A Drop of Enlightenment in the Boundless Ocean

A Drop of Enlightenment in the Boundless Ocean
Fun With Dharma, KMVB UPH @PondokSadhanaAmitayus Cipayung

A constant feeling of consternation and curiosity combined together, a mind filled with thoughts that are unnecessary, a dormant way of thinking. That was how I felt before the five days pilgrimage began at Pondok Sadhana Amitayus, Cipayung, West Java. Well, it was not exactly a pilgrimage as I just spent the days at one place but it was definitely a journey for my soul.

KMVB UPH (Keluarga Mahasiswa Vidya Buddhis, Universitas Pelita Harapan) hosted an event called “Fun with Dharma” which basically means learning Dharma in a fun way. It was hosted in Cipayung, at a place called Pondok Sadhana Amitayus. It was led by Bhante Nyanabhadra (Br. Pháp Tử), a student of the world-renowned Zen Master, Thich Nhat Hanh. Bhante Nyanabhadra faced through many challenges in order to become one of 800 disciples of this great Zen master.

The challenges surely created many experiences for him because I can feel the knowledge emitting from his mouth every time he answered one of our stupid question. Stupid questions lead to great replies and great replies led to a great quote. “Do your best but not to be the best!” One of the spontaneous quote that he made during the Dharma Talk.

I can feel the burgeoning growth of my soul after listening talk about the principles of Buddhism. The ever-increasing Dharma knowledge about Buddhism. What is admirable about Bhante Nyanabhadra is his open-mindedness towards everyone’s perspective. Some might criticize him about how he acts but no matter what, people cannot criticize the way he pour the Dharma into us. It was poured in the most simplistic way, thus I can understand them easily.

For instance, I asked a very difficult question about finding the right partner and although, sometimes he found the questions rather complicated and unanswerable, he still provided us the best possible solution that he can think of. Not only that, the solution he provided was not biased in any way because he demonstrated his answer with perspectives not only his but also others’ perspectives. In the end of every Dharma talk session, he would say “Do not believe 100% of what I have said, always take time to digest them.” I was in awe of his modesty despite his achievements and intelligence.

It was not just Bhante Nyanabhadra that made the pilgrimage whole, but also the system. What I meant by system is how we eat, walk, taking the stairs, meditate, stopping when the clock chimes every 15 minutes and many others. Just by the way we eat, we were growing as a family of friends; because we have to wait for everyone to get their food and sit on our little circle of awkwardness. It was awkward at first, but the results were magnificent.

The solidarity, the sense of belonging, the feeling of a family; all of that dormant feelings woke up from their dreams. Furthermore, with the 15 minutes of constant chiming created a more unique sensation. Bhante Nyanabhadra instructed us to go back to our breath every time the clock chimes. Therefore, I have to stop and observe our pattern of breathing when I hear the ‘bell’ sound. It was strange at first but one of the funniest moments was probably invented there.

We consistently meditated at 5:30 am in the morning for 5 consecutive days. There was sitting meditation, walking meditation, and mindful movements. The sitting meditation lasted about 20-30 minutes in which Bhante Nyanabhadra gives simple instructions such as “Breathing in, I am aware of my in breath. Breathing out, I am aware of my out breath.” It helped us to get into the zone.

Afterwards, we did some walking meditation indoor and outdoor. In the case of outdoor, we ambled and ventured in the nature behind the house. Being in the present moment that I was, I observed how the leaves dancing when the wind blew past them; the grass gently kissing our feet; the mountains spreading across the horizon; the boundless blue sky; the tinkling sound of the bell.

All in all, the Amitayus pilgrimage experience was absolutely a good way to end our exam and start our holiday. The experiences that I obtained during this event was priceless and it was all thanks to our karma that I was able to attend “Fun With Dharma” with many other friends. I cannot say that I have completely understood Buddha’s teachings however, I for sure gained a drop of enlightenment in the boundless ocean of Buddha’s teachings.

One of the participant, student of Universitas Pelita Harapan, member of Keluarga Mahasiswa Vidya Buddhis

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Mindfulness Class: Meditasi Kerikil
Mindfulness Class: Meditasi Kerikil

Batu kerikil (pebble) adalah bagian dari alam dan sangat mudah ditemukan dimana-mana. Supaya lebih menarik lagi, saya mengecat beberapa batu contoh agar anak-anak lebih fokus. Dua minggu ini pun diisi dengan memperkenalkan meditasi kerikil untuk semua kelas.

Sebelum berpraktik meditasi, saya mejelaskan terlebih dahulu tentang empat hal yang diwakili oleh setiap kerikil.

Kerikil pertama mewakili unsur bunga

Setiap manusia adalah seperti setangkai bunga di semesta. Seperti halnya bunga, manusia juga dapat layu dan tidak segar karena banyaknya masalah dan tekanan yang dihadapi. Oleh karena itu kita perlu menata dan mengembalikan kesegaran kita.

“Bunga berarti kesegaran kita. Kita semua memiliki kemampuan untuk menjadi segar, kekuatan untuk menjadi segar. Jika kita kehilangan kesegaran, maka kita bisa berpraktik menarik dan mengembuskan napas, sambil menata kembali kesegaran kita. Kamu juga sekuntum bunga, dan kamu memiliki kesegaranmu. Kita akan menjadi indah kembali, setiap kali kita menata kembali kesegaran kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai bunga.

Mengembuskan napas, saya merasa segar.

Bunga, segar.”

