Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan

Jari Telunjuk Bukanlah Sang Rembulan


Di halaman rumahku yang tidak begitu luas, aku menanam sebatang pohon lemon di dalam pot. Pohon lemon itu kupandangi dan kusayangi setiap hari, kadang ranting-rantingnya yang terlalu rimbun kugunting dengan penuh perhatian, karena dikhawatirkan itulah cikal bakal bunga buah nantinya.

Namun, suatu hari ini aku pulang ke rumah setelah seharian berada di wihara, aku mendapati pohon lemonku dalam keadaan yang sangat menyedihkan, satu cabangnya yang besar telah terpotong tak beraturan, hanya tersisa satu cabang lagi yang tidak begitu besar. Hati ini terasa sakit, seperti ada yang tersayat di tubuhku.

Menenangkan Diri
Aku berusaha meredam emosi, aku pergi ke wihara dan mencoba bernapas masuk dan bernapas keluar. Namun tidak mudah untuk berkonsentrasi. Pikiran aku kembali lagi dan kembali lagi tentang si pohon lemon. Seharusnya orang yang membabat pohon lemonku bisa bertanya terlebih dahulu atau membiarkan aku saja yang memangkasnya. Seharusnya begini begitu dan berbagai pikiran yang menyayangkan kenapa peristiwa itu harus terjadi sehingga aku merasa sangat sakit. Untuk memejamkan mata berkonsentrasi saja sulit sekali, apalagi berpikir jernih, karena aku dipenuhi oleh emosi.

Setelah 10 menit berlalu, aku menyudahi meditasiku. Karena sudah menjelang waktu makan malam, khawatir dicari, aku pun pulang dengan membawa rasa sakit yang baru berkurang sedikit. Pulang ke rumah saya masih berusaha menenangkan diri untuk tidak meluapkan emosi dari rasa sakit itu.

Kemudian terpikir olehku untuk memindahkan si pohon lemon ke tempat yang bisa kutitipkan untuk dirawat. Daripada ketika aku keluar masuk rumah dan melihat si pohon lemon yang sekarat itu, maka sama saja dengan saya kembali terpanah oleh rasa sakit untuk kesekian kalinya.

Menunjuk Rembulan
Satu hal yang membuat aku tersadarkan adalah saat membaca buku Jalur Tua Awan Putih buku kedua, tentang “jari telunjuk bukanlah sang rembulan“. Bagian itu menceritakan tentang kisah seorang bapak yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil. Ketika si bapak sedang pergi berniaga meninggalkan anaknya seorang diri di rumah, hari itu terjadi perampokan di desa tersebut dan anak kecil itu disandera oleh bajak laut.

Ketika si bapak pulang ke rumah mendapati ada jasad anak kecil di dekat rumahnya dan meyakini bahwa jasad itu adalah anaknya, lalu diambilnya dan dikremasikannya, kemudian abunya dibawanya ke manapun dia pergi.

Suatu hari sang anak berhasil melarikan diri dari kawanan bajak laut dan kembali ke rumahnya memanggil-manggil bapaknya utk membukakannya pintu, namun si bapak meyakini bahwa anaknya sudah mati dan abu yang dipegangnya adalah abu anaknya, dia mengabaikan panggilan anaknya sehingga akhirnya mereka pun berpisah selamanya.

Waktu Terbaik
Saya mengibaratkan diri saya sebagai sang bapak dan abu anak kecil tersebut adalah pohon lemonku, ketika pohon lemon yang telah terbabat habis, lalu terus kuingat-ingat akan terus menyakiti hatiku.

Sementara keluargaku yang telah membabat pohon tersebut tanpa seizinku jika aku marah kepadanya terus menerus, bukankah aku akan seperti si bapak yang menyia-nyiakan anak kesayangannya yang telah kembali? Yang artinya mengabaikannya, marah dengannya, dan mengabaikan keberadaan keluargaku hanya demi pohon lemon yang tak mungkin bisa disambung kembali.

Dari sinilah kesadaran itu muncul, bahwa waktu bersama orang-orang terdekat sering kita sia-siakan dengan bertengkar dengannya, marah dan bahkan tidak bicara hanya karena urusan kecil yang sudah berlalu. Terlalu melekat dan meyakini apa yang kita pikir benar sebagai sebuah kebenaran hakiki.

Baiklah, saya akan mentransformasi rasa sakit itu menjadi sebuah pengertian bahwa kebersamaan dengan keluarga kita adalah waktu terbaik yang tidak perlu disia-siakan karena kemarahan atau sakit hati.

