Gatha untuk Berlatih

Gatha untuk Berlatih

“Gatha” adalah syair pendek untuk dilafalkan dalam hati saat melakukan aktivitas sehari-hari. Menghafal puisi-puisi ini dapat membantu kita menumbuhkan energi kesadaran penuh (mindfulness) dan hadir di saat ini, apa pun yang sedang kita lakukan. Ketika kita dapat menyentuh saat ini secara mendalam, kita dapat menyentuh dimensi tertinggi.

Thich Nhat Hanh menyarankan agar kita menarik napas masuk dengan penuh kesadaran pada baris pertama setiap syair, dan mengembuskan napas keluar dengan penuh kesadaran pada baris kedua; menarik napas masuk pada baris ketiga dan mengembuskan napas keluar pada baris keempat. Anda juga bisa melakukannya sambil tersenyum.


Bangun Pagi

Bangun di pagi hari ini, aku tersenyum
Dua puluh empat jam baru tersedia untukku
Aku bertekad untuk hidup sepenuhnya di setiap momen
dan menatap semua makhluk dengan mata penuh welas asih.


Mengambil Langkah Pertama Hari Ini

Berjalan di Bumi
adalah keajaiban!
Setiap langkah penuh perhatian
memperlihatkan Dharmakaya yang menakjubkan


Melangkah dari Tempat Tidur

Jika hari ini aku tidak sengaja
menginjak serangga kecil,
semoga ia tidak terlalu menderita.
Semoga ia terbebaskan.
Penghormatan kepada Bodhisattva dari
Tanah Kebahagiaan yang Agung.


Membuka Jendela

Membuka jendela, aku melihat keluar ke Dharmakaya.
Betapa menakjubkannya hidup ini!
Penuh perhatian setiap saat,
pikiranku jernih seperti sungai yang tenang.


Menyalakan Air

Air datang dari sumber pegunungan yang tinggi.
Air mengalir jauh ke dalam Bumi.
Secaa ajaib, air datang kepada kita dan
menopang semua kehidupan.
Rasa syukurku penuh hingga meluap


Mencuci Tangan Anda

Air mengalir di tangan ini.
Semoga aku menggunakannya
dengan sebaik mungkin
untuk melestarikan
planet kita yang berharga ini.


Menggosok Gigi

Menggosok gigi dan berkumur,
Aku bertekad untuk berbicara
dengan murni dan penuh kasih.
Ketika mulutku harum akan ucapan benar,
sekuntum bunga mekar di taman hatiku


Membilas Mulut

Membilas mulutku, hatiku dibersihkan.
Alam semesta diharumkan oleh wangi bunga.
Tindakan tubuh, ucapan, dan pikiran menjadi tenang.
Bergandengan tangan dengan Buddha, aku berjalan di Tanah Suci.


Menggunakan Toilet

Bernoda atau tak bernoda,
bertambah atau berkurang –
konsep-konsep ini hanya ada dalam pikiran kita.
Realitas interbeing tak tertandingi.


Membasuh Diri (Mandi)

Tidak dilahirkan juga tidak hancur,

melampaui ruang dan waktu –

transmisi juga warisan

ada di dalam hakikat Dharmadhatu menakjubkan.


Bercermin

Kesadaran adalah cermin

memantulkan keempat elemen.

Kecantikan adalah hati penuh cinta kasih

dan pikiran terbuka.


Membasuh Kaki

Kedamaian dan kegembiraan

dari satu jari kaki

adalah kedamaian dan kegembiraan

untuk seluruh tubuhku.


Memasuki Aula Meditasi

Memasuki aula meditasi,

Aku melihat diri sejatiku.

Ketika aku duduk,

Aku bertekad memutuskan semua gangguan.


Menyalakan Lilin

Menyalakan lilin ini,

Memberikan cahaya kepada Buddha yang tak terhitung jumlahnya,

kedamaian dan kegembiraan yang aku rasakan

menerangi bumi ini.


Duduk

Duduk di sini

seperti duduk di bawah pohon Bodhi.

Tubuhku adalah kesadaran penuh itu sendiri,

bebas dari segala gangguan.


Menemukan Postur yang Stabil

Dalam postur duduk teratai,

bunga manusia mekar.

Bunga udumbara* ada di sini,

memberikan aroma wewangian.

*bunga udumbara mekar hanya sekali setiap tiga ribu tahun. Tapi itu bisa berkembang dalam diri kita kapan saja, ketika latihannya stabil.


Menenangkan Napas

Bernapas masuk, aku menenangkan tubuhku.

Bernapas keluar, aku tersenyum.

Berdiam di saat ini,

Aku tahu ini saat yang menakjubkan!


Menyesuaikan Postur

Perasaan datang dan pergi

seperti awan di langit yang berangin.

Bernapas dengan penuh kesadaran

menjadi jangkarku.


Memberi Salam

Sekuntum teratai untukmu

seorang calon Buddha.


Memegang Mangkuk Kosong

Melihat mangkuk ini,

Aku sadar betapa beruntungnya diriku

yang memiliki cukup makanan untuk melanjutkan latihan.


Menyiapkan Makanan

Dalam makanan ini,

Aku melihat dengan jelas

seluruh alam semesta

mendukung keberadaan diriku.


Sebelum makan

Seluruh makhluk di Bumi

sedang berjuang untuk hidup.

Aku beraspirasi untuk berlatih secara mendalam

Agar semua makhluk memiliki cukup makanan.


Ketika Mulai Makan

Sendok pertama, aku mempersembahkan kegembiraan.

Sendok kedua, aku membantu meringankan penderitaan orang lain.

Sendok ketiga, aku melihat kegembiraan orang lain sebagai kegembiraanku.

Sendok keempat, aku belajar cara melepaskan.


Menatap Piring atau Mangkuk Setelah Selesai Makan

Makan telah selesai,

dan aku puas.

Empat rasa syukur*

tumbuh dalam hatiku

*Empat syukur- terima kasih kepada orang tua, guru, teman dan semua makhluk.


Ketidakekalan

Hari ini telah berakhir dan hidup kita telah berkurang satu hari.

Mari kita renungkan apa yang telah kita lakukan.

Mari kita berlatih dengan rajin, bersungguh-sungguh dalam meditasi.

Mari kita hidup menghargai setiap momen dengan kebebasan,

sehingga waktu tidak berlalu sia-sia begitu saja.


Tersenyum pada Kemarahanmu

Bernapas masuk, aku tahu bahwa kemarahan membuatku jelek.

Bernapas keluar, aku tersenyum.

Aku hadir bersama napasku

sehingga aku tidak terhanyut dalam kemarahan.


Menyalakan Komputer

Menyalakan komputer,

pikiranku terhubungkan dengan kesadaran gudang*.

Aku bertekad mengubah energi kebiasaan

untuk menumbuhkan cinta kasih dan pengertian.

* Gudang penyimpanan mengacu pada alayavijñana, kesadaran di mana semua potensi benih disimpan.


Mengendarai Mobil

Sebelum menstarter mobil

Aku tahu ke mana aku akan pergi.

Aku dan mobil adalah satu kesatuan.

Jika mobil melaju kencang, aku melaju kencang.


Melakukan Perjalanan Singkat dengan Aman

Dua pertiga dari kecelakaan

terjadi di dekat rumah.

Mengetahui hal ini, aku berhati-hati

Bahkan dalam perjalanan singkat.


Minum Teh

Secangkir teh dalam kedua tanganku ini,

Perhatian penuh terjaga dengan sempurna.

Pikiran dan tubuhku berdiam

di sini dan saat ini.


Menyiram Tanaman

Jangan kira engkau dipasung, wahai tanaman.

Air ini datang kepadamu dari bumi dan langit.

engkau dan aku pernah bersama

sejak waktu tanpa awal.


Melihat Tanganku

Tangan siapakah ini

yang tidak pernah mati?

Adakah yang pernah lahir?

Apakah ada yang akan mati?


Menggunakan Telepon

Kata-kata dapat tersebar jauh ribuan kilometer.

Semoga kata-kataku menciptakan saling pengertian dan cinta kasih.

Semoga kata-kataku indah bagaikan permata,

menawan bagaikan bunga.


Menyirami Taman

Sinar matahari dan air

telah menyuburkan tanaman ini.

Hujan kasih sayang dan pengertian

dapat mengubah gurun pasir kering menjadi dataran subur luas.


Meditasi Berjalan

Pikiran dapat menjelajah ke seribu arah,

namun di jalan indah ini, aku berjalan dengan damai.

Setiap langkah, angin sejuk bertiup.

Setiap langkah, bunga bermekaran.


Menyalakan Lampu

Kealpaan adalah kegelapan,

Perhatian penuh adalah cahaya.

Aku membawa kewaspadaan

untuk menyinari semua kehidupan.


Mencuci Sayuran

Dalam sayuran ini,

Aku melihat matahari hijau.

Semua dharma berkumpul bersama

menghadirkan kehidupan.


Berkebun

Bumi memberi kita kehidupan dan menutrisi kita.

Bumi membawa kita kembali lagi.

Kita lahir dan mati melalui setiap napas.


Menanam Pohon

Aku mempercayakan diriku kepada Bumi;

Bumi mempercayakan dirinya kepadaku.

Aku mempercayakan diriku kepada Buddha;

Buddha mempercayakan diri-Nya kepadaku.


Membersihkan Kamar Mandi

Betapa indahnya

menggosok dan membersihkan.

Hari demi hari,

hati dan pikiranku menjadi lebih jernih.


Menyapu

Menyapu lahan pencerahan

dengan hati-hati,

pohon pemahaman

tumbuh dari Bumi.


Membersihkan Aula Meditasi

Saat aku membersihkan ruangan yang segar dan tenang ini,

suka cita dan energi tak terbatas muncul!


Membuang Sampah

Dalam sampah, aku melihat mawar.

Dalam mawar, aku melihat kompos.

Semua sedang bertransformasi.

Ketidakkekalan itulah kehidupan.


Memotong Bunga

Bolehkah aku memotongmu, bunga kecil,

hadiah dari bumi dan langit?

