Mencuci Piring

Mencuci Piring
The clouds in this cup of tea

Oleh Thich Nhat Hanh
Dikutip dari “At Home in the World: Stories and essential teachings from a monk’s life

Ketika saya masih Samanera di Pagoda Tu Hieu, mencuci piring adalah tugas yang sangat tidak menyenangkan. Setiap tahun ketika Retret musim hujan, semua biksu akan datang kembali ke wihara untuk berlatih bersama selama tiga bulan, dan terkadang hanya kita (dua Samanera) yang bertugas memasak dan mencuci semua peralatan untuk lebih dari seratus biksu.

Pada waktu itu tidak ada sabun. Kita hanya punya abu, sekam nasi, dan sekam kelapa, hanya itu saja. Mencuci tumpukan mangkok yang sangat tinggi merupakan tugas yang sulit, terutama saat musim dingin di mana air sangat dingin membeku.

Jadi kami harus memanaskan air di teko besar sebelum bisa mulai mencuci. Jaman sekarang, dengan adanya sabun cair, sabut penggosok khusus, dan bahkan air hangat, sangat mudah untuk menikmati mencuci piring.

Bagi saya, ide bahwa mencuci piring itu tidak menyenangkan dapat muncul hanya jika Anda tidak melakukannya. Sewaktu anda berdiri di depan wastafel dengan lengan baju digulung dan tangan di dalam air hangat, itu sangat cukup menyenangkan.

Saya menikmati waktu saya dengan setiap piring, menjadi sadar sepenuhnya terhadap piring tersebut, air, dan setiap gerakan tangan saya. Saya tahu jika saya buru-buru untuk menyelesaikannya agar bisa segera duduk dan makan hidangan penutup atau menikmati secangkir teh, waktu mencuci piring akan jadi tidak menyenangkan dan tidak patut dilakukan. Adalah sangat disayangkan, karena setiap menit, setiap detik kehidupan adalah keajaiban. Piring-piring itu sendiri dan fakta bahwa saya ada di sana mencuci adalah keajaiban!

Jika saya tidak mampu mencuci piring dengan gembira, jika saya mau menyelesaikannya cepat-cepat supaya bisa pergi dan menikmati hidangan penutup atau secangkir teh, saya akan sama tidak mampunya untuk menikmati hidangan penutup atau teh ketika saya akhirnya mendapatkannya.

Dengan garpu di tangan saya, saya akan memikirkan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, sehingga tekstur dan rasa hidangan penutup, serta kenikmatan memakannya, semuanya akan hilang.

Saya akan selalu diseret ke masa depan, kehilangan kehidupan seluruhnya, dan tidak akan pernah bisa hidup di masa kini.

Setiap pemikiran, setiap aksi dalam cahaya mentari kesadaran akan menjadi suci. Dalam cahaya ini, tidak ada batasan antara yang suci dan tidak.

Saya harus mengakui bahwa perlu lebih banyak waktu bagi saya sampai selesai mencuci piring, namun saya hidup sepenuhnya di setiap momen, dan saya bahagia.

Mencuci piring adalah sebuah cara dan sekaligus sebuah tujuan. Kita mencuci piring tidak hanya agar piring bersih, kita juga mencuci piring hanya untuk mencuci piring, untuk hidup sepenuhnya dalam setiap momen ketika mencucinya, dan untuk benar-benar bersentuhan dengan kehidupan.

Penerjemah: Hestia

Walking Meditation

Walking Meditation

Music by Leong Wan Yee
Vocal: Bodhicitta Wendy Tiow, Leong Wan Yee, Sean Liew (Bear), Karamen Chia
A Bodhicitta Production with the blessing of Plum Village www.bodhicittaproductions.com
Illustrations by Yên
Cartoon Sunrise Sunshine Timelapse: https://www.youtube.com/watch?v=B_G5y…
Walking Meditation- poem by Thich Nhat Hanh

Audio Mp3

Unduh Mp3 klik sini

Walking Meditation

Take my hand.
We will walk.
We will only walk.
We will enjoy our walk
without thinking of arriving anywhere.
Walk peacefully.
Walk happily.
Our walk is a peace walk.
Our walk is a happiness walk.
Then we learn
that there is no peace walk;
that peace is the walk;
that there is no happiness walk;
that happiness is the walk.
We walk for ourselves.
We walk for everyone
always hand in hand.
Walk and touch peace every moment.
Walk and touch happiness every moment.
Each step brings a fresh breeze.
Each step makes a flower bloom under our feet.
Kiss the Earth with your feet.
Print on Earth your love and happiness.
Earth will be safe
when we feel in us enough safety.