Kerikil kedua mewakili gunung yang kokoh

Terkadang muncul rasa gelisah, rapuh, tidak percaya diri dan putus asa dalam diri kita. Sehingga dibutuhkan kekokohan dan kestabilan dalam batin kita agar tidak goyah.

“Gunung mewakili kekokohan dan kestabilan. Ada pegunungan di dalam batinmu, karena ketika kamu berpraktik meditasi duduk dan meditasi jalan, kamu sedang menumbuhkan kemampuanmu untuk kokoh dan stabil. Kekokohan dan kestabilan sangatlah penting bagi kebahagiaan kita. Kita tahu bahwa kita memiliki kemampuan untuk stabil, kemampuan untuk kokoh. Jika kita tahu cara berpraktik berjalan sadar penuh, atau duduk sadar penuh, maka kita menumbuhkan kekokohan kita, kestabilan kita. Itulah gunung di dalam batin kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai gunung.

Mengembuskan napas, saya merasa kokoh.

Gunung, kokoh.”

Kerikil ketiga mewakili air yang tenang

Ketika permukaan air tenang, ia akan memantulkan apapun yang ada ada di atasnya dengan sempurna. Ketika kita hening, kita akan melihat segala hal sebagaimana adanya. Sebaliknya, jika kita tidak tenang, kita akan menjadi korban persepsi keliru.

“Air yang tenang memantulkan langit, awan, dan pegunungan. Air yang tenang sangatlah indah. Saat airnya tenang, maka ia akan memantulkan apapun seperti apa adanya, tanpa menambah atau menguranginya. Ketika kita belajar cara untuk menarik dan mengembuskan napas dengan sadar penuh, kita bisa menenangkan diri kita. Kita menjadi tenang dan damai, tidak lagi menjadi korban pandangan keliru. Kita memiliki kemampuan untuk menjadi luar biasa jernih, dan itulah air yang tenang di dalam batin kita.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai air yang tenang.

Mengembuskan napas, saya memantulkan apapun sebagaimana adanya.

Air yang tenang, memantulkan.”

Kerikil keempat mewakili ruang yang bebas

Ruang adalah kebebasan dan kebebasan adalah fondasi dari kebahagiaan sejati. Ketika diminta untuk memilih, pasti kita akan memilih berada di ruang yang luas dan bebas, alih-alih terhimpit dan sesak. Tetapi pada kenyataannya, kita sering berada dalam kondisi yang sesak akibat masalah dan tugas-tugas keseharian kita. Untuk itu, kita perlu menumbuhkan ruang dalam diri dan juga memberi ruang pada orang di sekitar kita, agar kita dapat merasa bahagia.

“Kita perlu memiliki ruang di dalam batin kita, agar kita bisa mengalami kebebasan dan sukacita. Tanpa ruang, kita tidak bisa berbahagia atau penuh kedamaian. Menarik dan mengembuskan napas, kita menyadari bahwa ada banyak sekali ruang di dalam batin kita. Ketika kita berpraktik, dalam cara yang bisa menumbuhkan ruang di dalam batin kita, maka kita menjadi bebas dan berbahagia.
Menarik napas, saya melihat diriku sebagai ruang.

Mengembuskan napas, saya merasa bebas.

Ruang, bebas.”

Setelah mendapat penjelasan, anak-anak lalu mengambil sikap duduk bermeditasi sambil memegang kerikil yang telah dibagikan. Usai bermeditasi, saya membagi lembaran kertas praktik untuk mereka gambar. Menggambar bunga, gunung, air yang tenang serta ruang yang bebas, sesuai imajinasi mereka.

Sebelum kelas berakhir, saya meminta mereka untuk menjawab pertanyaan di balik lembaran gambar mereka. Pertanyaan berupa kapan mereka merasa segar, semangat, penuh semangat dan ceria; kapan mereka merasa kokoh, kuat, dan penuh percaya diri; kapan mereka merasa tenang, hening, sunyi dan fokus; dan kapan mereka merasa bebas, ringan, dan relaks. Dari jawaban-jawaban yang terkumpul saya dapat merasakan kepolosan cara berpikir anak-anak. Sederhana dan tidak rumit.

This slideshow requires JavaScript.

Ada yang menarik setelah selesai sesi meditasi kerikil ini. Sekelompok anak-anak bersemangat mendatangi saya sambil menyodorkan batu yang telah mereka cari sendiri untuk saya beri warna. Hahaha.. Semoga praktik yang telah diberikan dapat mereka pahami dan praktikkan di rumah, serta bermanfaat bagi perkembangan spiritual mereka. (Rumini Lim)*

“Through mindful breathing and visualization, the qualities of freshness, solidity, clarity, and freedom are cultivated using the images of a flower, a mountain, still water, and a spacious blue sky. The pebbles help us make what can be abstract concepts into something more concrete.”

This slideshow requires JavaScript.

RUMINI LIM guru sekolah Ananda di Bagan Batu dan mengajar mindfulness class

Keindahan dari Sesuatu yang Sederhana

Keindahan dari Sesuatu yang Sederhana

Meditasi Minum Teh
Meditasi Minum Teh

Pada Sabtu, 24 Maret 2018 ini, kami akan berlatih meditasi mindfulness di kota kabupaten Muara Bungo. Keistimewaan dari latihan mindfulness kali ini adalah tambahan latihan meditasi menggunakan lilin yang mensimulasikan pelita dalam diri masing-masing.