Terima kasih, wahai bodhisattwa terkasih,

karena membuat hidup ini begitu indah.


Merangkai bunga

Merangkai bunga-bunga ini

di dunia fana* ini,

dasar dari pikiranku

menjadi tenang dan murni.

*Dunia fana adalah “dunia penuh debu”, kita perlu melatih kesabaran.


Mengganti Air dalam Vas

Air membuat bunga tetap segar.

Bunga dan aku adalah satu kesatuan.

Saat bunga bernapas, aku bernapas.

Saat bunga tersenyum, aku tersenyum.


Informasi Workshop Inner Child

Informasi Workshop Inner Child

The cry we hear from deep in our  hearts,  comes from the wounded child within.  Healing this inner  child’s pain is the key healing to transforming anger,  sadness, and fear. “

Thich Nhat Hanh


Workshop Inner Child adalah workshop untuk melatih pendalaman mindfulness terhadap batin (berdasarkan sutra Satipatana, Majjhima Nikāya 10).

Workshop ini bukanlah bertujuan sebagai sesi psikoterapi, pengobatan trauma ataupun penyembuhan gangguan kejiwaan lainnya. Peserta perlu memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kestabilan mental dan batin. Peserta yang sedang menghadapi masalah berat di saat ini tidak disarankan untuk berpartisipasi.

Workshop ini terdiri dari 4 sesi :

Persyaratan untuk mengikuti workshop ini:

  1. Sudah pernah mengikuti retreat/DOM/NOM dalam tradisi Plumvillage
  2. Benar-benar membuka diri untuk berlatih berdasarkan tradisi Plumvillage
  3. Menginvestasikan waktu untuk melakukan PR yg akan diberikan di kelas ini: Total Relaxation, Sitting Meditation, Eating Meditation.
  4. Komitmen mengikuti 4 sesi kelas.
  5. Usia min. 18 tahun
  6. Dana kontribusi Rp 50.000,- sebagai tanda komitmen untuk mengikuti workshop ini, yang akan didanakan kepada monastik yang membimbing.
  7. Wajib memiliki dan membaca buku “Reconciliation” ditulis oleh Thich Nhat Hanh sebelum mengikuti sesi pertama:

INFORMASI PENDAFTARAN


FORM PENDAFTARAN

Pendaftaran saat ini ditutup. Terima kasih telah berupaya untuk mendaftar. Silakan mengikuti sesi Inner Child berikutnya di kemudian hari.


Pameran Kaligrafi dan Buku: Aroma Wangi Ibu Pertiwi

Pameran Kaligrafi dan Buku: Aroma Wangi Ibu Pertiwi
Para monastik melantunkan mantra “Namo Avalokitesvaraya” pada sesi pembukaan pameran “Aroma Wangi Ibu Pertiwi”

Koleksi kaligrafi dan buku karya Master Zen Thich Nhat Hanh bertajuk “Aroma Wangi Ibu Pertiwi” baru pertama kali dipamerkan di Kota Ho Chi Minh, Vietnam

Pameran Kaligrafi & Buku “Aroma Wangi Ibu Pertiwi”

Pameran ini dibuka pada tanggal 27 Maret 2021 di Toko Buku Hai An (2B Nguyen THi Minh Khai, Distrik 1, Kota Ho Chi Minh). Selamat seminggu, public bisa menikmati ratusan goresan kaligrafi dari Master Zen Thich Nhat Hanh.

Selain kaligfrafi, pameran ini juga menampilkan ratusan judul buku berbahasa Vietnam oleh sang Master Zen. Semua kaligrafi dan buku tertata rapi, didekorasi dengan nuansa kesederhanaan Zen, meditatif, elegan, dan menyejukkan.

Salah satu sudut pameran kaligrafi dan buku

Aroma Wangi Ibu Pertiwi mempersembahkan wewangian kepada tanah kelahiran sang master zen yaitu Vietnam. Energi cinta kasih juga dikirimkan kepada Ibunda Bumi kita, sang planet Bumi yang hijau ini.

Pameran ini memili banyak raung aktivitas buat para pengunjung untuk menikmati meditasi teh (tea meditation), mendengarkan ajaran Zen, berpartisipasi dalam praktik meditasi yang dipandu oleh Guru Dharma (Dharma Teachers) dari tradisi Zen Plum Village.

Pengunjung menikmati kaligrafi

Master Zen Thich Nhat Hanh pernah menyampaikan, “Dalam kaligrafi saya ada tinta, ada teh, ada napas, ada perhatian, dan juga konsentrasi. Menulis kaligrafi juga sebuah praktik meditasi. Saya menulis kata-kata atau kalimat yang dapat membantu setiap orang untuk mengingat praktik hidup berkesadaran (Mindful living).”

Tampaknya kekuatan meditasi dan perhatian penuh kesadaranlah yang membuat kaligrafi karya Master Zen Thich Nhat Hanh menarik perhatian khususnya dunia seniman, peneliti, aktivis, dan praktisi meditasi.

Kaligrafi karya Master Zen Thich Nhat Hanh merupakan perpaduan dari seni, budaya, dan gaya hidup berkesaran (mindful living)

Pameran demikian juga pernah diadakan di beberapa negara yang juga mendapat sambutan hangat. Masyarakat setempat sangat menikmati karya-karya master zen yang sarat dengan nuasa zen.

Menyaksikan karya kaligrafi Master Zen dipamerkan di Vietnam untuk pertama kalinya, Nguyen Xuan Hong sangat terkesima, “Saya sangat senang bahwa karya Master Zen Thich Nhat Hanh diperkenalkan kepada publik melalui pameran ini.

Bagi saya, setiap kaligrafi adalah kitab suci, seolah-olah sedang membaca kitab suci yang menumbuhkan cinta kasih, welas asih, kesabaran, perhatian kesadaran pada saat bersamaan menuju kehidupan lebih damai dan tenteram”, pungkas Nguyen Xuan Hong.

Bagi banyak pengunjung, karya kaligrafi sang master zen bagaikan kitab suci yang memberikan makna sangat mendalam

Vo Thi Kim Phuong yang merupakan murid awam Master Zen sejak lama menyatakan, “Kata-kata dalam kaligrafi sudah pernah saya baca, namun ketika saya membaca ulang kata-kata kaligrafi dalam pameran ini, saya terkejut, ada pencerahan baru, ada kedamaian luar biasa lahir dalam hatiku. Apalagi ditunjang dengan penataan dan dekorasi yang sangat menawan.

Berbeda lagi dengan Nguyen Quang Tiep, salah satu pengunjung pameran, “Saya juga mulai belajar gaya hidup berkesadaran ala Master Zen Thich Nhat Hanh. Melihat satu demi satu kaligrafinya membuat saya sangat menghargai setiap upaya dalam menulis kaligrafi itu. Senang rasanya bisa meluangkan waktu menikmati kaligrafi apalagi dalam kehidupan modern yang sangat hektik ini. Saya menemukan makna hidup baru melalui menyaksikan kaligrafi dengan penuh perhatian.

Kiri: “Kebahagiaan putra-putri merupakan persembahan paling berharga bagi kedua orangtua”
kanan: “Kebahagiaan kedua orang tua merupakan warisan paling berharga bagi putra-putrinya”

Dua kaligrafi dalam Bahasa Vietnam ini sangat disukai oleh Nguyen Quang Tiep, “Kebahagiaan putra-putri merupakan persembahan paling berharga bagi kedua orangtua”, kemudian “Kebahagiaan kedua orang tua merupakan warisan paling berharga bagi putra-putrinya.”


Sumber berita: tuoitre.vn foto oleh HỮU HẠNH
Sumber foto lainnya: giacngo.vn

Pengantar Meditasi Duduk Dipandu

Pengantar Meditasi Duduk Dipandu
The Blooming of a Lotus – Parallax Press

Meditasi dapat dilakukan hampir di mana saja — ketika sedang duduk, berjalan, berbaring, berdiri, bahkan saat sedang bekerja, minum, dan makan. Meditasi duduk (sitting meditation) hanyalah bentuk meditasi yang paling dikenal, dan satu-satunya yang kita rasa paling istimewa untuk menikmatinya, tetapi, sebenarnya ada banyak bentuk meditasi lain yang bisa dipelajari. Selama dua puluh lima tahun belakangan ini, ribuan pengunjung telah datang ke Plum Village untuk berlatih meditasi. Dari waktu ke waktu, mereka telah ditawarkan latihan dipandu selama sesi meditasi duduk. Awalnya, mereka merasa tidak nyaman dengan panduan itu, karena terbiasa meditasi duduk hening, namun berkat Latihan itu, mereka dapat merasakan banyak manfaat dari “meditasi dipandu” (guided meditation) dan oleh karena itu mereka mengalami transformasi pada tingkat yang paling fundamental. Selama bertahun-tahun, murid-murid meditasi dari banyak belahan dunia meminta saya untuk menjadikan latihan ini agar tersedia untuk banyak kalangan.

Pokok Pembahasan dari Meditasi Dipandu

Meditasi dipandu dalam buku ini memiliki tujuan berbeda-beda. Beberapa latihan memunculkan kegembiraan di dalam diri kita; yang lain memungkinkan kita menemukan sifat sejati diri, membantu kita menyembuhkan, memancarkan sinar kesadaran ke dalam diri sendiri, atau membebaskan kita dari emosi yang menyakitkan. Ada latihan tertentu memiliki beberapa tujuan. Latihan yang menyehatkan dan menyegarkan tubuh dan pikiran harus sering dilakukan. Latihan ini bisa disebut sebagai makanan kegembiraan atau food of joy. (Dalam aliran dhyana, ada ungkapan “meditasi sebagai makanan kegembiraan”, yang artinya bahwa perasaan gembira yang muncul dari praktik meditasi menutrisi dan menopang kita. Dalam upacara persembahan nasi di tengah hari, kita mengucapkan, “Menerima makanan ini, kami berdoa agar semuanya akan terawat oleh kegembiraan dari praktik bermeditasi dan kegembiraan Dharma itu akan membawa mereka pada realisasi kebenaran sepenuhnya.”)

