I Have Arrived, I Am Home

I Have Arrived, I Am Home
Foto bersama di ayunan @PlumVillageThailand

Sampai mana? Rumah? Benar, rumah yang dimaksud adalah rumah yang membuat hati saya damai dan tenang, apalagi bebas dari beban pikiran yang melanda di saat mengalami kesulitan.

Saya mengikuti acara retret yang diadakan oleh Plum Village Thailand dari 21 Desember 2018 sampai dengan 4 Januari 2019. Sambil menyelam minum air, tahun baruan sambil latihan. Saya merasakan sensasi yang sungguh luar biasa di sana. Mendapatkan energi positif yang sangat bermanfaat dan pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan

Tiba pada hari H, saya berangkat ke Thailand bersama dengan guru dan teman-teman spiritual pada pagi hari dan tiba di Thailand pada siang hari. Perjalanan terbang dari Jakarta menuju Thailand secara langsung memang membutuhkan waktu 3,5 jam. Ini merupakan mimpi saya untuk pergi ke Thailand. Untungnya saya pun mendapat persetujuan orang tua untuk menuju ke sana dengan mudah.

Saya sangat bersyukur karena memiliki kedua orang tua yang sangat mendukung latihan saya hingga mengizinkan saya pergi ke luar negeri. Retret akhir tahun di Plum Village Thailand ada dua, pertama adalah retret fasilitator (21-24 Desember 2018), dan kedua adalah retret Asia Pasifik (26 Desember 2018-1 Januari 2019). Saya mengikuti kedua acara tersebut dengan hati senang

Saya mendapatkan fasilitator orang Vietnam yang fasih berbahasa Inggris, sehingga memudahkan saya untuk mengerti apa yang mereka katakan. Di dalam grup saya ada dua fasilitator yang mengajarkan banyak hal. Hal tersebut mulai dari mengundang genta berkesadaran, hingga mengajarkan cara melantunkan pendarasan meditasi pagi dan sore.

Kami juga mempraktikkan Dharma sharing, praktik berbagi kesulitan yang dihadapi di rumah dan saling berbagi pengalaman pribadi masing-masing tentang latihan. Ada catatan di dalam Dharma sharing yaitu apa yang disampaikan di dalam Dharma sharing tidak diperkenankan untuk disebarluaskan di luar lingkaran. Dengan demikian semua orang yang berada di dalam lingkaran tersebut dapat lebih leluasa menyampaikan isi hatinya.

Saya mendapat kelompok Dharma Sharing Indonesia, sehingga bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia. Selain itu ada juga translator dari Indonesia yang siap untuk menerjemahkan ke Bahasa Inggris kepada brother dan sister yang menjadi fasilitator kami.

Brother dan sister adalah panggilan kepada monastik yang berada di sana. Dharma sharing adalah hal yang sangat berkesan bagi saya karena pengalaman orang lain dapat menjadi inspirasi bagi saya agar lebih bersemangat untuk mengikuti retret berikutnya. Saya yakin retret demikian dapat memperkuat iman saya.

Pada saat makan berkesadaran, saya bisa benar-benar mempraktikkan makan berkesadaran. Makanan yang dimakan ternyata tidak sesuai dengan lidah saya. Lidah saya ini asli Indonesia yang sudah terbiasa makanan manis dan pedas. Sedangkan di sana, makanan yang saya temui itu sangat sehat namun hambar dan asin sehingga tidak sesuai dengan lidah, tetapi saya tetap harus makan.

Saya benar-benar mempraktikkan makan berkesadaran, kunyah 30 kali, merasakan rasa makanan yang berbeda dan di situ saya sadar bahwa tidak harus selalu mengikuti pikiran dan mata untuk mengambil makanan

Saya belajar bersyukur dengan apa pun yang saya makan meskipun tidak sesuai dengan selera. Saya cukup beruntung karena ada teman dari Indonesia yang membantu saya dalam hal makanan, dia membawa cabai rawit dari Indonesia yang pedasnya pas di lidah. Kalau sedang ingin makan pedas, tinggal duduk dekat dengan dia saja, jadi gampang deh kalau mau cabai.

Tanggal 25 Desember 2018 adalah perayaan Natal, dan di Plum Village merupakan lazy day. Hari itu juga merupakan arrival day atau hari kedatangan para peserta retret Asia Pasifik. Tiap minggu, para monastik memang memiliki kegiatan lazy day untuk istirahat.

Lazy day, hari bermalas-malasan. Saya bangun agak siang pada hari itu. Pada umumnya kami wajib bangun pukul 4 pagi, namun pada lazy day saya bangun pukul 06:45 sementara sarapan pukul 07:00. Seharian menikmati Thai Plum Village yang sangat kaya akan kebahagiaan, seperti di suatu tempat yang sangat indah dengan pemandangan alam asri dan menyegarkan sehingga dapat cuci mata.

Menghabiskan waktu dengan keliling Plum Village, minum teh bersama dan mengakrabkan diri kepada teman yang belum akrab. Kami mengobrol bersama dan bertukar pikiran satu sama lainnya. Banyak pohon asam jawa di sana. Salah satu brother di sana mengatakan bahwa asam jawa dikenal di Thailand dapat mengurangi berat badan. Saya pun tertarik dengan hal tersebut dan memakannya. Dan ternyata sesuai dengan namanya, aseeemmm banget, tapi asemnya enak juga sih

Seharian keliling Plum Village ternyata sangat seru karena melihat pemandangan. Kalau di Jakarta yang dilihat kiri kanan adalah mall dan bangunan gedung besar, sedangkan di Plum Village Thailand di kiri dan kanan ada  banyak pohon rindang dan banyak tumbuhan hijau yang membuat mata menjadi lebih segar.

Menurut psikologi, mata akan lebih sehat jika melihat warna hijau dan tidak melihat layar terus.  Yang biasanya selalu risau untuk membalas pesan dari teman teman dan orang tua dan selama di sana bisa mengistirahatkan diri dari layar sentuh yang dapat membuat mata lebih cepat rusak.

Saya sangat bahagia dan bersyukur karena diberi kesempatan untuk menikmati keindahan alam di Plum Village dan semoga ada kesempatan lain untuk datang berkunjung ke sana lagi.

Phinawati Tjajaindra (Nuan), mahasiswa UPH, jurusan Hukum. Praktisi kewawasan (mindfulness) dan sukarelawan Retret dan Day of Mindfulness.

Retret Fransiskan di Plum Village Thailand

Retret Fransiskan di Plum Village Thailand
Romo Feri (paling kanan berdiri). Retret Fransiskan di Plum Village Thailand.

