Thich Nhat Hanh Pulang ke Rumah

Thich Nhat Hanh Pulang ke Rumah

Jumat, 2 November 2018

Pusat Latihan Internasional Plum Village
Le Pey, Thénac 24240, Perancis

Para biksu dan biskuni dari Pusat Latihan Internasional Plum Village dari Engaged Buddhism menemani guru terkasih, Master Zen, pemimpin siritual global, aktivis perdamaian dan penyair, Thich Nhat Hanh, saat ia kembali lagi ke tanah kelahirannya. Sejak merayakan hari kelanjutannya yang ke-92 bulan lalu, beliau telah mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke wihara akar, Wihara Tu Hieu di Hue, Vietnam untuk menetap di sana hingga akhir hayatnya. Thich Nhat Hanh telah mengubah tantangan fisik sangat berat yang muncul sejak stroke yang dideritanya sekitar 4 tahun lalu menjadi pelajaran luar biasa. Walaupun menghadapi kesulitan ini, beliau justru memberikan pelajaran yang luar biasa melalui tetap hidup dalam setiap momen dengan penuh kedamaian dan ketenangan, kehadiran sepenuhnya dan kehidupan bermakna.

Wihara Tu Hieu merupakan tempat Thich Nhat Hanh pertama kali di ditahbiskan pada tahun 1942, waktu itu beliau berusia 16 tahun. Setelah menghabiskan hampir 60 tahun mengajar di luar negeri, kepulangan terakhir Thich Nhat Hanh ke tanah kelahirannya merupakan sumber kedamaian dan kebahagiaan bagi murid-muridnya di Wihara Tu Hieu beserta silsilahnya.

Sungguh penting bagi semua pengikut internasional dari Thich Nhat Hanh untuk tetap menjalin koneksi dengan akar spiritual di Vietnam. Thich Nhat Hanh, yang telah melahirkan istilah Engaged Buddhism (Agama Buddha terjun aktif) dan mendedikasikan dirinya untuk memperbarui Agama Buddha sehingga bisa membantu individu juga masyarakat agar bisa menghadapi tantangan masa kini, selalu melihat akar pengajarannya tentang kehidupan spiritual yang terjun aktif dari patriak buddhis Vietnam yaitu Dinasti Ly dan Tran.

Walaupun sejak stroke Thich Nhat Hanh sudah tidak bisa berkomunikasi secara lisan lagi, namun ia tetap memancarkan kekuatan kewaspadaan dan kehadirannya. Setelah memanggil semua murid seniornya pada pertemuan tanggal 24 Oktober 2018 di Plum Village Thailand, tempat ia berdiam sejak Desember 2016, Thich Nhat Hanh mengomunikasikan keinginannya untuk kembali ke Vietnam melalui bahasa tubuh, menganggukkan dan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan.

Persiapan kepulangannya ke Vietnam telah dipersiapkan dan Beliau mendarat di Bandara Da Nang, Vietnam pada tanggal 26 Oktober. Kedatangannya disambut secara meriah oleh para biksu sesepuh, beserta biksu, biksuni, dan praktisi awam.

Setelah beristirahat di penginapan dekat pantai selama dua hari, Thich Nhat Hanh tiba di Wihara Tu Hieu pada sore hari tanggal 28 Oktober 2018, dimana ia disambut dengan prosesi formal tradisional yang diiringi genta dan tambur. Ketika beliau memasuki kompleks wihara, ia menyempatkan diri untuk menyentuh gerbang kuno dingin yang terbuat dari bebatuan: lambang kedatangan dan kepulangan. Semua orang yang hadir di sana dalam suasana hening ketika ia mengontemplasikan danau bulan sabit, tempat ia menggoreskan banyak kenangan pada masa monastik muda, dan kemudian berlanjut ke Aula Buddha (Buddhasala) untuk memberi hormat dan mempersembahkan dupa kepada altar leluhur.