Latihan satu sampai empat sangat cocok untuk tujuan itu. Latihan semacam itu menghubungkan kita dengan elemen yang menyegarkan dan menyehatkan, baik dengan diri kita maupun dunia sekitar. Latihan-latihan itu membantu kita mengakhiri pikiran mengembara (distraksi pikiran), membawa kita kembali ke saat ini, kembali ke tempat yang mana kita dapat mengenali kebersatuan tubuh dan pikiran. Meskipun Latihan itu disebut latihan penutrisi (nourishment exercises), Latihan itu juga mengembalikan keseimbangan internal, memungkinkan tubuh dan juga pikiran untuk memulai terjadinya penyembuhan. Latihan lainnya membantu kita memperbarui relasi kita dengan diri sendiri, tubuh, dan pikiran, juga relasi kita dengan dunia pada umumnya, dengan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, kita belajar mengatasi perasaan bahwa kita ini terpisah, kesepian, dan terisolasi lalu mulai melihat ada cara baru untuk masuk juga menjadi bagian dari dunia ini. Beberapa latihan membantu kita menjadi diri yang seutuhnya, dan beberapa latihan lainnya lagi membantu kita belajar untuk melepaskan. Seorang praktisi dapat menilai sendiri melalui pengalaman pribadinya, menentukan latihan mana yang paling sesuai untuk kebutuhan dirinya dan latihan seperti apa yang sesuai dengan kondisi ligkungan yang sedang mereka hadapi.

Pemandu Meditasi

Mereka yang dipilih untuk memandu latihan meditasi duduk harus berpengalaman dalam latihan meditasi; artinya, mereka sendiri seharusnya telah merasakan langsung transformasi batin. Mereka seharusnya tahu bagaimana mengundang[1] lonceng pada saat meditasi, dia perlu melakukannya dengan penuh keyakinan dan tidak tergesa-gesa, sehingga suara lonceng yang terdengar mencerminkan dan memberikan nuansa pikiran yang stabil dan tenang. Suara pemandu seharusnya tidak terlalu keras atau terlalu lembut. Ia harus dapat menginspirasi dan pada saat bersamaan juga menenangkan. Pemandu meditasi duduk wajib peka terhadap kebutuhan peserta. Seperti halnya dokter harus memilih obat yang paling cocok terhadap pasiennya, pemandu harus menentukan latihan yang paling sesuai untuk komunitas pesertanya. Materi pokok dari meditasi dipandu dan durasi waktunya yang dialokasikan untuk itu harus berdasarkan pemahaman ini. Jika peserta mengalami kegembiraan dan kemudahan pada setiap sesi meditasi dipandu, maka pemandu tersebut dapat dikatakan berhasil dalam tugasnya.

[1] Kita tidak pernah mengatakan “memukul” lonceng karena bagi kita lonceng adalah teman yang bisa membangunkan kita dengan pengertian penuh. Kita mengatakan “mengundang” lonceng, artinya mengundang mengundang untuk berbunyi.

Cara Terbaik untuk Berlatih

Sebelum berlatih salah satu dari latihan dalam panduan ini, penting untuk memahami tujuannya terlebih dahulu. Biasanya, pemandu meditasi akan mengambil waktu lima hingga tujuh menit pada awal sesi untuk menjelaskan tentang latihan. Dalam buku ini, Anda akan menemukan pedoman dasar sebelum setiap latihan. Latihan yang sama bisa dipraktikkan selama beberapa periode meditasi. Setelah sesi latihan dipandu, pemandu meditasi harus siap mendengarkan reaksi para peserta, sehingga pada sesi berikutnya, meditasi dapat lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Praktisi harus diberikan cukup waktu untuk memahami setiap tahapan meditasi. Misalnya, napas masuk selalu diiringi dengan gambaran (image), dan napas keluar juga ada gambaran lainnya, berkaitan dengan gambaran sebelumnya. Menggunakan gambaran untuk bermeditasi itu lebih mudah dan berguna daripada menggunakan ide abstrak. Panduan ini harus mengizinkan sebanyak sepuluh hingga dua belas napas, atau bahkan lebih, agar peserta meditasi dapat memfokuskan diri. Sesungguhnya, setiap sesi harus dimulai dengan beberapa menit bernapas sadar penuh sehingga peserta dapat menenangkan pikiran dan membuka diri terhadap kegembiraan bermeditasi. Lonceng tidak boleh diundang dengan suara penuh, jangan sampai para praktisi terkejut. Pemandu cukup membangunkan lonceng [2] sebelum melanjutkan ke tahap latihan selanjutnya. Suara pemandu harus mencerminkan suasana dan gambaran sesuai dengan apa yang sedang difokuskan oleh para peserta. Hal ini membutuhkan Latihan tambahan, dan semua peserta perlu mencoba menjadi pemandu agar suatu hari nanti mereka dapat membantu orang lain.

[2] Untuk membangunkan lonceng berarti menyentuhnya dengan kuat dengan inviter dan tidak menjauhkan inviter. Ini akan meredam suara. Sebuah suara “membangunkan lonceng” selalu diikuti dengan napas masuk dan napas keluar dan kemudian suara penuh bisa dilakukan. Membuat suara penuh ini disebut mengundang lonceng.

Bernapas dan Melihat Secara Mendalam

Bernapas dan mengetahui bahwa kita sedang bernapas adalah praktik dasar. Tidak ada yang bisa benar-benar berhasil di seni bermeditasi tanpa melalui pintu pernapasan. Mempraktikkan pernapasan sadar sepenuhnya adalah untuk membuka pintu untuk berhenti (stopping) dan melihat secara mendalam (looking deeply) untuk memasuki area konsentrasi dan wawasan (insight). Guru meditasi Tang Hoi, pemimpin pertama sekolah dhyana di Vietnam (abad ketiga Masehi), mengatakan bahwa “Anapananusmriti (menyadari pernapasan) adalah kendaraan besar yang diajarkan oleh para Buddha kepada makhluk hidup.” (dari pengantar Sutta Anapananusmriti). Bernapas sadar sepenuhnya adalah jalan menuju konsentrasi meditasi apa pun. Bernapas dengan penuh kesadaran juga menuntun kita menuju realisasi dasar dari ketidakkekalan (anicca, 無常), kekosongan (sunyata, 空), kemunculan yang saling bergantung (paṭiccasamuppāda, 緣起), ketidakegoisan (anatta, 無我), dan non-dualitas (advaita, 不二) dari semua fenomena apa adanya. Memang benar kita bisa berlatih berhenti dan melihat secara mendalam tanpa menggunakan pernapasan sadar penuh, tetapi pernapasan sadar penuh adalah jalur teraman dan kepastiannya terjamin yang bisa kita ikuti. Jadi semua latihan yang disajikan di sini menggunakan alat bantu pernapasan sadar sepenuhnya. Napas membawa image, dan image membuka pintu yang tertutup oleh persepsi keliru kita.

“Anda hanya perlu duduk.”

Saat berlatih meditasi duduk, Anda perlu merasa benar-benar nyaman. Setiap otot di tubuh Anda dikendorkan sampai relaks, termasuk otot-otot di wajah. Cara terbaik untuk mengendurkan otot-otot di tubuh adalah dengan tersenyum lembut saat bernapas. Anda harus menjaga kolom tulang belakang Anda tegak lurus, tetapi tubuh jangan kaku. Posisi ini akan membuat Anda relaks, dan Anda dapat menikmati perasaan nyaman. Jangan berusaha terlalu keras, jangan bergumul, jangan melawan. Lepaskan semuanya saat Anda duduk. Ini mencegah sakit punggung, sakit bahu, atau sakit kepala. Jika Anda dapat menemukan bantal yang cocok dengan tubuh, Anda dapat duduk untuk waktu yang lama tanpa merasa lelah.

Ada orang mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat mereka duduk. Mereka telah diajarkan bagaiman postur meditasi yang benar namun mereka masih belum mengerti bagaimana bernapas dengan ringan dan teratur. Latihan yang disediakan di sini akan membantu mereka menyadari kesatuan (manunggal) tubuh dan pikiran. Setidaknya, mereka akan mengetahui bahwa memungkinkan untuk melakukan “sesuatu” ketika duduk.

“Anda hanya perlu duduk” adalah nasihat dari meditasi Tao Dong (Tradisi Zen Soto). Itu artinya Anda harus duduk tanpa menunggu sebuah keajaiban — dan itu termasuk keajaiban akan pencerahan. Jika Anda duduk kemudian selalu berharap sesuatu, Anda tidak dapat berkontak dengan atau menikmati saat ini, yang selalu mengandung seluruh kehidupan. Duduk dalam konteks ini berarti duduk dengan cara yang tersadarkan, dengan cara yang santai, berbekal pikiran Anda yang terjaga, tenang, dan jernih. Hanya ini yang bisa disebut duduk, dan ini membutuhkan latihan dan praktik.

Reaksi Kurang Bermanfaat atas Meditasi Dipandu

Ada orang merasa suara lonceng dan kalimat yang diucapkan oleh pemandu dalam sesi meditasi duduk itu mengganggu. Dia terbiasa dengan hening berdiam diri saat bermeditasi, mereka merasa kedamaian dan kegembiraannya telah dicuri ketika mengikuti meditasi duduk dipandu. Ini tidak sulit untuk dimengerti. Dalam meditasi hening, Anda mampu menenangkan tubuh dan pikiran. Anda tidak ingin siapa pun mengganggu keadaan ringan, damai, dan sukacita itu. Tetapi, jika Anda puas hanya dengan begitu saja, Anda tidak akan bisa melangkah lebih jauh dalam mentransformasikan penyadaran bagian yang lebih dalam lagi. Ada orang yang bermeditasi hanya untuk melupakan kerumitan dan masalah hidup, seperti kelinci yang menyeluduk di bawah pagar untuk menghindari pemburu atau orang yang berlindung di ruang bawah tanah untuk menghindari bom. Perasaan aman dan terlindungi muncul secara alami saat kita duduk bermeditasi, tetapi kita tidak dapat melanjutkan keadaan ini selamanya. Kita membutuhkan tenaga dan kekuatan untuk keluar dari aula meditasi ke dalam kehidupan karena itulah satu-satunya cara kita dapat berharap untuk mengubah dunia ini. Dalam praktik meditasi dipandu, kita memiliki kesempatan untuk melihat lebih mendalam ke dalam pikiran, menabur benih yang sehat di sana, untuk memperkuat dan mengembangkan benih itu agar benih itu menjadi sarana untuk mengubah penderitaan dalam diri kita. Pada akhirnya, kita juga bisa dipandu dalam meditasi untuk menghadapi secara langsung atas penderitaan itu agar dapat memahami akar penyebabnya dan terbebas dari belenggu.

