Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh

Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh

Sutra tentang Napas Berkesadaran Penuh adalah salah satu sutra terpenting dalam tradisi Plum Village, dan diajarkan di setiap retret Plum Village. Ketika Thich Nhat Hanh menemukan sutra ini, dia berkata, “Saya merasa saya adalah orang paling bahagia di dunia.

Terjemahan di bawah ini telah dipersiapkan oleh Thich Nhat Hanh dari Anapanasati Sutta, Majjhima Nikaya 118, dan juga ada di dalam buku Chanting from the Heart (Parallax Press, Rev.Ed., 2006). Terjemahan bahasa Inggris pertama Thay diterbitkan pada tahun 1988, dan beliau terus merevisi dan menyempurnakan terjemahannya dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk komentar lebih lanjut tentang teks ini, silakan melihat Thich Nhat Hanh, Breathe, You Are Alive! Sutra on the Full Awareness of Breathing (Parallax Press, Rev.Ed., 2010). Anda juga dapat membaca The Path of Emancipation: Talks from a 21-Day Mindfulness Retreat on the Discourse on the Full Awareness of Breathing (Parallax Press, 2000).

I

Aku mendengar sabda Buddha ini suatu ketika beliau menetap di Savatthi, di Taman Sebelah Timur, bersama sejumlah siswa yang terkenal dan berbakat, ada Sariputra, Mahamoggalyayana, Mahakassyapa, Mahakacchayana, Mahakotthita, Mahakappina, Mahachunda, Anuradha, Revata, dan Ananda. Para biksu senior dalam komunitas dengan tekun memberikan petunjuk kepada para biksu junior – beberapa mengajar sepuluh biksu, beberapa mengajar dua puluh, beberapa mengajar tiga puluh, dan beberapa mengajar empat puluh; dan dengan cara demikian para biksu yang baru berlatih mencapai kemajuan pesat secara bertahap.

Malam itu bulan purnama, dan Upacara Pavarana diadakan untuk mengakhiri retret musim hujan (vassa). Begawan Buddha, Yang Tercerahkan, sedang duduk di tempat terbuka, dan para siswa-Nya berkumpul di sekelilingnya. Setelah menatap semua orang yang hadir, Ia menyampaikan:

“Wahai para biksu, Saya bersukacita setelah mengetahui hasil yang telah Anda capai dalam latihan. Saya juga tahu Anda masih bisa mencapai kemajuan lebih jauh lagi. Apa yang belum Anda capai, bisa direalisasikan. Apa yang belum Anda sadari, dapat Anda sadari dengan sempurna. [Untuk ikut serta dalam memberikan dukungan] Saya akan menetap di sini hingga bulan purnama berikutnya. “

Ketika mereka mendengar bahwa Buddha akan menetap di Savatthi selama satu bulan lagi, para biksu dari seluruh negeri mulai berdatangan untuk menerima pelajaran dari Beliau. Para biksu senior terus mengajar para junior untuk berlatih bahkan lebih giat lagi. Beberapa biksu senior mengajar sepuluh biksu, beberapa mengajar dua puluh, beberapa mengajar tiga puluh, dan beberapa mengajar empat puluh. Melalui bantuan ini, para biksu yang lebih baru dapat, sedikit demi sedikit, mencapai kemajuan dalam pemahamannya.

Ketika bulan purnama berikutnya tiba, Buddha, duduk di bawah langit terbentang luas, melihat ke sekeliling para biksu yang berkumpul dan mulai menyampaikan:

“Wahai para biksu, komunitas kita murni dan baik. Pada intinya, dalam komunitas ini tidak ada pembicaraan yang tidak berguna dan kesombongan, dan oleh karena itu patut untuk menerima persembahan dan dipandang sebagai ladang jasa kebajikan. Komunitas seperti ini jarang ada, dan setiap peziarah yang mencarinya, tidak peduli seberapa jauh ia harus melakukan perjalanan, akan menganggapnya layak untuk dilakukan.

“O para biksu, ada biksu-biksu dalam kelompok ini yang telah mencapai tingkat Arahat, menghancurkan setiap akar kotoran batin (kilesa), meletakkan setiap beban, dan mencapai pengertian benar dan emansipasi. Ada juga para biksu yang telah memotong lima ikatan internal (samyojana) pertama dan mencapai hasil berupa tidak pernah kembali lagi (anāgāmī) ke siklus kelahiran dan kematian.

“Ada orang-orang yang telah melepaskan tiga ikatan internal pertama dan mendapatkan hasil berupa kembali sekali lagi (sakadāgāmi). Mereka telah memotong akar keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, dan hanya perlu kembali ke siklus kelahiran dan kematian sekali lagi. Ada orang-orang yang telah melepaskan tiga ikatan internal dan mencapai tingkat memasuki-arus (sotāpanna), dengan tenang berjalan menuju kondisi Yang Tercerahkan. Ada orang yang mempraktikkan Empat Landasan Kesadaran Penuh (satipaṭṭhāna). Ada orang yang mempraktikkan Empat Upaya Benar (sammappadhānā), dan ada yang mempraktikkan Empat Landasan Keberhasilan (Iddhipāda). Ada mereka yang berlatih Lima Pancaindra (pañca indriya), ada yang berlatih Lima Kekuatan (pañca bala), ada yang berlatih Tujuh Faktor Pencerahan (satta bojjhaṅgā), dan ada yang berlatih Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ada yang mempraktikkan cinta kasih, ada yang berlatih welas asih, ada yang berlatih sukacita, dan ada yang berlatih ekuanimitas (upekkhā). Ada yang mempraktikkan Sembilan Perenungan (paṭikkūlamanasikāra), dan ada yang berlatih Pengamatan tentang Ketidakkekalan. Ada juga para bhikkhu yang telah berlatih Napas Berkesadaran Penuh. ”

II

“O para biksu, napas berkesadaran penuh, jika dikembangkan dan dilatih secara terus menerus, akan bermanfaat dan membawa manfaat besar. Latihan ini akan menuntun pada keberhasilan dalam mempraktikkan Empat Landasan Kesadaran Penuh. Jika metode Empat Landasan Kesadaran Penuh dikembangkan dan dipraktikkan secara terus-menerus, praktik iini akan menuntun pada keberhasilan dalam latihan Tujuh Faktor Percerahan. Tujuh Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan memunculkan pemahaman dan pembebasan batin (pikiran).

“Bagaimana cara untuk mengembangkan dan berlatih metode Napas Berkesadaran Penuh secara terus-menerus sehingga latihan ini akan membawa hasil dan memberikan manfaat besar?

“Itu adalah seperti ini, para biksu: seorang praktisi pergi ke hutan atau di bawah kaki pohon, atau ke tempat yang sepi, duduk dengan stabil dalam posisi bersila berbentuk lotus, menegakkan tubuhnya, dan berlatih seperti ini: ‘Bernapas masuk, aku tahu aku sedang bernapas masuk. Bernapas keluar, aku tahu aku sedang bernapas keluar.’

1. ‘Menarik napas panjang, aku tahu aku sedang menarik napas panjang. Mengembuskan napas panjang, aku tahu aku sedang mengembuskan napas panjang.

2. ‘Menarik napas pendek, aku tahu aku sedang bernapas pendek. Mengembuskan napas pendek, aku tahu aku sedang mengembuskan napas pendek.

3. ‘Napas masuk, aku menyadari seluruh tubuhku. Napas keluar, aku menyadari seluruh tubuhku.’ Ia berlatih seperti ini.

4. ‘Napas masuk, aku menenangkan seluruh tubuhku. Napas keluar, aku menenangkan seluruh tubuhku.’ Ia berlatih seperti ini.

5. ‘Napas masuk, aku merasa sukacita. Napas keluar, aku merasa sukacita.’ Ia berlatih seperti ini.

6. ‘Napas masuk, aku merasa bahagia. Napas keluar, aku merasa bahagia.’ Ia berlatih seperti ini.

7. ‘Napas masuk, aku menyadari bentukan mentalku. Napas keluar, saya menyadari bentukan mentalku.’ Ia berlatih seperti ini.

8. ‘Napas masuk, aku menenangkan bentukan mentalku. Napas keluar, aku menenangkan bentukan mentalku.’ Ia berlatih seperti ini.

9. ‘Napas masuk, aku menyadari pikiranku. Napas keluar, aku menyadari pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

10. ‘Napas masuk, aku membuat pikiranku bahagia. Napas keluar, aku membuat pikiranku bahagia.’ Ia berlatih seperti ini.

