Merayakan Imlek Bersama Thay di Wihara Tu Hieu Vietnam

Merayakan Imlek Bersama Thay di Wihara Tu Hieu Vietnam

Master Zen Thich Nhat Hanh yang akrab disapa Thay telah kembali ke Vietnam sejak tahun 2018. Satu-satunya wihara akar (root monastery) dari Plum Village adalah Wihara Tu Hieu di Kota Hue, sentral Vietnam.

Kondisi kesehatan beliau prima. Jika cuaca cerah, beliau bersama asistennya akan keluar jalan-jalan menikmati wihara tua itu. Tidak heran jika tiba-tiba banyak umat yang mengikuti perlahan-lahan dari belakang.

Ada kalanya, ketika cuaca mendung dan hujan, maka beliau tidak keluar. Ada beberapa orang Amerika yang sengaja pergi ke Vietnam untuk bertemu Thay, namun sayangnya saat curah hujan sangat tinggi, sehingga mereka tidak berhasil bertemu Thay.

Berita kepulangan Thay ke Vietnam tersebar cepat. Banyak orang yang pernah berpartisipasi dalam retret yang diselenggarakan oleh Plum Village maupun para pelaku spiritual dan meditasi juga mampir untuk bertemu dengan sang master Zen.

Tahun baru lunar atau imlek juga dirayakan oleh masyarakat Vietnam dengan sebutan Tet. Imlek juga dirayakan di wihara Tu Hieu. Pagi-pagi para murid dan senior berkumpul untuk menyentuh bumi (namaskara) dan menyampaikan ucapan selamat dan doa untuk Thay.

Berikut ini ada Video yang direkam oleh umat yang hadir juga beberapa foto kiriman dari asisten Thay yang sedang bertugas di sana.

Video dan foto

Merayakan Tet (Imlek) di Wihara Tu Hieu, Kota Hue, Vietnam

Doa Tahun Baru Kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Doa Tahun Baru Kepada Ibu Pertiwi dan Semua Guru Leluhur

Kepada Thay yang terkasih, para leluhur yang kami muliakan, dan Ibu Pertiwi,

Kami telah hadir di sini sebagai empat lapisan komunitas pada momen penuh khidmat di tahun baru untuk mengungkapkan rasa syukur dan aspirasi mendalam kami sebagai sebuah keluarga spiritual serta untuk memulai lembaran baru.

Kami tahu bahwa para leluhur juga bersama kami pada momen ini, semua leluhur menjadi tempat kami berlindung. Ketika kami menyentuh bumi pada malam ini, kami merasa suatu hubungan yang erat dengan para leluhur, juga dengan Ibu Pertiwi: Bumi biru yang indah, bodhisattwa maha penyegaran, harum dan sejuk, baik hati dan inklusif, menerima semuanya. Ibu Pertiwi, kami semua adalah anak-anakmu, dan begitu juga kami masih memiliki kesalahan dan kekurangan, setiap kali kami pulang ke rumah, engkau selalu siap membuka dekapan untuk memeluk kami.

Thay yang kami kasihi, pada masa lalu kami telah membiarkan benih-benih kekhawatiran dan ketidakpastian tersirami berulang kali mengakibatkan begitu banyak ketakutan dalam diri kami. Kami ragu untuk berlindung pada jalan Dharma, dan bahkan kami juga meragukan keluarga spiritual ini. Kami tidak sungguh-sungguh dalam praktik. Kami telah membiarkan emosi negatif dan persepsi keliru mengambil alih diri kami, sehingga memunculkan putus asa, merasa terkucilkan, dan kesedihan.

Menyadari hal itu, kami ingin memulai lembaran baru dan mengingatkan kami akan komitmen untuk berlatih sepenuh hati, berlindung pada komunitas tercinta ini, dan menjadi kelanjutan dari Thay dan semua guru dari silsilah leluhur spiritual. Kami bertekad untuk hidup lebih mendalam dengan cara berlatih bernapas dan berjalan berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari, karena kami tahu itulah latihan kesukaanmu. Kami juga tahu Thay senang membangun sangha, kami akan melanjutkan tugas membangun persaudaraan kakak dan adik dengan sepenuh hati, walaupun kami sering menghadapi tantangan. Kami tidak akan menyerah untuk praktik, atau meninggalkan komunitas kami, tapi beraspirasi untuk mendengar secara mendalam dan saling membantu, tidak akan meninggalkan siapa pun, walaupun dia menjadi penyebab penderitaan.