Meditasi dipandu bukanlah penemuan baru. Meditasi demikian telah digunakan oleh praktisi di masa Buddha. Ini jelas jika Anda membaca Sutta Untuk Orang Sakit dan menjelang kematian (Ekottara Agama, bab 51, sutta 8; Madhyama Agama, sutta 26; atau Majjhima Nikaya, sutta 143). Sutta ini mencatat meditasi dipandu yang digunakan Sariputra untuk membantu Anathapindika ketika ia sedang terbaring sakit di tempat tidurnya. Yang Mulia Sariputra membimbing Anathapindika setahap demi setahap hingga ia mampu mengubah ketakutannya akan kematian. Sutta Anapanasati juga merupakan ajaran meditasi dipandu. Singkatnya, meditasi dipandu telah menjadi bagian dari tradisi Buddhis sejak awal.

Latihan meditasi dipandu dalam buku ini dapat membantu banyak praktisi agar meditasi duduknya lebih konkret. Karena bentuk latihan yang sistematis dalam buku ini, metode ini dapat membuka era baru bagi cara praktik meditasi duduk.

Napas, Lonceng, Kalimat Panduan, dan Kata-Kata Kunci

Pemimpin meditasi dipandu pertama-tama “membangunkan lonceng” di tepi genta untuk menarik perhatian komunitas. Ia harus membiarkan lima atau enam detik berlalu sebelum membaca dua kalimat panduan. Misalnya (dikutip dari latihan keempat):

Bernapas masuk, saya melihat diri saya sebagai bunga.
Bernapas keluar, saya merasa segar.

Setelah itu, ia mengucapkan kata-kata kunci (versi ringkas dari kalimat panduan):

bunga/segar

Suara lonceng penuh menandakan dimulainya latihan. Setelah lima, sepuluh, lima belas, atau lebih napas masuk/keluar, pemimpin meditasi “membangunkan lonceng” lagi, membiarkan lima atau enam detik berlalu, kemudian membacakan dua kalimat panduan berikutnya.

Ada latihan waktu yang mana bernapas masuk/keluar adalah satu-satunya objek perhatian dan konsentrasi. Misalnya (dikutip dari latihan kedua):

Bernapas masuk, saya tahu saya sedang bernapas masuk.
Bernapas keluar, saya tahu saya sedang bernapas keluar.

Dalam latihan lain, bernapas membawa gambaran (image) itu sendiri, dan gambaran ini divisualisasikan dan tetap hidup selama bernapas masuk atau keluar. Gambaran tersebut terkait erat dengan pernapasan. Sebagai contoh (dikutip dari latihan keempat):

Bernapas masuk, saya melihat diri saya sebagai gunung.
Bernapas keluar, saya merasa solid.

Bernapas dan Bernyanyi

Dalam buku ini, Anda akan melihat beberapa lagu latihan dicetak. Bernyanyi sebagai bagian dari latihan meditasi adalah hal yang bermanfaat. Pertama-tama, musik membantu kita mengingat kata-kata dari meditasi dipandu yang pernah ada yang dimasukkan ke dalam lagu. Setelah meditasi telah dihafal, akan jauh lebih mudah untuk mempraktikkannya secara alami, apakah ketika kita sedang duduk atau sedang terlibat dalam melakukan aktivitas apa pun.

Sebelum memulai ceramah Dharma atau diskusi Dharma, menyanyikan lagu dapat membantu menciptakan ketenangan dan suasana yang menyenangkan. Sambil bernyanyi kita melatih kata-kata yang kita nyanyikan. Jika kita menyanyikan kata “bunga”, kita merasakan kesegaran bunga saat bernyanyi. Kita juga bisa menggunakan nyanyian atau musik dari sebuah lagu sebagai pengiring napas kita. Sebagian dari kelompok dapat menyanyi terlebih dahulu sementara sebagian lainnya mendengarkan dan menyadari napas, lalu kedua bagian itu berganti peran.

Sumber: The Blooming of a Lotus – Parallax Press
Penerjemah: Rumini

Duduk Seperti Buddha

Duduk Seperti Buddha

Begawan Buddha, aku sungguh-sungguh ingin duduk seperti diriMu, Engkau dengan postur tubuh yang tenang, kokoh, dan kuat. Sebagai muridMu, aku juga ingin memiliki ketenanganMu. Aku telah diajarkan untuk duduk dengan punggung tegap dan relaks, kepala tegak sejajar dengan tulang punggung, tidak condong ke depan atau bersandar ke belakang, kedua bahuku relaks, dan telapak tangan satu diletakkan dengan lembut di atas telapak tangan lainnya. Aku merasa solid dan relaks dalam posisi ini.

Aku tahu bahwa kebanyakan orang terlalu sibuk dan sangat sedikit yang memiliki kesempatan untuk duduk hening dalam kebebasan batin. Aku bertekad untuk berlatih meditasi duduk sedemikian rupa sehingga aku merasakan kebahagiaan dan kebebasan saat duduk, baik ketika aku duduk dengan posisi teratai penuh (padmasana), setengah teratai, atau di kursi dengan kedua kakiku datar di bumi.

Aku akan duduk seperti orang bebas. Aku akan duduk sedemikian rupa sehingga tubuh dan pikiranku tenang dan damai. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan menyesuaikan postur tubuhku, membantu tubuhku menjadi tenang dan nyaman. Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan mengenali dan membantu menenangkan perasaan dan emosi.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya, aku akan membangkitkan kesadaran bahwa aku memiliki semua kondisi yang diperlukan untuk menyatukan tubuh dan pikiran serta untuk menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Dengan bernapas sadar sepenuhnya aku akan melihat secara mendalam ke dalam persepsi dan bentukan mental lainnya ketika mereka muncul. Aku akan melihat lebih mendalam ke akarnya sehingga aku dapat melihat dari mana sumber bentukan mental itu.

Begawan Buddha, aku tidak akan melihat meditasi duduk sebagai upaya untuk membatasi tubuh dan pikiran, atau sebagai cara untuk memaksa diri sendiri untuk menjadi sesuatu atau melakukan sesuatu, atau semacam usaha keras yang hanya akan membawa kebahagiaan di masa depan. Aku bertekad untuk berlatih duduk sedemikian rupa sehingga aku merawat diriku dengan kedamaian dan kegembiraan ketika sedang duduk. Banyak dari leluhurku yang tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa dari duduk dengan sadar sepenuhnya dan aku bertekad untuk duduk demi leluhurku. Aku ingin duduk untuk ayah, ibu, saudara dan saudariku yang tidak berkesempatan untuk berlatih meditasi duduk.

Ketika aku mendapat nutrisi dari latihan meditasi duduk, semua leluhur dan kerabatku juga mendapatkan manfaat. Setiap tarikan napas, setiap saat ketika melihat mendalam, setiap senyuman selama sesi duduk bermeditasi bisa menjadi kado untuk leluhurku, keturunanku, dan demi diriku sendiri. Aku ingin selalu ingat agar tidur lebih awal dan bangun lebih pagi saat langit masih gelap dan berlatih meditasi duduk tanpa merasa mengantuk.

Ketika aku makan, meminum teh, mendengarkan wejangan Dharma, atau berpartisipasi dalam berbagi Dharma, aku juga akan berlatih duduk dengan kokoh dan nyaman. Di bukit, di pantai, di kaki pohon, di atas batu, di ruang tamu, di bus, dalam demonstrasi menentang perang, atau dalam mogok makan demi membela hak asasi manusia, aku akan juga duduk seperti ini.

Aku bertekad untuk tidak akan duduk di tempat-tempat yang aktivitasnya tidak bermanfaat, di tempat-tempat yang ada perjudian dan minum keras, di tempat-tempat yang orang-orang berkelahi, berdebat, saling menyalahkan, dan menghakimi orang lain, kecuali ketika aku memiliki tekad mendalam datang ke tempat-tempat itu untuk menyelamatkan orang lain.

Buddha, aku berjanji untuk duduk untukMu. Duduk dengan ketenangan dan soliditas yang dalam, aku akan mewakili guru spiritualku, yang telah melahirkanku dalam kehidupan spiritual ini. Aku sadar jika semua orang di dunia ini memiliki kapasitas untuk duduk dengan hening, maka kedamaian dan kebahagiaan pasti akan hadir ke Bumi ini.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku menyentuh bumi di hadapanMu dan di hadapan dua saudara senior dalam SangghaMu, Yang Mulia Shariputra dan Yang Mulia Mahamaudgalyayana. [Genta]

Berjalan dengan Kesadaran Penuh

Berjalan dengan Kesadaran Penuh
Jalur meditasi jalan di Upper Hamlet, PV Prancis

Begawan Buddha, aku merasakan kehangatan di hatiku setiap kali aku bercerita dan mecurahkan isi hatiku kepadaMu. Aku merasakan kehadiranMu di setiap sel tubuhku dan tahu jika Engkau mendengarkan dengan penuh kasih atas semua yang aku katakan. Engkau berjalan di planet Bumi ini bak orang bebas. Aku juga ingin berjalan di planet Bumi ini sebagai orang bebas.

