Jarak Pandang Pengadilan Pikiran

Jarak Pandang Pengadilan Pikiran
Panorama Farm @PakChong Thailand

Beberapa minggu yang lalu adalah hari-hari menjelang tahun baru Imlek atau dikenal juga sebagai hari raya awal musim semi, saya yang terlahir sebagai etnis Tionghoa dan dibesarkan dalam tradisi Tionghoa, tentu saja menyambutnya dengan suka-cita.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh adalah membersihkan seluruh rumah, termasuk menggosok kaca jendela agar mengkilat, membersihkan daun pintu, mencuci tirai, dan mengecat dinding rumah.

Selain kesibukan tradisi tersebut, rasanya awal musim semi memang selayaknya disambut gembira oleh seluruh manusia yang terlahir di negara empat musim.

Artinya, musim dingin yang menggigit dan menyusahkan bahkan untuk berjalan saja harus seperti penguin atau tangan/kaki patah akibat jatuh tergelincir telah berlalu digantikan dengan musim semi yang ceria.

Renovasi Rumah

Pada tahun ini, selain membersihkan rumah keluarga kami juga berencana merevonasi bagian rumah yang sudah melapuk. Di tengah pekerjaan renovasi, karena satu dan lain hal tukang bangunan absen seminggu. Akibatnya jadwal selesai pun mulur dan seluruh rumah berantakan, kotor, berdebu lebih lama dari perkiraan, padahal hari raya sudah sangat dekat.

Karena cemas dan gregetan, dalam hati saya membatin, ini si Bapak lama banget kerjanya, masa mengecat dua teralis jendela saja setengah hari tidak selesai-selesai. Saat si Tukang istirahat makan siang, saya ambil kuas dan cat besi, mulai mengecat.

Polesan pertama…. Ugh emulsi catnya memisah, cat dan teralis tidak mau saling menempel. Cat menetes semena-mena ke lantai, menambah kekotoran. Tidak kehilangan akal, saya berhenti mengecat dan mengalasi seluruh lantai dengan koran bekas, kemudian mulai mengecat lagi.

Masalah baru timbul, posisi teralis yang menghadap ke halaman membuat mata menentang cahaya, silau sekali, sukar sekali melihat mana yang belum terkena cat dan mana yang sudah. Semakin dicat, semakin belepotan, benar-benar tidak beres.

Dengan berteriak saya bertanya, “ini harus dicat dua kalikah?” Si Tukang menjawab, “benar”. Ok, berarti cat pertama belepotan tidak apa, nanti diperhalus dicat kedua. Seluruh teralis jendela akhirnya selesai dan hasilnya bisa ditebak tidak rapi sama sekali. Cat kedua akhirnya diteruskan oleh Tukang yang sudah selesai makan siang.

Jarak Pandang

Kemudian saya beralih membersihkan lantai dan dinding yang terkena percikan cat dan semen. Pada jarak pandang mata dengan objek sekitar 45-50 cm, terlihat jelas hampir seluruh lantai dan dinding dikotori percikan cat dan sisa-sisa semen, ada yang sebesar kancing baju ada pula yang setitik jarum, semua tidak luput dari pandangan saya.

Nih, Tukang jorok sekali kerjanya, kenapa tidak hati-hati saat bekerja, omel saya dalam hati. Keringat yang menetes di dahi dan punggung tak saya hiraukan, sampai berjam-jam kemudian saya menyerah karena pinggang mulai berontak.

Pandangan mata akhirnya lepas dari obyek lantai dan dinding, menjauh, melebar dan semakin lebar……tiba-tiba semua terlihat bersih. Haiiiiii…… ke mana hilangnya si titik cat, ke mana hilangnya tetesan semen? Indahnya rumah saya, tidak ada tanda goresan kuas di teralis, tiada debu di sela-sela lantai, tiada percikan cat sedikit pun. Ajaib sekali rasanya tiba-tiba semua telah bersih. Apa benar sudah bersih? penasaran saya memperpendek jarak pandang, dan segala kotoran muncul kembali, mengganggu kembali.

Pengadilan Pikiran

Label “bersih” dan “kotor” sedetik demi sedetik berubah-ubah sedemikian cepat. Saya terhenti mengosok lantai dan merenung, kotor dan bersih adalah persepsi yang dibentuk oleh pengadilan (judgement) pikiran dan pengetahuan bawah sadar bahwa bersih adalah seharusnya begini-begini dan begini dan jika tidak memenuhi kriteria tersebut artinya kotor.

Persepsi semakin parah ditambah dengan tudingan bahwa si Tukang bekerja serampangan. Kenyataannya benda-benda itu masih seperti itu adanya. Entah kita labeli dengan istilah bersih atau kotor, benda itu tetap ada di situ, sesuai karakternya.