Perjalanan dan Persiapan

Kami berkumpul di wihara pada pukul 6 pagi dan berangkat bersama-sama melalui jalan darat tepat pada pukul 06.30 pagi. Sepanjang kiri dan kanan jalan antara Jambi hingga Muara Bungo di Sumatera ini banyak terlihat pepohonan sawit dan karet yang mungkin bagi sebagian orang kurang menarik. Kendati demikian kami bahagia dapat menikmati perjalanan dengan bersenda gurau.

Sesuai dengan perkiraan, waktu tempuh ke lokasi memakan waktu 6 jam. Tepat pukul 12.30 siang. Perjalanan panjang yang berkelok-kelok tentunya membuat rasa lapar lebih terasa. Untungnya tuan rumah langsung menyambut dengan sajian makan siang yang sangat nikmat.

Jumlah peserta meditasi mindfulness kali ini berjumlah 32 orang. Latihan mindfulness dimulai pukul 14.00, dengan susunan jadwal relaksasi total, meditasi duduk, meditasi minum teh dan sharing pengalaman dan cerita. Persiapan segala kebutuhan latihan dan pembagian tugas dilakukan mulai pukul 13.30. Tugas-tugas tersebut mencakup menyiapkan teh dan makanan kecil, dokumentasi dan lain-lain.

Kami harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar dapat selesai latihan sesuai jadwal, sebab wihara akan dipakai untuk kebaktian puja Mahayana (liam keng). Hari ini memang bertepatan dengan hari uposatha tanggal 8 penanggalan lunar.

Relaksasi total

Kegiatan ini dilakukan selama 45 menit diiringi dengan renungan dan backsound yang mengantarkan relaksasi sangat berkualitas. Sahabat dari Bungo membawakan relaksasi ini dengan sangat apik walau pun baru perdana.

Relaksasi Total
Relaksasi Total

Meditasi Duduk

Usai relaksasi total, saya pun membacakan tuntunan meditasi duduk dari buku retret “Go as a River”. Meditasi ini kami lakukan selama 15 menit, mulai dari pukul 15.00 hingga pukul 15.15. Kemudian para peserta dipersilakan break selama 15 menit yang bisa dimanfaatkan untuk ke kamar kecil atau sekadar mengambil minum. Para volunteer pun menyiapkan teh dan makanan kecil.

Meditasi Duduk
Meditasi Duduk

Meditasi Minum Teh

Mengingat jumlah peserta yang cukup banyak dan kami harus bisa selesai tepat waktu, maka para volunteer membantu menuang teh yang akan dibagikan. Meditasi minum teh ini dimulai tepat pukul 15.30 dan saya menjelaskan cara melakukan pembagian gelas teh dan makanan kecil.

Saya mengangkat nampan dengan cangkir-cangkir berisi teh dan mengarahkan ke sahabat di sisi kanan saya. Sahabat tersebut akan beranjali dan mengambil satu cangkir teh dengan penuh perhatian dan meletakkannya di lantai. Kemudian kembali beranjali lagi ke saya dan menyambut nampan dari saya. Saya pun beranjali kepadanya sebelum dia mengarahkan nampan tersebut ke sahabat di sisi kanannya. Begitulah seterusnya nampan teh tersebut berpindah dari satu sahabat ke sahabat yang lainnya.

Ternyata cangkir teh di satu nampan tersebut tak cukup untuk seluruh peserta yang telah duduk melingkar dalam sebuah lingkaran besar. Seorang volunteer pun membawa satu nampan yang sudah disediakan di depan saya untuk menyambung nampan yang sudah kosong.

Cara yang sama pun dilakukan ketika mengedarkan makanan kecil. Makanan kecil kali ini terdiri dari chaipao mini (bakpao berisi chai = sayur-sayuran) dan brownies yang telah dipotong kecil-kecil. Masing-masing makanan dialasi dengan daun pisang yang digunting berbentuk bundar menyerupai piring kertas kecil.

Ketika lonceng dibunyikan, para peserta mengikuti instruksi untuk mengangkat cangkir teh masing-masing. Mereka pun mendengarkan syair minum teh yang saya bacakan.

 Secangkir teh di dalam kedua tanganku

Aku membangkitkan kesadaran sepenuhnya

Badan jasmani dan pikiran hadir sepenuhnya di sini dan saat ini.

 

Meditasi minum teh secara hening ini dilakukan selama 15 menit, yang diakhiri dengan mendengarkan bunyi lonceng.

Meditasi Minum Teh dan Sharing
Meditasi Minum Teh dan Sharing

Sharing 

Pada acara sharing, seorang sahabat bertanya mengenai posisi relaksasi total. Apakah harus tidur telentang lurus? Apakah tidak boleh miring ke kiri atau kanan?

Sahabat yang lain pun menjawab bahwa inti relaksasi total adalah mendapatkan posisi seluruh tubuh yang benar-benar relaks. Jika pertama-tama terasa kurang nyaman atau tidak relaks, maka dapat dicoba merelakskan seluruh tubuhnya. Lama-lama pun akan terbiasa.

Relaksasi total merupakan sesi yang sangat disukai, rata-rata peserta merasa sangat nyaman dan relaks setelah relaksasi total.

Ada juga pernyataan menggelitik dari salah seorang peserta yang baru pertama kali mengikuti latihan. “Mau minum teh saja kok repot, dari haus, sampai tidak terasa haus lagi.” Melihat mendalam atas kerepotan itu, ternyata bisa ditemukan pelatihan kesabaran. Jika fokus pada kesabaran maka benih kesabaran tersirami. Jika fokus pada kerepotan maka benih kerepotan yang tersirami.

Tepat pukul 16.30 acara sharing pun ditutup dengan membacakan sutra pelimpahan jasa. Hal ini dilakukan untuk mendedikasikan seluruh jasa kebajikan yang telah kami lakukan bersama-sama selama 2½ jam kepada para leluhur dan semua makhluk.