– Thich Nhat Hanh

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari

Merenungkan Proses Kehidupan Sehari-hari
Meditasi jalan di pagi hari

Saya mengikuti retret di Amitayus dari tanggal 29 sampai dengan 30 September 2018. Retret 2 hari ini sangat menyentuh hati. Saya merasa seperti kembali ke rumah diri sendiri. Anggota sangha monastik dan komunitas memberikan kondisi damai, hal ini membuat saya bisa memaknai kehidupan saat ini.

Sehari-hari, saya tidak punya waktu untuk menenangkan diri, namun selama retret saya merenungkan semua proses kehidupan yang penuh dengan suka dan duka, baik dan buruk, benar dan salah. Ternyata banyak terjadi penyimpangan yang telah saya lakukan, apakah itu secara sadar atau pun tidak sadar.

Retret ini menyadarkan saya betapa pentingnya untuk stop (berhenti) dari penyimpangan itu. Lewat kondisi berhenti inilah saya bisa merenung dengan mendalam sehingga saya kembali disadarkan untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Selain mendapatkan pencerahan kecil, saya juga mengenal teman-teman baru, suatu hal yang menarik mengobservasi bagaimana sikap dan tingkah laku yang unik dari setiap orang. Ini membuat saya lebih mengerti tentang perbedaan agar bisa menerimanya.

Hal yang menarik bagi saya adalah ketika sesi makan. Kami mengambil makanan dengan cara yang teratur, antri, dan hening. Setelah itu duduk untuk menunggu semuanya duduk, mendengarkan genta berkesadaran lalu mendengarkan perenungan. Hal ini melatih kesabaran saya. Hal seperti ini tampaknya bagus diterapkan di rumah, menyadari aktivitas sehari-hari.

Saya menyadari bahwa prilaku saya menjadi lebih baik saat retret, terutama ketika membaca dan mendengar dengan penuh kesadaran. Topik pembahasan mencakup keluarga, anak, dan leluhur. Tentu saja bagaimana menuju pada keharmonisan melalui komunikasi, saling memberi perhatian, kemudian juga menciptakan kedamaian antara pasangan suami istri.

Meditasi kerja juga menarik. Kami berbagi tugas untuk bersih-bersih, menyapu, menyuci, semua tugas ini serasa sangat nyaman, kerjaan menjadi mudah dan cepat terlesesaikan. Menjaga kebersihan juga merupakan cara kami untuk menjaga kesehatan bersama.

Retret selama 2 hari tampaknya kurang lama. Walaupun hanya 2 hari namun memberikan dampak besar agar saya bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anggota sangha monastik, semua panitia, serta teman-teman yang bersama-sama dalam retret itu.

Ini adalah karma baik bagi saya sehingga bisa berkumpul dengan komunitas latihan hidup berkesadaran. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Andi, peserta retret dari Cimone, Tangerang

No Lotus No Mud

No Lotus No Mud

Unduh Mp3 klik sini

No Lotus No Mud

Br. Sr. The Nghiem

No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus
No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus

no mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

No dirt no roses, No roses no dirt
cats know my joys, Until I know my hurt

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

No dawn no darkness, no darkness no dawn
Without you here, there would be no song

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

my hope in your eyes
your journey in me
two hearts but one
and looking deeply we see

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

no birth, no death
life flows through every breath
waking up to a brand new day
everything is gonna be okay
no darkness, no dawn
my heart can sing this song

No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus

Retret Untuk Menyirami Benih Positif

Retret Untuk Menyirami Benih Positif

Retret Remaja 2018, kloter ke-1

Retret Hidup Berkesadaran (RHB) adalah wadah atau tempat untuk berlatih menjadi hidup lebih dasar penuh dan dapat hidup dengan prinsip saat ini. RHB 8 kali ini diadakan di Pondok Sadhana Amitayus dengan 2 gelombang. Saya mengikuti 2 gelombang tersebut.

Saya merasakan perbedaan yang begitu drastis dari sebelum dan sesudah retret. Saya rajin untuk mengikuti Retret. Sebelum saya mengikuti retret, saya tidak dapat melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan lain sebagainya.