11. ‘Napas masuk, aku memusatkan pikiranku. Napas keluar, aku memusatkan pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

12. ‘Napas masuk, aku membebaskan pikiranku. Napas keluar, aku membebaskan pikiranku.’ Ia berlatih seperti ini.

13. ‘Napas masuk, aku mengamati sifat ketidakkekalan dari semua dharma (fenomena). Napas keluar, aku mengamati sifat ketidakkekalan dari semua dharma.’ Ia berlatih seperti ini.

14. ‘Napas masuk, aku mengamati lenyapnya keinginan. Napas keluar, aku mengamati lenyapnya keinginan.’ Ia berlatih seperti ini.

15. ‘Napas masuk, aku mengamati hakikat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena. Napas keluar, aku mengamati hakikat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena.’ Ia berlatih seperti ini.

16. ‘Napas masuk, aku mengamati melepaskan. Napas keluar, aku mengamati melepaskan.’ Ia berlatih seperti ini.

“Napas Berkesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan terus menerus sesuai dengan petunjuk ini, akan bermanfaat dan membawa keuntungan besar.”

III

“Dengan cara apa seseorang mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan Napas Berkesadaran Penuh, agar berhasil dalam latihan Empat Landasan Kesadaran Penuh?

“Ketika praktisi menarik atau mengembuskan napas panjang atau pendek, menyadari napasnya atau seluruh tubuhnya, atau menyadari bahwa ia sedang membuat seluruh tubuhnya tenang dan damai, ia berdiam dengan damai mengamati tubuh di dalam tubuh, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Pertama, yaitu tubuh.

“Ketika praktisi menarik napas masuk atau keluar, menyadari sukacita atau kebahagiaan dari bentukan mental, atau untuk mengkondisikan bentukan mental menjadi damai, ia bersemayam dengan damai dalam mengamati perasaan di dalam perasaan, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Kedua, yaitu perasaan.

“Ketika praktisi menarik napas masuk atau keluar dengan kesadaran pikiran, atau untuk membuat pikiran menjadi bahagia, untuk mengumpulkan pikiran dalam konsentrasi, atau untuk melepaskan dan membebaskan pikiran, ia bersemayam dengan damai dalam pengamatan pikiran di dalam pikiran, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas dengan Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Ketiga, yaitu pikiran (batin). Tanpa Napas Berkesadaran Penuh, tidak akan ada perkembangan stabilitas dan pemahaman meditasi.

“Ketika praktisi bernapas masuk atau bernapas keluar dan merenungkan inti dari ketidakkekalan atau inti dari lenyapnya keinginan atau sifat tiada-kelahiran tiada-kematian dari semua fenomena atau melepaskan, ia bersemayam dengan damai dalam pengamatan objek pikiran dalam objek pikiran, tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini. Latihan bernapas Kesadaran Penuh ini termasuk dalam Landasan Kesadaran Penuh Keempat, yaitu objek pikiran (objek batin, dharma).

“Praktik Napas Berkesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan menuntun pada pencapaian sempurna dari Empat Landasan Kesadaran Penuh.”

IV

Lebih dari itu, jika mereka dikembangkan dan terus menerus dipraktikkan, Empat Landasan Perhatian Penuh akan menuntun pada Tujuh Faktor Pencerahan yang sempurna. Bagaimana bisa?

“Ketika praktisi dapat mempertahankan, tanpa gangguan, berlatih mengamati tubuh di dalam tubuh, perasaan di dalam perasaan, pikiran di dalam pikiran, dan objek pikiran di dalam objek pikiran, dengan tekun, terjaga sepenuhnya, dengan jernih memahami keadaannya, melampaui semua kemelekatan dan penolakan terhadap kehidupan ini, dengan stabilitas meditasi yang teguh, kukuh dan tak tergoyahkan, ia akan mencapai Faktor Pencerahan Pertama, yaitu kesadaran penuh (mindfulness). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat bersemayam dalam kestabilan meditasi tanpa terganggu dan dapat menyelidiki setiap dharma (fenomena, objek pikiran), setiap objek pikiran yang muncul, maka Faktor Pencerahan Kedua akan lahir dan berkembang dalam dirinya, yaitu faktor menyelidiki dharma (factor of investigating dharmas, dhamma vicaya). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat mengamati dan menyelidiki setiap dharma dengan cara berkelanjutan, tekun, dan teguh, tanpa terganggu, Faktor Pencerahan Ketiga akan lahir dan berkembang dalam dirinya, yaitu faktor energi (factor of energy, viriya). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi telah mencapai kestabilan, diam tak tergoyahkan dalam arus latihan, Faktor Pencerahan Keempat akan lahir dan dikembangkan dalam dirinya, yaitu faktor sukacita (factor of joy, pīti). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi dapat berdiam tanpa gangguan dalam keadaan sukacita, ia akan merasakan tubuh dan pikirannya menjadi ringan dan damai. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Kelima akan lahir dan dikembangkan, yaitu faktor kelegaan (factor of ease, passaddhi). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika tubuh dan pikiran tenang, praktisi dapat dengan mudah masuk ke dalam konsentrasi. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Keenam akan lahir dan dikembangkan di dalam dirinya, yaitu faktor konsentrasi (factor of concentration, samādhi). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

“Ketika praktisi berdiam dalam konsentrasi dengan ketenangan yang dalam, ia akan berhenti membeda-bedakan dan membandingkan. Pada titik ini, Faktor Pencerahan Ketujuh muncul, lahir, dan dikembangkan dalam dirinya, yaitu faktor pelepasan (factor of letting go, upekkha). Ketika faktor ini dikembangkan, itu akan menjadi sempurna.

Ini adalah bagaimana Empat Landasan Kesadaran Penuh, jika dikembangkan dan dipraktikkan secara terus menerus, akan menuntun pada pencapaian sempurna dalam Tujuh Faktor Pencerahan. ”

V.

“Bagaimana Tujuh Faktor Pencerahan, jika dikembangkan dan dipraktikkan terus menerus, menuntun pada pencapaian sempurna dari pemahaman sejati dan pembebasan penuh?

“Jika praktisi mengikuti jalan Tujuh Faktor Pencerahan, hidup di tempat terpencil yang tenang, mengamati dan merenungkan lenyapnya nafus keinginan, ia akan mengembangkan kemampuan untuk melepaskan. Ini akan menjadi hasil dari mengikuti jalan Tujuh Faktor Pencerahan dan akan menuntun pada pencapaian sempurna dari pemahaman sejati dan pembebasan sepenuhnya.”

VI

Inilah yang disabdakan oleh Begawan, Yang Tercerahkan; dan setiap orang di dalam pesamuhan tersebut merasa bersyukur dan gembira telah mendengar ajaran-Nya.

Anapanasati Sutta, Majjhima Nikaya 118

 

Gerakan Berkesadaran Ilustrasi

Gerakan Berkesadaran Ilustrasi
Ilustrasi oleh Vietske Vriezen

Oleh Thich Nhat Hanh | 24 Desember 2017

Thich Nhat Hanh memberikan tiga latihan untuk kesejahteraan tubuh dan batin kita.

Berkesadaran penuh (mindfulness) adalah kemampuan kita untuk menyadari apa yang terjadi baik di dalam diri kita maupun di sekitar kita. Mindfulness adalah kesadaran yang berkesinambungan dari tubuh, emosi, dan pikiran kita. Melalui berkesadaran penuh, kita menghindari menyakiti diri sendiri dan orang lain, dan kita dapat melakukan keajaiban. Jika kita hidup dengan penuh kesadaran dalam kehidupan sehari-hari, berjalan dengan penuh kesadaran, penuh cinta kasih dan perhatian, maka kita dapat menciptakan keajaiban dan mengubah dunia menjadi tempat yang indah. Kejernihan batin mengalir dari mindfulness. Ketika kita sadar penuh, kita dapat berlatih pikiran benar dan ucapan benar. Dengan energi berkesadaran penuh, kita selalu dapat kembali ke rumah sejati kita, yaitu saat ini.

Praktik berkesadaran penuh mencakup semua bidang dan aktivitas, termasuk tindakan keseharian yang sederhana dan setiap napas kita. Kita sering menganggap bernapas hanyalah keterampilan alami biasa; semua orang tahu bagaimana cara menghirup dan mengembuskan napas. Akan tetapi bernapas adalah keajaiban. Menyadari napas tidak hanya membantu kita mengatasi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi juga membantu mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih kita. Kita dapat duduk bersila dan bernapas, tetapi berlatih bernapas penuh kesadaran saat kita bergerak juga sama pentingnya.