Cerita Si Buta dan Lentera

Pada rangkaian latihan ini sebenarnya ada satu sesi yang seharusnya dilakukan beruntun. Tetapi sesi tersebut cocoknya dilakukan pada malam hari, sehingga kami pun melakukan kegiatan sesi tersebut di malam harinya.

Sesi ini terinspirasi dari suatu artikel mengenai seorang buta yang membawa lentera di malam hari yang suasananya gelap. Si buta pun ditanya oleh orang yang berpapasan dengannya, “Mengapa engkau  membawa lentera? Apakah engkau menyalakan lentera untuk orang lain?”.

“Saya menyalakan lentera untuk diri saya sendiri,” jawab si buta.

Orang yang berpapasan pun kembali bertanya pada si buta,” Bukankah engkau buta dan tak bisa membedakan terang atau gelap?”

Si buta pun menjawab, “Tadi saya berjalan tanpa lentera dan beberapa kali saya tertabrak oleh orang lain yang berjalan berlawanan arah dengan saya. Saya pun menyalakan lentera agar orang lain dapat melihat jalan dan juga saya.”

Bila kita mampu menyalakan lentera atau pelita kita masing-masing maka kita akan bisa memperlihatkan terang kepada orang lain. Saat orang lain tergugah oleh terangnya lentera kita maka orang tersebut pun akan menyalakan lenteranya sendiri.

Lantas bagaimana cara melakukannya ?

Meditasi dengan Lilin

Caranya sederhana dan mudah, dan semoga simulasi ini dapat memberi inspirasi lebih kepada sahabat-sahabat terkasih.

Meditasi dengan Lilin
Meditasi dengan Lilin

Pertama-tama kami mempersiapkan backsound instrument lagu ‘lilin-lilin kecil’ dari Chrisye dan lilin-lilin untuk dibagikan. Setiap lilin diselipkan kertas agar lelehannya tak menetes di tangan. Masing-masing sahabat mendapatkan satu lilin.

Satu orang sahabat bertugas menyalakan lilin pertama dari lilin di altar baktisala. Setelah lilin menyala, sahabat tersebut duduk sambil memperhatikan nyala lilin ditangannya bernapas masuk dan keluar dengan damai. Sahabat di sisi kanannya pun menyalakan lilin dengan mengarahkan lilin yang dipegangnya ke lilin sahabat yang sudah menyala. Demikian seterusnya hingga lilin yang dipegang seluruh sahabat menyala.

Lilin-lilin tersebut menggambarkan diri kita. Jika kita mampu menyalakan pelita kita untuk menerangi kegelapan, maka kita akan menginspirasi orang lain untuk menyalakan pelita-pelita mereka. Setelah semua lilin menyala, kami pun berfoto. Hasil foto tersebut memperlihatkan keindahan dari suatu hal yang sangat sederhana.

Demikian juga dengan kita, bila pelita-pelita setiap orang menyala dengan benar maka dunia ini akan menjadi begitu indah.

Sebuah pelita bisa menyalakan banyak pelita

Bhante Nyanabhadra juga terus mendukung kami untuk dapat membentuk komunitas mindfulness agar kami bisa terus berlatih secara berkala. Kami pun dapat menyalakan pelita kami dan kelak dapat menginspirasi orang lain untuk menyalakan pelita mereka masing-masing.

Terima kasih kepada sahabat di Bungo yang telah berlatih bersama-sama kami. Semoga semakin banyak pelita yang menyala dengan benar sehingga tidak membakar namun hanya menjadi penerang kegelapan.

ELYSANTY Volunteer Day of Mindfulness dan Retret Hidup Berkesadaran dari Jambi

Mindfulness Class: Meditasi Jalan

Mindfulness Class: Meditasi Jalan

Meditasi Jalan siswa-siswi SD

“Take my hand we will walk,
we will only walk.
We will enjoy our walk without thinking of arriving anywhere.”
~Thich Nhat Hanh

Anak-anak senang sekali berlari atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, meditasi jalan bukan saja dilakukan untuk siswa SD dan SMP, tapi juga oleh murid PG dan TK.

Dalam sesi bersama anak TK, saya tidak menjelaskan secara panjang lebar kepada mereka. Saya hanya menjelaskan secara singkat bagaimana nanti berjalan dengan tenang dan hening, sambil berucap ‘Terima kasih, Bumi’ atau ‘Thank you, Earth’ di dalam hati, dalam setiap langkah. Kalimat ini sengaja dipilih agar mereka perlahan dapat memahami betapa bumi telah sangat berjasa dalam perjalanan kehidupan kita.

Awalnya mereka dapat berjalan pelan. Tapi setengah perjalanan mereka sudah mulai tidak sabar dan kembali berjalan seperti biasa (baca: cepat). Tapi ada beberapa anak yang benar-benar serius melangkah dengan perlahan sambil mengamati langkahnya. Sambil bergandengan tangan, mereka mengatur langkah agar tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat bersama temannya.

Lain halnya dengan siswa SD dan SMP. Saya sengaja mencari lokasi di luar sekolah agar mereka dapat menikmati suasana baru. Kebetulan di sebelah sekolah ada kebun yang sangat luas dan memiliki kolam. Anak-anak sangat antusias mengetahui akan bermeditasi jalan di sana. Setelah selesai melakukan meditasi jalan, mereka diberi kesempatan untuk menikmati suasana kebun. Mereka juga diingatkan untuk dapat mempraktikkan ini di rumah atau di mana saja. Dari gerbang sekolah hingga ke kelas pada pagi hari, dari kelas ke kamar mandi sekolah.

