Pengantar Meditasi Duduk Dipandu

Pengantar Meditasi Duduk Dipandu
The Blooming of a Lotus – Parallax Press

Meditasi dapat dilakukan hampir di mana saja — ketika sedang duduk, berjalan, berbaring, berdiri, bahkan saat sedang bekerja, minum, dan makan. Meditasi duduk (sitting meditation) hanyalah bentuk meditasi yang paling dikenal, dan satu-satunya yang kita rasa paling istimewa untuk menikmatinya, tetapi, sebenarnya ada banyak bentuk meditasi lain yang bisa dipelajari. Selama dua puluh lima tahun belakangan ini, ribuan pengunjung telah datang ke Plum Village untuk berlatih meditasi. Dari waktu ke waktu, mereka telah ditawarkan latihan dipandu selama sesi meditasi duduk. Awalnya, mereka merasa tidak nyaman dengan panduan itu, karena terbiasa meditasi duduk hening, namun berkat Latihan itu, mereka dapat merasakan banyak manfaat dari “meditasi dipandu” (guided meditation) dan oleh karena itu mereka mengalami transformasi pada tingkat yang paling fundamental. Selama bertahun-tahun, murid-murid meditasi dari banyak belahan dunia meminta saya untuk menjadikan latihan ini agar tersedia untuk banyak kalangan.

Pokok Pembahasan dari Meditasi Dipandu

Meditasi dipandu dalam buku ini memiliki tujuan berbeda-beda. Beberapa latihan memunculkan kegembiraan di dalam diri kita; yang lain memungkinkan kita menemukan sifat sejati diri, membantu kita menyembuhkan, memancarkan sinar kesadaran ke dalam diri sendiri, atau membebaskan kita dari emosi yang menyakitkan. Ada latihan tertentu memiliki beberapa tujuan. Latihan yang menyehatkan dan menyegarkan tubuh dan pikiran harus sering dilakukan. Latihan ini bisa disebut sebagai makanan kegembiraan atau food of joy. (Dalam aliran dhyana, ada ungkapan “meditasi sebagai makanan kegembiraan”, yang artinya bahwa perasaan gembira yang muncul dari praktik meditasi menutrisi dan menopang kita. Dalam upacara persembahan nasi di tengah hari, kita mengucapkan, “Menerima makanan ini, kami berdoa agar semuanya akan terawat oleh kegembiraan dari praktik bermeditasi dan kegembiraan Dharma itu akan membawa mereka pada realisasi kebenaran sepenuhnya.”)

Latihan satu sampai empat sangat cocok untuk tujuan itu. Latihan semacam itu menghubungkan kita dengan elemen yang menyegarkan dan menyehatkan, baik dengan diri kita maupun dunia sekitar. Latihan-latihan itu membantu kita mengakhiri pikiran mengembara (distraksi pikiran), membawa kita kembali ke saat ini, kembali ke tempat yang mana kita dapat mengenali kebersatuan tubuh dan pikiran. Meskipun Latihan itu disebut latihan penutrisi (nourishment exercises), Latihan itu juga mengembalikan keseimbangan internal, memungkinkan tubuh dan juga pikiran untuk memulai terjadinya penyembuhan. Latihan lainnya membantu kita memperbarui relasi kita dengan diri sendiri, tubuh, dan pikiran, juga relasi kita dengan dunia pada umumnya, dengan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, kita belajar mengatasi perasaan bahwa kita ini terpisah, kesepian, dan terisolasi lalu mulai melihat ada cara baru untuk masuk juga menjadi bagian dari dunia ini. Beberapa latihan membantu kita menjadi diri yang seutuhnya, dan beberapa latihan lainnya lagi membantu kita belajar untuk melepaskan. Seorang praktisi dapat menilai sendiri melalui pengalaman pribadinya, menentukan latihan mana yang paling sesuai untuk kebutuhan dirinya dan latihan seperti apa yang sesuai dengan kondisi ligkungan yang sedang mereka hadapi.