Ibu Pertiwi, sebagai keluarga dalam kemanusiaan, kami sering keliru dalam mencari kebahagiaan, kami membiarkan keserakahan dan materialisme memerintah. Kami sering mengejar status, kekuasaan, barang dan materi, kesenangan duniawi, lalai bahwa hal-hal demikian tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan kebebasan. Kami telah melukai Tanah tempat kami berpijak juga diri sendiri, kami mengeksploitasi gunung dan sungai, bertindak semena-mena terhadap hutan dan spesies lainnya, menyebabkan polusi atmosfir dan menyebabkan bumi ini kehilangan keseimbangan dan keindahannya.

Kami bertekad untuk menyederhanakan hidup kami, mengingat kami bahwa pada momen kekinian telah memiliki banyak kondisi untuk berbahagia. Kami berjanji untuk hidup lebih mendalam dan bersyukur, menyadari bahwa kehidupan itu sendiri adalah keajaiban. Pada tahun baru ini, kami bertekad untuk mengurangi konsumsi dan berupaya untuk hidup lebih bertanggung jawab dan swasembada untuk diri sendiri dan Ibu Pertiwi.

Wahai para leluhur, kami telah membiarkan rasa takut, fanatik dan intoleransi memicu perpecahan dalam keluarga. Kami telah menjadi penyebab penderita sesamanya, diskriminasi atas nama agama, etnik, dan warga negara. Kami telah menutup pintu hati dan menutupi semua perbatasan karena ketakutan dan ketidaktahuan. Kami telah menyebabkan peperangan, teror dan konflik antar sesama manusia, mengizinkan pergolakan militer menjadi semakin parah dalam masyarakat. Kami telah melupakan bahwa sesungguhnya kita saling berkaitan erat, dan kebahagiaan dan penderitaan kita saling bergantungan kepada kebahagiaan dan penderitaan pihak lain.

Kami yakin bahwa kami memiliki kearifan non diskriminasi dan welas asih yang luhur, itu semua telah diwariskan oleh guru spiritual dan para leluhur, juga dari Ibu Pertiwi. Kami bertekad untuk terus berada di jalan Dharma ini, tetap membuka hati, dan meletakkan keangkuhan kami, agar pengertian dan cinta kasih bisa hadir dalam hati kami.

Ketika kami menyentuh bumi, kami menyampaikan rasa syukur kepada guru terkasih kami, Thay, para leluhur kandung dan spiritual, dan Ibu Pertiwi. Kami telah menemukan jalan Dharma dan praktik dalam keluarga spiritual yang menjadi tempat kami berlindung. Kami telah memperoleh sukacita, kedamaian, dan transformasi. Kami telah mencicipi kebebasan dari melepaskan gagasan-gagasan. Kami bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dalam persaudaraan kakak dan adik, kami tahu dengan berkumpul bersama, kami bisa menghadapi berbagai tantangan dan merealisasi aspirasi kami, Kami berjanji, pada momen khidmat ini, kami ingin terus membangun keluarga, membangun komunitas dan membuka lebar jalan Dharma ini untuk diri sendiri dan generasi berikutnya.

Thay yang kami muliakan, Ibu Pertiwi, mohon terimalah permohonan yang kami haturkan, dupa, bunga, buah, teh yang semua ini menjadi sebuah bentuk kesungguhan hati, aspirasi, penghormatan, rasa syukur, dan cinta kasih kami. (Alih bahasa: Br. Phap Tu*, Penyunting: Rahka**)

*Dharmacharya dari Indonesia
**Anggota dari Ordo Interbeing Indonesia

Lima Latihan Menyentuh Bumi

Lima Latihan Menyentuh Bumi

MENYENTUH BUMI

Latihan Menyentuh Bumi adalah kembali ke bumi, ke akar kita, ke leluhur kita, dan menyadari bahwa kita tidak sendirian tapi tersambung dengan seluruh aliran spiritual dan darah leluhur. Kita adalah penerus, kelanjutan dari mereka, dan bersama mereka kita akan berlanjut ke generasi yang akan datang. Kita menyentuh bumi untuk menghalau ide bahwa kita terpisah, dan mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari kehidupan dan bumi.

Ketika menyentuh bumi, kita menjadi kecil, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan seorang anak kecil. Ketika kita menyentuh bumi, kita menjadi besar, seperti pohon purba menancapkan akarnya jauh ke dalam tanah, dan minum dari sumber semua air. Ketika kita menyentuh bumi, kita menarik napas bersama semua kekuatan dan kemantapan bumi, dan kita menghembuskan semua penderitaan kita—perasaan marah, benci, takut, ketidakmampuan, dan ratapan kita.