Setiap langkah sadar penuh adalah seperti kita sedang mencetak jejak kaki kita ke bumi. Menjejakkan kaki seperti mencium bumi dengan kaki. Kita seharusnya tidak mencetak kesedihan, kecemasan, dan ketakutan kita pada bumi, tapi cetaklah kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian di setiap langkah kita. Kita dapat melakukannya sebanyak kita mau. Kapan saja ketika kita melangkah, kita dapat melakukan ini dengan penuh sadar.

Untuk siswa SMP pernah saya siapkan materi secara visual yang menerangkan tentang jalan berkesadaran ini sebelum mereka mulai mempraktikkannya. Beberapa video saya kumpulkan, diantaranya tentang flash mob meditation di Hong Kong dan trailer film ‘Walk With Me’. Sebagian besar kelas antusias menonton. Ini adalah pengetahuan baru bagi mereka.

Saat berjalan sadar penuh bersama para remaja ini, ternyata jauh lebih baik. Kami berjalan dalam hening, dengan perlahan, mengamati setiap langkah. Hanya ada dua atau tiga anak yang kurang konsentrasi. Tapi secara keseluruhan, saya senang mereka bisa mengikuti kegiatan ini. Hingga kembali ke kelas, suasana masih tetap tenang untuk beberapa saat. Beberapa anak mengakui menikmati jalan berkesadaran ini.

”I have arrived, I’m home
In the here, in the now
I’m solid, I’m free
In the ultimate, I dwell.”

Memberi pengetahuan dan pengalaman baru selalu deg-degan, harap-harap cemas tapi antusias. Saya tidak tahu seberapa banyak yang mereka serap dan ingat akan pelajaran-pelajaran ini. Tapi seperti kata guru saya, andaikan mereka tidak mendapat manfaatnya, paling tidak masih ada satu orang yang mendapatkannya. Saya. Ya, saya selalu mendapat pengalaman baru pada setiap kali kesempatan berbagi dengan mereka di kelas.

Di semester depan, telah saya siapkan beberapa materi baru lagi bagi mereka. Meditasi kerikil, meditasi kerja, meditasi gerakan, dan mengulangi beberapa materi sebelumnya. Mereka akan belajar bahwa meditasi tidaklah hanya berupa duduk diam dan memejamkan mata.

Meditasi adalah berlatih melakukan kegiatan keseharian kita dengan sadar penuh, baik dalam duduk, berjalan, berbaring, makan, kerja, bahkan mendengar suara lonceng atau genta. Sama halnya seperti sedang menanam benih kesadaran dan menyiraminya dengan baik setiap hari sehingga dapat tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan berguna, berlatih hidup sadar penuh sejak masa kanak-kanak akan membangun banyak karakter positif dalam diri mereka tumbuh hingga dewasa kelak. (Rumini Lim)*

“When we are mindful, deeply in touch with the present moment, our understanding of what is going on deepens, and we begin to be filled with acceptance, joy, peace and love.” ~Thich Nhat Hanh

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

NoBar Perdana Walk With Me

NoBar Perdana Walk With Me

Kshantica: baris depan, kedua dari kiri

Ketika Bhante Nyanabhadra pertama kali menanyakan; “Indonesia, siapkah screening Film Walk With Me?

Saya sama sekali tidak tertarik, saya tidak berbakat untuk membuat video sependek apapun filmnya, sehingga saya tidak menjawab apa pun ketika itu.

Beberapa bulan berlalu, kembali topik film ini ditanyakan, akhirnya penasaran saya bertanya, “Siap apa sebenarnya?

Ternyata kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan untuk tayang di bioskop seperti peruntukan film ini dibuat oleh Marc J. Francais & Max Pugh, menyusul negara-negara lain yang sudah tayang di sinema umum seperti di Perancis, Thailand, Taiwan, dan Selandia Baru.

Ini bukanlah referensi film, jadi saya tidak akan mengulas film dokumenter Walk With Me namun menceritakan rasa yang timbul saat menontonnya.

Akhirnya nobar (nonton bareng) film ini diadakan perdana dalam Day of Mindfullness di Pusdiklat Bodhidarma, pada Hari Sabtu tanggal 20 Januari 2018. Membludaknya pendaftar dibandingkan kapasitas umum Pusdiklat tidak menyurutkan semangat berlatih mempraktikkan meditasi terapan ini.

Film ini sungguh luar biasa, selama menonton saya berdoa, semoga suatu hari nanti ketika semangat belajar ajaran Guru sudah jauh menyusut, ketika orang-orang sudah melupakan cara berlatih, lupa cara hidup dalam komunitas, ketika orang-orang lupa bahwa monastik juga memiliki orang tua dan mereka diizinkan untuk bertemu sanak keluarga, ketika orang-orang sudah lupa bahwa belajar ajaranNya bukan berarti hanya duduk memegang dupa, mendaraskan doa sepanjang hari, saat itulah film ini ditemukan kembali. Haru biru menyelimuti hati, luar biasa… Luar biasa… Luar biasa…

Dalam ceramahnya, Bhante Nyanabhadra mengingatkan bahwa Kita saat ini berlatih menerapkan kesadaran dalam setiap kegiatan keseharian, kita menyadari bernapas mendalam dan lambat. Berperilaku kalem dan ease, selalu hidup present moment (kekinian), dan tahu saat ini adalah saat terindah. Saya menjadi mengerti hidup berkesadaran adalah sebuah sebuah seni, bisa dipelajari, seiring latihan maka semakin terasah.