Di retret, kita tidak hanya dilatih untuk sadar penuh akan aktivitas yang kita lakukan, tetapi kita diajarkan untuk hidup mandiri. Jika seseorang mendengar bahwa retret dengan hidup bermeditasi setiap hari begitu membosankan dan sangat malas, maka ternyata itu salah. Retret memang melatih kita untuk bermeditasi, tetapi itu lebih ke rutinitas kita sehari-hari yang dilakukan secara sadar. Sadar saat makan dan minum, berjalan, duduk, berbaring dan sebagainya.

Relaksasi Total

Selama saya mengikuti retret, saya sering mendengar kesan orang yaitu relaksasi total atau meditasi berbaring. Dimana kita dilatih untuk tidur secara sadar dan kalau tertidur adalah suatu bonus. Tidur jenis ini biasanya tidak menghasilkan mimpi. Kita memberikan julukan meditabo (meditasi bobo).

Relaksasi total biasanya disertakan dengan panduan relaksasi total agar kita bisa mendapatkan arahan dan instruksi saat melakukannya. Saya beberapa kali memimpin untuk relaksasi total dan banyak orang yang langsung terlelap bahkan menghasilkan paduan suara yang sangat lucu alias ngorok.

Meditasi Jalan

Pada saat meditasi berjalan, kita dibawa untuk bermeditasi berjalan outdoor. Kita melihat pemandangan gunung yang indah dan sawah yang begitu besar. Melihat ke kiri dan ke kanan terdapat sawah, melihat ke depan terdapat gunung yang menjuntai. Sangat indah sekali.

Saat saya sedang enak untuk berjalan dan menikmati udara segar yang menyegarkan tubuh, mungkin karena saya kurang mindfulness saat berjalan, saya terjilapak (tergeletak) di antara rerumputan. Untung saja rerumputan jadi tidak terlalu sakit. Maka dari itu, saya sadar mengapa kita harus melakukan aktivitas secara mindfulness. Jika sedang bengong atau memikirkan sesuatu, pasti yang saya alami akan terjadi.

Berbagi Tugas

Hal yang paling berkesan juga ada ketika meditasi kerja. Pada saat itu saya adalah volunteer. Saya mendapatkan meditasi kerja di toilet. Aduhh, selama retret, toilet adalah spot meditasi kerja yang paling saya hindari. Saya paling malas untuk menyikat WC dan juga menyedot WC. Kali ini, saya harus meditasi kerja di toilet dan tetap harus menjalaninya. Tugas saya menyikat dan menyedot WC hingga bersih.

Di rumah saja saya tidak pernah menyikat WC dan kali itu adalah kali pertama melakukan hal itu. Membersihkan rambut-rambut yang membuat air menjadi mampet juga harus dibersihkan. Saya merasa jijik tetapi menjadi tantangan.

Membersihkan WC ternyata tidaklah mudah. Tetapi, dengan mendapatkan shift di toilet, saya menjadi belajar cara untuk menyikat WC yang benar dan teman-teman yang lain juga dapat menjadi lebih bertanggung jawab dengan shift yang mereka dapatkan.

Water Flowering

Retret kali ini terdapat sesi water flowering, dimana kita bisa memberikan kesan kepada teman teman melalui tulisan. Kita diminta untuk menempel kertas di punggung dan teman-teman kita akan menuliskan kesan positif kita. Sesi yang paling seru karena heboh. Tujuan sesi itu juga setelah saya mendapatkan kesan dari orang lain untuk kita, sekaligus saya juga dapat mengintropeksi diri saya sendiri.

Manfaat Retret

Dengan mengikuti retret, masing-masing individu akan mendapatkan kesan dan pengalaman yang berharga termasuk saya. Saya menjadi lebih mandiri dari sebelumnya dan mendapatkan nutrisi tubuh dan meninggalkan sejenak kerjaan yang menumpuk di real life activity. Banyak manfaat yang akan didapatkan saat mengikuti retret.

Retret Remaja 2018 Kloter ke-2

Lihat foto di Facebook: Kloter ke-1 dan Kloter ke-2

NUAN, Aktif di Komisi Remaja Wihara Ekayana Arama, volunteer retret hidup berkesadaran, mahasiswa Universitas Pelita Harapan, Jurusan Hukum.