Pemandu Meditasi

Mereka yang dipilih untuk memandu latihan meditasi duduk harus berpengalaman dalam latihan meditasi; artinya, mereka sendiri seharusnya telah merasakan langsung transformasi batin. Mereka seharusnya tahu bagaimana mengundang[1] lonceng pada saat meditasi, dia perlu melakukannya dengan penuh keyakinan dan tidak tergesa-gesa, sehingga suara lonceng yang terdengar mencerminkan dan memberikan nuansa pikiran yang stabil dan tenang. Suara pemandu seharusnya tidak terlalu keras atau terlalu lembut. Ia harus dapat menginspirasi dan pada saat bersamaan juga menenangkan. Pemandu meditasi duduk wajib peka terhadap kebutuhan peserta. Seperti halnya dokter harus memilih obat yang paling cocok terhadap pasiennya, pemandu harus menentukan latihan yang paling sesuai untuk komunitas pesertanya. Materi pokok dari meditasi dipandu dan durasi waktunya yang dialokasikan untuk itu harus berdasarkan pemahaman ini. Jika peserta mengalami kegembiraan dan kemudahan pada setiap sesi meditasi dipandu, maka pemandu tersebut dapat dikatakan berhasil dalam tugasnya.

[1] Kita tidak pernah mengatakan “memukul” lonceng karena bagi kita lonceng adalah teman yang bisa membangunkan kita dengan pengertian penuh. Kita mengatakan “mengundang” lonceng, artinya mengundang mengundang untuk berbunyi.

Cara Terbaik untuk Berlatih

Sebelum berlatih salah satu dari latihan dalam panduan ini, penting untuk memahami tujuannya terlebih dahulu. Biasanya, pemandu meditasi akan mengambil waktu lima hingga tujuh menit pada awal sesi untuk menjelaskan tentang latihan. Dalam buku ini, Anda akan menemukan pedoman dasar sebelum setiap latihan. Latihan yang sama bisa dipraktikkan selama beberapa periode meditasi. Setelah sesi latihan dipandu, pemandu meditasi harus siap mendengarkan reaksi para peserta, sehingga pada sesi berikutnya, meditasi dapat lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Praktisi harus diberikan cukup waktu untuk memahami setiap tahapan meditasi. Misalnya, napas masuk selalu diiringi dengan gambaran (image), dan napas keluar juga ada gambaran lainnya, berkaitan dengan gambaran sebelumnya. Menggunakan gambaran untuk bermeditasi itu lebih mudah dan berguna daripada menggunakan ide abstrak. Panduan ini harus mengizinkan sebanyak sepuluh hingga dua belas napas, atau bahkan lebih, agar peserta meditasi dapat memfokuskan diri. Sesungguhnya, setiap sesi harus dimulai dengan beberapa menit bernapas sadar penuh sehingga peserta dapat menenangkan pikiran dan membuka diri terhadap kegembiraan bermeditasi. Lonceng tidak boleh diundang dengan suara penuh, jangan sampai para praktisi terkejut. Pemandu cukup membangunkan lonceng [2] sebelum melanjutkan ke tahap latihan selanjutnya. Suara pemandu harus mencerminkan suasana dan gambaran sesuai dengan apa yang sedang difokuskan oleh para peserta. Hal ini membutuhkan Latihan tambahan, dan semua peserta perlu mencoba menjadi pemandu agar suatu hari nanti mereka dapat membantu orang lain.

[2] Untuk membangunkan lonceng berarti menyentuhnya dengan kuat dengan inviter dan tidak menjauhkan inviter. Ini akan meredam suara. Sebuah suara “membangunkan lonceng” selalu diikuti dengan napas masuk dan napas keluar dan kemudian suara penuh bisa dilakukan. Membuat suara penuh ini disebut mengundang lonceng.