Hidup adalah sebuah jalan, tetapi hidup bukan tentang pencapaian pada tempat tertentu. Gerak berkesadaran di bawah ini adalah cara untuk berlatih bergerak tanpa suatu tujuan atau niat. Gerak berkesadaran adalah cara yang bagus untuk menghubungkan antara pikiran dan tubuh Anda di dalam mindfulness. Ketika Anda melakukannya, silakan menikmati setiap bagian dari setiap gerakan. Lakukan apa yang Anda bisa. Mereka tidak seperti aerobik, di mana Anda harus bergerak secepat mungkin. Tidak perlu terburu-buru. Ketika saya melakukannya, saya menemukan diri saya tidak bisa menahan senyum. Saya harap gerakan-gerakan ini memberi Anda sukacita.

Untuk memulai, berdirilah dengan kedua kaki kokoh di atas lantai, dan dibuka selebar bahu. Lutut Anda lembut, sedikit ditekuk dan tidak terkunci. Berdirilah dengan tegak dan santai. Kendurkan kedua bahu Anda. Bayangkan seutas benang tak terlihat menempel di bagian atas kepala Anda dan menarik Anda ke atas langit. Jaga agar tubuh tetap tegak, masukkan sedikit dagu Anda ke dalam agar leher bisa rileks. Biarkan napas masuk turun hingga ke perut. Kemudian buang napas sepenuhnya. Lanjutkan bernapas secara perlahan, sadari setiap napas masuk dan napas keluar.

Bumi dan Langit

Buka kaki Anda selebar pinggul. Bernapas masuk, angkat tangan hingga ke atas kepala, kedua telapak tangan menghadap ke depan. Regangkan sepenuhnya, dan lihat ke atas seakan-akan Anda menyentuh langit. Bernapas keluar, tekuk pinggang saat Anda menurunkan tangan untuk menyentuh bumi. Lepaskan ketegangan di leher Anda. Dari posisi ini, tarik napas masuk dan jaga punggung tetap lurus saat Anda kembali naik ke atas dan menyentuh langit. Lakukan gerakan menyentuh bumi dan langit ini sebanyak tiga hitungan lagi.

 

Jadilah Seperti Bunga

Bernapas masuk, angkat kedua lengan ke samping, telapak tangan menghadap ke atas, kedua lengan setinggi bahu, dan sejajar dengan lantai. Bernapas keluar, sentuh bahu Anda dengan ujung jari, jaga agar lengan atas agar tetap horizontal. Bernapas masuk, buka kedua lengan Anda, rentangkan hingga ke posisi horizontal lagi. Bernapas keluar, tekuk kedua siku, bawa ujung jari kembali ke bahu. Ketika Anda menarik napas masuk, Anda seperti bunga yang terbuka di bawah sinar matahari yang hangat. Saat mengembuskan napas keluar, bunga menutup. Dimulai dari posisi dengan ujung jari di bahu, lakukan gerakan ini tiga kali lagi. Kemudian turunkan kembali kedua lengan Anda ke samping badan.

Membuat Lingkaran dengan Kaki

Mulailah dengan kaki Anda berdiri tegak dan kedua tangan Anda di pinggang. Letakkan berat badan Anda di kaki kiri dan, bernapas masuk, angkat kaki kanan lurus di depan Anda, lalu buatlah gambar lingkaran menjauh dari Anda ke arah kanan. Bernapas keluar, buatlah lingkaran ke arah belakang dan turunkan di belakang Anda, biarkan jari kaki menyentuh lantai. Bernapas masuk, angkat kaki Anda ke belakang, lalu buatlah lingkaran menjauh dari Anda ke arah kiri. Bernapas keluar, lanjutkan membuat lingkaran ke arah depan, lalu turunkan kaki Anda dan letakkan kaki di lantai, biarkan berat badan Anda kembali berada di kedua kaki. Sekarang lakukan latihan dengan kaki lainnya. Ulangi rangkaian gerakan ini sebanyak tiga hitungan lagi. ♦

Diadaptasi dari Mindful Movements: Ten Exercises for Well-Being, oleh Thich Nhat Hanh, atas izin dari Parallax Press.

Astrid Prajogo

Astrid Prajogo

Pendiri dan CEO di Haofood, Cina

Bisakah Anda mengubah sistem makanan yang sudah ketinggalan zaman menjadi sesuatu yang jauh lebih berbasis tanaman (plant-based), berkelanjutan (sustainable), dan ramah hewan (animal friendly), tetapi tidak harus mengidentifikasi diri sebagai vegan? Oh, tentu saja! Bagi Astrid Prajogo, kira-kira seperti ini:

“Sebagai orang Indonesia, saya memiliki hubungan yang kuat dengan laut. Kami berenang, snorkeling, dan menyelam di laut setiap saat sejak masa kanak-kanak. Itu memberi kami banyak kebahagiaan,” kenangnya. “Pada salah satu sesi menyelam saya di Bali delapan tahun lalu, saya mulai melihat semakin banyak warna karang yang berubah menjadi putih. Momentum itu benar-benar menyadarkan saya, seperti: “Wah, perubahan iklim memang sangat nyata”. Itu membuat saya berpikir bahwa jika perubahan iklim itu nyata, maka mungkin akan segera sulit bagi kita untuk mendapatkan bahan makanan dengan kualitas terbaik. Hal-hal tidak selalu semudah dan terjangkau seperti sekarang ini.” Sebagai seorang foodie (dan juga manusia), membayangkan kelangkaan makanan lezat benar-benar telah mengguncangnya.

“Daging nabati yang lezat dapat membantu non-vegan mendukung orang yang mereka cintai dengan lebih baik.”

Inspirasi, hal yang disukai dan kiat hidup:

  • Kiat hidup pada masa pandemi yang membantu Anda bertahan hidup di tahun 2021: Praktik bernapas berkesadaran penuh dan berjalan berkesadaran penuh tanpa berpikir atau “tiba” di mana pun. Tidak hanya pada tahun 2021 tetapi selama lima belas tahun terakhir ini.
  • Seseorang yang menginspirasi Anda: Thich Nhat Hanh.
  • Serial/film terakhir yang membuat Anda terjaga: Emily in Paris (sangat lucu!)
  • Buku favorit/Buku yang harus dibaca semua orang: Anger dan How to Eat oleh Thich Nhat Hanh.
  • Obsesi podcast terbaru: Saya tidak punya podcast favorit. Namun saya paling sering mendengar podcast dari guru saya Thich Nhat Hanh dan mentor saya di Plum Village.
  • Aplikasi yang menurut Anda paling berharga: Plum Village App.
  • Makanan favorit/suguhan vegan favorit: Baguette, roti khas Prancis, dan sayuran tumis ala Kanton.

Pertama, dia tidak bisa membayangkan menjadi seorang vegan. “Rasanya seperti konflik yang tidak pernah berakhir dalam diri saya: Saya tahu saya harus mengubah cara makan saya untuk mempertahankan kebahagiaan saya dari makanan yang baik, dan salah satu cara utama untuk melakukannya adalah dengan mengurangi asupan daging, tapi saya tidak menyukai rasa daging vegan yang saya kenal selama ini. Saya yakin saya tidak sendirian dalam hal ini.” Segalanya mulai berubah pada saat dia menyantap Beyond Burger dan Impossible Meat. “Lalu saya mengerti. Produk-produk itu sangat berbeda dalam rasa dan tekstur dari daging vegetarian tradisional Cina yang saya pikir adalah satu-satunya alternatif saya! Itu mengilhami saya untuk membuat ayam nabati yang sangat lezat,” kata Astrid tentang momen yang menentukannya itu.

Pengalaman tujuh belas tahun dalam berwirausaha, mulai dari komunikasi kreatif hingga keahlian memasak (gastronomy), sepertinya merupakan dasar yang baik untuk dikembangkan. Sosok perempuan yang selalu bangga terhadap Indonesia yang pindah ke Tiongkok 23 tahun lalu, Astrid, sebelumnya telah membangun Good Indonesian Food, disajikan di Kementerian Pariwisata Indonesia, dan dengan kegiatan tersebut, telah memperkenalkan kepada banyak orang akan budaya lokal yang autentik, yang kaya dan beragam. Dia bisa melakukan hal serupa di industri protein nabati, sambil melakukan perjalanannya sendiri. Haofood, perusahaan ayam vegannya yang berbasis di Shanghai yang menggunakan protein kacang sebagai bahan dasar, mulai bersinar di tahun 2020. “Motivasi tambahan adalah putri saya yang berusia 9 tahun menjadi vegetarian dalam semalam. Meskipun saya sangat bangga padanya, sebagai seorang ibu, saya juga merasa stres karena dia tidak dapat menemukan apa pun untuk dimakan, dan saya khawatir apakah dia akan mendapatkan nutrisi yang tepat.