Di sekelilingku masih ada orang yang tidak berjalan sebagai orang yang bebas. Mereka hanya tahu cara berlari. Mereka berlari ke masa depan karena berpikir bahwa kebahagiaan tidak dapat ditemukan pada saat ini. Mereka berjalan di bumi tetapi pikiran mereka di awan. Mereka berjalan seperti orang yang berjalan sambil tidur, tanpa mengetahui ke mana tujuannya. Aku sadar dalam diriku juga ada kebiasaan yang mengakibatkan kedamaian dan kebebasanku hilang ketika aku berjalan.

Buddha yang terkasih, aku bertekad untuk mengikuti teladanMu dan selalu berjalan sebagai seorang yang bebas dan sadar. Aku bertekad dalam setiap langkahku, kedua kakiku akan benar-benar menyentuh bumi dan aku akan waspada bahwa aku sedang berjalan di atas landasan realita dan bukan mimpi. Berjalan seperti itu, membuat aku terhubung dengan segala sesuatu yang indah dan menakjubkan di alam semesta. Aku bertekad untuk berjalan sedemikian rupa sehingga kakiku akan mampu mencetak jejak kebebasan dan perdamaian di bumi.

Aku tahu dalam langkah-langkah yang diayunkan seperti ini dapat menyembuhkan tubuh dan pikiranku juga planet Bumi. Ketika aku berlatih meditasi jalan di luar dengan Sanggha, aku bertekad untuk mensyukuri bahwa ini berjalan bersama Sanggha adalah kebahagiaan besar. Dalam setiap langkah, aku menyadari bahwa aku bukanlah setetes air, melainkan bagian dari sungai yang lebih besar. Dengan bernapas dan berjalan berkesadaran penuh, aku akan menciptakan energi kesadaran penuh dan konsentrasi yang berkontribusi pada kesadaran kolektif Sanggha. Aku akan membuka tubuh dan pikiranku agar energi kolektif Sanggha dapat masuk ke dalam diriku, melindungi, dan membantuku mengalir dengan lembut seperti sungai, menyelaraskan diri dengan segala sesuatu yang ada. Aku tahu bahwa dengan mempercayakan tubuh dan pikiranku, juga rasa sakit yang aku miliki kepada Sanggha, semua itu berpeluang untuk dirangkul dan disembuhkan. Dengan cara ini aku akan dirawat saat aku berlatih berjalan dengan penuh perhatian bersama Sanggha dan bertransformasi secara signifikan dalam tubuh dan pikiranku. Di aula meditasi aku akan membuka diri terhadap energi Sanggha ketika berlatih meditasi jalan perlahan, berjalan satu langkah pada saat bernapas masuk dan satu langkah pada saat bernapas keluar. Aku berjanji untuk berjalan sedemikian rupa sehingga setiap langkah dapat menutrisiku dan Sanggha dengan energi kebebasan dan soliditas.

Menyentuh Bumi

Buddha Shakyamuni, aku bersujud di hadapanmu, di hadapan Bodhisattwa Dharanimdhara, Penguasa Bumi, dan di hadapan Bodhisattwa Sadaparibhuta. [Genta]

Sutra Thera

Sutra Thera

Demikianlah yang telah saya dengar, suatu ketika Buddha sedang menetap di wihara dalam Hutan Jeta, di kota Shravasti. Pada waktu itu tersebutlah seorang biksu bernama Thera (sesepuh), yang lebih memilih menyendiri. Kapan pun dia bisa, dia memuji latihan hidup sendirian. Dia memohon sedekah sendirian dan duduk bermeditasi sendirian.

Suatu ketika sekelompok biksu datang menghadap Buddha, memberi hormat dengan cara bersujud, lalu mengambil posisi di samping, kemudian duduk berdekatan, dan berkata, “Buddha, ada seorang sesepuh bernama Thera yang selalu ingin sendirian. Ia selalu memuji latihan hidup sendirian. Ia mengunjungi desa sendirian untuk memohon sedekah, kembali sendirian, dan duduk bermeditasi sendirian.

Buddha meminta salah satu biksu,”Mohon pergilah ke tempat tinggal Biksu Thera dan beritahukan bahwa saya ingin menemuinya.

Seorang biksu melaksanakannya. Saat Biksu Thera mendengar permintaan Buddha, dia segera datang, bersujud di kaki Buddha, mengambil posisi di samping kemudian duduk berdekatan. Kemudian Buddha bertanya kepada Biksu Thera, “Apakah benar adanya bahwa Anda lebih memilih untuk sendirian, memuji hidup berkesendirian, memohon sedekah sendirian, kembali dari desa sendirian, dan duduk bermeditasi sendirian?

Biksu Thera menjawab, “Itu benar adanya, Yang Mulia.

Buddha bertanya kepada Biksu Thera, “Bagaimana cara Anda hidup sendirian?

Biksu Thera menjawab, “Saya hidup sendirian; tidak ada orang lain yang hidup bersama saya. Saya memuji latihan hidup sendirian. Saya memohon sedekah sendirian, dan saya kembali dari desa sendirian. Saya duduk bermeditasi sendirian. Itu saja.

Buddha bersabda sebagai berikut, “Sangatlah jelas bahwa Anda menyukai latihan hidup sendirian. Saya tidak menentangnya, tapi saya ingin memberitahu Anda bahwa ada cara yang lebih indah dan mendalam untuk hidup sendirian. Cara itu adalah pengamatan mendalam untuk melihat bahwa masa lalu telah pergi dan masa depan belum juga tiba, dan bersemayam dengan nyaman di momen kekinian, bebas dari nafsu keinginan. Saat seseorang hidup dengan cara seperti ini, tidak ada keraguan dalam dirinya. Ia meletakkan semua kecemasan dan penyesalan, melepaskan semua keinginan yang mengikat, dan memutuskan belenggu yang menghalanginya untuk hidup bebas. Inilah yang disebut ‘cara lebih baik untuk hidup sendirian.’ Tidak ada cara yang lebih indah untuk hidup sendirian daripada ini.

Kemudian Buddha menyampaikan syair berikut ini:

“Mengamati kehidupan secara mendalam,
memungkinkan melihat apa adanya dengan jelas.
Tidak diperbudak oleh apa pun,
memungkinkan untuk menyingkirkan semua kemelekatan,
menuntun kepada kehidupan yang penuh kedamaian dan kegembiraan.
Inilah hidup sendirian yang sesungguhnya.”

Mendengarkan sabda Buddha, Biksu Thera merasa puas. Ia bersujud dengan hormat kepada Buddha dan meninggalkan tempat itu.

Samyukta Agama 1071,
Sesuai dengan Kitab Pali: Theramano Sutta, Samyutta Nikaya 21.10

Alih bahasa: Oktavia Khoman

Thich Nhat Hanh Berusia 93 Tahun

Thich Nhat Hanh Berusia 93 Tahun
Thay mengunjungi pameran bukunya di Wihara Từ Hiếu, Vietnam

11 Oktober 2019

Komunitas terkasih,

Dengan sangat bahagia, kami berbagi bahwa hari ini Thay merayakan hari kelanjutannya yang ke-93 di Wihara Từ Hiếu di Huế, Vietnam, di wihara inilah tempat beliau pertama kali memasuki kehidupan monastik saat berusia enam belas tahun.

Selama beberapa hari terakhir, murid-murid Thay dari seluruh Vietnam telah berkumpul di Wihara Từ Hiếu untuk merayakan “hari kelanjutannya.” Para biksu datang dari Wihara Từ Đức yang lokasinya tidak terlalu jauh, dan para biksuni telah tiba dari Selatan. Untuk merayakan hari istimewa ini, monastik menyelenggarakan pameran buku-buku Thay di Full Moon Meditation Hall. Thay keluar dengan kursi rodanya setiap hari untuk menikmati persiapan acara ini dan menikmati suasana yang menyenangkan itu. Hari ini, ratusan orang berkumpul untuk merayakan dan menyampaikan harapan terbaik mereka kepada Thay. Komunitas monastik dapat merasakan kekuatan, kedamaian, ketajaman pikiran, dan vitalitas pada saat kehadiran Thay, dan kehangatan serta keharmonisan yang beliau bawa ke Wihara Từ Hiếu.

Ini adalah hari-hari cerah terakhir sebelum hujan tiba. Meskipun panas dan lembab beberapa bulan terakhir ini, Thay telah mengatasinya dengan sangat baik, mungkin karena ini adalah iklim di masa mudanya. (Bagi beberapa asisten Thay, cuaca yang panas jauh lebih menantang!) Dari waktu ke waktu ia berkesempatan untuk mengunjungi pantai selama beberapa hari, yang terletak hanya tiga puluh menit dari wihara. Kesehatan Thay secara keseluruhan cukup stabil, meskipun dari waktu ke waktu ia menghadapi tantangan akan nafsu makan, tidur, dan ketidaknyamanan fisik. Thay terus menerima perawatan rutin yang sangat bermanfaat dari ahli akupunktur dan fisioterapis.

Pada bulan Juli lalu, Thay mengalami kemajuan luar biasa dengan seorang terapis bilingualnya (bahasa Vietnam-Inggris), yang telah mulai membantunya di San Francisco sejak tahun 2015, seseorang yang memiliki koneksi yang sangat baik dengan Thay. Tampaknya mekanisme untuk dapat berbicara masih ada, tetapi akan membutuhkan banyak pelatihan bagi Thay untuk memulihkan kemampuan berbicaranya. Thay dengan bersemangat mengalami kemajuan yang cepat selama dua minggu terapi, tetapi setelah usaha kerasnya, tubuhnya menjadi lelah. Begitu beristirahat, Thay memberitahukan bahwa beliau memilih untuk tidak melanjutkan pelatihan berbicara agar menghemat energinya dengan memberikan kehadirannya saja di dalam dan sekitar wihara.

