Freedom Wherever We Go

Freedom Wherever We Go
Penahbisan novis di Upper Hamlet, Plum Village Prancis

Pratimoksha merupakan aturan dasar bagi monastik buddhis. Berlatih Pratimoksha, para monastik memurnikan kembali badan jasmani dan batinnya, membangkitkan maitri kepada semua makhluk, terus maju dalam jalur pembebasan. Prati berarti langkah demi langkah. Bisa juga diterjemahkan menjadi bergerak ke arah moksha. Moksha artinya pembebasan. Pratimoksha bisa diterjemahkan sebagai setiap Langkah membawa pembebasan. Setiap aturan membawa pembebasan bagi aspek tertentu secara khusus dalam kehidupan monastik. Jika seseorang berlatih menerapkan aturan menghindari alkohol, maka dia akan bebas, yaitu bebas dari mabuk. Jika seseorang menerapkan aturan menghindari pencurian, dia juga bebas, yaitu bebas dari penjara. Istilah Pratimoksha juga bisa diterjemahkan menjadi “di setiap tempat ada pembebasan”. Pratimoksha versi revisi diberi judul “Freedom Wherever We Go” (Pembebasan Kemanapun Kita Pergi) untuk mengingatkan para monastik bahwa mereka sedang bergerak ke arah pembebasan.

Sebagai bagian dari latihan di Plum Village, mereka yang sudah menerima penahbisan sepenuhnya (biksu/biksuni) wajib mempelajari Winaya pada 5 tahun pertamanya, Winaya merupakan literature sangat luas dan dalam, bagaimana definisi kehidupan dan cara pengelolaan kegiatan sehari-hari komunitas monastik. Pembelajaran Winaya mencakup Praktimoksha revisi dan klasik. Para monastik mempelajari Winaya bukan sebagaimana seorang profesor atau spesialis, tapi mereka mempelajari Winaya sebagai praktisi. Mereka mempelajari Winaya dengan kejernihan batin bahwa Winaya, tata karma, peraturan merupakan fondasi menunjang kelangsungan hidup Sangha. Kami berharap Pratimoksha revisi bisa menginspirasi sangha monastik zaman ini agar mereka bisa menemukan kembali integritasnya, kesederhanaan, keindahan, dan kebebasan dalam kehidupan monastik.

Pada tahun ke-5 Buddha membabarkan Dharma, Beliau bersama murid seniornya baru mulai menetapkan Pratimoksha untuk komunitasnya. Peraturan-peraturan itu ditetapkan satu per satu melalui beberapa dekade, setiap aturan selalu merespon kebutuhan dan situasi yang muncul dalam komunitas pada saat itu. Ketika Buddha hampir memasuki mahaparinirwana, Beliau berpesan kepada asistennya yaitu Bhante Ananda, peraturan minor boleh dihapus, agar Winaya tidak memberatkan, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan. Pada saat itu, Bhante Ananda tidak bertanya secara jelas bagian minor yang mana dan yang seperti apa yang dimaksud oleh Buddha. Setelah Buddha memasuki mahaparinirwana, Bhante Kassyapa sebagai senior saat itu, tidak berani menghapus satu pun dari peraturan yang ada. Sekarang, 2600 tahun telah berlalu, dan rekomendasi Buddha tidak pernah dilaksanakan oleh para cucu muridnya.

Kisah sejarah menyebutkan, 200 tahun setelah Buddha mahaparinirwana, sekte Agama Buddha sudah ada sekitar 20 aliran, setiap sekte memiliki Winaya-nya masing-masing. Semua Winaya itu selalu memiliki akarnya dalam ajaran Buddha dan praktiknya. Pratimoksha merupakan intisari dari Winaya. Naskah inilah yang dilafalkan ulang oleh para biksu dan biksuni sebulan dua kali di dalam seremoni uposatha untuk memperkuat dan mempurifikasi tekad mereka. Di Vietnam dan Tiongkok, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Dharmagupta. Di Sri Lanka, Thailand, Myanmar, mereka menganut Pratimoksha dari aliran Tamrasatiya (Theravada). Untuk biksu, aliran Dharmagupta memiliki 250 butir peraturan, dan Pratimoksha Tamrasatiya memiliki 227 butir. Dua Pratimoksha dari aliran-aliran itu hanya memiliki beberapa perbedaan minor saja, bahkan dua Pratimoksha itu mendekati indentik.

Agama Buddha perlu menjadi tradisi yang hidup. Sebagai pohon, ada cabang-cabang yang sudah mati perlu dipotong agar tunas baru punya kesempatan untuk tumbuh. Tunas baru itu adalah ajaran dan praktik yang mampu merespon kebutuhan kultur dan zaman sekarang. Perkembangan teknologi, media, dan kehidupan yang demikian cepat telah mempengaruhi gaya hidup para monastik. Degradasi gaya kehidupan monastik sangat nyata terjadi di berbagai tempat di dunia ini, bahkan komunitas buddhis dan non buddhis juga mengalami hal serupa. Demi merespon situasi saat ini, Pratimoksha revisi sangat dibutuhkan.