Lahir Dengan Sendok Emas di Mulut

Lahir Dengan Sendok Emas di Mulut

@TeaHouse Plum Village Thailand (Nakorn Ratchasima)

Saya mulai menyadari kemampuan saya menangkap isi pembicaraan mulai menurun. Telinga saya kadang mendengarkan tapi seolah-olah tidak menangkap intinya. Reflek tubuh saya juga tampaknya mulai agak tumpul. Beberapa hal berikut ini mungkin mewakili apa yang saya rasakan.

Paling Bontot
Suatu kali dalam suatu seminar panjang. Demi membuat suasana semangat kembali maka ada sesi ice breaking, pemateri mengadakan tes bahan-bahan yang telah diajarkan melalui kahoot (games interaktif menggunakan gawai atau gadget).

Saya kesampingkan semua faktor seperti luas sudut pandang membaca layar, halangan kepala peserta yang ada di depan, jaringan internet yang lelet untuk memproses jawaban. Ternyata banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.

Sialnya, karena berbagai faktor-faktor eksternal dan faktor tambahan, saya berada di posisi paling bawah, tapi syukur bukang paling bontot, karena saya nomor dua dari bontot. Anda boleh senyum, bahkan ketawa juga boleh.

Pikiran Berkeliaran
Kasus tidak mendengarkan orang berbicara, di tengah diskusi seru. Saya sering mendapati diri saya tidak mendengarkan sehingga saat orang tersebut bertanya atau meminta konfirmasi, saya akan meminta orang tersebut mengulang pertanyaan dan memaksa pikiran saya fokus pada apa yang menjadi pertanyaannya. Ini tidak hanya terjadi satu kali.

Kondisi ini jauh dari ideal ketika di-counter balik dengan latihan berkesadaran yang secara periodik saya ikuti. Tidak menangkap isi pembicaraan artinya mungkin kecerdasan saya menurun karena pikun. Tidak mendengarkan orang lain berbicara artinya saya membiarkan pikiran berkeliaran kemana-mana.

Kabar baiknya adalah dengan akumulasi latihan, saya menyadari kemerosotan tersebut. Sebersit pengertian mendalam menyelinap, tubuh yang merapuh ini melapuk dengan sendirinya sekuat apa pun mencegah dan menghindari kelapukan tetap datang menghampiri. Tak bisa ditolak.

Jangan Menunggu
Sering kita mendengar kebanyakan orang mengatakan belajar agama dan berlatih menunggu masa-masa pensiun, saat waktu mengejar materi sudah terlampaui, ketika tabungan materi sudah terkumpul dengan segala usaha terbesar dan terbaik kita.

Pernahkan terpikirkan, saat tubuh hanya ditunjang oleh tulang yang keropos, saat otot-otot sudah tidak bisa kenyal walau dilatih dengan olah raga sekeras apa pun, bahkan hanya duduk saja, perlu ditunjang banyak bantalan?

Itu hanya duduk lho, bagaimana dengan pikiran? Seperti contoh di atas, untuk mendengar saja dibutuhkan usaha ekstra keras, bagaimana mungkin dengan mulus dia bisa diajak menghitung napas ketika dalam sesi meditasi duduk?

Perahu Tubuh
Beberapa waktu lalu, saya tergila-gila dengan beberapa jenis olah tubuh seperti qi gong, yoga dan taichi. Lalu tiba-tiba pergelangan tangan saya mendapat anamnesi terkena artritis hingga memerlukan suntikan steroid untuk menghilangkan sakit tanpa menyembuhkannya 100%,

Tangan ini perlu dirawat dengan kehati-hatian, kontan saja yoga saya hentikan sama sekali. Kerapuhan ini tentu saja menyedihkan, tidak terbayangkan berapa lama lagi tubuh ini mampu berperan sebagai perahu untuk saya menyebrang.

Berlatih adalah pilihan, tidak berlatih juga pilihan. Tanpa pencetus tidak ada orang yang akan datang sukarela berlatih. Seseorang yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya, lahir seperti dewa dimana dengan hanya berkata (menyuruh) semua keinginannya hadir di hadapannya, kehidupannya bagai kehidupan para dewa yang selalu diundang ke pesta yang besar, meriah dan mewah.

Dorongan Latihan
Pencetus untuk berlatih diperlukan seperti halnya para makhluk-makhluk yang terlahir di alam dewa. Para dewa ini pada kehidupan sebelumnya banyak melaksanakan dana, sila dan perbuatan karma baik, sehingga bisa terlahir ke alam dewa.