Ini menandai hampir setahun sejak Thay pertama kali tiba di Từ Hiếu, tidak lama setelah ulang tahunnya di bulan Oktober lalu, pada saat Ceremony of Sweeping the Ancestral Stupas (Upacara Membersihkan Stupa Leluhur). Ada banyak sorotan, termasuk pada saat Tết pertamanya (Tahun Baru Imlek) di situ sejak bulan Februari 1960-an; dimulainya pekerjaan renovasi besar-besaran di aula kuil utama pada bulan Maret; dan kunjungan resmi delegasi 9 Senator AS pada bulan April. Para murid dan pengikut Thay dari seluruh dunia datang mengunjungi beliau dan memberikan penghormatan. Bulan lalu, Thay dianugerahi penghargaan buku di Vietnam untuk buku anak-anak barunya, The Hen and the Golden Eggs, dan Each Breath, a Smile. Di dunia internasional, Thay juga mendapat penghargaan Luxembourg Peace Prize dan Gandhi-Mandela Peace Award pada bulan Juli 2019 lalu.

Thay bersama Senators Leahy, Murkowski, Stabenow, Whitehouse, Udall, Portman, Baldwin, Hirono, dan Kaine, bersama pasangnnya masing-masing, di Wihara Từ Hiếu, Kota Huế, pada tanggal 19 April 2019

Untuk merayakan ulang tahun Thay minggu ini, kami telah meluncurkan situs web Plum Village (plumvillage.org) yang baru, dengan informasi inspiratif tentang kehidupan Thay, dan artikel-artikel yang lebih kaya tentang ajarannya bagi para pencinta lingkungan, pembuat perdamaian, guru, dan pemimpin bisnis. Kami juga telah merilis serangkaian gambar baru Thay’s Life in Photos dan menceritakan kisah menarik Thay dalam Life in 12 Books. Mereka yang ingin tahu lebih dalam dapat menjelajahi surat-suratnya, wawancara, dan kaligrafinya, dan melihat panduan pembaca kami untuk buku-bukunya.

Mengetahui bahwa kita adalah kelanjutan Thay, kami datang bersama sebagai Sangha (komunitas berlatih) untuk mendukung upaya di seluruh dunia agar mendorong perubahan dan melindungi bumi. Jaringan Sangha dari The Earth-Holders telah melakukan seruan untuk mendukung aksi climate strike. Baru-baru ini, di Bordeaux, sekelompok besar monastik dan teman-teman awam, menghadiri pemogokan sekolah untuk Ibu Bumi, Ibu Pertiwi, dan tindakan yang penuh kegembiraan dan welas asih ini digemakan di banyak pusat kami di seluruh dunia. Pada bulan Agustus, kami mengadakan retret Wake Up Earth terbesar kami, dengan lebih dari 500 orang muda berkumpul di Plum Village dari seluruh dunia, termasuk delegasi dari Palestina dan 10 anggota muda Extinction Rebellion yang disponsori untuk datang dan bergabung dalam retret.

Seperti yang kita semua tahu, Thay memberi penekanan besar pada tahun-tahun terakhirnya dalam mengajar mengenai bagaimana komunitas kita dapat berkontribusi terhadap perubahan di dunia dengan kembali pada dimensi spiritual, dan menunjukkan bagaimana kita bersama-sama dapat kembali jatuh cinta kepada Ibu Bumi. Pada Retret Hujan tiga bulan kami tahun ini, kami telah mengambil tema memelihara Bodhicitta (pikiran cinta), merawat Ibu Bumi, dan membangun komunitas yang berkelanjutan; semua aspek penting untuk mewujudkan kewawasan kolektif yang kita butuhkan. Sebagai komunitas, kami berkomitmen untuk terus mengeksplorasi cara terbaik yang dapat kami dukung dan lakukan, selalu menjaga tradisi Plum Village agar tetap relevan dan terkini.

Monastik Plum Village sedang mempraktikkan meditasi duduk pada Climat Strike di Bordeaux pada 20 September 2019


Pada Retret 21hari bulan Juni tahun depan, kami akan mengeksplorasi bagaimana Latihan Empat Belas Sadar Penuh Thay dapat menjadi panduan di zaman kita — menawarkan jalan dasar, engaged, etis, dan spiritual, baik secara individu maupun kolektif. Dengan menggunakan latihan ini sebagai panduan, kami akan membahas bagaimana praktik membangun komunitas dapat membangun fondasi yang kokoh untuk mempertahankan kelangsungan umat manusia dan planet dalam menghadapi tantangan yang ada di depan.

Kami berlindung pada keberanian Thay, kelembutannya, semangatnya untuk tidak pernah menyerah; dan dalam kebijaksanaan para guru leluhur kami.

Dengan cinta dan kepercayaan,

Monastik Plum Village

Sumber: Thich Nhat Hanh Turns 93
Alih bahasa: Rumini

Master Zen Thich Nhat Hanh: Hanya Cinta yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Perubahan Iklim

Master Zen Thich Nhat Hanh: Hanya Cinta yang Dapat Menyelamatkan Kita dari Perubahan Iklim

oleh Jo Confino

Cat: Wawancara ini dipublikasikan oleh The Guardian pada Tanggal 21 Januari 2013

Guru spiritual kondang mengingatkan, apabila manusia belum bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan, bagaimana bisa mengharapkan mereka cemas atas urusan penting Bumi Pertiwi.

Thich Nhat Hanh: kita mesti melampaui diri kita sendiri untuk menyelamatkan Ibu Pertiwi dari perubahan iklim. Sumber: AP

Master Zen, Thich Nhat Hanh merupakan salah satu dari guru spiritual kondang, sosok yang sangat damai walaupun dia bahkan memprediksi kemungkinan runtuhnya peradaban dalam kurun waktu 100 tahun ke depan akibat perubahan iklim yang tak terkendali.

Biksu berdarah Vietnam ini memiliki ratusan ribu pengikut di seluruh dunia. Dia yakin, alasan kebanyakan orang tidak menanggapi ancaman pemanasan global meskipun ada banyak bukti ilmiah adalah karena meraka tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan, apalagi mengkhawatirkan mengenai keadaan Ibu Pertiwi.

Thay, sapaan akrabnya, ia mengatakan menjadi damai itu bisa diwujudkan apabila Anda menembus realitas palsu kita yang didasari pada gagasan hidup dan mati, untuk menyentuh dimensi tertinggi sebagaimana sudut pandang Agama Buddha bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.

Dengan menyadari sepenuhnya akan kondisi saling keterhubungan dari semua kehidupan, kita dapat melampaui gagasan bahwa kita memiliki elemen pembentuk tunggal, kemudian memperluas welas asih dan cinta kita sedemikian rupa sehingga kita aktif melindungi Bumi.

Melihat Melampaui Ketakutan

Pada buku Thay yang berjudul Fear, beliau menuliskan tentang bagaimana masyarakat menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengkhawatirkan sakit, menua dan kehilangan hal-hal yang paling berharga, walaupun semua itu fakta, tidak bisa dihindari bahwa suatu hari mereka harus melepas itu semua.

Ketika kita menyadari bahwa keberadaan manusia bukanlah sekadar tubuh fisik saja, bahwa kita bukan berasal dari ketiadaan dan tidak akan menghilang tanpa bekas, dengan demikian kita bisa terbebaskan dari rasa takut. Beliau mengatakan bahwa ‘tiada rasa takut’ (fearless) tak hanya mungkinkan, tetapi merupakan suka cita tertinggi.

“Cara kita mempersepsikan waktu tampaknya bisa menjadi celahnya,” Thay memberitahu saya saat kami di rumah sederhananya di Biara Plum Village dekat Bordeaux. “Bagi kami, ini sangat mengkhawatirkan dan mendesak, lalu bagi Bumi Pertiwi, jika dia menderita, dia tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk memulihkan dirinya sendiri, walaupun membutuhkan 100 juta tahun. Kita berpikir waktu kita di bumi hanya 100 tahun, oleh karena itu kita menjadi sangat tak sabar. Karma kolektif dan ketidaktahuan dari ras kita, kemarahan dan kekerasan kolektif akan mengarah pada kehancuran, dan kita harus belajar untuk menerima kenyataan ini.”

“Dan mungkin Ibu Pertiwi akan menghasilkan makhluk yang hebat pada dekade berikutnya. Kita tidak tahu dan juga tidak dapat memprediksinya. Bumi Perwiti sangat berbakat. Dia telah melahirkan para Buddha, bodhisatwa, makhluk-makhluk hebat.

Jadi berlindunglah pada Bumi Pertiwi dan pasrah kepadanya, serta memohon padanya untuk menyembuhkan dan membantu kita. Dan kita harus menerima bahwa hal terburuk bisa saja terjadi; bahwa sebagian dari kita akan mati sebagai suatu spesies dan banyak spesies lain juga akan mati, serta Bumi Pertiwi akan mampu menghadirkan kita kembali, kita yang lebih bijaksana; mungkin beberapa juta tahun lagi.”

Menghadapi Kebenaran

Thay secara tidak langsung menyatakan bahwa kita mengejar ketenaran, kemakmuran, kekuasaan, dan kenikmatan seksual bisa menjadi perlindungan sempurna bagi masyarakat untuk bersembunyi di balik kebenaran atas tantangan yang sedang dihadapi oleh dunia ini. Lebih parah lagi, ketergantungan manusia atas barang-barang material dan gaya hidup sibuk yang hanya menyediakan tambal sulam sementara bagi celah emosional dan luka spiritual, semua itu justru memicu kesepian semakin dalam dan ketidakbahagiaan.

Thay yang baru saja merayakan masa kebiksuannya yang ke-70 tahun, ia merefleksikan kurangnya tindakan untuk menanggulangi kerusakan ekosistem dan kepunahan hayati yang begitu cepat: “Ketika mereka melihat kenyataannya, maka sudah terlambat untuk bertindak… tetapi mereka tidak ingin menyadarinya karena kemungkinan akan membuat mereka menderita. Mereka tidak sanggup menghadapi kenyataannya. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tidak ingin mengurusnya”.

“Mereka sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakannya. Kita tidak seharusnya membicarakan hal apa yang perlu mereka lakukan, apa yang seharusnya tak dilakukan demi melindungi masa depan. Kita perlu berbicara kepada mereka melalui cara yang bisa menyentuh hatinya, cara yang bisa membantu mereka terlibat dalam upaya yang bisa memberikan kebahagiaan sejati untuk mereka, jalur cinta dan pemahaman, keberanian untuk melepas. Ketika mereka telah merasakan sedikit kedamaian dan cinta, kemungkinan mereka akan bangkit.”