Bernapas dan Melihat Secara Mendalam

Bernapas dan mengetahui bahwa kita sedang bernapas adalah praktik dasar. Tidak ada yang bisa benar-benar berhasil di seni bermeditasi tanpa melalui pintu pernapasan. Mempraktikkan pernapasan sadar sepenuhnya adalah untuk membuka pintu untuk berhenti (stopping) dan melihat secara mendalam (looking deeply) untuk memasuki area konsentrasi dan wawasan (insight). Guru meditasi Tang Hoi, pemimpin pertama sekolah dhyana di Vietnam (abad ketiga Masehi), mengatakan bahwa “Anapananusmriti (menyadari pernapasan) adalah kendaraan besar yang diajarkan oleh para Buddha kepada makhluk hidup.” (dari pengantar Sutta Anapananusmriti). Bernapas sadar sepenuhnya adalah jalan menuju konsentrasi meditasi apa pun. Bernapas dengan penuh kesadaran juga menuntun kita menuju realisasi dasar dari ketidakkekalan (anicca, 無常), kekosongan (sunyata, 空), kemunculan yang saling bergantung (paṭiccasamuppāda, 緣起), ketidakegoisan (anatta, 無我), dan non-dualitas (advaita, 不二) dari semua fenomena apa adanya. Memang benar kita bisa berlatih berhenti dan melihat secara mendalam tanpa menggunakan pernapasan sadar penuh, tetapi pernapasan sadar penuh adalah jalur teraman dan kepastiannya terjamin yang bisa kita ikuti. Jadi semua latihan yang disajikan di sini menggunakan alat bantu pernapasan sadar sepenuhnya. Napas membawa image, dan image membuka pintu yang tertutup oleh persepsi keliru kita.

“Anda hanya perlu duduk.”

Saat berlatih meditasi duduk, Anda perlu merasa benar-benar nyaman. Setiap otot di tubuh Anda dikendorkan sampai relaks, termasuk otot-otot di wajah. Cara terbaik untuk mengendurkan otot-otot di tubuh adalah dengan tersenyum lembut saat bernapas. Anda harus menjaga kolom tulang belakang Anda tegak lurus, tetapi tubuh jangan kaku. Posisi ini akan membuat Anda relaks, dan Anda dapat menikmati perasaan nyaman. Jangan berusaha terlalu keras, jangan bergumul, jangan melawan. Lepaskan semuanya saat Anda duduk. Ini mencegah sakit punggung, sakit bahu, atau sakit kepala. Jika Anda dapat menemukan bantal yang cocok dengan tubuh, Anda dapat duduk untuk waktu yang lama tanpa merasa lelah.

Ada orang mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat mereka duduk. Mereka telah diajarkan bagaiman postur meditasi yang benar namun mereka masih belum mengerti bagaimana bernapas dengan ringan dan teratur. Latihan yang disediakan di sini akan membantu mereka menyadari kesatuan (manunggal) tubuh dan pikiran. Setidaknya, mereka akan mengetahui bahwa memungkinkan untuk melakukan “sesuatu” ketika duduk.

“Anda hanya perlu duduk” adalah nasihat dari meditasi Tao Dong (Tradisi Zen Soto). Itu artinya Anda harus duduk tanpa menunggu sebuah keajaiban — dan itu termasuk keajaiban akan pencerahan. Jika Anda duduk kemudian selalu berharap sesuatu, Anda tidak dapat berkontak dengan atau menikmati saat ini, yang selalu mengandung seluruh kehidupan. Duduk dalam konteks ini berarti duduk dengan cara yang tersadarkan, dengan cara yang santai, berbekal pikiran Anda yang terjaga, tenang, dan jernih. Hanya ini yang bisa disebut duduk, dan ini membutuhkan latihan dan praktik.