Alam dewa juga tidak kekal. Suatu ketika mereka mengetahui karma baik mereka hampir habis maka para dewa akan menemui ajal dan terlahir kembali ke alam lebih rendah, mereka akan sangat menderita.

Kalaupun mereka terlahir ke alam manusia, kemungkinan besar tidak mendapat kondisi yang baik, karena mereka terlalu menikmati kemewahan, mereka tidak sempat mengembangkan batin dengan belajar dan melaksanakan Dharma. Saya yakin itu terjadi karena tidak adanya pencetus/dorongan untuk berlatih.

Akhir kata, kondisi tubuh yang merapuh ini adalah pencetus yang saya miliki saat ini, kesedihan yang menghampiri adalah perasaan yang sia-sia dan tidak perlu dipikirkan sehingga tidak bisa tidur, dinikmati saja, siapa tahu seiring latihan perkembangan batin menguat seperti halnya banyak guru besar.

*CHÂN MINH TUYỀN (真明泉) anggota Ordo Interbeing Indonesia, volunteer retret mindfulness, wanita karir, sekaligus adalah apoteker yang juga meraih gelar master di bidang manajemen pendidikan

Mengembalikan Energi Positif

Mengembalikan Energi Positif

Dharma sharing bersama

Day Of Mindfulness (DOM) ini adalah kegiatan rutin yang diadakan 2 bulan sekali di Wihara Ekayana Arama. Hanya sehari saja dapat mengembalikan energi positif saya balik lagi ke dalam tubuh saya. Mengikuti DOM seperti menambah nutrisi ke dalam tubuh saya. Saya merasa segar kembali saat mengikuti acara ini setelah lelah menjalani hari weekday dengan tugas yang sekian banyak dan dihantui dengan deadline.

Fokus pada objek
Fokus pada objek tertentu adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh banyak orang termasuk saya. Fokus pada objek dapat dilakukan dengan bermeditasi, memusatkan pikiran pada suatu objek. Meditasi duduk dapat merasa pegal dan kesemutan hanya dalam beberapa menit. Tetapi, meditasi duduk yang dilakukan di DOM ini berbeda yaitu dengan dipandu oleh pembimbing sehingga kita semua yang berada di ruangan yang sama dapat mengikuti instruksi yang diberikan oleh pembimbing.

Pikiran juga tidak mengembara ke mana-mana karena telah dikendalikan untuk mengikuti semua instruksi yang diberikan. Meditasi seperti ini akan berbeda dengan meditasi yang dilakukan sendiri tanpa instruksi. Bagi pemula, cocok untuk mengikuti arahan tersebut.

Setelah meditasi duduk, saya mengikuti meditasi jalan dan sebelumnya akan dipandu oleh pembimbing. Saya harus memperhatikan langkah demi langkah yang sama berikan kepada kaki saya sehingga saya dapat mengontrol langkah kaki sambil memperhatikan napas masuk dan napas keluar.

Breathing in I am arrived, Breathing out I am home”. Hal yang paling terpenting dalam diri adalah napas. Jika tidak ada napas, berarti kita sudah mati. Saya sangat bersyukur karena masih bisa bernapas. Dengan melaksanakan meditasi ini, saya dapat mengendalikan emosi yang muncul tanpa disadari.

Makan Berkesadaran
Terkadang, saat sedang terburu-buru, saya melupakan tentang makan pelan-pelan. Padahal itu diwajibkan untuk usus kita. Saya memang kurang menyayangi usus saya. Saya seringkali makan hanya 5-6 kunyahan lalu telan. Lambung dan usus saya sering sakit dan usus karena makanan yang tidak hancur, saya pernah dirawat di rumah sakit gara-gara itu.

Dari DOM ini, saya dapat kembali ke tubuh saya sendiri dan berusaha untuk sadar dan menyadari bahwa lambung dan usus adalah harta. Saya diajari untuk makan dengan sadar penuh dan mensyukuri bahwa saya masih bisa makan dengan normal dan merenungi asal makanan yang ada di depan saya.

Banyak orang yang terlibat agar makanan di depan saya dapat tersaji. Dari petani yang memanen padi untuk diolah menjadi nasi, sayuran yang dipanen, orang yang memasak makanan dan sebagainya. Dari situ saya menjadi sadar bahwa sulit sekali untuk mendapatkan semua.