Thay menciptakan gerakan Umat Buddha yang Terjun Aktif (Engaged Buddhism), yang mempromosikan peran aktif suatu individu untuk menciptakan perubahan, dan latihan kewawasan – suatu jejak biru etis – menyerukan agar para praktisi untuk memboikot produk-produk yang merusak lingkungan dan untuk menghadapi ketidakadilan sosial.

Mengingat betapa sulitnya menyadarkan mereka, sementara mereka tidak berniat mengubah perilakunya. Thay mengatakan bahwa kita membutuhkan gerakan akar rumput, mengikuti taktik yang digunakan oleh Gandhi, tetapi menegaskan bahwa ini bisa efektif hanya jika aktivis terlebih dahulu mengatasi kemarahan dan ketakutan dirinya sendiri, ketimbang memproyeksikannya pada orang-orang yang dianggap mereka salah.

Konsumen yang sadar sepenuhnya dapat mempengaruhi cara perusahaan bertindak

Berkenaan dengan perusahaan yang memproduksi barang-barang berbahaya, beliau mengatakan,”Mereka seharusnya tidak terus memproduksi barang-barang ini. Kita tak membutuhkannya. Kita membutuhkan produk jenis lain yang membantu kita menjadi lebih sehat. Jika ada penyadaran di tingkat konsumen, maka produsen akan harus berubah. Kita bisa memaksa mereka untuk berubah dengan tidak membeli.

“Gandhi mampu mendesak bangsanya sendiri untuk memboikot sejumlah komoditi. Dia tahu cara untuk menjaga dirinya sendiri selama aksi tanpa kekerasan. Dia tahu cara untuk menghemat energi karena perjuangannya panjang, jadi praktik spiritual sangat dibutuhkan demi membantu perubahan masyarakat.”

Thay telah menulis lebih dari 100 buku, termasuk buku laris “Miracle of Mindfulness”. Beliau mengatakan bahwa memang sulit bagi pemegang kekuasaan untuk berterus terang atas sifat merusak dari sistem ekonomi saat ini, karena takut dikucilkan dan dicemooh, kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memiliki keberanian untuk menantang status quo tersebut.

“Para pemimpin bisnis dan politik perlu memupuk welas asih demi merangkul dan mengurangi ego agar bisa melakukan hal tersebut,” ucap Thay.

“Anda memiliki keberanian untuk melakukannya karena Anda memiliki welas asih. Welas asih adalah energi yang kuat,” ucapnya. “Dengan welas asih Anda mengorbankan diri untuk orang lain, seperti seorang ibu rela mati demi anaknya. Anda memiliki keberanian untuk mengeksposnya karena Anda tidak takut kehilangan apa pun, karena Anda mengetahui bahwa pengertian dan cinta kasih merupakan dasar dari kebahagiaan. Apabila Anda takut kehilangan status, jabatan, maka Anda tidak akan berani melakukannya.”

Suatu momen perenungan

Sementara banyak orang merasa kehilangan arah yang disebabkan oleh kerumitan kehidupannya dan begitu banyaknya pilihan yang ditawarkan oleh masyarakat konsumtif ini, retret Thay menawarkan alternatif yang sangat sederhana.

Selamat retret musim dingin tiga bulan di Plum Village, Thay berulang kali menginstruksikan ratusan biksu, biksuni dan praktisi awam tentang menghentikan keributan tanpa ujung di kepalanya dan fokus pada inti kewawasan, sukacita dari bernapas, berjalan, perenungan di momen kekinian.

Ketimbang mencari jawaban soal hidup dalam pembelajaran filosofi atau mencari pengalaman puncak yang dipicu adrenalin, Thay menyarankan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dengan menyentuh hal-hal yang bermakna pada setiap pengalaman hidup yang sangat sederhana, yang sebagian besar telah kita abaikan.

Contohnya adalah seberapa sering kita menghargai sepenuhnya kerja keras jantung setiap siang dan malam untuk mempertahankan kita agar tetap hidup. Beliau menyarankan bahwa memungkinkan untuk menemukan kebenaran mendalam melalui konsentrasi pada sesuatu yang mendasar seperti memakan wortel, sebagaimana Anda akan memperoleh wawasan bahwa sayuran tidak bisa ada tanpa dukungan seluruh alam semesta.

“Jika Anda sepenuhnya bersentuhan dengan sepotong wortel, Anda bersentuhan dengan tanah, hujan, sinar matahari,” ucap beliau. “Anda bersentuhan dengan Bumi Pertiwi dan memakannya sedemikian rupa, Anda merasakan bersentuhan dengan kehidupan sejati, akar Anda, dan inilah meditasi. Jika kita mengunyah setiap bagian makanan dengan cara demikian, kita menjadi bersyukur dan ketika kita bersyukur, Anda bahagia.”

Walaupun sudah bermeditasi setiap hari selama tujuh dekade terakhir, Thay yakin masih ada banyak hal yang perlu dipelajari. “Dalam ajaran Buddha, kita membicarakan cinta kasih sebagai sesuatu yang tak terbatas,” ucapnya.

“Empat unsur cinta yang mencakup cinta kasih, welas asih, sukacita dan ekuanimitas, tidak ada batasnya.”

Itulah cara berpikir Buddha. Dengan rasa hormat para pengikut Buddha menyebutnya sebagai ‘dia yang telah sempurna’, sesungguhnya Anda tak perlu menjadi sempurna. Perlu untuk diketahui. Jika Anda mendapatkan sedikit kemajuan setiap hari, sedikit kemajuan sehingga lebih berbahagia dan merasakan kedamaian, ini sudah cukup baik, sehingga Anda terus berlatih, lalu wawasan akan terus tumbuh setiap hari.

“Pratik itu tiada batasnya. Dan saya pikir ini berlaku untuk semua umat manusia. Kita bisa terus belajar dari generasi ke generasi dan kini saatnya untuk memulai belajar bagaimana cara mencintai dengan tanpa diskriminasi karena kita cukup cerdas, tetapi sebagai makluk hidup, kita tidak memiliki kandungan cinta seukupnya.”

Thich Nhat Hanh: kehidupan yang jauh dari mata publik

Thay sering dibandingkan dengan Dalai lama tetapi sering luput dari pandangan publik karena ia memutuskan untuk menjalankan hidup sebagai biksu sederhana. Beliau telah menghindari jebakan dikelilingi para pesohor dan Thay hanya mau diwawancarai oleh jurnalis yang telah bermeditasi bersamanya karena kewawasan perlu dialami ketimbang dijelaskan.

Tetapi Thay bukan orang kesepian, ia telah menjalani kehidupan yang luar biasa, termasuk penominasian Thay untuk menerima penghargaan Nobel perdamaian oleh Martin Luther King pada tahun 1967 atas usahanya mencari cara untuk meredakan perang Vietnam. Dalam penominasiannya, King mengatakan “Saya secara pribadi tidak menemukan ada orang lain yang lebih layak mendapatkan penghargaan ini dibandingkan biksu yang lembut dari Vietnam ini. Gagasannya atas perdamaian jika diterapkan akan membangun suatu monumen ekumenisme, untuk persaudaraan dunia, untuk kemanusiaan.”

Thay mendirikan Plum Village 30 tahun lalu setelah diasingkan dari tanah kelahirannya. Sejak itu biara di Thailand, Hong Kong dan Amerika Serikat, dan juga Institut Agama Buddha Terapan di Jerman mulai bermekaran. Beliau melanjutkan usahanya demi solusi perdamaian pada konflik di seluruh dunia, termasuk menyelenggarakan beberapa retret untuk masyarakat Israel dan Palestina.

Pada tahun 2009 dia menghadapi konflik dalam hidupnya. Ketika pihak yang berwenang di Vietnam menggunakan kekerasan dan pemaksaan untuk menutup Biara Bhat Nha yang baru diresmikan. Thay yakin tindakan tidak bertanggung jawab itu didalangi oleh Tiongkok sebab Thay menyatakan dukungannya secara publik kepada Tibet. Masyarakat Uni Eropa dan negara-negara lain menyuarakan protes. Sekitar 400an biksu dan biksuni tersebar ke berbagai tempat, namun secara diam-diam masih beroperasi di Vietnam.

The Guardian mengeluarkan pesan kedutaan Amerika Serikat yang menyoroti kekhawatiran mengenai tindakan keras tersebut. Salah satu pesan rahasia mengatakan, “penanganan yang buruk dari Vietnam terhadap situasi di komunitas Plum Village di Biara Bat Nha dan paroki Katolik Dong Chiem minggu lalu – khususnya pengunaan kekerasan yang berlebihan – merupakan masalah dan menandakan tindakan kekerasan GVN yang lebih luas pada hak asasi manusia mejelang Kongres Partai pada Januari 2011.”

Terlepas dari seluruh penghargaannya, termasuk tugas baru-baru ini sebagai penyunting tamu di Times of India, Thay adalah orang yang sederhana ketika dia melihat kembali hidupnya.

“Tidak banyak yang kita capai selain kedamaian, beberapa kepuasan di dalam. Ini sudah cukup banyak,” ucapnya. “Momen paling bahagia adalah ketika kita duduk dan saling mensyukuri kehadiran saudara-saudari, umat awam dan monastik yang berlatih meditasi jalan dan duduk. Ini adalah pencapaian utama dan hal-hal lain seperti mempublikasikan buku dan menyiapkan lembaga seperti di Jerman menjadi tidak begitu penting.”

“Hal yang penting adalah kita memiliki sangha (komunitas) dan wawasan karena Buddha di masa kita kemungkinan bukan seorang individu tetapi kemungkinan adalah sebuah sangha. Jika setiap hari Anda berlatih meditasi jalan dan duduk, serta membangkitkan energi kewawasan, konsentrasi, dan kedamaian, Anda adalah suatu sel dalam tubuh Buddha yang baru. Ini bukan mimpi, tetapi kemungkinan hari ini dan esok. Buddha bukan sesuatu yang jauh, tetapi di sini dan saat ini.”

