita tahu Buddha selalu menemani kita, Buddha melihat dan mengetahuinya, sehingga kita memiliki kekuatan dan tekad untuk terus melanjutkan pelayanan.

Weston Priory telah mengubah puisi ini menjadi musik yang indah.

Alone Again (Sendiri Lagi) – Weston Priory

Unduh lagu (mp3) klik sini


Recommendation by Thich Nhat Hanh

Promise me,
promise me this day,
promise me now,
while the sun is overhead
exactly at the zenith,

promise me:
Even as they
strike you down
with a mountain of hatred and violence;
even as they step on you and crush you
like a worm,
even as they dismember and disembowel you,
remember brother, remember:
man is not our enemy.

The only thing worthy of you is compassion –
invincible, limitless, unconditional.
Hatred will never let you face
the beast in man.

One day, when you face this beast alonewith your courage intact, your eyes kind,
untroubled
(even as no one sees them),
out of your smile
will bloom a flower.

And those who love you
will behold you
across ten thousand worlds of birth and dying.

Alone again,
I will go on with bent head,
knowing that love has become eternal.
On the long, rough road
the sun and moon will continue to shine.

Finding A Home At Work

Finding A Home At Work
DOM untuk guru sekolah Ananda, Feb 2020

Di dalam dunia kerja, tak ada yang bisa mengelak urusan kerja sama dengan orang lain. Ada tim, rekan kerja divisi, proyek, supplier, ataupun klien. Di dunia sekolah, ada para guru, selain interaksi dengan sesama guru dan staf, juga berhubungan dengan murid dan orang tua murid. Jika kita datang ke tempat kerja dengan suasana hati yang siap, gembira, segar dan damai, kita dapat membantu rekan atau murid kita untuk melakukan hal yang sama.

Ada waktunya kita merasa kurang nyaman di tempat kerja. Anda merasa takut dikucilkan. Anda mencoba untuk berprilaku yang membuat agar bisa diterima oleh mereka. Coba bayangkan Anda pergi ke taman dan menghabiskan waktu melihat pohon, bunga dan binatang. Anda merasa nyaman dan diterima oleh mereka. Anda tidak takut mereka menatapmu atau menghakimimu.

Bunga tidak memiliki rasa takut seperti itu. Ia tumbuh di taman bersama bunga dan tanaman lainnya, tapi ia tidak mencoba untuk menjadi bunga lain. Ia menerima dirinya apa adanya. Jangan mencoba menjadi orang lain atau sesuatu yang lain. Jika kita lahir seperti kita sekarang, kita tidak perlu mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Kita belajar menerima diri apa adanya. Semesta telah membantu kita menjadi versi kita yang sekarang ini, kita indah apa adanya.

“To be beautiful means to be yourself”

Thich Nhat Hanh

Mengatasi Emosi di Tempat Kerja

Sangat penting bagi kita untuk belajar bagaimana menghadapi emosi yang meluap di tempat kerja, hal ini demi menjaga hubungan baik dengan teman kerja, menjaga komunikasi tetap terbuka dan tidak menciptakan atmosfir kerja yang negatif atau penuh tekanan.

Pertama, sadarilah bahwa emosi apa pun pasti tidak bertahan lama. Mereka datang, menginap sebentar, kemudian pergi. Sangat penting untuk menghentikan semua pikiran kita ketika emosi yang kuat muncul, jangan menambah ‘api’ dengan pikiran-pikiran kita yang lain. Kita perlu berhenti sejenak dan kembali pada latihan bernapas.

Latihan kedua. Menyadari tubuh dan ikuti napas masuk dan napas keluar. Ikuti saja. Tidak perlu memaksa untuk mengubahnya. Bawa perhatian pada napas dan secara alami izinkan napas menjadi lebih tenang, lebih dalam, lebih pelan dengan secara alami. Jika kita bisa berlatih seperti ini, bukan hanya napas kita yang menjadi tenang, tapi tubuh dan pikiran kita juga dapat menjadi tenang.