Biasanya saya makan suka request, mau makan ini, mau makan itu. Tidak suka sayur, tidak suka buah. Tapi di sini, saya diajarkan untuk makan apa yang telah disediakan, jika tersedia makanan yang tidak disukai, disarankan untuk diambil tetapi jangan terlalu banyak. Setidaknya dapat merasakan rasa makanan itu. Jika makan dipenuhi dengan kesadaran, rasa makanan itu akan menjadi enak dan saya merasakannya.

Saya makan makanan yang saya tidak suka dari kecil. Rasanya ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan. Entah kenapa, makanan itu enak sekali. Coba saja Anda praktikkan. Pasti akan merasakan hal yang berbeda dalam makanan yang awalnya tidak suka mungkin akan menjadi suka.

Relaksasi Total
Relaksasi total adalah cara untuk kita dapat beristirahat dengan total, membaringkan tubuh kita dengan relaks dan damai. Relaksasi total dapat menyegarkan tubuh kita kembali dan tidak menghasilkan mimpi. Tubuh ini membutuhkan istirahat karena telah seharian melakukan kegiatan yang membuat tubuh kita menjadi lelah dan capek.

Relaksasi total biasanya sesi yang disukai sama anak-anak dan remaja. Mereka dapat relaksasi sepenuhnya hingga kadang kebablasan. Kita harus menyayangi tubuh, mengetahui kapan tubuh ini lelah, kapan tubuh ini capek dan sebagainya. Praktik ini akan bermanfaat jika dilakukan secara rutin.

Biasanya saat relaksasi total akan dipandu oleh relawan sehingga pikiran kita diarahkan untuk memperhatikan apa saja yang harus diperhatikan. Dilengkapi dengan musik-musik yang dapat membuat pikiran nyaman dan menikmati musik berkesadaran yang bisa membuat suasana hati menjadi relaks.

Relaksasi total walaupun sebentar tetapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, setelah bangun akan terasa segar seperti sudah tidur selama 6 jam.

Sharing Dharma
Sebelum acara penutup, DOM biasanya suka mengadakan Dhamma Sharing yang mana peserta dapat berkenalan satu sama lain bagi yang belum kenal dan dapat memberikan pengalaman apa yang dirasakan selama seharian mengikuti acara ini.

Banyak orang yang memberikan pengalaman menarik dari yang lucu hingga yang benar benar mendapatkan manfaatnya. Semua peserta memberikan pengalaman apa yang dirasakan meskipun hanya sepatah dua patah kata. DOM biasa ditutup dengan berbagi jasa kebajikan kepada semua makluk. (Phinawati Tjajaindra, a.k.a Nuan*)

*Sedang menuntut ilmu di Sekolah Narada, Kelas 12

Come And Sit

Come And Sit

Unduh MP3 Klik sini

Come and sit by my side.
If you’re lonely
Close your eyes
Drink some tea together
Breathing in, breathing out
Smiling and calm
You will feel that our life is so true

Come and sit by my side
When you’re tired
Close your eyes
Put your hands on your heart
Breathing in, breathing out
Smiling and calm
You will feel that our life is so true

Come and sit by my side
If you cry
Close your eyes
Put your hands on the Earth
Breathing in, breathing out
Smiling and calm
You will feel that the life is happy

Happiness is here and now mandarin

Happiness is here and now mandarin

Unduh MP3 klik sini

Happiness is here and now

Happiness is here and now,
I have dropped my worries.
Nowhere to go, nothing to do,
no longer in a hurry.
 
Happiness is here and now,
I have dropped my worries.
Somewhere to go, something to do,
but I don’t need to hurry.

快樂是此時此地

快樂是此時此地,我已放下煩惱,
沒處要去,無事要做,
再不須要匆忙。
 
快樂是此時此地,我已放下煩惱,
有地方去,有事要做,
但不再急忙。

Breathing in breathing out mandarin

Breathing in breathing out mandarin

Unduh MP3 klik sini

Breathing in, breathing out

Breathing in, breathing out (2x);
I am blooming as a flower;
I am fresh as the dew.
I am solid as a mountain,
I am firm as the earth;
I am free.
 
Breathing in, breathing out (2x);
I am water, reflecting
what is real, what is true,
and I feel there is space deep inside of me;
I am free, I am free, I am free.