Ujian Selesai
Toh, pohon lemon pasti akan tumbuh lagi dengan baik, karena dia masih punya satu cabang yang masih hidup, dan kelak aku masih bisa menyapanya di tempat baru yang sedang aku titipkan di sana. Ok… ujian saya selesai.

Hal yang kualami ini bisa menjadi hal besar jika aku tidak berhasil mengendalikan emosi seketika, yang mungkin akibatnya akan merusak keharmonisan dalam keluarga bahkan bisa mengakibatkan keributan.

Aku sadar bahwa yang harus aku lihat adalah rembulan, bukan jari yang menunjuk ke rembulan.

Bersyukur dan berterimakasih mengenal mindfulness. “Aku perlu bersiap sedia sebelum badai tiba”

Widyamaitri praktisi mindfulness, volunteer retreat dan Day of Mindfulness, juga anggota Ordo Interbeing

Melakukan Kebaikan Tak Berharap Kembali

Melakukan Kebaikan Tak Berharap Kembali


Saya seorang umat Buddha. Saya vakum selama 15 tahun, tidak pernah ke wihara apalagi membaca buku-buku Buddhis. Suatu kondisi akhirnya membuat saya masuk ke dalam organisasi yang ada di wihara, di sana saya melewati hari-hari dengan belajar dan berlatih untuk mengikis keakuan dan berusaha mengembangkan Bodhicitta yang ada di dalam diri saya.

Keinginan untuk tahu lebih banyak dan lebih banyak, membuat saya terus mencari, dari wihara yang satu ke wihara yang lain, dari guru yang satu ke guru yang lain.

Sampai suatu hari, saya bertemu dengan seorang sahabat lama, saya bertanya, “Ke mana saya harus mencari seorang guru yang dapat memberikan kemajuan spritual?” Dia pun menjawab, “Saat Murid Siap, Guru akan Datang“.

Saat itu saya hanya diam dalam keheningan. Saya mulai mempersiapkan diri dengan banyak membaca dan banyak berbuat kebaikan, rajin kebaktian dan mendengar sharing Dharma dengan harapan saya bisa lebih cepat bertemu dengan guru.

Sampai pada suatu hari, saya merasa sangat kesal dan tidak dihargai, seseorang tidak mengangkat telepon dari saya dengan berbagai alasan (terlihat dari cctv memang sengaja tidak angkat).

Muncul di pikiran kebaikan-kebaikan yang pernah saya berikan. Semua perasaan muncul ke permukaan, kecewa karena tidak dihargai. Jantung berdebar kencang, badan bergetar karena rasa marah yang makin kuat.

Dalam kondisi tidak nyaman, saya berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Saya duduk diam dan memperhatikan napas masuk dan napas keluar, mulai melihat, mengamati kondisi perasaan yang muncul dan tenggelam, beberapa saat kemudian, napas dan detak jantung saya kembali normal, seiring dengan itu, kesadaran kembali.

Hal yang pertama muncul dalam pikiran adalah kebaikan dan bantuan yang pernah saya lakukan, masih ada keakuan di sana, karena masih mengharapkan balasan kebaikan dan perhatian dari mereka. Kesadaran kedua muncul, bahwa selama ini, dia tidak meminta bantuan saya, saya sendiri (kepo) niat ingin mengembangkan boddhicitta dengan membantu orang lain, malah menimbulkan kemelekatan.

Akhirnya saya melepaskan kemelekatan tentang kebaikan yang pernah saya lakukan dan harapan untuk diperlakukan baik oleh dia, saat itulah saya melihat GURU.

Guru ada di mana-mana, Guru ada di sekitar saya, kadang karena kesombongan dan merasa paling benar, akhirnya kita tidak bertemu dengan guru yang ada di sekitar kita.

Setelah melewati kondisi tidak nyaman, saya melihat hal terjadi itu bukanlah sebagai masalah, tapi sebagai Guru yang membuka pikiran, dan saat melakukan kebaikan jangan pernah berharap balasan.

Apa yang dilakukan saat ini, jangan berharap esok akan mendapatkan kebaikan dan apa yang telah terjadi jangan menyesali masa lalu. Apa yang kita lakukan saat ini, ya.. cukup sampai saat ini saja, jangan dibawa ke masa lalu dan jangan dibawa ke masa depan, LEPASKANLAH!.