Sejak ketibaannya, kesehatan Thich Nhat Hanh masih rentan namun stabil. Ia telah bergabung dalam meditasi jalan bersama komunitasnya pada waktu subuh, mengunjungi setiap sudut wihara yang merupakan rumahnya dan tempat ia tumbuh saat memulai perjalanan spiritualnya. Sore hari pada tanggal 26 Oktober 2018 di Da Nang, sebagai kepala wihara dan kepala silsilah Tu Hieu, Thich Nhat Hanh mengarahkan muridnya untuk mempersipkan draf surat undangan kepada semua biksu dan biksuni dari silsilah Tu Hieu (murid dan keturunan dari Master Zen Thanh Quy, guru dari Thich Nhat Hanh), untuk menghadiri pertemuan keluarga dan merayakan kepulangannya di Wihara Tu Hieu tanggal 3 November 2018. Seperti yang dikatakan Thich Nhat Hanh ketika beliau pertama kali pulang ke Vietnam tahun 2015, setelah empat dekade dalam pengasingan, “Tiada agama, tiada doktrin yang lebih tinggi daripada persaudaraan kakak dan adik”.

Bahkan pada momen saat ini, Thich Nhat Hanh masih semangat dan enerjik dalam menggunakan setiap napas dan aksinya untuk membangun serta memperkuat “beloved community of compassion” (komunitas welas asih yang terkasih), dan untuk mengembangkan penyembuhan, rekonsiliasi dan transformasi dalam komunitasnya, masyarakat dan di dunia ini.

Thich Nhat Hanh Pulang ke Vietnam pada November 2018

Sr Chan Đức’s Mewakili Thay di Union Medal Award Ceremony

Sr Chan Đức’s Mewakili Thay di Union Medal Award Ceremony

Sr. Chân Đức mewakili Thay di Seremoni Union Medal Award @NewYork

*Pidato pada tanggal 6 September 2017

 

Ibu Ketua, fakultas, para mahasiswa, dan sahabat sekalian, saya merasa ini sebuah kehormatan dapat mewakili Plum Village dan Thay, guru kami. Thay mengalami stroke pada tahun 2014, sehingga beliau tidak bisa hadir di sini bersama-sama kita. Namun Thay hadir bersama kita di sini secara semangat. Saya bisa merasakan kehadiran beliau berjalan di koridor gedung ini. Pada tahun 2001, Thay berkesempatan menginap di sini selama beberapa hari sesudah peristiwa 11 September (9/11). Beliau menyampaikan nasihat kepada masyarakat negeri ini bagaimana cara baik merespon kejadian yang menyayat hati itu di Gereja Riverside.

Jika Thay dapat berbicara pada hari ini, beliau pasti akan memberikan pesan yang sama persis seperti yang telah beliau sampaikan, ketika kita berada dalam ancaman begitu banyak kesulitan, tentang Korea Utara dan juga respon terhadap Korea Utara, bagaimana kita dapat mempraktikkan mendengar secara mendalam terutama terhadap diri sendiri, mendengar penderitaan kita sendiri, mengerti luka kita, mengerti luka mendalam kita. Kemudian, bagaimana kita dapat mendengarkan penderitaan dan luka dari mereka yang ada di sekitar kita. Bagaimana kita dapat mendengarkan penderitaan dan luka dari orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai musuh. Melalui mendengar secara mendalam dan mampu mengekspresikan dan mendengar diri kita sendiri, kita dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang terbentang dari homo sapiens dan bumi kita pada saat itu. Daripada menghancurkan homo sapiens, kita dapat mengubah homo sapiens menjadi homo conscious, makhluk yang paham bagaimana untuk hidup secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari, hidup dengan belas kasih, dengan cinta kasih, dengan gembira, kebahagiaan mendalam, dan cinta mendalam.

Medali ini akan dikirimkan ke Thailand, tempat Thay sedang menjalani masa pemulihannya. Atau mungkin ke Vietnam, saat ini (cat: 22 Okt) Thay sedang mengunjungi Wihara akar Plum Village, Tu Hieu, disitulah Thay pertama kali ditahbiskan menjadi samanera. Saat itu, keinginan mendalam beliau adalah memperbarui Agama Buddha, sehingga Agama Buddha bisa menjadi sebuah jalan yang terbuka untuk kita agar bisa menghadapi penderitaan masa kini. Ketika Thay tinggal di New York, beliau mampu menyembuhkan banyak luka yang beliau alami di masa perang Vietnam. Saat itu, beliau kembali kepada dirinya sendiri, dan mempraktikkan meditasi jalan, napas berkesadaran, agar bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Penyembuhan itu terjadi, seperti yang beliau katakan dalam jurnalnya di tahun 1962, ketika beliau membaca catatan harian menjelang akhir dari Dietrich Bonhoeffer, yang juga pemilik seminari ini. Pengorbanan, pengertian, dan kasih dari Dietrich Bonhoeffer sangat diapresiasi oleh Thay, dan membantu Thay menyadari betapa ketulusan dan keberanian dibutuhkan untuk memperbarui Agama Buddha.