Sementara Thay masih dalam kondisi sehat dan tajam seperti jarum, dia tidak semakin muda dan kemungkinan akan mulai menarik diri dari jadwal berat yang membuatnya terlihat berulang kali melintasi dunia, memimpin retret dan meneruskan ajarannya. Tahun ini dia berkelana melintasi Amerika Serikat dan Asia, kemungkinan ini adalah perjalanan luar negeri utama terakhirnya.”

Dengan keyakinannya pada tidak ada kelahiran dan tidak ada kematian, bagaimana dia merasakan mengenai kematiannya sendiri?

“Sangat jelas bahwa Thay tidak akan mati, tetapi akan terus berlanjut hadir dalam setiap orang,” ucapnya. “Jadi tidak ada kehilangan dan kita bahagia karena kita mampu membantu Buddha untuk memperbarui ajarannya. Dia sering disalahpahami oleh banyak pihak, oleh karena itulah kita mencoba mengondisikan agar ajaran Buddha bisa dipraktikkan dengan mudah dan sederhana sehingga semua orang dapat memanfaatkan dengan baik ajaran dan latihannya.”

Sambil mengangkat segelas teh untuk diminum, beliau menambahkan: “Saya sudah mati beberapa kali dan Anda mati setiap momen dan Anda lahir kembali dalam setiap momen sehingga ini adalah cara kita melatih diri sendiri. Ini seperti teh. Ketika Anda menuangkan air panas dalam teh, Anda meminumnya untuk pertama kali, dan kemudian Anda menuangkan lagi sejumlah air panas dan Anda minum lagi, daun-daun teh masih ada dalam teko itu tetapi rasanya telah berpindah ke dalam teh dan jika Anda mengatakan mereka telah mati, maka itu tidak benar, karena mereka terus hidup dalam teh, jadi tubuh ini hanya residu.”

“Daun ini masih dapat menyediakan sejumlah rasa teh, tetapi suatu hari tidak ada rasa teh yang tersisa dan ini bukanlah kematian. Dan bahkan daun-daun teh dapat Anda masukkan ke dalam pot bunga dan mereka melanjutkan peranannya, jadi kita perlu melihat hidup dan mati seperti demikian. Jadi ketika Saya melihat monastik muda dan umat awam berlatih, saya melihat itulah kelanjutan dari Buddha, kelanjutan dari saya.”

Sepucut surat pemberitahuan kepada Thay bahwa ada seseorang telah membangun wihara di Hanoi untuk Thay demi mengenang hidupnya, Thay baru-baru ini mengirimkan surat ke wihara Tu Hieu di pusat Vietnam tempat dia berlatih sebagai samanera, menjelaskan bahwa dia tidak ingin wihara dibangun untuk menghormatinya ketika dia mati: “Saya mengatakan jangan menyia-nyiakan tanah wihara untuk membangun stupa untuk saya. Jangan masukkan saya ke dalam pot kecil itu dan meletakkan saya di sana. Saya tidak ingin berlanjut seperti demikian. Lebih baik menaburkan abu di luar untuk membantu pohon tumbuh. Inilah meditasi.”

Dia menambahkan: “Saya meminta mereka membuat pernyataan tertulis bahwa ‘Saya tidak di sini'” dan jika ada orang yang tidak mengerti, Anda menambahkan kalimat kedua ‘Saya juga tidak ada di luar sana’ dan jika mereka masih tidak mengerti, pada kalimat ketiga dan terakhir tambahkan ‘Saya bisa ditemukan dalam cara Anda berjalan atau bernapas.”

Sumber: The Guardian, 21 Januari 2013

Alih bahasa: Endah

Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu

Menepi Sebentar Mengeluarkan Kerikil Kecil dari Sepatu
Menepi sebentar

Sudah 40 tahun lebih saya menjalani hidup, walaupun banyak kondisi yang sudah saya lalui, tetapi saya tidak pernah paham arti kehidupan. Bagi saya bangun pagi, ke kantor, pulang dan tidur merupakan rutinitas yang kewajiban yang dilakoni setiap hari.

Ada seorang guru yang saya hormati, ia sering memberikan kata “kunci” untuk membuka pintu kebodohan dan kemelekatan saya. Suatu hari ia memberikan izin kepada saya untuk pergi berlatih di Plum Village Thailand.

Saya juga bersyukur karena ada seorang sahabat juga mendukung saya. Kami berkumpul dan belajar dalam jumlah peserta yang lumayan banyak dan dari berbagai Negara dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ritme Berjalan

Saat meditasi pagi, kami diminta duduk hening di baktisala,  setelah itu kami meditasi jalan. Saya mengenakan jaket karena masih sangat pagi dan cuaca dingin. Kondisi sekitar gelap, sehingga penglihatan sungguh terganggu. Tidak bisa melihat dengan jelas, berjalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti peserta lain yang jalan di depan.

Semua peserta berjalan dengan ritme yang berbeda, dengan cara yang berbeda. Tidak lama berjalan, ada batu kecil yang masuk dalam sepatu, membuat langkah saya tidak nyaman karena sakit. Saya masih tetap berjalan sampai akhirnya menepi. Agar tidak menghalangi peserta di belakang saya untuk melangkah, saya mengeluarkan batu kecil dari sepatu, setelah itu melangkah kembali.

Jalan yang kami lalui ada yang berbatu kecil-kecil, ada yang hanya tanah tanpa rumput, ada juga jalan yang lebih lembut karena basah, ada juga jalan yang datar dan yang tidak datar.

Selama kurang lebih 45 menit kami berjalan, matahari mulai bersinar, lingkungan di sekitar mulai kelihatan dengan jelas, ada berbagai tanaman buah, bunga dan rumput yang ikut tumbuh, ada banyak jenis dan bentuk batu di tempat kami berjalan.

Mengikuti Rutinitas

Saya mulai menikmati pemadangan, merasakan hangatnya matahari, melihat langit, matahari dan tanaman di sekitar terasa indah. Apa pun yang saya lihat indah, udara menyegarkan, cuaca menyejukkan, suara alam begitu damai. Matahari terbit terasa indah, terbenam juga indah, bulan juga indah, sampai rumput yang tumbuh pun terasa indah, membawa kedamaian.

Hari kedua meditasi jalan, saya memaknai hidup sama dengan meditasi jalan. Hidup tanpa tujuan, tanpa mengetahui apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sama halnya dengan berjalan dalam kegelapan, kita melewati hari hanya mengikuti rutinitas.

Semua orang punya cara dan reaksi yang berbeda dalam setiap kondisi yang dihadapinya, sama halnya saat berjalan dengan ritme berbeda dan juga cara berjalannya. Saat orang lain yang tidak sengaja melukai kita, sama halnya dengan batu kecil tidak tidak sengaja masuk ke dalam sepatu.

Perjalan hidup terkadang lancar, terkadang tidak lancar, sama halnya dengan medan jalan yang dilalui, berbatu, berpasir, penuh rumput atau tidak rata.

Titik Terang

Jika kita dapat terus bertahan dan melangkah maju, akan ada titik terangnya, tidak selamanya berjalan dalam kegelapan, ada matahari yang terbit menggantikan gelap menuju terang, hangatnya matahari mengusir rasa dingin yang dirasakan di awal berjalan.

Sepanjang menjalani kehidupan, pikiran dipenuhi dengan hal-hal positif, memancarkan cinta kasih ke semua akan terasa begitu indah. Matahari di Thailand dan di Indonesia sama saja,yang berbeda adalah bagaimana cara kita melihat, merasakan dan menanggapi hal yang berada di hadapan kita.

Jika sangat lelah, sedih dan kecewa, jangan dipaksakan, kita bisa menepi sebentar, mengeluarkan batu kerikil kecil yang tanpa sengaja masuk ke sepatu kita. Setelah siap kita baru melangkah kembali.

Saat berjalan terlalu cepat, di dalam kegelapan, tanpa sengaja menabrak atau menyakiti orang yang kita lalui dan tidak melihat sekitar, kita hanya fokus di depan, bagaimana bisa lebih cepat.

Saat berjalan terlalu lambat, kita ketinggalan barisan, tidak ada yang bisa kita minta bantuan. Berjalan tidak perlu terlalu cepat atau terlalu lambat, tapi mengikuti irama, mendengar suara alam, melihat keindahan di hadapan kita, perasaan damai membawa kebahagiaan.

Lepaskan

Sahabatku, terima kasih punya kondisi yang sangat baik bisa bertemu dan berlatih bersama. Sahabatku begitu luar biasa, belajar bersama selama beberapa hari, membuat saya mengerti bahwa di atas langit ada langit lagi. Membuat saya merasa begitu kecil dan membuat saya melihat keakuan yang ada di dalam diri saya.

Saya bukan orang yang paling menderita, saya bukan orang yang paling benar, semua orang ada masalah yang dihadapinya, akan tetapi reaksi dan cara menyelesaikannya adalah yang paling penting. Akhirnya sampah yang saya pungut dalam perjalanan hidup akhirnya bisa saya lepaskan.

Jika Anda melepas sedikit, Anda akan sedikit damai, Jika Anda melepas banyak, Anda akan banyak damai, Jika anda melepas penuh, Anda akan mengetahui kedamaian dan kebebasan penuh, Pergulatan Anda dengan dunia akan berakhir sudah

(Hello Happiness, Ajahn Brahm)

Saya akan berbagi sebuah kata kunci dari suhu :
Janganlah terpengaruh oleh masalah, kegelisahan, tidak nyaman, dan kemelekatan orang lain. Itu adalah urusan mereka. Suka, tidak suka, senang, tidak senang, nyaman, tidak nyaman biarlah mereka sendiri mengurusnya. Sementara ini, kita cukup menjaga kesadaran, terus belajar, berlatih dan berpraktik Dharma.

Terima kasih SUHU,

SVD