Setelah berhasil kembali ke diri kita, kenali perasaan dalam diri kita. Di dalam mungkin ada rasa marah, kekhawatiran, ketakutan, keraguan, atau putus asa. Kenali dan terimalah semua perasaan itu dengan lembut. Bayangkan seorang ibu yang mendengar bayinya menangis. Hal pertama yang dia lakukan adalah segera menghentikan pekerjaannya, dan langsung menuju ke bayinya. Kemudian ia menggendongnya dengan lembut. Di dalam diri bayi pasti ada energi penderitaan sehingga menangis. Dalam diri ibu ada energi kelembutan, yang mulai mengalir ke bayi ketika digendong. Sama halnya dengan ini, emosi kuat kita adalah bayi kita, kemarahan kita adalah bayi kita. Rasa putus asa kita adalah bayi kita. Bayi kita memerlukan kita untuk pulang dan memberi perhatian padanya.

Memulihkan Komunikasi

Bagaimana jika kita tidak dapat mentransformasikan perasaan marah atau kecewa? Kita harus mendatangi orang tersebut dan meminta bantuan agar kita dapat mengoreksi persepsi keliru yang kita miliki. Tetapi ini hanya dilakukan jika kita kita telah berdamai dengan kemarahan diri sendiri.

Biasanya waktu yang tepat untuk mengkomunikasikan hal ini adalah dalam 24 jam, karena tidak baik untuk kesehatan jika kita menyimpan amarah terlalu lama. Biarkan orang tersebut tahu jika kita sedang marah, tahu bahwa kita menderita karenanya dan kita tidak tahu mengapa mereka mengatakan atau melakukan hal itu sehingga membuat kita marah. Minta bantuan dan penjelasan. Jika kita sangat marah dan tidak dapat mengatakannya secara langsung, ungkapkan dengan tulisan.

“Untuk temanku,
Aku sedang menderita.
Aku marah, dan aku ingin kamu mengetahuinya.
Bantulah aku. Aku tidak dapat menghadapi kemarahan ini sendirian.
Aku telah berlatih, tetapi hampir 24 jam berlalu dan aku belum merasa
sedikit pun lega. Aku tidak dapat mentransformasikan kemarahan ini sendirian. Bantulah aku.”

Thich Nhat Hanh

Aku membutuhkanmu. Aku sedang menderita. Bantulah aku” adalah tiga kalimat yang bisa membantu kita meredakan kemarahan. Kalimat ini bisa ditulis dan disimpan di dompet, sehingga ketika kita marah, sebelum kita berkata atau melakukan sesuatu, keluarkan tulisan itu dari dompet dan bacalah tiga kalimat itu.

Tanda Tanganmu

Ketika kita bekerja, ada yang melakukan service (pelayanan) pada orang lain ataupun memproduksi sesuatu barang. Tetapi ada hal lain selain itu yang kita hasilkan ketika bekerja, yakni pikiran, ucapan dan perbuatan. Ketika seorang pelukis atau komposer menghasilkan sebuah karya, mereka akan memberikan tanda tangan pada hasil karyanya.

Dalam kehidupan sehari, pikiran, ucapan dan perbuatan kita adalah tanda tangan kita. Jika pikiran kita adalah pikiran benar, mengandung pengertian, welas asih dan pencerahan, itu adalah hasil karya yang bagus, itu adalah warisan kita. Apapun yang kita katakan adalah hasil dari siapa kita dan apa yang kita pikirkan. Jika kata-kata kita kejam atau baik, itu adalah tanda tangan kita. Apa yang kita katakan mungkin dapat menyebabkan kemarahan, pesimis, rasa putus asa yang besar, dan itu adalah tanda tangan kita. Melalui kewawasan (mindfulness), kita dapat memproduksi ucapan yang mengandung pengertian, welas asih, dan sukacita..