SAKYA VIMALA DEVI volunteer dari komunitas mindfulness Jambi

Bertemu Kembali Dengan Diri Sendiri

Bertemu Kembali Dengan Diri Sendiri

Foto bersama setelah olah raga stik bambu.
Christy (barisan pertama nomor 3 dari kiri)

Retret adalah kondisi terbaik untuk latihan dan sebagai pengingat bahwa kita masih mempunyai teman terbaik yang sangat tidak bisa dipisahkan dari kita. Namun teman terbaik itu sering kita lupakan, yaitu “NAPAS”. Dengan merangkul dan bersahabat dengan “NAPAS” saya merasa menemukan kembali diri saya yang mungkin telah hilang karena arus cepatnya ibukota.

Kekuatan Semesta
Hampir 2 tahun saya mulai bertarung dengan ibukota ini. Hampir 2 tahun itu juga saya terakhir mengikuti retret atau sejenisnya. Selama ini saya merasa sangat hampa, saya menjalankan kehidupan saya seperti terombang-ambing dan hanya mengikuti arus dan kadang saya tidak bisa bertahan dengan kondisi tersebut.

Beberapa kali saya sempat putus asa atas tekanan ibukota dan saya pernah sampai ke tingkat depresi awal, pernah rasanya tidak ingin bangun lagi ketika pagi tiba. Kadang kehadiran teman–teman saya membuat saya bisa beranjak dari keterpurukan itu. tapi hanya berlangsung sementara, ketika mereka berada di sekitar saya.

Saya merasa ada sesuatu yang saya lupakan. Tapi di sisi lain, saya yakin itu adalah kekuatan semesta terus menempa diri saya untuk menjadi lebih tangguh dan sampai akhirnya saya dapat kesempatan untuk mengikuti Retret Hidup Berkesadaran lagi. Saya memang menyukai hal–hal seperti retret, karena saya bisa merasakan energi positif dan kenyamanan di sana.

Menyepi
Bertepatan di Hari Raya Nyepi (Day of Silence), MBI Provinsi Banten mengadakan Retret Hidup Berkesadaran di Pondok Sadhana Amitayus. Beruntungnya, saya mendapatkan info tersebut pada waktu yang tepat, akhirnya saya langsung mengajukan diri untuk ikut tanpa berpikir panjang.

Pada saat memasuki kawasan Amitayus saya merasa tenang, damai dan bahagia seolah beban pikiran saya tertinggal entah di mana. Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke tempat ini. Acara dimulai malam hari seperti biasa acara pertama adalah orientasi, kami dijelaskan tentang konsep dasar latihan hidup berkesadaran, yaitu Napas dan Genta.

Kegiatan malam itu ditutup dengan Menyentuh Bumi. Latihan Menyentuh Bumi ini merupakan cara untuk melatih kerendah hatian dan mengingatkan bahwa kita tidak sendiri di semesta ini. Nah, ketika latihan menyentuh bumi ini saya merasa ternyata selama ini saya itu tidak sendirian, saya merupakan bagian dari alam semesta ini dan saya merupakan bagian dari harapan-harapan orang tua saya. Setelah Latihan ini, saya menjadi memiliki motivasi untuk tetap bahagia.

Mendengar Satu Per Satu
Pada pagi hari, kita melakukan meditasi duduk dan mendengarkan sutra “Lima cara memadamkan api kemarahan” Ini bagian favorit saya, Retret sebelumnya saya belum pernah mendengar sutra ini.

Ketika mendengar satu per satu kalimat yang ada di sutra ini, Saya merasa malu, ternyata sangat simple untuk memadamkan api kemarahan tersebut, kita hanya butuh mengubah sudut pandang kita akan kebaikan orang tersebut, walaupun kadang ketika marah kita bakal lupa, tapi itu adalah awal dari latihan mengendalikan amarah.

Sesi mendengarkan wejangan dharma oleh Bhante Nyanabhadra, Bhante mengatakan bahwa kita perlu meluangkan waktu untuk mengecas batin kita dengan mengikuti retret atau DOM (Day of Mindfulness) atau sejenisnya.

Hal yang selalu ditekankan dalam Retret, yaitu Napas dan Genta. Ketika mendengar bunyi genta atau bunyi jam dinding kita berhenti dan kembali menyadari napas. Ini yang terlupakan oleh saya selama kehidupan sehari–hari saya.