Tanggal 10 sampai dengan 14 Desember 2018 lalu, ada 17 saudara OFM (The Order of Friars Minor) dari beberapa negara yaitu Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, India, Myanmar, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Amerika, mengadakan retret di Pusat Latihan Plum Village di Pak Chong, Thailand. Retret ini atas inisiatif Pastor John Wong OFM dari Komisi Dialog Antar Iman Generalat OFM di Roma yang sudah lima kali ikut retret di Plum Village Thailand dan dua kali di Plum Village Prancis di dekat Bordeaux.

Tujuan retret adalah membangun dialog Katolik dengan Buddhis melalui retret bersama di Wihara Buddhis. Pada kesempatan tersebut, Biksu Goh dari Singapura menjelaskan sejarah agama Buddha. Biksu Phap Niem menjelaskan Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truths) dan Jalan Mulia Beruas Delapan (Eight Noble Paths) yang merupakan inti ajaran Buddha untuk mentransformasikan penderitaan.

Para OFM juga diberi kesempatan untuk berbagi tentang Santo Fransiskus Assisi dihadapan sekitar 160 monastik dan 50 peserta yang sedang retret di Plum Village Thailand. Pastor Tom Herbst OFM dari AS menyampaikan refleksi berupa dialog imajiner Santo Fransiskus Assisi dengan Buddha.

Pastor Francis Lee, OFM dari Korea Selatan menyampaikan bagaimana kesamaan nilai-nilai ajaran Buddha dengan ajaran Santo Fransiskus Assisi. Sepasang suami istri dari Jepang mengatakan sangat terpesona dan bersyukur bisa mengalami kondisi saling memahami dan kerjasama  dalam damai antara imam Katolik dan biksu Buddha.

Lima orang dari Eco Camp Bandung juga diundang untuk mengikuti retret ini. Beberapa orang dari Eco Camp sudah pernah retret di Plum Village Perancis dan menggunakan beberapa latihan sadar penuh dalam kegiatan Eco Camp. Tema retret ini adalah “Interfaith Dialogue Building Brotherhood and Sisterhood“.

Retret dimulai dengan minum teh bersama dengan refleksi bahwa di dalam secangkir teh ada benih teh, awan, dan matahari. Biksu Phap Niem menjelaskan bagaimana banyak kemiripan ajaran Yesus Kristus dengan Buddha. Ketika dua tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan di situ Tuhan hadir. Ketika Sangha berkumpul di situ Buddha juga hadir.

Dalam retret ini peserta bangun pukul 4 pagi dan melaksanakan meditasi duduk, pendarasan, meditasi duduk, meditasi makan, berbagai praktik kewawasan (mindfulness practices), dan berbagi kebahagiaan berdialog antara dua tradisi yaitu Katolik dan Buddha untuk membangun persaudaraan sejati.

Peserta retret dari Vietnam dan dari Eco Camp pada tanggal 16 Desember 2018 masih sempat menghadiri penerimaan tujuh novis wanita dan empat novis pria yang disebut novice monk and nun ordination dengan mengucapkan sepuluh kaul (10 sila samanera dan samaneri) yang intinya adalah hidup sederhana, selibat, taat, vegetarian, menghindari kemewahan, dan setia berlatih nilai-nilai Buddhis. Mereka menerima nama baru, jubah, dan dipotong habis rambutnya disaksikan semua semua monastik dan keluarga.

Dari retret ini para Fransiskan dan peserta dari Eco Camp mengalami indahnya persaudaraan, hidup sederhana, keheningan, makan vegetarian, mengolah penderitaan, dan banyak nilai lainnya.

Tahun 2019, Pastor Michael Peruhe OFM, Provinsial OFM Indonesia, menyampaikan rencana refleksi 90 tahun OFM di Indonesia dan 800 tahun pertemuan bersejarah Santo Fransiskus Assisi dengan Sultan Malik di Mesir yang menjadi tonggak dialog antar iman yang sangat bersejarah.

Retret di Thailand bersama para monastik Plum Village dan berbagai kegiatan lain adalah upaya membangun persaudaraan sejati dan nilai-nilai kesederhanaan dari berbagai tradisi agama dan iman.

Wihara Plum Village di Perancis, Thailand, AS, Jerman, dan Hongkong didirikan oleh Master Zen, Thich Nhat Hanh yang akrab di sapa Thay, yang sekarang berusia 92 tahun dan karena sakit sudah kembali ke Vietnam. Thay menulis ratusan buku yang luar biasa, antara lain “Going Home : Jesus and Buddha as Brothers“, “Living Buddha Living Christ“, “How to Love”, “Peace”, “The Miracle of Mindfulness“, “No Mud No Lotus”, dan lain-lain yang sebagian besar sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ada 14 mindfulness training. Saya sangat terpesona dengan tiga yang pertama yaitu Keterbukaan (openness), Tidak Melekat Pada Pandangan (non attachment to views), dan Kebebasan Berpikir (freedom of thought). Kalau kita mau melatih tiga prinsip ini maka kita akan menjadi orang yang terbuka, tidak berpikiran sempit, tidak akan memaksakan pikiran kita, dan selalu mau belajar hal baru dan menghormati perbedaan pendapat.

Prinsip ini dari agama Buddha tapi bahkan ditulis jangan fanatik bahkan dengan ajaran Buddha itu sendiri.

Ayo kita bangun dunia baru tempat kita belajar terbuka karena kita menghargai bahwa kebenaran bisa tumbuh di mana-mana dan tidak seorang pun atau suatu kelompok menguasai kebenaran. Justru perbedaan akan memperkaya dan memperindah kehidupan bersama. 

Stanislaus Ferry Sutrisna Wijaya, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, Pendiri dan pembina Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang mengelola Eco Camp

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari
Meditasi jalan di pagi hari

Saya mengikuti retret di Amitayus dari tanggal 29 sampai dengan 30 September 2018. Retret 2 hari ini sangat menyentuh hati. Saya merasa seperti kembali ke rumah diri sendiri. Anggota sangha monastik dan komunitas memberikan kondisi damai, hal ini membuat saya bisa memaknai kehidupan saat ini.

Sehari-hari, saya tidak punya waktu untuk menenangkan diri, namun selama retret saya merenungkan semua proses kehidupan yang penuh dengan suka dan duka, baik dan buruk, benar dan salah. Ternyata banyak terjadi penyimpangan yang telah saya lakukan, apakah itu secara sadar atau pun tidak sadar.

Retret ini menyadarkan saya betapa pentingnya untuk stop (berhenti) dari penyimpangan itu. Lewat kondisi berhenti inilah saya bisa merenung dengan mendalam sehingga saya kembali disadarkan untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Selain mendapatkan pencerahan kecil, saya juga mengenal teman-teman baru, suatu hal yang menarik mengobservasi bagaimana sikap dan tingkah laku yang unik dari setiap orang. Ini membuat saya lebih mengerti tentang perbedaan agar bisa menerimanya.