吸進來,呼出去

吸進來,呼出去;吸進來,呼出去;
好似盛開一朵蓮花,
我清涼如一滴露,
一如高山屹立不移,
像大地一般穩厚。
我自在。

吸進來,呼出去;吸進來,呼出去;
我是淨水反照著,
甚麼是真,甚麼是實,
在我覺得心裡深處,
空間滿溢在其中。
我自在,我放下,我自在。

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Jalan Berkesadaran – Thich Nhat Hanh

Sosok tubuh seperti melayang menuju ke tengah panggung kosong. Setiap geraknya hening, seperti menghayati setiap tarikan dan embusan napas. Setelah duduk merapikan jubah, Thich Nhat Hanh (84) melalukan anjali. Ia membungkukkan tubuh, mengatupkan kedua tangan, membentuk kuncup bunga, seperti menyodorkan “sekuntum teratai untukmu”; simbol kedamaian dan kesadaran akan kesalingterkaitan.

Oleh: Maria Hartiningsih
Sumber: Kompas cetak tahun 2010

Zen Master Thich Nhat Hanh memberikan wejangan Dharma di tahun 2010 di Indonesia

Keheningan sekitar lima menit seperti ritual, membumikan kaligrafi “Practice from the heart” yang melatari panggung, sebelum Thay—sapaan akrab Bhante Thich Nhat Hanh di Plum Village, yang artinya Guru, dalam bahasa Vietnam—memulai ceramahnya di depan sekitar 900 peserta retret di Caringin, Sukabumi, pekan lalu.

Ia berbicara tanpa teks, sambil duduk, kadang berdiri, berjalan perlahan ke papan tulis, menjelaskan istilah-istilah dalam psikologi Buddhisme dengan contoh-contoh sederhana dari kehidupan riel. Humornya subtil. Ketika lonceng kesadaran bergema, dia berhenti, kembali pada keheningan sepanjang tiga kali embusan napas.

Keteduhan Thay memancarkan tatapan mata dan bibir yang selalu tersenyum, Namun, suara lembut di balik tubuh yang tampak ringkih itu mengandung energi ajaib yang menggedor kesadaran terdalam, menguakkan selubung demi selubung penderitaan di balik realitas yang ditangkap sepintas oleh lima indera.

Ceramah Dharma selama empat hari itu mengeluarkan orang dari gulungan hidup serba cepat, kompetisi ketat meraih lebih banyak dan lebih banyak lagi, mengejar batas tak terbatas; ilusi “kemajuan” dan “kesuksesan”.

Kejaran target membuat orang tak punya lagi kemampuan menghidupi momen demi momen berharga dalam kehidupan sehari-hari, seberapa pun besar kekayaan dan kemewahan material yang dimiliki. Kemampuan mendengar sirna. Komunikasi di dalam dan di luar rumah macet, tidak bisa saling mengerti, tidak bisa melihat penderitaan orang lain, terus menuduh dan menyalahkan pihak lain. Sikap itu menggelembungkan persepsi yang keliru, melahirkan kegelisahan, kemarahan, kebencian, ketakutan, kekerasan, kalau akarnya tidak dikenali.

Ia menceritakan kisah seorang suami yang menuduh istrinya berselingkuh selama beberapa tahun ia berada di medan perang. Persepsi itu keliru, tetapi tak pernah terkuak karena keduanya membisu, sang istri dikuasai kesedihan, sampai memutuskan bunuh diri. Suatu malam, di bawah lentera, si anak menunjuk bayangan di dinding, “Pak, Ibu bilang itu ayahku…”

Perang dan terorisme, menurut Thay, juga lahir dari persepsi keliru. Akarnya, kesalahpahaman, nir-toleransi, kebencian, ketiadaan harapan dan pembalasan, tak bisa disentuh apalagi dihancurkan oleh bom dan peluru kendali. “Persepsi keliru adalah sumber segala penderitaan,” tutur Thay.

Ajakan “Pulang”

Retret selama lima hari itu adalah ajakan “pulang ke rumah”; di sini, kini (in the here and now). Latihan meditasi adalah kembali kepada napas berkesadaran dan jalan berkesadaran. Napas adalah sahabat setia, seperti bumi solid tempat berlindung dari berbagai situasi mental, pikiran, emosi, dan persepsi.
“Bagi praktisi meditasi, kalau Anda sedang marah, Anda tidak akan melakukan apa pun kecuali kembali kepada napas untuk mengetahui apakah akar kemarahanmu berasal dari persepsi kekeliruan. Kalau Anda mengenalinya, Anda terbebaskan….”