Thay selalu berpikir bahwa beliau akan dapat mengajar di Vietnam, memperbarui Agama Buddha di Vietnam. Namun, sebab dan kondisi membawanya ke Amerika Serikat, yang berarti bahwa selama lebih dari empat puluh tahun (beliau dalam pengasingan selama empat puluh tahun), sejak beliau datang pada tahun 1962 sampai hari ini, Thay telah mempersembahkan sebuah Agama Buddha baru bagi dunia Barat. Sejak itu, kita dengan penuh keberanian dapat terus maju dan dapat terus maju di jalan ini yang membantu kita bertransformasi dari homo sapiens menjadi homo conscious. Jenis makhluk yang tidak hanya peduli dengan spesies manusia akan tetapi mampu menjaga seluruh makhluk, khususnya bumi tercinta yang kita pijak ini, sekeliling kita, dan atmosfer yang berada di atas kita.

Kami sangat bersyukur dapat hadir di sini hari ini, bersama-sama dengan Anda semua, dapat menerima medali yang luar biasa ini. Kami akan membawanya untuk Thay. Thay akan selalu di sini bersama dengan Anda di dalam hati Anda semua. Kapanpun Anda mempraktikkan jalan penuh kedamaian di sepanjang koridor ini, Anda semua berada dalam sentuhan Thay.

Sebagai ungkapan terima kasih kepada fakultas dan seluruh mahasiswa di institut ini, kami ingin mempersembahkan sebuah kado kecil. Ini adalah kaligrafi karya Thay. Kami berharap kado ini bisa sedikit memperkuat Socially Engaged Buddhism yang dipopulerkan oleh Thich Nhat Hanh untuk Agama Buddha yang lebih aktif terjun ke dalam masyarakat. Ketika program itu telah mendapatkan kondisi yang sesuai, maka kado itu bisa ditempatkan di ruang itu. (Ang)

Sumber: https://plumvillage.org/news/2017-union-medal/

Hari Berkelanjutan Thay yang ke-91

Hari Berkelanjutan Thay yang ke-91


Setelah selesai Vassa, tanggal 08 Oktober 2017, Sangha di Thailand mempersiapkan beberapa acara untuk merayakan hari berkelanjutan Thay yang ke-91. Ini adalah kali pertama Thay merayakan hari berkelanjutannya di Thailand. Beberapa biksuni senior dari Hue (Vietnam) beserta biksuni dari Wihara akar Tu Hieu dan Dieu Tram juga ikut hadir. Banyak monastik dari Vietnam turut hadir untuk memberikan ucapan dan doa.

Program untuk merayakan hari berkelanjutan Thay dimulai pada tanggal 9 Oktober. Thay Phap Ung memberikan orientasi latihan kepada praktisi awam yang hadir. Pada malam hari itu, pukul 19:30 semua berkumpul untuk memanjatkan doa dan mengucapkan selamat untuk Thay. Ada juga pameran yang telah dipersiapkan oleh para monastik di Aula meditasi, yang terbagi dalam beberapa kategori yaitu:

Sejarah dan perjalanan Thay
Berbagai terobosan baru dan pandangan Thay
Murid Thay dari berbagai negara
Alat yang dipergunakan Thay untuk menjelaskan Dharma
Komunitas diseluruh dunia
Reformasi ajaran Buddha dan kontribusi untuk dunia

Thay Phap Niem memperkenalkan secara ringkas tentang berbagai pameran tersebut, setelah itu ada barongsai. Semua yang hadir menikmati pameran dengan hening, setiap langkah di aula meditasi dilakukan dengan khusyuk. Semua orang memiliki kesempatan untuk bersentuhan dengan Thay lebih dalam lagi lewat pameran itu. Thay dari usia muda, kehendak masuk monastik, kehendak untuk memperbarui ajaran Buddha, kesulitan ketika perang, praktik di masa sulit, kontribusi terhadap agama Buddha secara internasional, sehingga lahirlah Pintu Dharma Plum Village.