Reaksi Kurang Bermanfaat atas Meditasi Dipandu

Ada orang merasa suara lonceng dan kalimat yang diucapkan oleh pemandu dalam sesi meditasi duduk itu mengganggu. Dia terbiasa dengan hening berdiam diri saat bermeditasi, mereka merasa kedamaian dan kegembiraannya telah dicuri ketika mengikuti meditasi duduk dipandu. Ini tidak sulit untuk dimengerti. Dalam meditasi hening, Anda mampu menenangkan tubuh dan pikiran. Anda tidak ingin siapa pun mengganggu keadaan ringan, damai, dan sukacita itu. Tetapi, jika Anda puas hanya dengan begitu saja, Anda tidak akan bisa melangkah lebih jauh dalam mentransformasikan penyadaran bagian yang lebih dalam lagi. Ada orang yang bermeditasi hanya untuk melupakan kerumitan dan masalah hidup, seperti kelinci yang menyeluduk di bawah pagar untuk menghindari pemburu atau orang yang berlindung di ruang bawah tanah untuk menghindari bom. Perasaan aman dan terlindungi muncul secara alami saat kita duduk bermeditasi, tetapi kita tidak dapat melanjutkan keadaan ini selamanya. Kita membutuhkan tenaga dan kekuatan untuk keluar dari aula meditasi ke dalam kehidupan karena itulah satu-satunya cara kita dapat berharap untuk mengubah dunia ini. Dalam praktik meditasi dipandu, kita memiliki kesempatan untuk melihat lebih mendalam ke dalam pikiran, menabur benih yang sehat di sana, untuk memperkuat dan mengembangkan benih itu agar benih itu menjadi sarana untuk mengubah penderitaan dalam diri kita. Pada akhirnya, kita juga bisa dipandu dalam meditasi untuk menghadapi secara langsung atas penderitaan itu agar dapat memahami akar penyebabnya dan terbebas dari belenggu.

Meditasi dipandu bukanlah penemuan baru. Meditasi demikian telah digunakan oleh praktisi di masa Buddha. Ini jelas jika Anda membaca Sutta Untuk Orang Sakit dan menjelang kematian (Ekottara Agama, bab 51, sutta 8; Madhyama Agama, sutta 26; atau Majjhima Nikaya, sutta 143). Sutta ini mencatat meditasi dipandu yang digunakan Sariputra untuk membantu Anathapindika ketika ia sedang terbaring sakit di tempat tidurnya. Yang Mulia Sariputra membimbing Anathapindika setahap demi setahap hingga ia mampu mengubah ketakutannya akan kematian. Sutta Anapanasati juga merupakan ajaran meditasi dipandu. Singkatnya, meditasi dipandu telah menjadi bagian dari tradisi Buddhis sejak awal.

Latihan meditasi dipandu dalam buku ini dapat membantu banyak praktisi agar meditasi duduknya lebih konkret. Karena bentuk latihan yang sistematis dalam buku ini, metode ini dapat membuka era baru bagi cara praktik meditasi duduk.

Napas, Lonceng, Kalimat Panduan, dan Kata-Kata Kunci

Pemimpin meditasi dipandu pertama-tama “membangunkan lonceng” di tepi genta untuk menarik perhatian komunitas. Ia harus membiarkan lima atau enam detik berlalu sebelum membaca dua kalimat panduan. Misalnya (dikutip dari latihan keempat):

Bernapas masuk, saya melihat diri saya sebagai bunga.
Bernapas keluar, saya merasa segar.

Setelah itu, ia mengucapkan kata-kata kunci (versi ringkas dari kalimat panduan):

bunga/segar

Suara lonceng penuh menandakan dimulainya latihan. Setelah lima, sepuluh, lima belas, atau lebih napas masuk/keluar, pemimpin meditasi “membangunkan lonceng” lagi, membiarkan lima atau enam detik berlalu, kemudian membacakan dua kalimat panduan berikutnya.

Ada latihan waktu yang mana bernapas masuk/keluar adalah satu-satunya objek perhatian dan konsentrasi. Misalnya (dikutip dari latihan kedua):

Bernapas masuk, saya tahu saya sedang bernapas masuk.
Bernapas keluar, saya tahu saya sedang bernapas keluar.

Dalam latihan lain, bernapas membawa gambaran (image) itu sendiri, dan gambaran ini divisualisasikan dan tetap hidup selama bernapas masuk atau keluar. Gambaran tersebut terkait erat dengan pernapasan. Sebagai contoh (dikutip dari latihan keempat):

Bernapas masuk, saya melihat diri saya sebagai gunung.
Bernapas keluar, saya merasa solid.