Upaya Plum Village merevisi Pratimoksha selalu tertuju pada relevansi dan responsif, Konsili Dharma Acharya Plum Village telah berkonsultasi dengan master Winaya, biksu, dan biksuni di Vietnam dan berbagai tradisi selama 5 tahun lebih. Sebagai tambahan, kami juga memiliki pengalaman kehidupan monastik di dunia barat dalam dua dekade belakangan ini. Oleh Karena itu, Pratimoksha revisi bertujuan untuk memberikan panduan dan dukungan bagi monastik buddhis kontemporer yang tinggal di Asia maupun Barat.

Praktimoksha revisi pertama kali diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2003 di Choong Ang Shangha University di Seoul, Korea, yang merupakan salah satu Universitas Buddhis Mahayana di Asia. Dalam Pratimoksha revisi ini, kami telah mengganti peraturan yang sudah tidak sesuai lagi pada zaman sekarang dengan peraturan baru esensial yang bisa melindungi integritas dan praktik para monastik. Sebagai contoh, dalam Pratimoksha klasik menyebutkan para monastik hanya boleh berpergian dengan jalan kaki. Peraturan itu berbunyi demikian, “Jika seorang biksuni yang tidak sedang sakit, lalu ia menaiki kereta, maka dia telah melanggar peraturan Payantika.” Peraturan ini relevan dengan tempat dan zaman Buddha, karena berpergian dengan menggunakan kereta tidak lumrah bagi para petapa dan kereta itu simbol dari status tinggi dan orang kaya. Namun pada abad 21 ini, bepergian ke Amerika, jika Buddha harus berjalan kaki di jalan tol dan menolak untuk menaiki kendaraan, bisa jadi Buddha akan mengalami kecelakaan atau bahkan ditangkap oleh polantas. Untuk merespon kebutuhan zaman modern monastik, Pratimoksha revisi menyebutkan tentang penggunaan kendaraan (mobil), komputer, televisi, telepon genggam, games elektronik, surel (e-mail), dan internet.

Ada orang yang bertanya, “Siapakah Anda, beraninya merubah peraturan yang telah ditetapkan oleh Buddha?” Kami hanya menjawab, “Kami adalah anak-anak dari Buddha. Kami adalah kelanjutan dari Buddha, kami berlatih untuk mewujudkan keinginan Beliau.” Buddha menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk mengajar dan melatih para monastik. Agama Buddha bisa bertahan hidup hingga hari ini karena Sangha monastik terus dijaga kelanjutannya. Tujuan dari Pratimoksha revisi adalah untuk melindungi kebebasan dan integritas praktik dari monastik, agar jalur menuju pembebasan otentik bisa terus berlangsung.

Agama Buddha akan tetap menjadi tradisi yang hidup, maka ajaran dan praktik perlu selalu relevan. Pratimoksha hendaknya jangan hanya menjadi objek akademik dan studi intelektual saja. Ada begitu banyak master Winaya dan mengerti dan menghafal literaturnya, mampu mengajar dan menjelaskannya dengan elegan. Tujuan utama Pratimoksha adalah memberikan panduan kepada biksu dan biksuni. Kami yakin bahwa Buddha mempercayakan pengertian, kepintaran, dan keberanian para keturunannya agar jalur pembebasan bisa terus berlanjut, mudah diakses dan terbuka untuk generai saat ini. Oleh karena itu, merevisi ajaran dan praktik yang ada perlu dilakukan.

Ini merupakan kali pertama, tradisi Plum Village telah menyediakan naskah Pratimoksha revisi kepada semua orang, termasuk praktisi awam. Kami yakin naskah ini bisa membantu memperkuat latihan dari empat lapisan Sangha yaitu biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. Membaca Pratimoksha mengizinkan praktisi awam mengerti peraturan para monastik dan bagaimana gaya kehidupan monastik. Membaca Pratimoksha juga menginspirasi kehidupan yang lebih berkaruna, bermetta, dan berpanya agar kita bisa saling melindungi, mereka yang kita kasihi, lingkungan, dan semua makhluk.

Kami merevisi Pratimoksha demi menghormati guru akar kami yaitu Buddha Sakyamuni, beserta semua guru-guru silsilah spiritual, mereka telah mentransmisikan Dharma mulia dari generasi ke generasi. Kami yakin dengan menjadikan Agama Buddha sebuah tradisi yang hidup dan bebas dari degradasi dan korupsi, demikianlah untuk menjadi keturuan otentik dari Buddha. (Thich Nhat Hanh)

Alih bahasa: Nyanabhadra.
Sumber: Freedom Wherever We Go: A Buddhist Monastic Code For the 21st Century, Parallax Press.