“Saya ingin memberdayakan orang untuk mengalami keajaiban dan pesona magis makanan, dan membuat mereka lebih bahagia melaluinya, selamanya.”

“Ketika saya melakukan sesuatu, saya memberikan dedikasi diri saya 100%. Saya hanya ingin yang terbaik dari yang terbaik, tidak ada yang lain selain yang terbaik. Jika tidak, saya tidak akan melakukannya. Dan ketika saya melakukannya, itu selalu terbayarkan. Jika saya tidak mendapatkan hasil yang saya proyeksikan, setidaknya saya mendapat pelajaran yang bagus dan itu membantu saya untuk melompat.” Dalam satu tahun, mereka tumbuh dari 4 anggota pendiri menjadi tim yang terdiri dari 20 orang, dan dari 0 restoran menjadi 150 gerai restoran. Puas namun ingin lebih, dia mengerjakan sesuatu yang bagi setiap pengusaha yang memiliki misi tahu dengan baik: “Bagaimana saya mempertahankan diri saya secara efisien dan efektif untuk jangka pendek, menengah, dan panjang sehingga saya dapat melayani dan mengangkat orang lain?” Bekerja 80 jam seminggu, ini adalah tantangan utama yang harus dihadapinya. Dalam jangka panjang, dia terutama ingin melihat orang-orang lebih menghargai, penuh perhatian, dan sadar penuh dengan pilihan makanan mereka. “Saya ingin memastikan bahwa anak-anak saya, anak-anak kita, dan anak cicit kita dapat mengakses makanan berkualitas baik dengan harga paling terjangkau di masa depan.”

Astrid adalah salah satu Food Heroes untuk tahun 2022. Lihat lebih banyak kisah inspiratif dan mengubah dunia dari Food Heroes di website https://www.v-label.eu/food-heroes-20.

Two Promises

Two Promises
Two Promises – Sr. The Nghiem

Unduh Mp3 klik sini

I vow to develop understanding
in order to live peacefully with people,
animals, plants, and minerals (2x)
mmm… ahh…
mmm… ahh…
mmm… ahh..

I vow to develop my compassion,
in order to protect the lives of people,
animals, plants, and minerals (2x)
mmm… ahh…
mmm… ahh…
mmm… ahh…

A New Year’s Beginning Anew

A New Year’s Beginning Anew
Shangha Festival Holiday Retreat in Thai Plum Village

Tahun 2020 sudah kita masuki. Tahun 2019 sudah kita lewati. Tetapi apakah ia benar-benar berlalu? Apakah kita benar-benar siap menyambut tahun yang baru?

Banyak orang suka memakai momentum awal tahun untuk membuat aspirasi baru. Kita menuliskan resolusi dan aspirasi baru dengan aspirasi dan semangat yang baru dan kuat. New Year New Me. Tahun yang baru, saya yang baru. Tahun memang berganti yang baru, tetapi apakah kita juga berubah menjadi kita yang baru? Bagaimana caranya? Menjadi baru bukan berarti sekadar mengubah penampilan luar, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai pribadi manusia yang baru. Jika kita tidak berubah, maka tidak ada yang baru.

Pada kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia selalu menjalin hubungan, baik dengan sesama manusia atau human relationship (mencakup keluarga, kerabat, teman, kolega, bahkan orang asing) dan dengan bukan manusia atau non-human relationship (mencakup alam, pekerjaaan, perangkat elektronik seperti handphone dan laptop, media sosial, musik, makanan, buku, barang-barang kepemilikan, olah raga, agama, budaya dan adat istiadat, dan lain sebagainya).

Pernahkah kita menyadari berapa banyak dari waktu yang kita miliki satu hari yang kita habiskan pada hal-hal di atas? Apakah lebih banyak pada human relationship atau pada non-human relationship? Lalu bagaimana hubungan dengan diri kita sendiri? Pernahkah kita menjalin persahabatan dengan diri sendiri?

Melihat ke dalam diri sendiri

Sebelum kita melihat bagaimana hubungan dengan orang atau hal lain, mari kita melihat ke dalam diri sendiri terlebih dahulu. Thay selalu mengingatkan kita untuk kembali pada diri sendiri, kembali ke napas dan tubuh kita. Kita sering lupa dengan diri kita. Praktik kembali pada diri sendiri dan merawat diri sendiri adalah penting.

Pertama-tama, ambil posisi yang nyaman untuk duduk atau sitting. Sadari setiap napas masuk dan keluar. Kemudian, tanyakan pada diri, “Apa kabar dengan diri saya saat ini? Bagaimana keadaan diri saya saat ini? Apa yang sedang terjadi dengan diri saya saat ini?” Tawarkan persahabatan dengan diri kita sendiri. Berikan senyum pada diri sendiri dengan kasih sayang. Tumbuhkan welas asih dan kegembiraan pada diri sendiri.

Kegembiraan yang dimaksud bukanlah kegembiraan sesaat seperti bermain game, berbelanja, atau menonton film, melainkan kegembiraan yang lebih dalam, yang dapat bertahan lebih lama, seperti menikmati alam, meditasi jalan atau kegiatan lain yang dapat mendatangkan kegembiraan yang berlangsung lebih lama.

“Jika kita dapat hadir bagi diri sendiri,
kita dapat hadir bagi orang lain.”

Ketika kita kembali pada diri sendiri, kita dapat menemukan orang tua dan para leluhur kita juga ada dalam diri kita. Mereka mewariskan sebagian hal dalam diri kita, melalui gen di sel tubuh ataupun melalui karakter dan sifat. Kita tumbuh bersama itu semua, selain energi kebiasaan dari diri kita dan pengaruh dari lingkungan dan budaya tempat tinggal kita. Dalam diri kita juga terdapat ‘inner child’, diri kita ketika kecil atau muda dulu.

Jika kita melihat lebih mendalam, mungkin kita dapat melihat inner child kita yang terperangkap oleh suatu pengalaman yang tidak mengenakkan di masa kecil. Kita bisa menawarkan persahabatan, welas asih dan kegembiraan pada inner child dalam diri kita, bahkan mungkin kebebasan. Banyak yang bisa kita lakukan ketika kita kembali pada diri sendiri dan melihatnya secara mendalam.

Beginning anew’ dengan diri sendiri

Tidak berbeda dengan ‘beginning anew’ dengan orang lain, kita dapat melakukan langkah pertama dari tahap ini, yaitu flower watering, mengungkapkan apresiasi pada diri sendiri.

“Apa saja yang saya syukuri dari diri saya? Apa saja kebaikan yang ada dalam diri saya? Apa saja kebaikan yang ada dalam hati saya dan tindakan saya? Hal apa dari dalam diri saya yang saya apresiasi?”

Menyadari dan mengetahui kebaikan diri sendiri dapat mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang mendalam pada diri.

Langkah kedua adalah mengungkapkan penyesalan kita pada diri sendiri. Mungkin ada interaksi ataupun sesuatu hal yang kurang menyenangkan yang telah kita lakukan pada diri sendiri. Akuilah pada diri sendiri, tetapi jangan menyalahkan diri sendiri.

Langkah ketiga adalah ungkapkan kesulitan yang kita alami bersama diri sendiri. Beri tahu saja, tapi jangan berpikir untuk langsung dapat menyelesaikan masalah yang ada saat itu juga. Ingatlah bahwa dalam diri kita juga ada warisan dari leluhur kita, dan juga pengalaman inner child di masa lalu kita. Jangan menghukum diri sendiri atau membuat diri kita makin menderita lagi. Katakan saja kesulitan yang dialami bersama diri sendiri.

Langkah keempat adalah ungkapkan aspirasi yang ingin dicapai bersama diri sendiri atau minta dukungan pada diri sendiri agar dapat melakukannya lebih baik.

Dalam beginning anew dengan diri sendiri, terkadang tidak perlu melakukan keempat langkah ini sekaligus. Bisa hanya melakukan langkah pertama dan kedua, lalu keempat. Satu lagi, tidak perlu menunggu ketika muncul kesulitan baru kita lakukan beginning anew dengan diri sendiri. Kapan saja ketika kita ingin melakukannya, lakukanlah.

Beginning anew dapat menyegarkan hubungan kita dengan diri sendiri sehingga kita dapat mencintai diri dengan lebih baik lagi. Beri ruang pada diri sendiri, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jika kita dapat mencintai diri sendiri, kita akan lebih mudah untuk mencintai orang-orang di sekitar kita.