Hal yang menarik bagi saya adalah ketika sesi makan. Kami mengambil makanan dengan cara yang teratur, antri, dan hening. Setelah itu duduk untuk menunggu semuanya duduk, mendengarkan genta berkesadaran lalu mendengarkan perenungan. Hal ini melatih kesabaran saya. Hal seperti ini tampaknya bagus diterapkan di rumah, menyadari aktivitas sehari-hari.

Saya menyadari bahwa prilaku saya menjadi lebih baik saat retret, terutama ketika membaca dan mendengar dengan penuh kesadaran. Topik pembahasan mencakup keluarga, anak, dan leluhur. Tentu saja bagaimana menuju pada keharmonisan melalui komunikasi, saling memberi perhatian, kemudian juga menciptakan kedamaian antara pasangan suami istri.

Meditasi kerja juga menarik. Kami berbagi tugas untuk bersih-bersih, menyapu, menyuci, semua tugas ini serasa sangat nyaman, kerjaan menjadi mudah dan cepat terlesesaikan. Menjaga kebersihan juga merupakan cara kami untuk menjaga kesehatan bersama.

Retret selama 2 hari tampaknya kurang lama. Walaupun hanya 2 hari namun memberikan dampak besar agar saya bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anggota sangha monastik, semua panitia, serta teman-teman yang bersama-sama dalam retret itu.

Ini adalah karma baik bagi saya sehingga bisa berkumpul dengan komunitas latihan hidup berkesadaran. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Andi, peserta retret dari Cimone, Tangerang

Retret Untuk Menyirami Benih Positif

Retret Untuk Menyirami Benih Positif

Retret Remaja 2018, kloter ke-1

Retret Hidup Berkesadaran (RHB) adalah wadah atau tempat untuk berlatih menjadi hidup lebih dasar penuh dan dapat hidup dengan prinsip saat ini. RHB 8 kali ini diadakan di Pondok Sadhana Amitayus dengan 2 gelombang. Saya mengikuti 2 gelombang tersebut.

Saya merasakan perbedaan yang begitu drastis dari sebelum dan sesudah retret. Saya rajin untuk mengikuti Retret. Sebelum saya mengikuti retret, saya tidak dapat melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan lain sebagainya.

Di retret, kita tidak hanya dilatih untuk sadar penuh akan aktivitas yang kita lakukan, tetapi kita diajarkan untuk hidup mandiri. Jika seseorang mendengar bahwa retret dengan hidup bermeditasi setiap hari begitu membosankan dan sangat malas, maka ternyata itu salah. Retret memang melatih kita untuk bermeditasi, tetapi itu lebih ke rutinitas kita sehari-hari yang dilakukan secara sadar. Sadar saat makan dan minum, berjalan, duduk, berbaring dan sebagainya.

Relaksasi Total

Selama saya mengikuti retret, saya sering mendengar kesan orang yaitu relaksasi total atau meditasi berbaring. Dimana kita dilatih untuk tidur secara sadar dan kalau tertidur adalah suatu bonus. Tidur jenis ini biasanya tidak menghasilkan mimpi. Kita memberikan julukan meditabo (meditasi bobo).

Relaksasi total biasanya disertakan dengan panduan relaksasi total agar kita bisa mendapatkan arahan dan instruksi saat melakukannya. Saya beberapa kali memimpin untuk relaksasi total dan banyak orang yang langsung terlelap bahkan menghasilkan paduan suara yang sangat lucu alias ngorok.

Meditasi Jalan

Pada saat meditasi berjalan, kita dibawa untuk bermeditasi berjalan outdoor. Kita melihat pemandangan gunung yang indah dan sawah yang begitu besar. Melihat ke kiri dan ke kanan terdapat sawah, melihat ke depan terdapat gunung yang menjuntai. Sangat indah sekali.

Saat saya sedang enak untuk berjalan dan menikmati udara segar yang menyegarkan tubuh, mungkin karena saya kurang mindfulness saat berjalan, saya terjilapak (tergeletak) di antara rerumputan. Untung saja rerumputan jadi tidak terlalu sakit. Maka dari itu, saya sadar mengapa kita harus melakukan aktivitas secara mindfulness. Jika sedang bengong atau memikirkan sesuatu, pasti yang saya alami akan terjadi.

Berbagi Tugas

Hal yang paling berkesan juga ada ketika meditasi kerja. Pada saat itu saya adalah volunteer. Saya mendapatkan meditasi kerja di toilet. Aduhh, selama retret, toilet adalah spot meditasi kerja yang paling saya hindari. Saya paling malas untuk menyikat WC dan juga menyedot WC. Kali ini, saya harus meditasi kerja di toilet dan tetap harus menjalaninya. Tugas saya menyikat dan menyedot WC hingga bersih.

Di rumah saja saya tidak pernah menyikat WC dan kali itu adalah kali pertama melakukan hal itu. Membersihkan rambut-rambut yang membuat air menjadi mampet juga harus dibersihkan. Saya merasa jijik tetapi menjadi tantangan.

Membersihkan WC ternyata tidaklah mudah. Tetapi, dengan mendapatkan shift di toilet, saya menjadi belajar cara untuk menyikat WC yang benar dan teman-teman yang lain juga dapat menjadi lebih bertanggung jawab dengan shift yang mereka dapatkan.

Water Flowering

Retret kali ini terdapat sesi water flowering, dimana kita bisa memberikan kesan kepada teman teman melalui tulisan. Kita diminta untuk menempel kertas di punggung dan teman-teman kita akan menuliskan kesan positif kita. Sesi yang paling seru karena heboh. Tujuan sesi itu juga setelah saya mendapatkan kesan dari orang lain untuk kita, sekaligus saya juga dapat mengintropeksi diri saya sendiri.

Manfaat Retret

Dengan mengikuti retret, masing-masing individu akan mendapatkan kesan dan pengalaman yang berharga termasuk saya. Saya menjadi lebih mandiri dari sebelumnya dan mendapatkan nutrisi tubuh dan meninggalkan sejenak kerjaan yang menumpuk di real life activity. Banyak manfaat yang akan didapatkan saat mengikuti retret.

Retret Remaja 2018 Kloter ke-2

Lihat foto di Facebook: Kloter ke-1 dan Kloter ke-2

NUAN, Aktif di Komisi Remaja Wihara Ekayana Arama, volunteer retret hidup berkesadaran, mahasiswa Universitas Pelita Harapan, Jurusan Hukum.

Di Manakah Rumah Saya yang Sesungguhnya?

Di Manakah Rumah Saya yang Sesungguhnya?

Retret di Belanda. Bhadrawarman, dari kanan pertama.

Tahun lalu saya berkesempatan pergi ke Belanda bersama keluarga saya dan Brother Duc Pho, yang menjadi tubuh kedua (second body) saya. Di hari pertama saya menginjakkan kaki di Belanda, saya merasa seperti tiba di rumah. Saya pernah mengunjungi beberapa negara di Eropa lainnya, tetapi saya tidak merasakan perasaan yang sama seperti yang saya alami di Belanda. Di Perancis, saya belajar latihan agar tiba di rumah yang sesungguhnya, “I have arrived, I am home”.