Pada pagi tanggal 10 Oktober, Thay Phap Niem dan Thay Trung Hai memimpin sesi tanya jawab dengan topik praktik transformasi penderitaan dalam keluarga, bagaimana memanfaatkan latihan hidup penuh kesadaran dalam keluarga. Sore hari itu ada Be-In bersama-sama. Thay Tu Thong menyampaikan tentang berbagai kegiatan penting yang pernah Thay lakukan.

Pada tanggal 11 Oktober pagi, yaitu hari berkelanjutan Thay yang ke-91, setelah meditasi duduk, kemudian dilanjutkan meditasi jalan menuju kuti Thay untuk memberikan hormat dan ucapan selamat kepada Thay. Walaupun dalam kondisi kurang sehat, Thay turun dan menyambut semua yang telah hadir.

Sumber : http://langmaithailan.org/vi/sen-hai-dau-mua/ngay-tiep-noi-su-ong-2017/

Thay Tiba Di Vietnam

Thay Tiba Di Vietnam

Pemberitahuan Resmi

Plum Village
29 Agustus 2017

Kepada seluruh Pusat Latihan Plum Village
Kepada seluruh Pusat Latihan dan Sangha di seluruh dunia,
Kepada Teman-teman Kami yang Tercinta,

Kami sangat berbahagia untuk menyampaikan bahwa hari ini, 29 Agustus 2017, pukul 12.35 waktu setempat, Guru tercinta kami telah mendarat dengan selamat di bandar udara Đà Nẵng, Vietnam. Ini kunjungan pertamanya ke Vietnam sejak tahun 2008.

Dalam beberapa minggu terakhir, Thay telah menyampaikan keinginan kuatnya untuk kembali ke kampung halamannya sekali lagi, dan Sangha sangat senang telah berhasil mewujudkan keinginannya. Perjalanan Thay akan melibatkan kunjungan ke Plum’s Village Root Temple, Chùa Từ Hiếu, di Huế, tempat Thay pertama kali memulai latihan monastiknya pada tahun 1942.

Kami ingin menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada para komunitas global atas dukungan penuh yang telah diberikan kepada Guru kami, baik secara material maupun spiritual. Dukungan kalian telah memberikan Thay kekuatan yang sangat besar dalam masa pemulihannya, dan telah membantu mewujudkan kunjungan ke tanah airnya ini.

Kami memahami bagaimana berharganya masih memiliki Guru tercinta bersama kita, yang memancarkan keberanian, kekuatan, dan keberadaan yang besar. Dan kami memahami bahwa Thay mendapatkan energinya dari latihan para muridnya di seluruh dunia. Beliau ada bersama kita semua, setiap kali kita mengambil satu langkah atau nafas dengan kesadaran penuh, dan membawa kedamaian dan kegembiraan bagi kita dan dunia di sekitar kita.

Meskipun tidak ada rencana untuk mengadakan retret atau acara publik selama kunjungan Thay ke Vietnam–untuk mempertahankan kesehatan Thay–kami mendorong Anda semua untuk ikut bersama-sama melanjutkan visinya mengenai kesadaran kolektif, dengan mengikuti kegiatan di tahun 2017, yaitu “Awakening Together, Healing the Ancestral Heart” Tur AS (dengan acara di New York, California, New Mexico, Tennessee, dan Mississippi), Tur Inggris 2017 kami, atau dengan mengunjungi salah satu pusat latihan kesadaran kami di seluruh dunia.

“Walk with Me,” sebuah film dokumenter tentang Thich Nhat Hanh dan Plum Village, yang dinarasikan oleh Benedict Cumberbatch, telah ditayangkan secara perdana di AS bulan ini, dan telah mulai ditayangkan di bioskop AS, Eropa, dan Asia. Kami berharap semua orang dalam komunitas kami di seluruh dunia dapat memiliki kesempatan untuk menikmati perjalanan sinematik ke dunia penuh kesadaran ini, dan berbagi dengan teman-teman, membantu mewujudkan visi Thay untuk mentransformasikan bioskop menjadi aula meditasi.