“To be beautiful means to be yourself.
You don’t need to be accepted by others.
You need to accept yourself.”

-Thich Nhat Hanh

RUMINI LIM guru sekolah Ananda di Bagan Batu dan mengajar mindfulness class

Sadar, Bebas Khawatir dan Belajar Memahami dengan Mindfulness

Sadar, Bebas Khawatir dan Belajar Memahami dengan Mindfulness

Secara umum mindfulness dapat diartikan suatu sikap kesadaran penuh akan diri saat ini. Tidak berpikir ke masa lalu ataupun masa depan atau tidak mengkhawatirkan masa lalu maupun masa depan. Singkatnya, mindfulness dapat diartikan tubuh dan pikiran benar-benar bersatu. Mindfulness itu sadar setiap saat dan fokus pada masa kini. Hal yang menarik dari hal di atas bagi saya pribadi adalah “tidak khawatir ke masa lalu ataupun masa depan.”

Sampai pada akhirnya, dalam suatu acara saya mendengar kalimat ini, “Fokus saja pada masa kini, kalau kamu persiapkan saat ini, maka pada masa yang akan datang kau akan bahagia.” Sama seperti murid akan ujian, kalau dia mulai sekarang atau saat ini belajar, maka dia akan bisa mengikuti ujiannya. Kalimat ini saya dengar ketika mengikuti retret guru pada November 2018 di Sibolangit. Hal tersebut sangat mengubah pola pikir saya.

Di Sini, Saat Ini

Dalam agama saya, ada ayat Alkitab yang mengatakan begini “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Sebenarnya banyak ayat Alkitab lain yang menuliskan tentang kekhawatiran, tetapi saya tetap merasa khawatir. “Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Dan bagaimana akhirnya?” Pertanyaan-pertanyaan demikian sering muncul di kepala saya, tentu saja itu membuat saya sangat khawatir.

Banyak hal yang saya sukai tentang mindfulness, dan banyak hal yang saya pelajari ketika mengikuti Retret dan Day of Mindfulness (DOM). Mindfulness mengubah hidup saya menjadi lebih penyabar dan menjadi sadar penuh akan hal-hal yang saya lakukan. Hidup di saat ini.

Pada meditasi makan, saya belajar mencukupkan makanan yang ingin saya komsumsi, belajar tidak serakah dan belajar mementingkan orang lain yang berada di antrian belakang. Mengunyah makanan lebih dari 24 kali juga baik untuk lambung, baik untuk kesehatan, dan membuat kita kenyang. Ini baik untuk program diet. Hal-hal tersebut juga saya dapat pada pembelajaran mindfulness.

Deep Listening

Penerapan mindfulness pada pembelajaran di sekolah membuat saya banyak belajar, terutama dalam menghadapi orang tua. Ketika ada orang tua yang marah, saya berpikir, “oh…ibu atau bapak ini belum mindful”, atau “oh… ibu atau bapak ini belum belajar mindful.” Mindful mengajari saya untuk banyak belajar.

Pada serangkaian acara pada DOM dan retret, saya paling menyukai meditasi yang saling berhadapan berpasangan. Face to face. Eye to eye. Meditasi ini membuat kita dapat melihat langsung wajah teman kita. Menceritakan hal positif kepada teman. Hanya hal positif.

Bagi saya, hal yang menarik adalah mengetahui hal-hal positif dalam diri yang semula tidak saya ketahui. Saya menjadi tahu bahwa orang lain ternyata memperhatikan saya. Saya juga memiliki kesempatan untuk memberitahu orang lain hal-hal positif yang ada di dalam dirinya, yang mungkin semula tidak dia sadari. Saya yakin itu membuat mereka bahagia, hal tersebut dapat terlihat dari senyum mereka.

Saya pernah mendengar pepatah “jangan terlalu percaya dengan pujian, karena ada orang yang memuji setulus hati, ada yang hanya ingin menguji hati.” Saya termasuk tipe orang yang tidak terlalu suka dengan pujian. Entah bagaimana, pujian justru membuat saya menjadi lebih bersemangat akhir-akhir ini.

Kegiatan Positif

Di sekolah kami sebenarnya sudah pernah melakukan kegiatan ini, saling memberi pujian atau hal positif kepada rekan sekerja. Hal tersebut sangat membantu saya dalam bekerja. Contohnya ketika teman sekerja marah atau melakukan hal-hal yang membuat saya jengkel atau marah, maka saya hanya akan mengingat hal-hal positif yang pernah dia katakan kepada saya, dan hal-hal positif yang pernah saya katakan kepadanya. Ini membantu saya dapat mengontrol emosi saya.

Dampak positif yang saya rasakan setelah mengikuti retret adalah saya menjadi merasa bersalah ketika menceritakan hal-hal negatif tentang seseorang. Rasa bersalah ini terasa karena ketika meditasi “menyirami benih kebaikan” saya bertemu dengan dia. Saat bercerita, kata-katanya yang paling saya ingat adalah, “Saya pun tersiksa memiliki sifat begini Bu, sebenarnya saya tidak mau marah, tapi entah kenapa saya tetap marah”. Saat itu saya pun bertekad untuk tetap memiliki pandangan positif terhadapnya. Dan memang, ketika kita bisa dekat dengan seseorang akan banyak hal-hal positif yang bisa kita lihat pada orang tersebut.

Selain hal positif yang saya katakan kepada teman, hal kedua yang saya dapatkan ketika retret meditasi berhadapan adalah saya juga mencurahkan “uneg-uneg” kepada teman saya. Kemungkinan hal ini bukan masalah untuknya, tapi ini selalu mengganggu saya. Suatu hari dia pernah berkata, “Aku menyesal meninggalkan pekerjaanku kak, menyesal juga meninggalkan pelayananku di gereja.” Tapi setelah dia kembali, dia tidak melakukan hal yang dia katakan. Itu membuat saya kesal dan sedih. Tapi setelah retret itu, dia kembali bersama-sama kami lagi. Yeah….. ! hehehe

Rasa Syukur

Terima kasih saya ucapkan kepada Bhante Y.M Nyanabhadra yang sudah membimbing kami selama retret. Kepada ibu Sri selaku volunteer, kepada ibu Rumini yang selalu memiliki ide-ide, dan kepada bu Merlyna dari Yayasan. Semoga selalu diberkati dan menjadi berkat untuk orang lain.

Saya juga merasa bersyukur selama retret bisa bersama dengan Ibu Lusi dan Ibu Lilis. Mereka adalah ibu dan istri yang luar biasa. Ibu Lilis yang sangat sayang kepada anaknya, dan ibu Lusi yang sangat sayang kepada suaminya. Berada bersama dalam satu kamar selama tiga hari membuat saya lebih banyak mengetahui hal-hal positif tentang mereka.

Bagan batu, 23 Juli 2019
MARISAH TAMPUBOLON, Guru Sekolah Ananda Bagan Batu

Nothing Shall Be Impossible

Nothing Shall Be Impossible
Meditasi Jalan, Retret Edukator Sekolah Ananda, Bagan Batu

September 2018, tahun lalu, saya mengenal istilah BIBO. Sekarang sudah pertengahan 2019. Waktu berlalu begitu cepat. Saya makin akrab dengan BIBO yaitu Breathing In Breathing Out. Istilah unik ini datang dari Sekolah tempat saya mengajar, sekolah Ananda di Bagan Batu.

Ada seorang guru, namanya Rumini, akrab kita sapa Laoshi Ani. Dialah yang mengajarkan BIBO kepada saya lewat metode mindfulness, teknik untuk selalu sadar akan momen kekinian, apakah itu dalam situasi yang baik maupun kurang baik.

Hadir Seutuhnya

Mindfulness adalah keadaan yang ditandai oleh munculnya introspeksi diri, keterbukaan pikiran, refleksi dan penerimaan diri apa adanya dengan sikap positif (M . Jojo Raharjo, 2008). Introspeksi diri membuat saya makin tertarik dengan kegiatan Mindfulness.

Teknik mindfulness mangajarkan saya untuk selalu hadir di sini dan saat ini melalui bernapas masuk dan bernapas keluar (breathing in breathing out). Teknik ini juga mencakup makan dengan berkesadaran agar bisa mempertahankan kesehatan. Kegiatan lain seperti deep relaxation melalui teknik body scanning (pemindaian tubuh). Mencintai alam dengan walking meditation. Meningkatkan rasa syukur lewat “BIBO”.