Berhentilah
Selama ini, pikiran saya terus merasa tertekan dan berusaha berpikir mencari solusi dari proses yang saya alami (mungkin ini yang disebut gejolak batin). Ternyata solusinya adalah “BERHENTI” dan kembali menyadari napas itu membuat saya jauh lebih relaks dan bisa berpikir lebih jernih.

Ketika melepaskan keruwetan pikiran kita untuk sementara dan merelakskan tubuh kita, itu jauh lebih membahagiakan dan kita lebih bisa berpikir dengan jernih dan bisa melihat dari sudut pandang yang lebih baik akan segala sesuatu yang terjadi.

Keteguhan
Pada sore hari adalah sesi sharing dharma dan kebetulan kelompok saya ditemani oleh Bhante Bhadrakiriya, saya menyampaikan keberuntungan saya bisa mengikuti retret ini, karena rata–rata diikuti oleh orang yang lebih dewasa dari saya, dan saya bisa belajar banyak dari pengalaman yang mereka ceritakan pada sesi ini.

Hal yang saya dapatkan, Di dunia ini bukan hanya saya yang memiliki masalah yang berat, semua orang mengalami hal yang serupa, dan malah masalah mereka jauh lebih berat daripada masalah saya. Tapi mereka memiliki cara yang sangat menginspirasi dalam menghadapinya. “Ketika kita punya pedoman dan keyakinan yang teguh, tidak ada yang bisa menggoyahkan kita sekalipun mendapat masalah sebesar apa pun.” Ini adalah hasil dari sharing kami.

Keheningan
Pada malam hari dilanjutkan dengan sesi Bhante Nyanabhadra. Beliau menceritakan sedikit tentang Shantideva ketika membabarkan Bodhicaryavatara, lalu mengingatkan untuk perbanyak diam (hening), atau berpikir berkali–kali sebelum berbicara. Karena kata–kata yang telah diucapkan tidak dapat ditarik kembali jika kita salah berbicara.

Keesokan harinya, sesi tanya jawab yang didampingi Bhante Nyanagupta. Pada sesi ini Bhante menjelaskan mengenai pertanyaan–pertanyaan dan kesulitan–kesulitan kita selama retret.

Anumodana kepada Bhante Nyanagupta, Bhante Nyanabhadra, dan Bhante Bhadrakiriya atas waktu dan bimbingannya selama Retret Hidup Berkesadaran ini.

CHRISTY berasal dari Padang, aktivis Pemuda Buddhayana (SEKBER PMVBI) yang berkecimpung dalam dunia teknik sipil

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Retret WBI Prov Jambi @WihSakyakirti

Retret Hidup Berkesadaran yang baru dilaksanakan dari tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2017 ini diadakan dalam lingkungan Wihara Sakyakirti Jambi. Lingkungan ini sudah lumrah bagi semua peserta yaitu pengurus Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Jambi.

Peserta hadir pada sore hari, setelah menikmati makan malam, semua peserta mendapat orientasi singkat tentang berbagai latihan pokok yang akan dilakukan bersama-sama beberapa hari ke depan.

Sudut Berbeda
Hari berikutnya, kegiatan demi kegiatan diikuti dengan santai dan relaks. Ada sesi workshop, para peserta diminta untuk menggambar objek gabungan yang disusun secara acak di depan mata, kami dalam posisi duduk melingkar. Beberapa peserta tampak ragu dengan instruksi menggambar sambil bergumam bahwa tidak bisa menggambar.

Beberapa menit telah berlalu, satu persatu peserta mulai menghasilkan gambar proyeksi pikiran masing-masing. Setelah selesai menggambar, setiap peserta secara bergilir mengoper hasil karyanya ke kiri, sampai hasil karyanya kembali lagi kepada dirinya sendiri. Kami melihat bahwa setiap gambar mempunyai hasil yang unik dan berbeda-beda. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa cara kami melihat atau cara pandang kami ternyata berbeda-beda, padahal objek yang digambar adalah sama, hanya melihatnya dari sudut yang berbeda. Ini menjadi renungan sangat berharga bagi semua peserta.

Begitu Indah
Praktik jalan berkesadaran merupakan praktik harian, kami melewati tangga yang sudah sangat sering kami lewati. Namun pada hari itu ada seorang peserta yang berkata, “Jika kita berfoto di tangga ini pasti bagus.”

Saya tersenyum kecil, wah setelah sekian lama baru disadari ternyata tangga yang biasa-biasa ini tiba-tiba menjadi begitu indah, saya sadar karena pikiran kami indah, pikiran kami jernih, sehingga tangga itu tiba-tiba menjadi indah. Ternyata benar adanya kalau keindahan itu ada di mana-mana, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.