Tanah air saya adalah Indonesia. Sering kali saya renungkan bahwa ketika saya masih berada di Indonesia, bahkan ketika saya berada di rumah, saya tidak benar-benar berada di rumah. Pikiran saya seringkali tidak berada di rumah, tidak bersama tubuh saya. Sekarang walaupun saya tidak berada di Indonesia, saya merasa lebih tiba di rumah. Saya belajar untuk bernapas masuk dan keluar ketika pikiran saya sedang meloncat-loncat. Saya belajar untuk berjalan dengan sedemikian rupa agar saya dapat kembali ke rumah yang sesungguhnya.

Saya merasa sangat bahagia dan rasanya sangat mudah untuk mempraktikkan “I have arrived, I am home” di Belanda. Teringat Sister Dieu Nghiem (Sister Jina) pernah menceritakan hal yang sama kepada saya. Ketika beliau datang ke Indonesia, beliau merasa seperti tiba di rumah. Beliau mempelajari bahwa banyak makanan di Belanda yang asalnya ternyata dari Indonesia. Saya baru saja tiba dari Belanda untuk mendukung retret yang diadakan di sana.

Retret di Belanda “Insight is the source of deep happiness”
Di awal retret, muncul perasaan sedikit tidak nyaman dan tidak disambut oleh peserta dan panitia retret. Peserta retret mengetahui dari informasi yang mereka dapatkan sebelum retret bahwa retret ini akan diadakan dalam bahasa Belanda. Di hari pertama saya memfasilitasi sesi berbagi Dharma di dalam sebuah kelompok yang kita sebut sebagai keluarga, mereka terkejut bahwa ada satu monastik yang tidak bisa berbahasa Belanda. Saya memfasilitasi sesi tersebut dalam bahasa Inggris. Awalnya semua orang berbicara dalam bahasa Inggris, karena sebenarnya mereka bisa berbahasa Inggris. Beberapa orang kemudian mengatakan bahwa mereka tidak merasa nyaman untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Kemudian kami memutuskan untuk membiarkan peserta retret di keluarga saya untuk berbicara dalam bahasa Belanda. Ada seseorang yang menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk saya.

Beberapa peserta retret di keluarga saya berbagi bahwa meskipun pada awalnya mereka merasa tidak nyaman karena masalah ini, akan tetapi mereka merasakan perasaan hangat di dalam keluarga. Tema retret ini adalah “Insight is the source of deep happiness”.

Saya berbagi kepada mereka bahwa pada awalnya saya tidak mengerti mengapa Thay memilih kata insight atau understanding sebagai terjemahan dari kata prajna dalam bahasa Sanskerta. Biasanya kata prajna diterjemahkan sebagai wisdom atau kebijaksanaan. Saya tidak mengerti mengapa Thay memilih kata yang maknanya terlihat lebih dangkal. Namun seiring berlalunya waktu, saya semakin mengerti mengapa Thay memilih kata pengertian atau insight. Teringat pada retret sadar penuh yang pertama saya ikuti, saya ajukan pertanyaan “Bagaimana caranya berlatih agar mendapatkan kebijaksanaan?” di sesi Tanya Jawab. Jawabannya adalah berlatih sila, samadhi, prajna.

Pada saat itu saya tidak begitu mengerti jawabannya. Barangkali karena pada saat itu saya baru mengenal latihan dan belum menerima sila Buddhis. Di Plum Village tiga latihan yang menjadi inti latihan adalah smrti, samadhi, prajna. Smrti adalah sila dalam bahasa Sanskerta. Samadhi adalah konsentrasi. Ketika Thay mengajarkan bahwa latihan sadar penuh dan konsentrasi dapat membantu kita untuk mendapatkan insight atau pengertian saya baru dapat mulai memahaminya. Saya dapat memahami diri saya sendiri, memahami tubuh dan pikiran saya.

Dahulu saya tidak benar-benar memahami tubuh saya sendiri. Makan berlebihan dan pola hidup yang tidak sehat membuat tubuh saya sangat gemuk. Sekarang saya sudah menurunkan lebih dari 20 kg berat badan saya. Dengan tubuh yang semakin ringan, pikiran pun menjadi lebih ringan. Saya dapat lebih memahami pikiran saya. Sekarang saya lebih memahami apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan berdasarkan Thay. Menurut saya sekarang, kata pengertian atau insight bahkan bermakna lebih dalam, dan membantu saya dalam memahami kebijaksanaan yang sesungguhnya dalam ajaran Buddha.

Jalinan Jodoh

Di sesi berbagi Dharma saya pun berbagi dengan jujur perasaan apa yang saya rasakan di awal retret, bahwa saya merasa sedikit terluka karena perasaan “tidak diterima” oleh peserta retret. Namun perasaan bahagia dan syukur saya jauh melampaui luka yang ada di dalam diri saya, dan membantu saya dalam menyembuhkan luka tersebut. Kemudian saya berbagi bahwa di tahun pertama saya di Plum Village, saya berada di kamar bersama tiga brother dari Vietnam. Dua diantaranya tidak begitu fasih dalam berbahasa Inggris, sehingga kami tidak dapat berkomunikasi dengan lancar. Saya melihat bahwa barangkali ini salah satu hal yang membuat saya di awal sulit untuk benar-benar tiba di Plum Village.

Di tahun kedua saya berada di kamar bersama dua brother dari Belanda, dan satu brother dari Vietnam. Semuanya fasih dalam berbahasa Inggris, sehingga membuat saya merasa nyaman ketika berada di kamar. Kedua brother tersebut juga merupakan sahabat spiritual (kalyanamitra) saya. Sebelum sekamar dengan mereka, saya sudah bersahabat dengan cukup erat dengan mereka. Sekamar dengan mereka membuat persahabatan kami kian erat. Kami semua adalah penggemar minum teh. Biasanya kami minum teh bersama kala fajar menyingsing sebelum meditasi duduk. Kadang kami minum teh bersama di siang, sore, atau malam hari.

Saya merasa mempunyai jalinan jodoh yang sangat erat dengan monastik dari Belanda. Teringat seorang monastik dari Indonesia pernah mengatakan bahwa tidaklah aneh bahwa monastik dari Indonesia dapat bersahabat erat dengan monastik dari Belanda. Barangkali karena jalinan jodoh yang kami miliki di masa lalu. Teringat pula Sister Chan Duc berbagi ketika beliau tiba di India pada pertama kali, beliau merasa sangat nyaman seakan tiba di rumah. Kemudian Thay berkata pada beliau bahwa barangkali beliau pernah terlahir sebagai orang India di kehidupan masa lalunya. Ketika saya mendengar hal ini, saya berpikir bahwa mungkin saya pernah terlahir sebagai orang Belanda di kehidupan masa lalu saya.