Bernapas dan Bernyanyi

Dalam buku ini, Anda akan melihat beberapa lagu latihan dicetak. Bernyanyi sebagai bagian dari latihan meditasi adalah hal yang bermanfaat. Pertama-tama, musik membantu kita mengingat kata-kata dari meditasi dipandu yang pernah ada yang dimasukkan ke dalam lagu. Setelah meditasi telah dihafal, akan jauh lebih mudah untuk mempraktikkannya secara alami, apakah ketika kita sedang duduk atau sedang terlibat dalam melakukan aktivitas apa pun.

Sebelum memulai ceramah Dharma atau diskusi Dharma, menyanyikan lagu dapat membantu menciptakan ketenangan dan suasana yang menyenangkan. Sambil bernyanyi kita melatih kata-kata yang kita nyanyikan. Jika kita menyanyikan kata “bunga”, kita merasakan kesegaran bunga saat bernyanyi. Kita juga bisa menggunakan nyanyian atau musik dari sebuah lagu sebagai pengiring napas kita. Sebagian dari kelompok dapat menyanyi terlebih dahulu sementara sebagian lainnya mendengarkan dan menyadari napas, lalu kedua bagian itu berganti peran.

Sumber: The Blooming of a Lotus – Parallax Press
Penerjemah: Rumini

No Lotus No Mud

No Lotus No Mud

Unduh Mp3 klik sini

No Lotus No Mud

Br. Sr. The Nghiem

No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus
No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus

no mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

No dirt no roses, No roses no dirt
cats know my joys, Until I know my hurt

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

No dawn no darkness, no darkness no dawn
Without you here, there would be no song

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

my hope in your eyes
your journey in me
two hearts but one
and looking deeply we see

No mud no lotus, no lotus no mud
not two but one, as breath and blood

no birth, no death
life flows through every breath
waking up to a brand new day
everything is gonna be okay
no darkness, no dawn
my heart can sing this song

No lotus no mud, no lotus no mud, no lotus

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Air Mata Emosi Telah Menjadi Sekuntum Teratai Suci

Retret WBI Prov Jambi @WihSakyakirti

Retret Hidup Berkesadaran yang baru dilaksanakan dari tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2017 ini diadakan dalam lingkungan Wihara Sakyakirti Jambi. Lingkungan ini sudah lumrah bagi semua peserta yaitu pengurus Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Jambi.

Peserta hadir pada sore hari, setelah menikmati makan malam, semua peserta mendapat orientasi singkat tentang berbagai latihan pokok yang akan dilakukan bersama-sama beberapa hari ke depan.

Sudut Berbeda
Hari berikutnya, kegiatan demi kegiatan diikuti dengan santai dan relaks. Ada sesi workshop, para peserta diminta untuk menggambar objek gabungan yang disusun secara acak di depan mata, kami dalam posisi duduk melingkar. Beberapa peserta tampak ragu dengan instruksi menggambar sambil bergumam bahwa tidak bisa menggambar.

Beberapa menit telah berlalu, satu persatu peserta mulai menghasilkan gambar proyeksi pikiran masing-masing. Setelah selesai menggambar, setiap peserta secara bergilir mengoper hasil karyanya ke kiri, sampai hasil karyanya kembali lagi kepada dirinya sendiri. Kami melihat bahwa setiap gambar mempunyai hasil yang unik dan berbeda-beda. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa cara kami melihat atau cara pandang kami ternyata berbeda-beda, padahal objek yang digambar adalah sama, hanya melihatnya dari sudut yang berbeda. Ini menjadi renungan sangat berharga bagi semua peserta.

Begitu Indah
Praktik jalan berkesadaran merupakan praktik harian, kami melewati tangga yang sudah sangat sering kami lewati. Namun pada hari itu ada seorang peserta yang berkata, “Jika kita berfoto di tangga ini pasti bagus.”

Saya tersenyum kecil, wah setelah sekian lama baru disadari ternyata tangga yang biasa-biasa ini tiba-tiba menjadi begitu indah, saya sadar karena pikiran kami indah, pikiran kami jernih, sehingga tangga itu tiba-tiba menjadi indah. Ternyata benar adanya kalau keindahan itu ada di mana-mana, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.