Ketika kita memiliki kedamaian dan kebahagiaan yang cukup, maka apa pun yang kita katakan akan memancarkan elemen positif kepada orang lain, dan itu akan menumbuhkan benih baik dalam diri mereka, mengizinkan elemen positif dalam diri mereka untuk bertumbuh. Mereka juga akan mengetahui bagaimana menyiram hal-hal positif pada lawan bicara. Sebaliknya, jika pembicaraan hanya bertujuan untuk mengeluh tentang orang lain di tempat kerja, meluapkan kemarahan, frustasi, dan kekerasan, maka kita akan melukai diri sendiri dan orang lain. Begitu juga dengan perbuatan kita. (Sumber: Work oleh Thich Nhat Hanh)

Jadi mari kita ke tempat kerja sebagai seorang bodhisatwa yang memiliki aspirasi untuk menolong orang lain untuk bertransformasi dan melewati saat-saat sulit mereka dan membawa kedamaian serta kesejahteraan bagi lingkungan di tempat kerja.

RUMINI LIM guru sekolah Ananda di Bagan Batu

Berbesar Hati lewat Mindfulness

Berbesar Hati lewat Mindfulness
Foto bersama Retret Guru Sekolah Ananda Bagan Batu, Riau.

Mindfulness merupakan meditasi terapan. Saya bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya mencobanya terus setiap hari. Praktik Mindfulness membantu saya mengatasi stress dan menghindari cemas.

Day Of Mindfulness (DOM) adalah istilah yang saya tahu. Saya mendapatkan teknik ini dari Sekolah Ananda Bagan Batu. Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal apa itu Mindfulness. Lalu Ibu Rumini memperkenalkan Mindfulness ini kepada saya.

Praktik ini ternyata membuahkan perubahan pada diri saya. Perubahan ini mungkin kecil, namun ada sebuah keyakinan besar bahwa teknik ini perlahan-lahan merubah saya menjadi lebih baik lagi.

Momen Positif

Pertama kali saya praktik mindfulness lewat duduk hening di pagi hari dengan diawali suara lonceng tiga kali. Saya bersama teman-teman sekadar duduk hening dan relaks sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

Saya mencoba untuk lebih relaks sepanjang melakukan pekerjaan, saya mengatur napas masuk dan napas keluar. Inilah awal saya mencoba mulai mempraktikkan mindfulness dalam aktivitas sehari-hari terutama untuk diri sendiri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari setiap acara DOM yang dilaksanakan di sekolah. DOM pasti selalu bisa membuat saya terkesan dan bahagia. Hati saya menjadi lebih tenang. Setidaknya, setelah DOM ada perubahan positif yang saya rasakan.

Terkadang saya merasa setiap kali selesai DOM pasti ada saja momen positif yang terjadi. Melalui praktik mindfulness ini saya jauh merasa lebih bisa menghargai diri saya sendiri. Makan dengan hening menjadi salah satu hal positif yang saya dapatkan.

Anugerah Tuhan

Makan bersama-sama di meja makan dengan hening tanpa suara dan mengambil makanan secukupnya. Makan dengan penuh kesadaran dan tidak terburu-buru membuat saya lebih mensyukuri hidup ini.

Saya tersentak sadar bahwa selama ini saya belum mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan. Saya selalu makan terburu-buru dan ingin cepat selesai apalagi jika sudah lapar. Saya tidak mengunyah makanan dengan baik, sehingga perut saya bisa sakit tiba-tiba ketika diisi makanan dengan tidak teratur.

Sekarang, saya bersama suami sudah mulai perlahan-lahan membiasakan makan dengan hening tanpa suara sambil mensyukuri nikmatnya makanan tersebut. Mungkin memang belum seutuhnya bisa, tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menyayangi diri sendiri lewat pola makan berkesadaran, pelan, dan sehat.

Meredakan Emosi

Napas masuk napas keluar, salah satu praktik mindfulness yang selalu saya coba setiap hari. Ketika saya marah, saya jadi lebih bisa meredakan emosi lewat napas. Di rumah, jika ada hal-hal yang membuat saya kesal, saya berusaha tidak langsung marah.

Saya mencoba untuk bernapas masuk dan keluar, setelah itu saya merasa emosi saya mulai turun. Saya bisa membicarakan baik-baik tentang hal yang membuat saya kesal itu.