Saya bahkan mengikuti akun sosial media yang berkaitan dengan praktik mindfulness seperti @plumvillageindonesia dan Thich Nhat Hanh collective quotes. Melalui akun tersebut saya mengenal seorang biksu Zen, Thich Nhat Hanh yang menjadi panutan bagi Buddhis dan non Buddhis di seluruh dunia. Pelopor mindfulness sejati menurut saya.

Berdoa

Mindfulness telah memberi pengaruh positif bagi saya. Simpel, lewat penerapan BIBO. Ada satu kisah waktu kecil hingga sekolah menengah atas. Saya diajarkan untuk rajin berdoa di gereja. Sejak SMP saya sudah ikut melayani Tuhan dengan menjadi guru sekolah minggu di Gereja Kesukuan di kampung saya.

Doa adalah hidup saya. Berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, berdoa sesudah bangun tidur, berdoa dalam suka dan duka. Berdoa sudah begitu melekat dalam diri saya.

Ada suatu ketika saya berhenti melakoninya. Alasannya, saya tidak lolos seleksi ke universitas yang saya dambakan. Saya berhenti berdoa sejak itu. Saya tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Mungkin sebagai bentuk tuntutan atau protes ketidakadilan Tuhan pada saat itu.

Saya belum buntu, walau tidak masuk ke universitas negeri yang saya dambakan, saya pun beralih ke universitas swasta. Jurusan yang saya pilih adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya lulus sebagai sarjana pendidikan.

Tahun 2018 saya diterima di SD swasta Yayasan Pendidikan Ananda. Di tempat inilah titik balik hubungan saya dengan Tuhan. Saya menerapkan mindfulness lewat praktik BIBO, dan entah mengapa secara alamiah saya merasa mengalami hubungan saya dengan Tuhan membaik.

Melalui mindfulness saya diajarkan untuk hidup bersyukur atas berkat dan keadaan yang saya dapat pada saat ini. Teknik ini Mengajarkan untuk hidup dengan penuh cinta kasih dengan sesama manusia, alam dan juga Tuhan. Saya ”disadarkan” untuk mengubah pola hidup dengan lebih meningkatkan sifat-sifat baik yang ada dalam diri saya.

Sadar Pancaindra

Tanggal 15- 17 Juli 2019 kami kembali mengikuti retret mindfulness yang dihadiri juga oleh seorang biksu. Bagi saya beliau lebih ahli dalam praktik mindfulness tentunya. Saya mendapatkan banyak sekali bahkan terlalu banyak hal-hal baik dalam acara itu. Beliau bernama Bhante Nyanabhadra. Beliau mengajari saya untuk selalu “sadar” pancaindra agar emosi negatif tidak bisa berbuat semena-mena.

Tata cara sifat manusia beliau gambarkan seperti “ruang tamu” dan “gudang”. Di dalam ruang tamu biasanya tempat menjamu para tamu yang datang, emosi apa pun selalu berkumpul di ruang tamu. Di dalam “gudang” merupakan tempat penyimpanan sifat positif dan negatif yang diibaratkan sebagai benih. Jika ada suatu kejadian masuk melalui pancaindra maka menyentuh benih itu lalu muncul di ruang tamu.

Jika lupa menerapkan “BIBO”, maka sifat negatif bisa membuat kekacauan di ruang tamu, membuat kita menjadi manusia yang lebih kental sifat negatifnya. Melalui BIBO juga saya belajar mencintai diri sendiri, sesama dan juga alam, ini membuat saya menjadi lebih kental sifat positifnya. Itulah yang beliau ajarkan kepada kami

Rasa Haru

Saya sangat menyukai sesi sitting meditation di pagi hari. Bhante Nyanabhadra melantunkan syair meditasi pagi, bernyanyi dengan suara lembut dan menyentuh. Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Kesalahan dan dosa-dosa yang saya lakukan terlintas dalam pikiran kemudian menguap begitu saja. Saya makin disadarkan bahwa saya masih belum apa-apa dalam hal berbuat baik terhadap Tuhan, sesama dan lingkungan.

Saya mengutip satu catatan yang sempat saya tulis di dalam note saya. Beliau berkata ”Masa lalu telah pergi, masa depan belum juga tiba, hanya ada satu masa untuk hidup, yaitu masa sekarang.” Lalu saya teringat dengan kutipan dari biksu Thich Nhat Hanh yang berkata ”Because you are alive everything is possible”.

Saya langsung teringat ada ayat di Alkitab yang sangat saya sukai yaitu, Luke 1:37 ”With God nothing shall be imposible”. Saya kemudian menggabungkan kutipan tersebut ke dalam sebuah pemahaman baru “Karena kamu hidup di momen ini, bersama dengan Tuhan, maka segalanya menjadi mungkin”.

Mari BIBO

Pengalaman praktik mindfulness mulai membuat kualitas hidup saya makin membaik. Saat ini saya fokus memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan saya. Satu hal yang saya rasakan, mindfulness tidak akan pernah merugikan pelaku mindfulness.

Pedoman saya sebagai pemula di kegiatan ini adalah “When you touch one thing with deep awareness, you touch everything,” ~ Thich Nhan Hanh. Praktik ini memiliki kontribusi positif yang sangat besar bagi saya, semoga demikian juga untuk Anda. Mari ber”BIBO” bersama-sama.

Bita Astuanna Siburian, guru sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.

Berbesar Hati lewat Mindfulness

Berbesar Hati lewat Mindfulness
Foto bersama Retret Guru Sekolah Ananda Bagan Batu, Riau.

Mindfulness merupakan meditasi terapan. Saya bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya mencobanya terus setiap hari. Praktik Mindfulness membantu saya mengatasi stress dan menghindari cemas.

Day Of Mindfulness (DOM) adalah istilah yang saya tahu. Saya mendapatkan teknik ini dari Sekolah Ananda Bagan Batu. Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal apa itu Mindfulness. Lalu Ibu Rumini memperkenalkan Mindfulness ini kepada saya.

Praktik ini ternyata membuahkan perubahan pada diri saya. Perubahan ini mungkin kecil, namun ada sebuah keyakinan besar bahwa teknik ini perlahan-lahan merubah saya menjadi lebih baik lagi.

Momen Positif

Pertama kali saya praktik mindfulness lewat duduk hening di pagi hari dengan diawali suara lonceng tiga kali. Saya bersama teman-teman sekadar duduk hening dan relaks sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.

Saya mencoba untuk lebih relaks sepanjang melakukan pekerjaan, saya mengatur napas masuk dan napas keluar. Inilah awal saya mencoba mulai mempraktikkan mindfulness dalam aktivitas sehari-hari terutama untuk diri sendiri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari setiap acara DOM yang dilaksanakan di sekolah. DOM pasti selalu bisa membuat saya terkesan dan bahagia. Hati saya menjadi lebih tenang. Setidaknya, setelah DOM ada perubahan positif yang saya rasakan.

Terkadang saya merasa setiap kali selesai DOM pasti ada saja momen positif yang terjadi. Melalui praktik mindfulness ini saya jauh merasa lebih bisa menghargai diri saya sendiri. Makan dengan hening menjadi salah satu hal positif yang saya dapatkan.

Anugerah Tuhan

Makan bersama-sama di meja makan dengan hening tanpa suara dan mengambil makanan secukupnya. Makan dengan penuh kesadaran dan tidak terburu-buru membuat saya lebih mensyukuri hidup ini.

Saya tersentak sadar bahwa selama ini saya belum mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan. Saya selalu makan terburu-buru dan ingin cepat selesai apalagi jika sudah lapar. Saya tidak mengunyah makanan dengan baik, sehingga perut saya bisa sakit tiba-tiba ketika diisi makanan dengan tidak teratur.

Sekarang, saya bersama suami sudah mulai perlahan-lahan membiasakan makan dengan hening tanpa suara sambil mensyukuri nikmatnya makanan tersebut. Mungkin memang belum seutuhnya bisa, tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menyayangi diri sendiri lewat pola makan berkesadaran, pelan, dan sehat.

Meredakan Emosi

Napas masuk napas keluar, salah satu praktik mindfulness yang selalu saya coba setiap hari. Ketika saya marah, saya jadi lebih bisa meredakan emosi lewat napas. Di rumah, jika ada hal-hal yang membuat saya kesal, saya berusaha tidak langsung marah.

Saya mencoba untuk bernapas masuk dan keluar, setelah itu saya merasa emosi saya mulai turun. Saya bisa membicarakan baik-baik tentang hal yang membuat saya kesal itu.

Demikian juga ketika ada kejadian tegang seperti berbeda pendapat dengan suami. Saya mencoba untuk mendengarkannya dengan sabar. Setelah mendengar saya menjadi lebih mengerti, lalu kami sama-sama mencari jalan keluar.