Memulai Lembaran Baru

Seiring dengan eratnya hubungan saya dengan mereka, kesalahpahaman dan miskomunikasi kerap kali muncul. Pertama kali saya merasa terluka karena salah satu brother dari Belanda yang salah paham terhadap saya. Cara dia mengungkapkan perasaannya sangatlah langsung, yang ternyata merupakan salah satu budaya orang Belanda. Jika pada waktu itu saya tidak mengungkapkan keinginan untuk berlatih memulai lembaran baru, barangkali persahabatan saya dengannya sudah berakhir. Hal ini terjadi karena saya menganggap bahwa saya tidak salah, dan dia memiliki persepsi keliru terhadap saya.

Jika saya dikuasai oleh keangkuhan diri saya, saya tidak akan mau untuk berlatih memulai lembaran baru dengan dirinya. Namun ternyata setelah berlatih latihan ini, kami melihat bahwa akar permasalahan ini sangatlah kecil, hanyalah kesalahpahaman belaka. Persahabatan kami pun kian erat karena kami semakin memahami satu sama lain. Saya mulai memahami budaya orang Belanda, dan dia mulai memahami budaya orang Indonesia. Ketika pengertian muncul di dalam sebuah hubungan, persahabatan (atau biasa disebut sebagai brotherhood & sisterhood di Plum Village) pun semakin erat!

Saya melihat bahwa pengertian (mutual understanding) merupakan salah satu aspek penting dalam suatu hubungan. Dahulu karena saya tidak mengetahui latihan sadar penuh, saya memiliki kesulitan untuk mengerti keluarga saya, maka dari itu sulit bagi saya untuk merasa “tiba di rumah” di rumah keluarga saya. Baru setelah mengetahui latihan, saya belajar untuk mengerti dan mengasihi orangtua saya. Dahulu saya belajar ilmu komunikasi di perguruan tinggi, namun saya tidak mempelajari bagaimana cara berkomunikasi dan berhubungan dengan keluarga saya.

Hubungan saya dengan orangtua dan adik saya dahulu sangatlah buruk. Baru setelah mempelajari seni mendengar secara mendalam dan berbicara dengan cinta kasih, hubungan saya dengan keluarga saya menjadi semakin membaik. Saya belajar untuk mendengar ketika papa saya marah. Dahulu saya tidak mengerti mengapa papa saya mudah sekali marah.

Sekarang saya mengerti bahwa itulah cara papa saya mengekspresikan kasihnya dan berupaya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena papa saya tidak mengetahui latihan untuk mendengarkan kemarahan di dalam dirinya, ucapan yang dilontarkan oleh papa saya menjadi dipenuhi dengan kepahitan. Alhasil hubungan kami bukan semakin baik namun menjadi semakin buruk. Baru setelah saya belajar untuk mendengar, saya memutuskan untuk berlatih mendengar ketika papa saya marah. Mama saya kemudian tertarik untuk mempelajari latihan, sehingga membantu mengubah keadaan di keluarga saya. Setelah itu saya baru merasa “tiba di rumah” di rumah keluarga saya. Sekarang saya berkesempatan untuk memperdalam ketibaan saya di Plum Village.

Teringat Thay mengajarkan bahwa tiba di rumah “I have arrived, I am home” adalah suatu latihan. Seiring dengan semakin dalam latihan kita, semakin dalam pula ketibaan kita. Di salah satu buku Thay mengajarkan bahwa latihan “I have arrived, I am home” adalah latihan paling mudah atau sederhana yang beliau telah ajarkan. Alangkah terkejutnya ketika saya membaca buku Thay yang lain, Thay mengatakan bahwa latihan “I have arrived, I am home” adalah latihan terdalam yang beliau telah ajarkan. Jadi di manakah rumah saya yang sesungguhnya? Saya menuju dalam perjalanan pulang ke rumah saya! (Bhadrawarman)

BHADRAWARMAN ditahbiskan sebagai samanera di Wihara Ekayana Arama, sekarang sedang berlatih di Upper Hamlet, Plum Village Perancis

Bertemu Kembali Dengan Diri Sendiri

Bertemu Kembali Dengan Diri Sendiri

Foto bersama setelah olah raga stik bambu.
Christy (barisan pertama nomor 3 dari kiri)

Retret adalah kondisi terbaik untuk latihan dan sebagai pengingat bahwa kita masih mempunyai teman terbaik yang sangat tidak bisa dipisahkan dari kita. Namun teman terbaik itu sering kita lupakan, yaitu “NAPAS”. Dengan merangkul dan bersahabat dengan “NAPAS” saya merasa menemukan kembali diri saya yang mungkin telah hilang karena arus cepatnya ibukota.

Kekuatan Semesta
Hampir 2 tahun saya mulai bertarung dengan ibukota ini. Hampir 2 tahun itu juga saya terakhir mengikuti retret atau sejenisnya. Selama ini saya merasa sangat hampa, saya menjalankan kehidupan saya seperti terombang-ambing dan hanya mengikuti arus dan kadang saya tidak bisa bertahan dengan kondisi tersebut.

Beberapa kali saya sempat putus asa atas tekanan ibukota dan saya pernah sampai ke tingkat depresi awal, pernah rasanya tidak ingin bangun lagi ketika pagi tiba. Kadang kehadiran teman–teman saya membuat saya bisa beranjak dari keterpurukan itu. tapi hanya berlangsung sementara, ketika mereka berada di sekitar saya.

Saya merasa ada sesuatu yang saya lupakan. Tapi di sisi lain, saya yakin itu adalah kekuatan semesta terus menempa diri saya untuk menjadi lebih tangguh dan sampai akhirnya saya dapat kesempatan untuk mengikuti Retret Hidup Berkesadaran lagi. Saya memang menyukai hal–hal seperti retret, karena saya bisa merasakan energi positif dan kenyamanan di sana.

Menyepi
Bertepatan di Hari Raya Nyepi (Day of Silence), MBI Provinsi Banten mengadakan Retret Hidup Berkesadaran di Pondok Sadhana Amitayus. Beruntungnya, saya mendapatkan info tersebut pada waktu yang tepat, akhirnya saya langsung mengajukan diri untuk ikut tanpa berpikir panjang.

Pada saat memasuki kawasan Amitayus saya merasa tenang, damai dan bahagia seolah beban pikiran saya tertinggal entah di mana. Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke tempat ini. Acara dimulai malam hari seperti biasa acara pertama adalah orientasi, kami dijelaskan tentang konsep dasar latihan hidup berkesadaran, yaitu Napas dan Genta.