Setiap pagi setelah sarapan, kami mempraktikkan meditasi kerja. Pada hari itu, ada peserta yang membersihkan kamar tidur bersama, ketika hendak masuk ke gedung itu mendapati gerbang utamanya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di dalam. Syukur saya mendapat informasi bahwa security memiliki kunci serep.

Setelah saya mendapatkan kunci serep, dalam perjalanan kembali ke tempat peserta yang masih menunggu dibukakannya pintu gedung tersebut, seorang panitia tergesa-gesa menemui saya, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang peserta sedang menangis dan emosinya sedang tidak stabil. Saya menemui peserta tersebut dan merangkulnya untuk membantunya tenang kembali.

Meredakan Emosi
Saya mencoba untuk mempraktikkan mendengar dengan penuh kesabaran. Tampaknya dia cukup emosional, ia menceritakan kepedihan hatinya, menumpahkan air matanya beserta semua gundah di hati. Ia menceritakan bahwa ada seseorang menegur peserta lain dengan kata-kata yang kurang enak didengar. Teguran tersebut terdengar olehnya sehingga ia sedih dan menangis. Padahal yang ditegur adalah orang lain, kok dirinya yang merasa sangat tersinggung dan sedih.

Hati kesal pun tumbuh menjadi besar dalam dirinya, setiap kali bertemu dengan orang yang menegur itu, ia membuang muka tidak mau menatapnya. Pada saat bhante memberikan wejangan Dharma pas sekali berkaitan dengan bagaimana pikiran membesar-besarkan sesuatu sehingga sakit hati kecil bisa menjadi sakit hati besar, sakit hati itu bagaikan panah kedua dan seterusnya yang terus menerus menyakiti diri kita sendiri. Ia merasa bhante sedang menyinggung dirinya, sehingga dia merasa semakin terpojokkan. Ia menduga bahwa ada seseorang telah mengadu kepada bhante sehingga bhante memberikan wejangan Dharma seperti itu. Emosi negatif dirinya tambah besar, apa pun yang muncul dalam dirinya semakin negatif.

Dia menangis dan menangis. Setelah luapan airmata dan emosinya telah tertumpahkan, dia mulai tenang. Baru kemudian saya angkat bicara. Saya mencoba menceritakan sisi positif dari orang yang menegur tersebut, yang mana sisi positif ini yang dia tidak pernah ketahui, yang selama ini dia dengar hanya sisi-sisi negatifnya saja yang sudah seperti sampah yang menumpuk di pikirannya. Semua orang memiliki sisi baik dan kurang baik, namun manusia lebih sering mencatat sisi yang kurang baiknya, lalu melupakan sisi baiknya.

Titik Balik
Sore hari ketika sesi Dharma Sharing, ternyata kasus menegur itu disampaikan oleh salah satu peserta, inilah titik balik yang saya rasakan. Semua yang sharing bisa menggunakan bahasa kasih, tidak menuduh, lalu menceritakan apa yang mereka ingat dan bahkan meminta maaf kalau ucapannya dianggap sebagai teguran, padahal tidak bermaksud menegur. Emosi masing-masing orang telah reda dan pengertian pun lahir dari sana.

Keesokan harinya, masih ada orang yang berkisah tentang insiden itu, namun dia sudah bisa senyum dan tidak terlalu terganggu lagi oleh insiden itu. Saya merasa inilah transformasi yang luar biasa. Ada kalanya kita perlu memberikan izin kepada seseorang menumpahkan air matanya, mengeluarkan isi hatinya yang sudah beku agar air pengertian bisa mengalir kembali. Sekuntum teratai telah tumbuh ketika air mata emosi berubah menjadi pupuk dan air hujan pengertian. Yang awalnya emosi itu dianggap sebagai sampah atau buntang (bangkai), kini telah menjadi pupuk untuk menumbuhkan teratai suci.

Terima kasih kepadamu para sahabat yang telah berlatih bersama-sama, memberikan kami pengalaman yang begitu berharga. Tentunya ini juga berkat bimbingan yang diberikan oleh Bhante Nyanabhadra dan Bhante Bhadraputra selama retret itu.