Setiap pagi setelah sarapan, kami mempraktikkan meditasi kerja. Pada hari itu, ada peserta yang membersihkan kamar tidur bersama, ketika hendak masuk ke gedung itu mendapati gerbang utamanya terkunci, ternyata kuncinya tertinggal di dalam. Syukur saya mendapat informasi bahwa security memiliki kunci serep.

Setelah saya mendapatkan kunci serep, dalam perjalanan kembali ke tempat peserta yang masih menunggu dibukakannya pintu gedung tersebut, seorang panitia tergesa-gesa menemui saya, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang peserta sedang menangis dan emosinya sedang tidak stabil. Saya menemui peserta tersebut dan merangkulnya untuk membantunya tenang kembali.

Meredakan Emosi
Saya mencoba untuk mempraktikkan mendengar dengan penuh kesabaran. Tampaknya dia cukup emosional, ia menceritakan kepedihan hatinya, menumpahkan air matanya beserta semua gundah di hati. Ia menceritakan bahwa ada seseorang menegur peserta lain dengan kata-kata yang kurang enak didengar. Teguran tersebut terdengar olehnya sehingga ia sedih dan menangis. Padahal yang ditegur adalah orang lain, kok dirinya yang merasa sangat tersinggung dan sedih.

Hati kesal pun tumbuh menjadi besar dalam dirinya, setiap kali bertemu dengan orang yang menegur itu, ia membuang muka tidak mau menatapnya. Pada saat bhante memberikan wejangan Dharma pas sekali berkaitan dengan bagaimana pikiran membesar-besarkan sesuatu sehingga sakit hati kecil bisa menjadi sakit hati besar, sakit hati itu bagaikan panah kedua dan seterusnya yang terus menerus menyakiti diri kita sendiri. Ia merasa bhante sedang menyinggung dirinya, sehingga dia merasa semakin terpojokkan. Ia menduga bahwa ada seseorang telah mengadu kepada bhante sehingga bhante memberikan wejangan Dharma seperti itu. Emosi negatif dirinya tambah besar, apa pun yang muncul dalam dirinya semakin negatif.

Dia menangis dan menangis. Setelah luapan airmata dan emosinya telah tertumpahkan, dia mulai tenang. Baru kemudian saya angkat bicara. Saya mencoba menceritakan sisi positif dari orang yang menegur tersebut, yang mana sisi positif ini yang dia tidak pernah ketahui, yang selama ini dia dengar hanya sisi-sisi negatifnya saja yang sudah seperti sampah yang menumpuk di pikirannya. Semua orang memiliki sisi baik dan kurang baik, namun manusia lebih sering mencatat sisi yang kurang baiknya, lalu melupakan sisi baiknya.

Titik Balik
Sore hari ketika sesi Dharma Sharing, ternyata kasus menegur itu disampaikan oleh salah satu peserta, inilah titik balik yang saya rasakan. Semua yang sharing bisa menggunakan bahasa kasih, tidak menuduh, lalu menceritakan apa yang mereka ingat dan bahkan meminta maaf kalau ucapannya dianggap sebagai teguran, padahal tidak bermaksud menegur. Emosi masing-masing orang telah reda dan pengertian pun lahir dari sana.

Keesokan harinya, masih ada orang yang berkisah tentang insiden itu, namun dia sudah bisa senyum dan tidak terlalu terganggu lagi oleh insiden itu. Saya merasa inilah transformasi yang luar biasa. Ada kalanya kita perlu memberikan izin kepada seseorang menumpahkan air matanya, mengeluarkan isi hatinya yang sudah beku agar air pengertian bisa mengalir kembali. Sekuntum teratai telah tumbuh ketika air mata emosi berubah menjadi pupuk dan air hujan pengertian. Yang awalnya emosi itu dianggap sebagai sampah atau buntang (bangkai), kini telah menjadi pupuk untuk menumbuhkan teratai suci.

Terima kasih kepadamu para sahabat yang telah berlatih bersama-sama, memberikan kami pengalaman yang begitu berharga. Tentunya ini juga berkat bimbingan yang diberikan oleh Bhante Nyanabhadra dan Bhante Bhadraputra selama retret itu.

Semoga kita semua akan tumbuh menjadi kuncup-kuncup teratai yang indah. (elysanty)