Bagaimana dengan perasaan hati? Berkaca dari pengalaman bersih dan kotor di atas, jika perasaan hati dibiarkan larut dan intens hanya merasakan sisi kotor saja, maka kita pun akan terus menerus memperkuat kebiasaan untuk menilai segala sesuatu dari sisi buram, sisi kotor… kotor…kotor…kotor. Padahal ada sisi lain, bersih, yang cukup sering kita abaikan.

Alangkah melelahkannya hidup jika berfokus pada sisi buram terus-menerus, lepaskan pandangan dan kita akan melihat matahari masih ada di luar memberikan cahaya dan kehangatan kepada kita, keluarlah dan sentuhlah dunia dengan jiwa lapang, maka hidup pun berseri.

KSHANTICA anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, dan aktif di MBI DKI Jakarta

Ular, Tali, dan Kekosongan Sejati

Ular, Tali, dan Kekosongan Sejati

Pertemuan dengan Biksuni Chan Khong dimulai dengan makan pagi di sebuah rumah di kawasan Tanjung Duren, Jakarta, F-22 sebutannya. Kami dipenuhi rasa syukur akan karunia kosmos yang muncul dalam bentuk sarapan. Nasi tim dan sop menjadi lebih nikmat ketika kami mengunyah dan menelan dengan berkesadaran (mindfulness), Sekitar setengah jam kami mencurahkan segala indera kami untuk menikmati sarapan, diselingi satu-dua kalimat.

Oleh: Brigitta Isworo Laksmi (11 Mei 2009)

Sr. Chan Khong

Biksuni Chan Khong—berarti “Kekosongan Sejati”–pada kamis (7/5) pagi itu bertutur panjang tentang misperception, diawali dengan cerita tentang perang tiga dekade di negeri leluhurnya, Vietnam, yang berawal pertengahan 1940-an. Pengalaman semasa Perang Vietnam mengisi 2/3 bagian dari bukunya, Learning True Love, Pengamalan Ajaran Buddha di Masa Tersulit, yang kamis itu diluncurkan.

Dia menuturkan momen ketika dia didera keputusasaan dan dikuasai kemarahan. Saat itulah dia mencoba bertahan, bertahan tetap mengarahkan diri pada keindahan, keluhuran, dan pengertian. Momen itu muncul ketika ratusan orang berkumpul dan granat diledakkan di situ. Sebanyak 24 temannya langsung tewas, sementara 24 orang di bawah ke rumah sakit, luka parah.

“Sulit memang, namun ingat apa yang ditawarkan Buddha, bahwa setiap orang, tidak harus pengikut ajaran Siddharta Buddha, memiliki perasaan damai, iba, cinta, dan memiliki terang di dalam diri mereka yang terdalam,” katanya.

“Ketika perang berkecamuk, saya menyaksikan teman saya melepas ajal. Pada saat seperti itu, kita bisa menyentuh kedamaian dalam diri, melalui pernapasan. Saya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan. Berkali-kali, satu…dua… Itu untuk memutus hubungan kita dengan perasan marah,” ungkapnya.

Bernapas, benar-benar menghayati proses pernapasan, amatlah penting. “Kita tidak bicara, tidak bertindak, dan tidak berpikir. Bernapas adalah jalan keluar dari kemarahan, kebencian, keputusasaan, dan rasa takut. Pernapasan adalah penghubung antara pikiran dan tubuh. Solusi hadir ketika kita bernapas,” ujarnya.

Di bukunya dia menulis: suatu kali dia dilarang mendampingi 566 manusia perahu ke Australia. Dia menangis dan menangis. “Kalau saja ketika itu saya bernapas, mungkin saya bisa berpikir dan bisa mencarikan donatur agar mereka bisa diangkut dengan kapal yang lebih layak,” kenangnya kemudian.

Pernapasan adalah cara baik untuk menyentuh realitas perdamaian, pengertian, dan cinta kasih—sebut sebagai Buddha Nature, God in You, Allah in You, atau perasaan akan kebaikan, pengertian, dan rasa cinta. Dalam diri setiap manusia ada bibit-bibit perdamaian, cinta, dan rasa kasih.

“Ketika sampai ke titik itu, saya bisa menyatakan kepada pembunuh itu, ‘Kami tidak membenci kalian. Ini hanyalah akibat pemahaman yang keliru (misperception) terhadap kami.’ Salah satu pembunuh itu lalu mengelus kepala temannya dan bertanya, ‘Engkau benar dari sekolah itu?’ Ketika diiyakan, pembunuh itu berkata, ‘Maafkan, tetapi saya diperintahkan membunuh kamu.’ Dan pistol pun meledak. Pembunuh itu meminta maaf. Di dalam hatinya yang terdalam dia punya kasih,” ujar Chan Khong.