Demikian juga ketika ada kejadian tegang seperti berbeda pendapat dengan suami. Saya mencoba untuk mendengarkannya dengan sabar. Setelah mendengar saya menjadi lebih mengerti, lalu kami sama-sama mencari jalan keluar.

Sejak saya mengenal DOM, saya merasa menjadi jauh lebih sabar dalam menghadapi anak-anak di sekolah, terutama dalam proses belajar mengajar di kelas. Saya dapat lebih memahami anak-anak tersebut setiap kali berhadapan dengan tingkah laku mereka.

Berbesar Hati

Sangat banyak manfaat dan hal-hal positif yang saya rasakan. Praktik mindfulness membuat kehidupan sehari-hari saya menjadi lebih tenang dan bahagia. Relasi dengan suami, keluarga, lingkungan sekitar, teman-teman, rekan kerja, serta anak- anak didik saya, mulai terjadi perubahan.

Saya merasa perubahan terjadi dalam diri saya sendiri, bahkan sangat-sangat mengubah cara saya melihat berbagai kejadian hidup. Sebuah momen yang begitu luar biasa yang sudah saya rasakan dari praktik Mindfulness ini adalah bisa membuat saya lebih berbesar hati memaafkan orang lain (ini menurut pengalaman saya).

Kenapa saya mengatakan ini sebuah momen? Karena Mindfulness inilah saya punya kekuatan baru utnuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri juga berdamai dengan mereka yang saya anggap menyakiti hati saya.

Di dunia kerja, saya pernah mengalami kesalahpahaman yang terjadi di antara sesama rekan kerja, dengan hati yang ikhlas saya berdamai dan melepaskan beban yang ada di dalam hati.

Banyak hal baik yang sudah terjadi dari awal saya mengikuti kegiatan DOM ini di sekolah saya, kegiatan yang bisa membuat hati saya jauh lebih tenang dan bahagia daripada sebelumnya.

Bersama-sama

Saya punya cerita kecil tentang retret bersama Bhante Nyanabhadra di pertengahan Juli 2019. Retret itu memberi kesan yang sangat sangat mendalam. Sejak awal hingga akhir retret banyak hal positif yang saya rasakan.

Kami bernyanyi bersama-sama, makan bersama dengan hening penuh kesadaran, duduk hening di pagi hari, relaksasi total, menonton bersama, meditasi teh sambil sharing, jalan berkesadaran, circle sharing dan hal-hal yang lain yang buat saya bahagia selama mengikuti retret itu.

Oh ya noble silent. Saya entah mengapa sangat menyukai latihan itu. Begitu selesai acara pada malam hari, kami masuk kamar lalu benar-benar menggunakan waktu istirahat untuk tidur tanpa mengobrol dengan teman-teman sekamar dan melakukan aktivitas apa pun.

Saya sungguh merasakan manfaatnya dari noble silent. Pagi hari saya bangun, badan dan mata menjadi lebih segar karena tidur tepat waktu. Saya pun berinisiatif akan mencoba melakukan noble silent ini di rumah. Semoga saya bisa!

Berdamai

Pada hari terakhir, saya membuat suatu momen yang akan selalu saya ingat, yaitu berdamai dengan diri sendiri! Ya hari itu saya berusaha keras untuk mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Meminta maaf dan mau memaafkan orang yang saya anggap menyakiti hati saya.

Kesalahpahaman yang terjadi di antara saya dan rekan kerja selama ini bisa saya atasi dengan akhir bahagia. Rasa sakit hati yang selama ini sulit untuk saya maafkan, akhirnya saya mencoba berdamai dengan hati saya agar bisa memaafkan rekan saya.

Semoga praktik Mindfulness ini dapat lebih saya terapkan di kehidupan sehari-hari.
Terima kasih Bhante Y.M Nyanabhadra
Terima kasih Ibu Sri Astuti
Terima kasih Ibu Merlyna
Terima kasih Ibu Rumini Lim
Terima kasih teman-teman seperjuangan di Yayasan Pendidikan Ananda

Riama Juni Wanti Rajagukguk, Guru Sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.