Sepanjang berlatih, energi kolektif positif dari semua peserta, volunteer dan Sanggha menular, sungguh sangat meditatif, saya hidup sekarang, saat ini, I am joy! (Kshantica)

Berhenti di Saat Ini

Berhenti di Saat Ini

Foto bersama, kebaya Indonesia. Sri (barisan depan, dari kanan pertama)

Cerita ini adalah perjalanan saya ketika mengikuti retret di Plum Village Thailand, retret ini merupakan hadiah terindah dari orang yang saya sayangi. Retret ini bertemakan “Walk With Me“, ini adalah retret pertama saya di Thailand. pada tanggal 23 desember saya berangkat dari Bandara Kualanamu Medan menuju Thailand.

Kita ada 14 orang yang berangkat pada waktu itu, ada hal menarik yang terjadi ketika kita tiba di bandaraThailand untuk ambil koper, Sudah keliling mencari koper, ternyata 20 koper kita ketinggalan di bandara Kuala Lumpur.

Kita hanya tertawa saja dan lanjut untuk mengurus proses pengantaran koper, lalu kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Plum Village yang berjarak 3 jam dari bandara Svarnabhumi Thailand dan bermalam tanpa baju ganti. Koper kami tiba di Plum Village pukul 2 pagi dini hari.

Aku Rindu
Ketika saya tiba di Plum Village, saya menikmati keindahan suasana di sana, tempatnya begitu sejuk karena berada di antara gunung dan ada perbukitan.

Dalam hati ini berkata “saya mau bersama keluarga berada di sini” karena saat ini saya hanya seorang diri hadir untuk mengikuti retret ini, hati ini menjadi sedikit sedih.

Jantung saya mulai berdegup kencang, lalu saya teringat untuk bernapas masuk dan napas keluar. Saya tau saat ini saya sendiri di sini, saya berhenti di saat itu juga untuk bernapas. Aku tak mau lukai hati ini, tubuh, dan pikiran ini, tapi saat ini aku sendiri. Aku sadari aku bernapas, aku bahagia, aku tahu napasku untukmu.

Bertemu Kembali
Pagi itu sangat cerah sekali, saya memutuskan untuk berjalan pagi untuk melihat sekeliling tempat saya menginap, karena waktu itu saya tiba di sana sudah malam dan langsung tidur. Tempat ini ternyata begitu luas, berada di puncak dan dikelilingi beberapa bukit dan ada gunung. Pemandangannya begitu indah sehingga membuat udara di sini dingin di malam hari dan sejuk di siang hari.

Saya berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah batu untuk menikmati pemandangan, langit, suara burung, awan, dan burung yang beterbangan di atas, serta angin yang berhembus dingin menerpa wajah saya.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya melihat langit yang cerah dan burung berterbangan.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya mendengar suara-suara burung berkicau
Bernapas masuk, bernapas keluar, hatiku terasa damai.

Saya merasakan sesuatu yang hilang telah kembali lagi, ya, perasan hati ini, hati yang selama ini saya rindukan, akhirnya saya temukan kembali, dan sekarang saya mengerti bagaimana cara saya agar dapat kembali, dengan berhenti sejenak untuk melihat dan mendengar apa pun itu sehingga aku dapat merasakan hati yang damai. Perlahan kulepaskan lipatan kakiku dan turun dari atas batu untuk melanjutkan perjalanan pagi ku mengelilingi lokasi tempat saya retret dengan senyum pagi yang indah, SMILE….

Jasmine Tea
Kegiatan Reret selama beberapa hari, yang diawali dengan bangun pagi untuk meditasi duduk, meditasi berjalan, meditasi sarapan pagi, meditasi kerja, Dharma talk, meditasi makan siang, relaksasi total. Sesi yang membuat saya paling setresss adalah Dharma sharing group.

Baru disadari bahwa saya berada di grup yang pesertanya adalah orang dari berbagai Negara. Saya tidak pandai berbahasa Inggris, dan saya hanya punya satu teman di dalam grup yang juga tidak begitu lancar berbahasa Inggris.

Grup saya adalah “Jasmine Tea“, saya hanya dapat menyebutkan nama dan beberapa kata saja yang dapat saya ucapkan, di sini saya ingin bercerita tentang kegiatan kita, setiap grup perlu membuat sebuah pertunjukan untuk menyambut malam tahun baru. Waktu kita hanya ada 3 jam untuk mempersiapkan latihan sebelum tampil.

Kekacauan
Grup saya memutuskan untuk membuat drama tentang “KEKACAUAN“ yang terjadi ketika ingin sampai di Plum Village Thailand untuk mengikuti retret, yang pertama di mulai dengan kekacaun dari naik taksi yang mana teman saya bernama George sebagai penumpang dan Mr. Bunn sebagai supir taksi Thailand yang tidak mengerti bahasa Inggris.

Kekacauan pun terjadi ketika supir salah mengantar George ke bandara, di Thailand ada 2 bandara penerbangan keributan pun terjadi, tiba–tiba terdengar suara bel dan mereka berdua pun hening, lalu George menuliskan di sebuah kertas ke bandara mana yang dia mau.

Sekarang masuk dengan KEKACAUAN di imigrasi, kini giliran saya yang berperan sebagai staf wanita imigrasi. Di imigrasi sering terjadi kekacauan tentang VISA dan berebut antrian untuk cap paspor, bukankah begitu?