Kita mempertemukan kedua telapak tangan kita untuk membentuk kuntum lotus dan dengan lembut kita menundukkan diri kita ke tanah, sehingga keempat anggota tubuh dan dahi kita nyaman bertumpu pada lantai. Ketika menyentuh bumi, kita putarkan tangan kita ke atas, menunjukkan keterbukaan kita pada Tiga Permata—Buddha, Dharma, dan Sanggha. Bahkan setelah melaksanakan “Lima Jurus Menyentuh atau Tiga Jurus Menyentuh” sebanyak satu atau dua kali, kita akan dapat membuang sejumlah penderitaan dan perasaan terasing dan kita bersatu dengan leluhur, orang tua, anak, dan teman-teman.

LIMA BAGIAN MENYENTUH BUMI

I
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada semua leluhur saya dalam hubungan darah.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat ibu dan ayah saya, yang darah daging dan vitalitasnya mengalir dalam pembuluh darah dan memberi makan setiap sel dalam tubuh saya. Melalui mereka, saya melihat keempat kakek-nenek saya. Harapan-harapan, pengalaman-pengalaman, dan kebijaksanaan mereka ditransmisikan dari begitu banyak generasi leluhur. Saya membawa dalam diri saya, hidup, darah, pengalaman, kebijaksanaan, kebahagiaan, dan penderitaan semua generasi. Saya berlatih untuk mengubah penderitaan dan semua elemen yang harus diubah. Saya membuka hati, daging, dan tulang untuk menerima energi pemahaman, cinta, dan pengalaman yang ditransmisikan kepada saya oleh semua leluhur saya. Saya melihat akar saya pada ayah, ibu, kakek, nenek, dan semua leluhur saya.

Saya tahu bahwa saya hanyalah penerus, kelanjutan dari leluhur saya. Dukunglah, lindungi, dan alirkan pada saya energimu. Saya tahu di mana anak dan cucu berada, leluhur juga ada di situ. Saya tahu orang tua selalu menyayangi dan mendukung anak-anak dan cucu-cucunya, meskipun mereka tidak selalu mampu mengungkapkannya secara piawai karena kesulitan yang mereka hadapi. Saya melihat leluhur saya berusaha untuk membangun cara hidup berdasarkan rasa syukur, kegembiraan, keyakinan, hormat, dan cinta kasih. Sebagai penerus dari leluhur saya, saya membungkuk dengan dalam dan membiarkan energi mereka mengalir melalui saya. Saya mengharapkan dukungan, perlindungan, dan kekuatan leluhur saya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


II
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada semua generasi leluhur dalam keluarga spiritual saya.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat dalam diri saya, guru-guru saya, mereka yang menunjukkan pada saya jalan cinta dan pengertian, cara untuk bernapas, tersenyum, memaafkan, dan hidup sepenuhnya pada momen ini. Saya melihat melalui guru-guru saya semua guru dari banyak generasi dan tradisi, kembali pada mereka yang memulai keluarga spiritual saya ribuan tahun yang lalu. Saya melihat Buddha atau patriark laki-laki dan perempuan sebagai guru-guru saya, dan juga sebagai leluhur spiritual saya. Saya melihat energi mereka dan energi dari banyak generasi para guru memasuki diri saya dan menciptakan kedamaian, kegembiraan, pengertian, kasih sayang dalam diri saya. Saya tahu bahwa energi guru-guru ini telah banyak mengubah dunia. Tanpa Buddha dan semua leluhur spiritual, saya tidak akan tahu cara berlatih untuk menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup saya serta hidup keluarga saya dan masyarakat. Saya membuka hati dan tubuh saya untuk menerima energi pengertian, kasih sayang, dan perlindungan dari mereka yang tercerahkan, ajarannya, dan komunitas yang mempraktikkannya dari generasi ke generasi. Saya adalah penerus mereka, saya mengharapkan para leluhur spiritual saya menyalurkan kepada saya sumber energi kedamaian, kemantapan, pengertian, dan cinta yang tak terbatas. Saya berikrar untuk berlatih mengubah penderitaan saya dan dunia, dan menyalurkan energi mereka kepada para praktisi generasi yang akan datang. Leluhur spiritual saya mungkin menghadapi kesulitan mereka sendiri dan tidak selalu dapat meneruskan ajarannya, tapi saya menerima mereka apa adanya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