Meditasi Jalan berkesadaran bersama di pagi hari

Menurut Thay, di dalam kesadaran terdapat sedikitnya dua lapisan. Di lapisan bawah, menurut tradisi Buddha, tersimpan 51 benih yang muncul sebagai mental positif dan negatif. Di lapisan atas adalah kesadaran pikiran atau bentuk-bentuk mental.
“Ketika benih kemarahan bermanifestasi menjadi bentuk mental, kita tak boleh membiarkannya terlalu lama sendirian di dalam kesadaran kita. Kita harus mengundang benih kebersadaran untuk menjaganya, menenangkannya.”

Thay melanjutkan, “Benih kebersadaran akan mengenali benih-benih negatif yang muncul. Tiada ada pertempuran di antara dua energi itu. Tugas benih kebersadaran adalah mengenali benih lain sebagaimana adanya, lalu memeluknya lembut, seperti ibu memeluk anaknya yang menangis. Prinsip meditasi Buddhis adalah nondualitas dan nonkekerasan. Nondualitas berarti engkau adalah kemarahan dan kebersadaran.”

Latihan berkesadaran melalui bernapas dan berjalan membuat benih kebersadaran menjadi bentuk mental dan meningkatkan energi kebersadaran.

“Sebagai praktisi meditasi, Anda harus mengawasi hakikat pikiran yang berasal dari salah satu dari 51 bentuk mental. Kalau yang diproduksi adalah pikiran welas asih, maka yang muncul adalah sikap saling pengertian, welas asih dan non-diskriminasi. Inilah yang disebut berpikir benar oleh Buddha.”

Latihan kebersadaran juga mencakup berpikir benar, pandangan benar, berbicara benar, dan bertindak benar. “Berpandangan benar yang didapat dari latihan meditasi, kebersadaran, dan konsentrasi membantu kita menyentuh kebenaran interbeing (saling menjadikan), kesalingterkaitan, kebenaran kesementaraan dan non-diri..”

Dalam bahasa yang lebih sederhana, latihan hidup berkesadaran adalah latihan eling (dan wasapada), dengan menemukan “maitri” di dalam diri. Kualitasnya disimbolkan sebagai bunga merekah, embun segar, kesolidan gunung, dan kekokohan bumi, ketenangan dan kejernihan air, dan ruang tak bersekat di angkasa luas.
“Maitri tak bisa dibeli dengan uang berapa pun banyaknya,” ujar Thay.

Sang Guru

Thich Nhat Hanh dikenal sebagai salah satu Guru Zen terkemuka, intelektual, sekaligus penyair, penulis (menulis lebih dari 100 buku, diterjemahkan dalam berbagai bahasa, yang terbaru adalah The World We Have: A Buddhist Approach to Peace and Ecology), tokoh perdamaian internasional. Menurut Sister Chan Khong dalam bukunya Learning True Love: Pengamalan Ajaran Buddha di Masa Tersulit (1933, terjemahan 2009), Thay suka berkebun dan ahli dalam pekerjaan manual.

Sister Chan Khong, asisten dan murid tertua Bhante Thich Nhat Hanh

Dilahirkan di Vietnam Tengah, 11 Oktober 1926, ia menjalani hidup yang luar biasa. Ia mengalamai tiga perang, bertahan hidup dari penyiksaan, dan lebih dari 30 tahun di pengasingan. Lulusan Universitas Princeton, Amerika Serikat dan pernah mengajar di Universitas Cornell dan Universitas Colombia di AS itu juga mendirikan organisasi pelayanan sosial, menyelamatkan manusia perahu, dan memimpin Delegasi Buddhis Vietnam pada Perundingan Perdamaian Paris. Martin Luther King menominasikannya sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1967.

Sejak usia 16 tahun, ia telah menjadi samanera (calon biksu), aktivis perdamaian, dan pencari jalan. Dia adalah kepala sebuah wihara di Vietnam yang silsilahnya dapat ditelusuri sampai lebih dari 2.000 tahun ke belakang.

Ia mendirikan Universitas Buddhis Van Hanh dan Ordo Interbeing, dan membangun jalan untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “Engaged Buddhism”; praktik penghayatan nilai-nilai spiritual dalam tindakan sehari-hari.

Thay mendapat suaka dari pemerintah Perancis dan kemudian membangun dan memimpin komunitas Plum Village di Selatan Perancis, wihara Buddha dan pusat pelatihan hidup berkesadaran bagi orang awam.