Sejak saya mengenal DOM, saya merasa menjadi jauh lebih sabar dalam menghadapi anak-anak di sekolah, terutama dalam proses belajar mengajar di kelas. Saya dapat lebih memahami anak-anak tersebut setiap kali berhadapan dengan tingkah laku mereka.

Berbesar Hati

Sangat banyak manfaat dan hal-hal positif yang saya rasakan. Praktik mindfulness membuat kehidupan sehari-hari saya menjadi lebih tenang dan bahagia. Relasi dengan suami, keluarga, lingkungan sekitar, teman-teman, rekan kerja, serta anak- anak didik saya, mulai terjadi perubahan.

Saya merasa perubahan terjadi dalam diri saya sendiri, bahkan sangat-sangat mengubah cara saya melihat berbagai kejadian hidup. Sebuah momen yang begitu luar biasa yang sudah saya rasakan dari praktik Mindfulness ini adalah bisa membuat saya lebih berbesar hati memaafkan orang lain (ini menurut pengalaman saya).

Kenapa saya mengatakan ini sebuah momen? Karena Mindfulness inilah saya punya kekuatan baru utnuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri juga berdamai dengan mereka yang saya anggap menyakiti hati saya.

Di dunia kerja, saya pernah mengalami kesalahpahaman yang terjadi di antara sesama rekan kerja, dengan hati yang ikhlas saya berdamai dan melepaskan beban yang ada di dalam hati.

Banyak hal baik yang sudah terjadi dari awal saya mengikuti kegiatan DOM ini di sekolah saya, kegiatan yang bisa membuat hati saya jauh lebih tenang dan bahagia daripada sebelumnya.

Bersama-sama

Saya punya cerita kecil tentang retret bersama Bhante Nyanabhadra di pertengahan Juli 2019. Retret itu memberi kesan yang sangat sangat mendalam. Sejak awal hingga akhir retret banyak hal positif yang saya rasakan.

Kami bernyanyi bersama-sama, makan bersama dengan hening penuh kesadaran, duduk hening di pagi hari, relaksasi total, menonton bersama, meditasi teh sambil sharing, jalan berkesadaran, circle sharing dan hal-hal yang lain yang buat saya bahagia selama mengikuti retret itu.

Oh ya noble silent. Saya entah mengapa sangat menyukai latihan itu. Begitu selesai acara pada malam hari, kami masuk kamar lalu benar-benar menggunakan waktu istirahat untuk tidur tanpa mengobrol dengan teman-teman sekamar dan melakukan aktivitas apa pun.

Saya sungguh merasakan manfaatnya dari noble silent. Pagi hari saya bangun, badan dan mata menjadi lebih segar karena tidur tepat waktu. Saya pun berinisiatif akan mencoba melakukan noble silent ini di rumah. Semoga saya bisa!

Berdamai

Pada hari terakhir, saya membuat suatu momen yang akan selalu saya ingat, yaitu berdamai dengan diri sendiri! Ya hari itu saya berusaha keras untuk mampu berdamai dengan diri saya sendiri. Meminta maaf dan mau memaafkan orang yang saya anggap menyakiti hati saya.

Kesalahpahaman yang terjadi di antara saya dan rekan kerja selama ini bisa saya atasi dengan akhir bahagia. Rasa sakit hati yang selama ini sulit untuk saya maafkan, akhirnya saya mencoba berdamai dengan hati saya agar bisa memaafkan rekan saya.

Semoga praktik Mindfulness ini dapat lebih saya terapkan di kehidupan sehari-hari.
Terima kasih Bhante Y.M Nyanabhadra
Terima kasih Ibu Sri Astuti
Terima kasih Ibu Merlyna
Terima kasih Ibu Rumini Lim
Terima kasih teman-teman seperjuangan di Yayasan Pendidikan Ananda

Riama Juni Wanti Rajagukguk, Guru Sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.

14 Syair untuk Meditasi oleh Thich Nhat Hanh

14 Syair untuk Meditasi oleh Thich Nhat Hanh

Thich Nhat Hanh
Buku Pendarasan Plum Village

1

Bagai sepasang sayap burung,
praktik berhenti (śamatha)
dan menatap mendalam (vipaśyanā)
saling menopang
Satu kesatuan berdampingan

2

Śamatha adalah praktik berhenti,
agar saya bisa mengenali dan menyentuh,
menutrisi dan menyembuhkan,
menenangkan dan melahirkan konsentrasi

3

Vipaśyanā adalah menatap mendalam
tentang sifat sejati dari pancaskandha
agar saya dapat menumbuhkan pengertian
dan mentransformasikan penderitaan

4

Napas dan langkah saya memungkinkan
saya membangkitkan energi kewawasan
sehingga saya bisa menyadari dan menyentuh
keajaiban kehidupan di dalam dan di sekeliling

5

Menenangkan tubuh dan pikiran
menerima nutrisi dan penyembuhan
melindungi ke-enam indra
saya tetap terkonsentrasikan

6

Menatap mendalam ke dalam inti realitas
untuk melihat sifat sejati berbagai fenomena
mempraktikkan vipaśyanā membuat saya bisa
melepaskan segala dambaan, nafsu, dan ketakutan

7

Berada dalam momen kini dengan damai
mentransformasikan energi kebiasaan
menumbuhkan energi pengertian membebaskan
saya dari kegelapan batin dan kepedihan

8

Ketidakekalan dan ‘tiada aku’ sesungguhnya satu
Tiada aku menyatu dengan saling ketergantungan
menyatu dengan kekosongan, menyatu dengan sebutan konvensional
menyatu dengan jalan tengah, menyatu dengan interbeing

9

Kekosongan, tiada label, dan tiada tujuan
membebaskan saya dari penderitaan
agar dalam latihan keseharian
Saya tidak terjebak dalam intelektual belaka

10

Nirwana adalah non pencapaian
Pencerahan seketika atau bertahap tiada bedanya
Realisasi sejati adalah hidup dengan bebas
saat ini pada momen ini

11

Sutra-sutra intisari, seperti
wejangan tentang Pernapasan Berkewawasan
dan Empat Landasan Kewawasan
menunjukkan kepada saya jalan mentransformasi
tubuh dan pikiran, langkah demi langkah

12

Sutra-sutra dan ajaran-ajaran Mahayana
membuka banyak gerbang lebar dan segar
memungkinkan saya memasuki kedalaman arus
meditasi yang mengalir dari sumber asal ajaran Buddha

13

Tidak mendiskriminasi
semua latihan yang diajarkan oleh
Tathagata dan guru-guru leluhur
Empat Kebenaran Mulia terjalin dengan sempurna
Mesti menjadi dasar dari transmisi autentik

14

Didukung oleh Tubuh Sanggha
Latihan saya mengalir lebih mudah
memungkinkan saya untuk menyadari dengan cepat
tekad terbesar saya untuk mencintai dan memahami semua mahkluk

Alih Bahasa: Endah & Finny Owen

Thich Nhat Hanh, Pengajar Kewawasan Telah Pulang ke Vietnam

Thich Nhat Hanh, Pengajar Kewawasan Telah Pulang ke Vietnam

Setelah Setengah Abad, Guru Perdamaian Pulang ke Vietnam

Ditulis oleh Richard C. Paddock untuk New York Times pada 16 Mei 2019

Thich Nhat Hanh menerima pengunjung di Vihara Tu Hieu di Hue, Vietnam, pada bulan Maret. Sumber: Pham untuk The New York Times

HUE, Vietnam — Biksu Buddha, Thich Nhat Hanh telah lama ditolak haknya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Vietnam. Beliau telah tinggal di luar negeri lebih dari lima dekade, mengkampanyekan melawan perang dan mengajar praktik kewawasan (mindfulness).

Pendeta Dr. Martin Luther King Jr. menyebut beliau sebagai teman dan merekomendasikan beliau untuk menerima Penghargaan Nobel Perdamaian 1967. Beberapa tahun kemudian, para pemimpin perusahaan teknologi utama merangkul ajaran master Zen tersebut. Oprah Winfrey pun mewawancarai beliau. Presiden Barack Obama mengutip beliau selama kunjungannya ke Vietnam pada tahun 2016.

Kini setelah berusia 92 tahun dan menderita dampak strok berat, Thich Nhat Hanh diam-diam pulang ke rumah, ke kota Hue di pusat Vietnam untuk menjalani hari-hari terakhirnya di biara tempat dia menjadi novis (samanera) di usia 16 tahun.