Kegiatan malam itu ditutup dengan Menyentuh Bumi. Latihan Menyentuh Bumi ini merupakan cara untuk melatih kerendah hatian dan mengingatkan bahwa kita tidak sendiri di semesta ini. Nah, ketika latihan menyentuh bumi ini saya merasa ternyata selama ini saya itu tidak sendirian, saya merupakan bagian dari alam semesta ini dan saya merupakan bagian dari harapan-harapan orang tua saya. Setelah Latihan ini, saya menjadi memiliki motivasi untuk tetap bahagia.

Mendengar Satu Per Satu
Pada pagi hari, kita melakukan meditasi duduk dan mendengarkan sutra “Lima cara memadamkan api kemarahan” Ini bagian favorit saya, Retret sebelumnya saya belum pernah mendengar sutra ini.

Ketika mendengar satu per satu kalimat yang ada di sutra ini, Saya merasa malu, ternyata sangat simple untuk memadamkan api kemarahan tersebut, kita hanya butuh mengubah sudut pandang kita akan kebaikan orang tersebut, walaupun kadang ketika marah kita bakal lupa, tapi itu adalah awal dari latihan mengendalikan amarah.

Sesi mendengarkan wejangan dharma oleh Bhante Nyanabhadra, Bhante mengatakan bahwa kita perlu meluangkan waktu untuk mengecas batin kita dengan mengikuti retret atau DOM (Day of Mindfulness) atau sejenisnya.

Hal yang selalu ditekankan dalam Retret, yaitu Napas dan Genta. Ketika mendengar bunyi genta atau bunyi jam dinding kita berhenti dan kembali menyadari napas. Ini yang terlupakan oleh saya selama kehidupan sehari–hari saya.

Berhentilah
Selama ini, pikiran saya terus merasa tertekan dan berusaha berpikir mencari solusi dari proses yang saya alami (mungkin ini yang disebut gejolak batin). Ternyata solusinya adalah “BERHENTI” dan kembali menyadari napas itu membuat saya jauh lebih relaks dan bisa berpikir lebih jernih.

Ketika melepaskan keruwetan pikiran kita untuk sementara dan merelakskan tubuh kita, itu jauh lebih membahagiakan dan kita lebih bisa berpikir dengan jernih dan bisa melihat dari sudut pandang yang lebih baik akan segala sesuatu yang terjadi.

Keteguhan
Pada sore hari adalah sesi sharing dharma dan kebetulan kelompok saya ditemani oleh Bhante Bhadrakiriya, saya menyampaikan keberuntungan saya bisa mengikuti retret ini, karena rata–rata diikuti oleh orang yang lebih dewasa dari saya, dan saya bisa belajar banyak dari pengalaman yang mereka ceritakan pada sesi ini.

Hal yang saya dapatkan, Di dunia ini bukan hanya saya yang memiliki masalah yang berat, semua orang mengalami hal yang serupa, dan malah masalah mereka jauh lebih berat daripada masalah saya. Tapi mereka memiliki cara yang sangat menginspirasi dalam menghadapinya. “Ketika kita punya pedoman dan keyakinan yang teguh, tidak ada yang bisa menggoyahkan kita sekalipun mendapat masalah sebesar apa pun.” Ini adalah hasil dari sharing kami.

Keheningan
Pada malam hari dilanjutkan dengan sesi Bhante Nyanabhadra. Beliau menceritakan sedikit tentang Shantideva ketika membabarkan Bodhicaryavatara, lalu mengingatkan untuk perbanyak diam (hening), atau berpikir berkali–kali sebelum berbicara. Karena kata–kata yang telah diucapkan tidak dapat ditarik kembali jika kita salah berbicara.

Keesokan harinya, sesi tanya jawab yang didampingi Bhante Nyanagupta. Pada sesi ini Bhante menjelaskan mengenai pertanyaan–pertanyaan dan kesulitan–kesulitan kita selama retret.

Anumodana kepada Bhante Nyanagupta, Bhante Nyanabhadra, dan Bhante Bhadrakiriya atas waktu dan bimbingannya selama Retret Hidup Berkesadaran ini.

CHRISTY berasal dari Padang, aktivis Pemuda Buddhayana (SEKBER PMVBI) yang berkecimpung dalam dunia teknik sipil

Berhenti di Saat Ini

Berhenti di Saat Ini

Foto bersama, kebaya Indonesia. Sri (barisan depan, dari kanan pertama)

Cerita ini adalah perjalanan saya ketika mengikuti retret di Plum Village Thailand, retret ini merupakan hadiah terindah dari orang yang saya sayangi. Retret ini bertemakan “Walk With Me“, ini adalah retret pertama saya di Thailand. pada tanggal 23 desember saya berangkat dari Bandara Kualanamu Medan menuju Thailand.

Kita ada 14 orang yang berangkat pada waktu itu, ada hal menarik yang terjadi ketika kita tiba di bandaraThailand untuk ambil koper, Sudah keliling mencari koper, ternyata 20 koper kita ketinggalan di bandara Kuala Lumpur.

Kita hanya tertawa saja dan lanjut untuk mengurus proses pengantaran koper, lalu kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Plum Village yang berjarak 3 jam dari bandara Svarnabhumi Thailand dan bermalam tanpa baju ganti. Koper kami tiba di Plum Village pukul 2 pagi dini hari.

Aku Rindu
Ketika saya tiba di Plum Village, saya menikmati keindahan suasana di sana, tempatnya begitu sejuk karena berada di antara gunung dan ada perbukitan.

Dalam hati ini berkata “saya mau bersama keluarga berada di sini” karena saat ini saya hanya seorang diri hadir untuk mengikuti retret ini, hati ini menjadi sedikit sedih.

Jantung saya mulai berdegup kencang, lalu saya teringat untuk bernapas masuk dan napas keluar. Saya tau saat ini saya sendiri di sini, saya berhenti di saat itu juga untuk bernapas. Aku tak mau lukai hati ini, tubuh, dan pikiran ini, tapi saat ini aku sendiri. Aku sadari aku bernapas, aku bahagia, aku tahu napasku untukmu.

Bertemu Kembali
Pagi itu sangat cerah sekali, saya memutuskan untuk berjalan pagi untuk melihat sekeliling tempat saya menginap, karena waktu itu saya tiba di sana sudah malam dan langsung tidur. Tempat ini ternyata begitu luas, berada di puncak dan dikelilingi beberapa bukit dan ada gunung. Pemandangannya begitu indah sehingga membuat udara di sini dingin di malam hari dan sejuk di siang hari.

Saya berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah batu untuk menikmati pemandangan, langit, suara burung, awan, dan burung yang beterbangan di atas, serta angin yang berhembus dingin menerpa wajah saya.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya melihat langit yang cerah dan burung berterbangan.

Bernapas masuk, bernapas keluar, saya mendengar suara-suara burung berkicau
Bernapas masuk, bernapas keluar, hatiku terasa damai.