Semoga kita semua akan tumbuh menjadi kuncup-kuncup teratai yang indah. (elysanty)

Mengatasi Kemarahan

Mengatasi Kemarahan

Sewaktu energi marah dan kekesalan muncul, sebagai praktisi meditasi kita harus segera kembali ke bernapas secara sadar dan melakukan meditasi berjalan, untuk menghasilkan energi keadaan sadar-penuh supaya kita dapat mengenali dan mengatasi kemarahan itu.

Napas masuk, aku tahu ada marah yang sedang berada di dalam diriku
Napas keluar, kuatasi energi marah dalam diriku ini dengan baik

Lanjutkan praktik dengan cara itu untuk memproduksi energi keadaan sadar-penuh, untuk mengenali dan memeluk energi marah itu.

Kita sebaiknya jangan membiarkan energi marah itu membesar sendiri; kita harus mengerahkan energi sadar-penuh untuk datang dan menanganinya. Keadaan sadar-penuh itu mirip seorang ibu yang datang memeluk deritanya sendiri yakni bayinya yang sedang menangis. Bila sang ibu sudah mengangkat si bayi yang nangis itu dan dengan lembut menggendongnya, si bayi sudah mulai merasa nyaman. Bila marah dipeluk oleh keadaan sadar-penuh, dia mulai tenang kembali.

Setiap kali marah muncul, silakan praktikkan cara itu, dan jangan mengatakan atau melakukan apa pun atas situasi yang Anda hadapi. Bayangkanlah Anda sedang berada jauh dari rumah, tengah membereskan suatu urusan di luar, dan Anda baru saja kembali dan menemukan rumah Anda terbakar. Hal pertama yang perlu Anda lakukan bukanlah berlari ke lingkungan sekitar Anda untuk mencari biang keladinya, memarahinya, dan menyeretnya ke pengadilan. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengatasi kebakaran itu sendiri, supaya tidak menghanguskan semuanya. Bila marah sedang mendera Anda, jangan menunduk pada dorongannya untuk mengeluarkan marah dan bertindak. Kembalilah pada pernapasan Anda dan atasi lebih dulu emosi Anda sendiri.

Begitu marah mulai mereda, kita bisa mulai melihat akar masalahnya. Mungkin persepsi keliru yang telah memicunya. Mungkin kita merasa yakin bahwa ada orang yang dengan sengaja telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kita, padahal sebenarnya dia tidak bermaksud demikian. Setelah merenungkannya, kita mungkin dapat mengenali persepsi kita yang keliru, yang akan meredakan marah kita. Bila setelah dua puluh empat jam setelah mempraktikkan itu, kita masih belum menemukan jalan keluar maka kita perlu menyampaikan kepada orang itu apa yang terjadi. Bila kita tidak mampu melakukannya dengan tenang secara langsung, kita dapat menulis pesan. Ada tiga hal yang perlu kita sampaikan:

1. Aku marah kepadamu, dan aku ingin tahu kamu tahu
2. Aku berusaha sebisaku untuk bersabar
3. Bantulah aku.

Begitu selesai menuliskan ketiga kalimat itu saja, meski pesan itu belum dikirim, kemarahan kita sudah sedikit mereda.

Bila kita merasa kesal, kita bertanggung jawab untuk memberitahu orang yang membuat kita kesal itu. Orang itu bisa jadi adalah ayah, ibu, kakak atau abang, anak-anak, teman, kolega, atau rekan kerja kita.

Bila orang itu tahu bahwa kita merasa kesal, dia akan menengok ke belakang dan berpikir, “Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kukatakan yang membuatnya kesal?” Maka ketiga kalimat kita tadi juga bisa berfungsi sebagai undangan bagi orang itu untuk berkesempatan belajar pula. Orang itu akan menghargai dan menghormati Anda karena tidak bertindak gegabah karena marah, seperti yang biasa dilakukan oleh orang lain, dan juga menghargai Anda karena tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang marah, dan Anda berkesempatan untuk kembali ke pernapasan sadar penuh dan merenungkan situasinya.

Kalimat ketiga adalah kalimat yang paling sulit untuk dikatakan atau dituliskan, karena bila kita sedang marah pada seseorang, kita punya kecenderungan untuk menghukum orang itu dengan mengatakan bahwa kita tidak membutuhkannya sama sekali. Alih-alih melakukan itu, kita harus menemukan keberanian untuk meminta bantuan kepadanya. Kita tahu kenyataan yang sebenarnya—kita memang membutuhkannya—dan kita tidak boleh membiarkan kesombongan menghalangi kita melewati situasi-situasi yang sulit.