Seperti yang Thay sampaikan pada kunjungan Beliau yang ke-2 di Vietnam tahun 2007, “Saya telah menjadi biarawan selama 65 tahun, dan saya menemukan bahwa tidak ada agama, filosofi, dan ideologi yang lebih tinggi daripada persaudaraan.” Thay mengingatkan kita bahwa dengan solidaritas dan persaudaraan sejati, semuanya menjadi mungkin.

Dengan kasih dan kepercayaan,
Biarawan dan biarawati Plum Village

Laporan resmi di kemudian hari mengenai kepulihan Thay akan dibagikan dari waktu ke waktu di plumvillage.org, langmai.org, villagedespruniers.org, dan www.facebook.com/thichnhathanh, serta di thichnhathanhfoundation.org

Sumber: https://plumvillage.org/news/thich-nhat-hanh-arrives-in-vietnam/
Penerjemah: Hestia M

Thich Nhat Hanh

Thich Nhat Hanh

Thich Nhat Hanh
Thich Nhat Hanh, foto oleh Paul Davis

Thich Nhat (Vietnam: Nhất Hạnh) lahir pada bulan 11 Oktober 1926 di Sentral Vietnam, beliau yang akrab di sapa Thay yang berarti guru; merupakan biksu zen yang berasal dari Vietnam, penulis, penyair, dan aktivis hak azasi manusia, ia yang sudah berusia 92 tahun sekarang ini juga merupakan sosok yang sangat dikagumi oleh masyarakat dunia dewasa ini.

Thay bergabung dengan Biara Zen pada umur 16 tahun, mulai belajar ajaran Buddha sejak samanera, kemudian menerima penahbisan penuh sebagai biksu pada tahun 1949. Nama lengkap Thay adalah Thich Nhat Hanh (Vietnam: Thích Nhất Hạnh), nama keluarga Thích diberikan kepada semua biksu maupun bhiksuni di Vietnam, yang berarti bagian dari suku Shakya (Buddha Shakyamuni).

Di awal tahun 1960an, pada masa perang Vietnam, Thay mendirikan organisasi sosial School of Youth for Social Service (SYSS) di Saigon yang terdiri dari lapisan masyarakat akar-rumput untuk membantu meringankan penderitaan korban perang dan membangun kembali desa-desa yang hancur akibat bom, membangun sekolah dan pusat perawatan kesehatan, mencari cara untuk melakukan penempatan ulang masyarakat yang kehilangan rumahnya.

Thay menempuh perjalanan ke Amerika Serikat dan belajar di Universitas Princeton, dan kemudian menjadi dosen di Universitas Cornell dan Universitas Columbia.

Tujuan utama kunjungannya ke Amerika adalah untuk mendesak pemerintah Amerika untuk menarik diri dari kancah perang Vietnam, Thay sungguh tidak ingin melihat saudara membunuh saudara di Vietnam, Dr. Martin Luther King, Jr tersentuh oleh pembawaan eling, damai dan tenang Thay ikut mendukung untuk segera mengakhiri perang Vietnam melalui gerakan non kekerasan, Thay juga berbicara di hadapan berbagai kelompok perdamaian. Thay juga memimpin delegasi Buddhis berpartisipasi dalam Perbincangan Perdamaian di Paris.

Pada tanggal 25 January 1967 Institut Nobel di Norwegia melayangkan sebuah surat untuknya, Martin Luther King menominasi Thay sebagai penerima Hadiah Perdamaian Nobel.

Seorang guru yang sangat dikagumi oleh dunia barat, Thay termasuk tokoh yang berjasa dalam membawa Ajaran Buddha ke dunia barat, melalui latihan hidup sadar ternyata berbagai kalangan yang berasal dari latar belakang relijius, spiritual dan pandangan politik berbeda-beda bisa menerimanya dengan begitu alami. Latihan hidup sadar dengan perhatian penuh (mindfulness) merupakan adaptasi dari sensibilitas nuansa Barat. Pada tahun 1966 Thay mendirikan Order of Interbeing, secara alami berbagai pusat latihan monastik dan pusat latihan lainnya juga bermunculan di berbagai belahan dunia.