Saya merasakan sesuatu yang hilang telah kembali lagi, ya, perasan hati ini, hati yang selama ini saya rindukan, akhirnya saya temukan kembali, dan sekarang saya mengerti bagaimana cara saya agar dapat kembali, dengan berhenti sejenak untuk melihat dan mendengar apa pun itu sehingga aku dapat merasakan hati yang damai. Perlahan kulepaskan lipatan kakiku dan turun dari atas batu untuk melanjutkan perjalanan pagi ku mengelilingi lokasi tempat saya retret dengan senyum pagi yang indah, SMILE….

Jasmine Tea
Kegiatan Reret selama beberapa hari, yang diawali dengan bangun pagi untuk meditasi duduk, meditasi berjalan, meditasi sarapan pagi, meditasi kerja, Dharma talk, meditasi makan siang, relaksasi total. Sesi yang membuat saya paling setresss adalah Dharma sharing group.

Baru disadari bahwa saya berada di grup yang pesertanya adalah orang dari berbagai Negara. Saya tidak pandai berbahasa Inggris, dan saya hanya punya satu teman di dalam grup yang juga tidak begitu lancar berbahasa Inggris.

Grup saya adalah “Jasmine Tea“, saya hanya dapat menyebutkan nama dan beberapa kata saja yang dapat saya ucapkan, di sini saya ingin bercerita tentang kegiatan kita, setiap grup perlu membuat sebuah pertunjukan untuk menyambut malam tahun baru. Waktu kita hanya ada 3 jam untuk mempersiapkan latihan sebelum tampil.

Kekacauan
Grup saya memutuskan untuk membuat drama tentang “KEKACAUAN“ yang terjadi ketika ingin sampai di Plum Village Thailand untuk mengikuti retret, yang pertama di mulai dengan kekacaun dari naik taksi yang mana teman saya bernama George sebagai penumpang dan Mr. Bunn sebagai supir taksi Thailand yang tidak mengerti bahasa Inggris.

Kekacauan pun terjadi ketika supir salah mengantar George ke bandara, di Thailand ada 2 bandara penerbangan keributan pun terjadi, tiba–tiba terdengar suara bel dan mereka berdua pun hening, lalu George menuliskan di sebuah kertas ke bandara mana yang dia mau.

Sekarang masuk dengan KEKACAUAN di imigrasi, kini giliran saya yang berperan sebagai staf wanita imigrasi. Di imigrasi sering terjadi kekacauan tentang VISA dan berebut antrian untuk cap paspor, bukankah begitu?

Saya mengambil peran ini karena keterbatasan saya berbahasa Inggris, jadi saya hanya perlu mengucapkan kata No No No… you need VISA. Kekacauan timbul, terdengar suara bel .. silent dan saya memutuskan semua pengunjung untuk masuk tidak pakai visa.

Semua berjalan happy sampai di penjemputan menuju ke Plum Village. Walaupun degan keterbatasan saya dalam berbahasa kita adalah satu keluarga “Jasmine Tea” we are happy.

Terima kasih, dengan Latihan Retreat Mindfulness ini saya dapat belajar dan mengerti, hingga saya memahaminya, dengan keterbatasan berbahasa inggris, yang membuat saya benar–benar pasang telinga dan mata untuk dapat mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dalam sharing group, serta saat mereka bertanya ke saya. (Sri)

Foto-foto dari Core Sangha Retreat @ThaiPlumVillage

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Foto Core Sangha Retreat Des 2017

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Retret WBI Prov Jambi @WihSakyakirti

Retret Hidup Berkesadaran yang baru dilaksanakan dari tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2017 ini diadakan dalam lingkungan Wihara Sakyakirti Jambi. Lingkungan ini sudah lumrah bagi semua peserta yaitu pengurus Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Jambi.

Peserta hadir pada sore hari, setelah menikmati makan malam, semua peserta mendapat orientasi singkat tentang berbagai latihan pokok yang akan dilakukan bersama-sama beberapa hari ke depan.

Sudut Berbeda
Hari berikutnya, kegiatan demi kegiatan diikuti dengan santai dan relaks. Ada sesi workshop, para peserta diminta untuk menggambar objek gabungan yang disusun secara acak di depan mata, kami dalam posisi duduk melingkar. Beberapa peserta tampak ragu dengan instruksi menggambar sambil bergumam bahwa tidak bisa menggambar.

Beberapa menit telah berlalu, satu persatu peserta mulai menghasilkan gambar proyeksi pikiran masing-masing. Setelah selesai menggambar, setiap peserta secara bergilir mengoper hasil karyanya ke kiri, sampai hasil karyanya kembali lagi kepada dirinya sendiri. Kami melihat bahwa setiap gambar mempunyai hasil yang unik dan berbeda-beda. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa cara kami melihat atau cara pandang kami ternyata berbeda-beda, padahal objek yang digambar adalah sama, hanya melihatnya dari sudut yang berbeda. Ini menjadi renungan sangat berharga bagi semua peserta.

Begitu Indah
Praktik jalan berkesadaran merupakan praktik harian, kami melewati tangga yang sudah sangat sering kami lewati. Namun pada hari itu ada seorang peserta yang berkata, “Jika kita berfoto di tangga ini pasti bagus.”

Saya tersenyum kecil, wah setelah sekian lama baru disadari ternyata tangga yang biasa-biasa ini tiba-tiba menjadi begitu indah, saya sadar karena pikiran kami indah, pikiran kami jernih, sehingga tangga itu tiba-tiba menjadi indah. Ternyata benar adanya kalau keindahan itu ada di mana-mana, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.

Setiap pagi setelah sarapan, kami mempraktikkan meditasi kerja. Pada hari itu, ada peserta yang membersihkan kamar tidur bersama, ketika hendak masuk ke gedung itu mendapati gerbang utamanya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di dalam. Syukur saya mendapat informasi bahwa security memiliki kunci serep.

Setelah saya mendapatkan kunci serep, dalam perjalanan kembali ke tempat peserta yang masih menunggu dibukakannya pintu gedung tersebut, seorang panitia tergesa-gesa menemui saya, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang peserta sedang menangis dan emosinya sedang tidak stabil. Saya menemui peserta tersebut dan merangkulnya untuk membantunya tenang kembali.

Meredakan Emosi
Saya mencoba untuk mempraktikkan mendengar dengan penuh kesabaran. Tampaknya dia cukup emosional, ia menceritakan kepedihan hatinya, menumpahkan air matanya beserta semua gundah di hati. Ia menceritakan bahwa ada seseorang menegur peserta lain dengan kata-kata yang kurang enak didengar. Teguran tersebut terdengar olehnya sehingga ia sedih dan menangis. Padahal yang ditegur adalah orang lain, kok dirinya yang merasa sangat tersinggung dan sedih.