Maka setiap kali Anda berhasil mengatakan atau menuliskan kalimat ketiga itu, Anda mulai dapat merasakan kekesalan Anda sudah mulai berkurang.

Silakan tulis tiga kalimat itu dalam selembar kertas seukuran kartu kredit dan simpan dalam dompet Anda. Bila Anda sedang marah, dan terutama bila Anda marah pada seorang yang paling Anda cintai, keluarkanlah kertas itu dan bacalah. Kemudian bila Anda masih saja berada dalam cengkeraman marah, Anda akan tahu apa yang ingin Anda lakukan—dan tidak ingin lakukan.

Ribuan orang kini mempraktikkan ini dan, dengan menggunakan praktik ini, mereka sudah berhasil mengatasi berbagai kesulitan. Semoga Anda pun berhasil!

Sutra Lima Cara Memadamkan Api Kemarahan

Sutra Lima Cara Memadamkan Api Kemarahan

Suatu ketika aku mendengar kata-kata ini dari Buddha ketika Beliau sedang menetap di Wihara Anathapindika, di Hutan Jeta daerah Shrawasti.

Suatu hari Bhante Shariputra berkata kepada para biksu, “Sahabatku, hari ini saya ingin menyampaikan kepada Anda semua tentang lima cara memadamkan api kemarahan. Mohon dengarkan dan praktikkanlah dengan sepenuh hati.”

Para biksu menjawab iya dan mendengarkan dengan sepenuh hati.

Bhante Shariputra lalu berkata, “Apakah lima cara memadamkan api kemarahan itu?”

“Cara pertama. Sahabatku yang bijaksana, jika ada seseorang yang tindakannya tak baik namun ucapannya baik, jika kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana cara memeditasikannya agar dapat mengakhiri kemarahanmu”

“Sahabatku, seandainya ada seorang biksu yang mempraktikkan pertapaan yang hanya memakai jubah sederhana yang ditambal sulam. Suatu hari ia bepergian keluar dan melihat ada sebuah wadah penuh sampah berisi tinja, urin, lendir, dan banyak kotoran lain, dan dia melihat di situ ada sehelai kain yang masih utuh. Dengan menggunakan tangan kirinya, dia mengambil sehelai kain itu, dan kemudian dengan menggunakan tangan kanan ia memegang dan merentangkannya. Ia mengamati bahwa potongan kain itu tidak robek dan tidak ternoda oleh tinja, urin, lendir, atau kotoran-kotoran lainnya. Jadi, ia melipat dan menyimpannya untuk dibawa pulang, dicuci, dan menjahitnya menjadi bagian dari jubah luarnya. Sahabat-sahabatku, jika kita bisa bersikap bijaksana, ketika seseorang yang tindakannya tak baik tetapi ucapannya baik, kita seharusnya tidak menaruh perhatian pada tindakannya tetapi hanya memperhatikan ucapannya. Hal ini akan membantu memadamkan api kemarahan.

“Sahabatku yang bijaksana, inilah cara kedua. Jika kamu terpancing marah oleh seseorang yang ucapannya tak baik tetapi tindakannya baik, maka kamu akan mengetahui bagaimana memeditasikannya agar dapat mengakhiri kemarahanmu.

“Sahabatku, andaikan saja tidak jauh dari desa ini ada sebuah danau yang dalam dan permukaannya tertutup alga dan rumput. Ada seseorang yang kehausan, menderita kepanasan, datang mendekati danau tersebut. Dia menanggalkan pakaiannya, melompat ke dalam danau itu dan menggunakan tangannya untuk menyingkirkan alga dan rumput, menikmati mandi sembari meminum air segar. Demikian juga, sahabatku, sama halnya dengan seseorang yang ucapannya tak baik tetapi tindakannya baik. Jangan menaruh perhatian pada ucapannya. Tetapi menaruh perhatian pada tindakannya yang baik akan bisa memadamkan api kemarahanmu. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Ini adalah cara ketiga, sahabatku yang bijaksana. Jika ada seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik tetapi dia masih memiliki sedikit kebaikan di hatinya seandainya kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana memeditasikannya untuk mengakhiri kemarahanmu.