Sejak perjalanannya ke dunia barat dan aktivitas menyerukan perdamaian, Thay harus mengasingkan diri di dunia eropa, ia tidak bisa pulang kembali ke kampung halamanya lagi yaitu Vietnam, kejadian ini melahirkan pusat retret seni hidup berkesadaran yang bertempat di daerah Dordogne Perancis Selatan, bernama Plum Village, telah menjadi rumahnya, sejak itu beliau berkunjung ke komunitas internasional untuk memberikan ceramah dan retret. Thay juga yang merupakan inisiator istilah Engaged Buddhism (Ajaran Buddha yang aktif terjun ke berbagai aspek kehidupan) dalam bukunya yang berbahasa Vietnam dengan judul: Lotus in a Sea of Fire.

Karena menolak berpihak pada salah satu blok (komunis maupun anti komunis), beliau diasingkan oleh pemerintah Vietnam sejak lama. Thay baru diizinkan pulang ke Vietnam pada tahun 2005 dan 2007. Thay telah menulis lebih dari 100 judul buku, mencakup lebih dari 40 judul yang berbahasa Inggris. Beliau juga menerbitkan Ceramah Dharma per kuarter dalam Jurnal Order of Interbeing, The Mindfulness Bell. Thay terus aktif berkarya dalam pergerakan perdamaian, memberi sponsor retret untuk peserta dari Israel dan Palestina, mendukung kedua pihak untuk mendengar secara mendalam dan saling belajar dari sesamanya. Beliau berulang kali memberi pidato untuk mendesak negara-negara yang terlibat dalam pertikaian untuk berhenti berperang dan jadikan non-kekerasan sebagai solusi bagi berbagai sengketa; Pada tahun 2005 dan 2007, beliau meminpin “perjalanan perdamaian” di Los Angeles, dihadiri oleh ribuan orang demi untuk memberi dukungan kepada para biksu yang sedang melakukan demonstrasi di Myanmar. Beliau juga dianugerahkan “Courage of Conscience” pada 16 Juni 1991. Selain memberi bimbingan retret, ia juga tur ke berbagai negara Eropa, Amerika, dan Asia untuk berbagi seni hidup berkesadaran bersama 4 lapisan sangha (monastik dan sahabat awam).

Biksuni Chan Khong Kembali Datang Ke Indonesia

Biksuni Chan Khong Kembali Datang Ke Indonesia

Sister Chan Khong bersama asisten

Kesempatan untuk dapat belajar langsung dan merasakan aura kedamaian dari para guru Dharma internasional yang berkualitas tidaklah mudah didapat, dibutuhkan adanya akar kebajikan yang cukup pada diri kita. Sebagian dari guru Dharma tersebut kini sudah wafat, sebagian lagi juga sudah lanjut usia. Kadang kita berkejaran dengan waktu untuk dapat berjumpa dengan mereka.

Biksuni Thich Nu Chan Khong, atau biasa disapa Sister Chan Khong, adalah murid paling senior dari Zen Master Thich Nhat Hanh, beliau memiliki kemampuan untuk mengajarkan Dharma dengan cara yang menyentuh hati. Retret yang diadakan di Kinasih Resort pada tanggal 7-10 Mei 2009 ternyata begitu menarik perhatian umat Buddha di Indonesia sehingga jumlah pendaftar mencapai 400 orang.

Retret tahun 2009 bersama Sister Chan Khong, yang memberikan manfaat dan sangat berkesan bagi para peserta, ternyata telah membuka jalan bagi kehadiran Zen Master Thich Nhat Hanh di Indonesia setahun kemudian. Retret yang berlangsung di Kinasih Resort pada tanggal 29 September – 4 Oktober 2010 yang semula ditargetkan untuk 700 peserta akhirnya diikuti oleh 900 peserta dengan 68 monastik Plum Village dan 30 monastik Indonesia.

Thich Nhat Hanh di Indonesia 2010

Indonesia menanti 5 tahun untuk dapat kembali mengadakan retret yang jumlah pesertanya besar namun hasilnya menakjubkan ini. Metode Plum Village memang menekankan kekuatan dukungan komunitas yang bersama-sama berlatih hidup sadar (mindfulness). Zen Master Thich Nhat Hanh (89 tahun) saat ini masih dalam pemulihan dari kondisi sakit, namun melalui Sister Chan Khong (77 tahun) beserta 40 monastik Plum Village lainnya kehadiran Zen Master Thich Nhat Hanh akan dapat dirasakan oleh para peserta Retret Umum & Keluarga pada long weekend 14 – 18 Mei 2015 di Hotel Yasmin, Cipanas-Cianjur.