III
Dengan rasa syukur, saya membungkuk kepada bumi ini dan semua leluhur yang telah menghadirkannya.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya melihat diri saya utuh, terlindung, dan diberi makan oleh tanah ini dan semua makhluk hidup yang ada di sini dan yang membuat hidup saya mungkin dan mudah melalui usaha mereka semua. Saya melihat Ibu Kartini, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Gus Dur, dan lain-lain yang terkenal dan tidak terkenal. Saya melihat mereka semua yang telah menjadikan negara ini tempat berlindung bagi orang-orang dari beragam asal-usul dan warna kulit, dengan talenta mereka, ketekunan, dan cinta—mereka yang telah bekerja keras membangun sekolah, rumah sakit, jembatan, jalan-jalan, melindungi hak asasi manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan sosial. Saya melihat diri saya menyentuh leluhur nenek moyang bangsa Nusantara asli yang telah hidup di tanah ini untuk waktu yang lama dan tahu cara untuk hidup dalam damai dan selaras dengan alam, melindungi gunung-gunung, hutan-hutan, binatang, tumbuhan, dan mineral tanah ini. Saya merasa energi tanah ini menembus tubuh dan jiwa saya, mendukung dan menerima saya. Saya berikrar untuk mengembangkan dan memelihara energi ini dan mengalirkannya ke generasi yang akan datang. Saya berikrar untuk menyumbangkan peran saya mengubah kekerasan, kebencian, dan delusi yang masih bersemayam di kedalaman kesadaran kolektif masyarakat, sehingga generasi mendatang akan lebih menikmati keamanan, kegembiraan, dan kedamaian. Saya mengharapkan tanah ini memberi perlindungan dan dukungannya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


IV
Dengan penuh syukur dan welas asih, saya membungkuk rendah dan mengirimkan energi saya kepada mereka yang saya cintai.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Semua energi yang saya terima ingin saya kirimkan kepada ayah saya, ibu saya, dan semua orang yang saya cintai, semua yang menderita dan cemas karena saya dan demi saya. Saya tahu saya tidak cukup sadar dalam hidup sehari-hari. Saya juga tahu bahwa mereka sendiri pun yang mencintai saya menghadapi kesulitannya masing-masing. Mereka telah menderita karena mereka kurang beruntung, tidak memiliki lingkungan yang mendorong mereka berkembang penuh. Saya mengirimkan energi saya untuk ibu, ayah, saudara laki-laki dan perempuan, orang yang saya cintai, suami saya, istri saya, anak perempuan dan laki-laki saya, sehingga penderitaan mereka bisa teratasi, sehingga mereka bisa tersenyum dan merasakan kegembiraan hidup. Saya ingin mereka semua sehat dan gembira. Saya tahu bahwa kalau mereka bahagia, saya juga akan bahagia. Saya tidak lagi merasa dendam kepada siapa pun di antara mereka. Saya berdoa agar semua leluhur keluarga saya dalam pertalian darah dan spiritual memusatkan energinya kepada mereka semua, untuk melindungi dan mendukung mereka. Saya tahu bahwa saya tidak terpisah dari mereka. Saya menyatu dengan mereka yang saya cintai.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


V
Dalam pengertian dan welas asih, saya membungkuk rendah untuk mendamaikan diri saya dengan mereka yang telah membuat saya menderita.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Saya membuka hati dan mengirimkan energi cinta dan pengertian saya kepada siapa saja yang telah membuat saya menderita, kepada mereka yang telah merusak hidup saya dan hidup mereka yang saya cintai. Saya tahu orang-orang ini telah mengalami banyak penderitaan dan hati mereka diliputi dengan kepedihan, kemarahan, dan kebencian. Saya tahu bahwa semua orang yang menderita akan menyebabkan semua yang ada di sekitarnya juga menderita. Saya tahu mereka kurang berunutung, tidak pernah memiliki kesempatan untuk disayangi dan dicintai. Kehidupan dan masyarakat memberi mereka banyak kesulitan. Mereka telah dipersalahkan dan diperlakukan secara kejam. Mereka tidak mendapat bimbingan untuk menjalani hidup penuh kesadaran. Mereka telah mengakumulasikan persepsi yang keliru tentang hidup, tentang saya, dan tentang kita. Mereka telah menyalahkan kita dan orang-orang yang kita cintai. Saya berdoa agar leluhur keluarga saya dalam pertalian darah dan spiritual mengirimkan energi cinta dan perlindungan kepada mereka, orang-orang yang telah membuat saya menderita, sehingga hati mereka mampu menerima madu cinta dan mekar seperti bunga. Saya berdoa agar mereka dapat berubah untuk mengalami kebahagiaan hidup, sehingga mereka tidak terus menyebabkan mereka dan orang lain menderita. Saya melihat penderitaan mereka dan tidak ingin menyimpan dalam diri saya perasaan benci atau marah terhadap mereka. Saya tidak ingin mereka menderita. Saya salurkan energi cinta dan pengertian saya kepada mereka dan mengharapkan semua leluhur saya menolong mereka.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]