Saya mengambil peran ini karena keterbatasan saya berbahasa Inggris, jadi saya hanya perlu mengucapkan kata No No No… you need VISA. Kekacauan timbul, terdengar suara bel .. silent dan saya memutuskan semua pengunjung untuk masuk tidak pakai visa.

Semua berjalan happy sampai di penjemputan menuju ke Plum Village. Walaupun degan keterbatasan saya dalam berbahasa kita adalah satu keluarga “Jasmine Tea” we are happy.

Terima kasih, dengan Latihan Retreat Mindfulness ini saya dapat belajar dan mengerti, hingga saya memahaminya, dengan keterbatasan berbahasa inggris, yang membuat saya benar–benar pasang telinga dan mata untuk dapat mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dalam sharing group, serta saat mereka bertanya ke saya. (Sri)

Foto-foto dari Core Sangha Retreat @ThaiPlumVillage

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Mindfulness Class: Relaksasi Total

Mindfulness Class: Relaksasi Total

Ruang relaksasi total untuk anak sekolah

Apa yang terpikirkan anak-anak ketika saya umumkan bahwa pelajaran mendatang adalah meditasi tidur? Ya, mereka berpikir akan tidur. Apalagi saya memperbolehkan mereka membawa baju tidur dan selimut. Mereka berpikir, “Asyik, akan bisa tidur siang.”

Tetapi ada juga yang bingung membayangkan bagaimana bisa meditasi sambil tidur? Haha..

Ternyata ketika dipraktikkan, tidak seperti yang saya dan mereka bayangkan. Saya membayangkan mereka akan seperti para guru yang dapat mengikuti dengan tenang saat pelatihan guru beberapa waktu lalu. Sedangkan mereka membayangkan dapat langsung tidur ketika meditasi dimulai. Mereka tidak menyangka akan mendengar suara saya membimbing mereka sepanjang meditasi berlangsung untuk merilekskan tubuh mereka.

Di kelas kecil, awalnya mereka bisa berbaring tenang. Tapi beberapa menit kemudian ada beberapa yang mulai gelisah. Ada yang bangun, lalu duduk dan tidak berbaring lagi. Karena saya sedang memimpin sesi ini sendirian, maka saya memilih untuk tetap melanjutkan sesi ini tanpa terpengaruhi oleh mereka. Tapi itu hanya satu dua orang saja.

Banyak yang dapat tertidur di tengah meditasi. Ada beberapa yang terjaga hingga selesai tanpa tidur tapi tidak mengganggu temannya. Mereka belum terbiasa. Ini pengalaman pertama buat mereka. Saya memahami keadaan mereka, jadi saya tidak marah pada mereka. Sebenarnya hanya beberapa anak yang tidak bisa mengikuti, masih banyak anak yang dapat mengikuti dengan baik. Bahkan ada beberapa anak yang benar-benar tertidur lelap.

Ketika sesi relaksasi selesai, saya membahas dengan mereka. Ada yang mengaku tidak terbiasa tidur siang, jadi mereka gelisah. Ada yang terganggu dengan temannya yang tidak mengikuti tadi. Tapi banyak yang mengatakan bahwa mereka menikmati sesi ini. Terutama menyukai ketika saya menyanyikan beberapa lagu, serasa dininabonokan. Haha.. Dan ketika saya menanyakan apakah mau jika ini diadakan lagi, mereka menjawab, “Mauuuuu..”

Ya, pengalaman pertama sering tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Saya tidak menyalahkan anak-anak itu. Mudah-mudahan di sesi berikutnya mereka akan lebih mengerti dan bisa mengikutinya dengan baik. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk membentuk diri mereka sesuai dengan yang kita inginkan. Biarkan mereka mengolah diri dan cara berpikir mereka sesuai kematangan masing-masing. Jika mereka paham, pasti mereka akan bisa mengikuti dengan sendirinya.

Berbanding terbalik dengan siswa SMP, meditasi ini merupakan salah satu kegiatan favorit mereka. Mungkin karena mereka telah melakukannya berkali-kali dan telah terbiasa sehingga dapat menikmatinya. Banyak yang dapat menggunakan waktu ini untuk rileks dan segar kembali ketika bangun untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. (Rumini Lim)*

“And when I rise, let me rise
Like a bird, joyfully
And when I fall, let me fall
Like a leaf, gracefully
Without regret.”

Panduan relaksasi total tersedia di sini dan juga sini

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class

Happy Teachers Gathering

Happy Teachers Gathering

Happy Teachers Gathering @ThaiPlumVillage (Dec 2017)

Bayangkan 500an orang berkumpul di satu tempat, hanya satu kata, bising! Namun Plum Village punya cara untuk membuat semua orang hening dengan memancarkan secercah senyum, itu yang terjadi pada Retret Core Sangha penghujung tahun di Plum Village Thailand sejak 25 Desember 2017 s.d. 1 Januari 2018.

Plum Village Thailand menjadi pusat latihan bagi kawasan Asia Pasifik. Tradisi Zen yang diasuh oleh Zen Master Thich Nhat Hanh yang kerap disapa Thay (artinya guru), yang mana beliau sedang dalam tahap penyembuhan dari stroke yang mendera beliau sejak 2014.

Thay memberi pesan cukup jelas untuk membantu para guru, meminta para murid-murid monastik maupun sahabat awam untuk memberikan perhatian khusus kepada guru sekolah. Oleh karena itulah muncul program “Happy Teachers Change The World“. Program membawa “mindfulness” (sadar penuh) yang lebih praktis dan sekuler ke dunia pendidikan.