“Sahabatku, seandainya ada seseorang tiba di persimpangan jalan. Dia lemah, kehausan, miskin, kepanasan, tertekan, dan dipenuhi dengan penderitaan. Ketika dia tiba di persimpangan, dia melihat jejak kaki seekor banteng dengan sedikit genangan air hujan di dalamnya. Dia berpikir, “Ada secuil air di dalam jejak kaki banteng. Jika aku menggunakan tanganku atau daun untuk menciduk air itu, aku bisa saja dengan tidak sengaja mengaduk air tersebut, maka air itu akan keruh dan tidak dapat diminum lagi. Oleh sebab itu, aku harus berlutut dan merebahkan tangan di atas tanah, menyentuhkan bibir ke air itu dan langsung meminumnya. Seketika itu dia melakukannya. Sahabatku, ketika kamu melihat seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik, tetapi masih ada sedikit kebaikan hati, jangan menaruh perhatian pada tindakan dan ucapannya, tetapi perhatikanlah kebaikan yang sedikit itu sehingga kamu bisa memadamkan api kemarahanmu. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Ini adalah cara keempat, Sahabatku yang bijaksana. Jika ada seseorang yang tindakan dan ucapannya tidak baik, juga di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, kamu marah kepadanya, apabila kamu cukup bijaksana, maka kamu akan tahu bagaimana memeditasikannya untuk memadamkan api kemarahanmu.

“Sahabatku, andaikan ada seseorang jatuh sakit dalam perjalanan. Dia sendirian, kelelahan, dan tidak ada desa di sekitarnya. Dia akan putus asa, mengetahui dia akan segera mati sebelum dapat menuntaskan perjalanannya. Jika saat itu, ada seseorang datang dari jauh dan melihat keadaan laki-laki tersebut, dia segera memapahnya dan membimbingnya menuju desa terdekat, di mana dia dapat merawat, mengobati, dan memastikan bahwa dia mendapatkan segala hal yang dibutuhkan, dari pakaian, obat-obatan, dan makanan. Berkat belas kasih dan welas asih, hidup laki-laki tersebut terselamatkan. Jadi Sahabatku, ketika engkau melihat seseorang yang ucapan dan tindakannya tidak baik, dan di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, munculkan pikiran: ‘Seseorang yang ucapan dan tindakannya tidak baik dan di dalam hatinya tidak ada kebaikan walaupun hanya sedikit, sesungguhnya dia adalah orang yang benar-benar menderita. Kecuali ia bertemu sahabat spiritual yang baik, jika tidak, maka tak ada kesempatan baginya untuk bertransformasi dan merealisasikan kebahagiaan.’ Membangkitkan pola pikiran demikian, engkau akan mampu membuka pintu hatimu dengan cinta dan belas kasih terhadap orang tersebut. Engkau akan mampu memadamkan api kemarahanmu dan menolongnya. Orang bijak seharusnya mempraktikkan cara ini.

“Sahabatku yang bijaksana, inilah cara kelima. Jika ada seseorang yang tindakan, ucapan, dan pikirannya baik, lalu kamu marah kepadanya, maka kamu akan tahu bagaimana cara memeditasikannya untuk memadamkan api kemarahanmu.

“Sahabatku, seandainya tidak jauh dari desa ada sebuah danau yang sangat indah. Air di danau tersebut sangat jernih dan manis, dasar danau itu datar, pinggiran danau banyak tumbuh rumput hijau, dan di sekeliling pohon-pohon segar dan indah menaunginya. Seseorang yang kehausan, menderita karena kepanasan, yang tubuhnya penuh dengan peluh, datang ke danau tersebut, menanggalkan pakaiannya lalu melompat ke air, dan ia merasakan kenyamanan dan menikmati minum dan mandi di air jernih. Panas, haus, dan derita tiba-tiba lenyap. Sama halnya, sahabatku, ketika engkau melihat seseorang yang tindakan, ucapan, dan pikirannya baik, berikan perhatianmu terhadap semua kebaikan tubuh, ucapan, dan pikiran, dan jangan biarkan kemarahan dan keirihatian menyelimutimu. Jika engkau tidak tahu bagaimana hidup bahagia dengan seseorang yang segar seperti yang dijelaskan di atas, engkau tidak patut disebut orang bijaksana.

“Sahabatku terkasih, saya telah menyampaikan tentang lima cara memadamkan api kemarahan.”
Ketika para biksu selesai mendengar nasihat Bhante Shariputra, mereka berbahagia, menerimanya, dan mempraktikkannya.

Madhyama Agama 25
Sesuai dengan Aghata Winaya Sutta
[Ceramah Tentang Air Sebagai Contoh], Anguttara Nikaya 5.162