“Pemerintah Vietnam Selatan yang telah mengasingkannya,” ucap Sister True Dedication, seorang murid biara dari Thich Nhat Hanh dan mantan jurnalis BBC. “Beliau telah berharap sejak lama untuk pulang.”

Thich Nhat Hanh telah melakukan sebagai mana banyak orang pada beberapa dekade belakangan ini untuk menyebarkan konsep kewawasan ke seluruh dunia. Ajaran beliau telah diadopsi di wilayah yang tidak biasanya seperti Silicon Valley, Bank Dunia, Kongres dan Tentara Amerika Serikat.

Vihara Tu Hieu adalah tempat Thich Nhat Hanh menjadi samanera pada usia 16 tahun. Sumber: Linh Pham untuk The New York Times

Sejak dia kembali ke Wihara Tu Hieu pada akhir Oktober, kehadiran Thich Nhat Hanh telah menarik ratusan pengikutnya yang terkadang menanti selama berhari-hari sambil berharap dapat melihat beliau sekilas didorong di kursi rodanya di sekitar lapangan tersebut.

Thich Nhat Hanh pernah fasih menggunakan tujuh bahasa, tetapi strok yang dideritanya pada tahun 2014 membuatnya lumpuh sebagian dan tak mampu bicara.

Pemerintah komunis Vietnam tidak memberikan komentar kepada publik atas kepulangan beliau, tetapi beberapa pejabat tinggi datang untuk bertemu secara pribadi dan memberikan hormatnya. Duta besar Amerika Serikat untuk Vietnam, Daniel Kritenbrink telah berkunjung setelah kepulangan beliau dan merasa terhormat bisa bertemu langsung dengan beliau.

Bulan lalu, sembilan senator Amerika Serikat mengunjungi Thich Nhat Hanh. Kemudian beberapa dari mereka memaparkan bahwa itu adalah pertemuan yang sangat emosional.

“Ini jauh melampaui pengalaman politik,” ucap Senator Patrick Leahy dari partai Vermont Democrat yang memimpin delegasi tersebut melalui telepon. “Ini merupakan pengalaman yang sangat religius.”

Senator lain dalam grup tersebut, Tom Udall dari partai New Mexico Democrat mengatakan bahwa dia berpartisipasi dalam lokakarya dengan Thich Nhat Hanh pada tahun 2003 sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sejak berpartisipasi tersebut, dia pun mulai melakukan meditasi setiap hari.

Thich Nhat Hanh dengan anak dari salah satu pengikutnya. Sumber: Linh Pham dari The New York Times

Salah satu ajaran yang dia anut adalah yang disebut Thich Nhat Hanh sebagai meditasi jalan. “Sejak saya bertemu dengan Anda, ketika saya berjalan ke lantai Senat untuk memberikan suara, saya mengingat bahwa saya mencium bumi dengan kaki saya,” ucap Senator Udall pada biksu tersebut di Hue.

Pemerintah Vietnam mengizinkan Thich Nhat Hanh untuk mengunjungi negara tersebut pertama kali pada tahun 2005, 39 tahun setelah kepergiannya, tetapi izin untuk pulang kembali baru dikabulkan belakangan ini.

Secara internasional, beliau adalah salah satu tokoh Vietnam yang paling dikenal dan paling dihormati. Beliau dan Dalai Lama sering disebut bersama sebagai dua biksu Buddha yang paling berpengaruh di zaman modern.

Selama hidup di pengasingan, Thich Nhat Hanh telah mendirikan 10 biara dan pusat latihan di enam negara. Keenam negara tersebut termasuk Amerika Serikat, Perancis dan Thailand. Beliau telah menulis lebih dari 100 buku yang telah dijual jutaan kopi di Amerika Serikat saja. Jumlah pengikutnya ada ratusan ribu.

Banyak orang Amerika mengenalnya sebagai pengajar utama tentang kewawasan, yaitu kondisi mental yang dicapai dengan memusatkan perhatian pada momen kini. Beliau menciptakan istilah “Agama Buddha yang terjun aktif” (Engaged Buddhism) dan mendorong umat Buddha bertindak meningkatkan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung dan mempromosikan kedamaian.

“Gagasan mengenai Engaged Buddhism kini telah menyebar luas,” ucap John Powers, profesor peneliti dan pakar ajaran Buddha di Universitas Deakin, Australia.

Wisatawan di Vihara Tu Hieu. Sumber: Linh Pham untuk New York Times

Pada tahun 1960. Thich Nhat Hanh meninggalkan tempat yang nantinya menjadi Vietnam Selatan ke Amerika Serikat. Beliau mengajar agama di Universitas Princeton dan Universitas Columbia. Kemudian pada tahun 1963 beliau pulang untuk berperan memimpin pergerakan umat Buddha menentang perang di sana.

Beliau pergi lagi ke Amerika Serikat pada tahun 1966 dan berjumpa dengan Dr. King di Chicago dan tampil bersama. Selama beliau di sana, Vietnam Selatan melarang beliau kembali ke Vietnam.

Pertemanan beliau dengan Dr. King dimulai setahun sebelumnya ketika dia menulis untuk menjelaskan mengapa biksu Buddha dan biarawati yang merupakan teman dan rekan beliau telah membakar diri di Vietnam Selatan untuk memprotes perang.

“Saya katakan bahwa ini bukan bunuh diri,” ucap beliau kepada Oprah Winfrey pada wawancara mereka di tahun 2010. “Terkadang kami perlu membakar diri kami demi untuk didengarkan. Ini dilakukan karena welas asih. Ini merupakan tindakan cinta kasih dan bukan keputusasaan.”

Beliau mendorong Dr. King untuk mengambil sikap menentang perang, seperti yang beliau lakukan pada tahun 1967. Kemudian Dr. King mendesak Nobel Institute untuk memberikan penghargaan Perdamaian kepada Thich Nhat Hanh di tahun tersebut.

“Ini adalah Guru perdamaian dan anti kekerasan, yang secara kasar dipisahkan dari bangsanya sendiri ketika mereka ditindas oleh perang ganas yang telah bekembang mengancam kewarasan dan keamanan seluruh dunia,” tulis Dr. King.

Martin Luther King, Jr. berkata tentang Thich Nhat Hanh: “Saya pribadi tidak tahu siapa yang lebih layak lagi akan Hadiah Nobel Perdamaian selain biksu baik hati asal Vietnam ini.” Foto milik Parallax Press.

Di tahun-tahun berikutnya, Thich Nhat Hanh mengabdikan hidupnya untuk mengajar kewawasan dan engaged Buddhism.

Pada tahun 2013, di usia 87 tahun, beliau berkunjung ke Amerika Serikat dan mengadakan praktik kewawasan di kantor pusat Bank Dunia di Washington dan di perusahaan teknologi di San Francisco Bay Area.

Setelah beliau terserang strok setahun kemudian, beliau diundang kembali ke San Francisco oleh pengikut terkemuka, seorang milyader Marc Benioff yang mendirikan perusahaan komputasi awan Salesforce.

Benioff mengatur agar beliau dapat menjalani perawatan rehabilitasi di Pusat Medis UCSF yang dikenal dalam menangani korban strok. Beliau pun tinggal di rumah Benioff selama enam bulan bersama dengan rombongan 50 pengikut tambahan.

“Kami membuka rumah kami bagi mereka, dan mereka pindah ke dalam,” ucap Benioff dalam suatu wawancara. “Mendadak rumah kami berubah menjadi pusat spiritual.”

Terinspirasi dengan cara mereka memasukkan kewawasan dalam kehidupan keseharian, Benioff pun menjadikannya sebagai bagian dari budaya perusahaan dan membuat pusat meditasi di setiap lantai Menara Salesforce, bangunan tertinggi di San Francisco.

“Kita hidup dalam masyarakat yang mana kita menyala secara terus menerus, dan selalu menyala tidaklah alami,” ucapnya. Benioff mengatakan bahwa kewawasan melepas kita dari kecepatan dan kerumitan serta kebisingan kehidupan keseharian, kita pun bisa kembali dalam kedamaian.

Inti dari ajaran Thich Nhat Hanh adalah gagasan bahwa orang harus berusaha untuk “menjadi damai” dan melalui latihan, mengatasi kemarahan dan emosi negatif.

“Musuh kita bukanlah manusia, tetapi intoleransi, kefanatikan, kediktatoran, keserakahan, kebencian dan diskriminasi yang terbentang dalam hati manusia” tulisnya kepada Dr. King pada tahun 1966.

Jalan masuk ke Vihara Tu Hieu. Sumber Linh Pham untuk New York Times

Sumber: New York Times

Alih bahasa: Endah