Hati kesal pun tumbuh menjadi besar dalam dirinya, setiap kali bertemu dengan orang yang menegur itu, ia membuang muka tidak mau menatapnya. Pada saat bhante memberikan wejangan Dharma pas sekali berkaitan dengan bagaimana pikiran membesar-besarkan sesuatu sehingga sakit hati kecil bisa menjadi sakit hati besar, sakit hati itu bagaikan panah kedua dan seterusnya yang terus menerus menyakiti diri kita sendiri. Ia merasa bhante sedang menyinggung dirinya, sehingga dia merasa semakin terpojokkan. Ia menduga bahwa ada seseorang telah mengadu kepada bhante sehingga bhante memberikan wejangan Dharma seperti itu. Emosi negatif dirinya tambah besar, apa pun yang muncul dalam dirinya semakin negatif.

Dia menangis dan menangis. Setelah luapan airmata dan emosinya telah tertumpahkan, dia mulai tenang. Baru kemudian saya angkat bicara. Saya mencoba menceritakan sisi positif dari orang yang menegur tersebut, yang mana sisi positif ini yang dia tidak pernah ketahui, yang selama ini dia dengar hanya sisi-sisi negatifnya saja yang sudah seperti sampah yang menumpuk di pikirannya. Semua orang memiliki sisi baik dan kurang baik, namun manusia lebih sering mencatat sisi yang kurang baiknya, lalu melupakan sisi baiknya.

Titik Balik
Sore hari ketika sesi Dharma Sharing, ternyata kasus menegur itu disampaikan oleh salah satu peserta, inilah titik balik yang saya rasakan. Semua yang sharing bisa menggunakan bahasa kasih, tidak menuduh, lalu menceritakan apa yang mereka ingat dan bahkan meminta maaf kalau ucapannya dianggap sebagai teguran, padahal tidak bermaksud menegur. Emosi masing-masing orang telah reda dan pengertian pun lahir dari sana.

Keesokan harinya, masih ada orang yang berkisah tentang insiden itu, namun dia sudah bisa senyum dan tidak terlalu terganggu lagi oleh insiden itu. Saya merasa inilah transformasi yang luar biasa. Ada kalanya kita perlu memberikan izin kepada seseorang menumpahkan air matanya, mengeluarkan isi hatinya yang sudah beku agar air pengertian bisa mengalir kembali. Sekuntum teratai telah tumbuh ketika air mata emosi berubah menjadi pupuk dan air hujan pengertian. Yang awalnya emosi itu dianggap sebagai sampah atau buntang (bangkai), kini telah menjadi pupuk untuk menumbuhkan teratai suci.

Terima kasih kepadamu para sahabat yang telah berlatih bersama-sama, memberikan kami pengalaman yang begitu berharga. Tentunya ini juga berkat bimbingan yang diberikan oleh Bhante Nyanabhadra dan Bhante Bhadraputra selama retret itu.

Semoga kita semua akan tumbuh menjadi kuncup-kuncup teratai yang indah. (elysanty)

Ternyata Anak-anak Juga Bisa

Ternyata Anak-anak Juga Bisa


Sekolah dasar Pusaka Abadi terletak di Jl. V No 26-28 Pejagalan, Penjaringan, Teluk Gong, Jakarta Utara di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pusaka Abadi Mulia. Setiap tahun sekolah kami mengadakan kegiatan Kerohanian yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai religius pada siswa. Kegiatan kerohanian Buddha seperti perayaan hari besar Waisak dan Pekan Penghayatan Dhamma (PPD).

Tahun ini adalah kali kedua kerohanian Buddha SD Pusaka Abadi melaksanakan PPD di Pondok Sadhana Amitayus, Cipayung Bogor. Selain tempatnya sangat representatif untuk anak-anak, di sini kegiatan langsung dibimbing oleh monastik yang sudah berpengalaman dan dekat dengan anak.

Kegiatan-kegiatan menarik yang diikuti oleh siswa selama PPD seperti: pembiasaan meditasi makan, relaksasi total (meditasi baring), melatih sila, pembiasaan mencuci piring setelah makan, mendengarkan Dharma, belajar bernyanyi lagu Buddhis dalam bahasa Inggris dan Mandarin, dan pembiasaan memperhatikan keluar masuknya napas saat mendengar lonceng dan dentang jam dinding.

Selama kegiatan PPD di Pondok Sadhana Amitayus, kami mengharapkan murid-murid SD Pusaka Abadi menjadi anak yang baik, lebih disiplin dan bertanggung jawab sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami semua di sana sangat senang, tempatnya nyaman, suasananya tenang, pemandangannya indah, dan ajarannya luar biasa.

Kami sebagai guru merasa bangga melihat anak-anak bisa mengikuti kegiatan PPD dengan baik. Misalnya pada saat makan, mereka mau menghabiskan semua makanan yang sudah diambil tanpa sisa dan makan tanpa bersuara selama 15 menit, padahal ketika makan di sekolah mereka selalu terburu-buru, sambil ngobrol dan sering makanan tidak habis.

Memang untuk hari pertama anak-anak kaget dengan pembiasaan meditasi makan, tetapi hari berikutnya mereka semua memahami dan mengikutinya dengan baik. Kami berharap bimbingan seperti ini bisa berkelanjutan di tahun depan, supaya anak-anak menjadi manusia yang memiliki sila, kesadaran, kesabaran, dan lebih konsentrasi pada setiap kegiatan yang dilakukan.

Kami dari pihak SD Pusaka Abadi mengucapkan terima kasih kepada Wihara Ekayana dan Bhante Nyanagupta yang sudah memberikan izin untuk kami melaksanakan kegiatan PPD di Pondok Sadhana Amitayus. Kepada Bhante Nyanabhadra dan Samanera Bhadraprana. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing anak-anak kami dengan sabar. Apabila kami ada sikap yang tidak berkenan mohon dimaafkan dan untuk kekurangan, kami akan perbaiki sehingga tahun depan sikap kami akan lebih baik. Kami berdoa semoga ada karma baik bisa belajar kembali di Pondok Sadhana Amitayus. (Puji)

Retret Guru Sekolah Nanyang

Retret Guru Sekolah Nanyang

Retret bersama guru sekolah Nanyang Zhi Hui. Diikuti oleh sekitar 70an guru sekolah bersama staff dari 16 Oktober 2017 sampai dengan18 Oktober 2017 bertempat di Wihara Borobudur Medan.

Tema retret “A Vision For Education” mengontemplasikan hal-hal dasar bagaimana membawa kesadaran penuh kepada badan jasmani dan pikiran, mengurangi ketegangan, dan membangkitkan sifat-sifat positif melalui kegiatan sehari-hari seperti napas, duduk, makan dengan hening, jalan dengan pelan, mendengar lonceng dan genta.

Retret ini juga mencakup latihan dasar Plum Village yaitu “Happiness Meeting“, bagaimana membuat kebahagiaan dan kebaikan menjadi viral agar membawa keharmonisan bagi semua guru.

*Video credit: Pak Udayo