Penerbit Parallax telah menerbitkan buku “Happy Teachers Change The World” yang merupakan kerjasama dari Plum Village dan Katherine Weare yang merupakan pakar pendidikan dari Inggris. Buku ini bisa diperoleh dari sini.

Kesempatan berkumpul selalu dipergunakan untuk membangun jaringan, terutama yang berkaitan dengan misi pendidikan. Ho Gia Anh Le, guru yang berasal dari Vietnam, saat ini mengajar di Singapura; ia menginisiatifkan pertemuan para pendidik yang kebetulan hadir dalam retret core sangha tersebut.

Beberapa teman dari Indonesia juga tampak hadir, Ibu Linda Roesli dan Novi mewakili sekolah Nanyang Zhi Hui Medan, Shantum Seth mewakili jaringan pendidikan dari India, dan beberapa negara lainnya yaitu dari Vietnam, Thailand, Jerman, Perancis, dan lain-lain.

Masing-masing membagikan bagaimana mereka membawa “mindfulness” ke dunia pendidikan, bagaimana reaksi anak-anak terhadap program ini. Semua orang merasa pertemuan ini perlu sering dilakukan agar bisa saling memberikan semangat dan inspirasi segar.

Benih sudah ditanamkan, semoga jaringan “Happy Teachers” Asia bisa melakukan sesuatu lebih konkrit di kemudian hari. Nanti mungkin akan ada kegiatan bersama, seperti konferensi mindful teachers sebagaimana yang disarankan oleh Thay Phap Kham (Dharmacharya senior dari Asia Pasifik). Kita tunggu kabar berikutnya. (Pháp Tử)

Watering Seeds of Joy

Watering Seeds of Joy

Download MP3 klik sini

My mother, my father, they are in me.
And when I look, I see myself in them.

The Buddha, the patriarchs, they are in me.
And when I look, I see myself in them.

I am a continuation of my mother and my father
I am a continuation of all my blood ancestors.
It is my aspiration to preserve and continue to nourish
seeds of goodness, seeds of skill, seeds of happiness
which I have inherited.

It’s also my desire to recognize
the seeds of fear and suffering I have inherited,
and, bit by bit, to transform them, transform them.
I am a continuation of the Buddha and the patriarchs
I am a continuation of all my spiritual teachers.

It is my deep aspiration to preserve, develop, and nourish
seeds of understanding, seeds of love, seeds of freedom
which they have transmitted to me.

In my daily life, I also want to sow
seeds of love and compassion
in my own consciousness and in the heart of other people.

I am determined not to water
seeds of craving, aversion, and violence in me
seeds of craving, aversion, and violence in others
With resolve and with compassion,
I give rise to this aspiration:

May my practice be an off’ring of the heart
May my practice be an off’ring of the heart

Mindfulness Class: Meditasi Jeruk

Mindfulness Class: Meditasi Jeruk

“Meditation is a matter of enjoyment. When you are offered an orange, there must be a way to eat your orange that can bring you happiness. You can eat your orange in such a way that you are truly present.”

Selama dua minggu bulan Oktober 2017 yang lalu, seluruh kelas SD dan SMP bergiliran melakukan meditasi jeruk. Ternyata banyak anak yang menyukai proses ini, proses menikmati sebuah jeruk dengan sadar penuh. Melihat dan merasakan kulit luar dan dalam, mencium wanginya, mengunyah dan merasakan manis asamnya buah tersebut serta menikmati setiap potongan secara perlahan.

Meditasi Jeruk

Terinspirasi dari Br. Pháp Khởi, materi meditasi jeruk kali ini saya bawakan dengan cara mendongeng pada anak-anak. Anak-anak sempat terkejut ketika melihat saya seolah-olah dapat mendengar suara buah jeruk yang ada di tangan saya berbisik di telinga saya. Mungkin mereka berpikir, “Bisa-bisanya laoshi mengajak bicara buah jeruk.”
Tapi yang terpenting mereka menangkap materi yang saya sampaikan. Hahaha..

Setelah selesai saya meminta mereka menulis pengalaman mereka dalam kegiatan ini.

Ada seorang anak menuliskan, “Pengalaman ini menyenangkan karena membuatku tahu bahwa jeruk itu juga memiliki kehidupan mirip dengan manusia.

Seorang anak lain menulis, “Saya sangat terkesan dengan meditasi jeruk. Tidak disangka ternyata meditasi ini lebih nikmat. Tadi saya mendapat jeruk yang asam. Pada awalnya saya memakan jeruk ini terasa asam. Tapi lama kelamaan ketika saya makan dengan pelan dan nikmat, jeruk ini terasa manis + asam (sedikit).

Ada juga yang menulis, “Sangat menyenangkan bisa duduk tenang dan berkumpul bersama guru dan teman-teman sambil merasakan buah jeruk secara mendalam.

Semoga pengalaman ini membawa kesan yang mendalam bagi mereka. Andai ada yang mendapat jeruk yang asam, berulat atau bahkan yang tidak suka makan jeruk, paling tidak mereka akan mengingat kisah yang diceritakan. Kisah bagaimana buah jeruk yang berada di tangan kita itu adalah sebenarnya sedang melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan untuk bertransformasi dari sebuah bunga putih yang kecil dan wangi yang kemudian menjadi buah jeruk, hingga akhirnya berada di tubuh kita untuk memberi nutrisi bagi tubuh kita. (Rumini Lim)*

“And when the fruit is gone, let the experience linger, awakening gratitude and joy.”

*Guru Sekolah Ananda di Bagan Batu, ia mengajar mindfulness class