Misperception telah menyingkirkan perdamaian dan membawa penderitaan. Dalam ajaran Buddha disebutkan, saat memandang sesuatu sesungguhnya kita hanya bisa menangkap 20 persen dari apa yang kita lihat. Meski demikian, kita selalu berkeyakinan mampu menangkap keseluruhannya. Bahkan suami-istri pun demikian. Selalu merasa tahu semua tentang pasangannya, padahal hanya tahu 40-50 persen. Sisanya terpengaruh latar belakang sosial dan pendidikan. Ketika pasangan bertindak berbeda dari yang dia pikir, mereka pun bertengkar. Menurut Chan Khong, yang harus dilakukan hanya bertanya dengan penuh rasa cinta tentang apa sebenarnya maksud pasangan.

Ketika muncul misperception, yang tampak adalah ular. Ular yang harus dipukul. Padahal sebenarnya adalah tali (rope). “Kalau itu tali, yang dia pukul hanya tali. Namun ketika misperception terhadap orang lain, dia bisa melukai orang.” ujarnya. “Terorisme lahir dari bagian itu,” tambahnya.

Kematian Seorang Sahabat

Thich Nhat Hanh dan Sr. Chan Khong di Vietnam

Chan Khong terlahir sebagai Cao Ngoc Phuong. Dibesarkan oleh orangtua yang murah hati kepada kaum miskin dan butuh pertolongan. Dia pun tumbuh sebagai remaja putri yang murah hati dan penuh belas kasih. Dia sebut ayah ibunya sebagai pohon ek yang menaungi 22 “anak mereka”–13 diantaranya adalah anak angkat.

Di usia belasan tahun, anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini telah menyaksikan kekejian manusia. Pada akhir tahun 1940-an, Vietnam menjadi ajang perebutan kekuasaan antara Partai Komunis dan Perancis. Tetangganya dan suami guru SD-nya tewas.

Dia aktif di School of Youth for Social Service (SYSS) bentukan Thich Nhat Hanh—Master Zen yang menggalang gerakan perdamaian. Pada suatu selasa pagi, sahabat terdekatnya, Nhat Chi Mai dari SYSS, membakar diri demi perdamaian. Ngoc Phuong amat terpukul.

Dia terus aktif membantu para korban perang dengan makanan dan obat-obatan bagi penduduk sekitar Saigon. Tahun 1968 dia bergabung dengan Thich Nhat Hanh di Hongkong. Tahun 1970-an Thich Nhat Hanh menjadi kandidat peraih Nobel Perdamaian karena gerakan perdamaian Vietnam. Ngoc Phuong lalu menjadi Biksuni Chan Khong dan menjadi tangan kanan Thich Nhat Hanh. Dalam pengasingan, mereka mendirikan komunitas Plum Village di Bordeaux, Perancis. Ajaran perdamaian mereka dinilai berbahaya oleh Vietnam. Mereka juga membantu ribuan manusia perahu dengan berbagai cara.

Di Plum Village, Chan Khong mengajarkan perdamaian, meditasi laku, pernapasan, dan “to smile (tindakan tersenyum).” Tutur katanya pelan, halus, tegas, namun penuh kegembiraan, membawa nuansa meditatif.

Kini, di tengah tantangan ekonomi global yang menggurita dan perasaan permusuhan yang merebak di mana-mana, Chan Khong mengajarkan Global Ethics (Etika Global). “Ketika semua orang, baik Muslim, Kristiani, orang Amerika, orang Arab, orang Palestina, Indonesia, bisa berujar, ‘ya..ya.. itu etika saya’, maka itulah Etika Global,” jelasnya.

Ada lima panduan Etika Global, yaitu, pertama, jangan membunuh karena membunuh akan memunculkan penderitaan—termasuk membunuh binatang untuk konsumsi. Kedua, jangan mencuri karena membawa ketidakadilan.

Ketiga, jangan mempraktikkan hubungan seksual secara keliru karena akan tidak ada lagi kebahagiaan mendalam pada relasi antaramanusia. Dia memberi contoh, “Banyak orang di Perancis tak mau menikah. Angka bunuh diri pun meningkat, 40-50 per hari. Hidup tak lagi ada tujuan,” ujarnya prihatin.

Yang keempat adalah berhati-hati dengan kata-kata. “Kata-kata bisa menghancurkan orang (membunuh). Kembangkan kemampuan mendengarkan,” tuturnya.

Pegangan kelima, mengonsumsi secara benar. “Indera harus diberi ‘makan’ terpilih yang sehat. Tontonan dan bacaan sehat untuk pikiran dan makanan sehat untuk tubuh,” ujarnya menutup pembicaraan.

Chan Khong percaya, ketika Etika Global terbentuk dan semua orang mempraktikkan, perdamaian telah tiba untuk mengetuk pintu kehidupan kita.

Biodata Chan Khong:
Nama: Chan Khong berarti Kekosongan Sejati, terlahir Cao Ngoc Phuong

Lahir: Kota Ben Tre, Vietnam, 1938

Pencapaian: Mengajar meditasi, perdamaian dengan penapasan di Plum Village, Bordeaux, Perancis selatan, yang dipimpin oleh Thich Nhat Hanh.

Sumber: Sosok, Kompas, Senin, 11 Mei 2009